Imam Syafi’i dan Putri Imam Ahmad bin Hanbal

image

Simaklah kisah berikut:

زار الإمام الشافعي رحمه الله تعالى الإمام أحمد بن حنبل ذات يوم في داره ، وكانت للإمام أحمد ابنة صالحة تقوم الليل وتصوم النهار وتحب أخبار الصالحين والأخيار ، وتود أن ترى الشافعي لتعظيم أبيها له ، فلما زارهم الشافعي فرحت البنت بذلك ، طمعاً أن ترى أفعاله وتسمع مقاله .

Suatu hari Imam Syafi’i Rahimahullah berkunjung kerumah Imam Ahmad bin Hanbal.

Imam Ahmad mempunyai seorang putri yang shalihah, bila malam beribadah, siang berpuasa, serta menyukai kisah orang-orang shalih dan pilihan.

Putri beliau ini ingin sekali melihat lmam Syafi’i secara langsung sebab sang Ayah sangat menghormatinya.
Ketika Imam Syafi’i berkunjung kerumah mereka, sang putri merasa sangat senang dan berharap bisa melihat apa saja yang di kerjakan imam Syafi’i serta mendengar ucapan-ucapannya.

وبعدما تناول طعام العشاء قام الإمام أحمد إلى صلاته وذكره ، والإمام الشافعي مستلقٍ على ظهره ، والبنت ترقبه إلى الفجر ، وفي الصباح قالت بنت الإمام أحمد لأبيها :
يا أبتاه … أهذا هو الشافعي الذي كنت تحدثني عنه ؟
قال : نعم يا ابنتي .

Setelah selesai makan malam bersama, Imam Ahmad menuju tempat shalat untuk melakukan shalat dan dzikir, Imam Syafi’i tiduran terlentang, sedangkan sang putri selalu mengawasi Imam Syafi’i sampai fajar.

Di pagi hari, sang putri berkata kepada ayahnya :

“Wahai ayahku… Apakah benar dia ini Imam Syafi’i yang engkau ceritakan padaku dulu ?”

Imam Ahmad : “Benar anakku…”

فقالت : سمعتك تعظم الشافعي وما رأيت له هذه الليلة .. لا صلاة ولا ذكراٍ ولا ورداً؟
وقد لا حظت عليه ثلاثة أمور عجيبة ، قال : وما هي يا بنية ؟
قالت : أنه عندما قدمنا له الطعام أكل كثيراً على خلاف ما سمعته عنه ، وعندما دخل الغرفة لم يقم ليصلي قيام الليل ، وعندما صلى بنا الفجر صلى من غير أن يتوضأ .

Putri : “Aku mendengar bahwa engkau menghormati Imam Syafi’i, tapi apa yang aku lihat tadi malam dia… Tidak shalat, tidak dzikir tidak pula wirid ?
dan aku juga melihat ada 3 hal yang aneh.”

Imam Ahmad : “Apa saja 3 hal itu, wahai anakku ?”

Putri : “Ketika kita sajikan makanan kepada Imam Syafi’i, dia makan banyak sekali dan ini berbeda dengan yang kudengar; ketika masuk kamar, dia tidak beribadah shalat malam; dan ketika shalat subuh bersama kita, dia shalat tanpa wudhu.”

فلما طلع النهار وجلسا للحديث ذكر الإمام أحمد لضيفه الإمام الشافعي ما لاحظته ابنته ، فقال الإمام الشافعي رحمه الله :
يا أبا محمد لقد أكلت كثيراً لأنني أعلم أن طعامك من حلال ، وأنك كريم وطعام الكريم دواء ، وطعام البخيل داء ، وما أكلت لأشبع وإنما لأتداوى بطعامك ، وأما أنني لم أقم الليل فلأنني عندما وضعت رأسي لأنام نظرت كأن أمامي الكتاب والسنة ففتح الله عليّ باثنتين وسبعين مسألة من علوم الفقه رتبتها في منافع المسلمين ، فحال التفكير بها بيني وبين قيام الليل ،

Ketika agak siang dan mereka berbincang-bincang, Imam Ahmad berkata kepada Imam Syafi’i tentang apa yang dilihat oleh putrinya, lalu Imam Syafi’i Rahimahullah berkata :
“Wahai Aba Muhammad, aku memang semalam banyak makan karena aku tahu bahwa makananmu adalah halal dan engkau adalah orang mulia sedangkan makan orang mulia adalah obat, kalau makanan orang bakhil adalah penyakit. Jadi, aku makan bukan untuk kenyang tapi untuk berobat dengan makananmu.

Adapun semalam aku tidak sholat malam, hal itu dikarenakan ketika aku melatakkan kepalaku untuk tidur. Aku melihat seolah olah Al-Qur’an dan hadits berada di depanku, kemudian Allah membukakan kepadaku 72 masalah ilmu fiqih yang kususun untuk kemaslahatan muslimin, maka memikirkan ilmu inilah yang menghalangi antara diriku dan shalat malam.

وأما أنني صليت بكم الفجر بغير وضوء ، فوالله ما نامت عيني حتى أجدد الوضوء . لقد بقيت طوال الليل يقظاناً ، فصليت بكم الفجر بوضوء العشاء . ثم ودّعه ومضى .
فقال الإمام أحمد لابنته : هذا الذي عمله الشافعي الليلة وهو نائم ( أي مستلقٍ ) أفضل مما عملته وأنا قائم .

Adapun ketika shalat subuh bersama kalian aku tidak wudhu, maka demi Allah tidaklah kedua mataku tertidur hingga aku butuh memperbaharui wudhu.

Semalam suntuk aku terjaga, jadi aku shalat subuh bersama kalian dengan wudhu sholat ‘Isya.”

Kemudian Imam Syafi’i berpamitan dan pulang.

Imam Ahmad berkata kepada putrinya :

“Yang dikerjakan oleh oleh Imam
Syafi’i semalam dalam keadaan tiduran, lebih utama daripada apa yang kukerjakan sambil shalat malam.”

Sumber : Kitab Zaadul Murabbiyyin

〰〰〰〰〰〰〰

Telegram Channel @bekalakhirat
telegram.me/bekalakhirat
bekalakhirat.wordpress.com
CP +6282319017000

〰〰〰〰〰〰〰

Risalah ‘Abbad Al Khawwash Untuk Para Ulama dan Penuntut Ilmu

Sebuah risalah indah dan sangat bermanfaat bagi mereka yang tengah berjalan di atas kemuliaan ilmu dan amal.

 

عَنْ عَبَّادِ بْنِ عَبَّادٍ الْخَوَّاصِ الشَّامِيِّ أَبِي عُتْبَةَ قَالَ أَمَّا بَعْدُ اعْقِلُوا وَالْعَقْلُ نِعْمَةٌ فَرُبَّ ذِي عَقْلٍ قَدْ شُغِلَ قَلْبُهُ بِالتَّعَمُّقِ عَمَّا هُوَ عَلَيْهِ ضَرَرٌ عَنْ الِانْتِفَاعِ بِمَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ حَتَّى صَارَ عَنْ ذَلِكَ سَاهِيًا

Dari ‘Abbad bin ‘Abbad Al Khawwash As Syami Abu ‘Utbah ia berkata: “Perhatian, gunakanlah akal, karena akal sebuah nikmat. Berapa banyak orang berakal menyibukkan hatinya untuk memperdalam hal-hal yang membahayakan dirinya daripada memanfaatkan apa yang dibutuhkannya, sehingga ia lupa hal itu.

وَمِنْ فَضْلِ عَقْلِ الْمَرْءِ تَرْكُ النَّظَرِ فِيمَا لَا نَظَرَ فِيهِ حَتَّى لَا يَكُونَ فَضْلُ عَقْلِهِ وَبَالًا عَلَيْهِ فِي تَرْكِ مُنَافَسَةِ مَنْ هُوَ دُونَهُ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ أَوْ رَجُلٍ شُغِلَ قَلْبُهُ بِبِدْعَةٍ قَلَّدَ فِيهَا دِينَهُ رِجَالًا دُونَ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ اكْتَفَى بِرَأْيِهِ فِيمَا لَا يَرَى الْهُدَى إِلَّا فِيهَا وَلَا يَرَى الضَّلَالَةَ إِلَّا بِتَرْكِهَا يَزْعُمُ أَنَّهُ أَخَذَهَا مِنْ الْقُرْآنِ وَهُوَ يَدْعُو إِلَى فِرَاقِ الْقُرْآنِ

Diantara keutamaan akal seseorang adalah meninggalkan perhatian terhadap hal-hal yang tidak perlu sehingga keutamaan akalnya tidak menjadi bencana baginya, yaitu ia meninggalkan persaingan dengan orang yang lebih rendah amal shalihnya, atau seseorang yang menyibukkan hatinya dengan bid’ah, yang ia sekedar mengikuti orang dalam urusan agamanya tanpa mengikuti para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, atau ia hanya merasa cukup dengan pendapatnya sendiri, yang ia tidak melihat petunjuk kecuali kepada akalnya, dan tidak melihat kesesatan kecuali meninggalkannya dengan anggapan bahwa ia mengambilnya dari Al Qur`an, padahal ia menyerukan untuk meninggalkan Al Qur`an.

أَفَمَا كَانَ لِلْقُرْآنِ حَمَلَةٌ قَبْلَهُ وَقَبْلَ أَصْحَابِهِ يَعْمَلُونَ بِمُحْكَمِهِ وَيُؤْمِنُونَ بِمُتَشَابِهِهِ وَكَانُوا مِنْهُ عَلَى مَنَارٍ كَوَضَحِ الطَّرِيقِ فَكَانَ الْقُرْآنُ إِمَامَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ إِمَامًا لِأَصْحَابِهِ وَكَانَ أَصْحَابُهُ أَئِمَّةً لِمَنْ بَعْدَهُمْ رِجَالٌ مَعْرُوفُونَ مَنْسُوبُونَ فِي الْبُلْدَانِ مُتَّفِقُونَ فِي الرَّدِّ عَلَى أَصْحَابِ الْأَهْوَاءِ مَعَ مَا كَانَ بَيْنَهُمْ مِنْ الِاخْتِلَافِ

Bukankah Al Qur`an mempunyai pengemban-pengemban sebelumnya, yaitu para pembelanya yang mengamalkan ayat-ayat yang muhkam dan mengimani ayat-ayat yang mutasyabbih? Mereka berada di menara layaknya cahaya jalan, Al Qur`an imam Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, sedang Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam imam para sahabatnya, dan para sahabat adalah imam orang-orang setelah mereka, yaitu orang-orang yang sudah dikenal kebaikannya, mereka menjadi barometer di negeri-negeri mereka yang sepakat menolak para pengagung hawa nafsu walaupun diantara mereka terdapat perselisihan pendapat.

وَتَسَكَّعَ أَصْحَابُ الْأَهْوَاءِ بِرَأْيِهِمْ فِي سُبُلٍ مُخْتَلِفَةٍ جَائِرَةٍ عَنْ الْقَصْدِ مُفَارِقَةٍ لِلصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ فَتَوَّهَتْ بِهِمْ أَدِلَّاؤُهُمْ فِي مَهَامِهَ مُضِلَّةٍ فَأَمْعَنُوا فِيهَا مُتَعَسِّفِينَ فِي تِيهِهِمْ كُلَّمَا أَحْدَثَ لَهُمْ الشَّيْطَانُ بِدْعَةً فِي ضَلَالَتِهِمْ انْتَقَلُوا مِنْهَا إِلَى غَيْرِهَا لِأَنَّهُمْ لَمْ يَطْلُبُوا أَثَرَ السَّالِفِينَ وَلَمْ يَقْتَدُوا بِالْمُهَاجِرِينَ

Para pengagum hawa nafsu meraba-raba dengan pendapat mereka, yaitu dengan cara yang bermacam-macam, yang melenceng dari tujuan karena memisahkan diri dari jalan yang lurus. Petunjuk mereka menyesatkan mereka sendiri dalam misteri padang pasir yang menyesatkan. Mereka konsentrasi melihat petunjuk jalan dengan penuh kebingungan dalam kesesatannya. Setiap kali setan membuat satu bid’ah dalam kesesatan, mereka berpindah dari satu bid’ah ke bid’ah lain, karena mereka tidak mencari petunjuk para pendahulu dan juga tidak mengikuti jejak kaum muhajirin.

 

Bersambung..

 

Etika Memakai Sandal dan Sepatu

Sandal

Muqaddimah

Islam adalah satu-satunya agama yang banyak sekali memperhatikan aspek akhlaq dan etika, dari hal yang sebesar-besarnya hingga sekecil-kecilnya. Oleh karena itu, pantaslah pula apa yang dikatakan ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anha ketika ditanya tentang akhlaq Rasulullah bahwa akhlaq beliau adalah al-Qur’an.

Bila kita mengamati kandungan al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi, maka sangat sulit kita untuk tidak mengatakan bahwa di dalamnya selalu terkait dengan akhlaq dan etika itu.

Salah satu hal yang nampaknya sepele tetapi besar artinya yang diberikan perhatian oleh Islam adalah masalah etika memakai sandal atau sepatu.

Nah, apa urgensinya? Bagaimana etikanya?

Naskah Hadits

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا انْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِالْيَمِيْنِ, وَإِذَا انْتَزَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ, لِتَكُنِ الْيُمْنَى أَوَّلَهُمَا تُنْعَلُ, وَآخِرَهُمَا تُنْزَعُ. رواه البخاري

Dari Abu Hurairah radliyallâhu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam bersabda, “Bila salah seorang diantara kamu memakai sandal, maka hendaklah dia memulainya dengan kaki kanan dan bila dia melepasnya, maka hendaklah dia memulainya dengan kaki kiri. Jadikanlah kaki kanan yang pertama dari keduanya dipakai dan yang terakhir dari keduanya yang dilepas (dicopot).” (HR.Bukhari)

Kandungan Hadits

1. Terdapat hadits yang diriwayatkan ‘Aisyah di dalam kitab ash-Shahîhain bahwasanya Nabi Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam sangat suka menganan (memakai dengan memulai yang kanan), baik ketika memakai sandal atau sepatu (atau sandal dan yang semaknanya), menyisir, bersuci dan seluruh urusannya. Beliau Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam senantiasa memulai dengan kanan dan mendahulukannya terhadap sesuatu yang baik dan mengakhirkannya terhadap yang selain itu. bila memakai sandal, beliau mendahulukan kaki kanan; bila memakai pakaian, beliau mendahulukan sebelah kanan dan bila masuk masjid, beliau mendahulukan kaki kanan.
Beliau mendahulukan yang kiri untuk selain hal itu; ketika masuk WC, keluar dari Masjid, melepas kedua sandal, pakaian dan semisalnya.

2. Beliau mengkhususkan yang kanan di dalam makan, minum, berjabat tangan dan mengambil sesuatu yang baik. Dan beliau mengkhususkan yang kiri terhadap kotoran dan sesuatu yang tidak disukai. Inilah sunnah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam yang beliau sukai dan senang melakukannya.

3. Di dalam masalah thaharah (bersuci), beliau mendahulukan untuk mencuci tangan kanan dan kaki kanan. Ketika mencukur di dalam manasik haji, beliau mendahulukan bagian sebelah kanan dari kepalanya atas bagian kirinya, demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam.

4. Menurut syari’at, akal dan estetika bahwa mendahulukan yang kanan terhadap sesuatu yang baik dan mengkhususkannya serta mengkhususkan yang kiri terhadap sesuatu yang tidak disukai adalah lebih utama. Oleh karena itu, kaidah syari’at yang kemudian diambil dari sunnah beliau Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam adalah mendahulukan yang kanan terhadap setiap sesuatu yang pernah beliau lakukan dalam rangka memuliakan beliau dan yang selain itu, dianjurkan untuk memulainya dengan yang kiri.

5. Ibn al-‘Arabi (bukan Ibn ‘Arabi – tokoh Sufi yang sesat-red.,) berkata, “Memulai dengan yang kanan disyari’atkan terhadap semua amal shalih karena keutamaannya secara estetika lebih kuat dan secara syari’at lebih dianjurkan untuk mendahulukannya.”

6. al-Hulaimi berkata, “Sesungguhnya memulai dengan yang kiri ketika melepas (sandal atau sepatu-red.,) karena memakai itu adalah suatu kehormatan dan juga karena ia (dalam posisi) menjaga (melindungi). Manakala yang kanan lebih mulia dan terhormat daripada yang kiri, maka dimulailah dengannya ketika memakai dan dikemudiankan ketika melepas (mencopot) sehingga kehormatannya tetap ada dan jatahnya dari hal itu lebih banyak.”

(SUMBER: Tawdlîh al-Ahkâm Min Bulûgh al-Marâm, karya
Syaikh.’Abdullah al-Bassam, jld.VI, h.233-234)

Tawassul : Masyru’ dan Mamnu’

Tawassul adalah mengadakan wasilah (perantara) antara seorang hamba dan Rabbnya saat hamba tersebut berdoa. Dalam tradisi keagamaan umat Islam di Nusantara, tradisi tawassul merupakan sebuah ritual yang sudah mengakar bahkan telah menjadi kekhususan tersendiri dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah proses peribadahan ini (berdoa).

Namun demikian, dalam praktiknya tawassul seringkali dibumbui oleh hal-hal negatif yang justru bertentangan dengan aqidah Islamiyah, yang dalam hal ini dapat menjerumuskan seseorang ke dalam dosa yang paling besar dalam Islam, musyrik. Karena dalam beberapa praktiknya, kegiatan tawassul justru kemudian memberikan hak dan sifat-sifat uluhiyah (ketuhanan), yang seharusnya menjadi hak milik Allah semata, kepada sang perantara. Atas dasar ini, sebagian orang kemudian berpendapat bahwa seluruh jenis tawassul yang tidak dicontohkan Rasulullah merupakan kemusyrikan. Sedangkan sebagian lagi berpendapat bahwa seluruh jenis tawassul merupakan kegiatan yang diperbolehkan karena hal ini tidaklah berkaitan dengan aqidah, melainkan permasalahan furu’ (cabang) dalam tata cara berdoa kepada Allahu ta’ala, sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Hasan Al Banna -semoga Allah memaafkannya- dalam Ushul ‘Isyrin poin ke 15:

والدعاء إذا قرن بالتوسل إلى الله تعالى بأحد من خلقه خلاف فرعي في كيفية الدعاء وليس من مسائل العقيدة

Dan berdoa kepada Allah jika diiringi tawassul dengan salah satu makhluq-Nya merupakan perbedaan pendapat furu’ (cabang) dalam tata cara berdoa dan bukan merupakan permasalahan aqidah.

Adapun pendapat yang menyatakan bahwa tawassul merupakan permasalahan aqidah, di mana jika kita salah dalam mempraktikannya dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam dosa besar menyandarkan pendapat mereka pada surat Az Zumar ayat ke 3, Allah berfirman:

أَلاَ لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلْخَالِصُ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِ أَوْلِيَآءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلْفَىۤ إِنَّ ٱللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِى مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ ٱللَّهَ لاَ يَهْدِى مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَـفَّارٌ

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. [QS. Az Zumar : 3]

Mereka juga menyandarkan pendapat mereka dengan ucapan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab -semoga Allah merahmatinya- yang berkata tentang pembatal keislaman poin ke 2:

من جعل بينه وبين الله وسائط يدعوهم ويسألهم الشفاعة ويتوكل عليهم فقد كفر إجماعا

Siapa yang menjadikan antara dirinya dan Allah perantara-perantara yang ia berdoa kepada mereka dan meminta syafaat kepada mereka dan bertawakkal kepada mereka, maka ia kafir berdasarkan ijma’.

Namun demikian, banyak di antara mereka yang tidak mengerti maksud dari ayat ke 3 dalam surat Az Zumar di atas dan ucapan Syaikh Muhammad tersebut sehingga mereka terjebak pada pemahaman yang berpendapat bahwa semua jenis tawassul yang tidak dicontohkan Rasulullah -shalawat dan salam atas beliau- merupakan bagian dari kemusyrikan.

Lalu, bagaimana kedudukan tawassul dalam ajaran Islam di atas timbangan Al Qur`an dan as Sunnah yang shahih? Bagaimana kita bersikap adil dan seimbang dalam permasalahan ini?

Puji syukur kehadirat Allahu ta’ala, Asy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz -semoga Allah merahmatinya- telah menjelaskan dengan rinci permasalahan ini saat ditanyakan kepada beliau :

اختلط على كثير من الناس مفهوم التوسل الجائز والتوسل الممنوع, نرجو من سماحة الشيخ أن يبيِّن لنا ما هو التوسل، وما هو الجائز منه وما هو الممنوع، وأمثلة على ذلك؟

Begitu beragam pemahaman orang-orang mengenai tawassul jaiz (yang diperbolehkan) dan tawassul mamnu‘ (yang dilarang). Kami memohon dengan hormat kepada Syaikh untuk menjelaskan kepada kami apa itu tawassul, bagaimanakah tawassul yang diperbolehkan (masyru‘ / disyari’atkan) dan bagaimanakah tawassul mamnu‘, berikut contoh-contohnya.

Syaikh pun menjawabnya dengan begitu rinci:

التوسل كما ذكره ابن القيم وغيره -رحمة الله عليه-، التوسل أقسام ثلاث: توسل والشرك الأكبر، كدعاء الأموات والاستغاثة بالأموات، والذبح لهم والنذر لهم، هذا هو الشرك الأكبر، يقول المشركون: مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى[الزمر: 3]، هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّه.[يونس: 18]، يتوسلون بدعائهم واستغاثتهم بهم، وهذا هو الشرك الأكبر.

Tawassul, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu `l-Qayyim dan selainnya -semoga Allah merahmati mereka semua-, terbagi ke dalam tiga jenis: Pertama; Tawassul yang hukumnya syirik akbar, seperti berdoa dan beristighasah kepada orang-orang yang sudah meninggal, menyembelih dan bernadzar untuk mereka. Semua ini merupakan syirik akbar. Berkata orang-orang musyrik : “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.”[QS. Az Zumar : 3] “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” [QS. Yunus : 18]. Mereka bertawassul dengan berdoa kepada orang-orang mati dan beristighasah kepada mereka, dan semua ini adalah syirik akbar.

Hal ini dapat dipahami, karena walaupun secara istilah disebut tawassul namun dalam praktiknya justru telah mengalihkan hak dan sifat-sifat uluhiyah kepada orang-orang yang sudah meninggal berupa berdan beristighasah kepada mereka, atau menyembelih dan bernadzar untuk mereka. Padahal akal sehat kita pun memahami bahwa orang yang sudah meninggal tidak bisa memberikan manfaat atau bahaya.

Inilah sebenarnya yang menjadi illat (sebab) dari batalnya keislaman seseorang sebagaimana yang dijelaskan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di atas, beliau telah menegaskannya dengan kalimat : “yang ia berdoa kepada mereka dan meminta syafaat kepada mereka dan bertawakkal kepada mereka”. Dan ini merupakan penjelasan dari surat Az Zumar ayat ke 3 tentang ucapan orang-orang musyrikin : “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Wallahu a’lam.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz melanjutkan:

التوسل الثاني: التوسل بذواتهم، تقول: اللهم إني أسألك بذات فلان، بنبيك فلان، اللهم إني أسأل بعبادك الصالحين، اللهم إني أسألك بمحمد، بموسى، هذا توسل ممنوع، بدعة، لأنه وسيلة للغلو والشرك

Kedua: Tawassul dengan dzat, keduduakan, atau hak mereka (orang-orang yang sudah meninggal, baik itu para nabi maupun para wali) seperti : [Yaa Allah aku memohon kepadamu dengan nama “fulan”, dengan nama nabimu, “fulan”. Yaa Allah aku memohon kepadamu dengan nama hamba-Mu yang shalih. Yaa Allah aku memohon kepada dengan nama Muhammad dan Musa]. Tawassul jenis ini merupakan tawassul yang baru yang belum pernah ada pada masa Rasulullah dan para sahabat, maka hukumnya terlarang lagi bid’ah karena dapat menjadi pintu bagi sikap ghulluw (berlebihan) dan syirik.

Hal ini dikarenakan praktik ini tidak dikenal pada masa para shahabat, bahkan dahulu ‘Umar bin Al Khathab bertawassul dengan Al ‘Abbas (paman Rasulullah) setelah Rasulullah wafat. Hal ini menunjukkan bahwa para shahabat tidak lagi bertawassul dengan Rasulullah saat beliau wafat melainkan mengganti dan mencari orang-oang yang dianggap memiliki keutamaan dan pada saat itu Khalifah ‘Umar telah memilih Al ‘Abbas. Jika bertawassul dengan hak dan kedudukan Rasulullah (saat beliau sudah wafat) merupakan praktik yang disyari’atkan dan diperbolehkan maka para shahabat pasti melakukannya, namun kenyataannya mereka tidak melakukan hal tersebut. Begitupun, jika dengan kedudukan dan hak Rasulullah yang sudah wafat saja tidak dilakukan para shahabat maka apalagi dengan para wali dan orang-orang shalih lainnya (sudah meninggal) yang kedudukannya jelas di bawah kedudukan Rasulullah -shalawat dan salam atasnya-. Wallahu a’lam.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz melanjutkan:

التوسل الثالث الجائز المشروع: وهو التوسل بأسماء الله وصفاته، التوسل بأعمالك الصالحة، بإيمانك، هذا التوسل المشروع،

Ketiga : Tawassul jaiz dan masyru‘ (yang diperbolehkan dan disyari’atkan). Yaitu tawassul dengan nama-nama Allah atau dengan iman dan amal shalih. Semua ini merupakan tawassul masyru‘.

مثل ما قال الله -جل وعلا-: وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا[الأعراف: 180]، ومثل ما كان النبي -صلى الله عليه وسلم- يدعو الله بأسمائه وصفاته، هذا يقال له: التوسل المشروع، وقد جاء في حديث: أعوذ بعزتك أن تذلني، فالتوسل بصفات الله أمر مشروع، أسألك برحمتك، أسألك بعلمك، أسألك بإحسانك، أسألك بقدرتك أن تغفر لي،….

Contohnya adalah seperti yang difirmankan Allah jalla wa ‘alaa : “Dan hanya milik Allah-lah al-asmaa`u `l-husnaa, maka berdoalah dengannya.” [QS. Al A’raaf : 180]. Juga sebagaimana Nabi -shalawat dan salam atasnya- berdoa kepada Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Inilah yang disebut tawassul masyru‘. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadits, Rasulullah berdoa : “Aku berlindung dengan izzah-Mu agar aku tidak Engkau hinakan.” Maka tawassul dengan sifat-sifat Allah adalah perkara yang disyari’atkan, juga seperti : “Aku memohon dengan rahmat-Mu, aku memohon dengan ilmu-Mu, aku memohon dengan kebaikan-Mu, aku memohon dengan kekuatan-Mu, ampunilah aku.”

Dan seperti ini pula tawassul dengan amal shalih berupa berbakti kepada kedua orang tua, menunaikan amanah, menahan diri dari yang diharamkan oleh Allah  dan semisal yang demikian itu, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits penghuni goa yang diriwayatkan dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim):

Mereka ada tiga orang, kemalaman dan hujan membuat mereka bermalam di dalam goa. Maka tatkala mereka telah masuk ke dalamnya, batu besar jatuh dari atas gunung, lalu menutupi pintu goa. Maka mereka tidak bisa keluar, lalu mereka saling berkata: ‘Sesungguhnya tidak ada yang bisa menyelamatkan kamu dari batu besar ini kecuali kamu memohon kepada Allah  dengan amal-amal shalihmu. Maka mereka bertawajjuh (menghadap) kepada Allah  dan memohon kepada-Nya dengan sebagian amal mereka yang baik. Salah seorang dari mereka berkata: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai ayah ibu yang sudah tua dan aku tidak memberi minuman sebelum keduanya kepada keluarga (anak istri) dan harta (budak). Dan pada suatu hari aku terlalu jauh mencari pohon, maka tatkala aku pergi kepada keduanya dengan minuman keduanya, ternyata kedua sudah tidur. Maka aku tidak membangunkan keduanya dan aku tidak suka memberi minuman kepada keluarga dan harta sebelum keduanya. Maka aku terus seperti itu hingga terbit fajar, lalu keduanya terbangun dan meminum susu mereka. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan hal itu karena mengharap ridha-Mu maka lapangkanlah dari kami apa yang ada pada kami. maka batu besar itu bergeser sedikit yang mereka tidak bisa keluar darinya.

Adapun yang kedua, maka ia bertawassul dari sifat iffah (menahan diri) nya dari perbuatan zina, di mana dia mempunyai sepupu perempuan yang dia sangat mencintainya. Lalu ia (sepupunya) datang kepadanya meminta bantuan maka ia enggan kecuali ia menyerahkan dirinya (untuk berbuat zinah), lalu ia setuju karena kebutuhannya. Maka ia memberinya seratus dua puluh (120) dinar. Tatkala dia sudah duduk di antara dua kakinya, dia (sepupunya) berkata: ‘Wahai Abdullah, takutlah kepada Allah  dan janganlah engkau memecahkan cincin kecuali dengan sebenarnya.” Ia pun merasa takut kepada Allah  saat itu, berdiri darinya dan membiarkan emas (dinar) karena takut dari siksa Allah . Ia berkata: ‘Ya Allah, jika ia mengetahui bahwa aku melakukan hal ini karena mengharap ridha-Mu maka lapangkanlah dari kami apa yang ada pada kami.’ Maka batu itu bergeser sedikit yang mereka tidak bisa keluar darinya.

Kemudian yang ketiga berkata: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai beberapa karyawan, aku memberikan kepada setiap orang upahnya kecuali satu orang yang dia meninggalkan upahnya. Lalu aku mengembangkannya untuknya sehingga menjadi unta, sapi, kambing dan budak. Lalu ia datang meminta upahnya, maka aku berkata kepadanya: ‘Semua ini adalah upahmu,’ maksudnya unta, sapi, kambing, dan budak.’ Ia berkata: Wahai hamba Allah, bertaqwalah kepada Allah  dan janganlah engkau mengolok olok aku.’ Lalu kukatakan kepadanya: ‘Sesungguhnya aku tidak mengolok-olokmu, sesungguhnya semuanya adalah hartamu.’ Maka ia membawa semuanya. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan hal itu karena mengharapkan ridha-Mu maka lapangkanlah dari kami apa yang kami alami.’ Maka batu itu bergeser, lalu mereka semua keluar sambil berjalan.” [Al-Bukhari 3465 dan Muslim 2743 dengan maknanya]

Dan termasuk tawassul yang disyari’atkan adalah bertawassul dengan orang-orang shalih yang masih hidup, meminta mereka mendoakan kebaikan kepada kita sebagaimana Khalifah Umar dahulu bertawassul dengan Al ‘Abbas yang telah dijelaskan di atas. Begitupun dahulu Khalifah ‘Umar pernah meminta seorang tabi’in, ‘Uwais Al Qarni untuk mendoakan kebaikan baginya dan semua ini merupakan tawassul yang diperbolehkan dan pernah dilakukan oleh para shahabat -semoga Allah meridhai mereka smuanya-.

Wallahu a’lam...

Keutamaan Hijab

Sebagian orang berpikir bahwa berjilbab hati lebih utama dibandingkan jilbab fisik. Bahkan di antara mereka kemudian berpendapat bahwasudah cukup bagi setiap wanita untuk menjaga hatinya tanpa harus menjaga fisiknya. Padahal, hati yang berjilbab sungguh tampak dari fisik yang berjilbab. Ya, tidak setiap orang yang berjilbab fisik sudah benar-benar berjilbab hati. Namun, sungguh setiap orang yang hatinya berjilbab, pasti fisiknya juga berjilbab.

Berjilbablah wahai muslimah... 🙂

Selain itu, dalam ajaran Islam, berjilbab atau mengenakan hijab memiliki banyak keutamaan di hadapan Allahu ta’ala, di antaranya:

• Hijab itu adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَا كَانَ لمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إذاَ قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أمْرًا أنْ يَكُونَ لهُمُ الخِيَرَةُ مِنْ أمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’minah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab: 36)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan kaum wanita untuk menggunakan hijab sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluan-nya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Q.S An-Nur: 31)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الجَاهِلِيَّةِ الأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah.” (Q.S. Al-Ahzab: 33)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

 

“Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 53)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ المُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ

“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Wanita itu aurat” maksudnya adalah bahwa ia harus menutupi tubuhnya.

• Hijab itu ‘iffah (kemuliaan)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kewajiban menggunakan hijab sebagai tanda ‘Iffah (menahan diri dari maksiat).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ياَ أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ المُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أدْنَى أنْ يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ

“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Itu karena mereka menutupi tubuh mereka untuk menghindari dan menahan diri dari perbuatan jelek (dosa), “karena itu mereka tidak diganggu”. Maka orang-orang fasik tidak akan mengganggu mereka. Dan pada firman Allah “karena itu mereka tidak diganggu” sebagai isyarat bahwa mengetahui keindahan tubuh wanita adalah suatu bentuk gangguan berupa fitnah dan kejahatan bagi mereka.

• Hijab itu kesucian

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 53)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati hijab sebagai kesucian bagi hati orang-orang mu’min, laki-laki maupun perempuan. Karena mata bila tidak melihat maka hatipun tidak berhasrat. Pada saat seperti ini, maka hati yang tidak melihat akan lebih suci. Ketiadaan fitnah pada saat itu lebih nampak, karena hijab itu menghancurkan keinginan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ

“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.” (Q.S. Al-Ahzab: 32)

• Hijab itu pelindung

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

(إنَّ اللهَ حَيِيٌّ سَتِيرٌ يُحِبُّ الحَيَاءَ وَالسِّتْرَ)

“Sesungguhnya Allah itu Malu dan Melindungi serta Menyukai rasa malu dan perlindungan”

Sabda beliau yang lain:

(( أيَّمَا اِمْرَأَةٍ نَزَعَتْ ثِيَابَهَا في غَيْرِ بَيْتِهَا خَرَقَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهَا سِتْرَهُ))

 

“Siapa saja di antara wanita yang melepaskan pakaiannya di selain rumahnya, maka Allah Azza wa Jalla telah mengoyak perlindungan rumah itu dari padanya.”

Jadi balasannya setimpal dengan perbuatannya.

• Hijab itu taqwa

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ياَ بَنِي آدَمَ قَدْ أنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْءَاتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ

“Hai anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik.” (Q.S. Al-A’raaf: 26)

• Hijab itu iman

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berfirman kecuali kepada wanita-wanita beriman: “Dan katakanlah kepada wanita yang beriman.” (Q.S. An-Nur: 31). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: “Dan istri-istri orang beriman.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Dan ketika wanita-wanita dari Bani Tamim menemui Ummul Mu’minin, Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan pakaian tipis, beliau berkata: “Jika kalian wanita-wanita beriman, maka (ketahuilah) bahwa ini bukanlah pakaian wanita-wanita beriman, dan jika kalian bukan wanita beriman, maka silahkan nikmati pakaian itu.”

• Hijab itu haya’ (rasa malu)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

((إنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَإنَّ خُلُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاءُ))

“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.”

Sabda beliau yang lain:

“Malu itu adalah bagian dari iman dan iman itu di surga.”

Sabda Rasul yang lain:

((الحَيَاءُ وَالإيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا ، فَإنْ رُفِعَ أحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَرُ))

“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan terangkat.”

• Hijab itu ghirah (perasaan cemburu)

Hijab itu selaras dengan perasaan cemburu yang merupakan fitrah seorang laki-laki sempurna yang tidak senang dengan pandangan-pandangan khianat yang tertuju kepada istri dan anak wanitanya. Berapa banyak peperangan terjadi pada masa Jahiliyah dan masa Islam akibat cemburu atas seorang wanita dan untuk menjaga kehormatannya. Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa wanita-wanita kalian berdesak-desakan dengan laki-laki kafir orang ‘ajam (non Arab) di pasar-pasar, tidakkah kalian merasa cemburu? Sesungguhnya tidak ada kebaikan pada seseorang yang tidak memiliki perasaan cemburu.”

Beberapa syarat hijab yang harus terpenuhi:

1.    Menutupi seluruh anggota tubuh wanita -berdasarkan pendapat yang paling rajih / terang
2.    Hijab itu sendiri pada dasarnya bukan perhiasan.
3.    Tebal dan tidak tipis atau trasparan.
4.    Longgar dan tidak sempit atau ketat.
5.    Tidak memakai wangi-wangian yang mencolok.
6.    Tidak menyerupai pakaian wanita-wanita kafir.
7.    Tidak menyerupai pakaian laki-laki.
8.    Tidak bermaksud memamerkannya kepada orang-orang.

Jangan berhias terlalu berlebihan

Bila anda memperhatikan syarat-syarat tersebut di atas akan nampak bagi anda bahwa banyak di antara wanita-wanita sekarang ini yang menamakan diri sebagai wanita berjilbab, padahal pada hakekatnya mereka belum berjilbab. Mereka tidak menamakan jilbab dengan nama yang sebenarnya. Mereka menamakan tabarruj sebagai hijab dan menamakan maksiat sebagai ketaatan.

Musuh-musuh kebangkitan Islam berusaha dengan sekuat tenaga menggelincirkan wanita itu, lalu Allah menggagalkan tipu daya mereka dan meneguhkan orang-orang Mu’min di atas ketaatan kepada Tuhannya. Mereka memanfaatkan wanita itu dengan cara-cara kotor untuk memalingkannya dari jalan Tuhan dengan memproduksi jilbab dalam berbagai bentuk dan menamakannya sebagai “jalan tengah” yang dengan itu ia akan mendapatkan ridha Tuhannya -sebagaimana pengakuan mereka- dan pada saat yang sama ia dapat beradaptasi dengan lingkungannya dan tetap menjaga kecantikannya.

Kami dengar dan kami taat

Seorang muslim yang jujur akan menerima perintah Tuhannya dan segera menerjemahkannya dalam amal nyata, karena cinta dan perhomatannya terhadap Islam, bangga dengan syariat-Nya, mendengar dan taat kepada sunnah nabi-Nya dan tidak peduli dengan keadaan orang-orang sesat yang berpaling dari kenyataan yang sebenarnya, serta lalai akan tempat kembali yang ia nantikan. Allah menafikan keimanan orang yang berpaling dari ketaatan kepada-Nya dan kepada rasul-Nya:

وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرْيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَمَا أُولَئِكَ بِالمُؤْمِنِينَ (47) وَإذَا دُعُوا إلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ (48)

“Dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami menaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.” (Q.S. An-Nur: 47-48)

Firman Allah yang lain:

إنَّمَا كاَنَ قَوْلَ المُؤْمِنِينَ إذَا دُعُوا إلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ المُفْلِحُونَ (51) وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللهَ وَيَتَّقِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الفَائِزُونَ (52)

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (Q.S. An-Nur: 51-52)

Dari Shofiyah binti Syaibah berkata: “Ketika kami bersama Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata: “Saya teringat akan wanita-wanita Quraisy dan keutamaan mereka.” Aisyah berkata: “Sesungguhnya wanita-wanita Quraisy memiliki keutamaan, dan demi Allah, saya tidak melihat wanita yang lebih percaya kepada kitab Allah dan lebih meyakini ayat-ayat-Nya melebihi wanita-wanita Anshor. Ketika turun kepada mereka ayat:

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” (Q.S. An-Nur: 31)

Maka para suami segera mendatangi istri-istri mereka dan membacakan apa yang diturunkan Allah kepada mereka. Mereka membacakan ayat itu kepada istri, anak wanita, saudara wanita dan kaum kerabatnya. Dan tidak seorangpun di antara wanita itu kecuali segera berdiri mengambil kain gorden (tirai) dan menutupi kepala dan wajahnya, karena percaya dan iman kepada apa yang diturunkan Allah dalam kitab-Nya. Sehingga mereka (berjalan) di belakang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dengan kain penutup seakan-akan di atas kepalanya terdapat burung gagak.”

(Dinukil dari kitab : الحجاب Al Hijab. Penebit: Darul Qosim دار القاسم للنشر والتوزيع P.O. Box 6373 Riyadh 11442)

Hukum Tahlilan

Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) memutuskan bahwa selamatan kematian setelah hari wafat, hari ketiga, ketujuh dll adalah : MAKRUH, RATAPAN TERLARANG, BID’AH TERCELA (BID’AH MADZMUMAH), OCEHAN ORANG-ORANG BODOH.
 Berikut apa yang tertulis pada keputusan itu :

Tahlilan

MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926
TENTANG
KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

TANYA :

Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

JAWAB :

Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.

KETERANGAN :

Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:

“MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN (YANG DILARANG).”

Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :

“Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan TENTANG YANG DILAKUKAN PADA HARI KETIGA KEMATIAN DALAM BENTUK PENYEDIAAN MAKANAN UNTUK PARA FAKIR DAN YANG LAIN, DAN DEMIKIAN HALNYA YANG DILAKUKAN PADA HARI KETUJUH, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.

Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuaan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak?

Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”

Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).

Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN” ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam terhadap seseorang yang batal (karena hadats) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.

Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).

SELESAI , KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926

REFERENSI :

 Lihat : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman 15-17), Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.

 Masalah Keagamaan Jilid 1 – Hasil Muktamar dan Munas Ulama Nahdlatul Ulama Kesatu/1926 s/d/ Ketigapuluh/2000, KH. A.Aziz Masyhuri, Penerbit PPRMI dan Qultum Media.

Shiyaam dan Kesehatan

Tidak diragukan lagi bahwa shiyaam (berpuasa) memiliki hikmah yang luar biasa bagi kesehatan seseorang yang melaksanakannya. Telah kita bahas bersama di atas bahwa dalam sebuah riawayat Rasulullah saw. pernah bersabda bahwa perut adalah sumber segala penyakit. Maka, cara yang paling efektif untuk mencegahnya adalah dengan melakukan tindakan preventif, yaitu mengurangi zat yang masuk ke dalam perut. Allah berfirman, “Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raaf, 7: 31).

piss

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Sebagaimana sebuah kaidah fiqih “dar`ul fasad awla min jalbil mashalih” menolak kerusakan lebih baik daripada mengambil manfaat. Artinya, apabila dalam suatu perkara terlihat adanya manfaat atau mashlahah, namun di situ juga ada mafsadah atau kerusakan, maka haruslah menghilangkan mafsadah atau kerusakan, karena kerusakan dapat meluas ke mana-mana, sehingga akan mengakibatkan kerusakan yang lebih besar, walaupun pada akhirnya kita tidak mendapatkan manfaat yang dimaksud.

Di dalam makanan tentu terdapat manfaat yang sungguh luar biasa, sehingga kita butuh makanan untuk menghilangkan lapar, menguatkan otot, serta optimal dalam beribadah. Namun, saat kita makan berlebihan, makanan yang baik pun berbalik menjadi racun yang menyerang tubuh kita. Dalam titik seperti ini, maka tidak makan untuk menghindari racun lebih diutamakan daripada kita tetap makan untuk menghilangkan lapar namun racun ikut masuk ke dalam tubuh kita.

Maka dari itu, Islam mengajarkan ummatnya untuk senantiasa menjaga makanan dengan berpuasa. Bahkan, dalam satu tahun, ada satu bulan penuh yang sengaja disyari’atkan oleh Allah untuk ummat muslim berpuasa penuh. Hal ini jika dilihat dari sudut pandang kesehatan mengandung makna bahwa dalam setahuh memang harus ada satu masa di mana tubuh harus menjaga kembali kinerjanya, menahan dari makanan yang kadang menjadi racun bagi tubuh kita. Dengan berpuasa, organ-organ tubuh kita, khususnya organ pencernaan akan melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas kerja. Karena orang yang berpuasa memiliki pola makan yang sangat teratur. Hal ini dapat membantu kinerja dari organ-organ poencernaan untuk bisa melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas kerja. Apalagi, jika kita juga berpuasa pada selain bulan Ramadahn, tentu akan sangat membantu kesehatan tubuh kita.

Selain itu, shiyam merupakan perisai, sebagaimana perisai seorang prajurit ketika berperang. Dari Abu Hurayrah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, “Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari). Sedangkan dari ‘Utsman ibn Abi ‘Ash radhiyallahu ‘anhu
, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Puasa adalah perisai, seperti perisai (yang digunakan) salah satu dari kalian untuk berperang.” (HR. Nasa’i).

Dari Abu Ubaydah radhiyallahu ‘anhu, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Puasa itu adalah perisai selama itu tidak terbakar.” Ad-Darimi menambahkan, “(terbakarnya perisai) Dengan membicarakan kejelekan orang lain (ghibah).” Dari ‘A`isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Puasa adalah perisai dari api neraka.” Dalam riwayat Ahmad, dari Abu Hurayrah, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Puasa adalah perisai dan benteng dari api neraka.”

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah berkata dalam Ath Thibb An Nabawi bahwa puasa adalah perisai bagi penyakit ruhani, hati, dan badan, serta memberikan manfaat yang tidak terhitung. Puasa juga memberikan peran yang luar biasa dalam menjaga kesehatan, menghancurkan sisa-sisa makanan, dan menjaga diri dari makanan yang membahayakan. Terlebih apabila dilakukan dengan benar.

Tubuh sangat memerlukan puasa untuk beristirahat. Kemudian, puasa juga dapat mengatur stamina tubuh dan anggota-anggota tubuh. Yang terpenting dari itu semua adalah bahwa puasa dapat memberikan kebahagiaan hati cepat atau lambat (di dunia dan akhirat). Ini merupakan hal yang sangat bermanfaat bagi seseorang. Jadi, puasa memberikan pengaruh positif yang sangat besar bagi kesehatan dan kehidupan seseorang.

Sedangkan Ibn ‘Arabi berkata, “Sesungguhnya puasa itu perisai dari api neraka, karena puasa dapat mengekang syahwat. Dan neraka itu dikelilingi oleh syahwat.” Hal ini telah dibuktikan dalam sebuah penelitian di sebuah Rumah Sakit di Amerika. Sebagaimana yang dikutip oleh Abdullah Hajjaj dalam at-Tadawi bi ash-Shiyam karya Syaikh Mutawalli Sya’rawi, dari majalah al-Ghadad ash-Shama’ wa al-Istiqlab al-Iklinikah, no. 53 tahun 1981, menyatakan bahwa telah dilakukan penelitian terhadap 6 orang yang berusia sekitar 26 hingga 45 tahun. Penelitian ini dilakukan dengan tiga tahap:

  1. Tahap pertama : pengawasan (controlling), berlangsung selama tiga hari. Pada hari itu mereka makan seperti biasa.
  2. Tahap kedua    : puasa penuh, yaitu mereka puasa selama sepuluh hari, tidak makan dan minum, baik siang ataupun malam, kecuali air putih yang boleh diminum siang dan malam.
  3. Tahap ketiga    : memberikan makan, ini berlangsung selama lima hari.

Kemudian dilakukan pemeriksaan darah untuk mengetauhi hormon sex pada hari-hari tersebut:

  1. Hari kedua, yaitu ditengah masa pengawasan.
  2. Hari kesebelas, yaitu di tengah masa puasa, bertepatan hari kedelapan puasa.
  3. Hari keenam belas, yaitu hari ketiga masa diberikan makanan.

Pemeriksaan darah kembali dilakukan pada hari ketiga, kedua belas, dan ketujuh belas. Adapun hormon yang diteliti adalah:

  1. Testosterone (hormon sex laki-laki)
  2. Follicle Stimulating Hormone (FSH), yaitu hormon kantong perangsang
  3. Hormon Malutone (LH)

Hormon FSH dan LH merupakan hormon kelenjar kelamin (gomedotrobins). Adapun hasilnya adalah sebagai berikut:

  1. Turunnya testosterone dengan frekwensi yang cukup tinggi ketika melakukan puasa. Turunnya hormon itu terus terjadi hingga tiga hari diberikan makan (langkah ketiga). Akan tetapi pada hari keempat (langkah ketiga) hormon itu kembali naik dengan angka yang sangat tinggi, lebih tinggi dari sebelum berpuasa.
  2. Bertambah banyaknya FH dan LH yang keluar. Hal ini terjadi saat melaksanakan puasa hingga 3 hari setelah puasa.
  3. LH banyak terpisah dari aliran darah, sehingga libido menurun.
  4. FSH berkurang ketika berpuasa sehingga bertambah banyaknya hormon keluar dari tubuh.

Hal tersebut sebenarnya telah diisyaratkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam 15 abad yang lalu. Dari Abdullah, beliau alayhi shalatu wa sallam bersabda, “Wahai para pemuda, barangsiapa yang sudah ba’ah di antara kalian menikahlah. Karena menikah itu dapat menundukan pandangan dan menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa karena ia dapat mengekang hawa nafsu.” (HR. Bukhari Muslim). Kita lihat bagaimana Rasulullah  memberikan sebuah resep untuk menjaga kesehatan bagi para pemuda yang sudah ba’ah namun belum mampu menikah, yaitu dengan berpuasa. Dan hikmah di balik itu semua baru terungkap 15 abad kemudian.

Selain itu, dalam www.alsofwah.or.id pada 01 Ramadhan 1424 mengeluarkan artikel dengan judul Penelitian Ilmiah Tentang Puasa. Dalam artikel tersebut disebutkan beberapa manfaat shiyam dari sudut pandang medis.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يايها الذين أمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kalian untuk berpuasa sebagaimana juga telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah, 2: 183).

وأن تصوموا خير لكم إن كنتم تعلمون

“Dan andai kalian memilih puasa tentulah itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah, 2: 184).

Shiyaam, setelah melalui berbagai penelitian ilmiah dan terperinci terhadap organ tubuh manusia dan aktivitas fisiologisnya ditemukan bahwa aktivitas ini merupakan sesuatu yang harus dilakukan oleh tubuh manusia sehingga ia bisa mempertahankan kondisi tubuhnya dalam keadaan yang stabil. Kebutuhan berpuasa bagi kesehatan manusia adalah sebagaimana manusia membutuhkan makan, bernafas, bergerak, dan tidur. Jika seseorang tidak bisa tidur, atau tidak makan dan minum selama rentang waktu yang lama maka ia akan sakit. Tubuh manusia pun akan mengalami hal yang sama jika ia tidak berpuasa.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Nasaa`i dari Abu Umamah:

قال أبو أمامة: يا رسول الله، مرني بعمل ينفعني الله به، قال: ((عليك بالصوم فإنه لا مثل له ))

“Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepadaku satu amalan yang Allah akan memberikan manfaat-Nya kepadaku dengan sebab amalan itu”. Maka Rasulullah bersabda, “Berpuasalah, sebab tidak ada satu amalan pun yang setara dengan puasa”.

Berpuasa dapat membantu tubuh untuk membuang sel-sel yang sudah rusak, sekaligus hormon atau zat-zat yang melebihi jumlah yang dibutuhkan tubuh. Ini adalah metode yang bagus untuk sistem pembuangan sel-sel atau hormon yang rusak dan membangun kembali tubuh dengan sel-sel baru. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang difahami kebanyakan orang bahwa shiyaam menyebabkan orang menjadi lemah dan lesu. Berpuasa yang baik bagi badan itu adalah dengan syarat dilakukan selama satu bulan berturut-turut dalam setahun, dan bisa ditambahkan 3 hari atau lebih pada setiap bulan. Hal ini sangat sesuai dengan anjuran Rasulullah ‘alayhi shalatu wa sallam dalam sebuah haditsnya:

(( من صام من كل شهر ثلاثة أيام فذلك صيام الدهر ))

“Siapa yang berpuasa tiga hari setiap bulan, maka itu sama dengan puasa dahr (puasa sepanjang tahun).”

 

Tom Branch, dari Columbia Press mengatakan:

“Aku menganggap puasa adalah pengalaman ruhani yang sangat luar biasa, lebih besar daripada pengalaman biologis/badan semata. Maka karena keinginan itu, aku mulai berpuasa dengan tujuan membersihkan diriku dari berat badan yang berlebih. Akan tetapi, ternyata aku mendapati bahwa puasa tersebut bermanfaat sekali bagi kejernihan pikiran. Puasa sangat membantu pandangan mata sehingga pandangan menjadi jelas sekali. Demikian juga sangat membantu dalam menganalisis ide-ide baru atau pun persepsi. Dan aktivitas puasaku belum berlalu beberapa hari, tetapi aku mendapati pengaruh kejiwaan yang demikian besar.

Aku telah berpuasa beberapa kali hingga sekarang. Dan aku biasanya memilih waktu antara 1 sampai 6 hari. Dan pada awalnya tujuanku adalah untuk menghilangkan efek negatif dari makanan yang aku konsumsi, juga untuk membersihkan jiwaku dari hal-hal yang aku alami sepanjang hidupku, khususnya setelah memperhatikan dunia dalam beberapa bulan terakhir, dan aku melihat banyak kedhaliman dan kebrutalan yang manusia hidup di dalamnya. Sungguh aku merasa bertangung jawab terhadap keadaan mereka, maka aku pun berpuasa untuk menghilangkan pikiran-pikiran itu.”

“Setiap kali berpuasa perasaan tertarik pada makanan benar-benar hilang, dan aku merasakan badanku sangat rileks dan nyaman. Dan aku merasakan diriku berpaling dari fantasi-fantasi, emosi-emosi negatif seperti dengki, cemburu, suka ngerumpi, juga hilang perasaan takut, perasaan tidak enak, dan bosan. Semua perasaan-perasaan ini hilang dengan sendirinya ketika aku berpuasa. Dan sungguh aku merasa dengan pengalaman yang begitu mengesankan bersama dengan banyak manusia ketika berpuasa. Dan mungkin semua yang aku katakan ini adalah sebab yang menjadikan muslimin -sebagaimana aku melihat mereka di Turki, Suriah, dan Quds- dengan puasa selama sebulan penuh menjadikan jiwa-jiwa mereka begitu mengesankan yang tidak pernah aku temukan di belahan dunia manapun”.

Dalam sebuah penelitian ilmiah juga dibuktikan bahwa shiyaam dapat mencegah beberapa macam penyakit serta menjaga kestabilan kondisi tubuh, di antaranya.

Fasting can change your life

 

Mencegah Dari Tumor

Puasa berfungsi sebagai “dokter bedah” yang menghilangkan sel-sel yang rusak dan lemah di dalam tubuh. Maka, rasa lapar yang dirasakan orang yang sedang berpuasa dapat menggerakan organ-organ internal di dalam tubuh untuk menghancurkan atau memakan sel-sel yang rusak atau lemah tadi untuk menutupi rasa laparnya. Maka hal itu merupakan saat yang baik bagi badan untuk mengganti sel-selnya dengan sel-sel baru sehingga bisa kembali berfungsi dan beraktivitas. Hal tersebut juga dapat menghilangkan atau memakan organ-organ yang sakit dan memperbaharuinya. Puasa juga berfungsi menjaga tubuh dari berbagai zat yang berlebih, seperti kelebihan daging atau lemak, sekaligus bisa mencegah terjadinya tumor ketika awal-awal pembentukannya.

 

Menjaga Kadar Gula Dalam Darah

Saat makanan kelebihan kandungan insulin, maka pankreas akan mengalami tekanan dan melemah. Jika hal ini dibiarkan, pankreas tidak bisa menjalankan fungsinya. Maka, kadar darah pun akan merambat naik dan terus meningkat hingga akhirnya muncul penyakit diabetes. Berpuasa berfungsi menurunkan kadar gula dalam darah hingga mencapai kadar seimbang. Maka sesungguhnya puasa memberikan kesempatan kepada kelenjar pankreas untuk mengoptimalkan kinerjanya. Pankreas kemudian mengeluarkan insulin yang menetralkan gula menjadi zat tepung dan lemak untuk dikumpulkan di dalam pankreas. Di beberapa Negara, untuk menanggulangi diabetes, mereka menggunakan terapi yang mengikuti “sistem puasa” selama lebih dari 10 jam dan kurang dari 20 jam. Setiap kelompok mendapatkan pengaruh sesuai dengan keadaannya. Kemudian, para pasien tersebut mengonsumsi makanan ringan selama berurutan yang kurang dari 3 minggu. Metode semacam ini telah mencapai hasil yang menakjubkan dalam pengobatan diabetes dan tanpa menggunakan satu obat kimia sintetis pun.

 

Berpuasa Adalah Dokter Yang Paling Murah

Sesungguhnya berpuasa adalah “dokter” yang paling murah secara mutlak. Sebab puasa bisa menurunkan berat badan secara signifikan, dengan catatan ketika berbuka puasa memakan makanan dengan menu seimbang dan tidak mengkonsumsi makanan dan minuman langsung ketika berbuka. Rasullulah saw. ketika memulai ifthar adalah dengan memakan beberapa buah kurma dan bukan yang lain, atau seteguk air putih lalu shalat. Inilah petunjuk yang seharusnya kita ikuti.

Itu adalah sebaik-baik petunjuk bagi orang yang berpuasa dari makanan dan minuman untuk waktu yang lama. Kandungan gula yang ada dalam kurma sangat mudah dicerna dan dikirim ke seluruh tubuh oleh darah, sehingga badan akan kembali pada kondisi yang fit. Selain itu, dalam kondisi lambung yang kosong, rasa manis kurma sanggup menetralisir asam lambung yang berlebih sehingga mencegah terjadinya maag atau naiknya udara asam lambung ke tubuh bagian atas.

Adapun jika kita langsung menyantap makanan yang cukup berat, tubuh memerlukan waktu yang lumayan lama untuk bisa mencerna dan menyerap sari makanannya dan baru kemudian kita merasa kenyang. Pada saat seperti ini, ketika awal berbuka kita akan tetap merasa lapar. Akhirnya, kita kurang bisa memperoleh manfaat langsung dari puasa yang telah kita lakukan seharian, yaitu memperoleh kesehatan dan vitalitas, bahkan bias jadi akan menyebabkan obesitas. Tentu saja, hal ini bukanlah tujuan Allah mensyari’atkan shiyaam bagi hamba-hambaNya. Allah berfirman:

شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان، فمن شهد منكم الشهر فليصمه، ومن كان مريضا أو على سفر فعدة من أيام آخر، يريد الله بكم اليسرى ولا يريد بكم العسر (البقرة: 185)

“Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan atas petunjuk itu dan pembeda. Maka siapa yang menemui bulan Ramadhan ini maka berpuasalah. Dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan maka dia mengganti puasa tersebut pada bulan-bulan lain. Allah menginginkan untuk kalian kemudahan dan tidak menginginkan bagi kalian kesulitan” (QS. Al-Baqarah: 185).

 

Penyakit-Penyakit Kulit

Mungkin terasa asing bagi sebagian besar kita saat mendengar ini. Namun, memang demikianlah kenyataannya. Hal ini disebabkan bahwa dengan berpuasa, maka kandungan air dalam darah berkurang, sehingga mengakibatkan juga berkurangnya kandungan air yang ada di kulit. Hal ini pada kemudian akan:

  1. Menambah kekuatan kulit dalam melawan bakteri, mikroba, pathogen, dan penyakit-penyakit dalam perut.
  2. Meminimalisir kemungkinan penyakit-penyakit kulit yang menyebar di sekujur badan seperti sakit psoriasis (sakit kulit kronis).
  3. Meminimalisir alergi kulit dan membatasi masalah kulit berlemak.

 

Ny. Ilham Husain, seorang puteri Mesir menuturkan:

“Ketika aku berusia 10 tahun, aku menderita sakit kulit yang kronis. Penyakit ini muncul dengan warna merah, dan aku tidak menemui satu jenis obat pun. Ketika usiaku mencapai akhir 20 tahun, dan dekat dengan waktu pernikahanku, aku semakin berduka dan mengucilkan diri dari masyarakat, aku benar-benar sumpeg (sempit dada). Akhirnya, salah seorang sahabat ayahku yang selalu membiasakan diri melakukan puasa memberi nasihat kepadaku, “Cobalah wahai puteriku, engkau berpuasa sehari kemudian engkau berbuka (makan) sehari, sebab hal itulah yang juga menjadi sebab kesembuhan suamiku dari penyakit yang sampai sekarang tidak diketahui obatnya oleh dokter. Akan tetapi, lakukanlah dengan keyakinan bahwa penyembuh (asy-Syafii’) adalah Allahu ta’ala dan sesungguhnya sebab terjadinya obat seluruhnya ada di tanganNya. Maka, mohonlah kesembuhan terlebih dahulu kepadaNya dari penyakit yang engkau derita ini, lalu berpuasalah”.

Aku pun berpuasa, dan aku membiasakan diri ketika berbuka puasa mengonsumsi berbagai sayuran dan buah-buahan, kemudian setelah 3 jam aku baru mengonsumsi makanan berat. Dan aku makan (tidak puasa) pada hari ke dua, lalu berpuasa para hari ke tiga, dan demikian seterusnya. Kemudian mulai terjadi hal yang mengherankan semua orang, yaitu sakit yang aku derita itu mulai sembuh setelah melewati waktu 2 bulan sejak aku berpuasa. Aku hampir tidak percaya, dan aku memulai seperti biasa. Aku melihat bekas sakitku itu sedikit-demi sedikit mulai hilang dan sampai akhirnya benar-benar sembuh. Akhirnya, aku pun tidak pernah tertimpa penyakit kulit tersebut sampai akhir hayatku.”

 

Puasa Mencegah “Penyakit Orang Kaya”

Penyakit ini sering juga disebut dengan nama ” nacreous“, disebabkan karena kelebihan makanan dan terlalu sering makan daging. Akhirnya tubuh tidak bisa mengurai berbagai protein yang ada dalam daging. Sehingga akan menyebabkan tumpukan kelebihan urine dalam persendian, khususnya pada persendian jari-jari besar di kaki. Ketika persendian terkena penyakit nacreous, maka ia akan membengkak dan memerah dengan disertai nyeri yang sangat. Terkadang kadar garam pada air kencing berlebih dalam darah, kemudian ia mengendap di ginjal dan akhirnya mengkristal di dalam ginjal. Tentu saja, mengurangi porsi makan merupakan sebab (baca: washilah) bagi kesembuhan dari penyakit yang sangat berbahaya ini.

 

Pembekuan Jantung dan Otak

Para profesor yang melakukan penelitian ilmiah dalam bidang medis –mayoritasnya adalah non-muslim– menegaskan akan kebenaran puasa, sebab puasa bisa menjadi sebab berkurangnya minyak dalam tubuh dan pada gilirannya akan menyebabkan berkurangnya kolesterol. Sedangkan kelebihan kolesterol dapat menghambat aliran darah yang menyebabkan peradangan pada jantung dan otak. Karena itu tidaklah berlebihan jika kita mau mendengarkan kepada firman Allahu ta’ala yang berbunyi:

وأن تصوموا خير لكم إن كنتم تعلمون

“Dan andaikan kalian mau berpuasa tentu itu lebih bagus bagi kalian jika kalian mengetahui.”

Kini, berapa ribu manusia yang terbiasa untuk makan dan minum secara terus menerus tanpa ilmu ataupun bukan karena rasa lapar. Pola hidup yang buruk inilah yang menimbulkan banyak penyakit baru pada masa kini. Andai saja mereka mengikuti sunnah Rasulullah ‘alayhi shalatu wa sallam yang tidak berlebihan dalam hal makan dan minum serta membiasakan puasa minimal tiga kali tiap bulan tentu mereka akan mengetahui bahwa berbagai penyakit yang mereka alami akan berakhir serta akan turun berat badan mereka beberapa puluh kilogram tanpa harus menggunakan obat-obatan kimia sintetis dan program diet yang memberatkan.

 

Sakit Persendian Tulang

Sakit persendian adalah penyakit yang timbul karena berlalunya waktu yang panjang. Dengan hal itu maka organ-organ tubuh mulai terasa nyeri dan sakit-sakitpun akan menyertai, dan kedua tangan dan kaki akan mengalami nyeri yang banyak. Penyakit ini terkadang menimpa manusia pada fase-fase akhir usianya, akan tetapi lebih khusus lagi pada usia antara 30 s/d 50 tahun. Dan masalah yang sesungguhnya adalah kedokteran modern belum mampu menemukan obat atas penyakit ini sampai sekarang.

Akan tetapi percobaan ilmiah yang dilakukan di Rusia menegaskan bahwasanya puasa bisa menjadi sebab kesembuhan penyakit ini. Dan puasa bisa mengembalikan atau membersihkan tubuh dari hal-hal yang membahayakan. Puasa ini dilakukan selama tiga minggu berturut-turut. pada kondisi ini maka mikroba ataupun bakteri penyebab penyakit ini menjadi zat yang dibersihkan pada badan selama puasa. Percobaan ini dilakukan terhadap jumlah penderita penyakit tersebut dan ternyata memperoleh hasil yang menakjubkan.

Kondisi otak manusia juga akan terasa lebih baik pada waktu orang tersebut melakukan ibadah shiyam. Hal ini dibuktikan dengan otak seorang yang sedang berpuasa lebih banyak mengeluarkan omega-3.

Wallahu a’lam…

==========

==========

Maraji’

Al-Jawziyyah, Ibn Qayyim. 2004. Metode Pengobatan Nabi saw. (terj. Abu Umar Basyier Al-Maidani). Jakarta: Griya Ilmu

Ibn ‘Abdu `l Fattaah, Aiman. 2005. Keajaiban Thibbun Nabawi (terj. Asy-Syifaa’ min Wahyi Khaatmi `l Anbiyaa’ oleh Hawin Murtadlo). Solo: Al-Qowam

Mahmud, Mahir Hasan. 2007. Ath-Thibb al-Badil, ats-Tsimar wa al-A’syab al-Waridat fii al-Quran al-Karim wa as-Sunnah an-Nabawiyah, terjemahan bahasa Indonesia Mukjizat Kedokteran Nabi. Jakarta: Qultum Media

Ramadhani, Egha Zainur. 2007. Super Health: Gaya Hidup Sehat Rasulullah. Yogyakarta: Pro-U Media

Raqith, Hamad Hasan. 2003. Kiat Hidup Sehat Islami; Mengungkap Metode Menjaga Kesehatan Menurut Rasulullah saw. (terj. Jujuk Najibah Ardianingsih) ed. Hadratul Ma’wa. Yogyakarta: Zuha Pustaka

Sya’rawi, Mutawalli. 2007. Keistimewaan Puasa (terj. Ahmad Rusydi Wahab, Lc. Cet. II). Jakarta: Qultum Media

Washfi, Dr. dr. Muhammad. 2008. Menguak Rahasia Ilmu Kedokteran dalam al-Quran (terj. Abdul Madjid, Lc.).Surakarta: Indiva Pustaka