Al Imam Al Mahdi (bag. 3)

KEMUNCULAN AL IMAM AL MAHDI DAN PERANG AKHIR ZAMAN

 

عن أم سلمة زوج النبي صلى الله عليه وسلم عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “يكون اختلافٌ عند موت خليفة فيخرجُ رجل من أهل المدينة هارباً إلى مكَّة فيأتيه ناس من أهل مكة فيخرجونه وهو كاره فيبايعونه بين الركن والمقام ويبعث إليه بَعْثٌ من الشام فَتُخْسَفُ بهم البيداءُ بين مكة والمدينةِ “. روه أبو داود

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, bahwa Nabi bersabda : “Akan terjadi perselisihan pada kematian seorang khalifah, hingga keluarlah seorang dari penduduk Madinah melarikan diri ke Makkah. Kemudian orang-orang dari penduduk Makkah mendatangi dan mengeluarkannya dari kota itu, sedangkan ia tidak menyukai hal tersebut. Maka mereka membai’atnya di antara Rukun dan Maqam. Lalu dikirimlah utusan dari Syam, serta mereka dihancurkan di Baida’, antara Makkah dan Madinah.” [HR. Abu dawud]

عن أم سلمة رضى الله تعالى عنها قالت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يبايع لرجل من أمتي بين الركن والمقام كعدة أهل بدر .مستدرك الحاكم [8328]

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “Seseorang dari umatku akan dibai’at di antara rukun dan maqam oleh orang-orang sejumlah Ahlu Badr (313 orang). [Mustadrak Al Hakim no. 8328]

 

عن نافع بن عتبة قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : تغزون جزيرة العرب فيفتحها الله ثم تغزون فارس فيفتحها الله ثم تغزون الروم فيفتحا الله ثم تغزون الدجال فيفتحه الله . روه مسلم

              Dari Nafi’ bin ‘Utbah, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : Engkau akan memerangi Jazirah Arab dan Allah akan memenangkannya untukmu. Kemudian engkau akan memerangi Persia dan Allah akan memenangkannya untukmu. Kemudian engkau akan memerangi Romawi dan Allah akan memenangkannya untukmu. Kemudian engkau akan memerangi Dajjal dan Allah akan memenangkannya untukmu. [Shahih Muslim]

 

روى أحمد[5/245]  وأبو داود [4294] عن معاذ : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : عمران بيت المقدس خراب يثرب ، وخراب يثرب خروج الملحمة ، وخروج الملحمة فتح القسطنطينية ، وفتح القسطنطينية خروج الدجال.

Diriwayatkan dari Ahmad [5/245] dan Abu Dawud [4294] dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “Kemakmuran Baitul Maqdis akan diiringi pengosongan Yatsrib. Pengosongan Yatsrib akan diiringi oleh keluarnya (kaum muslimin) dalam Al Malhamah (perang akhir zaman/ armageddon), dan Al Malhamah diiringi dengan penaklukan Konstantinopel, dan penaklukan Konstantinopel akan diiringi dengan keluarnya Dajjal.

عن أبى هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال  لا تقوم الساعة حتى يقاتل المسلمون اليهود فيقتلهم المسلمون ، حتى يختبئ اليهودى من وراء الحجر والشجر ، فيقول الحجر أو الشجر : يا مسلم يا عبد الله هذا يهودى خلفى فتعال فاقتله ، إلا الغرقد فإنه من شجر اليهود . متفق عليه

Dari Abu Hurayrah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi Yahudi, maka kaum muslimin membunuhi mereka sehingga orang-orang Yahudi itu bersembunyi di belakang batu dan pohon. Maka, batu dan pohon itu berkata : wahai kaum muslimin, wahai hamba Allah, ini ada orang Yahudi di belakangku, kemarilah, bunuhlah ia! Kecuali pohon gharqad, karena pohon gharqad merupakan pohon orang-orang Yahudi. [Muttafaq ‘Alaih, dengan lafal Muslim]

 

لا تقوم الساعة حتى ينزل الروم بالأعماق أو بدابق فيخرج إليهم جيش من المدينة من خيار أهل الأرض يومئذ فإذا تصافوا قالت الروم خلوا بيننا وبين الذين سبوا منا نقاتلهم فيقول المسلمون لا والله لا نخلي بينكم وبين إخواننا فيقاتلونهم فينهزم ثلث لا يتوب الله عليهم أبدا ويقتل ثلثهم أفضل الشهداء عند الله ويفتتح الثلث لا يفتنون أبدا فيفتتحون قسطنطينية فبينما هم يقتسمون الغنائم قد علقوا سيوفهم بالزيتون إذ صاح فيهم الشيطان إن المسيح قد خلفكم في أهليكم فيخرجون وذلك باطل فإذا جاؤوا الشام خرج فبينما هم يعدون للقتال يسوون الصفوف إذ أقيمت الصلاة فينزل عيسى بن مريم صلى الله عليه وسلم فأمهم فإذا رآه عدو الله ذاب كما يذوب الملح في الماء فلو تركه لانذاب حتى يهلك ولكن يقتله الله بيده فيريهم دمه في حربته. الحديث طويل رواه مسلم في كتاب الفتن (2897) عن أبي هريرة ونحوه حديث ابن مسعود

Tidak akan terjadi kiamat sehingga bangsa Romawi sampai di A’maq atau Dabiq. Kedatangan mereka dihadapi oleh sebuah pasukan yang keluar dari kota Madinah yang merupakan penduduk bumi yang terbaik pada masa itu. Pada saat mereka telah berbaris, bangsa Romawi menggertak : “Biarkan kami masuk untuk membuat perhitungan dengan orang-orang kami yang kalian tawan!” Mendengar gertakan tersebut, kaum muslimin menjawab : “Demi Allah, kami tak akan membiarkan kalian mengusik saudara-saudara kami!” Maka terjadilah peperangan antara kedua pasukan. Sepertiga pasukan Islam akan melarikan diri, maka Allah tidak akan mengampuni mereka selama-lamanya. Sepertiga pasukan Islam akan terbunuh, merekalah sebaik-baik syuhada. Sepertiga yang lainnya akan memperoleh kemenangan dan tidak akan terkena fitnah sedikitpun selamanya. Kemudian mereka menaklukan kota Konstantinopel. Ketika mereka tengah membagi-bagi harta rampasan perang dan telah menggantungkan pedang-pedang mereka pada pohon Zaitun, mendadak suara teriakan setan, “Sesungguhnya Al Masih Ad Dajjal telah menguasai keluarga kalian!”

Mereka pun bergegas pulang, namun ternyata berita itu bohong. Tatkala mereka telah sampai di Syam, barulah Dajjal muncul. Ketika mereka tengah mempersiapkan diri untuk berperang dan merapikan barisan, tiba-tiba datang waktu shalat. Pada saat itulah Nabi Isa bin Maryam turun. Ia memimpin mereka. Begitu melihat Nabi Isa, musuh Allah si Dajjal pun meleleh bagaikan garam yang mencair. Sekiranya ia membiarkannya, sudah tentu musuh Allah itu akan hancur leleh. Namun Allah membunuhnya melalui perantara Nabi Isa, sehingga beliau menunjukkan kepada kaum muslimin darah musuh Allah yang masih segar menempel di ujung tombaknya.

SIMPULAN:

  1. Dibai’atnya Imam Mahdi oleh orang-orang sejumlah Ahlu Badr pasca terjadinya banjir darah di Mina. Setelah itu, Imam Mahdi dan pasukannya menaklukan Jazirah.
  2. Imam Mahdi dan pasukannya melakukan perjalanan ke Baitul Maqdis, Madinah dikosongkan. Yahudi diperangi. Beriring dengan ini, pasukan Khurasan pun melakukan perjalanan ke Baitul Maqdis.
  3. Imam Mahdi memerangi Persia Raya bersama orang-orang Romawi.
  4. Peperangan Akhir Zaman (Armageddon) : Pasukan Imam Mahdi melawan tentara Romawi. Sepertiga kaum muslimin menjadi munafiq, sepertiganya syahid, dan sepertiganya merasakan kemenangan di dunia.
  5. Penaklukan Konstantinopel.
  6. Kemunculan Dajjal.
  7. Kemunculan Nabi Isa dan dibunuhnya Dajjal.

 

Wallahu a’lam…

Al Imam Al Mahdi (bag. 1)

Dalam jilid terakhir Kitab Al Bidayah wa An Nihayah tulisan Ibnu Katsir, Al Fitan wa Al Malahim, beliau membuat satu fasal khusus yang berkaitan dengan isyarat nubuwah tentang munculnya Al Imam Mahdi yang akan membawa kembali kejayaan bagi Islam dan kaum muslimin. Berjihad memerangi musuh-musuh Allah dan memenangkan diin-Nya walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.

Al Mahdi

Sebagian orang menolak isyarat ini, bahkan dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada Al Mahdi kecuali Nabi Isa ‘alayhis salaam. Padahal hadits-hadits yang datang kepada kita yang mengabarkan kehadiran Al Imam Al Mahdi begitu banyak hingga derajat mutawatir. Konsekwensi logisnya adalah kita wajib mengimaninya tanpa keraguan sedikitpun. Karena riwayat yang begitu banyak ini justru saling menguatkan satu sama lainnya. Tidaklah mungkin ratusan orang yang berbeda tempat dan masa hidupnya bersepakat untuk berdusta dan membawakan riwayat ini. Apalagi jika sebagian besar para periwayat tersebut ternyata dikenal sebagai orang-orang shalih dan jujur lagi terpercaya. Alasan apa lagi yang membuat kita menolak isyarat nubuwwah tentang kemunculan Al Imam Al Mahdi?

NAMA DAN NASAB AL IMAM AL MAHDI

عن علي قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “لو لم يبق من الدنيا إلا يوم, لبعث الله رجلاً منا يملأها عدلاً كما ملئت جوراً.” روه الإمام أحمد

Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam : “Sekiranya tidak tersisa umur dunia kecuali satu hari saja,  maka pasti Allah mengutus seseorang dari kami yang akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana (sebelumnya) telah penuh dengan kejahatan dan kadzhaliman.” [HR. Ahmad]

Dengan kata lain, kiamat tidak akan terjadi kecuali Al Imam Al Mahdi telah turun ke muka bumi untuk memenuhi bumi dengan keadilan dan kebenaran.

قال علي ونظر إلى ابنه الحسن فقال إن ابني هذا سيد كما سماه رسول الله صلى الله عليه وسلم وسيخرج من صلبه رجل يسمى باسم نبيكم صلى الله عليه وسلم يشبهه في الخلق ولا يشبهه في الخلق ثم ذكر قصة يملأ الأرض عدلاً. روه أبو داود

 ‘Ali radhiyallahu ‘anhu sambil melihat ke arah anaknya, Al Hasan, kemudian berkata : “Sesungguhnya puteraku ini adalah seorang sayyid sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan akan lahir darinya seorang laki-laki yang namanya sebagaimana nabi kalian shallallahu ‘alayhi wa sallam yang mirip akhlaqnya dengan beliau tapi tidak mirip fisiknya, kemudian akan memenuhi bumi dengan keadilan.” [HR. Abu Dawud]

Hadits di atas menjelaskan bahwa Al Imam Al Mahdi yang akan muncul sebagai pembela Islam dan kaum muslimin berasal dari keturunan Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib, tidak seperti klaim orang-orang Rafidhah (Syi’ah) yang menyatakan bahwa Al Mahdi Al Muntadzhar berasal dari keturunan Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib.

عن عبد الله بن مسعود عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “لو لم يبقَ من الدنيا إلا يوم قال زائدِه لطوَّل الله ذلك اليومَ حتى يُبْعَث فيه رجل مِنِّي أو من أهل بيتي يُواطئُ اسمه اسمي واسمُ أبيه اسم أبي. زاد من حديث قطر: “يملأ الأرض قِسْطاً وعَدْلاً كما مُلِئَتْ ظلماً وجَوراً.” روه أبو داود

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “Sekiranya umur dunia tinggal satu hari…” (dalam riwayat lain ada tambahan) : “Pastilah akan dipanjangkan.” “Sampai dibangkitkannya seorang laki-laki dari Ahlul Bait-ku yang namanya sama dengan namaku dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku.” Terdapat tambahan dalam hadits Qathar : “Ia akan memenuhi bumi dengan kebenaran dan keadilan sebagaimana (sebelumnya) penuh dengan kedzhaliman dan aniaya.” [HR. Abu Dawud]

Hadits ini memberikan penjelasan yang cukup lengkap mengenai nama dan nasab Al Mahdi, beliau adalah Muhammad bin Abdullah Al Alawi (seorang ahlu bait).

عن أم سلمة قالت سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: “المهدي من عِتْرتي من وَلد فاطمة.” روه أبو داود

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “Al Mahdi adalah ‘ithrah-ku, ia merupakan keturunan Fathimah”.” [HR. Abu dawud]

Menurut Ibnu Al Atsir, ithrah seseorang adalah kerabat khususnya. Ithrah Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam adalah Bani Abdul Muththalib. Ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah Ahlul Bait beliau yang terdekat, yaitu anak-anak beliau serta Ali dan anak-anaknya. Yang masyhur dan ma’ruf adalah bahwa maksud ithrah beliau adalah ahlul bait beliau yang diharamkan menerima zakat. [An Nihayah fii Gharib Al Hadits, 3/177]

Al Hafidz Ibnu Katsir berkesimpulan bahwa Al Imam Al Mahdi adalah Muhammad bin Abdullah Al Alawi Al Fathimi Al Hasani bukan Al Husaini. [Al Bidayah wa An Nihayah 10/37]

 

CIRI-CIRI FISIK AL IMAM AL MAHDI

عن أبي سعيد قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “المهديُّ مني أجْلى الجبهة أقنَى الأنْفِ يملأ الأرض قسطاً وعدلاً كما ملئت ظلماً وجوراً يملك سَبْعَ سِنِينَ.” روه أبو داود

Dari Abu Sa’id Al Khudhri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam : “Al Mahdi dari (keturunan)ku. Ia ajla aljabhah dan aqna’ hidungnya. Ia akan memenuhi bumi dengan kebenaran dan keadilan sebagaimana (sebelumnya) telah penuh dengan kedzhaliman dan aniaya. Ia akan memimpin kalian selama tujuh tahun.” [HR. Abu Dawud]

Ada syahid (penguat) dalam hadits Ibnu Adi dalam Al Kamil, dengan tambahan : “memiliki gigi yang rapi.”

Adapun yang dimaksud ajlah adalah berdahi lebar, yaitu rambut bagian depan kepalanya rontok. [Al Gharib, Ibnu Qutaybah 1/309]

Al Khaththabi berkata, “Orang yang ajlah adalah orang yang bagian rambut depan kepalanya rontok, jika rontoknya sampai ke tengah disebut ajla.” [Al Gharib, 1/79]

Sedangkan yang disebut aqna atau qana adalah hidung yang panjang, dan lancip bagian ujungnya, serta sedikit bengkok di tengahnya. [An Nihayah fii Gharib Al Hadits, Ibnu Al Atsir 4/116]

Ibnu Manzhur berkata, “Hidung yang qana adalah hidung yang panjang, lancip ujungnya, dan bengkok tengahnya.” [Lisan Al Arab, 1/104]

Al Abadi berkata, “Maksudnya bahwa Al Mahdi tidak berhidung pesek, karena orang yang berhidung pesek penampilannya kurang disukai.” [Aun Al Ma’bud Syarhu Sunani Abi Dawud 11/92]

KARAKTERISTIK DAN AKHLAQNYA

Sebagaimana dijelaskan dalam hadits ‘Ali di atas, bahwa akhlaq Al Imam Mahdi sama dengan akhlaq Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam. Dalam riwayat yang lain disebutkan,

عن علي قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “المهديُّ مِنَّا أهْلَ البيتِ يُصْلِحُهُ اللَّهُ في ليلةٍ.” روه الإمام أحمد بن حنبل

Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam : “Al Mahdi dari kalangan kami, termasuk Ahlul Bait, Allah akan menshalihkannya dalam waktu satu malam.” [HR. Ahmad]

Berkata Ibnu Katsir, “maksudnya adalah Allah menerima taubatnya, memberikan taufiq baginya, memahamkannya (urusan agama), dan menunjukinya (memberikan huda); setelah sebelumnya tidak demikian.” [Al Bidayah wa An Nihayah, 10/37]

Begitupun dalam kitab shahihnya Ibnu Hibban meriwayatkan hadits dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah bersabda : “Akan keluar seseorang dari ummatku, namanya sama dengan namaku, akhlaqnya sama dengan akhlaq-ku.” [HR. Ibnu Hibban]

 

KEMUNCULAN AL IMAM AL MAHDI

عن عبد الله قال: بينما نحن عند رسول الله صلى الله عليه وسلم اغْرَوْرَقت عيناه وتغير لونه قال: فقلت ما نزال نرى في وجهك شيئاً نكرهه فقال: “إنا أهلُ بيت اختار الله لنا الآخرةَ على الدنيا وإن بيتي سَيلقَوْن بعدي بلاء وتشريداً وتطريداً حتى يأتي قوم من قِبَل المشرق معهم رايات سود فيسألون الخبز فلا يُعْطَونَه فيقاتلون فَيُنْصَرون فيُعْطَوْنَ ما سَأَلوا فلا يَقْبَلُونَهُ حتى يدفعوها إلى رجل من أهل بيتي فيملأها قسطاً كما مُلِئَتْ جَوْراً، فمن أدرك ذلك منكم فليأتهم ولوحبواً على الثلج.” روه ابن ماجه

Dari Abdullah, ia berkata : pada saat kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, wajah beliau memucat dan kedua mata beliau berkaca-kaca. Lalu aku berkata : ‘Kami melihat wajah anda menandakan sesuatu yang tidak menyenangkan.’ Maka Rasulullah menjawab : “Sesungguhnya kami adalah ahlul bait, dan Allah telah memilihkan akhirat untuk kami daripada dunia. Sesungguhnya ahli bait-ku akan menemui derita yang berat serta pengusiran sepeninggalku. Hingga datang suatu kaum dari arah timur dan bersama mereka bendera-bendera berwarna hitam. Pada saat mereka meminta roti dan tidak diberi, maka mereka pun berperang dan menang. Lalu mereka diberi apa yang mereka minta namun mereka tidak menerimanya hingga memberikannya kepada ahli bait-ku. Ia pun memenuhinya dengan kebenaran sebagaimana (sebelumnya) penuh dengan kejahatan. Maka siapa saja yang melihat peristiwa tersebut di antara kalian, datanglah kepada mereka, meskipun harus merangkak di atas salju.” [HR. Ibnu Majah]

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “يخرج من خراسانَ راياتُ سود فلا يردها شيء حتَّى تُنْصبُ بإيلياء.” روه الترمذي

                Dari Abu Hurayrah, ia berkata : Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam : “Akan muncul dari Khurasan bendera-bendera hitam, dimana tidak ada satupun yang dapat mengusirnya hingga ia tertancap di Iliya.

عن ثوبان قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “يُقْتَلُ عند كنْزِكمِ ثلاثةُ كلَّهُم ابن خليفةٍ لا يصير إلى واحد منهم ثم تَطْلُعُ الراياتُ السود من قِبَل المشرق فيقاتلونكم قتالاً لم يقاتله قوم، ثم ذكر شيئاً لا أحفظه قال فإذا رأيتموه فبايعوه ولو حبواً على الثلج فإنه خليفة الله المهدي.” روه ابن ماجه

                Dari Tsauban, ia berkata : Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam : “Akan berperang di harta karun kalian tiga orang yang semuanya adalah putera khalifah. Kemudian ia tidak menjadi milik salah satu di antara mereka, lalu muncul bendera-bendera hitam dari arah Timur. Maka mereka memerangi kalian dengan peperangan yang belum pernah ada sebelumnya.” Kemudian beliau menyebutkan sesuatu yang tidak aku hapal persisnya, tapi kurang lebih seperti ini, “Apabila kalian melihatnya, maka bai’atlah ia, meskipun kalian harus merangkak di atas salju. Karena ia adalah Khalifah Allah Al Mahdi.” [HR. Ibnu Majah]

عن أم سلمة زوج النبي صلى الله عليه وسلم عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “يكون اختلافٌ عند موت خليفة فيخرجُ رجل من أهل المدينة هارباً إلى مكَّة فيأتيه ناس من أهل مكة فيخرجونه وهو كاره فيبايعونه بين الركن والمقام ويبعث إليه بَعْثٌ من الشام فَتُخْسَفُ بهم البيداءُ بين مكة والمدينةِ “. روه أبو داود

                Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, bahwa Nabi bersabda : “Akan terjadi perselisihan pada kematian seorang khalifah, hingga keluarlah seorang dari penduduk Madinah melarikan diri ke Makkah. Kemudian orang-orang dari penduduk Makkah mendatangi dan mengeluarkannya dari kota itu, sedangkan ia tidak menyukai hal tersebut. Maka mereka membai’atnya di antara Rukun dan Maqam. Lalu dikirimlah utusan dari Syam, serta mereka dihancurkan di Baida’, antara Makkah dan Madinah.” [HR. Abu dawud]

Tidak ada keterangan yang qath’i mengenai kapan pastinya Al Imam Al Mahdi ini muncul dan menampakkan dirinya. Namun, dari hadits-hadits di atas dapat diambil kesimpulan bahwa masa dimana Al Imam Al Mahdi muncul merupakan masa-masa kegelapan bagi ummat Islam. Masa puncaknya fitnah. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Fitnah Akhir Zaman, dimana pada fitnah terakhir (Duhaima’) ummat benar-benar dalam kondisi kritis, kejahatan dan kedzhaliman merajalela. Kemaksiatan dan aniaya di mana-mana. Pada saat itulah kemudian Allah mengutus Al Imam Al Mahdi untuk menyelamatkan kaum muslimin dan memberikan kejayaan bagi mereka. Al Imam Al Mahdi akan berperang bersama pasukan berbendera hitam yang datang dari arah timur (Khurasan). Beliau akan berperang dan tidak akan kalah. Dari mulai jazirah arab untuk merebut kekuasaan dari anak raja yang bertikai, lalu kemudian ke Syam untuk membunuh orang-orang Yahudi dan memporakporandakan kekuatan Israel, menaklukan Persia (Negara Syi’ah Iran), dan Romawi (Eropa dan Amerika). Beliau akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kebenaran.

Wallahu a’lam

Fitnah Akhir Zaman

FITNAH AHLAS, SARRA’, DAN DUHAIMA’

 

عَنْ عُمَيْرِ بْنِ هَانِئٍ الْعَنْسِيِّ ، قَالَ : سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ ، يَقُولُ : كُنَّا قُعُودًا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ، فَذَكَرَ الْفِتَنَ فَأَكْثَرَ فِي ذِكْرِهَا حَتَّى ذَكَرَ فِتْنَةَ الْأَحْلَاسِ ، فَقَالَ قَائِلٌ : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا فِتْنَةُ الْأَحْلَاسِ ؟ قَالَ : ” هِيَ هَرَبٌ وَحَرْبٌ ، ثُمَّ فِتْنَةُ السَّرَّاءِ ، دَخَنُهَا مِنْ تَحْتِ قَدَمَيْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يَزْعُمُ أَنَّهُ مِنِّي ، وَلَيْسَ مِنِّي ، وَإِنَّمَا أَوْلِيَائِي الْمُتَّقُونَ ، ثُمَّ يَصْطَلِحُ النَّاسُ عَلَى رَجُلٍ كَوَرِكٍ عَلَى ضِلَعٍ ، ثُمَّ فِتْنَةُ الدُّهَيْمَاءِ ، لَا تَدَعُ أَحَدًا مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا لَطَمَتْهُ لَطْمَةً ، فَإِذَا قِيلَ : انْقَضَتْ ، تَمَادَتْ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا ، وَيُمْسِي كَافِرًا ، حَتَّى يَصِيرَ النَّاسُ إِلَى فُسْطَاطَيْنِ ، فُسْطَاطِ إِيمَانٍ لَا نِفَاقَ فِيهِ ، وَفُسْطَاطِ نِفَاقٍ لَا إِيمَانَ فِيهِ ، فَإِذَا كَانَ ذَاكُمْ فَانْتَظِرُوا الدَّجَّالَ ، مِنْ يَوْمِهِ ، أَوْ مِنْ غَدِهِ ” أبو داود

Dari ‘Umair bin Hani Al ‘Ansiy. Ia berkata: Aku mendengar ‘Abdullah bin ‘Umar berkata: “Pada suatu hari kami sedang duduk bersama Rasulullah –shallallahu ‘alayhi wa sallam-. Beliau memberikan peringatan tentang fitnah-fitnah (ujian di akhir zaman) yang banyak bermunculan, sampai beliau menyebutkan Fitnah Ahlas, seseorang bertanya : “Wahai Rasulallah, apa yang dimaksud fitnah ahlas? Beliau menjawab : “Yaitu fitnah pelarian dan peperangan. Kemudian  Fitnah Sarra’, kotoran atau asapnya berasal dari bawah kaki seseorang dari Ahlubaitku, ia mengaku bagian dariku, padahal bukan dariku, karena sesungguhnya waliku hanyalah orang-orang yang bertaqwa. Kemudian manusia bersepakat pada seseorang seperti bertemunya pinggul di tulang rusuk, kemudian Fitnah Duhaima’ yang tidak membiarkan ada seseorang dari umat ini kecuali dihantamnya. Jika dikatakan : ‘Ia telah selesai’, maka ia justru berlanjut, di dalamnya seorang pria pada pagi hari beriman, tetapi pada sore hari men­jadi kafir, sehingga manusia terbagi menjadi dua kemah, kemah keimanan yang tidak mengandung kemunafikan dan kemah kemunafikan yang tidak mengandung keimanan. Jika itu sudah terjadi, maka tunggulah kedatangan Dajjal pada hari itu atau besoknya. [HR. Abu Dawud]

 

Fitnah Akhir Zaman

FITNAH AHLAS

Kata Ahlas merupakan bentuk plural dari kata “hilsun ” atau “halasun”, yaitu alas pelana atau kain di punggung unta yang berada di bawah pelana. Fitnah ini diserupakan dengan alas pelana karena ada persamaan dari sisi terus menerus menempel / terjadi.

Tentang realita fitnah Ahlas ini, sebagian ada yang berpendapat bahwa ia sudah terjadi semenjak zaman para sahabat, dimana Al Faruq ‘Umar bin Al Khaththab adalah merupakan dinding pembatas antara kaum Muslim­in dengan fitnah ini, sebagaimana yang diterangkan Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam ketika beliau berkata kepada ‘Umar: “Sesungguhnya antara kamu dan fitnah itu terdapat pintu yang akan hancur.”[HR. Bukhari dan Muslim]

Dan sabda Rasul Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam ini memang menjadi kenyataan dimana ketika ‘Umar baru saja meninggal dunia, hancurlah pintu tersebut dan terbukalah fitnah ini terhadap kaum Muslimin dan ia tidak pernah berhenti sampai sekarang.

FITNAH SARRA’

Adapun Fitnah Sarra’, Imam Ali Al Qaari menyatakan ; yang di maksud dengan fitnah ini adalah nikmat yang menyenangkan manusia, berupa kesehatan, kekayaan, selamat dari musibah dan bencana. Fitnah ini di sambungkan dengan Sarra’ karena terjadinya di sebabkan oleh kemaksiatan, karena kehidupan yang bermewah mewah yang hal tersebut menyenangkan musuh dalam artian umat Islam jadi terlena dengan kehidupan tersebut sehingga apabila agamanya di hina tidak ada sedikitpun terdetik di hatinya untuk membelanya (jika dirinya, keluarganya di hina, golongannya atau benderanya di hina ia akan cepat naik darah. Akan tetapi jika pada gilirannya Allah dan RasulNya di hina, Islam dihina dan dilecehkan, banyak darah kaum muslimin yang tertumpah sia sia ia diam seribu bahasa, sedikitpun tidak ada pembelaan sampai do’apun tidak). Demikian Imam Ali Al Qaari menjelas fitnah tersebut.

Di antara realita fitnah Sarra’ adalah : merebaknya kejahatan, pembunuhan, perzinaan, khamr, dan musik. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam :

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ، وَلَيَنْزِلَنَّ أَقْوَامٌ إِلَى جَنْبِ عَلَمٍ يَرُوحُ عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَهُمْ، يَأْتِيهِمْ يَعْنِي الْفَقِيرَ- لِحَاجَةٍ فَيَقُولُونَ: ارْجِعْ إِلَيْنَا غَدًا، فَيُبَيِّتُهُمُ اللهُ وَيَضَعُ الْعَلَمَ وَيَمْسَخُ آخَرِيْـنَ قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

“Akan datang pada umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina sutra, khamr (minuman keras) dan alat musik, dan sungguh akan menetap beberapa kaum di sisi gunung, di mana (para pengembala) akan datang kepada mereka dengan membawa gembalaannya, datang kepada mereka -yakni si fakir- untuk sebuah keperluan, lalu mereka berkata, ‘Kembalilah kepada kami esok hari.’ Kemudian Allah menghancurkan mereka pada malam hari, menghancurkan gunung dan merubah sebagian mereka menjadi kera dan babi sampai hari Kiamat.” [Shahiih al-Bukhari, kitab al-Asyrubah, bab Ma Jaa-a fiiman Yastahillul Khamra wa Yusammihi bighairi Ismihi (X/51, Al Fath]

Ibnu Hazm rahimahullah menyebutkan bahwa hadits ini Munqathi, tidak bersambung (sanadnya) antara al-Bukhari dan Shadaqah bin Khalid. Namun Al ‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah membantahnya dengan beberapa rincian. Wallahu a’lam

Juga sabda Rasul:

عَنْ ‏ ‏أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ‏ ‏قَالَ ‏: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏: ‏إِنَّ ‏ ‏مِنْ ‏ ‏أَشْرَاطِ السَّاعَةِ ‏ ‏أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا . رواه البخاري ومسلم.

Daripada Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu katanya; Sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam: “Sesungguhnya antara tanda-tanda kiamat itu ialah; diangkat ilmu (agama), tersebar kejahilan (terhadap agama), arak diminum (secara berleluasa), dan zahirnya zina (secara terang-terangan)”. [Riwayat Al Bukhari no. 78 dan Muslim no. 4824]

Terjadinya fitnah sarra’ ini diawali oleh seorang yang secara nasab bersambung kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam (Ahlul Bait). Namun perilakunya yang menyebabkan bencana ini menjadikannya tidak bisa dianggap bagian darinya.

Beliau juga mengatakan bahwa boleh jadi yang dimaksud “yaz’umu annahu minni” adalah mengklaim bahwa apa yang dikerjakan adalah datang dari Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, meskipun jika dilihat dzahir nash-nya adalah benar-benar mengaku secara nasab.


FITNAH DUHAIMA’

Jika untuk kedua fitnah di atas Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam hanya menjelaskan secara singkat, maka untuk Fitnah Duhaima beliau saw memberikan penjelasan yang lebih rinci. Ada beberapa ciri khusus dari fitnah ini yang tidak dimiliki oleh fitnah sebelumnya.

  1. Fitnah ini akan menghantam semua umat islam (lebih khusus lagi pada bangsa Arab). Tidak seorangpun dari warga muslim yang akan terbebas dari fitnah ini. Beliau menggunakan lafadz “lathama” yang bermakna menghantam, atau memukul bagian wajah dengan telapak tangan (menempeleng/menampar). Kalimat ini merupakan gambaran sebuah fitnah yang sangat keras dan ganas.
  2. Fitnah ini akan terus memanjang, dan tidak diketahui oleh manusia kapan ia akan berakhir. Bahkan ketika manusia ada yang berkata bahwa fitnah itu sudah berhenti, yang terjadi justru sebaliknya; ia akan terus memanjang dan sulit diprediksi kapan berhentinya. Inilah maksud ucapan beliau : Jika dikatakan : ‘Ia telah selesai’, maka ia justru berlanjut.
  3. Efek dahsyat yang ditimbulkan oleh fitnah ini, yaitu munculnya sekelompok manusia yang di waktu pagi masih memiliki iman, namun di sore hari telah menjadi kafir. Ini merupakan sebuah gambaran tentang kerasnya fitnah tersebut.
  4. Terbelahnya manusia (muslim) dalam dua kelompok/kemah besar. Satu kelompok berada di kemah keimanan dan kelompok lainnya berada di kemah kemunafiqan.

Untuk lebih jelasnya, mudah-mudahan uraian di bahwa ini bisa menyingkap misteri yang masih menyelimuti fitnah ini.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menggambarkan bahwa fitnah ini bersifat menghantam seluruh umat ini (hadzihi ummah). Umat yang dimaksudkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dalam hadits tersebut sudah pasti bermakna umat Islam. Namun, apakah ia khusus untuk bangsa Arab (dimana yang diajak bicara oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam saat itu adalah para sahabat yang merupakan orang Arab) ataukah berlaku umum untuk seluruh manusia?  Jika melihat keumuman lafadz, maka kedua makna tersebut adalah benar adanya. Fitnah tersebut bisa menimpa kepada setiap muslim baik Arab maupun ‘ajam, sebab dalam nash tentang hadits fitnah Duhaima’ Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam tidak menyebut lafadz khusus Bangsa Arab. Lalu, fitnah seperti apa yang pernah menimpa seluruh umat Islam dan terkhusus umat Islam dari bangsa Arab?

1.    Fitnah Ghazwul Fikri (perang ideologi)

Pengaruh asing, dari mulai filsafat Yunani, sekularisme, liberalisme, atau demokrasi, merajalela di seluruh belahan bumi Arab secara khusus, dan umat Islam secara umum. Bahkan hingga kini, berbagai macam isme ini telah menggantikan syari’at Islam dalam setiap lini kehidupan, sehingga tidak ada satupun yang sanggup keluar darinya. Ini merupakan ciri khas fitnah Duhaima’ sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah. Begitupun bahwa fitnah ini dapat menyebabkan murtadnya seseorang dari diinil Islam karena berpalingnya mereka dari ajaran yang haqiqi serta terjadi dalam waktu yang sangat panjang yang tidak bisa ditentukan kapan berakhirnya.

2.   Fitnah “Terorisme”

Kita lihat fakta di lapangan hari ini, bahwa Fitnah Terorisme memiliki beberapa kesamaan sifat dan ciri dengan fitnah duhaima’. Fitnah Terorisme juga memakan waktu yang sangat panjang. Dulu orang memperkirakan hanya akan memakan waktu sekitar 6 tahun saja, akan tetapi hingga saat ini juga masih berlangsung .

Ciri fitnah duhaima’ selanjutnya, menjadikan manusia mudah murtad. Demikian pula fitnah terorisme hari ini yang dengan mudahnya orang melakukan kemutadan. Sedangkan kemutadan yang paling mencolok dari fitnah terorisme hari ini adalah loyalitas kepada orang orang kafir serta tolong menolong dengan mereka dalam memerangi umat Islam. Sehingga Umat Islam terpecah menjadi dua kubu ; Kubu mukmin dan kubu munafiq. Yang mungkin kubu munafiq ini adalah setiap orang yang mengaku muslim tetapi tunduk dan suka rela bekerja sama dengan orang kafir (baik itu di lakukan dengan lisannya saja maupun dengan seluruh potensi yang di miliki dia kerahkan).

Wallahu a’lam bish shawab

Tutuplah Aibmu, Saudaraku…

Bismillah… Semoga bermanfaat…

عَنْ أَبَي هُرَيْرَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنْ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

Dari Abu Hurayrah, ia berkata : Aku telah mendengar Rasulullah – shallallahu ‘alayhi wa sallam – bersabda: [Setiap ummatku dimaafkan, kecuali al mujahirin. Dan sesungguhnya termasuk al mujaharah adalah seorang yang bermaksiat pada malam hari kemudian pada pagi harinya – padahal Allah telah menutupinya – ia berkata : “Wahai fulan, aku telah melakukan hal ini dan hal itu.” Allah telah menutup (aib)nya pada malam hari dan ia membukanya pada pagi harinya]. (Shahih Al Bukhari no. 6069)

Hadits ini mengandung beberapa faidah yang agung, di antaranya:

  1. Setiap umat Islam pasti akan mendapat ampunan Allah ta’ala, kecuali Al Mujahir.
  2. Setiap orang pasti melakukan kemaksiatan dan orang yang paling buruk di antara mereka (ahli maksiat) adalah para al mujahir, yaitu : mereka yang memperlihatkan maksiat dan keburukan mereka di depan orang lain, atau mereka yang sekedar menceritakan kemaksiatan atau aib yang telah mereka lakukan kepada orang lain tanpa sebab yang disyari’atkan (sekedar menceritakan).
  3. Menutupi aib diri sendiri bukanlah kemunafikan bahkan hal tersebut diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
  4. Pentingnya rasa malu dalam diri seorang muslim, dan di antara ciri seorang muslim yang masih memiliki rasa malu adalah : tidak menceritakan aib diri sendiri atau bahkan memperlihatkan kemaksiatan di hadapan orang lain.
  5. Sebaik-baik orang yang bermaksiat adalah orang yang bertaubat, dan jika diri masih terlalu lemah dan seringkali kalah oleh hawa nafsu, maka minimal kita bermaksiat tidak di hadapan orang lain dan menyembunyikan aib serta kemaksitan yang telah kita lakukan tersebut, lalu kembali bertaubat atasnya, berusaha memperbaikinya,  dan berdoa agar Allah senantiasa menutupi aurat dan aib-aib kita.
  6. Menceritakan aib diri sendiri merupakan perbuatan yang dicela, apalagi menceritakan aib orang lain (saudara se islam), dan ini telah dijelaskan dalam banyak ayat dan hadits.

Wallahu a’lam…

Syirik Ketaatan (Tafsir QS. At Tawbah ayat 31)

اتخذوا أحبارهم و رُهبانهم أربابا من دون الله

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah ‘’ (QS. At Tawbah, 9 : 31)

Pada ayat ini Allah memvonis orang Nashara dengan lima vonis :

  1. Orang-orang Nashara tersebut telah mempertuhankan para alim ulama dan pendeta mereka
  2. Mereka telah beribadah kepada selain Allah
  3. Mereka telah melanggar Laa ilaaha illallaah
  4. Mereka musyrik
  5. Alim ulama dan pendeta mereka telah memposisikan dirinya sebagai Arbab

Ketika ayat ini dibacakan di hadapan shahabat ‘Adiy Ibnu Hatim (asalnya beliau ini Nashrani), sedang beliau datang kepada Rasul dalam keadaan masih Nashrani. Ketika mendengar ayat ini dengan vonis-vonis di atas, maka ‘Adiy Ibnu Hatim mengatakan : Kami (maksudnya : dia dan orang-orang Nashrani) tidak pernah shalat, sujud kepada alim ulama kami, atau kepada pendeta kami, lalu kenapa Allah memvonis kami musyrik.

Jadi yang ada dalam benak ‘Adiy Ibnu Hatim bahwa yang namanya ibadah itu adalah shalat, sujud atau berdoa. Sehingga mereka tidak mengetahui bahwa yang mereka lakukan selama ini adalah ibadah kepada selain Allah yang merupakan kemusyrikan, mereka heran.

Sebenarnya, apa kemusyrikan yang dilakukan dan bagaimana bentuknya sehingga kami disebut telah mentuhankan alim ulama ? Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Bukankah alim ulama dan pendeta kalian itu menghalalkan apa yang telah Allah haramkan lalu kalian ikut-ikutan menghalalkannya ? bukankan mereka mengharamkan apa yang telah Allah halalkan kemudian kalian juga mengharamkannya ?”, lalu ‘Adiy berkata : “Ya !”, maka Rasul berkata : “Itulah bentuk peribadatan mereka”.

Jadi, ketika ada manusia, baik itu ‘ulama, masyaikh, atau siapapun ia, yang memposisikan dirinya sebagai pembuat hukum dan mengklaim memiliki kewenangan untuk membuat hukum, undang-undang, atau syari’at, maka dia mengklaim bahwa dirinya sebagai Rabb. Adapun orang yang mengikuti, menaati, atau menjalankan hukum-hukum buatan mereka itu pada hakikatnya sedang beribadah kepada si pembuat hukum dan dapat terjerumus ke dalam kemusyrikan.

Syaikh Al Islam Ibnu Taymiyyah –Rahimahullah– berkata tentang ayat ini:

“Orang-orang yang mengikuti ahbar dan ruhban (seperti dalam surat At Tawbah: 31) dengan menaati mereka dalam menghalalkan apa-apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa-apa yang dihalalkan-Nya, maka mereka terbagi menjadi dua golongan: Pertama; orang-orang yang mengetahui bahwa mereka (ahbar dan ruhban) telah mengubah agama Allah, namun mereka tetap mengikutinya, serta menerima penghalalan apa-apa yang diharamkan-Nya dan pengharaman apa-apa yang dihalalkan-Nya karena mengikuti mereka, maka orang seperti ini adalah orang-orang kafir.

Kedua; orang-orang yang meyakini dan beriman bahwa pengharaman yang halal dan penghalalan yang haram haruslah berlandaskan kepada syari’at Allah, namun mereka tetap mentaati para ahbar dan ruhban dalam bermaksiat kepada-Nya, maka perbuatan mereka sama halnya dengan seorang muslim yang melakukan perbuatan dosa dan dia menganggap bahwa perbuatannya adalah maksiat, maka status mereka sama dengan status para pelaku maksiat tersebut, yaitu tidak kafir.” [Kitab Al-Iman (al-Maktab al-Islamiy, 1392 H), hal. 67 dan Majmu’ al-Fatawa (Riyadh: Mathabi’ ar-Riyadh, 1381 H), 7/70]

Asy Syaikh Muhammad Jamil Jainu pengajar di Darul Hadits Makkah Al Mukarramah dalam Kitabnya Minhaj Firqatun Najiyah berkata:

أنواع الشرك الأكبر : شرك الطاعة: و هو طاعة العلماء و المشايخ في المعصية مع اعتقادهم جواز ذلك لقوله تعالى : “اتخذوا أحبارهم و رُهبانهم أربابا من دون الله” (سورة التوبة) و قد فسرت العبادة بطاعتهم في المعصية بتحليل ما حرّم الله و تحريم ما أحل الله . قال صلى الله عليه و سلم :”لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق” (صحيح رواه أحمد)

Macam-macam syirik besar : Syirik ketaatan : yaitu menaati ‘ulama dan Masyaikh dalam hal kemaksiatan dengan meyakini bahwa hal tersebut diperbolehkan. Allah Ta’ala berfirman : “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah ‘’ QS. At  Tawbah, 9 : 31), dan sungguh ketaatan kepada mereka dalam kemaksiatan ditafsirkan sebagai bentuk ibadah kepada mereka. Dengan mengharamkan apa yang telah Allah halalkan dan menghalalkan apa yang Allah haramkan. Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam: “Tidak ada keta’atan kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Al-Khaliq (Allah) ‘’ (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ahmad).

Di halaman lain beliau berkata :

من مظاهر الشرك …….طاعة الحكام أو العلماء أو المشايخ في أمر يخالف نص القرآن أو صحيح السنة

Merebaknya kesyirikan ….. (pada contoh kesyirikan no. 9) : ‘’Taat kepada ketetapan para penguasa, ‘ulama atau syaikh yang bertentangan dengan nash-nash Al-Qur’an dan hadits shahih‘’

Wallahu a’lam

Tafsir “Ahsanu ‘Amala” (QS. Al Mulk ayat 2)

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya” (QS. Al Mulk, 67: 2)

Abu Nu’aim rahimahullahu dalam Hilyatul Auliya (8/95) berkata:

حدثنا أبي ثنا محمد بن أحمد بن يزيد ومحمد بن جعفر قالا ثنا إسماعيل ابن يزيد ثنا إبراهيم بن الأشعث قال سمعت الفضيل بن عياض يقول في قوله لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً قال أخلصه وأصوبه فانه إذا كان خالصا ولم يكن صوابا لم يقبل وإذا كان صوابا ولم يكن خالصا لم يقبل حتى يكون خالصا والخالص إذا كان لله والصواب إذا كان على السنة

Menceritakan kepada kami Bapakku, menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Yazid dan Muhammad bi Ja’far berkata keduanya, menceritakan kepada kami Ismail bin Yazid, menceritakan kepada kami Ibrohim bin Al-’Asy’ats, beliau berkata aku mendengar Al-Fudhail bin ’Iyadh berkata tentang firman Allah: ”Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya”, beliau berkata: ‘Maksudnya, dia ikhlas dan benar dalam melakukannya. Sebab amal yang dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar maka tidak akan diterima. Dan jika dia benar, tetapi tidak ikhlas maka amalnya juga tidak diterima. Adapun amal yang ikhlas adalah amal yang dilakukan karena Allah, sedang amal yang benar adalah bila dia sesuai dengan Sunnah Rasulullah”.

Atsar ini dikutip pula oleh Al-Lalikai dalam Syarah Ushul Itiqad (3/407), Al-Baghawi dalam Tafsir (5/125-124), Ibn Rajab dalam Jami Al-Ulum wal Hikam (3/20 –Tahqiq Dr. Mahir), dan lainnya. Lihat pula perkataan Ibn Katsir semisal ini dalam Tafsirnya (I/231).

Sumber : KEMBANGSUNDA

Karakteristik Ghuraba

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : بدأ الإسلام غريبا وسيعود كما بدأ فطوبى للغرباء – رواه مسلم

Dari Abu Hurayrah radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Islam dimulai dalam kondisi asing, dan akan kembali sebagaimana ia dimulai (sebagai sesuatu yang) asing; maka berbahagialah bagi kaum ghuraba` (orang-orang yang asing tersebut)”. [H.R.Muslim]

Terasing

KAJIAN BAHASA

  1. Lafazh ghariiban ; yang merupakan derivasi (kata turunan) dari lafazh al-Ghurbah memiliki dua makna: pertama, makna yang bersifat fisik seperti seseorang hidup di negeri orang lain (bukan negeri sendiri) sebagai orang asing. Kedua, bersifat maknawi -makna inilah yang dimaksud disini- yaitu bahwa seseorang dalam keistiqamahannya, ibadahnya, berpegang teguh dengan agama dan menghindari fitnah-fitnah yang timbul adalah merupakan orang yang asing di tengah kaum yang tidak memiliki prinsip seperti demikian. Keterasingan ini bersifat relatif sebab terkadang seseorang merasa asing di suatu tempat namun tidak di tempat lainnya, atau pada masa tertentu merasa asing namun pada masa lainnya tidak demikian.
  2. Makna kalimat bada-al Islamu ghariibaa [Islam dimulai dalam kondisi asing]” : ia dimulai dengan (terhimpunnya) orang per-orang (yang masuk Islam), kemudian menyebar dan menampakkan diri, kemudian akan mengalami surut dan berbagai ketidakberesan hingga tidak tersisa lagi selain orang per-orang (yang berpegang teguh kepadanya) sebagaimana kondisi ia dimulai.
  3. Makna kalimat ” fa thuuba lil ghurabaa’ [maka berbahagialah bagi kaum ghuraba’ (orang-orang yang asing tersebut) ] ” : Para ulama berbeda pendapat mengenai makna lafazh thuuba . Terdapat beberapa makna, diantaranya: fariha wa qurratu ‘ain (berbahagia dan terasa sejuklah di pandang mata); ni’ma maa lahum (alangkah baiknya apa yang mereka dapatkan); ghibthatan lahum (kesukariaanlah bagi mereka); khairun lahum wa karaamah (kebaikan serta kemuliaanlah bagi mereka); al-Jannah (surga); syajaratun fil jannah (sebuah pohon di surga). Semua pendapat ini dimungkinkan maknanya dalam pengertian hadits diatas.

Ghuraba

INTISARI DAN HUKUM-HUKUM TERKAIT

  1. Hadits tersebut menunjukkan betapa besar keutamaan para Shahabat radhiyallaahu ‘anhum yang telah masuk Islam pada permulaan diutusnya Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam karena karakteristik tentang ghuraba’ tersebut sangat pas buat mereka. Keterasingan (ghurbah) yang mereka alami adalah bersifat maknawi dimana kondisi mereka menyelisihi kondisi yang sudah berlaku di tengah kaum mereka yang telah terwabahi oleh kesyirikan dan kesesatan.
  2. Berpegang teguh kepada Dienullah, beristiqamah dalam menjalankannya serta mengambil suri teladan Nabi kita, Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam adalah merupakan sifat seorang Mukmin yang haq yang mengharapkan pahala sebagaimana yang diraih oleh kaum ghuraba’ tersebut meskipun (dalam menggapai hal tersebut) kebanyakan orang yang menentangnya. Yang menjadi tolok ukur adalah berpegang teguh kepada al-Haq, bukan kondisi yang berlaku dan dilakukan oleh kebanyakan orang. Allah Ta’ala berfirman: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya…” (Q.S. 6:116).
  3. Besarnya pahala yang akan diraih oleh kaum ghuraba’ serta tingginya kedudukan mereka. Yang dimaksud adalah kaum ghuraba’ terhadap agamanya alias mereka menjadi asing lantaran berpegang teguh kepada al-Haq dan beristiqamah terhadapnya, bukan mereka yang jauh dari negeri asalnya dan menjadi asing disana.

Dalam beberapa riwayat, dinyatakan bahwa makna al-Ghuraba’ adalah orang yang baik/lurus manakala kondisi manusia sudah rusak. Juga terdapat makna; mereka adalah orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia. Ini menunjukkan bahwa kelurusan jiwa semata tidak cukup akan tetapi harus ada upaya yang dilakukan secara bijak, lemah lembut dan penuh kasih sayang dalam memperbaiki kondisi manusia yang sudah rusak agar label ghuraba’ yang dipuji dalam hadits diatas dapat ditempelkan kepada seorang Mu`min.
Wallahu a’lam