Kewajiban Menuntut Ilmu

KEWAJIBAN BELAJAR

image

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة
Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “Menuntut ilmu wajib bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan”.

اعلم, بأنه لايفترض على كل مسلم، طلب كل علم وإنما يفترض عليه طلب علم الحال كما قال: وأفضل العلم علم الحال، وأفضل العمل حفظ الحال
Perlu diketahui bahwa, kewajiban menuntut ilmu bagi muslim laki-laki dan perempuan ini tidak untuk sembarang ilmu, tapi terbatas pada ilmu agama, dan ilmu yang menerangkan cara bertingkah laku atau bermuamalah dengan sesama manusia. Sehingga ada yang berkata,“Ilmu yang paling utama ialah ilmu Hal. Dan perbuatan yang paling mulia adalah menjaga perilaku.” Yang dimaksud ilmu hal ialah ilmu agama islam, shalat misalnya.

ويفترض على المسلم طلب ما يقع له فى حاله، فى أى حال كان، فإنه لابد له من الصلاة فيفترض عليه علم ما يقع له فى صلاته بقدر ما يؤدى به فرض الصلاة،
Oleh karena setiap orang islam wajib mengerjakan shalat, maka mereka wajib mengetahui rukun-rukun dan sarat-sarat sahnya shalat, supaya dapat melaksanakan shalat dengan sempurna.

ويجب عليه بقدر ما يؤدى به الواجب، لأن ما يتوسل به إلى إقامة الفرض يكون فرضا، وما يتوسل به إلى إقامة الواجب يكون واجبا وكذا فى الصوم، والزكاة، إن كان له مال، والحج إن وجب عليه. وكذا فى البيوع إن كان يتجر.
Setiap orang islam wajib mempelajari/mengetahui rukun maupun shalat amalan ibadah yang akan dikerjakannya untuk memenuhi kewajiban tersebut. Karena sesuatu yang menjadi perantara untuk melakukan kewajiban, maka mempelajari wasilah/perantara tersebut hukumnya wajib. Ilmu agama adalah sebagian wasilah untuk mengerjakan kewajiban agama. Maka, mempelajari ilmu agama hukumnya wajib. Misalnya ilmu tentang puasa, zakat bila berharta, haji jika sudah mampu, dan ilmu tentang jual beli jika berdagang.

قيل لمحمد بن الحسن، رحمة الله عليه: لما لاتصنف كتابا فى الزهد؟ قال: قد صنفت كتابا فى البيوع، يعنى: الزاهد من يحترز عن الشبهات والمكروهات فى التجارات.
Muhammad bin Al-Hasan pernah ditanya mengapa beliau tidak menyusun kitab tentang zuhud, beliau menjawab, “aku telah mengarang sebuah kitab tentang jual beli.” Maksud beliau adalah yang dikatakan zuhud ialah menjaga diri dari hal-hal yang subhat (tidak jelas halal haramnya) dalam berdagang.

وكذلك فى سائر المعاملات والحرف، وكل من اشتغل بشيئ منها يفترض عليه علم التحرز عن الحرام فيه. وكذلك يفترض عليه علم أحوال القلب من التوكل والإنابة والخشية والرضى، فإنه واقع فى جميع الأحوال.
Setiap orang yang berkecimpung di dunia perdagangan, wajib mengetahui cara berdagang dalam islam supaya dapat menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan. Setiap orang juga harus mengetahui ilmu-ilmu yang berkaitan dengan batin atau hati, misalnya tawakal, tobat, takut kepada Allah, dan ridha. Sebab, semua itu terjadi pada segala keadaan.

📝 Dinukil dari Kitab Ta’lim Muta’alim

🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸

📌Channel Telegram: http://www.bit.ly/bekalakhirat
📌 Blog: http://www.bekalakhirat.wordpress.com
📌 FAQ WA/ Telegram Only: 082319017000

Advertisements

Keutamaan Ilmu Akhirat atas Ilmu Dunia

🕋 KEUTAMAAN ILMU AKHIRAT ATAS ILMU DUNIA 🕋

Disusun oleh: Abu Ezra Al-Fadhli

#ilmu #hadits

✅Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan dishahihkan Ibnu Hibban:

عن أبي هريرة ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم :  إن الله يبغض كل جعظري جواظ سخاب بالأسواق ، جيفة بالليل ، حمار بالنهار ، عالم بأمر الدنيا ، جاهل بأمر الآخرة

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu , Rasuulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda : ” Allah membenci setiap orang yang kasar/ sombong, banyak makan, suka berteriak-teriak di pasar, tertidur pulas sepanjang malam seperti bangkai dan di siang hari seperti keledai, ‘alim (pandai) dalam urusan dunia tetapi jahil (bodoh) dalam urusan akhirat. ”

📌Di antara beberapa faidah yang bisa dipetik hikmahnya dari riwayat di atas adalah:

1⃣ Menjauhi sifat-sifat buruk yang disebutkan dalam hadits tersebut, yakni:

✅ kasar/ sombong, karena sesungguhnya tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji dzarrah kesombongan. Sedangkan makna kesombongan adalah: merendahkan manusia dan menolak kebenaran.
✅ banyak (berlebihan) makan dan minum, karena berlebihan dalam makna dan minum adalah perbuatan setan. Adapun ciri khas orang-orang beriman adalah mereka makan hanya pada saat lapar dan berhenti sebelum kenyang.
✅ suka bertertiak di pasar. Karena karakter orang-orang beriman adalah senantiasa mengeluarkan kata-kata yang baik lagi lemah lembut, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasuulullaahi shallallaahu ‘alayhi wa sallam.
✅ tertidur pulas sepanjang malam seperti bangkai, yakni membiarkan malamnya berlalu begitu saja, tanpa dzikir, wudhu, dan shalat. Orang yang membiarkan malamnya berlalu begitu saja tanpa ada upaya menghidupkannya dengan ibadah diibaratkan dengan bangkai.
✅ seperti keledai di siang hari. Yakni sibuk dalam urusan dunia, namun melupakan urusan akhirat. Orang-orang yang hanya menyibukkan hari-hari mereka untuk dunia dan kepentingan syahawat semata tak ubahnya dengan binatang, karena tidak pernah berpikir tentang kehidupan yang abadi di akhirat.
✅ alim dalam urusan dunia tapi jahil dalam urusan akhirat. Saat ditanya tentang permasalahan duniawi, maka ia bisa membicarakan, menjelaskan, dan mempraktikannya, namun saat berhubungan dengan permasalahan akhirat dan ibadah, maka ia diam membisu dan tidak memahaminya.

2⃣ Keutamaan ilmu akhirat atas ilmu dunia. Dalam sabdanya, Rasuulullaahi shallallaahu ‘alayhi wa sallam menegaskan bahwa orang-orang yang lebih menekuni ilmu dunia namun jahil atas ilmu akhirat, maka ancamannya adalah kemurkaan Allaah Azza wa Jalla. Dalil-dalil lain yang mendukung hal ini banyak sekali di antaranya adalah:

✅ Sabda Rasuulullaahi shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

طلب العلم فريضة على كل مسلم

Menuntut al-ilmu itu fardhu atas setiap muslim (HR. Ath Thabrani dan Ibnu Majah)

✅ Al-Haafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata tentang ilmu yang wajib dalam riwayat di atas:

والمراد بالعلم: العلم الشرعي الذي يُفيد معرفة مايجب على المكلَّف من أمر دينه في عباداته ومعاملاته، والعلم بالله وصفاته ومايجب من القيام بأمره وتنزيهه عن النقائص. ومدار ذلك على التفسير والحديث والفقه

Dan yang dimaksud dengan al ‘ilmu adalah ilmu syar’i yang bermanfaat untuk mengetahui apa-apa yang diwajibkan atas mukallaf dari urusan diin-nya; dalam ibadah-ibadahnya atau muamalah-muamalahnya. Serta ilmu tentang Allah dan sifat-sifat-Nya; apa kewajiban kita terhadap-Nya dan cara mensucikan-Nya dari berbagai macam kekurangan. Dan semua itu beredar pada tafsir, hadits, dan fiqih. [Fathul Baari, Juz I, hal. 141]

✅ Al-Imam An-Nawawi berkata tentang ilmu yang fardhu ‘ain:

فرض العين ــ أي من العلم الشرعي ــ وهو تعلّم المكلّف مالا يتأدي الواجب الذي تعيَّن عليه فعله إلا به

Hukumnya fardhu ‘ain -yakni ilmu syar’i- yakni kewajiban seorang mukallaf (muslim baaligh-‘aaqil) untuk menuntut semua ilmu yang tidak akan terlaksana kewajiban-kewajiban agama kecuali dengan memahami ilmu ini [Al-Majmu’ I/24]

✅ Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah mensifati ilmu yang fardhu ain:

طلبُ كل واحدٍ عِلم ماأمره الله به وما نهاه عنه، فإن هذا فرض على الأعيان
Yakni wajib bagi setiap individu untuk menuntut ilmu tentang apa-apa yang Allaah perintahkan atasnya dan tentang apa-apa yang Allaah larang darinya. Maka semua ini hukumnya fardhu ‘ain. [Majmu’ Fatawa 28/80]

✅ Semua penjelasan di atas menegaskan kepada kita bahwasanya ilmu akhirat jauh lebih utama dibandingkan ilmu duniawi karena hukumnya fardhu ‘ain, dan sebagian (rinciannya) fardhu kifayah. Adapun ilmu duniawi, maka tidak ada yang diwajibkan kepada semua manusia, kecuali fardhu ‘ain khusus kepada sebagian manusia, fardhu kifayah pada sebagiannya, dan sunnah pada sebagian yang lain, yang akan dirinci pada pembahasan selanjutnya, in Syaa Allaah.

#ilmu #hadits #riwayat #atsar

〰〰〰〰〰〰〰

Channel Telegram @bekalakhirat
telegram.me/bekalakhirat
bekalakhirat.wordpress.com
FB: /bekalakhiratchannel
CP +6282319017000

〰〰〰〰〰〰〰

Kemuliaan Menuntut Ilmu

Diambil dari kitab Tanbihul Ghafiliin karangan Abul Laits As Samarqandi :

تنبيه الغافلين  أبو الليث السمرقندي.
يُقَالُ مَنِ انْتَهَى إِلَى الْعَالِمِ، وَجَلَسَ مَعَهُ، وَلَا يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يَحْفَظَ الْعِلْمَ، فَلَهُ سَبْعُ كَرَامَاتٍ

Dikatakan bahwa seseorang yang telah sampai kepada orang yang alim dan duduk bersamanya tetapi dia tidak mampu menghafalakan ilmu, maka orang tersebut mendapatkan tujuh kemuliaan :

أَوَّلُهَا: يَنَالُ فَضْلَ الْمُتَعَلِّمِينَ.

1. mendapatkan keutamaan orang-orang yang belajar.

وَالثَّانِي: مَا دَامَ جَالِسًا عِنْدَهُ كَانَ مَحْبُوسًا عَنِ الذُّنُوبِ وَالْخَطَأِ.

2. selama masih duduk bersama orang alim maka dia tercegah dari melakukan dosa dan kesalahan.

وَالثَّالِثُ: إِذَا خَرَجَ مِنْ مَنْزِلِهِ تَنْزِلُ عَلَيْهِ الرَّحْمَةُ

3. ketika keluar dari rumahnya maka rahmat turun kepadanya.

وَالرَّابِعُ: إِذَا جَلَسَ عِنْدَهُ، فَتَنْزِلُ عَلَيْهِمُ الرَّحْمَةُ، فَتُصِيبُهُ بِبَرَكَتِهِمْ.

4. ketika dia duduk disamping orang alim kemudian rahmat turun kepada mereka maka dia pun mendapatkan rahmat sebab berkah mereka.

وَالْخَامِسُ: مَا دَامَ مُسْتَمِعًا تُكْتَبُ لَهُ الْحَسَنَةُ.

5. selama masih mendengarkan maka ditulis kebaikan baginya.

وَالسَّادِسُ: تَحُفُّ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا رِضًا وَهُوَ فِيهِمْ.

6. mereka dikepung malaikat dengan sayap-sayapnya dan orang tersebut juga bersama mereka.

وَالسَّابِعُ: كُلُّ قَدَمٍ يَرْفَعُهُ، وَيَضَعُهُ يَكُونُ كَفَّارَةً لِلذُّنُوبِ، وَرَفْعًا لِلدَّرَجَاتِ لَهُ، وَزِيَادَةً فِي الْحَسَنَاتِ

7. setiap langkah kakinya yang diangkat dan diletakkan maka menjadi penghapus bagi dosa-dosa, pengangkat derajat dan tambahan kebaikan baginya.

ثُمَّ يُكْرِمُهُ اللَّهُ تَعَالَى بِسِتِّ كَرَامَاتٍ أُخْرَى:  أَوَّلُهَا: يُكْرِمُهُ بِحُبِّ شُهُودِ مَجْلِسِ الْعُلَمَاءِ

Kemudian Allah memuliakannya lagi dengan enam kemuliaan yang lainnya:

1. Allah memuliakannya dengan cintanya melihat majlisnya ulama’

الثَّانِي: كُلُّ مَنْ يَقْتَدِي بِهِمْ، فَلَهُ مِثْلُ أُجُورِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ.

2. setiap orang yg mengikuti mereka (ulama’) maka baginya pahala sebagaimana pahala mereka tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka.

وَالثَّالِثُ لَوْ غَفَرَ لِوَاحِدٍ مِنْهُمْ يَشْفَعُ لَهُ.

3. jika salah seorang diantara mereka diampuni maka bisa memberikan syafaat kepadanya.

وَالرَّابِعُ: يُبَرِّدُ قَلْبَهُ مِنْ مَجْلِسِ الْفُسَّاقِ.

4. hatinya menjadi dingin dari majlisnya orang-orang fasik.

وَالْخَامِسُ: يَدْخُلُ فِي طَرِيقِ الْمُتَعَلِّمِينَ وَالصَّالِحِينَ.

5. masuk kedalam jalannya para pelajar dan orang-orang sholih.

وَالسَّادِسُ: يُقِيمُ أَمْرَ اللَّهِ تَعَالَى

6. menegakkan perintah Allah ta’ala.

هَذَا لِمَنْ لَمْ يَحْفَظْ شَيْئًا، وَأَمَّا الَّذِي يَحْفَظُ فَلَهُ أَضْعَافٌ مُضَاعَفَةٌ

” Ini semua adalah bagi orang yang tidak menghafal ilmu sedikitpun, adapun bagi orang yang menghafal ilmu maka baginya kemuliaan yang berlipat ganda”.

#hikmah #ilmu #nasihat #ulama

〰〰〰〰〰〰〰

Telegram Channel @bekalakhirat
telegram.me/bekalakhirat
bekalakhirat.wordpress.com
CP +6282319017000

〰〰〰〰〰〰〰

Ikhtilaf ‘Ulama : Sebab dan Sikap Kita Terhadapnya

Segala puji bagi Allah ta’ala yang telah memberikan kepada kita nikmat iman dan islam serta kesehatan, karunia yang tiada taranya yang telah diberikan-Nya kepada kita sebagai hamba-Nya. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada manusia terbaik sepanjang zaman dan penutup para nabi dan rasul, Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang telah membawa manusia dari alam jahiliyah kepada masa yang terang benderang yang penuh dengan iman dan ilmu pengetahuan, juga kepada para keluarga, sahabat, dan orang-orang yang tetap istiqamah menegakkan risalah yang dibawanya hingga akhir jaman.

Pelangi : Indah karena perbedaan

Salah satu karunia Allah ta’ala yang diberikannya kepada umat Islam adalah tidak adanya perbedaan bahwa sumber utama dalam hukum dan sikap hidup kita adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam wafat, Allah ta’ala telah menyempurnakan ajaran agama ini, seperti disebutkan dalam firman-Nya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu” [QS. Al-Maidah : 3].

Demikian pula dengan sunnah, tidak ada satu sisi pun, baik yang berhubungan dengan syari’at atau pun dalam kehidupan sehari-hari, kecuali telah disampaikan dan dicontohkan oleh beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sunnah.

Umat Islam di masa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (baca: sahabat) selalu kembali kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam setiap kali terjadi perbedapat pendapat atau perselisihan di antara mereka. Setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, sirnalah perselisihan dan perbedaan di antara mereka. Atau terjadi kasus yang cukup rumit, sehingga Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdiam diri menunggu turunnya Al-Qur`an, namun setelah turunnya Al-Qur`an yang menjelaskan realita dan hukumnya, sirnalah segala persoalan yang mengganjal mereka. Seperti kasus ‘berita bohong’ (hadits ifk) yang dialamatkan kepada ‘Aisyah radliyallahu ‘anha dan juga penyebab turunnya ayat tentang li’an dalam surah An-Nuur yang dialami salah seorang sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Hilal bin Umayyah radliyallaahu ‘anhu, salah satu dari tiga orang yang Allah ta’ala menerima taubatnya ketika ketinggalan dalam perang Tabuk pada tahun ke sembilan Hijriyah.

Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah meninggal dunia, mulailah terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama, tetapi bukan persoalan yang menyangkut aqidah atau prinsip dalam Islam. Kita yakin bahwa para ulama tidak mungkin meyakini suatu hukum syari’at atau memberikan fatwa kecuali yang sesuai dengan tuntutan Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, namun sebagai manusia biasa yang tidak ma’shum, mungkin saja seseorang keliru dalam memahami kandungan yang terdapat al-Qur`an dan sunnah, tanpa bermaksud menyalahi apalagi menentang atau berpaling dari keduanya.

Berikut ini adalah beberapa sebab terjadinya perbedaan pendapat di kalangan para ulama, yang di antaranya adalah:

1.     Nash atau dalil dalam suatu masalah tidak sampai kepada seseorang yang keliru dalam mengambil suatu keputusan atau memberikan fatwa. Kasus seperti ini bukan hanya terjadi di masa sekarang, bahkan pernah terjadi beberapa kali di masa sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa di masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab radliyallaahu ‘anhu, setelah Palestina di kuasai kaum muslimin, Khalifah Umar radliyallaahu ‘anhu melakukan perjalanan menuju Palestina bersama satu rombongan dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Ketika di tengah perjalanan, terdengarlah kabar bahwa di negeri Syam tengah dilanda wabah yang sangat berbahaya serta telah banyak menelan korban jiwa.[1] Mendengar berita itu, Umar radliyallaahu ‘anhu menahan perjalanan dan bermusyawarah dengan para pembesar dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Terjadilah perbedaan pendapat di antara mereka dalam masalah, apakah mereka meneruskan perjalanan atau kembali ke Madinah? Yang berpendapat untuk kembali ke Madinah memberikan argumentasi bahwa masuknya mereka ke kota itu akan membawa mereka kepada kematian, karena wabah itu sangat berbahaya. Sedangkan pendapat kedua memberikan hujjah bahwa semua yang terjadi tidak pernah terlepas dari qadla dan qadar Allah ta’ala. Semua itu telah tercatat di Lauhul Mahfuzh. Pada saat itulah Abdurrahman bin ‘Auf radliyallaahu ‘anhu datang dan berkata : “Sesungguhnya saya mempunyai pengetahuan tentang hal ini, saya pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فِى أَرْضٍ فَلاَ تَقْدُمُوْا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ فِيْهَا فَلاَ تَخْرُجُوْا فِرَارًا مِنْهُ.

Apabila kalian mendengar berita tentangnya (penyakit tha’un) di suatu negeri, maka janganlah kamu memasukinya. Dan ketika wabah penyakit itu tengah terjadi, sedang kamu berada di sana, maka janganlah keluar (pergi meninggalkan negeri itu) karena lari dari penyakit tersebut.”[2]

Setelah mendengar hadits tersebut, semuanya tunduk dan patuh terhadap sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan kembali ke kota Madinah.

Demikian pula yang sering terjadi di masa sekarang, sering kita dengar perbedaan pendapat di kalangan para ulama, dan salah satu penyebab yang dominan adalah tidak sampainya nash atau dalil kepada orang yang keliru dalam mengambil suatu keputusan hukum, di samping adanya sebab-sebab yang lain tentunya. Wallahu A’lam.

2.     Hadits (dalil) telah sampai kepada seseorang yang kebetulan keliru dalam mengambil suatu keputusan, namun ia kurang percaya kepada pembawa berita atau yang meriwayatkan hadits. Misalnya, imam Fulan mengatakan bahwa hadits ini shahih, sedangkan imam yang lain berpandangan bahwa hadits tersebut dla’if (lemah). Seperti imam Nawawi rahimahullah berkeyakinan  bahwa hadits tentang qunut dalam shalat subuh adalah shahih, seperti yang dia tekankan dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab. Sementara itu, mayoritas ulama hadits dari masa ke masa meyakini bahwa hadits itu dla’if dan tidak bisa dijadikan sebagai sumber hukum syari’at. Ini hanyalah sebuah contoh, masih banyak contoh lain yang serupa, namun kita cukupkan dengan satu contoh itu. Hal ini juga pernah terjadi di masa khalifah Umar bin al-Khaththab t, ketika beliau menolak riwayat Fathimah binti Qais radliyallahu ‘anha bahwa perempuan yang telah dicerai yang ketiga kalinya oleh suaminya, perempuan itu tidak berhak lagi mendapatkan hak terhadap nafkah dan tempat tinggal dari suaminya. Khalifah Umar radliyallaahu ‘anhu menolak riwayat itu karena kurang percaya terhadap orang yang meriwayatkan hadits tersebut. Wallahu A’lam.

3.     Dalil (hadits) telah sampai kepada orang tersebut, namun ia keliru dalam memahaminya. Contoh perbedaan seperti ini pernah terjadi di zaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bahkan pada masa hidup Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Peritistiwa itu bermula ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam baru selesai perang Ahzab pada tahun ke lima Hijriyah dan meletakkan peralatan perang. Pada saat itu, datanglah malaikat Jibril ‘alaihis-salaam dan berkata : “Berangkatlah menuju perkampungan Bani Quraizhah”. Maka saat itu juga Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada para sahabat agar segera berangkat menuju perkampungan mereka dan bersabda:

لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ إِلاَّ فِى بَنِي قُرَيْظَةَ

Janganlah seseorang shalat Ashar kecuali di (perkampungan) Bani Quraizhah.” [Muttafaqun ‘alaih][3]

Para sahabat berbeda pendapat dalam memahami nash hadits ini. Sebagian mereka memahami bahwa yang dimaksud Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah agar mereka segera berangkat, sehingga sampai di perkampungan Bani Quraizhah sebelum shalat ‘Ashar. Karena itulah, ketika tiba waktu shalat ‘Ashar, sedangkan mereka masih berada di tengah perjalanan, mereka tetap melaksanakan shalat ‘ashar dan tidak menta’khirkannya hingga sampai di perkampungan Bani Quraizhah. Sedangkan yang lain memahami bahwa yang dimaksud Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah agar mereka jangan melaksanakan shalat ‘Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah. Sehingga ketika tiba waktu shalat ‘Ashar, sedangkan mereka masih berada di tengah perjalanan, mereka tidak langsung melaksanakan shalat ‘ashar dan menundanya hingga sampai di perkampungan Bani Quraizhah. Ketika hal itu disampaikan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak memberikan komentar apa-apa, dan tidak mencela kelompok yang manapun. Tidak diragukan lagi, bahwa yang benar adalah yang melakukan shalat dalam waktunya dan tidak menundanya hingga keluar dari waktunya, karena kewajiban melaksanakan shalat dalam waktunya adalah dengan dalil yang jelas, sedangkan dalil (hadits) ini masih mengandung beberapa penafsiran.

Kemungkinan besar, inilah penyebab paling dominan yang melatar belakangi terjadinya perbedaan di kalangan para ulama dalam persoalan far’iyah (cabang), namun bukan yang menyangkut persoalan prinsif di dalam syari’at Islam. Hadits-hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah dibukukan dalam kitab-kitab hadits, baik dalam kitab Shahih, Sunan, Masanid, ataupun Ma’ajim. Namun pemahaman setiap orang, seringkali berbeda satu sama lain. Wallahu A’lam.

4.     Dalil telah sampai kepadanya tapi sudah dinasakh, namun ia tidak mengetahui dalil yang menasakhnya. Dalam kasus seperti ini, orang yang tidak mengetahui adanya nasakh dimaafkan, karena asal suatu masalah adalah tidak adanya nasakh, sampai diketahui dalil yang menasakhnya. Termasuk dalam sebab ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu tentang meletakkan kedua tangan ketika ruku’. Di permulaan Islam, disyari’atkan bagi orang yang shalat menutup kedua tangan dan meletakkannya di antara kedua lutut ketika ruku’. Hukum ini kemudian dinasakh dengan meletakkan dua telapak tangan pada dua lutut. Al-Bukhari telah meriwayatkan tentang hal ini di dalam Shahih-nya. Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu tidak mengetahui tentang hal ini dan tetap melaksanakan shalat seperti pada masa di awal Islam. Ketika Al-Alqamah dan Al-Aswad shalat di sampingnya dan meletakkan kedua tangan pada kedua lutut, Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu menegur keduanya. Kenapa? Karena ia tidak mengetahui adanya nashakh. Seseorang tentu tidak diberikan beban di luar batas kemampuannya. Wallahu A’lam.

5.     Hadits (dalil) telah sampai kepadanya, namun ia lupa terhadap dalil tersebut. Sudah menjadi sunnatullah, bahwa lupa adalah bagian dari fitrah kita sebagai manusia biasa. Banyak orang yang telah hapal sekian banyak hadits-hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, namun kemudian ia lupa. Ini merupakan salah satu penyebab terjadinya terjadi perbedaan pendapat, walau dalam porsi yang tidak terlalu besar.

Bagaimana sikap kita terhadap perbedaan pendapat ini?

Kalau kita menemukan perbedaan seperti yang telah disebutkan di atas, siapakah yang harus kita ikuti? Apakah kita akan mengikuti seorang imam dan tidak pernah keluar dari pendapatnya, walau pun kebenaran ada pada pendapat yang lain? Ataukah kita mengikuti pendapat yang lebih kuat sesuai dengan dalil-dalil yang ada, walau berbeda pendapat dengan imam yang kita ikuti?

Jawaban yang benar adalah yang kedua, karena wajib bagi yang mengetahui dalil yang shahih untuk mengikutinya, walau berbeda pendapat dengan para imam. Karena mereka adalah manusia yang mungkin saja keliru dalam memberikan fatwa atau mengambil kesimpulan dalam suatu hukum. Siapapun yang meyakini bahwa ada seseorang selain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang harus diambil pendapatnya setiap waktu dan keadaan, berarti dia meyakini bahwa selain beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam ada yang memiliki keistimewaan risalah atau ada yang ma’shum (dipelihara dari dosa dan kesalahan). Padahal tidak ada seorang pun yang memiliki keistimewaan seperti ini selain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan setiap orang bisa diterima pendapatnya atau ditolak kecuali yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan sanad yang shahih. Wallahu A’lam.

Dikutip dari “Kitab al-Ilmi” karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah.

 

[1]      Dalam sejarah Islam disebut dengan wabah ‘Tha’un Amwas’. Wabah ini telah menelan korban sekitar 25.000 jiwa, termasuk di antaranya adalah panglima besar Abu Ubaidah Amir bin al-Jarrah radliyallaahu ‘anhu dan Mu’adz bin Jabal radliyallaahu ‘anhu.

[2]      HR. Al-Bukhari no. 5729 dan Muslim no. 2219

[3]      HR. al-Bukhari no. 946 dan Muslim no. 1770.

Kitab-Kitab Al Imam Nashru As Sunnah Muhammad ibn Idris Asy Syafi’i

Imam Syafi’i bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Idris Asy Syafi’i, lahir di Gaza, Palestina pada tahun 150 Hijriah (767-820 M), berasal dari keturunan bangsawan Qurays dan masih keluarga jauh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dari ayahnya, garis keturunannya bertemu di Abdul Manaf (kakek ketiga rasulullah) dan dari ibunya masih merupakan cicitAli bin Abi Thalib radhiyallahi ‘anhu. Semasa dalam kandungan, kedua orang tuanya meninggalkan Mekkah menuju palestina, setibanya di Gaza, ayahnya jatuh sakit dan berpulang ke rahmatullah, kemudian beliau diasuh dan dibesarkan oleh ibunya dalam kondisi yang sangat prihatin dan seba kekurangan, pada usia 2 tahun, ia bersama ibunya kembali ke mekkah dan di kota inilah Imam Syafi’i mendapat pengasuhan dari ibu dan keluarganya secara lebih intensif.

 

Saat berusia 9 tahun, beliau telah menghafal seluruh ayat Al Quran dengan lancar bahkan beliau sempat 16 kali khatam Al Quran dalam perjalanannya dari Mekkah menuju Madinah. Setahun kemudian, kitab Al Muwatha’ karanganImam Malik bin Anas yang berisikan 1.720 hadis pilihan juga dihafalnya di luar kepala, Imam Syafi’i juga menekuni bahasa dan sastra Arab di dusun baduiBani Hundzail selama beberapa tahun, kemudian beliau kembali ke Mekkah dan belajar fiqh dari seorang ulama besar yang juga mufti kota Mekkah pada saat itu yaitu Imam Muslim bin Khalid Azzanni. Kecerdasannya inilah yang membuat dirinya dalam usia yang sangat muda (15 tahun) telah duduk di kursi mufti kota Mekkah, namun demikian Imam Syafi’i belum merasa puas menuntut ilmu karena semakin dalam beliau menekuni suatu ilmu, semakin banyak yang belum beliau mengerti, sehingga tidak mengherankan bila guru Imam Syafi’i begitu banyak jumlahnya sama dengan banyaknya para muridnya. Di antara guru beliau yang masyhur adalah Waki‘.
Sedangkan di antara murid beliau yang sekaligus guru beliau dalam ilmu hadits adalah Imam Ahmad bin Hanbal.Meskipun Imam Syafi’i menguasai hampir seluruh disiplin ilmu, namun beliau lebih dikenal sebagai ahli hadis dan hukum karena inti pemikirannya terfokus pada dua cabang ilmu tersebut, pembelaannya yang besar terhadap sunnah Nabi sehingga beliau digelari Nashru Sunnah(Pembela Sunnah Nabi). Dalam pandangannya, sunnah Nabi mempunyai kedudukan yang sangat tinggi, malah beberapa kalangan menyebutkan bahwa Imam Syafi’i menyetarakan kedudukan sunnah dengan Al Quran dalam kaitannya sebagai sumber hukum islam, karena itu, menurut beliau setiap hukum yang ditetapkan oleh rasulullah pada hakekatnya merupakan hasil pemahaman yang diperoleh Nabi dari pemahamannya terhadap Al Quran. Selain kedua sumber tersebut (Al Quran dan Hadits), dalam mengambil suatu ketetapan hukum, Imam Syafi’i juga menggunakan Ijma’, Qiyas danistidlal(penalaran) sebagai dasar hukum islam.Berkaitan dengan bid’ah, Imam Syafi’i berpendapat bahwa bid’ah itu terbagi menjadi dua macam, yaitu bid’ah terpuji dan sesat, dikatakan terpuji jika bid’ah tersebut selaras dengan prinsip prinsip Al Quran dan Sunnah dan sebaliknya. Dalam soal taqlid, beliau selalu memberikan perhatian kepada murid muridnya agar tidak menerima begitu saja pendapat pendapat dan hasil ijtihadnya, beliau tidak senang murid muridnya bertaklid buta pada pendapat dan ijtihadnya, sebaliknya malah menyuruh untuk bersikap kritis dan berhati hati dalam menerima suatu pendapat, sebagaimana ungkapan beliau ” Inilah ijtihadku, apabila kalian menemukan ijtihad lain yang lebih baik dari ijtihadku maka ikutilah ijtihad tersebut “. Di antara karya karya Imam Syafi’i yaitu Al RisalahAl Umm yang mencakup isi beberapa kitabnya, selain itu juga buku Al Musnad berisi tentang hadits-hadits Rasulullahyang dihimpun dalam kitab Al Umm serta Ikhtilaf Al Hadits.

Di antara kitab-kitab asli beliau yang bisa di download adalah.

Wahai Ukhti Muslimah, Ketahuilah…


Dari Ummu Salamah, dia berkata. ‘Ummu Sulaim pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata. ‘Wahai Rasulullah sesungguhnya Allah tidak merasa malu dari kebenaran. Lalu apakah seorang wanita itu harus mandi jika dia bermimpi ?. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab. ‘Jika dia melihat air (mani)’. Lalu Ummu Salamah menutup wajahnya, dan berkata. ‘Wahai Rasulullah, apakah wanita itu juga bisa bermimpi .? ‘Beliau menjawab. ‘Ya, bisa’. Maka sesuatu yang menyerupai dirinya adalah anaknya”. (Hadits shahih, ditakhrij Ahmad 6/306, Al-Bukhari 1/44, Muslim 3/223, At-Tirmidzi, hadits nomor 122, An-Nasa’i 1/114, Ibnu Majah hadits nomor 600, Ad-Darimi 1/195, Al-Baihaqi 1/168-169)

Muslimah

Wahai Ukhti Muslimah !
Diantara kebaikan ke-Islaman seorang wanita adalah jika dia mengetahui agamanya. Maka Islam mewajibkan para wanita mencari ilmu sebagaimana yang diwajibkan terhadap kaum laki-laki. Perhatikanlah firman Allah ini.

“Artinya : Katakanlah. Adakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui ?”. (Az-Zumar : 9)

Bahkan perhatikan pula firman Allah yang secara khusus ditujukan kepada Ummahatul-Mukminin, yang menganjurkan mereka agar mempelajari kandungan Al-Qur’an dan hadits Nabawi yang dibacakan di rumah-rumah mereka. Firman-Nya.

“Artinya : Dan, ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah”. (Al-Ahzab : 34)

Karena perintah Allah inilah para wanita merasakan keutamaan ilmu. Maka mereka pun pergi menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menuntut suatu majlis bagi mereka dari beliau, agar di situ mereka bisa belajar.

Dari Abu Sa’id Al-Khudry Radhiyallahu anhu, dia berkata. ‘Para wanita berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Kaum laki-laki telah mengalahkan kami atas dirimu. Maka buatlah bagi kami dari waktumu’. Maka beliau menjanjikan suatu hari kepada mereka, yang pada saat itu beliau akan menemui mereka dan memberi wasiat serta perintah kepada mereka. Di antara yang beliau katakan kepada mereka adalah : ‘Tidaklah ada di antara kamu sekalian seorang wanita yang ditinggal mati oleh tiga anaknya, melainkan anak-anaknya itu menjadi penghalang dari neraka baginya‘. Lalu ada seorang wanita yang bertanya. ‘Bagaimana dengan dua anak?’ Maka beliau menjawab. ‘Begitu pula dua anak’. (Diriwayatkan Al-Bukhari, 1/36 dan Muslim 16/181)

Begitulah Islam menyeru agar para wanita diajari dan diberi bimbingan tentang hal-hal yang harus mereka biasakan, untuk kebaikan di dunia dan akhirat.

Wahai Ukhti Muslimah !
Perhatikanlah di dalam wasiat Nabawi ini, bahwa Ummu Salamah datang untuk mempelajari apa-apa yang tidak diketahuinya, sehingga akhirnya dia bisa mengetahui secara komplit. Begitulah seharusnya yang dilakukan seorang wanita muslimah. Dia bisa bertanya tentang hukum-hukum agamanya. Karena yang tahu hukum-hukum tersebut diantara mereka hanya sedikit sekali. Marilah kita simak wasiat ini.

Wahai Ukhti Muslimah !
Perhatikanlah bagaimana adab Ummu Sulaim yang memulai ucapannya dengan berkata. “Sesungguhnya Allah tidak merasa malu dari kebenaran”. Maksudnya, tidak ada halangan untuk menjelaskan yang benar. Sehingga Allah membuat perumpamaan dengan seekor nyamuk dan yang serupa lainnya sebagaimana firman-Nya. “Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu”. (Al-Baqarah : 26)

Perhatikan Ummu Sulaim. Tidak ada halangan baginya untuk bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang apa-apa yang mestinya dia ketahui dan dia pelajari, meskipun mungkin hal itu dianggap aneh. Sungguh benar Ummul Mukminin, ‘A`isyah yang berkata. “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Tidak ada rasa malu yang menghalangi mereka untuk memahami agama”. (Diriwayatkan Al-Bukhari 1/44)

Selagi engkau dikungkung rasa malu dan tidak mau mengetahui hukum-hukum agamamu, maka ini merupakan kesalahan yang amat besar, bahkan bisa berbahaya. Ada baiknya engkau membiasakan dirimu untuk tidak merasa malu dalam mempelajari hukum-hukum agama, baik hukum itu kecil maupun besar. Sebab jika seorang wanita lebih banyak dikungkung rasa malu, maka dia sama sekali tidak akan mengetahui sesuatu pun. Perhatikanlah perkataan Mujahid Rahimahullah. “Orang yang malu dan sombong tidak akan mau mempelajari ilmu”. Seakan-akan dia menganjurkan orang-orang yang mencari ilmu agar tidak merasa lemah dan takkabur, sebab hal itu akan mempengaruhi usaha mereka dalam mencari ilmu.

Ada suatu pertanyaan dari Ummu Sulaim, dia bertanya. “Apakah seorang wanita itu harus mandi jika dia bermimpi?”. Maksudnya, jika dia bermimpi bahwa dia disetubuhi. Jawaban Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Jika dia melihat air“. Makna jawaban ini, bahwa jika seorang wanita benar-benar bermimpi dan ada petunjuk atau bukti terjadinya hal itu, yaitu dia melihat adanya bekas air mani di pakaian, maka ini merupakan syarat mandinya. Namun jika dia bermimpi dan tidak melihat bekas air mani, maka dia tidak perlu mandi. Setelah diberi jawaban yang singkat dan padat ini, Ummu Salamah langsung menutupi wajahnya seraya bertanya. “Apakah wanita itu juga bermimpi?”.

Wahai Ukhti Muslimah !
Rasa herannya Ummu Salamah itu bukanlah sesuatu yang aneh. Pernah terjadi pada diri ‘A`isyah, sementaranya ilmunya lebih komplit, sebagaimana yang disebutkan dalam suatu riwayat, dia berkata. “Kecelakaan bagimu. Apakah wanita akan mengalami seperti itu ?”. Dia berkata seperti itu dengan maksud untuk mengingkari bahwa wanita juga bisa bermimpi.

Jika permasalahan-permasalahannya yang hakiki tidaklah seperti yang disangkakan bahwa setiap wanita bisa bermimpi. Mimpi itu hanya terjadi pada sebagian wanita, sedangkan yang lain tidak. Maka inilah sebab pengingkaran dan keheranan yang muncul dari Ummu Salamah dan ‘A`isyah. Namun keheranan ini bisa dituntaskan oleh jawaban Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Na’am, taribat yaminuki’, maksudnya : Benar, seorang wanita bisa bermimpi. Perkataan beliau : “Taribat yaminuki“, maksudnya, dia menjadi rendah dan berada di atas tanah. Ini merupakan lafazh yang diucapkan saat menghardik, dan tidak dimaksudkan menurut zhahirnya.

Kemudian di akhir ucapan beliau ada salah satu bukti nubuwah, yaitu perkataan beliau : “Sesuatu yang bisa menyerupai dirinya adalah anaknya“.

Wahai Ukhti Muslimah !
Ilmu pengetahuan modern telah menetapkan bahwa laki-laki dan wanita saling bersekutu dalam pembentukan janin. Sebab jenis hewan yang berkembang biak, benih datang dari pasangan laki-laki ke indung telur yang ada di dalam tubuh yang perempuan, lalu sperma yang satu bercampur dengan yang lain. Dengan pengertian, bahwa sefaro sifat-sifat yang diwariskan kira-kira bersumber dari yang laki-laki dan yang sefaronya lagi kira-kira berasal dari perempuan. Kemudian bisa juga terjadi pertukaran dan kesesuaian, sehingga ada sifat-sifat yang lebih menonjol daripada yang lain. Maka dari sinilah terjadi penyerupaan.

Jadi sebagaimana yang engkau ketahui wahai Ukhti Muslimah, seperti apapun keadaannya, tidak mungkin bagi jenis hewan yang berkembang biak, yakni hanya laki-laki saja yang bisa membuahi suatu mahluk hidup, tanpa bersekutu dengan indung telur pada jenis perempuan.

Perhatikanlah bagaimana keindahan pengabaran Nabawi ini. Karena sejak beliau di utus sebagai rasul, jauh sebelum masa Aristoteles, ada kepercayaan bahwa wanita tidak mempunyai campur tangan dalam pembentukan dan keberadaan anak. Hanya air mani sajalah yang terpenting. Mereka tidak yakin bahwa air mani seorang laki-laki akan sampai ke rahim perempuan, lalu berkembang menjadi janin, sedikit demi sedikit janin membesar sehingga menjadi bayi dan akhirnya benar-benar sempurna menjadi sosok manusia di dalam rahim. Lalu Muhammad bin Abdullah datang mengabarkan kepada kita tentang apa yang bakal disibak oleh ilmu pengetahuan modern. Benar, ini merupakan wahyu yang diwahyukan, dan beliau sama sekali tidak berkata dari kemauan dirinya sendiri, tetapi beliau berkata menurut apa yang diajarkan Allah kepada beliau.

Begitulah wahai Ukhti Muslimah apa yang bisa kita pelajari dari wasiat Nabawi ini, semoga Allah memberi manfaat kepada kita semua.
Wallahu a’lam

Majdi As-Sayyid Ibrahim

 

Ilmu dan ‘Ulama`

العلم نور

Secara umum, dari sudut pandang bahasa, ilmu adalah lawan dari “jahl” (kebodohan). Dalam pengertian lain yaitu mengetahui sesuatu yang pasti pada kenyataannya dengan pengetahuan yang pasti.[1]

Ilmu yang kami maksudkan di sini adalah ilmu syar’i, sedangkan yang dimaksud dengan ilmu syar’i adalah:

العِلمُ المُنَزَّلُ مِن السَّمَاءِ إلى الْأَرْضِ، الْعِلمُ الْمُوحَى مِن اللهِ تَعَالى إلى نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم مِن الْكِتَابِ وَ السُّنَّةِ

Ilmu yang diturunkan dari langit ke bumi, yakni ilmu yang diwahyukan Allahu ta’aala kepada Nabi-Nya berupa al Quran dan as Sunnah.”[2]

Syaikh Muhammad ibn Shalih al ‘Utsaymin menjabarkan sebagai berikut, “Yang dimaksud dengan ilmu syar’i adalah segala sesuatu yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, maka ilmu yang mendapat pujian di sini adalah ilmu tentang wahyu, ilmu tentang perkara yang diturunkan oleh Allah saja.”[3]

Firman Allah dalam al Quran,

وَلَوْلاَ فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهُ لَهَمَّتْ طَّآئِفَةٌ مِّنْهُمْ أَن يُضِلُّوكَ وَمَا يُضِلُّونَ إِلاَّ أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَضُرُّونَكَ مِن شَيْءٍ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيْكَ ٱلْكِتَابَ وَٱلْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ وَكَانَ فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيماً ﴿١١٣﴾ 

Dan Allah telah menurunkan al Kitab dan al Hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.” (QS. An Nisaa’ : 113)

Rasulullah bersabda,

مَن يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah menjadikannya faqih dalam diin.” (HR. Bukhari)

Maka dari itu, kewajiban menuntut ilmu, baik dalam al Quran dan as Sunnah pada hakikatnya adalah kewajiban untuk mempelajari diin al Islam. Adapun ilmu-ilmu selain ilmu syar’i, maka kedudukannya  berada di bawah ilmu syar’i yang hukum mempelajarinya bisa menjadi fardhu ‘ain, fardhu kifayah, mubah, atau bahkan haram, sesuai dengan kondisi penuntut ilmunya. Sedangkan hukum menuntut ilmu syar’i, tiada keraguan lagi,  adalah fardhu ‘ain. Maka, barangsiapa yang meninggalkannya berarti ia telah bermaksiat kepada Allah.[4]

Adapun Ahl al ‘Ilm (baca: ahlul ilm) yang Allah dan Rasul-Nya telah menjelaskan keutamaan, ketinggian derajat, dan besarnya pahala mereka adalah para pengusung ilmu yang mulia ini. Mereka yang telah terikat dengan kecintaan yang mendalam untuk menuntut ilmu syar’i, mengamalkannya, serta menda’wahkannya. Allah berfirman,

يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لاَ تَفْعَلُونَ ﴿٢﴾ كَبُرَ مَقْتاً عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لاَ تَفْعَلُونَ ﴿٣﴾

Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS. Ash Shaff : 2-3)

Syaikh Al Islam Ibn Taymiyyah berkata tentang ahl al ‘ilm,

وهؤُلاءَ هُمُ الذِيْنِ جَمِعُوا بَيْنَ الْبَصِيْرَةٌ فِي الدِّيْنِ وَالْقُوَّةٌ عَلى الدَّعْوَة، وَلِذَلِكَ كَانُوا وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءَ الَّذِيْنَ قَالَ اللهُ فِيْهِمْ: (وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَإِسْحـــقَ وَيَعْقُوْبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ) فَالْأَيْدِي الْقُوَّة فِي أَمْرِ الله، وَالْأَبْصَار الْبَصَائِرُ فِى دِيْنِ الله، فَبِالْبَصَائِرُ يدرك الْحَقّ وَيعرف، وَبِالْقُوَّة يتمكن مِن تَبْلِيْغِهِ وَتَنْفِيْذِهِ وَالدَّعْوَةِ إِلَيْهِ.

“Mereka adalah orang-orang yang menghimpun di dalam diri mereka “al Bashiirah fii ad Diin” (bashirah dalam diin) dan “al Quwwah ‘alaa ad Da’wah” (kekuatan untuk berda’wah). Maka, mereka adalah para pewaris Nabi, yang Allah telah mengatakan tentang diri mereka,

Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang memiliki kekuatan dan kecerdasan.” (QS. Shaad, 38: 45)

Kata “kekuatan” dalam ayat tersebut maknanya adalah kekuatan dalam menjalankan perintah Allah, sedangkan kata “kecerdasan” maknanya adalah kecerdasan dalam memahami diin Allah. Jadi, dengan kecerdasan itu seseorang bisa memahami yang haqq dan mengetahuinya, dan dengan kekuatan ia mampu menyampaikannya, melaksanakannya, dan menda’wahkannya.”[5]

'Ulama` Abad Pertengahan (Ilustrasi)

Imam Asy Syathibi berkata,

الْعِلْمُ الَّذِى هُوَ الْعِلْمُ الْمُعْتَبَرُ شَرَعًا ــ أَعنى الَّذِى مدح اللهُ وَرَسُوْلَهُ أَهْله عَلى الْإِطْلَاق ـ هُوَ الْعِلْمُ الْبَاعث عَلى الْعَمَل، الَّذِى لَايُخَلّى صَاحِبُهُ جَاريا مَعَ هَوَاه كَيْفَمَا كَانَ، بَلْ هُوَ الْمُقَيِّد لِصَاحِبه بِمَقتضاه، الْحَامِلُ لَهُ عَلي قَوَانِيِّنَهُ طَوْعًا أَوْ كَرْهًا

“Ilmu yang dikatakan ilmu mu’tabar menurut pandangan syar’i, maksud saya adalah yang Allah dan Rasul-Nya memuji ahlinya secara mutlak, ialah ilmu yang mendorong seseorang beramal, yang tidak membiarkan pemiliknya berjalan menurut kemauan hawa nafsunya, tapi ia mengikat pemiliknya dengan apa yang menjadi tuntutannya, membawa ia untuk taat atau benci atas hukum-hukumnya.”[6]

Pernyataan di atas menegaskan bahwa yang dimaksud ahl al ‘ilm adalah mereka yang benar-benar mengamalkan ilmunya. Allah berfirman dalam al Quran,

إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَاءُ ﴿٢٨﴾ 

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, adalah ‘ulama.” (QS. Faathir, 35: 28)

Ayat di atas menerangkan bahwa yang dimaksud ‘ulama (ahl al ‘ilm) adalah orang-orang yang memiliki rasa takut (khasy-yah) kepada Allahu ta’ala, dan tidaklah rasa takut ini akan melahirkan sesuatu kecuali ketaatan, yakni kecintaan seorang hamba untuk senantiasa mengamalkan ilmu yang dimilikinya dan selalu konsisten untuk beramal di atas ilmu.

-Al Fadhli-


[1] Syaikh Muhammad ibn Shalih al ‘Utsaymin, Kitab Al Ilmi

[2] Syaikh Abd al Qadir Abd al Aziz, Al Jami’ Fii Thalab al Ilmi asy Syariif

[3] Kitab Al Ilmi

[4] Adapun rinciannya akan dijelaskan kemudian,insya Allah

[5] Manjmu’ Fattawa Juz IV hal 92-93

[6] Al Muwaafiqaat Juz I hal 69