Pintu Masuk Dosa dan Maksiat

Masih saja engkau ikuti satu pandangan dengan pandangan lainnya…

Pada semua yang hijau lagi manis dan menggoda…

Kau kira itu adalah obat bagi lukamu yang menganga…

Padahal ia hanya menambah goresan luka yang ada…

[Ibn Qayyim Al Jawziyyah]

Jangan Diajak Maksiat

1. Pandangan (Lahadzhat)

Lahadzat adalah pandangan kepada hal-hal yang menuju kemaksiatan. Bukan sekedar memandang, tetapi diikuti dengan pandangan selanjutnya. Pandangan adalah pemimpin sekaligus duta nafsu syahwat. Menjaga pandangan berarti menjaga kemaluan. Maka siapa saja yang mengumbar pandangannya, maka ia akan masuk kepada hal-hal yang membinasakan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menasihati ‘Ali radhiyallahu ‘anhu :

Jangan kamu ikuti pandangan pertamamu dengan pandangan kedua dan selanjutnya. Pandangan pertama adalah kenikmatan bagimu, dan yang kedua membinasakanmu.

Pandangan ibarat sebuah anak panah, namun belum sampai anak panah itu mengenai apa yang dilihat, namun ia telah mengenai hati orang yang melihat. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam :

Pandangan adalah anak panah beracun dari panah-panah iblis. Barangsiapa yang menundukan pandangannya dari keelokan wanita yang cantik karena Allah, maka Allah akan mewariskan dalam hatinya kemanisan iman hingga hari kiamat.

Memandang adalah sumber dari segala bencana yang menimpa manusia. Melihat melahirkan lamunan dan khayalan, khayalan melahirkan pemikiran, pikiran melahirkan syahwat dan syahwat melahirkan kemauan. Kemauan akan semakin kuat hingga memunculkan tekad dan akhirnya terjadilah apa yang terjadi selagi tidak ada yang menghalangi.

Sungguh, kepayahan yang ditimbulkan oleh lahadzat terus-menerus akan tetap ada dan menyakiti pelakunya. Sebuah hikmah mengatakan, “Sesungguhnya menahan pandangan-pandangan kepada yang haram lebih ringan daripada menahan kepayahan yang ditimbulkan terus menerus.”

2. Lintasan Pikiran (Khatharat)

Bahwa apa yang hadir di pintu lamunan dan khayalan lebih berbahaya dan sulit dihindari. Dari sinilah awal dari kebaikan dan keburukan. Dari sini pula lahir kemauan (iradah), cita-cita, dan tekad yang kuat (azzam). Namun hendaknya seseorang membatasi lamunan yang berputar pada empat hal:

  • Lamunan yang bisa dimanfaatkan oleh seorang hamba dalam urusan dunianya.
  • Lamunan yang berfungsi mengusir marabahaya dunia.
  • Lamunan yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan akhirat.
  • Lamunan yang berfungsi menolak marabahaya akhirat.

Kemampuan seseorang dalam menentukan skala prioritas untuk memilih satu di antara empat lamunan di atas begitu penting. Karena bila ia mendahulukan yang satu, maka ia akan kehilangan yang lain. Namun, ada pula di antara mereka yang sanggup mengompromikan karena sulit untuk dipisahkan. Maka yang berperan untuk melakukan hal tersebut adalah akal, pemahaman agama, serta pengetahuan. Ketinggian derajat seseorang dan juga keberhasilannya ditentukan oleh keputusannya dalam menyikapi antara benturan kepentingan tersebut.

Hendaknya pula manusia menggunakan akalnya untuk Allah dan kepentingan di akhiratnya. Yaitu dengan :

  • Memahami ayat-ayat Allah dalam al Quran dan maksudnya.
  • Memikirkan dan mengambil ayat Allah dari alam.
  • Memikirkan nikmat Allah yang bermacam-macam dan begitu luas.
  • Memikirkan tentang aib pribadi.
  • Memikirkan kewajiban dan tugas yang berkaitan erat dengan waktu.

Ketahuilah, bahwa masuknya lintasan pikiran dan lamunan tidak akan mengundang bahaya. Yang berbahaya adalah ketika semua itu diundang dan kemudian tidak diarahkan. Lamunan akan sangat mudah menyerang jiwa yang kosong dan sangat berat melawan jiwa yang tenang.

Bila manusia berusaha mengosongkan lintasan pikirannya, maka setan akan masuk dan menanamkan kebatilan di dalamnya dalam bentuk yang berbeda dari wujud aslinya sehingga mereka mengira bahwa ia adalah kemuliaan yang paling tinggi.

Allah telah merangkai dua jenis jiwa pada diri manusia, yaitu ammarah bissuu’ (yang memerintahkan kepada keburukan) dan jiwa muthma’innah (yang tenang). Dua jiwa ini akan selalu bertarung. Yang menang akan menguasai jiwa dan pikiran, sedangkan peperangan akan terus berlanjut hingga ajalnya tiba.

Hati ibarat sebuah kanvas putih yang bersih dan lintasan pikiran adalah ukiran dan lukisan yang berada di atasnya. Sungguh orang yang paling sempurna adalah orang yang memenuhi pikirannya, lamunannya, dan kemauannya untuk mencapai hal-hal yang diridhai Allah dan kebaikan bagi manusia secara umum. Umar bin Al Khathab adalah salah satu contoh orang yang pikirannya penuh sesak dengan peribadahan kepada Allah. Bila ia shalat, pikirannya juga digunakan untuk mengatur tentaranya. Sehingga ia menyatukan dalam satu waktu antara shalat dengan jihad.

3. Lisan (Lafadzhat)

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Ada seorang laki-laki berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Maka Allah berakata, “Siapa yang mengatakan bahwa Aku tidak mengampuni dosa fulan? Sesungguhnya aku telah mengampuni dosanya dan menghapus kesalahannya. Dan aku telah menghapus amal-amalmu.” [HR. Muslim dari Jundub]

Siapa yang menjamin bagiku apa yang ada di antara dua jenggotnya dan di antara dua kakinya, maka aku menjamin baginya syurga. [HR. Bukhari, Tirmidziy, dan Ahmad]

Iman seseorang tidak akan lurus sampai lurus hatinya. Dan hati seseorang tidak akan lurus hingga lurus lidahnya. [HR. Ahmad]

Siapa yang menjaga lidahnya, maka Allah akan menutupi aib-aibnya. [HR. Abu Nu’aim dan Ibnu Abid Dunya]

Kebanyakan makhluq Allah yang menyimpang adalah dikarenakan perkataan dan diamnya. Sedangkan orang yang ahli adalah yang dapat berdiri di antara keduanya dengan seimbang.

  • Bencana Lisan
    • Perkataan yang tidak dibutuhkan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya. [HR. Tirmidziy]

    • Melibatkan diri dalam kebatilan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang keras lagi suka bertengkar. [Muttafaq ‘Alayh]

    • Banyak bicara dan memaksakan diri dengan kata-kata sajak.

Ibnul Jawzi rahimahullah berkata,

Dalam hal ini tidak termasuk pidato/ ceramah bila dimaksudkan untuk menggugah hati para pendengar.

    • Bicara keji, suka mencela, dan suka mengumpat.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Jauhilah perbuatan keji, karena Allah tidak menyukai perkataan keji dan mengata-ngatai dengan perkataan keji. [HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad]

An Nakha’iy rahimahullah berkata,

Bila seseorang berkata kepada orang lain : “Hai keledai, hai babi..!”, maka pada hari kiamat nanti akan dikatakan kepadanya, “Apakah menurut pendapatmu Allah menciptakannya sebagai keledai atau babi?”

    • Bercanda dengan berlebihan.

Dalam hal ini, tidaklah Rasulullah bercanda kecuali memenuhi tiga hal:

  • Tidak berdusta
  • Sering dilakukan terhadap wanita, anak-anak, dan orang-orang lemah yang membutuhkan bimbingan
  • Dilakukan jarang-jarang, tidak terus menerus.

 

    • Mengejek dan mengolok-olok.

Larangan ini telah banyak disebutkan dalam al Quran dan as Sunnah. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa mengolok-olok orang lain dapat dilakukan meski dengan kerdipan mata, dan hal tersebut sudah termasuk dosa dan maksiat.

    • Membocorkan rahasia, melanggar janji, berdusta dalam perkataan dan sumpah.

Semua hal tersebut dilarang, kecuali bila ada keringanan untuk berdusta, seperti berdusta untuk menyenangkan istri atau sebagai siasat perang.

    • Ghibah.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Siapa yang mencari-cari aib orang lain, maka Allah akan mencari-cari aibnya. [HR. Abu Dawud]

Jauhilah ghibah karena ghibah lebih keras daripada zina.

Syari’at menetapkan bahwa ada sebagian ghibah yang diperbolehkan, di antaranya:

  • Karena ada tindak kedzhaliman. Orang yang didzhalimi boleh menyebut kedzhaliman yang dilakukan orang tertuduh kepadanya.
  • Sebagai upaya mengubah kemunkaran.
  • Meminta fatwa.
  • Memperingatkan kaum muslimin.
  • Bila orang yang dighibah melakukan kefasikan terang-terangan.

 

    • Namimah (mengadu domba).

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Tidak masuk syurga orang yang suka mengadu domba. [Muttafaq ‘Alayh]

    • Perkataan dengan dua lidah.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya orang yang paling jahat adalah orang yang memiliki dua wajah, yang datang kepada seseorang dengan wajah yang satu, dan kepada yang lain, dengan wajah yang lainnya. [Muttafaq ‘Alayh]

    • Kata-kata pujian yang berlebihan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda saat mendengar seseorang memuji orang lain,

Celakalah engkau karena telah memenggal leher rekanmu. [Muttafaq ‘Alayh]

    • Kesalahan yang berkaitan erat dalam menjelaskan maksud Allah dalam Al Quran dan maksud Rasul dalam as Sunnah.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Begitu cepat manusia bertanya, sampai-sampai mereka berkata, “Allah telah menciptakan makhluq.” Lalu, siapakah yang menciptakan Allah. [HR. Abu Dawud]

Pertanyaan tentang sesuatu yang rumit merupakan bencana. Tidak ada yang bisa meluruskannya kecuali ulama yang lurus. Siapa yang ilmunya terbatas, lalu mencari-cari tahu makna sifat dan Dzat Allah, atau menta’wil ayat-ayat mutasyabbihat, atau mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bermanfaat akan menyebabkan dirinya terpeleset dan membinasakan dirinya sendiri.

##########

Sumber Rujukan :

Ibnu Qayyim Al Jawziyyah. Ad Daa’ wad Dawaa’ (Al Jawaabul Kaafi liman Saala ‘anid Dawaa’isy Syaaffi’).

Ibnu Qudamah Al Maqdisi. Mukhtashar Minhajul Qashidin libnil Jawzi.

##########

Rd. Laili Al Fadhli

Disampaikan pada ta’lim umum Mahasiswa Pecinta Islam (MPI) Bandung , Sabtu, 22 September 2012

Pembungkus Agama dan Asas Zuhud

Hamid Al Laqaf -rahimahullah- pernah didatangi seorang pria, ia berkata kepadanya: “Berilah aku nasihat.” Hamid berkata: “Buatlah pembungkus untuk agamamu seperti pembungkus buku.” Pria tadi kemudian bertanya: “Apa yang dimaksud dengan pembungkus agama itu?” Hamid menjawab: “Pembungkus agama itu adalah:

  1. Tidak berbicara kecuali sebatas yang perlu saja;
  2. Meninggalkan duniawi, kecuali sebatas yang perlu saja; dan
  3. Tidak bergaul dengan manusia, kecuali sebatas yang perlu saja.

Selanjutnya, ketahuilah bahwa asas zuhud itu adalah:

  1. Menjauhi semua yang haram, maupun yang besar maupun yang kecilnya;
  2. Mengerjakan semua yang difardhukan, baik yang mudah maupun yang sulitnya;
  3. Meninggalkan keduniaan, baik yang sedikit maupun yang banyaknya.”

[Al Munabbihat ‘alal Isti’daad li Yawmil Ma’ad, Ibnu Hajar Al Asqalani -rahimahullah-]

Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al Bantani Al Jawi berkata dalam Nashahihul ‘Ibad:

Nabi Sulaiman dan Luqman (Al Hakim) pernah berkata: “Apabila berbicara itu bagaikan perak, maka diam itu bagaikan emas.” Maksudnya apabila perkataan seseorang dalam kebaikan nilainya seperti perak, maka diam dari berkata buruk nilainya seperti emas.

Menurut Syaikh Abdul Qadir Jailani -rahimahullah-: “Manusia terbagi menjadi empat tipe, yaitu:

  1. Orang yang tidak mempunyai lisan dan tidak mempunyai hati. Ini adalah tipe orang durhaka, lali, dan jahil. Hati-hatilah jangan sampai Anda seperti mereka dan jangan bergaul bersama mereka, sebab mereka itu layak mendapatkan adzab.
  2. Orang yang berlisan tapi tidak berhati. Kata-kata orang seperti ini seolah mengandung hikmah tetapi ia sendiri tidak pernah mengamalkannya. Ia mengajak manusia untuk beriman dan beramal shalih serta bertaqwa kepada Allah, sementara dia sendiri mengkufuri dan menjauhi Allah. Oleh karena itu, jauhilah mereka agar Anda tidak tertipu oleh keindahan perkataan mereka yang bisa membuat diri Anda terbakar oleh api kemaksiatan mereka atau terjerumus oleh kebusukan hati mereka.
  3. Orang yang memiliki hati tetapi tidak memiliki lisan. Ini adalah tipe orang mu`min yang disembunyikan oleh Allah dari pandangan makhluq-Nya. Allah membukakan mata hatinya hingga dapat melihat kekurangan dirinya, menerangi hatinya dan mengenalkan kepadanya bencana banyak bergaul dengan orang lain dan musibah yang diakibatkan oleh banyak bicara. Sebenarnya dia adalah kekasih Allah yang disembunyikan dalam pemeliharaan-Nya, padahal dia memiliki banyak kebaikan dalam dirinya. Bergaullah dengan orang yang seperti ini dan berkhidmahlah kepadanya, niscaya Allah pun akan mencintai Anda.
  4. Orang yang mau belajar dan mengajar serta mengamalkan ilmunya. Ia betul-betul mengenal Allah dan memahami ayat-ayat-Nya. Allah memberinya ilmu yang tidak diketahui oleh banyak orang dan Allah melapangkan dadanya untuk menerima bermacam-macam ilmu. Oleh karena itu, berhati-hatilah, jangan sampai Anda menyelisihinya, menjauhinya, atau meninggalkan nasihatnya.”

Perlu diketahui bahwa pada dasarnya zuhud itu menjauhi semua yang diharamkan, baik yang besar maupun yang kecil. Sikap ini mewariskan sikap wara‘ (hati-hati). Menunaikan semua yang difardhukan, baik yang mudah maupun yang sulit. Sikap ini akan mewariskan taubat dan kembali ke jalan Allah sehingga hati pelakunya akan memperoleh penerangan dan terhindar dari syubhat, terlebih lagi dari hal-hal yang diharamkan. Terakhir adalah membiarkan urusan duniawi ditangan oleh ahlinya, baik yang kecil maupun yang besar. Sikap ini akan melahirkan sikap qana’ah (menerima apa adanya) tawakkal, dan percaya kepada apa yang ada di sisi Allah serta tidak mengharapkan apa yang ada di tangan orang lain.

[Nashaihul Ibad, Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al Bantani Al Jawi]

Tanda-Tanda Cinta

Dunia seakan berhenti berputar, saat ia yang istimewa di hati tiba-tiba hadir di hadapan kita. Darah tiba-tiba mengalir lebih deras saat ia tersenyum. Jantung pun berdetak sangat kuat, bahkan kadang terasa berhenti berdetak saat ia menyapa dan mengeluarkan kata-kata. Suaranya yang (terasa) merdu seperti nyanyian Dawud membuat kita terbuai dan terlena hingga seolah-olah kita dibawanya terbang tinggi menembus angkasa.

Love

Apa yang terjadi dengan hati pada saat itu..? Mengapa hadirnya membuat perasaan kita tidak menentu..? Padahal tidak ada yang istimewa dari dirinya. Jika kuberfikir ulang, begitu banyak gadis yang lebih istimewa, baik dari fisiknya ataupun yang lainnya. Namun, hati serasa terikat oleh getaran-getaran yang datang dan pergi tak menentu.

Hati-hati dengan hati dalam kondisi seperti itu. Mengapa..? Karena bisa jadi engkau lupa akan sesuatu. Apa itu..? Cinta yang sebenarnya. Maksudnya..?

Aku tidak tahu, yang pasti aku tahu bahwa Allah telah berfirman tentang begitu banyaknya orang-orang yang menghadirkan tandingan-tandingan bagi-Nya. Namun, Allah menegaskan bahwa orang-orang beriman sangat besar kecintaannya terhadap Allah. Tidak cukup digambarkan dengan luasnya samudera atau tingginya gunung-gunung di dunia.

Iman kepada Allah berarti cinta. Maka, patutkah kita mengambil sesuatu yang lain untuk kita cintai melebihi kecintaan kita terhadap Allah..? Jika seorang perempuan saja tidak mau diduakan, maka bagaimana mungkin Allah ridha saat Dia diduakan dengan sesuatu yang kapasitasnya sungguh jauh dari-Nya. Jelas saja, Allah adalah al-Khaliq sedangkan ia adalah makhluq. Allah dapat memberikan manfaat, sedangkan ia tidak sedikitpun. Allah dapat memberikan pertolongan di akhirat, menghisab amal-amalan kita, menjamin kehidupan kita di dunia dan di akhirat. Sedangkan dia..???

I Love Allah and Muhammad

Ketahuilah, bahwa Allah adalah Sang Pemilik Cinta. Dia pun Maha pencemburu. Dia begitu mencintai kita, namun kita telah mengkhianati-Nya. Apa bukti kita telah mengkhianatinya..? Tanda-tanda cinta. Maksudnya..?

Gambaran gejolak perasaan di atas merupakan ciri ataupun tanda-tanda dari hadirnya cinta dalam hati kita. Namun, sayangnya kita tidak menempatkannya pada tempat yang tepat. Padahal, Allah. berfirman bahwa orang-orang beriman adalah mereka yang apabila disebutkan nama Allah, maka bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, maka bertambah kuatlah keimanan mereka, bertambah cinta lah mereka kepada Allah.

Kita telah mengkhianati cinta-Nya dengan getaran-getaran yang tidak seharusnya ada kecuali untuk-Nya. Jika pun ada, pasti harus berada di bawah level getaran kita terhadap-Nya. Jika pun ada, maka tidaklah seharusnya melebihi getaran yang kita rasakan saat ber-khalwat dengan-Nya di sepertiga malam.

Namun, apa yang terjadi pada diri kita..? Tanda-tanda cinta itu tampak saat perasaan kita terjatuh pada makhluq. Sedangkan untuk Sang Khaliq, adakah tanda-tanda itu..? Adakah dunia terasa berhenti berputar saat nama-Nya disebutkan..? Adakah darah kita mengalir lebih deras, serta jantung kita berdetak lebih cepat, saat kita menjumpai-Nya dalam setiap shalat kita..? Adakah alunan kalam-Nya terasa seperti nyanyian Dawud di telinga kita..? Adakah kecemburuan dari diri kita saat nama-Nya diinjak-injak dan dihinakan..? Rumahnya dibakar tanah suci-Nya dikotori oleh tangan-tangan najis dari musuh-musuh-Nya..? Adakah pembelaan kita sebagaimana kita membela seorang makhluq yang hati kita telah bertaut padanya..?

True Love

Saudaraku, ini adalah tanda-tanda cinta dan sekaligus bukti keimanan kita terhadap-Nya. Jika hingga kini masih belum terdapat tanda-tanda cinta itu dalam kehidupan kita, maka pertanyaannya adalah, “Apakah kita benar-benar mencintai-Nya..?”

-Al Fadhli-