Terjemah Kitab “Safinatun Naja” (bag. 3 – akhir)

Kitab Safinah

(BAB IV)
“Jenazah”

(Fasal Satu)
pertama: Kewajiban muslim terhadap saudaranya yang meninggal dunia ada empat perkara, yaitu:
1. Memandikan.
2. Mengkafani.
3. Menshalatkan (shalat jenazah).
4. Memakamkan .

(Fasal Kedua)
Cara memandikan seorang muslim yang meninggal dunia:
Minimal (paling sedikit): membasahi seluruh badannya dengan air dan bisa disempurnakan dengan membasuh qubul dan duburnya, membersihkan hidungnya dari kotoran, mewudhukannya, memandikannya sambil diurut/digosok dengan air daun sidr dan menyiramnya tiga (3) kali.

(Fasal Ketiga)
Cara mengkafan:
Minimal: dengan sehelai kain yang menutupi seluruh badan. Adapun cara yang sempurna bagi laki-laki: menutup seluruh badannya dengan tiga helai kain, sedangkan untuk wanita yaitu dengan baju, khimar (penutup kepala), sarung dan 2 helai kain.

(Fasal Keempat)
Rukun shalat jenazah ada tujuh (7), yaitu:
1. Niat.
2. Empat kali takbir.
3. Berdiri bagi orang yang mampu.
4. Membaca Surat Al-Fatihah.
5. Membaca shalawat atas Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam sesudah takbir yang kedua.
6. Do’a untuk si mayat sesudah takbir yang ketiga.
7. Salam.

(Fasal Kelima)
Sekurang-kurang menanam (mengubur) mayat adalah dalam lubang yang menutup bau mayat dan menjaganya dari binatang buas. Yang lebih sempurna adalah setinggi orang dan luasnya, serta diletakkan pipinya di atas tanah. Dan wajib menghadapkannya ke arah qiblat.

(Fasal Keenam)
Mayat boleh digali kembali, karena ada salah satu dari empat perkara, yaitu:
1. Untuk dimandikan apabila belum berubah bentuk.
2. Untuk menghadapkannya ke arah qiblat.
3. Untuk mengambil harta yang tertanam bersama mayat.
4. Wanita yang janinnya tertanam bersamanya dan ada kemungkinan janin tersebut masih hidup.

(Fasal Ketujuh)
Hukum isti’anah (minta bantuan orang lain dalam bersuci) ada empat (4) perkara, yaitu:
1. Boleh.
2. Khilaf Aula.
3. Makruh
4. Wajib.
Boleh (mubah) meminta untuk mendekatkan air.
Khilaf aula meminta menuangkan air atas orang yang berwudlu.
Makruh meminta menuangkan air bagi orang yang membasuh anggota-anggota (wudhu) nya.
Wajib meminta menuangkan air bagi orang yang sakit ketika ia lemah (tidak mampu untuk melakukannya sendiri).

(BAB V)
“Zakat”

(Fasal Satu)
Harta yang wajib di keluarkan zakatnya ada enam macam, yaitu:
1. Binatang ternak.
2. Emas dan perak.
3. Biji-bijian (yang menjadi makanan pokok).
4. Harta perniagaan. Zakatnya yang wajib di keluarkan adalah 4/10 dari harta tersebut.
5. Harta yang tertkubur.
6. Hasil tambang.

(BAB VI)
“Puasa”

(Fasal Satu)
Puasa Ramadhan diwajibkan dengan salah satu ketentuan-ketentuan berikut ini:
1. Dengan mencukupkan bulan sya’ban 30 hari.
2. Dengan melihat bulan, bagi yang melihatnya sendiri.
3. Dengan melihat bulan yang disaksikan oleh seorang yang adil di muka hakim.
4. Dengan Kabar dari seseorang yang adil riwayatnya juga dipercaya kebenarannya, baik yang mendengar kabar tersebut membenarkan ataupun tidak, atau tidak dipercaya akan tetapi orang yang mendengar membenarkannya.
5. Dengan beijtihad masuknya bulan Ramadhan bagi orang yang meragukan dengan hal tersebut.

(Fasal Kedua)
Syarat sah puasa ramadhan ada empat (4) perkara, yaitu:
1. Islam.
2. Berakal.
3. Suci dari seumpama darah haidh.
4. Dalam waktu yang diperbolehkan untuk berpuasa.

(Fasal Ketiga)
Syarat wajib puasa ramadhan ada lima perkara, yaitu:
1. Islam.
2. Taklif (dibebankan untuk berpuasa).
3. Kuat berpuasa.
4. Sehat.
5. Iqamah (tidak bepergian).

(Fasal Keempat)
Rukun puasa ramadhan ada tiga perkara, yaitu:
1. Niat pada malamnya, yaitu setiap malam selama bulan Ramadhan.
2. Menahan diri dari segala yang membatalkan puasa ketika masih dalam keadaan ingat, bisa memilih (tidak ada paksaan) dan tidak bodoh yang ma’zur (dima’afkan).
3. Orang yang berpuasa.

(Fasal Kelima)
Diwajibkan: mengqhadha puasa, kafarat besar dan teguran terhadap orang yang membatalkan puasanya di bulan Ramadhan satu hari penuh dengan sebab menjima’ lagi berdosa sebabnya .
Dan wajib serta qhadha: menahan makan dan minum ketika batal puasanya pada enam tempat:
1. Dalam bulan Ramadhan bukan selainnya, terhadap orang yang sengaja membatalkannya.
2. Terhadap orang yang meninggalkan niat pada malam hari untuk puasa yang Fardhu.
3. Terhadap orang yang bersahur karena menyangka masih malam, kemudian diketahui bahwa Fajar telah terbit.
4. Terhadap orang yang berbuka karena menduga Matahari sudah tenggelam, kemudian diketahui bahwa Matahari belum tenggelam.
5. Terhadap orang yang meyakini bahwa hari tersebut akhir Sya’ban tanggal tigapuluh, kemudian diketahui bahwa awal Ramadhan telah tiba.
6. Terhadap orang yang terlanjur meminum air dari kumur-kumur atau dari air yang dimasukkan ke hidung.

(Fasal Keenam)
Batal puasa seseorang dengan beberapa macam, yaitu:
– Sebab-sebab murtad.
– Haidh.
– Nifas.
– Melahirkan.
– Gila sekalipun sebentar.
– Pingsan dan mabuk yang sengaja jika terjadi yang tersebut di siang hari pada umumnya.

(Fasal Ketujuh)
Membatalkan puasa di siang Ramadhan terbagi empat macam, yaitu:
1. Diwajibkan, sebagaimana terhadap wanita yang haid atau nifas.
2. Diharuskan, sebagaimana orang yang berlayar dan orang yang sakit.
3. Tidak diwajibkan, tidak diharuskan, sebagaimana orang yang gila.
4. Diharamkan (ditegah), sebagaimana orang yang menunda qhadha Ramadhan, padahal mungkin dikerjakan sampai waktu qhadha tersebut tidak mencukupi.

Kemudian terbagi orang-orang yang telah batal puasanya kepada empat bagian, yaitu:
1. Orang yang diwajibkan qhadha dan fidyah, seperti perempuan yang membatalkan puasanya karena takut terhadap orang lain saperti bayinya. Dan seperti orang yang menunda qhadha puasanya sampai tiba Ramadhan berikutnya.
2. Orang yang diwajibkan mengqhadha tanpa membayar fidyah, seperti orang yang pingsan.
3. Orang yang diwajibkan terhadapnya fidyah tanpa mengqhadha, seperti orang yang sangat tua yang tidak kuasa.
4. Orang yang tidak diwajibkan mengqhadha dan membayar fidyah, seperti orang gila yang tidak disengaja.

(Fasal Kedelapan)
Perkara-perkara yang tidak membatalkan puasa sesudah sampai ke rongga mulut ada tujuh macam, yaitu:
1. Ketika kemasukan sesuatu seperti makanan ke rongga mulut denga lupa
2. Atau tidak tahu hukumnya .
3. Atau dipaksa orang lain.
4. Ketika kemasukan sesuatu ke dalam rongga mulut, sebab air liur yang mengalir diantara gigi-giginya, sedangkan ia tidak mungkin mengeluarkannya.
5. Ketika kemasukan debu jalanan ke dalam rongga mulut.
6. Ketika kemasukan sesuatu dari ayakan tepung ke dalam rongga mulut.
7. Ketika kemasukan lalat yang sedang terbang ke dalam rongga mulut.

Tamat… 

Wallahu a’lam walhamdulillah…

Advertisements

Terjemahan Matan Kitab “Safinatun Najah” (bag. 1)

(Muqaddimah)

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala puji hanya kepada Allah Rabb semesta alam, dan kepadaNya jualah kita memohon pertolongan atas segala perkara dunia dan akhirat. Dan shalawat serta salamNya semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam, penutup para nabi, juga terhadap keluarga, sahabat sekalian. Dan tiada daya upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa.

(BAB I)
“Aqidah”

(Fasal Satu)

Rukun Islam ada lima perkara, yaitu:

1. Bersaksi bahwa tiada ada tuhan yang haq kecuali Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam adalah utusanNya.

2. Mendirikan shalat (lima waktu).

3. Menunaikan zakat.

4. Puasa Ramadhan.

5. Ibadah haji ke baitullah bagi yang telah mampu melaksanakannya.

(Fasal Dua)

Rukun iman ada enam, yaitu:

1. Beriman kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

2. Beriman kepada sekalian Mala’ikat

3. Beriman dengan segala kitab-kitab suci.

4. Beriman dengan sekalian Rasul-rasul.

5. Beriman dengan hari kiamat.

6. Beriman dengan ketentuan baik dan buruknya dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

(Fasal Tiga)

Adapun arti “La ilaha illah”, yaitu: Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dalam kenyataan selain Allah.

(BAB II)
“Thaharah”

(Fasal Satu)

Adapun tanda-tanda balig (mencapai usia remaja) seseorang ada tiga, yaitu:

1. Berumur seorang laki-laki atau perempuan lima belas tahun.

2. Bermimpi (junub) terhadap laki-laki dan perempuan ketika melewati sembilan tahun.

3. Keluar darah haidh sesudah berumur sembilan tahun .

 

(Fasal Dua)

Syarat boleh menggunakan batu untuk beristinja ada delapan, yaitu:

1. Menggunakan tiga batu.

2. Mensucikan tempat keluar najis dengan batu tersebut.

3. Najis tersebut tidak kering.

4. Najis tersebut tidak berpindah.

5. Tempat istinja tersebut tidak terkena benda yang lain sekalipun tidak najis.

6. Najis tersebut tidak berpindah tempat istinja (lubang kemaluan belakang dan kepala kemaluan depan) .

7. Najis tersebut tidak terkena air .

8. Batu tersebut suci.

(Fasal Tiga)

Rukun wudhu ada enam, yaitu:

1. Niat.

2. Membasuh muka

3. Membasuh kedua tangan serta siku.

4. Menyapu sebagian kepala.

5. Membasuh kedua kaki (sampai mata kaki).

6. Tertib.

(Fasal Empat)

Niat adalah menyengaja suatu (perbuatan) berbarengan (bersamaan) dengan perbuatannya di dalam hati. Adapun mengucapkan niat tersebut maka hukumnya sunnah, dan waktunya ketika pertama membasuh sebagian muka.
Adapun tertib yang dimaksud adalah tidak mendahulukan satu anggota terhadap anggota yag lain (sebagaimana yang telah tersebut).

(Fasal Lima)

Air terbagi kepada dua macam; Air yang sedikit. Dan air yang banyak.
Adapun air yang sedikit adalah air yang kurang dari dua qullah. Dan air yang banyak itu adalah yang sampai dua qullah atau lebih.

Air yang sedikit akan menjadi najis dengan sebab tertimpa najis kedalamnya, sekalipun tidak berubah. Adapun air yang banyak maka tdak akan menjadi najis kecuali air tersebut telah berubah warna, rasa atau baunya.

(Fasal Enam)

Yang mewajibkan mandi ada enam perkara, yaitu:

1- Memasukkan kemaluan (kepala dzakar) ke dalam farji (kemaluan) perempuan.

2- Keluar air mani.

3- Mati.

4- Keluar darah haidh [datang bulan].

5- Keluar darah nifas [darah yang keluar setelah melahirkan].

6- Melahirkan.

 (Fasal Tujuh)

Fardhu–fardhu (rukun) mandi yang diwajibkan ada dua perkara, yaitu:

1- Niat mandi wajib.

2- Menyampaikan air ke seluruh tubuh dengan sempurna.

(Fasal Delapan)

Syarat– Syarat Wudhu` ada sepuluh, yaitu:

1- Islam.

2- Tamyiz (cukup umur dan ber’akal).

3- Suci dari haidh dan nifas.

4- Lepas dari segala hal dan sesuatu yang bisa menghalang sampai air ke kulit.

5- Tidak ada sesuatu disalah satu anggota wudhu` yang merubah keaslian air.

6- Mengetahui bahwa hukum wudhu` tersebut adalah wajib.

7- Tidak boleh beri`tiqad (berkeyakinan) bahwa salah satu dari fardhu–fardhu wudhu` hukumnya sunnah (tidak wajib).

8- Kesucian air wudhu` tersebut.

9- Masuk waktu shalat yang dikerjakan.

10- Muwalat .

Dua syarat terakhir ini khusus untuk da`im al-hadats .

(Fasal Sembilan)

Yang membatalkan wudhu` ada empat, yaitu:

1- Apa bila keluar sesuatu dari salahsatu kemaluan seperti angin dan lainnya, kecuali air mani.

2- Hilang akal seperti tidur dan lain lain, kecuali tidur dalam keadaan duduk rapat bagian punggung dan pantatnya dengan tempat duduknya, sehingga yakin tidak keluar angin sewaktu tidur tersebut

3- Bersentuhan antara kulit laki–laki dengan kulit perempuan yang bukan mahram baginya dan tidak ada penghalang antara dua kulit tersebut seperti kain dll.

Mahram”: (orang yang haram dinikahi seperti saudara kandung).

4- Menyentuh kemaluan orang lain atau dirinya sendiri atau menyentuh tempat pelipis dubur (kerucut sekeliling) dengan telapak tangan atau telapak jarinya.

(Fasal Sepuluh)

Larangan bagi orang yang berhadats kecil ada tiga, yaitu:

1- Shalat, fardhu maupun sunnah.

2- Thawaaf (keliling ka`bah tujuh kali).

3- Menyentuh kitab suci Al-Qur`an atau mengangkatnya.

Larangan bagi orang yang berhadats besar (junub) ada lima, yaitu:

1- Shalat.

2- Thawaaf.

3- Menyentuh Al-Qur`an.

4- Membaca Al-Qur`an.

5- I`tikaf (berdiam di masjid).

Larangan bagi perempuan yang sedang haidh ada sepuluh, yaitu:

1- Shalat.

2- Thawaaf.

3- Menyentuh Al-Qur`an.

4- Membaca Al-Qur`an.

5- Puasa

6- I’tikaf di masjid.

7- Masuk ke dalam masjid sekalipun hanya untuk sekedar lewat jika ia takut akan mengotori masjid tersebut.

8- Cerai, karena itu, dilarang suami menceraikan isterinya dalam keadaan haidh.

9- Jima`.

10- Bersenang–senang dengan pasangan di antara pusar dan lutut.

(Fasal Sebelas)

Sebab – Sebab yang membolehkan tayammum ada tiga hal, yaitu:

1- Tidak ada air untuk berwudhu`.

2- Ada penyakit yang mengakibatkan tidak boleh memakai air.

3- Ada air hanya sekedar mencukupi kebutuhan minum manusia atau binatang yang Muhtaram .

Adapun selain Muhtaram ada enam macam, yaitu:

1- Orang yang meninggalkan shalat wajib.

2- kafir Harbiy (yang boleh di bunuh).

3- Murtad.

4- Penzina dalam keadaan Ihshan (orang yang sudah ber’aqad nikah yang sah).

5- Anjing yang menyalak (tidak mena`ati pemiliknya atau tidak boleh dipelihara).

6- Babi.

(Fasal Dua Belas)

Syarat–Syarat mengerjakan tayammum ada sepuluh, yaitu:

1- Bertayammum dengan tanah.

2- Menggunakan tanah yang suci tidak terkena najis.

3- Tidak pernah di pakai sebelumnya (untuk tayammaum yang fardhu).

4- Murni dari campuran yang lain seperti tepung dan seumpamanya.

5- Meng-qashd atau menghendaki (berniat) bahwa sapuan dengan tanah tersebut untuk dijadikan tayammum.

6- Masuk waktu shalat fardhu tersebut, sebelum tayammum.

7- Bertayammum tiap kali shalat fardhu tiba.

8- Berhati–hati dan bersungguh–sungguh dalam mencari arah qiblat sebelum memulai tayammum.

9- Menyapu muka dan dua tangannya dengan dua kali mengusap tanah tayammum secara masing – masing (terpisah).

10- Menghilangkan segala najis di badan terlebih dahulu.

(Fasal Tiga Belas)

Rukun-rukun tayammum ada lima, yaitu:

1. Memindah debu.

2. Niat.

3. Mengusap wajah.

4. Mengusap kedua belah tangan sampai siku.

5. Tertib antara dua usapan.

 

(Fasal Empat Belas)

Perkara yang membatalkan tayammum ada tiga, yaitu:

1. Semua yang membatalkan wudhu’.

2. Murtad.

3. Ragu-ragu terdapatnya air, apabila dia bertayammum karena tidak ada air.

(Fasal Lima Belas)

Perkara yang menjadi suci dari yang asalnya najis ada tiga, yaitu:

1. Khamar (air yang diperah dari anggur) apabila telah menjadi cuka.

2. Kulit binatang yang disamak.

3. Semua najis yang telah berubah menjadi binatang.

(Fasal Enam Belas)

Macam macam najis ada tiga, yaitu:

1. Najis besar (Mughalladzah), yaitu Anjing, Babi atau yang lahir dari salah satunya.

2. Najis ringan (Mukhaffafah), yaitu air kencing bayi yang tidak makan, selain susu dari ibunya, dan umurnya belum sampai dua tahun.

3. Najis sedang (Mutawassithah), yaitu semua najis selain dua yang diatas.

(Fasal Tujuh Belas)

Cara menyucikan najis-najis:

Najis besar (Mughalladzhah), menyucikannya dengan membasuh sebanyak tujuh kali, salah satunya menggunakan debu, setelah hilang ‘ayin (benda) yang najis.

Najis ringan (Mukhaffafah), menyucikannya dengan memercikkan air secara menyeluruh dan menghilangkan ‘ayin yang najis.

Najis sedang (Mutawassithah) terbagi dua bagian, yaitu:

1. ‘Ainiyyah yaitu najis yang masih nampak warna, bau, atau rasanya, maka cara menyucikan najis ini dengan menghilangkan sifat najis yang masih ada.

2. Hukmiyyah, yaitu najis yang tidak nampak warna, bau dan rasanya, maka cara menyucikan najis ini cukup dengan mengalirkan air pada benda yang terkena najis tersebut.

(Fasal Delapan Belas)

Darah haid yang keluar paling sedikit sehari semalam, namun pada umumnya selama enam atau tujuh hari, dan tidak akan lebih dari 15 hari. Paling sedikit masa suci antara dua haid adalah 15 hari, namun pada umumnya 24 atau 23 hari, dan tidak terbatas untuk masa sucinya. Paling sedikit masa nifas adalah sekejap, pada umumnya 40 hari, dan tidak akan melebihi dari 60 hari.

Aurat Wanita dan Cadar dalam Madzhab Syafi’i

Hari ini begitu banyak umat Islam yang mengaku bermadzhab syafi’iyah. Namun, sedikit saja di antara mereka yang benar-benar memahami dan mengamalkan pendapat-pendapat madzhab syafi’iyah itu sendiri.

Cadar

Salah satunya adalah pendapat madzhab syafi’i tentang batasan aurat perempuan dan kaitannya dengan penggunaan niqab (cadar). Bahkan, masyarakat Indonesia yang sebagian besarnya adalah penganut madzhab syafi’i justru kerap kali antipati terhadap wanita yang mengenakan cadar. Bahkan mengidentikan cadar dengan teroris. Na’udzubillah.

Untuk mendapatkan penjelasan yang lengkap, kami akan memaparkan pendapat para ‘ulama madzhab syafi’i tentang aurat wanita dan syari’at niqab (cadar).

Imam Asy Syafi’i rahimahullah menyatakan dalam Al Umm (1/109) pendapat beliau,

وكل المرأة عورة إلا كفيها ووجهها

Dan setiap wanita adalah aurat kecuali telapak tangan dan wajahnya.

Ibnul Mundzir menyandarkan pendapat ini kepada Imam Asy Syafi’i dalam Al Awsath (5/70), beliau katakan dalam kitab yang sama (5/75),

على المرأة أن تخمر في الصلاة جميع بدنها سوى وجهها وكفيها

Wajib bagi wanita menutup seluruh badannya dalam shalat kecuali wajah dan kedua telapak tangannya.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa yang dimaksud Imam Asy Syafi’i dalam Al Umm adalah aurat wanita dalam shalat.

Imam An Nawawi rahimahullah dalam Al Majmu’ (3/169) mengatakan,

ان المشهور من مذهبنا أن عورة الرجل ما بين سرته وركبته وكذلك الامة وعورة الحرة جميع بدنها الا الوجه والكفين وبهذا كله قال مالك وطائفة وهي رواية عن احمد

Pendapat yang masyhur di madzhab kami (syafi’iyah) bahwa aurat pria adalah antara pusar hingga lutut, begitu pula budak wanita. Sedangkan aurat wanita merdeka adalah seluruh badannya kecuali wajah dan telapak tangan. Demikian pula pendapat yang dianut oleh Imam Malik dan sekelompok ulama serta menjadi salah satu pendapat Imam Ahmad.”

Berkata Syaikh Sulayman Al Jamal tentang pernyataan Imam An Nawawi di atas:

غير وجه وكفين : وهذه عورتها في الصلاة . وأما عورتها عند النساء المسلمات مطلقًا وعند الرجال المحارم ، فما بين السرة والركبة . وأما عند الرجال الأجانب فجميع البدن

“(maksud perkataan An Nawawi bahwa aurat wanita adalah) selain wajah dan telapak tangan, ini adalah aurat di dalam shalat. Adapun aurat wanita muslimah secara mutlak di hadapan lelaki yang masih mahram adalah antara pusar hingga paha. Sedangkan di hadapan lelaki yang bukan mahram adalah seluruh badan.(Hasyiatul Jamal ‘Ala Syarh Al Minhaj, 411)

Syaikh Asy Syarwani berkata:

إن لها ثلاث عورات : عورة في الصلاة ، وهو ما تقدم ـ أي كل بدنها ما سوى الوجه والكفين . وعورة بالنسبة لنظر الأجانب إليها : جميع بدنها حتى الوجه والكفين على المعتمد وعورة في الخلوة وعند المحارم : كعورة الرجل »اهـ ـ أي ما بين السرة والركبة ـ

Wanita memiliki tiga jenis aurat: (1) aurat dalam shalat -sebagaimana telah dijelaskan- yaitu seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan, (2) aurat terhadap pandangan lelaki ajnabi, yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang mu’tamad, (3) aurat ketika berdua bersama yang mahram, sama seperti laki-laki, yaitu antara pusar dan paha.” (Hasyiah Asy Syarwani ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj, 2/112)

 

Syaikh Muhammad bin Qaasim Al Ghazzi, penulis Fathul Qaarib, berkata:

وجميع بدن المرأة الحرة عورة إلا وجهها وكفيها ، وهذه عورتها في الصلاة ، أما خارج الصلاة فعورتها جميع بدنها

Seluruh badan wanita selain wajah dan telapak tangan adalah aurat. Ini aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh badan” (Fathul Qaarib, 19)

 

Ibn Qaasim Al Abadi berkata:

فيجب ما ستر من الأنثى ولو رقيقة ما عدا الوجه والكفين . ووجوب سترهما في الحياة ليس لكونهما عورة ، بل لخوف الفتنة غالبًا

Wajib bagi wanita menutup seluruh tubuh selain wajah telapak tangan, walaupun penutupnya tipis. Dan wajib pula menutup wajah dan telapak tangan, bukan karena keduanya adalah aurat, namun karena secara umum keduanya cenderung menimbulkan fitnah(Hasyiah Ibnu Qaasim ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj, 3/115)

Syaikh Taqiyuddin Al Hushni, penulis Kifaayatul Akhyaar, berkata:

ويُكره أن يصلي في ثوب فيه صورة وتمثيل ، والمرأة متنقّبة إلا أن تكون في مسجد وهناك أجانب لا يحترزون عن النظر ، فإن خيف من النظر إليها ما يجر إلى الفساد حرم عليها رفع النقاب

Makruh hukumnya shalat dengan memakai pakaian yang bergambar atau lukisan. Makruh pula wanita memakai niqab (cadar) ketika shalat. Kecuali jika di masjid yang kondisinya sulit terjaga dari pandnagan lelaki ajnabi. Jika wanita khawatir dipandang oleh lelaki ajnabi sehingga menimbulkan kerusakan, haram hukumnya melepaskan niqab.” (Kifaayatul Akhyaar, 181)

Muslimah

Berkata Syaikh Salim ibn Sumair Al Hadhrami Asy Syafi’i dalam Safinatun Najah hal 11:

وعورة الحرة في الصلاة جميع بدنها ما سوى الوجه والكفين وعورة الحرة والأمة عند الأجانب جميع البدن

Dan aurat perempuan merdeka ketika shalat, yaitu seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan. Adapun aurat perempuan merdeka dan budak terhadap laki-laki ajnabi (non mahram), yaitu seluruh badan.”

Berkata Syaikh Muhammad Nawawi ibn ‘Umar Al Bantani Al Jawi dalam Kasyifatus Saja Fii Syarh Safinatun Najah :

حتى الوجه والكفين ولو عند أمن الفتنة فيحرم عليهم أن ينظروا إلى شيء من بدنهما ولو قلامة ظفر منفصلة منهما

“(yang dimaksud seluruh badan) adalah termasuk wajah dan kedua telapak tangan walaupun dalam keadaan aman dari fitnah. Dan haram bagi laki-laki ajnabi melihat sesuatu dari badan perempuan (baik perempuan merdeka atupun budak) walau sekedar hiasan kukunya saja.”

Begitu kuat pendapat para ‘ulama syafi’i tentang wajibnya menutup seluruh tubuh bagi wanita di depan ajnabi, termasuk wajah dan telapak tangan. Artinya, madzhab syafi’i secara umum mewajibkan penggunaan cadar bagi wanita untuk melindungi dirinya dari pandangan orang-orang ajnabi (non mahram).

Walaupun ada beberapa ‘ulama syafi’i yang tidak mewajibkan cadar, namun fatwa para ‘ulama di atas sudah cukup mewakili bahwa mengenakan cadar bagai wanita merupakan bagian dari syari’at yang diakui madzhab syafi’i.

Wallahu a’lam