Imam Syafi’i dan Putri Imam Ahmad bin Hanbal

image

Simaklah kisah berikut:

زار الإمام الشافعي رحمه الله تعالى الإمام أحمد بن حنبل ذات يوم في داره ، وكانت للإمام أحمد ابنة صالحة تقوم الليل وتصوم النهار وتحب أخبار الصالحين والأخيار ، وتود أن ترى الشافعي لتعظيم أبيها له ، فلما زارهم الشافعي فرحت البنت بذلك ، طمعاً أن ترى أفعاله وتسمع مقاله .

Suatu hari Imam Syafi’i Rahimahullah berkunjung kerumah Imam Ahmad bin Hanbal.

Imam Ahmad mempunyai seorang putri yang shalihah, bila malam beribadah, siang berpuasa, serta menyukai kisah orang-orang shalih dan pilihan.

Putri beliau ini ingin sekali melihat lmam Syafi’i secara langsung sebab sang Ayah sangat menghormatinya.
Ketika Imam Syafi’i berkunjung kerumah mereka, sang putri merasa sangat senang dan berharap bisa melihat apa saja yang di kerjakan imam Syafi’i serta mendengar ucapan-ucapannya.

وبعدما تناول طعام العشاء قام الإمام أحمد إلى صلاته وذكره ، والإمام الشافعي مستلقٍ على ظهره ، والبنت ترقبه إلى الفجر ، وفي الصباح قالت بنت الإمام أحمد لأبيها :
يا أبتاه … أهذا هو الشافعي الذي كنت تحدثني عنه ؟
قال : نعم يا ابنتي .

Setelah selesai makan malam bersama, Imam Ahmad menuju tempat shalat untuk melakukan shalat dan dzikir, Imam Syafi’i tiduran terlentang, sedangkan sang putri selalu mengawasi Imam Syafi’i sampai fajar.

Di pagi hari, sang putri berkata kepada ayahnya :

“Wahai ayahku… Apakah benar dia ini Imam Syafi’i yang engkau ceritakan padaku dulu ?”

Imam Ahmad : “Benar anakku…”

فقالت : سمعتك تعظم الشافعي وما رأيت له هذه الليلة .. لا صلاة ولا ذكراٍ ولا ورداً؟
وقد لا حظت عليه ثلاثة أمور عجيبة ، قال : وما هي يا بنية ؟
قالت : أنه عندما قدمنا له الطعام أكل كثيراً على خلاف ما سمعته عنه ، وعندما دخل الغرفة لم يقم ليصلي قيام الليل ، وعندما صلى بنا الفجر صلى من غير أن يتوضأ .

Putri : “Aku mendengar bahwa engkau menghormati Imam Syafi’i, tapi apa yang aku lihat tadi malam dia… Tidak shalat, tidak dzikir tidak pula wirid ?
dan aku juga melihat ada 3 hal yang aneh.”

Imam Ahmad : “Apa saja 3 hal itu, wahai anakku ?”

Putri : “Ketika kita sajikan makanan kepada Imam Syafi’i, dia makan banyak sekali dan ini berbeda dengan yang kudengar; ketika masuk kamar, dia tidak beribadah shalat malam; dan ketika shalat subuh bersama kita, dia shalat tanpa wudhu.”

فلما طلع النهار وجلسا للحديث ذكر الإمام أحمد لضيفه الإمام الشافعي ما لاحظته ابنته ، فقال الإمام الشافعي رحمه الله :
يا أبا محمد لقد أكلت كثيراً لأنني أعلم أن طعامك من حلال ، وأنك كريم وطعام الكريم دواء ، وطعام البخيل داء ، وما أكلت لأشبع وإنما لأتداوى بطعامك ، وأما أنني لم أقم الليل فلأنني عندما وضعت رأسي لأنام نظرت كأن أمامي الكتاب والسنة ففتح الله عليّ باثنتين وسبعين مسألة من علوم الفقه رتبتها في منافع المسلمين ، فحال التفكير بها بيني وبين قيام الليل ،

Ketika agak siang dan mereka berbincang-bincang, Imam Ahmad berkata kepada Imam Syafi’i tentang apa yang dilihat oleh putrinya, lalu Imam Syafi’i Rahimahullah berkata :
“Wahai Aba Muhammad, aku memang semalam banyak makan karena aku tahu bahwa makananmu adalah halal dan engkau adalah orang mulia sedangkan makan orang mulia adalah obat, kalau makanan orang bakhil adalah penyakit. Jadi, aku makan bukan untuk kenyang tapi untuk berobat dengan makananmu.

Adapun semalam aku tidak sholat malam, hal itu dikarenakan ketika aku melatakkan kepalaku untuk tidur. Aku melihat seolah olah Al-Qur’an dan hadits berada di depanku, kemudian Allah membukakan kepadaku 72 masalah ilmu fiqih yang kususun untuk kemaslahatan muslimin, maka memikirkan ilmu inilah yang menghalangi antara diriku dan shalat malam.

وأما أنني صليت بكم الفجر بغير وضوء ، فوالله ما نامت عيني حتى أجدد الوضوء . لقد بقيت طوال الليل يقظاناً ، فصليت بكم الفجر بوضوء العشاء . ثم ودّعه ومضى .
فقال الإمام أحمد لابنته : هذا الذي عمله الشافعي الليلة وهو نائم ( أي مستلقٍ ) أفضل مما عملته وأنا قائم .

Adapun ketika shalat subuh bersama kalian aku tidak wudhu, maka demi Allah tidaklah kedua mataku tertidur hingga aku butuh memperbaharui wudhu.

Semalam suntuk aku terjaga, jadi aku shalat subuh bersama kalian dengan wudhu sholat ‘Isya.”

Kemudian Imam Syafi’i berpamitan dan pulang.

Imam Ahmad berkata kepada putrinya :

“Yang dikerjakan oleh oleh Imam
Syafi’i semalam dalam keadaan tiduran, lebih utama daripada apa yang kukerjakan sambil shalat malam.”

Sumber : Kitab Zaadul Murabbiyyin

〰〰〰〰〰〰〰

Telegram Channel @bekalakhirat
telegram.me/bekalakhirat
bekalakhirat.wordpress.com
CP +6282319017000

〰〰〰〰〰〰〰

Madzhab Fiqih : Kedudukan dan Cara Menyikapinya

Kitab Fiqih Empat Madzhab

Pengertian

Madzhab — “dzahaba” = pergi, berlalu. Kata madzhab merupakan “isim makan” yaitu sebuah kata yang menunjukkan tempat kata dasarnya. Maka, dari sisi bahasa, madzhab berarti tempat pergi atau tempat berlalu. Mungkin juga kita artikan “titik tolak” dalam istilah yang lain.

Selain bermakna pergi dan berlalu, dzahaba juga bermakna “pendapat”. Maka dari sisi istilah, madzhab diartikan sebagai cara atau metode seseorang atau kelompok, baik dalam masalah keyakinan, perilaku, hukum, dan lain sebagainya.

Fiqih —alimaya’lamu dan fahimayafhamu = mengetahui, mengerti.

Dari sisi istilah, fiqih bermakna “Hukum-hukum praktis dalam syari’at yang diambil dari dalil-dalil terperinci.”

Madzhab Fiqih — Metode yang digunakan oleh seorang mujtahid untuk menentukan sejumlah hukum-hukum praktis dalam syari’at.

Fase Perkembangan Ilmu Fiqih

  1. Fase Penetapan Syari’at (Marhalah Tasyri’) 0-41 H
  2. Fase Peletakkan Dasar-Dasar Fiqih (Marhalah Ta’sis Lil Fiqhi) 41-132 H
  3. Masa Kecemerlangan Fiqih (Marhalatu Izdiharil Fiqhi) 132-350
    1. Lahirnya para mujtahid, termasuk Al A’immah Al Arba’ah
    2. Perhatian yang besar dari Kekhilafahan
    3. Maraknya pembukuan dari berbagai macam disiplin ilmu
    4. Banyaknya munazarat (adu argumentasi)
    5. Fase Kejumudan dan Fanatisme Madzhab (Marhalatul Jumud wat Ta’ashshub) 350-…

Sejarah Munculnya Madzhab Fiqih

  1. Cara pandang sang Imam yang diikuti oleh murid-muridnya
  2. Munculnya sebuah komunitas yang memiliki sebuah kesamaan cara pandang
  3. Disusunnya kitab-kitab yang berisi cara pandang para ulama di kalangan internal mereka
  4. Terbentuknya madzhab-madzhab fiqih, dan yang terkenal ada 5 : Hanafiyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hanabilah, dan Dzahiriyah.

Sikap yang Proporsional Terkait dengan Beberapa Hal

Taqlid

  • Haram bagi orang yang telah memiliki kemampuan untuk meneliti dalil
  • Haram bagi orang awam yang fanatik terhadap madzhabnya padahal telah datang kepadanya dalil yang lebih kuat
  • Bagi orang-orang awam yang belum memiliki kemampuan meneliti dalil, maka diperbolehkan baginya mengikuti pendapat salah satu mujtahid walaupun tidak mengetahui dalilnya

Hukum Bermadzhab

  • Boleh, dengan syarat tidak fanatik dan memilih pendapat yang lebih kuat dalilnya bila diketahui pendapat madzhab yang dia anut memiliki landasan yang lebih lemah

Sikap terhadap Para Imam dan Para Ulama

  • Menghormati mereka dan mengakui kapasitas keilmuan mereka
  • Menempatkan mereka secara proporsional karena tidak ada yang ma’shum selain para Nabi dan Rasul
  • Kekeliruan para mujtahid dalam sebuah pendapat ketika menentukan hukum tidak identik dengan dosa
  • Bila tidak setuju dengan pendapat ulama lain, hendaknya didukung oleh dalil yang kuat, bukan sekedar sentimen pribadi atau kelompok
  • Ketidaksetujuan terhadap suatu pendapat juga bukan berarti menjelek-jelekan pendapat yang bertentangan tersebut, apalagi sampai menghina dan merendahkan para imam
  • Tidak dibenarkan mencari-cari kesalahan para ulama
  • Perlu dipertegas kriteria seseorang disebut sebagai ulama, agar masyarakat awam mengetahui kepada siapa mereka merujuk

Sikap terhadap Khilafiyah

  • Di antara berlebihan (ifrath) dan tafrith (meremehkan)
  • Ikhtilaf tanawwu’ tidak bisa dihindari — toleransi
  • Ikhtilaf tadhadh wajib dihindari — ketegasan dan iftiraq

Talfiq, yaitu mengumpulkan beberapa pendapat para imam

  • Dianjurkan mengambil pendapat yang lebih kuat di antara para imam
  • Haram bila dilakukan dalam rangka mencari pendapat yang paling mudah tanpa melihat sisi kuat-lemahnya dalil yang digunakan

 

Wallahu a’lam

Rd. Laili Al Fadhli

Materi Kajian Umum Mahasiswa Pecinta Islam (MPI) Bandung, 28 Syawwal 1433 H

Disarikan dari Kitab Al Madzahibul Fiqhiyyah wal Mauqifush Shahih Minha

Wahabi = Khawarij ?

Wajib diketahui oleh setiap kaum Musimin dimanapun mereka berada bahwasanya firqah Wahabi adalah Firqah yang sesat, yang ajarannya sangat berbahaya bahkan wajib untuk dihancurkan.Tentu hal ini membuat kita bertanya-tanya,mungkin bagi mereka yang pro akan merasa marah dan sangat tidak setuju, dan yang kontra mungkin akan tertawa sepuas-puasnya… Maka siapakah sebenarnya Wahabi ini?? Bagaimanakah sejarah penamaan mereka??

Marilah kita simak dialog ilmiah yang sangat menarik antara Syaikh Muhammad bin Sa’ad Asy Syuwai’ir dengan para masyaikh/dosen-dosen di suatu Universitas Islam di Maroko.

Salah seorang Dosen berkata: ”Sungguh hati kami sangat mencintai Kerajaan Saudi Arabia, demikian pula dengan jiwa-jiwa dan hati-hati kaum muslimin sangat condong kepadanya,dimana setiap kaum muslimin sangat ingin pergi kesana, bahkan antara kami dengan kalian sangat dekat jaraknya. Namun sayang, kalian berada diatas suatu madzhab, yang kalau kalian tinggalkan tentu akan lebih baik, yaitu Madzhab Wahabi.”

Kemudian Asy Syaikh dengan tenangnya menjawab: ”Sungguh banyak pengetahuan yang keliru yang melekat dalam pikiran manusia, yang mana pengetahuan tersebut bukan diambil dari sumber-sumber yang terpercaya, dan mungkin kalian pun mendapat khabar-khabar yang tidak tepat dalam hal ini.

Baiklah,agar pemahaman kita bersatu, maka saya minta kepada kalian dalam diskusi ini agar mengeluarkan argumen-argumen yang diambil dari sumber-sumber yang terpercaya,dan saya rasa di universitas ini terdapat perpustakaan yang menyediakan kitab-kitab sejarah islam terpercaya. Juga hendaknya kita semaksimal mungkin untuk menjauhi sifat fanatisme dan emosional.

Dosen itu berkata : ”Saya setuju denganmu, dan biarkanlah para Masyaikh yang ada di hadapan kita menjadi saksi dan hakim diantara kita.”

Asy Syaikh berkata : ”Saya terima… Setelah bertawakal kepada Allah, saya persilahkan kepada anda untuk melontarkan masalah sebagai pembuka diskusi kita ini.”

Dosen itu pun berkata :”Baiklah kita ambil satu contoh,ada sebuah fatwa yang menyatakan bahwa Firqah Wahabi adalah firqah yang sesat. Disebutkan dalam kitab Al Mi ’yar yang ditulis oleh Al Imam Al Wansyarisi, beliau menyebutkan bahwa Al Imam Al Lakhmi pernah ditanya tentang suatu negeri yang di situ orang-orang Wahabiyyun membangun sebuah masjid, ”Bolehkan kita shalat di Masjid yang dibangun olehorang-orang wahabi itu?

Maka Imam Al Lakhmi pun menjawab : ”Firqah Wahabiyyah adalah firqah yang sesat, yang masjidnya wajib untuk dihancurkan, karena mereka telah menyelisihi kepada jalannya kaum mu ’minin, dan telah membuat bid’ah yang sesat dan wajib bagi kaum muslimin untuk mengusir mereka dari negeri-negeri kaum muslimin”.
(Wajib kita ketahui bahwa Imam Al Wansyarisi dan Imam Al Lakhmi adalah di antara tokoh ulama Ahlus Sunnah)

Dosen itu berkata lagi : ”Saya rasa kita sudah sepakat akan hal ini, bahwa tindakan kalian adalah salah selama ini…”

Kemudian Asy Syaikh sertamerta menjawab : ”Tunggu dulu..!! Kita belum sepakat, lagipula diskusi kita ini baru dimulai, dan perlu anda ketahui bahwasannya sangat banyak fatwa yang seperti ini yang dikeluarkan oleh para ulama sebelum dan sesudah Al Lakhmi, untuk itu tolong anda sebutkan terlebih dahulu kitab yang menjadi rujukan kalian itu…”

Dosen itu berkata : ”Anda ingin saya membacakannya dari fatwanya saja, atau saya mulai dari sampulnya?”

Asy Syaikh menjawab : ”Dari sampul luarnya saja.”

Dosen itu kemudian mengambil kitabnya dan membacakannya: ”Namanya adalah Kitab Al Mi’yar, yang dikarang oleh Al Imam Ahmad bin Muhammad Al Wansyarisi. Wafat pada tahun 914 H di kota Fas, di Maroko.

Kemudian Asy Syaikh berkata kepada salah seorang penulis di sebelahnya: ”Wahai syaikh, tolong catat baik- baik, bahwa Imam Al Wansyarisi wafat pada tahun 914 H.” Kemudian bisakah anda menghadirkan biografi Imam Al Lakhmi?”

Dosen itu berkata: ”Ya..”

Kemudian dia berdiri menuju salah satu rak perpustakaan, lalu dia membawakan satu juz dari salah satu kitab-kitab yang mengumpulkan biografi ulama. Di dalam kitab tersebut terdapat biografi Al Imam Ali bin Muhammad Al Lakhmi, seorang Mufti Andalusia dan Afrika Utara.

Kemudian Asy Syaikh berkata : ”Kapan beliau wafat?”

Yang membaca kitab menjawab: ”Beliau wafat pada tahun 478 H”

Asy Syaikh berkata kepada seorang penulis tadi : ”Wahai syaikh tolong dicatat tahun wafatnya Syaikh Al Lakhmi.” Kemudian ditulis.

Lalu dengan tegasnya Asy Syaikh berkata : ”Wahai para masyaikh… Saya ingin bertanya kepada antum semua… Apakah mungkin ada ulama yang memfatwakan tentang kesesatan suatu kelompok yang belum datang (lahir)..?! Kecuali kalau dapat wahyu??

Mereka semua (para dosen) menjawab : ”Tentu tidak mungkin, Tolong perjelas lagi maksud anda..!”

Asy syaikh berkata lagi : ”Bukankah (istilah) wahabi yang kalian anggap sesat itu adalah da’wah yang dibawa dan dibangun oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab..?

Mereka berkata : ”Siapa lagi..?”

Asy Syaikh berkata: ”Coba tolong perhatikan..! Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H… Nah, ketika Al Imam Al Lakhmi berfatwa seperi itu, jauh ratusan tahun lamanya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab belum lahir… Bahkan sampai 22 generasi ke atas dari beliau sama belum yang lahir… Apalagi berdakwah… Bagaimana ini..??”
(Merekapun terdiam beberapa saat…)

Kemudian mereka berkata: ”Lalu sebenarnya siapa yang dimaksud Wahabi oleh Imam Al Lakhmi tersebut..?” Mohon dielaskan dengan dalil yang memuaskan, kami ingin mengetahui yang sebenarnya..!”
Asy Syaikh pun menjawab dengan tenang : ”Apakah anda memiliki kitab Al Firaq Fii Syimal Afriqiya, yang ditulis oleh Al Faradbil, seorang kebangsaan Perancis..?”

Dosen itu berkata: ”Ya ini ada..”

Asy Syaikh pun berkata : ”Coba tolong buka di huruf ‘wau’…”
Maka dibukalah huruf tersebut dan munculah sebuah judul yang tertulis Wahabiyyah’.”

Kemudian Asy Syaikh menyuruh kepada dosen itu untuk membacakan tentang biografi firqah wahabiyyah tersebut.
Dosen itu pun membacakannya: ”Wahabi atau Wahabiyyah adalah sebuah sekte Khawarij Ibadhiyah (kadang juga dibaca Abadhiyah) yang dicetuskan oleh Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum Al Khariji Al Abadhi… Orang ini telah banyak menghapus Syari’at Islam… Dia menghapus kewajiban menunaikan ibadah haji dan telah terjadi peperangan antara dia dengan beberapa orang yang menentangnya. Dia wafat pada tahun 197 H di kota Tharat di Afrika Utara. Penulis mengatakan bahwa firqah ini dinamai dengan nama pendirinya, dikarenakan memunculkan banyak perubahan dan dan keyakinan dalam madzhabnya. Mereka sangat membenci Ahlus Sunnah.”

Setelah Dosen itu membacakan kitabnya Asy Syaikh berkata : ”Inilah Wahabi yang dimaksud oleh Imam Al Lakhmi, inilah wahabi yang telah memecah belah kaum muslimin dan merekalah yang difatwakan oleh para ulama Andalusia dan Afrika Utara sebagaimana yang telah kalian dapati sendiri dari kitab-kitab yang kalian miliki. Adapun da’wah yang dibawa oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang didukung oleh Al Imam Muhammad bin Su’ud -rahimuhumallah-, maka dia bertentangan dengan amalan da’wah khawarij, karena da’wah beliau ini tegak di atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam yang shahih, dan beliau menjauhkan semua yang bertentangan dengan keduanya, mereka menda’wahkah tauhid, melarang berbuat syirik, mengajak umat kepada Sunnah dan menjauhinya kepada bid ’ah, dan ini merupakan manhaj da’wahnya para Nabi dan Rasul.

Syubhat yang tersebar di negeri-negeri Islam ini dipropagandakan oleh musuh- musuh islam dan kaum muslimin dari kalangan penjajah dan selain mereka agar terjadi perpecahan dalam barisan kaum muslimin.

Sesungguhnya telah diketahui bahwa dulu para penjajah menguasai kebanyakan negeri-negeri islam pada waktu itu,dan saat itu adalah puncak dari kekuatan mereka. Dan mereka tahu betul kenyataan pada perang salib bahwa musuh utama mereka adalah kaum muslimin yang bebas dari noda yang pada waktu itu menamakan dirinya dengan Salafiyyah. Belakangan mereka mendapatkan sebuah pakaian siap pakai, maka mereka langsung menggunakan pakaian dakwah ini untuk membuat manusia lari darinya dan memecah belah diantara kaum muslimin, karena yang menjadi moto mereka adalah ‘pecah belahlah mereka, niscaya kamu akan memimpin mereka’.”

Shalahuddin Al Ayubi tidaklah mengusir mereka keluar dari negeri Syam secara sempurna kecuali setelah berakhirnya Dawlah Fathimiyyah Al ‘Ubaidiyyin di Mesir, kemudian beliau (Shalahuddin) mendatangkan para ulama Ahlus Sunnah dari Syam lalu mengutus mereka ke negeri Mesir, sehingga berubahlah negeri mesir dari aqidah Syiah Bathiniyyah menuju kepada Aqidah Ahlus Sunnah yang terang dalam hal dalil, amalan dan keyakinan. (Silahkan lihat kitab Al Kamil oleh Ibnu Atsir)

Demikianlah saudara-saudaraku yang dirahmati oleh Allah, inilah fakta yang ada, dimana musuh-musuh islam selalu saja menghalang-halangi da’wah yang haq, karena manghancurkan islam adalah tujuan mereka, mereka tahu kalau umat islam ini bodoh dari ilmu Agama akan sangat mudah menghancurkannya dari dalam. Musuh-musuh Islam mencampurbaurkan antara istilah Wahabi Khariji dengan da’wah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan menyebut da’wah beliau sebagai da’wah Wahabi untuk menjatuhkan da’wah yang beliau usung dan menghalang-halangi terangnya cahaya kebenaran. Menggunakan fatwa-fatwa para ‘ulama Ahlus Sunnah terhadap Wahabi Khariji untuk diarahkan kepada da’wahnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan orang-orang yang selalu menda’wahkan kemurnian tawhid dan sunnah.

Pelajaran penting juga yang dapat kita ambil, hendaknya bagi siapa saja yang ingin mendiskusikan ilmu haruslah dia mendatangkan bukti-bukti yang kuat sebagaimana dialog yang telah kita baca di atas,sehingga bukan nafsu yang keluar dari mulutnya, melainkan imu yang shahih.. Dialoglah dengan cara yang baik, bukan dengan debat kusir yang kosong dari hikmah…

Wallahu ‘alam…..

SUMBERNYA DARI SINI
JUGA LIHAT INI

Tafsir “Ahsanu ‘Amala” (QS. Al Mulk ayat 2)

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya” (QS. Al Mulk, 67: 2)

Abu Nu’aim rahimahullahu dalam Hilyatul Auliya (8/95) berkata:

حدثنا أبي ثنا محمد بن أحمد بن يزيد ومحمد بن جعفر قالا ثنا إسماعيل ابن يزيد ثنا إبراهيم بن الأشعث قال سمعت الفضيل بن عياض يقول في قوله لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً قال أخلصه وأصوبه فانه إذا كان خالصا ولم يكن صوابا لم يقبل وإذا كان صوابا ولم يكن خالصا لم يقبل حتى يكون خالصا والخالص إذا كان لله والصواب إذا كان على السنة

Menceritakan kepada kami Bapakku, menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Yazid dan Muhammad bi Ja’far berkata keduanya, menceritakan kepada kami Ismail bin Yazid, menceritakan kepada kami Ibrohim bin Al-’Asy’ats, beliau berkata aku mendengar Al-Fudhail bin ’Iyadh berkata tentang firman Allah: ”Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya”, beliau berkata: ‘Maksudnya, dia ikhlas dan benar dalam melakukannya. Sebab amal yang dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar maka tidak akan diterima. Dan jika dia benar, tetapi tidak ikhlas maka amalnya juga tidak diterima. Adapun amal yang ikhlas adalah amal yang dilakukan karena Allah, sedang amal yang benar adalah bila dia sesuai dengan Sunnah Rasulullah”.

Atsar ini dikutip pula oleh Al-Lalikai dalam Syarah Ushul Itiqad (3/407), Al-Baghawi dalam Tafsir (5/125-124), Ibn Rajab dalam Jami Al-Ulum wal Hikam (3/20 –Tahqiq Dr. Mahir), dan lainnya. Lihat pula perkataan Ibn Katsir semisal ini dalam Tafsirnya (I/231).

Sumber : KEMBANGSUNDA

Tauhid, Menggugurkan Dosa-Dosa

Tauhid memiliki kedudukan yang sangat agung dan utama di dalam agama Islam, karena sesungguhnya tauhid merupakan inti ajaran Islam ini.

Imam Ibnu Abil ‘Izzi Al-Hanafirahimahullah– berkata, “Ketahuilah, bahwa tauhid merupakan awal da’wah seluruh para rasul, awal tempat singgah perjalanan, dan awal tempat berdiri seorang hamba yang berjalan menuju Allah.” (Minhatul Ilahiyah Fi Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal. 45).

Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyahrahimahullah– berkata, “Sesungguhnya Allah ‘Azza Wa Jalla telah mengutus para Rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya, menciptakan langit-langit dan bumi, agar Dia dikenal, diibadahi, ditauhidkan, dan agar agama itu semuanya bagi Allah, semua ketaatan untuk-Nya, dan dakwah hanya untuk-Nya.”

Kemudian beliau menyebutkan beberapa ayat Al-Qur’an (Adz-Dzariyat: 56; Ath-Thalaq: 12; Al-Maidah: 97), lalu berkata, “Allah memberitakan bahwa tujuan penciptaan dan perintah adalah agar dikenal nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, hanya Dia yang diibadahi, tidak disekutukan.”  (Ad-Da’ wad Dawa’, hal:196, tahqiq Syeikh Ali bin Hasan, penerbit: Dar Ibnil Jauzi).

Oleh karena itulah, tidak mengherankan bahwa tauhid memiliki banyak sekali keutamaan. Di antara keutamaannya adalah bahwa tauhid menggugurkan dosa-dosa. Inilah di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut:

1- Dosa sepenuh bumi gugur dengan tauhid.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَأَزِيدُ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَجَزَاؤُهُ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا أَوْ أَغْفِرُ وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ ذِرَاعًا وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَمَنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً وَمَنْ لَقِيَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطِيئَةً لَا يُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَقِيتُهُ بِمِثْلِهَا مَغْفِرَةً

Dari Abu Dzarr, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman, ‘Barangsiapa membawa satu kebaikan, maka dia mendapatkan balasan sepuluh kalinya, dan Aku akan menambahi. Barangsiapa membawa satu keburukan, maka balasannya satu keburukan semisalnya, atau Aku akan mengampuni. Barangsiapa mendekat kepada-Ku sejengkal, niscaya Aku mendekatinya sehasta. Barangsiapa mendekat kepada-Ku sehasta, niscaya Aku mendekatinya sedepa. Barangsiapa mendatangi-Ku dengan berjalan, niscaya Aku mendatanginya dengan berjalan cepat. Barangsiapa menemui-Ku dengan dosa sepenuh bumi, dia tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Ku, niscaya Aku menemuinya dengan ampunan seperti itu.’” (Hadits shahih riwayat Muslim no. 2687; Ibnu Majah, no. 3821; Ahmad, no. 20853).

Dalam hadits lain diriwayatkan,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

Dari Anas bin Malik , dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam, sesungguhnya selama engkau berdoa kepada-Ku dan mengharap kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni untukmu dosa yang ada padamu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai awan di langit, kemudian engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menghadap-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian menemui-Ku, engkau tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Ku, niscaya Aku menemuimu dengan ampunan seperti itu.” (Hadits shahih riwayat Tirmidzi, no. 3540. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Hadits ini memuat tiga sebab untuk meraih ampunan Allah, yaitu: berdoa disertai dengan harapan, istighfar (mohon ampun), dan tauhid. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali –rahimahullah– berkata, “Sebab ke tiga di antara sebab-sebab ampunan adalah tauhid. Ini adalah sebab yang terbesar. Barangsiapa kehilangan tauhid, maka dia telah kehilangan ampunan dari Allah. Dan barangsiapa menghadap Allah dengan membawa tauhid, maka dia telah membawa sebab ampunan yang paling besar. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

Sesungguhnya, Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (Q.S. An-Nisa’/4: 48, 116).

Maka, barangsiapa menghadap Allah dengan bertauhid, walau dengan membawa dosa sepenuh bumi, maka Allah akan menemuinya dengan ampunan sepenuh bumi juga. Tetapi ini bersama dengan kehendak Allah ‘Azza wa Jalla. Jika Dia menghendaki, Dia akan mengampuninya; Namun, jika Dia menghendaki, Dia akan menyiksanya dengan sebab dosa-dosanya. Kemudian, akhirnya dia tidak kekal di dalam neraka, namun akan keluar darinya, kemudian akan measuk ke dalam surga.” (Jami’ul ‘Uluum wal Hikam, juz 1, hal. 416-417, dengan penelitian Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrahim Baajis, penerbit. Muassasah Ar-Risalah).

2- Sembilan puluh sembilan lembar catatan keburukan gugur dengan tauhid.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّ اللَّهَ سَيُخَلِّصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا كُلُّ سِجِلٍّ مِثْلُ مَدِّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ فَيَقُولُ لَا يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَفَلَكَ عُذْرٌ فَيَقُولُ لَا يَا رَبِّ فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً فَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتَخْرُجُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَيَقُولُ احْضُرْ وَزْنَكَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ فَقَالَ إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ قَالَ فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ فَلَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللَّهِ شَيْءٌ

Sesungguhnya, Allah akan membebaskan seorang lelaki dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Akan dibentangkan padanya 99 lembaran (catatan amal keburukan), tiap-tiap lembaran seukuran sejauh pandangan mata. Kemudian Allah bertanya, “Apakah engkau mengingkari sesuatu dari lembaran (catatan amal keburukan) ini? Apakah para (malaikat) penulisKu al-Hafizhun (yang mencatat) menzhalimimu?

Maka, hamba tadi menjawab, “Tidak wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah engkau memilik alasan?” Maka, hamba tadi menjawab, “Tidak wahai Rabb-ku.” Maka, Allah berfirman, “Benar, sesungguhnya di sisi Kami engkau memiliki satu kebaikan. Sesungguhnya pada hari ini engkau tidak akan dizhalimi. Kemudian, dikeluarkan sebuah bithaqah (karcis) yang bertuliskan: Asyhadu alla ilaaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu warasuluhu (Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah adalah hambaNya dan Rasul-Nya. Allah berfirman, “Datangkanlah timbanganmu. Hamba tadi berkata, “Wahai Rabb-ku, apa (pengaruh) karcis ini terhadap lembaran-lembaran ini.” Maka, Allah berfirman, “Sesungguhnya engkau tidak akan dizhalimi.” Rasulullah bersabda, “Maka, lembaran-lembaran itu diletakkan di atas satu daun timbangan, dan satu karcis tersebut diletakkan di atas satu daun timbangan yang lain. Maka, ringanlah lembaran-lembaran itu, dan beratlah karcis tersebut. Maka, sesuatupun tidak berat ditimbang dengan nama Alah.” (H.R. Ahmad, II/213; Tirmidzi, no:2639; Ibnu Majah, no. 4300; dari Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh (wafat th 1285 H) –rahimahullah– berkata di dalam kitabnya Fathul Majid:

Barangsiapa mengatakan Laa ilaaha illa Allah dengan sempurna, yang mencegahnya dari syirik besar dan syirik kecil, maka orang ini tidak akan terus-menerus melakukan suatu dosa, sehingga dosa-dosanya diampuni dan diharamkan dari neraka.


Dan jika dia mengatakannya dengan sifat yang mencegahnya dari syirik besar, tanpa syirik kecil, dan setelah itu dia tidak melakukan perkara yang membatalkannya, maka hal itu merupakan kebaikan yang tidak bisa ditandingi oleh kejelekan apapun juga. Sehingga timbangan kebaikannya menjadi berat dengan hal itu, sebagaimana tersebut di dalam hadits bithaqah, sehingga dia diharamkan dari neraka, tetapi derajatnya di surga berkurang sekadar dosa-dosanya.” (Fathul Majid I/139-140, tahqiq Dr. Al-Walid bin Abdurrahman bin Muhammad Aalu Furrayyan, penerbit: Majlis Islam Al-Asiawi).

Setelah kita mengetahui hal ini, maka hendaklah kita memperhatikan tauhid dengan sebenar-benarnya, memahaminya, dan mengamalkannya, sehingga kita meraih keutamaannya. Hanya Allah tempat memohon pertolongan.

SUMBERNYA DI SINI

Berpegang Teguh dengan Sunnah

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

Sederhana dalam As-Sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh di dalam bid’ah.” (Ibnu Nashr, 30, Al-Lalikai 1/88 no. 114, dan Al-Ibanah 1/320 no. 161)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

Tetaplah kamu beristiqamah dan berpegang dengan atsar serta jauhilah bid’ah.” (Al-I’tisham, 1/112)

Al Imam Az Zuhri rahimahullah berkata:

Ulama kita yang terdahulu selalu mengatakan: “Berpegang dengan As Sunnah adalah keselamatan. Ilmu itu tercabut dengan segera, maka tegaknya ilmu adalah kekokohan Islam sedangkan dengan perginya para ulama akan hilang pula semua itu (ilmu dan agama).” (Al-Lalikai 1/94 no. 136 dan Ad-Darimi, 1/58 no. 16)

Al Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:

Berhati-hatilah kamu, jangan sampai menulis masalah apapun dari ahli ahwa’, sedikit atau pun banyak. Berpeganglah dengan ahlul atsar dan ahlus Sunnah.” (As-Siyar, 11/231)

Al Imam Al Auza’i rahimahullah berkata:

Berpeganglah dengan atsar salaf as shalih meskipun seluruh manusia menolakmu dan jauhilah pendapat orang-orang (selain mereka) meskipun mereka menghiasi perkataannya terhadapmu.” (Asy-Syari’ah hal. 63)

Dan dalam kitab Lammudurul Mantsur Minal Qaulil Ma’tsur yang disusun oleh Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al Haritsy disebutkan bahwa:

Abdullah bin Ad Dailamy berkata:

Sebab pertama hilangnya agama ini adalah ditinggalkannya As Sunnah (ajaran Nabi). Agama ini akan hilang Sunah demi Sunnah sebagaimana lepasnya tali seutas demi seutas”.

Abdullah bin ‘Athiyah berkata:

Tidaklah suatu kaum berbuat bid’ah dalam agama kecuali Allah akan mencabut dari mereka satu Sunnah yang semisalnya. Dan Sunnah itu tidak akan kembali kepada mereka sampai hari kiamat”.

Al Imam Az Zuhri berkata:

Ulama kami yang terdahulu selalu mengingatkan bahwa berpegang teguh dengan As Sunnah adalah keselamatan. Ilmu akan dicabut dengan segera. Tegaknya ilmu adalah kekokohan agama dan dunia sedangkan hilangnya ilmu maka hilang pula semuanya”.

Wallahu a’lam