Madzhab Fiqih : Kedudukan dan Cara Menyikapinya

Kitab Fiqih Empat Madzhab

Pengertian

Madzhab — “dzahaba” = pergi, berlalu. Kata madzhab merupakan “isim makan” yaitu sebuah kata yang menunjukkan tempat kata dasarnya. Maka, dari sisi bahasa, madzhab berarti tempat pergi atau tempat berlalu. Mungkin juga kita artikan “titik tolak” dalam istilah yang lain.

Selain bermakna pergi dan berlalu, dzahaba juga bermakna “pendapat”. Maka dari sisi istilah, madzhab diartikan sebagai cara atau metode seseorang atau kelompok, baik dalam masalah keyakinan, perilaku, hukum, dan lain sebagainya.

Fiqih —alimaya’lamu dan fahimayafhamu = mengetahui, mengerti.

Dari sisi istilah, fiqih bermakna “Hukum-hukum praktis dalam syari’at yang diambil dari dalil-dalil terperinci.”

Madzhab Fiqih — Metode yang digunakan oleh seorang mujtahid untuk menentukan sejumlah hukum-hukum praktis dalam syari’at.

Fase Perkembangan Ilmu Fiqih

  1. Fase Penetapan Syari’at (Marhalah Tasyri’) 0-41 H
  2. Fase Peletakkan Dasar-Dasar Fiqih (Marhalah Ta’sis Lil Fiqhi) 41-132 H
  3. Masa Kecemerlangan Fiqih (Marhalatu Izdiharil Fiqhi) 132-350
    1. Lahirnya para mujtahid, termasuk Al A’immah Al Arba’ah
    2. Perhatian yang besar dari Kekhilafahan
    3. Maraknya pembukuan dari berbagai macam disiplin ilmu
    4. Banyaknya munazarat (adu argumentasi)
    5. Fase Kejumudan dan Fanatisme Madzhab (Marhalatul Jumud wat Ta’ashshub) 350-…

Sejarah Munculnya Madzhab Fiqih

  1. Cara pandang sang Imam yang diikuti oleh murid-muridnya
  2. Munculnya sebuah komunitas yang memiliki sebuah kesamaan cara pandang
  3. Disusunnya kitab-kitab yang berisi cara pandang para ulama di kalangan internal mereka
  4. Terbentuknya madzhab-madzhab fiqih, dan yang terkenal ada 5 : Hanafiyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hanabilah, dan Dzahiriyah.

Sikap yang Proporsional Terkait dengan Beberapa Hal

Taqlid

  • Haram bagi orang yang telah memiliki kemampuan untuk meneliti dalil
  • Haram bagi orang awam yang fanatik terhadap madzhabnya padahal telah datang kepadanya dalil yang lebih kuat
  • Bagi orang-orang awam yang belum memiliki kemampuan meneliti dalil, maka diperbolehkan baginya mengikuti pendapat salah satu mujtahid walaupun tidak mengetahui dalilnya

Hukum Bermadzhab

  • Boleh, dengan syarat tidak fanatik dan memilih pendapat yang lebih kuat dalilnya bila diketahui pendapat madzhab yang dia anut memiliki landasan yang lebih lemah

Sikap terhadap Para Imam dan Para Ulama

  • Menghormati mereka dan mengakui kapasitas keilmuan mereka
  • Menempatkan mereka secara proporsional karena tidak ada yang ma’shum selain para Nabi dan Rasul
  • Kekeliruan para mujtahid dalam sebuah pendapat ketika menentukan hukum tidak identik dengan dosa
  • Bila tidak setuju dengan pendapat ulama lain, hendaknya didukung oleh dalil yang kuat, bukan sekedar sentimen pribadi atau kelompok
  • Ketidaksetujuan terhadap suatu pendapat juga bukan berarti menjelek-jelekan pendapat yang bertentangan tersebut, apalagi sampai menghina dan merendahkan para imam
  • Tidak dibenarkan mencari-cari kesalahan para ulama
  • Perlu dipertegas kriteria seseorang disebut sebagai ulama, agar masyarakat awam mengetahui kepada siapa mereka merujuk

Sikap terhadap Khilafiyah

  • Di antara berlebihan (ifrath) dan tafrith (meremehkan)
  • Ikhtilaf tanawwu’ tidak bisa dihindari — toleransi
  • Ikhtilaf tadhadh wajib dihindari — ketegasan dan iftiraq

Talfiq, yaitu mengumpulkan beberapa pendapat para imam

  • Dianjurkan mengambil pendapat yang lebih kuat di antara para imam
  • Haram bila dilakukan dalam rangka mencari pendapat yang paling mudah tanpa melihat sisi kuat-lemahnya dalil yang digunakan

 

Wallahu a’lam

Rd. Laili Al Fadhli

Materi Kajian Umum Mahasiswa Pecinta Islam (MPI) Bandung, 28 Syawwal 1433 H

Disarikan dari Kitab Al Madzahibul Fiqhiyyah wal Mauqifush Shahih Minha

Advertisements

Garis Pemisah Antara Iman dan Kufur

Berikut merupakan fatwa yang diberikan oleh Lajnah Da`imah untuk riset ilmu dan fatwa Arab Saudi tentang batas atau garis pemisah antara keimanan dan kekufuran, dan kapan seorang dinyatakan beriman serta kapan seseorang dinyatakan kafir.

Pertanyaan:  Apakah garis pemisah di antara kufur dan islam? Apakah orang yang mengucapkan dua kalimah syahadah kemudian melakukan perbuatan yang bertentangan dengannya masuk dalam golongan kaum muslimin, sekalipun ia tetap shalat dan puasa?
Jawaban: Garis pemisah di antara kufur dan islam adalah: mengucapkan dua kalimah syahadah dengan benar dan ikhlas dan mengamalkan tuntutan keduanya. Maka barangsiapa yang terealisasi hal itu padanya maka dia seorang muslim yang beriman. Adapun orang yang munafik, maka dia tidak jujur dan tidak ikhlas maka dia bukanlah seorang mukmin. Demikian pula orang yang mengucapkan dua kalimah syahadah dan melakukan perbuatan syirik yang bertentangan dengan keduanya, seperti orang yang meminta tolong kepada orang yang sudah meninggal di saat susah atau senang, orang yang lebih mengutamakan hukum-hukum positif (buatan manusia) di atas hukum yang diturunkan Allah , orang yang mengolok-olok al-Qur`an atau yang shahih dari sunnah Rasulullah  maka dia adalah kafir, sekalipun ia mengucapkan dua kalimah syahadah, shalat dan puasa.
Wabillahit taufik, semoga Allah  selalu memberi rahmat dan kesejahteraan kepada Nabi kita Muhammad , keluarga dan sahabatnya.

Fatawa lajnah da`imah untuk riset ilmu dan fatwa (2/45)

Tahlilan dan Berkumpulnya Orang di Rumah Mayyit

Tahlilan

Di antara tradisi keagamaan yang lekat dengan ummat Islam di Indonesia adalah berkumpulnya masyarakat di rumah orang yang meninggal dunia, baik sebelum mayyit dikubur ataupun setelahnya. Tradisi ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan, terutama bagi ummat Islam yang menisbatkan ajaran agamanya pada madzhab Syafi’i. Bukan hanya itu, di sebagian tempat di Indonesia, tradisi berkumpul di rumah mayyit juga diiringi dengan “pesta” di mana sang empunya rumah yang tidak lain adalah kerabat mayyit harus menyediakan hidangan dan uang yang dibagikan kepada masyarakat yang berkumpul. Bahkan saya pernah menyalatkan jenazah dan setelah selesai salam, seseorang menghampiri jama’ah dan membagikan uang kepada jama’ah.

Tradisi berkumpul di rumah mayyit asalnya bertujuan mendoakan mayyit dengan ritual yang dikenal dengan istilah “tahlilan”. Yaitu membaca dzikir dan doa-doa tertentu, memohon kebaikan dan ampunan, khususnya bagi si mayyit. Tahlilan tidak hanya dilakukan sekali. Biasanya tahlilan dilakukan 3 malam berturut-turut atau sepekan berturut-turut, setelah itu dilanjutkan dengan malam ke tujuh (jika sebelumnya tidak dilaksanakan secara sepekan berturut-turut), lalu diadakan kembali pada malam ke 40, 100, bahkan 1000, yang dihitung sejak wafatnya si mayyit.

Adapun dasar pemikiran diadakannya tradisi ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad didalam Az Zuhd dan Al Hafidzh Abu Nu’aim di dalam Al Hilyah tentang anjuran memberi makan setelah kematian;

قال الإمام أحمد بن حنبل رضي الله عنه في كتاب الزهد له حدثنا هاشم بن القاسم قال ثنا الاشجعي عن سفيان قال قال طاووس إن الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام.

قال الحافظ أبو نعيم في الحلية حدثنا أبو بكر بن مالك ثنا عبد الله بن أحمد ابن حنبل ثنا أبي ثنا هاشم بن القاسم ثنا الأشجعي عن سفيان قال قال طاووس إن الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعم عنهم تلك الأيام.

Imam Ahmad bin Hanbal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Menceritakan kepada kami Hisyam bin Al Qasim, ia berkata, menceritakan kepada kami Al Asyja’iy dari Sufyan, ia berkata : Thawus berkata, “sesungguhnya orang mati terfitnah (ditanya malaikat) di dalam kubur mereka selama 7 hari, maka mereka mengajurkan supaya memberikan makanan (yang pahala) untuk mereka pada hari-hari tersebut”.

Al Hafidhz Abu Nu’aim berkata : “Menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Malik, menceritakan kepada kami Abdulllah bin Ahmad Ibnu Hanbal, menceritakan kepada kami Hisyam bin Al Qasim, menceritakan kepada kami Al Asyja’iy dari Sufyan, ia berkata, Thawus berkata : sesungguhnya orang mati terfitnah didalam kubur mereka selama 7 hari, maka mereka menganjurkan agar bersedekah makanan yang pahalanya untuk mereka pada hari-hari tersebut.

Atas dasar inilah kemudian tradisi tahlilan dalam rangka mendoakan mayyit, memohonkan ampunan baginya, serta bersedekah (yang pahalanya ditujukan) untuk si mayyit senantiasa dilaksanakan oleh sebagian besar kalangan ummat Islam di Indonesia.

Namun demikian, apakah benar bahwa riwayat di atas bisa dijadikan landasan tentang disyari’atkannya tahlilan?

Pertama, kita tidak berselisih mengenai sampainya hadiah pahala untuk si mayyit karena hal ini sudah saya jelaskan dalam artikel Hadiah Pahala. Intinya Ahlus Sunnah bersepakat tentang sampainya pahala tersebut kepada si mayyit.

Kedua, yang perlu dicermati di sini adalah bagaimana hukumnya berkumpul di rumah mayyit dan memberikan makanan kepada para tamu yang berta’ziyah.

Telah sampai sebuah riwayat dari Jarir bin Abdullah Al Bajaliy radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :

كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة

“Kami (yakni para shahabat semuanya) memandang/menganggap (yakni menurut madzhab kami para shahabat) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah dikuburnya mayit termasuk dari bagian meratap.” (Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah [No. 1612 dan ini adalah lafadzhnya] dan Imam Ahmad di musnadnya [2/204 dan riwayat yang kedua bersama tambahannya keduanya adalah dari riwayat beliau], dari jalan Ismail bin Abi Khalid dari Qais bin Abi Hazim dari Jarir sebagaimana tersebut)

Riwayat di atas menunjukkan bolehnya makan-makan di rumah ahli mayit “sebelum dikubur”. Akan tetapi yang dimaksud ialah ingin menjelaskan kebiasaan yang terjadi mereka makan-makan di rumah ahli mayit sesudah mayit itu dikubur. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kalimat “ba’da dafnihi” yang menunjukkan batasan dari keumuman riwayat di atas. Kalimat “ba’da dafnihi” sendiri merupakan tambahan dari riwayat Al Imam Ahmad.

Meratap merupakan perbuatan yang dibenci dan diharamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan tidak ada pertentangan di kalangan Ahlus Sunnah dalam masalah ini. Jika berkumpul-kumpulnya orang di rumah mayyit disebut bagian dari meratap, maka tidak ragu lagi, perbuatan ini wajib kita tinggalkan. Pendapat ini juga diperkuat oleh perkataan para ‘ulama salaf tentang hal ini.

Berkata Al Imam Asy Syafi’i radhiyallahu ‘anhu dalam Al ‘Umm [I/248],

وأكره المأتم وهي الجماعة وإن لم يكن لهم بكاء فإن ذلك يجدد الحزن

“Aku membenci al ma`tam yaitu berkumpul (di rumah mayyit), meskipun di situ tidak ada tangisan, karena hal tersebut akan memperbaharui kesedihan.”

Al Imam An Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Al Majmu’ Syarah Muhadzdzab [5/319-320] menjelaskan :

قال صاحب الشامل وغيره وأما اصلاح اهل الميت طعاما وجمع الناس عليه فلم ينقل فيه شئ وهو بدعة غير مستحبة

“Shahibu asy Syamil” dan selainnya berkata : Adapun penyediaan hidangan makanan oleh keluarga mayit dan berkumpulnya orang banyak di situ adalah tidak ada nashnya sama sekali, dan itu adalah bid’ah, bukan sunnah.”

Penulis Al Mughniy menyatakan,

فأما صنع أهل الميت طعاما للناس فمكروه لأن فيه زيادة على مصيبتهم وشغلا لهم إلى شغلهم وتشبها بصنع أهل الجاهلية

“Maka adapun bila ahlu (keluarga) mayyit membuat makanan untuk orang, maka itu makruh, karena bisa menambah atas mushibah mereka, menambah kesibukan mereka (merepotkan) dan meniru-niru perbuatan Jahiliyah” [Al Mughniy II/215]

Dalam kitab I’anatuth Thalibin [II/165-167] panjang lebar dijelaskan permasalahan ini, di antaranya adalah sebuah pertanyaan kepada Mufti Makkah,

وقد اطلعت على سؤال رفع لمفاتي مكة المشرفة فيما يفعله أهل الميت من الطعام. وجواب منهم لذلك. (وصورتهما). ما قول المفاتي الكرام بالبلد الحرام دام نفعهم للانام مدى الايام، في العرف الخاص في بلدة لمن بها من الاشخاص أن الشخص إذا انتقل إلى دار الجزاء، وحضر معارفه وجيرانه العزاء، جرى العرف بأنهم ينتظرون الطعام، ومن غلبة الحياء على أهل الميت يتكلفون التكلف التام، ويهيئون لهم أطعمة عديدة، ويحضرونها لهم بالمشقة الشديدة. فهل لو أراد رئيس الحكام – بما له من الرفق بالرعية، والشفقة على الاهالي – بمنع هذه القضية بالكلية ليعودوا إلى التمسك بالسنة السنية، المأثورة عن خير البرية وإلى عليه ربه صلاة وسلاما، حيث قال: اصنعوا لآل جعفر طعاما يثاب على هذا المنع المذكور ؟

“Dan sungguh telah aku perhatikan mengeni pertanyaan yang ditanyakan (diangkat) kepada para Mufti Mekkah (مفاتي مكة المشرفة) tentang apa yang dilakukan oleh Ahlu (keluarga) mayyit perihal makanan (membuat makanan) dan (juga aku perhatikan) jawaban mereka atas perkara tersebut. Gambaran (penjelasan mengenai keduanya ; pertanyaan dan jawaban tersebut) yaitumengenai (bagaimana) pendapat para Mufti yang mulia (المفاتي الكرام) di negeri “al-Haram”, (semoga (Allah) mengabadikan manfaat mareka untuk seluruh manusia sepanjang masa) , tentang kebiasaan (‘urf) yang khusus di suatu negeri bahwa jika ada yang meninggal , kemudian para penta’ziyah hadir dari yang mereka kenal dan tetangganya, lalu terjadi kebiasaan bahwa mereka (penta’ziyah) itu menunggu (disajikan) makanan dan karena rasa sangat malu telah meliputi ahlu (keluarga mayyit) maka mereka membebani diri dengan beban yang sempurna (التكلف التام), dan (kemudian keluarga mayyit) menyediakan makanan yang banyak (untuk penta’ziyah) dan menghadirkannya kepada mereka dengan rasa kasihan. Maka apakah bila seorang ketua penegak hukum yang dengan kelembutannya terhadap rakyat dan rasa kasihannya kepada ahlu mayyit dengan melarang (mencegah) permasalahan tersebut secara keseluruhan agar (manusia) kembali berpegang kepada As-Sunnah yang lurus, yang berasal dari manusia yang Baik (خير البرية) dan (kembali) kepada jalan Beliau (semoga shalawat dan salam atas Beliau), saat ia bersabda, “sediakanlah makanan untuk keluarga Ja’far”, apakah pemimpin itu diberi pahala atas yang disebutkan (pelarangan itu) ?

Maka, Mufti tersebut menjawab,

نعم، ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر، ثبت الله به قواعد الدين وأيد به الاسلام والمسلمين

Iya… Apa yang dilakukan oleh manusia dari berkumpul ditempat ahlu (keluarga) mayyit dan menghidangkan makanan, itu bagian dari bid’ah munkarah, yang diberi pahala bagi yang mencegahnya dan menyuruhnya. Allah akan mengukuhkan dengannya kaidah-kaidah agama dan mendorong Islam serta ummat Islam.

Juga perkataan Asy Syaikh Al ‘Allamah Ahmad bin Hajar dalam Tuhfah Al Muhtaaj,

وما اعتيد من جعل أهل الميت طعاما ليدعوا الناس إليه، بدعة مكروهة – كإجابتهم لذلك، لما صح عن جرير رضي الله عنه. كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة

Dan kebiasaaan dari ahlu (keluarga) mayyit membuat makanan untuk mengundang (mengajak) menusia kepadanya, ini bid’ah makruhah, sebagaimana mereka memenuhi ajakan itu, sesuai dengan hadits shahih dari Jarir radhiyallahu ‘anhu, “Kami (sahabat) menganggap bahwa berkumpul ke ahlu (keluarga) mayyit dan menyediakan makanan (untuk mereka) setelah dikuburnya (mayyit) adalah bagian dari meratap (an Niyahah)”.

Juga kutipan dari kitab Hasiyatul Jamal ‘alaa Syarh al Minhaj (karangan Al ‘Allamah asy-Syekh Sulaiman Al Jamal),

ومن البدع المنكرة والمكروه فعلها: ما يفعله الناس من الوحشة والجمع والاربعين، بل كل ذلك حرام إن كان من مال محجور، أو من ميت عليه دين، أو يترتب عليه ضرر، أو نحو ذلك.

Dan di antara bid’ah munkarah dan makruh mengerjakannya yaitu apa yang dilakukan orang daripada berduka cita , berkumpul, dan 40 harian, bahkan semua itu haram jika (dibiayai) dari harta yang terlarang (haram), atau dari (harta) mayyit yang memiliki (tanggungan) hutang atau (dari harta) yang bisa menimbulkan bahaya atasnya, atau yang lain sebagainya.

وقال أيضا: ويكره الضيافة من الطعام من أهل الميت، لانه شرع في السرور، وهي بدعة. روى الامام أحمد وابن ماجه بإسناد صحيح، عن جرير بن عبد الله، قال: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام من النياحة.

Dan (juga) berkata (Penulis Radd al Muhtar): “Dan dimakruhkan penyediaan jamuan besar (الضيافة) dari Ahlu (keluarga) mayyit, karena menyajikan makanan itu disyaratkan ketika kondisi berbahagia (شرع في السرور), dan ini adalah bi’dah. Diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad dan Ibnu Majah dengan isnad yang shahih, dari Jarir bin Abdullah, berkata ; “Kami (sahabat) menganggap berkumpulnya ke (tempat) ahlu (keluarga) mayyit dan menyediakan makanan bagian dari meratap”.

وفي البزاز: ويكره اتخاذ الطعام في اليوم الاول والثالث وبعد الاسبوع، ونقل الطعام إلى القبر في المواسم 

Dan di dalam kitab Al Bazaz, “Dimakruhkan menyediakan makanan pada hari pertama, ke tiga dan setelah satu minggu dan (juga) dikatakan (termasuk) makanan (yang dibawa) ke kuburan pada musiman”.

Juga perkataan Mufti madzhab Syafi’i, Ahmad Zaini bin Dahlan,

ولا شك أن منع الناس من هذه البدعة المنكرة فيه إحياء للسنة، وإماته للبدعة، وفتح لكثير من أبواب الخير، وغلق لكثير من أبواب الشر، فإن الناس يتكلفون تكلفا كثيرا، يؤدي إلى أن يكون ذلك الصنع محرما. والله سبحانه وتعالى أعلم.

Dan tidak ada keraguan bahwa mencegah manusia dari bid’ah Munkarah ini,padanya termasuk menghidupkan as Sunnah, mematikan bid’ah, dan membuka pintu-pintu kebaikan, serta mengunci pintu-pintu keburukan. Maka jika manusia membebani (dirinya) dengan beban yang banyak, itu hanya akan mengantarkan mereka kepada perkara yang diharamkan.

Demikianlah pandangan para ‘ulama tentang berkumpul-kumpul di rumah mayyit, baik sebelum ataupun setelah mayyit itu dikuburkan. Dari sini kita dapat memahami bahwa Islam justru menolak dengan tegas segala bentuk ritual yang dapat memberatkan ummat. Bahkan (dalam hal ini) Islam menganjurkan bagi para tamu untuk menyediakan makanan bagi keluarga mayyit, menghibur mereka dari kesedihan, dan meringankan beban mereka. Bukan justru memberatkan beban mereka dan menambahkan kesulitan bagi mereka,

قال العلامة أحمد بن حجر في (تحفة المحتاج لشرح المنهاج): ويسن لجيران أهله – أي الميت – تهيئة طعام يشبعهم يومهم وليلتهم،

Al ’Allamah Ahmad bin Hajar dalam Tuhfah al Muhtaaj li Syarh al Minhaj mengatakan, “Dianjurkan bagi para tetangga keluarga mayit untuk menyiapkan makanan yang cukup untuk mengenyangkan keluarga mayit selama sehari dan semalam.

للخبر الصحيح اصنعوا لآل جعفر طعاما فقد جاءهم ما يشغلهم.

Dalilnya adalah sebuah hadits yang sahih, “Buatkan makanan untuk keluarga Ja’far karena telah datang kepada mereka duka yang menyibukkan mereka –dari menyiapkan makanan-”

Wallahu a’lam

Kitab-Kitab Al Imam Nashru As Sunnah Muhammad ibn Idris Asy Syafi’i

Imam Syafi’i bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Idris Asy Syafi’i, lahir di Gaza, Palestina pada tahun 150 Hijriah (767-820 M), berasal dari keturunan bangsawan Qurays dan masih keluarga jauh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dari ayahnya, garis keturunannya bertemu di Abdul Manaf (kakek ketiga rasulullah) dan dari ibunya masih merupakan cicitAli bin Abi Thalib radhiyallahi ‘anhu. Semasa dalam kandungan, kedua orang tuanya meninggalkan Mekkah menuju palestina, setibanya di Gaza, ayahnya jatuh sakit dan berpulang ke rahmatullah, kemudian beliau diasuh dan dibesarkan oleh ibunya dalam kondisi yang sangat prihatin dan seba kekurangan, pada usia 2 tahun, ia bersama ibunya kembali ke mekkah dan di kota inilah Imam Syafi’i mendapat pengasuhan dari ibu dan keluarganya secara lebih intensif.

 

Saat berusia 9 tahun, beliau telah menghafal seluruh ayat Al Quran dengan lancar bahkan beliau sempat 16 kali khatam Al Quran dalam perjalanannya dari Mekkah menuju Madinah. Setahun kemudian, kitab Al Muwatha’ karanganImam Malik bin Anas yang berisikan 1.720 hadis pilihan juga dihafalnya di luar kepala, Imam Syafi’i juga menekuni bahasa dan sastra Arab di dusun baduiBani Hundzail selama beberapa tahun, kemudian beliau kembali ke Mekkah dan belajar fiqh dari seorang ulama besar yang juga mufti kota Mekkah pada saat itu yaitu Imam Muslim bin Khalid Azzanni. Kecerdasannya inilah yang membuat dirinya dalam usia yang sangat muda (15 tahun) telah duduk di kursi mufti kota Mekkah, namun demikian Imam Syafi’i belum merasa puas menuntut ilmu karena semakin dalam beliau menekuni suatu ilmu, semakin banyak yang belum beliau mengerti, sehingga tidak mengherankan bila guru Imam Syafi’i begitu banyak jumlahnya sama dengan banyaknya para muridnya. Di antara guru beliau yang masyhur adalah Waki‘.
Sedangkan di antara murid beliau yang sekaligus guru beliau dalam ilmu hadits adalah Imam Ahmad bin Hanbal.Meskipun Imam Syafi’i menguasai hampir seluruh disiplin ilmu, namun beliau lebih dikenal sebagai ahli hadis dan hukum karena inti pemikirannya terfokus pada dua cabang ilmu tersebut, pembelaannya yang besar terhadap sunnah Nabi sehingga beliau digelari Nashru Sunnah(Pembela Sunnah Nabi). Dalam pandangannya, sunnah Nabi mempunyai kedudukan yang sangat tinggi, malah beberapa kalangan menyebutkan bahwa Imam Syafi’i menyetarakan kedudukan sunnah dengan Al Quran dalam kaitannya sebagai sumber hukum islam, karena itu, menurut beliau setiap hukum yang ditetapkan oleh rasulullah pada hakekatnya merupakan hasil pemahaman yang diperoleh Nabi dari pemahamannya terhadap Al Quran. Selain kedua sumber tersebut (Al Quran dan Hadits), dalam mengambil suatu ketetapan hukum, Imam Syafi’i juga menggunakan Ijma’, Qiyas danistidlal(penalaran) sebagai dasar hukum islam.Berkaitan dengan bid’ah, Imam Syafi’i berpendapat bahwa bid’ah itu terbagi menjadi dua macam, yaitu bid’ah terpuji dan sesat, dikatakan terpuji jika bid’ah tersebut selaras dengan prinsip prinsip Al Quran dan Sunnah dan sebaliknya. Dalam soal taqlid, beliau selalu memberikan perhatian kepada murid muridnya agar tidak menerima begitu saja pendapat pendapat dan hasil ijtihadnya, beliau tidak senang murid muridnya bertaklid buta pada pendapat dan ijtihadnya, sebaliknya malah menyuruh untuk bersikap kritis dan berhati hati dalam menerima suatu pendapat, sebagaimana ungkapan beliau ” Inilah ijtihadku, apabila kalian menemukan ijtihad lain yang lebih baik dari ijtihadku maka ikutilah ijtihad tersebut “. Di antara karya karya Imam Syafi’i yaitu Al RisalahAl Umm yang mencakup isi beberapa kitabnya, selain itu juga buku Al Musnad berisi tentang hadits-hadits Rasulullahyang dihimpun dalam kitab Al Umm serta Ikhtilaf Al Hadits.

Di antara kitab-kitab asli beliau yang bisa di download adalah.

Download Kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab

Nasab (silsilah beliau)

Beliau adalah As Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Bin Sulaiman Bin ‘Ali Bin Muhammad Bin Ahmad Bin Rasyid At Tamimi. Beliau dilahirkan pada tahun 1115 H -bertepatan dengan 1703 M- di negeri ‘Uyainah daerah yang terletak di utara kota Riyadh, dimana keluarganya tinggal.

Beliau tumbuh di rumah ilmu di bawah asuhan ayahanda beliau Abdul Wahhab yang menjabat sebagai hakim di masa pemerintahan Abdullah Bin Muhammad Bin Hamd Bin Ma’mar. Kakek beliau, yakni Asy Syaikh Sulaiman adalah tokoh mufti yang menjadi referensi para ulama. Sementara seluruh paman-paman beliau sendiri juga ulama.

Beliau dididik ayah dan paman-pamannya semenjak kecil. Beliau telah menghafalkan Al Qur’an sebelum mencapai usia 10 tahun di hadapan ayahnya. Beliau juga memperdengarkan bacaan kitab-kitab tafsir dan hadits, sehingga beliau unggul di bidang keilmuan dalam usia yang masih sangat dini. Disamping itu, beliau sangat fasih lisannya dan cepat dalam menulis. Ayahnya dan para ulama disekitarnya amat kagum dengan kecerdasan dan keunggulannya. Mereka biasa berdiskusi dengan beliau dalam permasalahan-permasalah ilmiyah, sehingga mereka dapat mengambil manfaat dari diskusi tersebut. Mereka mengakui keutamaan dan kelebihan yang ada pada diri beliau. Namun beliau tidaklah merasa cikup dengan kadar ilmu yang sedemikian ini, sekalipun pada diri beliau telah terkumpul sekian kebaikan. Beliau justru tidak pernah merasa puas terhadap ilmu.

Rihlah Beliau dalam Menuntut Ilmu

Beliau tinggalkan keluarga dan negerinya untuk berhaji. Seusai haji, beliau melanjutkan perjalanan ke Madinah dan menimba ilmu dari para ulama’ di negeri itu. Di antara guru beliau di Madinah adalah:

* As Syaikh Abdullah Bin Ibrahim Bin Saif dari Alu (keluarga) Saif An Najdi. Beliau adalah imam bidang fiqih dan ushul fiqih.
* As Syaikh Ibrahim Bin Abdillah putra Asy Syaikh Abdullah bin Ibrahim Bin Saif, penulis kitab Al Adzbul Faidh Syarh Alfiyyah Al Faraidh.
* Asy Syaikh Muhaddits Muhammad Bin Hayah Al Sindi dan beliau mendapatkan ijazah dalam periwayatannya dari kitab-kitab hadits.

Kemudian beliau kembali ke negerinya. Tidak cukup ini saja, beliau kemudian melanjutkan perjalanan ke negeri Al Ahsa’ di sebelah timur Najd. Disana banyak ulama mahdzab Hambali, Syafi’i, Maliki dan Hanafi. Beliau belajar pada mereka khususnya kepada para ulama mahdzab Hambali. Di antaranya adalah Muhammad bin Fairuz , beliau belajar fiqih kepada mereka dan juga belajar kepada Abdullah Bin Abdul Lathif Al Ahsa’i.

Tidak cukup sampai disitu, Bahkan beliau menuju ke Iraq, khususnya Bashrah yang pada waktu itu dihuni oleh para ulama ahlul hadits dan ahlul fiqih. Beliau menimba ilmu dari mereka, khususnya Asy Syaikh Muhammad Al Majmu’i, dan selainnya. Setiap kali pindah maka beliau mendapatkan buku-buku Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim muridnya, beliau segera menyalinnya dengan pena. Beliau menyalin banyak buku di Al Ahsa’ dan Bashrah, sehingga terkumpullah kitab-kitab beliau dalam jumlah yang besar.

Selanjutnya beliau bertekad menuju negeri Syam, karena di sana ketika itu terdapat ahlul ilmi dan ahlul hadits khususnya dari mahdzab Hambali. Namun setelah menempuh perjalanan ke sana, terasa oleh beliau perjalanan yang sangat berat. Beliau ditimpa lapar dan kehausan, bahkan hampir beliau meninggal dunia di perjalanan. Maka beliaupun kembali ke Bashrah dan tidak melanjutkan rihlahnya ke negeri Syam.

Selanjutnya beliau bertolak ke Najd setelah berbekal ilmu dan memperoleh sejumlah besar kitab, selain kitab-kitab yang ada pada keluarga dan penduduk negeri beliau. Setelah itu beliau pun berdakwah mengadakan perbaikan dan menyebarkan ilmu yag bermanfaat serta tidak ridha dengan berdiam diri membiarkan manusia dalam kesesatan.

Dakwah Beliau

Kondisi keilmuan dan keagamaan manusia waktu itu benar-benar dalam keterpurukan yang nyata, hanyut dalam kegelapan syirik dan bid’ah. Sehingga khurafat, peribadatan kepada kuburan mayat dan pepohonan merajalela. Sedangkan para ulamanya sama sekali tidak mempunyai perhatian terhadap aqidah salaf dan hanya mementingkan masalah-masalah fiqih. Bahkan diantara mereka justru memberikan dukungan kepada pelaku kesesatan-kesesatan tersebut.

Adapun dari segi politik, mereka tepecah belah, tidak memiliki pemerintahan yang menyatukan mereka. Bahkan setiap kampung mempunyai amir (penguasa) sendiri. ‘Uyainah mempunyai penguasa sendiri, begitu pula Dir’iyyah, Riyadh, dan daerah-daerah lainnya. Sehingga pertempuran, perampokan, pembunuhan dan berbagai tindak kejahatan pun terjadi diantara mereka.

Melihat kondisi yang demikian mengenaskan bangkitlah ghirah (kecemburuan) beliau terhadap agama Allah Subahnahu Wata’ala juga rasa kasih sayang beliau terhadap kaum muslimin. Mulailah beliau berdakwah menyeru manusia ke jalan ALlah Subhanahu Wata’ala, mengajarkan tauhid, membasmi syirik, khurafat dan bid’ah-bid’ah serta menanamkan manhaj Salafush Shalih. Sehingga berkerumunlah murid-murid beliau baik dari Dir’iyyah maupun ‘Uyainah.

Selanjutnya beliau mendakwahi amir ‘Uyainah. Pada awalnya sang amir menyambit baik dakwah tauhid ini dan membelanya. Sampai-sampai ia menghancurkan kubah Zaid Bin Al-Khattab yang menjadi tempat kesyirikan atas permintaan Asy Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab. Namun karena adanya tekanan dari amir Al Ahsa’ akhirnya amir ‘Uyainah pun menghendaki agar Asy Syaikh keluar dari ‘Uyainah. Maka berangkatlah beliau menuju ke Dir’iyyah tanpa membawa sesuatupun kecuali sebuah kipas tangan guna melindungi wajahnya. Beliau terus berjalan di tengah hari seraya membaca (Qur’an surat Ath Thalaq:2-3 yang artinya -red):

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah pasti Allah memberinya jalan keluar dan rizki dari arah yang tiada disangka-sangka”(Ath Thalaq:2-3)

Beliau terus mengulang-ulang ayat tersebut sampai tiba di tempat murid terbaiknya yang bernama Ibnu Suwailim yang ketika itu merasa takut dan gelisah, mengkhawatirkan keselamatan dirinya dan juga syaikhnya karena penduduk negeri itu telah saling memperingatkan untuk berhati-hati dengan syaikh. Maka beliau (Syaikh -red) pun menenangkannya dengan mengatakan, “Jangan berpikir yang bukan-bukan, selamanya. Bertawakallah kepada Allah Subahahu Wata’ala. Niscaya Dia akan menolong orang-orang yang membela agamanya.”

Berita kedatangan Asy Syaikh diketahui seorang shalihah, istri amir Dir’iyyah, Muhammad Bin Su’ud. Dia lalu menawarkan kepada suaminya agar membela syaikh ini karena beliau adalah nikmat dari Allah Subahahu Wata’ala yang dikaruniakan kepadanya, maka hendaklah dia bersegera menyambutnya. Sang istri berusaha menenangkan dan membangkitkan rasa cinta pada diri suaminya terhadap dakwah dan terhadap seorang ulama. Maka sang amir mengatakan, “(Tunggu) beliau datang kepadaku”. Istrinya menimpali “Justru pergilah anda kepadanya, karena jika anda mengirim utusan dan mengatakan ‘datanglah kepadaku’, bisa jadi manusia akan mengatakan bahwa amir meminta beliau untuk datang ditangkap. Namun jika anda sendiri yang mendatanginya, maka itu merupakan suatu kehormatan bagi beliau dan bagi anda.”

Sang amir akhirnya mendatangi Asy Syaikh, mengucapkan salam dan menanyakan perihal kedatangannya. Asy Syaikh Rahimahullah menerangkan bahwa tidak lain beliau hanya mengemban dakwah para Rasul yakni menyeru kepada kalimat tauhid LAA ILAHA ILLALLAH. Beliau menjelaskan maknanya, dan beliau jelaskan pula bahwa itulah aqidah para Rasul. Sang amir mengatakan, “Bergembiralah dengan pembelaan dan dukungan”. Asy Syaikh rahimahullah menimpali, “Berbahagialah dengan kemuliaan dan kekokohan. Karena barang siapa menegakkan kalimat LAA ILAHA ILLALLAH ini, pasti Allah akan memberikan kekokohan kepadanya.” Sang amir menjawab, “Tapi saya punya satu syarat kepada anda.” Beliau bertanya, “Apa itu?” Sang amir menjawab, “Anda membiarkanku dan apa yang aku ambil dari manusia.” Jawab Asy Syaikh rahimahullah, “Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wata’ala memberikan kecukupan kepada anda dari semua ini, dan membukakan pintu-pintu rizki dari sisi-Nya untuk anda.” Kemudian keduanya berpisah atas kesepakatan ini. Mulailah Asy Syaikh berdakwah dan sang amir melindungi dan membelanya, sehingga para Thalabul Ilmi (penuntut ilmu) berduyun-duyun datang ke Dir’iyyah. Semenjak itu beliau menjadi imam sholat, mufti dan juga qadhi. Maka terbentuklah pemerintahan tauhid di Dir’iyyah.

Kemudian Asy Syaikh mengirim risalah ke negeri-negeri sekitarnya, menyeru mereka kepada aqidah tauhid, meninggalkan bid’ah dan khurafat. Sebagian mereka menerima dan sebagian lagi menolak serta menghalangi dakwah beliau, sehingga merekapun diperangi oleh tentara tauhid dibawah komando amir Muhammad Bin Su’ud dengan bimbingan dari beliau rahimahullah. Hal itu menjadi sebab meluasnya dakwah tauhid di daerah Najd dan sekitarnya. Bahkan amir ‘Uyainah pun kini masuk di bawah kekuasaan Ibnu Su’ud, begitu pula Riyadh, dan terus meluas ke daerah Kharaj, ke utara dan selatan. Di bagian utara sampai ke perbatasan Syam, di bagian selatan sampai di perbatasan Yaman, dan di bagian timur dari Laut Merah hingga Teluk Arab. Seluruhnya dibawah kekuasaan Dir’iyyah, baik daerah kota maupun gurunnya.

Allah Subhanahu Wata’ala melimpahkan kebaikan, rizki, kecukupan, dan kekayaan kepada penduduk Dir’iyyah. Maka berdirilan pusat perdagangan di sana, dan bersinarah negeri tersebut dengan ilmu dan kekuasaan sebagai berkah dari dakwah salafiyah yang merupakan dakwah para Rasul.


Wafat Beliau

Beliau wafat pada tahun 1206 H. Semoga Allah Subhanahu Wata’la melimpahkan rahmatnya kepada beliau, meninggikan derajat dan kedudukannya di Jannah-Nya yang luas serta mengumpulkan beliau bersama orang-orang shalih dan para syuhada’. Amin Ya Robbal ‘Alamin.

Disarikan dari Syarh Ushul Tsalatsah
Asy Syaikh Muhammad Bin Salih Al Utsaimin, hal 5
dan Syarh Kasyfusy Syubhat
Asy Syaikh Shalih Bin Fauzan Bin Abdullah Al Fauzan, hal 3-12

Karya-Karyanya, di antaranya:

Adapun kitab-kitab terjemahan beliau yang telah kami uploadadalah.

Karakteristik Ghuraba

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : بدأ الإسلام غريبا وسيعود كما بدأ فطوبى للغرباء – رواه مسلم

Dari Abu Hurayrah radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Islam dimulai dalam kondisi asing, dan akan kembali sebagaimana ia dimulai (sebagai sesuatu yang) asing; maka berbahagialah bagi kaum ghuraba` (orang-orang yang asing tersebut)”. [H.R.Muslim]

Terasing

KAJIAN BAHASA

  1. Lafazh ghariiban ; yang merupakan derivasi (kata turunan) dari lafazh al-Ghurbah memiliki dua makna: pertama, makna yang bersifat fisik seperti seseorang hidup di negeri orang lain (bukan negeri sendiri) sebagai orang asing. Kedua, bersifat maknawi -makna inilah yang dimaksud disini- yaitu bahwa seseorang dalam keistiqamahannya, ibadahnya, berpegang teguh dengan agama dan menghindari fitnah-fitnah yang timbul adalah merupakan orang yang asing di tengah kaum yang tidak memiliki prinsip seperti demikian. Keterasingan ini bersifat relatif sebab terkadang seseorang merasa asing di suatu tempat namun tidak di tempat lainnya, atau pada masa tertentu merasa asing namun pada masa lainnya tidak demikian.
  2. Makna kalimat bada-al Islamu ghariibaa [Islam dimulai dalam kondisi asing]” : ia dimulai dengan (terhimpunnya) orang per-orang (yang masuk Islam), kemudian menyebar dan menampakkan diri, kemudian akan mengalami surut dan berbagai ketidakberesan hingga tidak tersisa lagi selain orang per-orang (yang berpegang teguh kepadanya) sebagaimana kondisi ia dimulai.
  3. Makna kalimat ” fa thuuba lil ghurabaa’ [maka berbahagialah bagi kaum ghuraba’ (orang-orang yang asing tersebut) ] ” : Para ulama berbeda pendapat mengenai makna lafazh thuuba . Terdapat beberapa makna, diantaranya: fariha wa qurratu ‘ain (berbahagia dan terasa sejuklah di pandang mata); ni’ma maa lahum (alangkah baiknya apa yang mereka dapatkan); ghibthatan lahum (kesukariaanlah bagi mereka); khairun lahum wa karaamah (kebaikan serta kemuliaanlah bagi mereka); al-Jannah (surga); syajaratun fil jannah (sebuah pohon di surga). Semua pendapat ini dimungkinkan maknanya dalam pengertian hadits diatas.

Ghuraba

INTISARI DAN HUKUM-HUKUM TERKAIT

  1. Hadits tersebut menunjukkan betapa besar keutamaan para Shahabat radhiyallaahu ‘anhum yang telah masuk Islam pada permulaan diutusnya Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam karena karakteristik tentang ghuraba’ tersebut sangat pas buat mereka. Keterasingan (ghurbah) yang mereka alami adalah bersifat maknawi dimana kondisi mereka menyelisihi kondisi yang sudah berlaku di tengah kaum mereka yang telah terwabahi oleh kesyirikan dan kesesatan.
  2. Berpegang teguh kepada Dienullah, beristiqamah dalam menjalankannya serta mengambil suri teladan Nabi kita, Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam adalah merupakan sifat seorang Mukmin yang haq yang mengharapkan pahala sebagaimana yang diraih oleh kaum ghuraba’ tersebut meskipun (dalam menggapai hal tersebut) kebanyakan orang yang menentangnya. Yang menjadi tolok ukur adalah berpegang teguh kepada al-Haq, bukan kondisi yang berlaku dan dilakukan oleh kebanyakan orang. Allah Ta’ala berfirman: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya…” (Q.S. 6:116).
  3. Besarnya pahala yang akan diraih oleh kaum ghuraba’ serta tingginya kedudukan mereka. Yang dimaksud adalah kaum ghuraba’ terhadap agamanya alias mereka menjadi asing lantaran berpegang teguh kepada al-Haq dan beristiqamah terhadapnya, bukan mereka yang jauh dari negeri asalnya dan menjadi asing disana.

Dalam beberapa riwayat, dinyatakan bahwa makna al-Ghuraba’ adalah orang yang baik/lurus manakala kondisi manusia sudah rusak. Juga terdapat makna; mereka adalah orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia. Ini menunjukkan bahwa kelurusan jiwa semata tidak cukup akan tetapi harus ada upaya yang dilakukan secara bijak, lemah lembut dan penuh kasih sayang dalam memperbaiki kondisi manusia yang sudah rusak agar label ghuraba’ yang dipuji dalam hadits diatas dapat ditempelkan kepada seorang Mu`min.
Wallahu a’lam

Ilmu dan ‘Ulama`

العلم نور

Secara umum, dari sudut pandang bahasa, ilmu adalah lawan dari “jahl” (kebodohan). Dalam pengertian lain yaitu mengetahui sesuatu yang pasti pada kenyataannya dengan pengetahuan yang pasti.[1]

Ilmu yang kami maksudkan di sini adalah ilmu syar’i, sedangkan yang dimaksud dengan ilmu syar’i adalah:

العِلمُ المُنَزَّلُ مِن السَّمَاءِ إلى الْأَرْضِ، الْعِلمُ الْمُوحَى مِن اللهِ تَعَالى إلى نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم مِن الْكِتَابِ وَ السُّنَّةِ

Ilmu yang diturunkan dari langit ke bumi, yakni ilmu yang diwahyukan Allahu ta’aala kepada Nabi-Nya berupa al Quran dan as Sunnah.”[2]

Syaikh Muhammad ibn Shalih al ‘Utsaymin menjabarkan sebagai berikut, “Yang dimaksud dengan ilmu syar’i adalah segala sesuatu yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, maka ilmu yang mendapat pujian di sini adalah ilmu tentang wahyu, ilmu tentang perkara yang diturunkan oleh Allah saja.”[3]

Firman Allah dalam al Quran,

وَلَوْلاَ فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهُ لَهَمَّتْ طَّآئِفَةٌ مِّنْهُمْ أَن يُضِلُّوكَ وَمَا يُضِلُّونَ إِلاَّ أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَضُرُّونَكَ مِن شَيْءٍ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيْكَ ٱلْكِتَابَ وَٱلْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ وَكَانَ فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيماً ﴿١١٣﴾ 

Dan Allah telah menurunkan al Kitab dan al Hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.” (QS. An Nisaa’ : 113)

Rasulullah bersabda,

مَن يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah menjadikannya faqih dalam diin.” (HR. Bukhari)

Maka dari itu, kewajiban menuntut ilmu, baik dalam al Quran dan as Sunnah pada hakikatnya adalah kewajiban untuk mempelajari diin al Islam. Adapun ilmu-ilmu selain ilmu syar’i, maka kedudukannya  berada di bawah ilmu syar’i yang hukum mempelajarinya bisa menjadi fardhu ‘ain, fardhu kifayah, mubah, atau bahkan haram, sesuai dengan kondisi penuntut ilmunya. Sedangkan hukum menuntut ilmu syar’i, tiada keraguan lagi,  adalah fardhu ‘ain. Maka, barangsiapa yang meninggalkannya berarti ia telah bermaksiat kepada Allah.[4]

Adapun Ahl al ‘Ilm (baca: ahlul ilm) yang Allah dan Rasul-Nya telah menjelaskan keutamaan, ketinggian derajat, dan besarnya pahala mereka adalah para pengusung ilmu yang mulia ini. Mereka yang telah terikat dengan kecintaan yang mendalam untuk menuntut ilmu syar’i, mengamalkannya, serta menda’wahkannya. Allah berfirman,

يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لاَ تَفْعَلُونَ ﴿٢﴾ كَبُرَ مَقْتاً عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لاَ تَفْعَلُونَ ﴿٣﴾

Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS. Ash Shaff : 2-3)

Syaikh Al Islam Ibn Taymiyyah berkata tentang ahl al ‘ilm,

وهؤُلاءَ هُمُ الذِيْنِ جَمِعُوا بَيْنَ الْبَصِيْرَةٌ فِي الدِّيْنِ وَالْقُوَّةٌ عَلى الدَّعْوَة، وَلِذَلِكَ كَانُوا وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءَ الَّذِيْنَ قَالَ اللهُ فِيْهِمْ: (وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَإِسْحـــقَ وَيَعْقُوْبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ) فَالْأَيْدِي الْقُوَّة فِي أَمْرِ الله، وَالْأَبْصَار الْبَصَائِرُ فِى دِيْنِ الله، فَبِالْبَصَائِرُ يدرك الْحَقّ وَيعرف، وَبِالْقُوَّة يتمكن مِن تَبْلِيْغِهِ وَتَنْفِيْذِهِ وَالدَّعْوَةِ إِلَيْهِ.

“Mereka adalah orang-orang yang menghimpun di dalam diri mereka “al Bashiirah fii ad Diin” (bashirah dalam diin) dan “al Quwwah ‘alaa ad Da’wah” (kekuatan untuk berda’wah). Maka, mereka adalah para pewaris Nabi, yang Allah telah mengatakan tentang diri mereka,

Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang memiliki kekuatan dan kecerdasan.” (QS. Shaad, 38: 45)

Kata “kekuatan” dalam ayat tersebut maknanya adalah kekuatan dalam menjalankan perintah Allah, sedangkan kata “kecerdasan” maknanya adalah kecerdasan dalam memahami diin Allah. Jadi, dengan kecerdasan itu seseorang bisa memahami yang haqq dan mengetahuinya, dan dengan kekuatan ia mampu menyampaikannya, melaksanakannya, dan menda’wahkannya.”[5]

'Ulama` Abad Pertengahan (Ilustrasi)

Imam Asy Syathibi berkata,

الْعِلْمُ الَّذِى هُوَ الْعِلْمُ الْمُعْتَبَرُ شَرَعًا ــ أَعنى الَّذِى مدح اللهُ وَرَسُوْلَهُ أَهْله عَلى الْإِطْلَاق ـ هُوَ الْعِلْمُ الْبَاعث عَلى الْعَمَل، الَّذِى لَايُخَلّى صَاحِبُهُ جَاريا مَعَ هَوَاه كَيْفَمَا كَانَ، بَلْ هُوَ الْمُقَيِّد لِصَاحِبه بِمَقتضاه، الْحَامِلُ لَهُ عَلي قَوَانِيِّنَهُ طَوْعًا أَوْ كَرْهًا

“Ilmu yang dikatakan ilmu mu’tabar menurut pandangan syar’i, maksud saya adalah yang Allah dan Rasul-Nya memuji ahlinya secara mutlak, ialah ilmu yang mendorong seseorang beramal, yang tidak membiarkan pemiliknya berjalan menurut kemauan hawa nafsunya, tapi ia mengikat pemiliknya dengan apa yang menjadi tuntutannya, membawa ia untuk taat atau benci atas hukum-hukumnya.”[6]

Pernyataan di atas menegaskan bahwa yang dimaksud ahl al ‘ilm adalah mereka yang benar-benar mengamalkan ilmunya. Allah berfirman dalam al Quran,

إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَاءُ ﴿٢٨﴾ 

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, adalah ‘ulama.” (QS. Faathir, 35: 28)

Ayat di atas menerangkan bahwa yang dimaksud ‘ulama (ahl al ‘ilm) adalah orang-orang yang memiliki rasa takut (khasy-yah) kepada Allahu ta’ala, dan tidaklah rasa takut ini akan melahirkan sesuatu kecuali ketaatan, yakni kecintaan seorang hamba untuk senantiasa mengamalkan ilmu yang dimilikinya dan selalu konsisten untuk beramal di atas ilmu.

-Al Fadhli-


[1] Syaikh Muhammad ibn Shalih al ‘Utsaymin, Kitab Al Ilmi

[2] Syaikh Abd al Qadir Abd al Aziz, Al Jami’ Fii Thalab al Ilmi asy Syariif

[3] Kitab Al Ilmi

[4] Adapun rinciannya akan dijelaskan kemudian,insya Allah

[5] Manjmu’ Fattawa Juz IV hal 92-93

[6] Al Muwaafiqaat Juz I hal 69