Memikirkan Maksiat

Diambil dari Buku Terjemahan Shaid Al-Khatir hal. 544-555

Penulis: Abul Faraj Ibnul Jauzi

Penerjemah: Abdul Majid, Lc.

Penerbit: Darul Uswah, Yogyakarta

Disusun ulang oleh: Laili Al-Fadhli

Catatan: Semua kata yang berada di dalam kurung bukan berasal dari buku, namun tambahan dari penyusun ulang.

maksiat-kepada-allah

Aku memikirkan secara seksama sesuatu yang menyebabkan seseorang masuk neraka. Ternyata, sebabnya adalah kemaksiatan. Aku lantas memikirkan hakikat kemaksiatan, rupaya kemaksiatan disebabkan oleh dorongan untuk mendapatkan kesenangan.

Aku kemudian memikirkan hakikat kesenangan, ternyata ia tipu daya yang tak mengandung sedikitpun manfaat. Tak hanya itu, ternyata ia juga mengandung kekeruhan-kekeruhan yang membuatnya tak menyenangkan lagi. Karena itu, benar-benar mengherankan (bila ada) seorang berakal yang menuruti keinginan hawa nafsunya dan mau dimasukkan ke Neraka Jahannam gara-gara kekeruhan-kekeruhan tersebut!

Salah satu hal yang menyenangkan adalah zina. Bila tujuannya adalah membuang air mani, sebenarnya ia bisa dibuang ke tempat yang halal. Jika sasarannya adalah kekasih, biasanya ia dimaksudkan untuk melestarikan hubungan dengannya, padahal bila engkau mendekatinya sesaat lalu meninggalkannya, kepiluan yang kau rasakan akibat perpisahan dengannya berlipat-lipat kali dari kesenangan yang telah kau rasakan saat ada di dekatnya. Dan bila zina ini sampai membuahkan seorang anak, ia adalah cela abadi dan hukuman yang kekal; selain itu, ia juga membuat kepala pelakunya (senantiasa) tertunduk di depan makhluk dan Khalik.

Orang bodoh hanya akan memikirkan cara menggapai kesenangan sembari melupakan risiko-risiko yang akan mengeruhkan kehidupan dunia dan akhiratnya. Sebagai contoh adalah perubatan minum khamr, ia adalah perbuatan yang bisa membuat najis mulut dan pakaian, menghilangkan akal dan mengakibatkan risiko-risiko negatif yang sudah diketahui Khalik dan makhluk. Sungguh mengherankan orang yang mau menikmati kesenangan sesaat meskipun mendatangkan siksaan dan menyebabkan hilangnya kehormatan, dan tak jarang ia juga menyebabkan hilangnya nyawa!

Kiaskanlah kamr dengan seluruh jenis kesenangan haram lainnya, kelezatannya sama sekali tak sebanding dengan akibat buruk yang ditimbulkannya di dunia dan akhirat. Di samping itu, ia juga tak bertahan lama, karena itu sangat mengherankan kalau akhirat harus ditukar dengannya.

Mahasuci Dzat yang telah menganugerahkan akal kepada sekelompok orang, lalu mereka pun langsung memasangnya dan mempergunakannya memikirkan akibat setiap kesenangan yang melintas di depannya!

Mahasuci Dzat yang menghapus penglihatan beberapa hati yang melihat wujud sesuatu namun kemudian melupakan risiko-risiko negatifnya!

Aku juga heran pada seorang pemuda yang meninggalkan istrinya untuk mencari rezeki di tempat yang jauh supaya ia dipuji, namun kemudian ia tak mau meninggalkan sesuatu yang haram untuk mendapatkan pujian di dunia dan di akhirat!

Bayangkanlah kesenangan yang Anda buru sudah Anda dapatkan; ke manakah sekarang berada? Mana keletihan seseorang yang telah mempelajari ilmu selama 50 tahun? Keletihannya sudah hilang dan ilmu sudah didapat! Dan mana kesenangan seorang pengangguran? Kesenangannya sudah hilang dan penyesalannya saja yang tersisa!

Advertisements

Kemuliaan Menuntut Ilmu

Diambil dari kitab Tanbihul Ghafiliin karangan Abul Laits As Samarqandi :

تنبيه الغافلين  أبو الليث السمرقندي.
يُقَالُ مَنِ انْتَهَى إِلَى الْعَالِمِ، وَجَلَسَ مَعَهُ، وَلَا يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يَحْفَظَ الْعِلْمَ، فَلَهُ سَبْعُ كَرَامَاتٍ

Dikatakan bahwa seseorang yang telah sampai kepada orang yang alim dan duduk bersamanya tetapi dia tidak mampu menghafalakan ilmu, maka orang tersebut mendapatkan tujuh kemuliaan :

أَوَّلُهَا: يَنَالُ فَضْلَ الْمُتَعَلِّمِينَ.

1. mendapatkan keutamaan orang-orang yang belajar.

وَالثَّانِي: مَا دَامَ جَالِسًا عِنْدَهُ كَانَ مَحْبُوسًا عَنِ الذُّنُوبِ وَالْخَطَأِ.

2. selama masih duduk bersama orang alim maka dia tercegah dari melakukan dosa dan kesalahan.

وَالثَّالِثُ: إِذَا خَرَجَ مِنْ مَنْزِلِهِ تَنْزِلُ عَلَيْهِ الرَّحْمَةُ

3. ketika keluar dari rumahnya maka rahmat turun kepadanya.

وَالرَّابِعُ: إِذَا جَلَسَ عِنْدَهُ، فَتَنْزِلُ عَلَيْهِمُ الرَّحْمَةُ، فَتُصِيبُهُ بِبَرَكَتِهِمْ.

4. ketika dia duduk disamping orang alim kemudian rahmat turun kepada mereka maka dia pun mendapatkan rahmat sebab berkah mereka.

وَالْخَامِسُ: مَا دَامَ مُسْتَمِعًا تُكْتَبُ لَهُ الْحَسَنَةُ.

5. selama masih mendengarkan maka ditulis kebaikan baginya.

وَالسَّادِسُ: تَحُفُّ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا رِضًا وَهُوَ فِيهِمْ.

6. mereka dikepung malaikat dengan sayap-sayapnya dan orang tersebut juga bersama mereka.

وَالسَّابِعُ: كُلُّ قَدَمٍ يَرْفَعُهُ، وَيَضَعُهُ يَكُونُ كَفَّارَةً لِلذُّنُوبِ، وَرَفْعًا لِلدَّرَجَاتِ لَهُ، وَزِيَادَةً فِي الْحَسَنَاتِ

7. setiap langkah kakinya yang diangkat dan diletakkan maka menjadi penghapus bagi dosa-dosa, pengangkat derajat dan tambahan kebaikan baginya.

ثُمَّ يُكْرِمُهُ اللَّهُ تَعَالَى بِسِتِّ كَرَامَاتٍ أُخْرَى:  أَوَّلُهَا: يُكْرِمُهُ بِحُبِّ شُهُودِ مَجْلِسِ الْعُلَمَاءِ

Kemudian Allah memuliakannya lagi dengan enam kemuliaan yang lainnya:

1. Allah memuliakannya dengan cintanya melihat majlisnya ulama’

الثَّانِي: كُلُّ مَنْ يَقْتَدِي بِهِمْ، فَلَهُ مِثْلُ أُجُورِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ.

2. setiap orang yg mengikuti mereka (ulama’) maka baginya pahala sebagaimana pahala mereka tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka.

وَالثَّالِثُ لَوْ غَفَرَ لِوَاحِدٍ مِنْهُمْ يَشْفَعُ لَهُ.

3. jika salah seorang diantara mereka diampuni maka bisa memberikan syafaat kepadanya.

وَالرَّابِعُ: يُبَرِّدُ قَلْبَهُ مِنْ مَجْلِسِ الْفُسَّاقِ.

4. hatinya menjadi dingin dari majlisnya orang-orang fasik.

وَالْخَامِسُ: يَدْخُلُ فِي طَرِيقِ الْمُتَعَلِّمِينَ وَالصَّالِحِينَ.

5. masuk kedalam jalannya para pelajar dan orang-orang sholih.

وَالسَّادِسُ: يُقِيمُ أَمْرَ اللَّهِ تَعَالَى

6. menegakkan perintah Allah ta’ala.

هَذَا لِمَنْ لَمْ يَحْفَظْ شَيْئًا، وَأَمَّا الَّذِي يَحْفَظُ فَلَهُ أَضْعَافٌ مُضَاعَفَةٌ

” Ini semua adalah bagi orang yang tidak menghafal ilmu sedikitpun, adapun bagi orang yang menghafal ilmu maka baginya kemuliaan yang berlipat ganda”.

#hikmah #ilmu #nasihat #ulama

〰〰〰〰〰〰〰

Telegram Channel @bekalakhirat
telegram.me/bekalakhirat
bekalakhirat.wordpress.com
CP +6282319017000

〰〰〰〰〰〰〰

Imam Syafi’i dan Putri Imam Ahmad bin Hanbal

image

Simaklah kisah berikut:

زار الإمام الشافعي رحمه الله تعالى الإمام أحمد بن حنبل ذات يوم في داره ، وكانت للإمام أحمد ابنة صالحة تقوم الليل وتصوم النهار وتحب أخبار الصالحين والأخيار ، وتود أن ترى الشافعي لتعظيم أبيها له ، فلما زارهم الشافعي فرحت البنت بذلك ، طمعاً أن ترى أفعاله وتسمع مقاله .

Suatu hari Imam Syafi’i Rahimahullah berkunjung kerumah Imam Ahmad bin Hanbal.

Imam Ahmad mempunyai seorang putri yang shalihah, bila malam beribadah, siang berpuasa, serta menyukai kisah orang-orang shalih dan pilihan.

Putri beliau ini ingin sekali melihat lmam Syafi’i secara langsung sebab sang Ayah sangat menghormatinya.
Ketika Imam Syafi’i berkunjung kerumah mereka, sang putri merasa sangat senang dan berharap bisa melihat apa saja yang di kerjakan imam Syafi’i serta mendengar ucapan-ucapannya.

وبعدما تناول طعام العشاء قام الإمام أحمد إلى صلاته وذكره ، والإمام الشافعي مستلقٍ على ظهره ، والبنت ترقبه إلى الفجر ، وفي الصباح قالت بنت الإمام أحمد لأبيها :
يا أبتاه … أهذا هو الشافعي الذي كنت تحدثني عنه ؟
قال : نعم يا ابنتي .

Setelah selesai makan malam bersama, Imam Ahmad menuju tempat shalat untuk melakukan shalat dan dzikir, Imam Syafi’i tiduran terlentang, sedangkan sang putri selalu mengawasi Imam Syafi’i sampai fajar.

Di pagi hari, sang putri berkata kepada ayahnya :

“Wahai ayahku… Apakah benar dia ini Imam Syafi’i yang engkau ceritakan padaku dulu ?”

Imam Ahmad : “Benar anakku…”

فقالت : سمعتك تعظم الشافعي وما رأيت له هذه الليلة .. لا صلاة ولا ذكراٍ ولا ورداً؟
وقد لا حظت عليه ثلاثة أمور عجيبة ، قال : وما هي يا بنية ؟
قالت : أنه عندما قدمنا له الطعام أكل كثيراً على خلاف ما سمعته عنه ، وعندما دخل الغرفة لم يقم ليصلي قيام الليل ، وعندما صلى بنا الفجر صلى من غير أن يتوضأ .

Putri : “Aku mendengar bahwa engkau menghormati Imam Syafi’i, tapi apa yang aku lihat tadi malam dia… Tidak shalat, tidak dzikir tidak pula wirid ?
dan aku juga melihat ada 3 hal yang aneh.”

Imam Ahmad : “Apa saja 3 hal itu, wahai anakku ?”

Putri : “Ketika kita sajikan makanan kepada Imam Syafi’i, dia makan banyak sekali dan ini berbeda dengan yang kudengar; ketika masuk kamar, dia tidak beribadah shalat malam; dan ketika shalat subuh bersama kita, dia shalat tanpa wudhu.”

فلما طلع النهار وجلسا للحديث ذكر الإمام أحمد لضيفه الإمام الشافعي ما لاحظته ابنته ، فقال الإمام الشافعي رحمه الله :
يا أبا محمد لقد أكلت كثيراً لأنني أعلم أن طعامك من حلال ، وأنك كريم وطعام الكريم دواء ، وطعام البخيل داء ، وما أكلت لأشبع وإنما لأتداوى بطعامك ، وأما أنني لم أقم الليل فلأنني عندما وضعت رأسي لأنام نظرت كأن أمامي الكتاب والسنة ففتح الله عليّ باثنتين وسبعين مسألة من علوم الفقه رتبتها في منافع المسلمين ، فحال التفكير بها بيني وبين قيام الليل ،

Ketika agak siang dan mereka berbincang-bincang, Imam Ahmad berkata kepada Imam Syafi’i tentang apa yang dilihat oleh putrinya, lalu Imam Syafi’i Rahimahullah berkata :
“Wahai Aba Muhammad, aku memang semalam banyak makan karena aku tahu bahwa makananmu adalah halal dan engkau adalah orang mulia sedangkan makan orang mulia adalah obat, kalau makanan orang bakhil adalah penyakit. Jadi, aku makan bukan untuk kenyang tapi untuk berobat dengan makananmu.

Adapun semalam aku tidak sholat malam, hal itu dikarenakan ketika aku melatakkan kepalaku untuk tidur. Aku melihat seolah olah Al-Qur’an dan hadits berada di depanku, kemudian Allah membukakan kepadaku 72 masalah ilmu fiqih yang kususun untuk kemaslahatan muslimin, maka memikirkan ilmu inilah yang menghalangi antara diriku dan shalat malam.

وأما أنني صليت بكم الفجر بغير وضوء ، فوالله ما نامت عيني حتى أجدد الوضوء . لقد بقيت طوال الليل يقظاناً ، فصليت بكم الفجر بوضوء العشاء . ثم ودّعه ومضى .
فقال الإمام أحمد لابنته : هذا الذي عمله الشافعي الليلة وهو نائم ( أي مستلقٍ ) أفضل مما عملته وأنا قائم .

Adapun ketika shalat subuh bersama kalian aku tidak wudhu, maka demi Allah tidaklah kedua mataku tertidur hingga aku butuh memperbaharui wudhu.

Semalam suntuk aku terjaga, jadi aku shalat subuh bersama kalian dengan wudhu sholat ‘Isya.”

Kemudian Imam Syafi’i berpamitan dan pulang.

Imam Ahmad berkata kepada putrinya :

“Yang dikerjakan oleh oleh Imam
Syafi’i semalam dalam keadaan tiduran, lebih utama daripada apa yang kukerjakan sambil shalat malam.”

Sumber : Kitab Zaadul Murabbiyyin

〰〰〰〰〰〰〰

Telegram Channel @bekalakhirat
telegram.me/bekalakhirat
bekalakhirat.wordpress.com
CP +6282319017000

〰〰〰〰〰〰〰

Pintu Masuk Dosa dan Maksiat

Masih saja engkau ikuti satu pandangan dengan pandangan lainnya…

Pada semua yang hijau lagi manis dan menggoda…

Kau kira itu adalah obat bagi lukamu yang menganga…

Padahal ia hanya menambah goresan luka yang ada…

[Ibn Qayyim Al Jawziyyah]

Jangan Diajak Maksiat

1. Pandangan (Lahadzhat)

Lahadzat adalah pandangan kepada hal-hal yang menuju kemaksiatan. Bukan sekedar memandang, tetapi diikuti dengan pandangan selanjutnya. Pandangan adalah pemimpin sekaligus duta nafsu syahwat. Menjaga pandangan berarti menjaga kemaluan. Maka siapa saja yang mengumbar pandangannya, maka ia akan masuk kepada hal-hal yang membinasakan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menasihati ‘Ali radhiyallahu ‘anhu :

Jangan kamu ikuti pandangan pertamamu dengan pandangan kedua dan selanjutnya. Pandangan pertama adalah kenikmatan bagimu, dan yang kedua membinasakanmu.

Pandangan ibarat sebuah anak panah, namun belum sampai anak panah itu mengenai apa yang dilihat, namun ia telah mengenai hati orang yang melihat. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam :

Pandangan adalah anak panah beracun dari panah-panah iblis. Barangsiapa yang menundukan pandangannya dari keelokan wanita yang cantik karena Allah, maka Allah akan mewariskan dalam hatinya kemanisan iman hingga hari kiamat.

Memandang adalah sumber dari segala bencana yang menimpa manusia. Melihat melahirkan lamunan dan khayalan, khayalan melahirkan pemikiran, pikiran melahirkan syahwat dan syahwat melahirkan kemauan. Kemauan akan semakin kuat hingga memunculkan tekad dan akhirnya terjadilah apa yang terjadi selagi tidak ada yang menghalangi.

Sungguh, kepayahan yang ditimbulkan oleh lahadzat terus-menerus akan tetap ada dan menyakiti pelakunya. Sebuah hikmah mengatakan, “Sesungguhnya menahan pandangan-pandangan kepada yang haram lebih ringan daripada menahan kepayahan yang ditimbulkan terus menerus.”

2. Lintasan Pikiran (Khatharat)

Bahwa apa yang hadir di pintu lamunan dan khayalan lebih berbahaya dan sulit dihindari. Dari sinilah awal dari kebaikan dan keburukan. Dari sini pula lahir kemauan (iradah), cita-cita, dan tekad yang kuat (azzam). Namun hendaknya seseorang membatasi lamunan yang berputar pada empat hal:

  • Lamunan yang bisa dimanfaatkan oleh seorang hamba dalam urusan dunianya.
  • Lamunan yang berfungsi mengusir marabahaya dunia.
  • Lamunan yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan akhirat.
  • Lamunan yang berfungsi menolak marabahaya akhirat.

Kemampuan seseorang dalam menentukan skala prioritas untuk memilih satu di antara empat lamunan di atas begitu penting. Karena bila ia mendahulukan yang satu, maka ia akan kehilangan yang lain. Namun, ada pula di antara mereka yang sanggup mengompromikan karena sulit untuk dipisahkan. Maka yang berperan untuk melakukan hal tersebut adalah akal, pemahaman agama, serta pengetahuan. Ketinggian derajat seseorang dan juga keberhasilannya ditentukan oleh keputusannya dalam menyikapi antara benturan kepentingan tersebut.

Hendaknya pula manusia menggunakan akalnya untuk Allah dan kepentingan di akhiratnya. Yaitu dengan :

  • Memahami ayat-ayat Allah dalam al Quran dan maksudnya.
  • Memikirkan dan mengambil ayat Allah dari alam.
  • Memikirkan nikmat Allah yang bermacam-macam dan begitu luas.
  • Memikirkan tentang aib pribadi.
  • Memikirkan kewajiban dan tugas yang berkaitan erat dengan waktu.

Ketahuilah, bahwa masuknya lintasan pikiran dan lamunan tidak akan mengundang bahaya. Yang berbahaya adalah ketika semua itu diundang dan kemudian tidak diarahkan. Lamunan akan sangat mudah menyerang jiwa yang kosong dan sangat berat melawan jiwa yang tenang.

Bila manusia berusaha mengosongkan lintasan pikirannya, maka setan akan masuk dan menanamkan kebatilan di dalamnya dalam bentuk yang berbeda dari wujud aslinya sehingga mereka mengira bahwa ia adalah kemuliaan yang paling tinggi.

Allah telah merangkai dua jenis jiwa pada diri manusia, yaitu ammarah bissuu’ (yang memerintahkan kepada keburukan) dan jiwa muthma’innah (yang tenang). Dua jiwa ini akan selalu bertarung. Yang menang akan menguasai jiwa dan pikiran, sedangkan peperangan akan terus berlanjut hingga ajalnya tiba.

Hati ibarat sebuah kanvas putih yang bersih dan lintasan pikiran adalah ukiran dan lukisan yang berada di atasnya. Sungguh orang yang paling sempurna adalah orang yang memenuhi pikirannya, lamunannya, dan kemauannya untuk mencapai hal-hal yang diridhai Allah dan kebaikan bagi manusia secara umum. Umar bin Al Khathab adalah salah satu contoh orang yang pikirannya penuh sesak dengan peribadahan kepada Allah. Bila ia shalat, pikirannya juga digunakan untuk mengatur tentaranya. Sehingga ia menyatukan dalam satu waktu antara shalat dengan jihad.

3. Lisan (Lafadzhat)

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Ada seorang laki-laki berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Maka Allah berakata, “Siapa yang mengatakan bahwa Aku tidak mengampuni dosa fulan? Sesungguhnya aku telah mengampuni dosanya dan menghapus kesalahannya. Dan aku telah menghapus amal-amalmu.” [HR. Muslim dari Jundub]

Siapa yang menjamin bagiku apa yang ada di antara dua jenggotnya dan di antara dua kakinya, maka aku menjamin baginya syurga. [HR. Bukhari, Tirmidziy, dan Ahmad]

Iman seseorang tidak akan lurus sampai lurus hatinya. Dan hati seseorang tidak akan lurus hingga lurus lidahnya. [HR. Ahmad]

Siapa yang menjaga lidahnya, maka Allah akan menutupi aib-aibnya. [HR. Abu Nu’aim dan Ibnu Abid Dunya]

Kebanyakan makhluq Allah yang menyimpang adalah dikarenakan perkataan dan diamnya. Sedangkan orang yang ahli adalah yang dapat berdiri di antara keduanya dengan seimbang.

  • Bencana Lisan
    • Perkataan yang tidak dibutuhkan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya. [HR. Tirmidziy]

    • Melibatkan diri dalam kebatilan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang keras lagi suka bertengkar. [Muttafaq ‘Alayh]

    • Banyak bicara dan memaksakan diri dengan kata-kata sajak.

Ibnul Jawzi rahimahullah berkata,

Dalam hal ini tidak termasuk pidato/ ceramah bila dimaksudkan untuk menggugah hati para pendengar.

    • Bicara keji, suka mencela, dan suka mengumpat.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Jauhilah perbuatan keji, karena Allah tidak menyukai perkataan keji dan mengata-ngatai dengan perkataan keji. [HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad]

An Nakha’iy rahimahullah berkata,

Bila seseorang berkata kepada orang lain : “Hai keledai, hai babi..!”, maka pada hari kiamat nanti akan dikatakan kepadanya, “Apakah menurut pendapatmu Allah menciptakannya sebagai keledai atau babi?”

    • Bercanda dengan berlebihan.

Dalam hal ini, tidaklah Rasulullah bercanda kecuali memenuhi tiga hal:

  • Tidak berdusta
  • Sering dilakukan terhadap wanita, anak-anak, dan orang-orang lemah yang membutuhkan bimbingan
  • Dilakukan jarang-jarang, tidak terus menerus.

 

    • Mengejek dan mengolok-olok.

Larangan ini telah banyak disebutkan dalam al Quran dan as Sunnah. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa mengolok-olok orang lain dapat dilakukan meski dengan kerdipan mata, dan hal tersebut sudah termasuk dosa dan maksiat.

    • Membocorkan rahasia, melanggar janji, berdusta dalam perkataan dan sumpah.

Semua hal tersebut dilarang, kecuali bila ada keringanan untuk berdusta, seperti berdusta untuk menyenangkan istri atau sebagai siasat perang.

    • Ghibah.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Siapa yang mencari-cari aib orang lain, maka Allah akan mencari-cari aibnya. [HR. Abu Dawud]

Jauhilah ghibah karena ghibah lebih keras daripada zina.

Syari’at menetapkan bahwa ada sebagian ghibah yang diperbolehkan, di antaranya:

  • Karena ada tindak kedzhaliman. Orang yang didzhalimi boleh menyebut kedzhaliman yang dilakukan orang tertuduh kepadanya.
  • Sebagai upaya mengubah kemunkaran.
  • Meminta fatwa.
  • Memperingatkan kaum muslimin.
  • Bila orang yang dighibah melakukan kefasikan terang-terangan.

 

    • Namimah (mengadu domba).

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Tidak masuk syurga orang yang suka mengadu domba. [Muttafaq ‘Alayh]

    • Perkataan dengan dua lidah.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya orang yang paling jahat adalah orang yang memiliki dua wajah, yang datang kepada seseorang dengan wajah yang satu, dan kepada yang lain, dengan wajah yang lainnya. [Muttafaq ‘Alayh]

    • Kata-kata pujian yang berlebihan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda saat mendengar seseorang memuji orang lain,

Celakalah engkau karena telah memenggal leher rekanmu. [Muttafaq ‘Alayh]

    • Kesalahan yang berkaitan erat dalam menjelaskan maksud Allah dalam Al Quran dan maksud Rasul dalam as Sunnah.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Begitu cepat manusia bertanya, sampai-sampai mereka berkata, “Allah telah menciptakan makhluq.” Lalu, siapakah yang menciptakan Allah. [HR. Abu Dawud]

Pertanyaan tentang sesuatu yang rumit merupakan bencana. Tidak ada yang bisa meluruskannya kecuali ulama yang lurus. Siapa yang ilmunya terbatas, lalu mencari-cari tahu makna sifat dan Dzat Allah, atau menta’wil ayat-ayat mutasyabbihat, atau mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bermanfaat akan menyebabkan dirinya terpeleset dan membinasakan dirinya sendiri.

##########

Sumber Rujukan :

Ibnu Qayyim Al Jawziyyah. Ad Daa’ wad Dawaa’ (Al Jawaabul Kaafi liman Saala ‘anid Dawaa’isy Syaaffi’).

Ibnu Qudamah Al Maqdisi. Mukhtashar Minhajul Qashidin libnil Jawzi.

##########

Rd. Laili Al Fadhli

Disampaikan pada ta’lim umum Mahasiswa Pecinta Islam (MPI) Bandung , Sabtu, 22 September 2012

Lisan

Dikisahkan bahwa terdapat seorang Raja yang memiliki pelayan penuh hikmah. Pada suatu hari ia memerintahkan pelayannya untuk membeli bagian terbaik dari kambing untuk menunya kali ini. Maka pelayan tersebut membelikan lidah kambing.

Lebih baik diam

Kemudian, sang Raja kembali memerintahkan pelayannya untuk membeli bagian terburuk dari kambing, maka pelayan itu kembali dengan membawa lidah kambing.

Sang Raja terkejut dan bertanya kepada pelayannya, “Aku memerintahkanmu untuk membeli bagian terbaik dari kambing, engkau membawakanku lidahnya, dan aku memerintahkanmu untuk membeli bagian terburuk dari kambing, dan engkau pun kembali membawakanku lidahnya. Apa maksud dengan semua ini?”

Pelayan itu pun menjawab, “Lidah adalah bagian terbaik dari makhluq karena ia adalah kunci dari segala bentuk hikmah dan ilmu. Dan lidah adalah bagian terburuk dari makhluq karena ia adalah sumber segala bentuk kerusakan, asal dari berbagai keburukan, penyebab kedengkian dan hasad, serta menjadi penyebab dari peperangan yang terjadi di kalangan para raja dan penguasa.”[1]

Sang Raja begitu takjub mendengar penjelasan dari pelayannya tersebut, tak terasa meleleh butiran air mata membasahi pipinya. Dari pelayannya ia belajar, bahwa lidah, bila digunakan oleh manusia di atas jalan kebaikan, hasilnya pun berupa kebaikan. Sedangkan bila lidah digunakan di atas jalan keburukan, hasilnya pun berupa keburukan.

Karenanya, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam…” (Muttafaqun ‘Alayh)

Sudah sepatutnya kita belajar mengendalikan lisan kita. Sungguh, tidak ada senjata yang lebih tajam daripada lisan. Sehingga Al Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma lebih senang dicela oleh kebanyakan manusia karena banyak diam, daripada harus banyak berkata-kata untuk mendapatkan pujian. Saat ditanyakan kepadanya, mengapa ia lebih banyak diam, Al Hasan menjawab, “Sungguh aku mendapati lisanku bagaikan pedang, bila aku berbicara tentang sesuatu yang tidak memiliki manfaat di dalamnya, pedang itu menebasku…”

Ibnul Qayyim dalam Al Jawaabul Kaafi mengatakan, “Hendaknya seseorang tidak mengucapkan sepatah kata pun, kecuali kata-kata yang di dalamnya terdapat keuntungan dan manfaat bagi agamanya. Sebelum mengucapkan sesuatu, hendaklah memikirkan, apakah di dalamnya terdapat keuntungan dan manfaat atau tidak ada? Bila ternyata ucapan tersebut tidak memiliki keuntungan atau faidah, maka diamlah. Namun bila telah yakin bahwa ucapan tersebut bermanfaat, hendaklah ia kembali berpikir ulang, adakah kata-kata lain yang lebih bermanfaat dari ucapan tersebut? Bila ada, segera ganti dengan kata-kata yang lain itu.”[2]

Belajar diam merupakan bagian dari belajar mengekang hawa nafsu, karena kebanyakan kata yang terucap hanyalah berasal dari hawa nafsu belaka. Karenanya, para tabi’in tidak dengan serta merta banyak menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya, walaupun ia memiliki kapasitas keilmuan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Hal ini dilakukan sebagai upaya pengekangan terhadap hawa nafsu yang terus mendorong seseorang untuk berbicara.

Al Imam Abu Hanifah pernah berkata kepada salah seorang muridnya, Daud Ath Tha’i, “Wahai Abu Sulaiman sesungguhnya perangkat ilmu telah aku berikan.” Daud berkata, “Lalu, apa lagi yang tersisa?” Abu Hanifah menjawab, “Tinggal mengamalkannya.”

Daud berkata, “Nafsuku mendorongku untuk keluar dari majlis beliau (Abu Hanifah) dan membuka majlis baru. Maka aku berkata kepada nafsuku, “Tidak. Hingga kamu tetap duduk bersama mereka dan tidak menjawab satu pertanyaan pun.”

Maka, ia pun tetap bersama mereka selama satu tahun sebelum membuka kajian sendiri. Ia berkata, “Banyak pertanyaan yang datang dan aku mengekang ambisiku untuk menjawab lebih dari hasrat seorang yang kehausan air, dan aku tetap tidak menjawabnya. Kemudian setelah itu aku menyendiri dari mereka untuk membuka kajian sendiri.”[3]

Lihatlah bagaimana salafush shalih senantiasa melawan keinginan hawa nafsunya untuk senantiasa mengucapkan kata-kata yang tidak bermanfaat. Bahkan, Abdullah bin Abi Zakaria telah meletakkan batu di dalam mulutnya untuk belajar diam.[4] Dan Abdullah melakukan hal tersebut selama 20 tahun, sampai ia bisa mengendalikannya![5]

Meninggalkan ucapan atau perbuatan yang tidak berguna merupakan tolok ukur baik tidaknya keislaman seseorang. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda :

Di antara ciri kebaikan keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah pun telah mengabarkan kepada kita bahwa kebanyakan manusia yang masuk neraka disebabkan oleh dua hal : lisan dan farj (kemaluan).[6] Karenanya tidak salah bila menikah merupakan separuh diin. Hal ini dikarenakan orang yang menikah telah menutup 1 dari dua pintu menuju neraka. Selanjutnya adalah tinggal bagaimana ia menutup pintu yang kedua: pintu lisan.

Menjaga lisan dari ucapan yang tidak berguna memang sulit. Begitu mudahnya kata-kata mengalir keluar, bahkan tanpa kita sadari. Padahal, sebagian ulama salaf telah menegaskan : “Tidak berguna seluruh ucapan anak Adam, kecuali dzikrullah.” [7] Sungguh, amat beruntung seorang yang telah berhasil menjaga lisannya. Karena hal tersebut menunjukkan kelurusan iman di dalam hatinya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, dari Anas bin Malik :

Tidak lurus iman seorang hamba hingga lurus hatinya,dan tidak lurus hati seorang hamba hingga lurus lisannya.” (HR. Ahmad)


[1] Lihat Silsilah Ta’limil Lughatil ‘Arabiyah; Al Qira’ah Mustawa Tsalits hal. 22-24

[2] Al Jawabul Kaafi : 171

[3] Hilyatul Aulia : 7/342

[4] Hilyatul Aulia : 5/125

[5] Shifatush Shafwah : 4/431

[6] Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari, Ahmad, dan Tirmidzi dari Abu Hurayrah.

[7] Al Jawabul Kafi : 170

Nasihat untuk Thullabul ‘Ilmi

Oleh : Al Imam Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah[1]

Belajar Islam

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasul-Nya Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya. Amma ba’du: Tidak diragukan lagi bahwa menuntut ilmu termasuk dari ibadah (taqarrub) yang paling utama dan merupakan sebab-sebab keberuntungan meraih syurga serta kemuliaan bagi siapa yangmengamalkannya.

Termasuk dari perkara yang paling penting dalam hal ini adalah ikhlas dalam menuntutnya, yaitu hendaknya menuntut ilmu itu karena Allah,  bukan karena tujuan yang lain.  Karena hal itu adalah jalan untuk mendapat manfaat dari ilmu dan diberi taufik untuk meraih tingkatan-tingkatan yang tinggi, baik di dunia maupun di akhirat.

Telah disebutkan dalam hadits dari Nabi Salallahu Alayhi Wasalam, bahwa beliau bersabda:

“Barang siapa menuntut ilmu yang seharusnya dicari hanya karena mengharap wajah Allah lalu ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan tujuan duniawi, maka ia tidak akan mencium bau syurga pada hari kiamat kelak.” (HR. Abu Dawud dengan sanad hasan)

Dan Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad yang ada kelemahan didalamnya dari Nabi Salallahu Alaihi Wasalam bahwa beliau bersabda:

“Barang siapa menuntut ilmu untuk berdebat dengan para ulama atau menyelisihi orang-orang bodoh atau untuk memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya, maka Allah akan memasukkannya kedalam neraka.” (HR. Tirmidzi)

Maka saya wasiatkan kepada setiap penuntut ilmu dan setiap muslim yang membaca pesan ini agar mengikhlaskan niat karena Allah dalam semua perbuatan (amal) sebagai pengamalan dari firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (QS.Al-Kahfi (18): 110).

Dan dalam shahih Muslim dari Nabi Salallahu Alaihi Wasalam, bahwa beliau bersabda:

“Allah ‘‘Azza Wa Jalla berfirman,’ Aku adalah serikat yang paling kaya dan tidak butuh dengan serikat barang siapa yang melakukan suatu amal dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku didalamnya, maka Aku tinggalkan ia dan sekutunya.” (HR. Muslim)

Sebagaimana saya wasiatkan kepada setiap penuntut ilmu dan setiap muslim agar takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menyadari bahwa Dia selalu mengawasinya dalam setiap urusan, hal ini merupakan pengamalan dari firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (QS. Al-Mulk (67): 12).

Dan firman-Nya: (QS. Ar-Rahman (55): 46).

Dan telah berkata sebagian salaf, “ Kepala ilmu itu ialah takut kepada Allah.”

Dan berkata pula Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Cukuplah takut kepada Allah itu suatu ilmu, dan cukuplah tertipu (tidak takut) dengan-Nya itu suatu kebodohan.”

Sebagian salaf yang lain berkata, “Barang siapa yang kepada Allah dia lebih mengenal, niscaya terhadap-Nya ia lebih takut.”

Sebagai dalil yang membenarkan ungkapan tersebut ialah  sabda Nabi Salallahu Alaihi Wasalam kepada para sahabatnya:

“Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan bertakwa kepada Allah diantara kalian.”

Maka semakin kuat ilmu seorang hamba terhadap Allah, niscaya hal  itu akan menjadi sebab kesempurnaan ketakwaan dan keikhlasannya serta berhentinya seorang hamba pada hudud (batasan-batasan Allah) dan kewaspadaannya dari maksiat-maksiat. Oleh karena itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: (QS. Faathir (35): 28).

Maka orang-orang yang berilmu tentang Allah dan agama-Nya mereka adalah orang yang paling takut dan bertakwa kepada Allah serta paling lurus dalam dien-Nya, diatas mereka semua itu adalah para Nabi dan rasul Alaihi Salam, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan.

Oleh karena itu Nabi Salallahu Alaihi Waslaam memberitahu bahwa termasuk dari tanda-tanda kebahagiaan adalah jika Allah memahamkan seorang hamba-Nya terhadap dien-Nya, maka bersabda Rasulullah Salallahu Alaihi Waslam:

“Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya niscaya Dia fahamkan orang itu tentang dien.” (HR.Bukhari dan Muslim -dari sahabat Mu’awiyah Radhiallahu ‘anhu-)

Hal itu tidak lain karena kepahaman tentang dien akan mendorong sesorang untuk mengerjakan perintah-perintah Allah, takut kepada-Nya, mengerjakan  apa yang difardhukan oleh-Nya dan  hati-hati dari kemurkaan-Nya serta menuntunnya kepada akhlak-akhlak yang mulia, amal-amal yang baik dan nasehat (menunaikan hak-hak) Allah serta hamba-hamba-Nya.

Maka saya mohon kepada Allah ‘Azza Wa Jalla aga Dia berkenan mengaruniakan kepada kita, para penuntut ilmu dan seluruh kaum muslimin kepahaman tentang dien-Nya dan istiqamah diatasnya serta melindungi kita semua dari keburukan-keburukan diri kita dan kejelekan-kejelekan amal kita. Sesungguhnya Dia-lah yang paling layak dan maha berkuasa atas hal itu.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam atas hamba dan rasul-Nya Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

 

Tawshiyat

Beberapa wasiat yang sering diulang-ulang oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah[2]

Wasiat-wasiat Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah sangat banyak dan berbeda-beda, tergantung kondisi dan orang-orang yang dinasehati. Akan tetapi ada beberapa wasiat-wasiat tertentu yang beliau sering mengulang-ulangnya, baik dalam sambutan-sambutannya, ceramah-ceramahnya, surat-suratnya maupun nasehat-nasehat secara lisan kepada beberapa orang. Di antara wasiat-wasiat tersebut ialah :

  1. Wasiat untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala
  2. Memberikan perhatian terhadap Al-Qur’an Al Karim, baik dengan menghafalnya, mentadabburinya, berhukum dengannya dan mengamalkannya.
  3. Memberikan perhatian terhadap As-Sunnah, mengamalkannya dan menghafal apa yang mudah darinya.
  4. Bersungguh- sungguh dalam berda’wah menyeru  manusia kepada Allah, amar ma’ruf dan nahi munkar serta bersabar atasnya
  5. Memberikan perhatian terhadap kitab-kitab aqidah, beliau berwasiat untuk menghafal apa yang mudah darinya seperti Aqidah wasithiyah, Risalah at Tadmuriah dan selainnya dari kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah; dan Kitab tauhid, Tsalatsatul Ushuul serta Kasyfu Asy-Syubuhat karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
  6. Berwasiat untuk membaca kitab-kitab hadits, seperti : Bukhari, Muslim dan kitab-kitab sunnah serta musnad yang lainnya dan menghafal apa yang  mudah darinya seperti : ‘Umdatul Ahkam karya Al Maqdisi rahimahullah, Bulughul Maram karya Ibnu Hajar rahimahullah dan Al Arba’in An Nawawiyah karya An Nawawi rahimahullah beserta pelengkapnya karya Ibnu Rajab rahimahullah.
  7. Berwasiat untuk menjaga persatuan kalimat kaum muslimin dan  peringatan untuk menjauhi perpecahan dan perselisihan.

 

 Wallahu a’lam…


[1] Dikutip dari kitab Jawaanib Min Siirati Al Imam Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, oleh Syaikh Muhammad bin  Musa al Musa. Hlm. 427

[2] Dikutip dari kitab Jawaanib Min Siirati Al Imam Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, oleh Syaikh Muhammad bin  Musa al Musa. Hlm. 429

Hatim Yang Tuli (Hatim Al ‘Asham)

Nama lengkapnya Abu Abdurrahman Hatim bin Alwan. Namun, beliau lebih populer dengan nama Hatim Al ‘Asham atau Hatim yang tuli. Tahukah engkau, mengapa seorang ‘ulama yang mulia ini diberi julukan “yang tuli”?

Syaikh An Nawawi Al Bantani dalam Syarh Nashaihul Ibad menceritakan bahwa Abu Abdurrahman Hatim bin Alwan pernah menikahi seorang perempuan. Setelah menikah, maka beliau pun mulai berbincang-bincang dengan istrinya. Pada saat itu, istrinya berbicara sambil mengeluarkan suara yang tidak sedap didengar.

Mendengar hal ini, Hatim kemudian berkata sambil sedikit berteriak, “ulangi perkataanmu, ulangi perkataanmu” sampai beberapa kali. Hal ini dilakukan demi menjaga kehormatan istrinya agar tidak merasa malu di hadapan suaminya tercinta. Perbuatannya tersebut membuat istrinya mengira bahwa Hatim merupakan orang yang agak lemah pendengarannya atau seorang yang tuli. Hal ini tidak diketahui oleh istrinya hingga akhir hayatnya. Selama mendampingi Hatim, istrinya mengira bahwa suaminya memang seorang yang tuli.

Maka, adakah seorang suami hari ini yang sanggup menjaga kehormatan istrinya seperti Hatim Al ‘Asham menjaga istrinya? Semoga masih ada… dan semoga anda adalah orangnya… 🙂