Memikirkan Maksiat

Diambil dari Buku Terjemahan Shaid Al-Khatir hal. 544-555

Penulis: Abul Faraj Ibnul Jauzi

Penerjemah: Abdul Majid, Lc.

Penerbit: Darul Uswah, Yogyakarta

Disusun ulang oleh: Laili Al-Fadhli

Catatan: Semua kata yang berada di dalam kurung bukan berasal dari buku, namun tambahan dari penyusun ulang.

maksiat-kepada-allah

Aku memikirkan secara seksama sesuatu yang menyebabkan seseorang masuk neraka. Ternyata, sebabnya adalah kemaksiatan. Aku lantas memikirkan hakikat kemaksiatan, rupaya kemaksiatan disebabkan oleh dorongan untuk mendapatkan kesenangan.

Aku kemudian memikirkan hakikat kesenangan, ternyata ia tipu daya yang tak mengandung sedikitpun manfaat. Tak hanya itu, ternyata ia juga mengandung kekeruhan-kekeruhan yang membuatnya tak menyenangkan lagi. Karena itu, benar-benar mengherankan (bila ada) seorang berakal yang menuruti keinginan hawa nafsunya dan mau dimasukkan ke Neraka Jahannam gara-gara kekeruhan-kekeruhan tersebut!

Salah satu hal yang menyenangkan adalah zina. Bila tujuannya adalah membuang air mani, sebenarnya ia bisa dibuang ke tempat yang halal. Jika sasarannya adalah kekasih, biasanya ia dimaksudkan untuk melestarikan hubungan dengannya, padahal bila engkau mendekatinya sesaat lalu meninggalkannya, kepiluan yang kau rasakan akibat perpisahan dengannya berlipat-lipat kali dari kesenangan yang telah kau rasakan saat ada di dekatnya. Dan bila zina ini sampai membuahkan seorang anak, ia adalah cela abadi dan hukuman yang kekal; selain itu, ia juga membuat kepala pelakunya (senantiasa) tertunduk di depan makhluk dan Khalik.

Orang bodoh hanya akan memikirkan cara menggapai kesenangan sembari melupakan risiko-risiko yang akan mengeruhkan kehidupan dunia dan akhiratnya. Sebagai contoh adalah perubatan minum khamr, ia adalah perbuatan yang bisa membuat najis mulut dan pakaian, menghilangkan akal dan mengakibatkan risiko-risiko negatif yang sudah diketahui Khalik dan makhluk. Sungguh mengherankan orang yang mau menikmati kesenangan sesaat meskipun mendatangkan siksaan dan menyebabkan hilangnya kehormatan, dan tak jarang ia juga menyebabkan hilangnya nyawa!

Kiaskanlah kamr dengan seluruh jenis kesenangan haram lainnya, kelezatannya sama sekali tak sebanding dengan akibat buruk yang ditimbulkannya di dunia dan akhirat. Di samping itu, ia juga tak bertahan lama, karena itu sangat mengherankan kalau akhirat harus ditukar dengannya.

Mahasuci Dzat yang telah menganugerahkan akal kepada sekelompok orang, lalu mereka pun langsung memasangnya dan mempergunakannya memikirkan akibat setiap kesenangan yang melintas di depannya!

Mahasuci Dzat yang menghapus penglihatan beberapa hati yang melihat wujud sesuatu namun kemudian melupakan risiko-risiko negatifnya!

Aku juga heran pada seorang pemuda yang meninggalkan istrinya untuk mencari rezeki di tempat yang jauh supaya ia dipuji, namun kemudian ia tak mau meninggalkan sesuatu yang haram untuk mendapatkan pujian di dunia dan di akhirat!

Bayangkanlah kesenangan yang Anda buru sudah Anda dapatkan; ke manakah sekarang berada? Mana keletihan seseorang yang telah mempelajari ilmu selama 50 tahun? Keletihannya sudah hilang dan ilmu sudah didapat! Dan mana kesenangan seorang pengangguran? Kesenangannya sudah hilang dan penyesalannya saja yang tersisa!

Advertisements

Pintu Masuk Dosa dan Maksiat

Masih saja engkau ikuti satu pandangan dengan pandangan lainnya…

Pada semua yang hijau lagi manis dan menggoda…

Kau kira itu adalah obat bagi lukamu yang menganga…

Padahal ia hanya menambah goresan luka yang ada…

[Ibn Qayyim Al Jawziyyah]

Jangan Diajak Maksiat

1. Pandangan (Lahadzhat)

Lahadzat adalah pandangan kepada hal-hal yang menuju kemaksiatan. Bukan sekedar memandang, tetapi diikuti dengan pandangan selanjutnya. Pandangan adalah pemimpin sekaligus duta nafsu syahwat. Menjaga pandangan berarti menjaga kemaluan. Maka siapa saja yang mengumbar pandangannya, maka ia akan masuk kepada hal-hal yang membinasakan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menasihati ‘Ali radhiyallahu ‘anhu :

Jangan kamu ikuti pandangan pertamamu dengan pandangan kedua dan selanjutnya. Pandangan pertama adalah kenikmatan bagimu, dan yang kedua membinasakanmu.

Pandangan ibarat sebuah anak panah, namun belum sampai anak panah itu mengenai apa yang dilihat, namun ia telah mengenai hati orang yang melihat. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam :

Pandangan adalah anak panah beracun dari panah-panah iblis. Barangsiapa yang menundukan pandangannya dari keelokan wanita yang cantik karena Allah, maka Allah akan mewariskan dalam hatinya kemanisan iman hingga hari kiamat.

Memandang adalah sumber dari segala bencana yang menimpa manusia. Melihat melahirkan lamunan dan khayalan, khayalan melahirkan pemikiran, pikiran melahirkan syahwat dan syahwat melahirkan kemauan. Kemauan akan semakin kuat hingga memunculkan tekad dan akhirnya terjadilah apa yang terjadi selagi tidak ada yang menghalangi.

Sungguh, kepayahan yang ditimbulkan oleh lahadzat terus-menerus akan tetap ada dan menyakiti pelakunya. Sebuah hikmah mengatakan, “Sesungguhnya menahan pandangan-pandangan kepada yang haram lebih ringan daripada menahan kepayahan yang ditimbulkan terus menerus.”

2. Lintasan Pikiran (Khatharat)

Bahwa apa yang hadir di pintu lamunan dan khayalan lebih berbahaya dan sulit dihindari. Dari sinilah awal dari kebaikan dan keburukan. Dari sini pula lahir kemauan (iradah), cita-cita, dan tekad yang kuat (azzam). Namun hendaknya seseorang membatasi lamunan yang berputar pada empat hal:

  • Lamunan yang bisa dimanfaatkan oleh seorang hamba dalam urusan dunianya.
  • Lamunan yang berfungsi mengusir marabahaya dunia.
  • Lamunan yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan akhirat.
  • Lamunan yang berfungsi menolak marabahaya akhirat.

Kemampuan seseorang dalam menentukan skala prioritas untuk memilih satu di antara empat lamunan di atas begitu penting. Karena bila ia mendahulukan yang satu, maka ia akan kehilangan yang lain. Namun, ada pula di antara mereka yang sanggup mengompromikan karena sulit untuk dipisahkan. Maka yang berperan untuk melakukan hal tersebut adalah akal, pemahaman agama, serta pengetahuan. Ketinggian derajat seseorang dan juga keberhasilannya ditentukan oleh keputusannya dalam menyikapi antara benturan kepentingan tersebut.

Hendaknya pula manusia menggunakan akalnya untuk Allah dan kepentingan di akhiratnya. Yaitu dengan :

  • Memahami ayat-ayat Allah dalam al Quran dan maksudnya.
  • Memikirkan dan mengambil ayat Allah dari alam.
  • Memikirkan nikmat Allah yang bermacam-macam dan begitu luas.
  • Memikirkan tentang aib pribadi.
  • Memikirkan kewajiban dan tugas yang berkaitan erat dengan waktu.

Ketahuilah, bahwa masuknya lintasan pikiran dan lamunan tidak akan mengundang bahaya. Yang berbahaya adalah ketika semua itu diundang dan kemudian tidak diarahkan. Lamunan akan sangat mudah menyerang jiwa yang kosong dan sangat berat melawan jiwa yang tenang.

Bila manusia berusaha mengosongkan lintasan pikirannya, maka setan akan masuk dan menanamkan kebatilan di dalamnya dalam bentuk yang berbeda dari wujud aslinya sehingga mereka mengira bahwa ia adalah kemuliaan yang paling tinggi.

Allah telah merangkai dua jenis jiwa pada diri manusia, yaitu ammarah bissuu’ (yang memerintahkan kepada keburukan) dan jiwa muthma’innah (yang tenang). Dua jiwa ini akan selalu bertarung. Yang menang akan menguasai jiwa dan pikiran, sedangkan peperangan akan terus berlanjut hingga ajalnya tiba.

Hati ibarat sebuah kanvas putih yang bersih dan lintasan pikiran adalah ukiran dan lukisan yang berada di atasnya. Sungguh orang yang paling sempurna adalah orang yang memenuhi pikirannya, lamunannya, dan kemauannya untuk mencapai hal-hal yang diridhai Allah dan kebaikan bagi manusia secara umum. Umar bin Al Khathab adalah salah satu contoh orang yang pikirannya penuh sesak dengan peribadahan kepada Allah. Bila ia shalat, pikirannya juga digunakan untuk mengatur tentaranya. Sehingga ia menyatukan dalam satu waktu antara shalat dengan jihad.

3. Lisan (Lafadzhat)

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Ada seorang laki-laki berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Maka Allah berakata, “Siapa yang mengatakan bahwa Aku tidak mengampuni dosa fulan? Sesungguhnya aku telah mengampuni dosanya dan menghapus kesalahannya. Dan aku telah menghapus amal-amalmu.” [HR. Muslim dari Jundub]

Siapa yang menjamin bagiku apa yang ada di antara dua jenggotnya dan di antara dua kakinya, maka aku menjamin baginya syurga. [HR. Bukhari, Tirmidziy, dan Ahmad]

Iman seseorang tidak akan lurus sampai lurus hatinya. Dan hati seseorang tidak akan lurus hingga lurus lidahnya. [HR. Ahmad]

Siapa yang menjaga lidahnya, maka Allah akan menutupi aib-aibnya. [HR. Abu Nu’aim dan Ibnu Abid Dunya]

Kebanyakan makhluq Allah yang menyimpang adalah dikarenakan perkataan dan diamnya. Sedangkan orang yang ahli adalah yang dapat berdiri di antara keduanya dengan seimbang.

  • Bencana Lisan
    • Perkataan yang tidak dibutuhkan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya. [HR. Tirmidziy]

    • Melibatkan diri dalam kebatilan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang keras lagi suka bertengkar. [Muttafaq ‘Alayh]

    • Banyak bicara dan memaksakan diri dengan kata-kata sajak.

Ibnul Jawzi rahimahullah berkata,

Dalam hal ini tidak termasuk pidato/ ceramah bila dimaksudkan untuk menggugah hati para pendengar.

    • Bicara keji, suka mencela, dan suka mengumpat.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Jauhilah perbuatan keji, karena Allah tidak menyukai perkataan keji dan mengata-ngatai dengan perkataan keji. [HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad]

An Nakha’iy rahimahullah berkata,

Bila seseorang berkata kepada orang lain : “Hai keledai, hai babi..!”, maka pada hari kiamat nanti akan dikatakan kepadanya, “Apakah menurut pendapatmu Allah menciptakannya sebagai keledai atau babi?”

    • Bercanda dengan berlebihan.

Dalam hal ini, tidaklah Rasulullah bercanda kecuali memenuhi tiga hal:

  • Tidak berdusta
  • Sering dilakukan terhadap wanita, anak-anak, dan orang-orang lemah yang membutuhkan bimbingan
  • Dilakukan jarang-jarang, tidak terus menerus.

 

    • Mengejek dan mengolok-olok.

Larangan ini telah banyak disebutkan dalam al Quran dan as Sunnah. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa mengolok-olok orang lain dapat dilakukan meski dengan kerdipan mata, dan hal tersebut sudah termasuk dosa dan maksiat.

    • Membocorkan rahasia, melanggar janji, berdusta dalam perkataan dan sumpah.

Semua hal tersebut dilarang, kecuali bila ada keringanan untuk berdusta, seperti berdusta untuk menyenangkan istri atau sebagai siasat perang.

    • Ghibah.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Siapa yang mencari-cari aib orang lain, maka Allah akan mencari-cari aibnya. [HR. Abu Dawud]

Jauhilah ghibah karena ghibah lebih keras daripada zina.

Syari’at menetapkan bahwa ada sebagian ghibah yang diperbolehkan, di antaranya:

  • Karena ada tindak kedzhaliman. Orang yang didzhalimi boleh menyebut kedzhaliman yang dilakukan orang tertuduh kepadanya.
  • Sebagai upaya mengubah kemunkaran.
  • Meminta fatwa.
  • Memperingatkan kaum muslimin.
  • Bila orang yang dighibah melakukan kefasikan terang-terangan.

 

    • Namimah (mengadu domba).

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Tidak masuk syurga orang yang suka mengadu domba. [Muttafaq ‘Alayh]

    • Perkataan dengan dua lidah.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya orang yang paling jahat adalah orang yang memiliki dua wajah, yang datang kepada seseorang dengan wajah yang satu, dan kepada yang lain, dengan wajah yang lainnya. [Muttafaq ‘Alayh]

    • Kata-kata pujian yang berlebihan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda saat mendengar seseorang memuji orang lain,

Celakalah engkau karena telah memenggal leher rekanmu. [Muttafaq ‘Alayh]

    • Kesalahan yang berkaitan erat dalam menjelaskan maksud Allah dalam Al Quran dan maksud Rasul dalam as Sunnah.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Begitu cepat manusia bertanya, sampai-sampai mereka berkata, “Allah telah menciptakan makhluq.” Lalu, siapakah yang menciptakan Allah. [HR. Abu Dawud]

Pertanyaan tentang sesuatu yang rumit merupakan bencana. Tidak ada yang bisa meluruskannya kecuali ulama yang lurus. Siapa yang ilmunya terbatas, lalu mencari-cari tahu makna sifat dan Dzat Allah, atau menta’wil ayat-ayat mutasyabbihat, atau mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bermanfaat akan menyebabkan dirinya terpeleset dan membinasakan dirinya sendiri.

##########

Sumber Rujukan :

Ibnu Qayyim Al Jawziyyah. Ad Daa’ wad Dawaa’ (Al Jawaabul Kaafi liman Saala ‘anid Dawaa’isy Syaaffi’).

Ibnu Qudamah Al Maqdisi. Mukhtashar Minhajul Qashidin libnil Jawzi.

##########

Rd. Laili Al Fadhli

Disampaikan pada ta’lim umum Mahasiswa Pecinta Islam (MPI) Bandung , Sabtu, 22 September 2012