Batalkah Wudhu Seorang Wanita Yang Membersihkan (Memandikan Bayinya)

Pertanyaan:
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Jika seorang wanita telah bersuci lalu memandikan anaknya, apakah diwajibkan baginya untuk mengulang wudhunya ?

Jawaban:
Jika seorang wanita memandikan anak perempuannya atau anak laki-lakinya dan menyentuh kemaluan anaknya itu, maka tidak wajib bagi wanita itu untuk mengulang wudhunya, akan tetapi cukup baginya untuk mencuci kedua tangannya saja, karena memegang kemaluannya tanpa syahwat tidak membatalkan wudhu, dan sudah dapat diketahui bahwa wanita yang memandikan anak-anaknya tidak terdetik gejolak syahwat dalam hatinya, dan jika ia memandikan putra atau putrinya maka cukup baginya untuk mencuci kedua tangannya itu, untuk membersihkan najis yang mengenai dirinya tanpa harus berwudhu lagi.

[Fatawa wa Rasa’il ASy-Syaikh Ibnu Utsaimin, 4/203]
Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq hal. 15 penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin.

Pertanyaan:
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh ditanya : Seorang wanita telah berwudhu untuk melakukan shalat, kemudian bayinya buang air besar atau buang air kecil sehingga perlu dibersihkan, lalu wanita itu membasuh dan membersihkan bayi itu dari najis, apakah hal ini membatalkan wudhunya ?

Jawaban:
Jika wanita itu menyentuh kemaluan atau dubur bayinya itu maka dengan demikian wudhunya itu batal, jika tidak menyentuh satu diantara dua tempat keluar kotoran itu maka wudhunya itu tidak batal kalau hanya sekedar membasuh kotorannya, bahkan sekalipun ia langsung membersihkan najis itu dengan tangannya, walaupun demikian hendaknya ia memperhatikan kesucian tangannya setelah itu dan selalu waspada jangan sampai najis mengenai badannya serta pakaiannya.
[Fatawa wa Wasa’il Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 2/75]
Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq hal. 14 penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin.

Advertisements

Keutamaan Hijab

Sebagian orang berpikir bahwa berjilbab hati lebih utama dibandingkan jilbab fisik. Bahkan di antara mereka kemudian berpendapat bahwasudah cukup bagi setiap wanita untuk menjaga hatinya tanpa harus menjaga fisiknya. Padahal, hati yang berjilbab sungguh tampak dari fisik yang berjilbab. Ya, tidak setiap orang yang berjilbab fisik sudah benar-benar berjilbab hati. Namun, sungguh setiap orang yang hatinya berjilbab, pasti fisiknya juga berjilbab.

Berjilbablah wahai muslimah... ๐Ÿ™‚

Selain itu, dalam ajaran Islam, berjilbab atau mengenakan hijab memiliki banyak keutamaan di hadapan Allahu ta’ala, di antaranya:

โ€ข Hijab itu adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul
Allah Subhanahu wa Taโ€™ala telah mewajibkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Taโ€™ala:

ูˆูŽู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ู…ูุคู’ู…ูู†ู ูˆูŽู„ุงูŽ ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽุฉู ุฅุฐุงูŽ ู‚ูŽุถูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ุฃู…ู’ุฑู‹ุง ุฃู†ู’ ูŠูŽูƒููˆู†ูŽ ู„ู‡ูู…ู ุงู„ุฎููŠูŽุฑูŽุฉู ู…ูู†ู’ ุฃู…ู’ุฑูู‡ูู…ู’ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุนู’ุตู ุงู„ู„ู‡ูŽ ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูŽู‡ู ููŽู‚ูŽุฏู’ ุถูŽู„ู‘ูŽ ุถูŽู„ุงูŽู„ุงู‹ ู…ูุจููŠู†ู‹ุง

โ€œDan tidaklah patut bagi laki-laki yang muโ€™min dan tidak pula bagi perempuan yang muโ€™minah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.โ€ (Q.S. Al-Ahzab: 36)
Allah Subhanahu wa Taโ€™ala juga memerintahkan kaum wanita untuk menggunakan hijab sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Taโ€™ala:

ูˆูŽู‚ูู„ู’ ู„ูู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽุงุชู ูŠูŽุบู’ุถูุถู’ู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุฃุจู’ุตูŽุงุฑูู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽูŠูŽุญู’ููŽุธู’ู†ูŽ ููุฑููˆุฌูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูุจู’ุฏููŠู†ูŽ ุฒููŠู†ูŽุชูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ุฅู„ุงู‘ูŽ ู…ูŽุง ุธูŽู‡ูŽุฑูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง

โ€œDan katakanlah kepada wanita yang beriman: โ€œHendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluan-nya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.โ€ (Q.S An-Nur: 31)

Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman:

ูˆูŽู‚ูŽุฑู’ู†ูŽ ูููŠ ุจููŠููˆุชููƒูู†ู‘ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุจูŽุฑู‘ูŽุฌู’ู†ูŽ ุชูŽุจูŽุฑู‘ูุฌูŽ ุงู„ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠู‘ูŽุฉู ุงู„ุฃููˆู„ูŽู‰

โ€œDan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah.โ€ (Q.S. Al-Ahzab: 33)

Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman:

ูˆูŽุฅุฐูŽุง ุณูŽุฃูŽู„ู’ุชูู…ููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูŽุชูŽุงุนู‹ุง ููŽุงุณู’ุฃูŽู„ููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ูˆูŽุฑูŽุงุกู ุญูุฌูŽุงุจู ุฐูŽู„ููƒูู…ู’ ุฃุทู’ู‡ูŽุฑู ู„ูู‚ูู„ููˆุจููƒูู…ู’ ูˆูŽู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู†ู‘ูŽ

 

โ€œApabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.โ€ (Q.S. Al-Ahzab: 53)

Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman:

ูŠูŽุง ุฃูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ู‚ูู„ู’ ู„ุฃุฒู’ูˆูŽุงุฌููƒูŽ ูˆูŽุจูŽู†ูŽุงุชููƒูŽ ูˆูŽู†ูุณูŽุงุกู ุงู„ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ูŠูุฏู’ู†ููŠู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ุฌูŽู„ุงูŽุจููŠุจูู‡ูู†ู‘ูŽ

โ€œHai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang muโ€™min: โ€œHendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.โ€ (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Rasulullah Shalallahu โ€˜alaihi wassalam bersabda: โ€œWanita itu auratโ€ maksudnya adalah bahwa ia harus menutupi tubuhnya.

โ€ข Hijab itu โ€˜iffah (kemuliaan)
Allah Subhanahu wa Taโ€™ala menjadikan kewajiban menggunakan hijab sebagai tanda โ€˜Iffah (menahan diri dari maksiat).

Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman:

ูŠุงูŽ ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ู‚ูู„ู’ ู„ุฃุฒู’ูˆูŽุงุฌููƒูŽ ูˆูŽุจูŽู†ูŽุงุชููƒูŽ ูˆูŽู†ูุณูŽุงุกู ุงู„ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ูŠูุฏู’ู†ููŠู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ุฌูŽู„ุงูŽุจููŠุจูู‡ูู†ู‘ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃุฏู’ู†ูŽู‰ ุฃู†ู’ ูŠูุนู’ุฑูŽูู’ู†ูŽ ููŽู„ุงูŽ ูŠูุคู’ุฐูŽูŠู’ู†ูŽ

โ€œHai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang muโ€™min: โ€œHendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.โ€ (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Itu karena mereka menutupi tubuh mereka untuk menghindari dan menahan diri dari perbuatan jelek (dosa), โ€œkarena itu mereka tidak digangguโ€. Maka orang-orang fasik tidak akan mengganggu mereka. Dan pada firman Allah โ€œkarena itu mereka tidak digangguโ€ sebagai isyarat bahwa mengetahui keindahan tubuh wanita adalah suatu bentuk gangguan berupa fitnah dan kejahatan bagi mereka.

โ€ข Hijab itu kesucian

Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman:

ูˆูŽุฅุฐูŽุง ุณูŽุฃูŽู„ู’ุชูู…ููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูŽุชูŽุงุนู‹ุง ููŽุงุณู’ุฃูŽู„ููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ูˆูŽุฑูŽุงุกู ุญูุฌูŽุงุจู ุฐูŽู„ููƒูู…ู’ ุฃุทู’ู‡ูŽุฑู ู„ูู‚ูู„ููˆุจููƒูู…ู’ ูˆูŽู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู†ู‘ูŽ

โ€œApabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.โ€ (Q.S. Al-Ahzab: 53)

Allah Subhanahu wa Taโ€™ala menyifati hijab sebagai kesucian bagi hati orang-orang muโ€™min, laki-laki maupun perempuan. Karena mata bila tidak melihat maka hatipun tidak berhasrat. Pada saat seperti ini, maka hati yang tidak melihat akan lebih suci. Ketiadaan fitnah pada saat itu lebih nampak, karena hijab itu menghancurkan keinginan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya, Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman:

ููŽู„ุงูŽ ุชูŽุฎู’ุถูŽุนู’ู†ูŽ ุจูุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู„ู ููŽูŠูŽุทู’ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูููŠ ู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ู ู…ูŽุฑูŽุถูŒ

โ€œMaka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.โ€ (Q.S. Al-Ahzab: 32)

โ€ข Hijab itu pelindung

Rasulullah Shalallahu โ€˜alaihi wassalam bersabda:

(ุฅู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ุญูŽูŠููŠู‘ูŒ ุณูŽุชููŠุฑูŒ ูŠูุญูุจู‘ู ุงู„ุญูŽูŠูŽุงุกูŽ ูˆูŽุงู„ุณู‘ูุชู’ุฑูŽ)

โ€œSesungguhnya Allah itu Malu dan Melindungi serta Menyukai rasa malu dan perlindunganโ€

Sabda beliau yang lain:

(( ุฃูŠู‘ูŽู…ูŽุง ุงูู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู ู†ูŽุฒูŽุนูŽุชู’ ุซููŠูŽุงุจูŽู‡ูŽุง ููŠ ุบูŽูŠู’ุฑู ุจูŽูŠู’ุชูู‡ูŽุง ุฎูŽุฑูŽู‚ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽุฒู‘ูŽ ูˆูŽุฌูŽู„ู‘ูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ุณูุชู’ุฑูŽู‡ู))

 

โ€œSiapa saja di antara wanita yang melepaskan pakaiannya di selain rumahnya, maka Allah Azza wa Jalla telah mengoyak perlindungan rumah itu dari padanya.โ€

Jadi balasannya setimpal dengan perbuatannya.

โ€ข Hijab itu taqwa

Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman:

ูŠุงูŽ ุจูŽู†ููŠ ุขุฏูŽู…ูŽ ู‚ูŽุฏู’ ุฃู†ู’ุฒูŽู„ู’ู†ูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ู„ูุจูŽุงุณู‹ุง ูŠููˆูŽุงุฑููŠ ุณูŽูˆู’ุกูŽุงุชููƒูู…ู’ ูˆูŽุฑููŠุดู‹ุง ูˆูŽู„ูุจูŽุงุณู ุงู„ุชู‘ูŽู‚ู’ูˆูŽู‰ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ

โ€œHai anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik.โ€ (Q.S. Al-Aโ€™raaf: 26)

โ€ข Hijab itu iman

Allah Subhanahu wa Taโ€™ala tidak berfirman kecuali kepada wanita-wanita beriman: โ€œDan katakanlah kepada wanita yang beriman.โ€ (Q.S. An-Nur: 31). Allah Subhanahu wa Taโ€™ala juga berfirman: โ€œDan istri-istri orang beriman.โ€ (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Dan ketika wanita-wanita dari Bani Tamim menemui Ummul Muโ€™minin, Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan pakaian tipis, beliau berkata: โ€œJika kalian wanita-wanita beriman, maka (ketahuilah) bahwa ini bukanlah pakaian wanita-wanita beriman, dan jika kalian bukan wanita beriman, maka silahkan nikmati pakaian itu.โ€

โ€ข Hijab itu hayaโ€™ (rasa malu)

Rasulullah Shalallahu โ€˜alaihi wassalam bersabda:

((ุฅู†ู‘ูŽ ู„ููƒูู„ู‘ู ุฏููŠู†ู ุฎูู„ูู‚ู‹ุง ุŒ ูˆูŽุฅู†ู‘ูŽ ุฎูู„ูู‚ูŽ ุงู„ุฅุณู’ู„ุงูŽู…ู ุงู„ุญูŽูŠูŽุงุกู))

โ€œSesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.โ€

Sabda beliau yang lain:

โ€œMalu itu adalah bagian dari iman dan iman itu di surga.โ€

Sabda Rasul yang lain:

((ุงู„ุญูŽูŠูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ุฅูŠู…ูŽุงู†ู ู‚ูุฑูู†ูŽุง ุฌูŽู…ููŠุนู‹ุง ุŒ ููŽุฅู†ู’ ุฑูููุนูŽ ุฃุญูŽุฏูู‡ูู…ูŽุง ุฑูููุนูŽ ุงู„ุขุฎูŽุฑู))

โ€œMalu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan terangkat.โ€

โ€ข Hijab itu ghirah (perasaan cemburu)

Hijab itu selaras dengan perasaan cemburu yang merupakan fitrah seorang laki-laki sempurna yang tidak senang dengan pandangan-pandangan khianat yang tertuju kepada istri dan anak wanitanya. Berapa banyak peperangan terjadi pada masa Jahiliyah dan masa Islam akibat cemburu atas seorang wanita dan untuk menjaga kehormatannya. Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu berkata: โ€œTelah sampai kepadaku bahwa wanita-wanita kalian berdesak-desakan dengan laki-laki kafir orang โ€˜ajam (non Arab) di pasar-pasar, tidakkah kalian merasa cemburu? Sesungguhnya tidak ada kebaikan pada seseorang yang tidak memiliki perasaan cemburu.โ€

Beberapa syarat hijab yang harus terpenuhi:

1.ย ย  ย Menutupi seluruh anggota tubuh wanita -berdasarkan pendapat yang paling rajih / terang
2.ย ย  ย Hijab itu sendiri pada dasarnya bukan perhiasan.
3.ย ย  ย Tebal dan tidak tipis atau trasparan.
4.ย ย  ย Longgar dan tidak sempit atau ketat.
5.ย ย  ย Tidak memakai wangi-wangian yang mencolok.
6.ย ย  ย Tidak menyerupai pakaian wanita-wanita kafir.
7.ย ย  ย Tidak menyerupai pakaian laki-laki.
8.ย ย  ย Tidak bermaksud memamerkannya kepada orang-orang.

Jangan berhias terlalu berlebihan

Bila anda memperhatikan syarat-syarat tersebut di atas akan nampak bagi anda bahwa banyak di antara wanita-wanita sekarang ini yang menamakan diri sebagai wanita berjilbab, padahal pada hakekatnya mereka belum berjilbab. Mereka tidak menamakan jilbab dengan nama yang sebenarnya. Mereka menamakan tabarruj sebagai hijab dan menamakan maksiat sebagai ketaatan.

Musuh-musuh kebangkitan Islam berusaha dengan sekuat tenaga menggelincirkan wanita itu, lalu Allah menggagalkan tipu daya mereka dan meneguhkan orang-orang Muโ€™min di atas ketaatan kepada Tuhannya. Mereka memanfaatkan wanita itu dengan cara-cara kotor untuk memalingkannya dari jalan Tuhan dengan memproduksi jilbab dalam berbagai bentuk dan menamakannya sebagai โ€œjalan tengahโ€ yang dengan itu ia akan mendapatkan ridha Tuhannya -sebagaimana pengakuan mereka- dan pada saat yang sama ia dapat beradaptasi dengan lingkungannya dan tetap menjaga kecantikannya.

Kami dengar dan kami taat

Seorang muslim yang jujur akan menerima perintah Tuhannya dan segera menerjemahkannya dalam amal nyata, karena cinta dan perhomatannya terhadap Islam, bangga dengan syariat-Nya, mendengar dan taat kepada sunnah nabi-Nya dan tidak peduli dengan keadaan orang-orang sesat yang berpaling dari kenyataan yang sebenarnya, serta lalai akan tempat kembali yang ia nantikan. Allah menafikan keimanan orang yang berpaling dari ketaatan kepada-Nya dan kepada rasul-Nya:

ูˆูŽูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ ุขู…ูŽู†ู‘ูŽุง ุจูุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุจูุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู„ู ูˆูŽุฃูŽุทูŽุนู’ู†ูŽุง ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูŽุชูŽูˆูŽู„ู‘ูŽู‰ ููŽุฑู’ูŠู‚ูŒ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏู ุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽู…ูŽุง ุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ุจูุงู„ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ (47) ูˆูŽุฅุฐูŽุง ุฏูุนููˆุง ุฅู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ู„ููŠูŽุญู’ูƒูู…ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ู’ ุฅุฐูŽุง ููŽุฑููŠู‚ูŒ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ู…ูุนู’ุฑูุถููˆู†ูŽ (48)

โ€œDan mereka berkata: โ€œKami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami menaati (keduanya).โ€ Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.โ€ (Q.S. An-Nur: 47-48)

Firman Allah yang lain:

ุฅู†ู‘ูŽู…ูŽุง ูƒุงูŽู†ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู„ูŽ ุงู„ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ุฅุฐูŽุง ุฏูุนููˆุง ุฅู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ู„ููŠูŽุญู’ูƒูู…ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ู’ ุฃู†ู’ ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆุง ุณูŽู…ูุนู’ู†ูŽุง ูˆูŽุฃุทูŽุนู’ู†ูŽุง ูˆูŽุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ู‡ูู…ู ุงู„ู…ููู’ู„ูุญููˆู†ูŽ (51) ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูุทูุนู ุงู„ู„ู‡ูŽ ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูŽู‡ู ูˆูŽูŠูŽุฎู’ุดูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูˆูŽูŠูŽุชู‘ูŽู‚ูู‡ู ููŽุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ู‡ูู…ู ุงู„ููŽุงุฆูุฒููˆู†ูŽ (52)

โ€œSesungguhnya jawaban orang-orang muโ€™min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: โ€œKami mendengar dan kami patuh.โ€ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.โ€ Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.โ€ (Q.S. An-Nur: 51-52)

Dari Shofiyah binti Syaibah berkata: โ€œKetika kami bersama Aisyah radhiyallahu โ€˜anha, beliau berkata: โ€œSaya teringat akan wanita-wanita Quraisy dan keutamaan mereka.โ€ Aisyah berkata: โ€œSesungguhnya wanita-wanita Quraisy memiliki keutamaan, dan demi Allah, saya tidak melihat wanita yang lebih percaya kepada kitab Allah dan lebih meyakini ayat-ayat-Nya melebihi wanita-wanita Anshor. Ketika turun kepada mereka ayat:

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.โ€ (Q.S. An-Nur: 31)

Maka para suami segera mendatangi istri-istri mereka dan membacakan apa yang diturunkan Allah kepada mereka. Mereka membacakan ayat itu kepada istri, anak wanita, saudara wanita dan kaum kerabatnya. Dan tidak seorangpun di antara wanita itu kecuali segera berdiri mengambil kain gorden (tirai) dan menutupi kepala dan wajahnya, karena percaya dan iman kepada apa yang diturunkan Allah dalam kitab-Nya. Sehingga mereka (berjalan) di belakang Rasulullah Shalallahu โ€˜alaihi wassalam dengan kain penutup seakan-akan di atas kepalanya terdapat burung gagak.โ€

(Dinukil dari kitab : ุงู„ุญุฌุงุจ Al Hijab. Penebit: Darul Qosim ุฏุงุฑ ุงู„ู‚ุงุณู… ู„ู„ู†ุดุฑ ูˆุงู„ุชูˆุฒูŠุน P.O. Box 6373 Riyadh 11442)

Jangan Engkau Nikahi Perempuan Ini

ย 1.ย ย ย ย ย  Kelaki-lakian

Yaitu perempuan yang tidak menyukai kewanitaan dan feminisme. Padahal, yang paling menarik pada diri seorang perempuan adalah sifat-sifat feminim, kelembutan, dan ketulusannya. Inilah yang memikat dan membuat laki-laki mencintainya. Bagaimanakah seorang suami akan memperlakukan istri yang sifatnya kelaki-lakian? Di mana rambutnya dipotong pendek seperti laki-laki, suara yang nyaring atau tinggi, merokok, dan lain-lain.

โ€œRasulullah shallallahu โ€˜alayhi wa sallam mengutuk wanita yang kelaki-lakian.โ€ (HR. Abu Dawud)

2.ย ย ย ย ย  Pembangkang

Yaitu istri yang selalu berusaha meyakinkan suaminya bahwa pemikiran-pemikiran sang suami adalah salah, tuntutan-tuntutan sang suami tidak penting, sehingga secara praktis harus diabaikan atau ditunda pelaksanaannya.

Dia akan mengatakan bahwa kesengsaraan, kemalasan, atau kecerewetannya bukan karena kepribadiannya jelek, melainkan karena ulah sang suami. Dia sulit dipuaskan. Bahkan, bisa memuji semua orang, kecuali suaminya.

3.ย ย ย ย ย  Pemarah

Yaitu wanita yang amarahnya dapat tersulut oleh hal-hal sepele tapi tidak mudah dipadamkan. Dia akan mengutuk, mencaci maki, melontarkan kata-kata kotor, menampar pipinya sendiri, bahkan merobek-robek bajunya jika permintaannya tidak segera dipenuhi oleh anak-anaknya atau suaminya.

4.ย ย ย ย ย  Tidak Beragama

Yaitu wanita yang mengabaikan shalat, tidak berjilbab, memamerkan perhiasan, mengobral pembicaraan, dan tidak sungkan tertawa terbahak-bahak di depan banyak orang. Jika dinasihati, dia berdalih hal ini tidak bersangkut paut dengan keimanan di hati.

Kepada wanita tersebut, saya katakan, iman bukanlah lamunan ataupun hiasan, melainkan sesuatu yang tertanam kukuh di dalam hati dan dibuktikan oleh perbuatan. Kian kukuh melaksanakan perintah Allah, kian jujur keislamanmu. Kalau tidak, itu adalah pengakuan palsu.

5.ย ย ย ย ย  Memiliki Hubungan Asmara Sebelum Menikah

Wanita seperti ini masih perawan pada zahirnya saja, tapi batinnya tidak. Dia telah memberikan hatinya yang mahal dengan harga murah kepada pemuda yang konyol dan tidak bertanggungjawab, lewat surat-surat cinta, pembicaraan di telepon, SMS, tukar-menukar kaset lagu atau hadiah-hadiah romantis, dengan anggapan pemuda itu akan menikahinya. Lebih parah lagi, dia bersedia berdua-duaan dan membiarkan pemuda itu mencumbunya. Dan yang paling parah, dia rela menyerahkan keperawanannya demi pemuda yang mengakui mau menikahinya tersebut.

Gadis yang menyerahkan diri kepada seorang pemuda sebelum menikah, takkan dinikahi oleh pemuda itu kecuali jika pemuda itu tidak punya rasa cemburu. Kebanyakan pemuda tidak suka menikahi gadis yang telah menyerahkan diri kepadanya, karena hal itu justru menjadi bukti bahwa gadis tersebut tidak dapat menjaga kehormatan dirinya.

Setelah menikah, gadis itu akan mengalami konflik batin. Apalagi jika lelaki yang dicintainya tidak mau menikahinya. Lalu, karena takut menjadi perawan tua, dia menikah dengan siapa saja yang meminangnya. Dia takkan setia kepada suaminya, menjadi pembangkang, pemarah, dan penggerutu, kecuali jika dia benar-benar bertaubat kepada Allah dan mengerti itulah jalan hidupnya.

Dikutip dari โ€œLi man yuriidu az zawaaj… wa tazawwajโ€ Syaikh Fuad Shalih
terj. Untukmu yang Akan Menikah dan Telah Menikah hal 90-92.

Jangan Kau Menikahi Laki-Laki Ini

Hati-Hati Memilih Lelaki


ย 1.ย ย ย ย ย  Berani Meninggalkan Shalat

Orang yang berani meninggalkan shalat, berarti telah berani mengkhianati amanah Allah, apalagi amanah manusia. Rasulullah shallallahu โ€˜alayhi wa sallam bersabda, โ€œPerjanjian kami dengan mereka adalah shalat. Orang yang meninggalkannya berarti dia telah kafir.โ€ (HR. Tirmidzi)[1]

Bagaimana engkau dapat mempercayai suami yang tidak memenuhi syarat pertama yang ditetapkan Rasulullah shallallahu โ€˜alayhi wa sallam, โ€œJika datang kepadamu orang yang kau sukai agamanya…,โ€ padahal shalat adalah pilar agama.

2.ย ย ย ย ย  Gemar Melakukan Dosa Besar

Misalnya, mabuk, berzina, dan berjudi. Hidup bersama suami seperti ini sama dengan hidup di dalam neraka. Semoga mereka bertaubat kepada Allah, agar Dia mengampuni mereka.

3.ย ย ย ย ย  Dayyuts

Dayyuts adalah lelaki yang tidak memiliki rasa cemburu kepada istri. Dengan dalih kemajuan zaman, peradaban modern, dan perkembangan dunia, dia melarang istrinya berjilbab karena hal ini dianggapnya kuno dan membolehkan istrinya berjabatan (tangan, peny.), mengobrol, dan tertawa-tawa dengan laki-laki lain.

4.ย ย ย ย ย  Anak Mama (Manja)

Lelaki yang manja bukanlah laki-laki sejati. Dia tidak akan mampu mengambil putusan secara mandiri tanpa merujuk kepada ibunya.

5.ย ย ย ย ย  Jauh Lebih Tua

Engkau berusia 20 tahun, dia 60 tahun. Untuk apa? Harta? Karena dia memenuhi nafsumu untuk memiliki gaun-gaun indah dan perhiasan? Namun, ada satu hal yang tidak kau pertimbangkan, bahwa pada usia itu, nafsu seksualmu sedang membara, sedangkan nafsunya hampir padam. Bagaimana mengatasi masalah ini, wahai gadis muslimah?

6.ย ย ย ย ย  Sombong dan Senang Membanggakan Diri

Orang yang memiliki mentalitas seperti ini tidak mengenal perasaan cinta. Dia hanya mencintai dirinya sendiri. Jika dia menikah, dia tidak menikah karena cinta, tapi karena nafsunya menginginkan wanita itu.

7.ย ย ย ย ย  Workaholic (Gila Kerja)

Orang yang gila kerja hanya mengenal kerja. Dia akan terus menerus bekerja tanpa lelah dan bosan, demi kekayaan, status sosial yang tinggi, atau penghormatan orang lain. Baginya, pernikahan hanyalah pelangkap status sosial. Istri tak ubahnya sepotong perkakas rumah tangga. Jika dia butuh, dia memakainya dengan perasaan yang dingin. Banyak wanita yang terhormat dan suci merasakan problem seksual dan emosional karena diabaikan suami yang hanya memberikan harta dan makanan yang lezat.

8.ย ย ย ย ย  Pendurhaka kepada Orangtua

Pria yang seperti ini sebenarnya menderita sakit dan harus segera disembuhkan. Dia harus tahu, bahwa orang lain akan bersikap kepada dirinya sebagaimana dia bersikap kepada orang lain. Jika dia tidak berbakti kepada orangtua, tidak menuruti perintah mereka, padahal mereka memiliki hak untuk dipatuhi, apakah dia berharap istrinya berbakti dan menuruti perintahnya semata-mata karena dia punya hak untuk itu?

9.ย ย ย ย ย  Kebanci-bancian

Orang ini tidak dapat disebut laki-laki, karena sifat-sifatnya bukan sifat laki-laki; gaya, kata-kata, gerakan, dan pikirannya lebih menyerupai wanita. Dia tidak dapat diandalkan dalam kehidupan dan tidak memiliki kesiapan untuk memikul tanggungjawab. Sayangnya, lelaki seperti ini sangat banyak di zaman sekarang. Semoga Allah tidak memperbanyak jumlah mereka.

10.ย  Kikir

Kekikiran adalah penyakit yang sulit disembuhkan. Orang yang kikir tidak dapat menyenangkan dirinya ataupun orang lain kecuali setelah dia mati. Karena itu, Rasulullah shallallahu โ€˜alayhi wa sallam melarang kita bersikap kikir. Beliau bersabda, โ€œDan hindarilah sifat kikir, karena kekikiran telah menghancurkan orang-orang sebelum kamu, membuat mereka saling bunuh, dan melanggar kehormatan orang lain.โ€ (HR. Muslim)

 

Dikutip dari โ€œLi man yuriidu az zawaaj… wa tazawwajโ€ Syaikh Fuad Shalihย terj. Untukmu yang Akan Menikah dan Telah Menikah hal 86-88.


[1] At Tirmidzi berkata : hadits hasan shahih menurut persayaratan Imam Muslim

Haid, Hikmah, dan Masanya

HAID DAN HIKMAHNYA

1. Makna Haid

Menurut bahasa, haid berarti sesuatu yang mengalir. Dan menurut istilah syara’ ialah darah yang terjadi pada wanita secara alami, bukan karena suatu sebab, dan pada waktu tertentu. Jadi haid adalah darah normal, bukan disebabkan oleh suatu penyakit, luka, keguguran atau kelahiran. Oleh karena ia darah normal, maka darah tersebut berbeda sesuai kondisi, lingkungan dan iklimnya, sehingga terjadi perbedaan yang nyata pada setiap wanita.

2. Hikmah Haid

Adapun hikmahnya, bahwa karena janin yang ada di dalam kandungan ibu tidak dapat memakan sebagaimana yang dimakan oleh anak yang berada di luar kandungan, dan tidak mungkin bagi si ibu untuk menyampaikan sesuatu makanan untuknya, maka Allah Ta’ala telah menjadikan pada diri kaum wanita proses pengeluaran darah yang berguna sebagai zat makanan bagi janin dalam kandungan ibu tanpa perlu dimakan dan dicerna, yang sampai kepada tubuh janin melalui tali pusar, dimana darah tersebut merasuk melalui urat dan menjadi zat makanannya. Maha Mulia Allah, Dialah sebaik-baik Pencipta.

Inilah hikmah haid. Karena itu, apabila seorang wanita sedang dalam keadaan hamil tidak mendapatkan haid lagi, kecuali jarang sekali. Demikian pula wanita yang menyusui sedikit yang haid, terutama pada awal masa penyusuan.

USIA DAN MASA HAID

1. Usia Haid

Usia haid biasanya antara 12 sampai dengan 50 tahun. Dan kemungkinan seorang wanita sudah mendapatkan haid sebelum usia 12 tahun, atau masih mendapatkan haid sesudah usia 50 tahun. Itu semua tergantung pada kondisi, lingkungan dan iklim yang mempengaruhinya.

Paraulama, rahimahullah, berbeda pendapat tentang apakah ada batasan tertentu bagi usia haid, dimana seorang wanita tidak mendapatkan haid sebelum atau sesudah usia tersebut ?

Ad-Darimi, setelah menyebutkan perbedaan pendapat dalam masalah ini, mengatakan : “Hal ini semua, menurut saya, keliru. Sebab, yang menjadi acuan adalah keberadaan darah. Seberapa pun adanya, dalam kondisi bagaimana pun, dan pada usia berapa pun, darah tersebut wajib dihukumi sebagai darah haid. Dan hanya Allah Yang Maha Tahu”. (Al-Majmu ‘Syarhul Muhadzdazb, Juz I, hal. 386)

Pendapat Ad-Darimi inilah yang benar dan menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Jadi, kapan pun seorang wanita mendapatkan darah haid berarti ia haid, meskipun usianya belum mencapai 9 tahun atau di atas 50 tahun. Sebab, Allah dan Rasul-Nya mengaitkan hukum-hukum haid pada keberadaan darah tersebut, serta tidak memberikan batasan usia tertentu. Maka, dalam masalah ini, wajib mengacu kepada keberadaan darah yang telah dijadikan sandaran hukum. Adapun pembatasan padahal tidak ada satupun dalil yang menunjukkan hal tersebut.

2. Masa Haid

Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan masa atau lamanya haid. Ada sekitar enam atau tujuh pendapat dalam hal ini.

Ibnu Al-Mundzir mengatakan : “Ada kelompok yang berpendapat bahwa masa haid tidak mempunyai batasan berapa hari minimal atau maksimalnya”.

Pendapat ini seperti pendapat Ad-Darimi di atas, dan menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Dan itulah yang benar berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah dan logika.

Dalil pertama

Firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah : “Haid itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekatkan mereka, sebelum mereka suci ...”. (Al-Baqarah : 222)

Dalam ayat ini, yang dijadikan Allah sebagai batas akhir larangan adalah kesucian, bukan berlalunya sehari semalam, ataupun tiga hari, ataupun lima belas hari. Hal ini menunjukkan bahwa illat (alasan) hukumnya adalah haid, yakni ada tidaknya. Jadi, jika ada haid berlakulah hukum itu dan jika telah suci (tidak haid) tidak berlaku lagi hukum-hukum haid tersebut.

Dalil kedua

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim Juz 4, hal.30 bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Aisyah yang mendapatkan haid ketika dalam keadaan ihram untuk umrah.

“Artinya : Lakukanlah apa yang dilakukan jemaah haji, hanya saja jangan melakukan tawaf di Ka’bah sebelum kamu suci”.

Kata Aisyah : “Setelah masuk hari raya kurban, barulah aku suci”.

Dalam Shahih Al-Bukhari, diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Aisyah.

“Artinya : Tunggulah. Jika kamu suci, maka keluarlah ke Tan’im“.

Dalam hadits ini, yang dijadikan Nabi sebagai batas akhir larangan adalah kesucian, bukan suatu masa tertentu. Ini menunjukkan bahwa hukum tersebut berkaitan dengan haid, yakni ada dan tidaknya.

Dalil ketiga

Bahwa pembatasan dan rincian yang disebutkan para fuqaha dalam masalah ini tidak terdapat dalam Al-Qur’an maupun Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal ini perlu, bahkan amat mendesak untuk dijelaskan. Seandainya batasan dan rincian tersebut termasuk yang wajib dipahami oleh manusia dan diamalkan dalam beribadah kepada Allah, niscaya telah dijelaskan secara gamblang oleh Allah dan Rasul-Nya kepada setiap orang, mengingat pentingnya hukum-hukum yang diakibatkannya yang berkenaan dengan shalat, puasa, nikah, talak, warisan dan hukum lainnya. Sebagaimana Allah dan Rasul-Nya telah menjelaskan tentang shalat: jumlah bilangan dan rakaatnya, waktu-waktunya, ruku’ dan sujudnya; tentang zakat: jenis hartanya, nisabnya, presentasenya dan siapa yang berhak menerimanya; tentang puasa: waktu dan masanya; tentang haji dan masalah-masalah lainnya, bahkan tentang etiket makan, minum, tidur, jima’ (hubungan suami istri), duduk, masuk dan keluar rumah, buang hajat, sampai jumlah bilangan batu untuk bersuci dari buang hajat, dan perkara-perkara lainnya baik yang kecil maupun yang besar, yang merupakan kelengkapan agama dan kesempurnaan nikmat yang dikaruniakan Allah kepada kaum Mu’minin.

Firman Allah Ta’ala.

“Artinya : ….. Dan kami turunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu ….”. (An-Nahl : 89)

“Artinya : ….. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi mebenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu ….“. (Yusuf : 111)

Oleh karena pembatasan dan rincian tersebut tidak terdapat dalam Kitab Allah dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka nyatalah bahwa hal itu tidak dapat dijadikan patokan. Namun, yang sebenarnya dijadikan patokan adalah keberadaan haid, yang telah dikaitkan dengan hukum-hukum syara’ menurut ada atau tidaknya.

Dalil ini -yakni suatu hukum tidak dapat diterima jika tidak terdapat dalam Kitab dan Sunnah- berguna bagi Anda dalam masalah ini dan masalah-masalah ilmu agama lainnya, karena hukum-hukum syar’i tidak dapat ditetapkan kecuali berdasarkan dalil syar’i dari Kitab Allah, atau Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau ijma’ yang diketahui, atau qiyas yang shahih.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam salah satu kaidah yang dibahasnya, mengatakan : “Di antara sebutan yang dikaitkan oleh Allah dengan berbagai hukum dalam Kitab dan Sunnah, yaitu sebuah haid. Allah tidak menentukan batas minimal dan maksimalnya, ataupun masa suci diantara dua haid. Padahal umat membutuhkannya dan banyak cobaan yang menimpa mereka karenanya. Bahasa pun tidak membedakan antara satu batasan dengan batasan lainnya. Maka barangsiapa menentukan suatu batasan dalam masalah ini, berarti ia telah menyalahi Kitab dan Sunnah”. (Risalah fil asmaa’ allati ‘allaqa asy-Syaari’ al-ahkaama bihaa. hal. 35)

Dalil keempat

Logika atau qiyas yang benar dan umum sifatnya. Yakni, bahwa Allah menerangkan ‘illat (alasan) haid sebagai kotoran. Maka manakala haid itu ada, berarti kotoran pun ada. Tidak ada perbedaan antara hari kedua dengan hari pertama, antara hari keempat dengan hari ketiga. Juga tidak ada perbedaan antara hari keenam belas dengan hari kelima belas, atau antara hari kedelapan belas dengan hari ketujuh belas. Haid adalah haid dan kotoran adalah kotoran. Dalam kedua hari tersebut terdapat ‘illat yang sama. Jika demikian, bagaimana mungkin dibedakan dalam hukum diantara kedua hari itu, padahal keduanya sama dalam ‘illat ? Bukankah hal ini bertentangan dengan qiyas yang benar ? Bukankah menurut qiyas yang benar bahwa kedua hari tersebut sama dalam hukum karena kesamaan keduanya dalam ‘illat ?

Dalil kelima

Adanya perbedaan dan silang pendapat di kalangan ulama yang memberikan batasan, menunjukkan bahwa dalam masalah ini tidak ada dalil yang harus dijadikan patokan. Namun, semua itu merupakan hukum-hukum ijtihad yang bisa salah dan bisa juga benar, tidak ada satu pendapat yang lebih patut diikuti daripada lainnya. Dan yang menjadi acuan bila terjadi perselisihan pendapat adalah Al-Qur’an dan Sunnah.

Jika ternyata pendapat yang menyatakan tidak ada batas minimal atau maksimal haid adalah pendapat yang kuat dan yang rajih, maka perlu diketahui bahwa setiap kali wanita melihat darah alami, bukan disebabkan luka atau lainnya, berarti darah itu darah haid, tanpa mempertimbangkan masa atau usia. Kecuali apabila keluarnya darah itu terus menerus tanpa henti atau berhenti sebentar saja seperti sehari atau dua hari dalam sebulan, maka darah tersebut adalah darah istihadhah. Dan akan dijelaskan, Inysa Allah, tentang istihadhah dan hukum-hukumnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan : “Pada prinsipnya, setiap darah yang keluar dari rahim adalah haid. Kecuali jika ada bukti yang menunjukkan bahwa darah itu istihadhah“. (Risalah fil asmaa’ allati ‘allaqa asy-Syaari’ al-ahkaama bihaa. hal. 36)

Kata beliau pula : “Maka darah yang keluar adalah haid, bila tidak diketahui sebagai darah penyakit atau karena luka”. (Risalah fil asmaa’ allati ‘allaqa asy-Syaari’ al-ahkaama bihaa. hal. 38)

Pendapat ini sebagaimana merupakan pendapat yang kuat berdasarkan dalil, juga merupakan pendapat yang paling dapat dipahami dan dimengerti serta lebih mudah diamalkan dan diterapkan daripada pendapat mereka yang memberikan batasan. Dengan demikian, pendapat inilah yang lebih patut diterima karena sesuai dengan semangat dan kaidah agama Islam, yaitu : mudah dan gampang.

Firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Dan Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan”. (Al-Hajj : 78)

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Sungguh agama (Islam) itu mudah. Dan tidak seorangpun mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan. Maka berlakulah lurus, sederhana (tidak melampui batas) dan sebarkan kabar gembira”. (Hadits Riwayat Al-Bukhari)

Dan diantara ahlak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa jika beliau diminta memilih antara dua perkara, maka dipilihnya yang termudah selama tidak merupakan perbuatan dosa.

3. Haid Wanita Hamil

Pada umumnya, seorang wanita jika dalam keadaan hamil akan berhenti haid (menstruasi). Kata Imam Ahmad, rahimahullah, “Kaum wanita dapat mengetahui adanya kehamilan dengan berhentinya haid”.

Apabila wanita hamil mengeluarkan darah sesaat sebelum kelahiran (dua atau tiga hari) dengan disertai rasa sakit, maka darah tersebut adalah darah nifas. Tetapi jika terjadi jauh hari sebelum kelahiran atau mendekati kelahiran tanpa disertai rasa sakit, maka darah itu bukan barah nifas. Jika bukan, apakah itu termasuk darah haid yang berlaku pula baginya hukum-hukum haid atau disebut darah kotor yang hukumnya tidak seperti hukum-hukum haid ? Ada perbedaan pendapat di antara para ulama dalam masalah ini.

Dan pendapat yang benar, bahwa darah tadi adalah darah haid apabila terjadi pada wanita menurut kebiasaan waktu haidnya. Sebab, pada prinsipnya, darah yang terjadi pada wanita adalah darah haid selama tidak ada sebab yang menolaknya sebagai darah haid. Dan tidak ada keterangan dalam Al-Qur’an maupun Sunnah yang menolak kemungkinan terjadinya haid pada wanita hamil.

Inilah madzhab Imam Malik dan Asy-Syafi’i, juga menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Disebutkan dalam kitab Al-Ikhtiyarat (hal.30) : “Dan dinyatakan oleh Al-Baihaqi menurut salah satu riwayat sebagai pendapat dari Imam Ahmad, bahkan dinyatakan bahwa Imam Ahmad telah kembali kepada pendapat ini”.

Dengan demikian, berlakulah pada haid wanita hamil apa yang juga berlaku pada haid wanita tidak hamil, kecuali dalam dua masalah :

1. Talak. Diharamkan mentalak wanita tidak hamil dalam keadaan haid, tetapi tidak diharamkan terhadap wanita hamil. Sebab, talak dalam keadaan haid terhadap wanita tidak hamil menyalahi firman Allah Ta’ala.

“Artinya : ….Apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) ….“. (Ath-Thalaaq : 1)

Adapun mentalak wanita hamil dalam keadaan haid tidak menyalahi firman Allah. Sebab, siapa yang mentalak wanita hamil berarti ia mentalaknya pada saat dapat menghadapi masa iddahnya, baik dalam keadaan haid ataupun suci, karena masa iddahnya dengan masa kehamilan. Untuk itu, tidak diharamkan mentalak wanita hamil sekalipun setelah melakukan jima’ (senggama), dan berbeda hukumnya dengan wanita tidak hamil.

2. Iddah. Bagi wanita hamil iddahnya berakhir dengan melahirkan, meski pernah haid ketika hamil ataupun tidak. Berdasarkan firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya”. (Ath-Thalaaq : 4)

Disalin dari buku Risalah Fid Dimaa’ Ath-Thabii’iyah Lin Nisaa’. Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, edisi Indonesia Darah Kebiasaan Wanita hal. 9-20. Penerjemah. MuhammadYusuf Harun,MA, Terbitan. Darul HaqJakarta

Wahai Ukhti Muslimah, Ketahuilah…


Dari Ummu Salamah, dia berkata. ‘Ummu Sulaim pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata. ‘Wahai Rasulullah sesungguhnya Allah tidak merasa malu dari kebenaran. Lalu apakah seorang wanita itu harus mandi jika dia bermimpi ?. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab. ‘Jika dia melihat air (mani)’. Lalu Ummu Salamah menutup wajahnya, dan berkata. ‘Wahai Rasulullah, apakah wanita itu juga bisa bermimpi .? ‘Beliau menjawab. ‘Ya, bisa’. Maka sesuatu yang menyerupai dirinya adalah anaknya”. (Hadits shahih, ditakhrij Ahmad 6/306, Al-Bukhari 1/44, Muslim 3/223, At-Tirmidzi, hadits nomor 122, An-Nasa’i 1/114, Ibnu Majah hadits nomor 600, Ad-Darimi 1/195, Al-Baihaqi 1/168-169)

Muslimah

Wahai Ukhti Muslimah !
Diantara kebaikan ke-Islaman seorang wanita adalah jika dia mengetahui agamanya. Maka Islam mewajibkan para wanita mencari ilmu sebagaimana yang diwajibkan terhadap kaum laki-laki. Perhatikanlah firman Allah ini.

“Artinya : Katakanlah. Adakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui ?”. (Az-Zumar : 9)

Bahkan perhatikan pula firman Allah yang secara khusus ditujukan kepada Ummahatul-Mukminin, yang menganjurkan mereka agar mempelajari kandungan Al-Qur’an dan hadits Nabawi yang dibacakan di rumah-rumah mereka. Firman-Nya.

“Artinya : Dan, ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah”. (Al-Ahzab : 34)

Karena perintah Allah inilah para wanita merasakan keutamaan ilmu. Maka mereka pun pergi menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menuntut suatu majlis bagi mereka dari beliau, agar di situ mereka bisa belajar.

Dari Abu Sa’id Al-Khudry Radhiyallahu anhu, dia berkata. ‘Para wanita berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Kaum laki-laki telah mengalahkan kami atas dirimu. Maka buatlah bagi kami dari waktumu’. Maka beliau menjanjikan suatu hari kepada mereka, yang pada saat itu beliau akan menemui mereka dan memberi wasiat serta perintah kepada mereka. Di antara yang beliau katakan kepada mereka adalah : ‘Tidaklah ada di antara kamu sekalian seorang wanita yang ditinggal mati oleh tiga anaknya, melainkan anak-anaknya itu menjadi penghalang dari neraka baginya‘. Lalu ada seorang wanita yang bertanya. ‘Bagaimana dengan dua anak?’ Maka beliau menjawab. ‘Begitu pula dua anak’. (Diriwayatkan Al-Bukhari, 1/36 dan Muslim 16/181)

Begitulah Islam menyeru agar para wanita diajari dan diberi bimbingan tentang hal-hal yang harus mereka biasakan, untuk kebaikan di dunia dan akhirat.

Wahai Ukhti Muslimah !
Perhatikanlah di dalam wasiat Nabawi ini, bahwa Ummu Salamah datang untuk mempelajari apa-apa yang tidak diketahuinya, sehingga akhirnya dia bisa mengetahui secara komplit. Begitulah seharusnya yang dilakukan seorang wanita muslimah. Dia bisa bertanya tentang hukum-hukum agamanya. Karena yang tahu hukum-hukum tersebut diantara mereka hanya sedikit sekali. Marilah kita simak wasiat ini.

Wahai Ukhti Muslimah !
Perhatikanlah bagaimana adab Ummu Sulaim yang memulai ucapannya dengan berkata. “Sesungguhnya Allah tidak merasa malu dari kebenaran”. Maksudnya, tidak ada halangan untuk menjelaskan yang benar. Sehingga Allah membuat perumpamaan dengan seekor nyamuk dan yang serupa lainnya sebagaimana firman-Nya. “Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu”. (Al-Baqarah : 26)

Perhatikanย Ummu Sulaim. Tidak ada halangan baginya untuk bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang apa-apa yang mestinya dia ketahui dan dia pelajari, meskipun mungkin hal itu dianggap aneh. Sungguh benar Ummul Mukminin, ‘A`isyah yang berkata. “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Tidak ada rasa malu yang menghalangi mereka untuk memahami agama”. (Diriwayatkan Al-Bukhari 1/44)

Selagi engkau dikungkung rasa malu dan tidak mau mengetahui hukum-hukum agamamu, maka ini merupakan kesalahan yang amat besar, bahkan bisa berbahaya. Ada baiknya engkau membiasakan dirimu untuk tidak merasa malu dalam mempelajari hukum-hukum agama, baik hukum itu kecil maupun besar. Sebab jika seorang wanita lebih banyak dikungkung rasa malu, maka dia sama sekali tidak akan mengetahui sesuatu pun. Perhatikanlah perkataan Mujahid Rahimahullah. “Orang yang malu dan sombong tidak akan mau mempelajari ilmu”. Seakan-akan dia menganjurkan orang-orang yang mencari ilmu agar tidak merasa lemah dan takkabur, sebab hal itu akan mempengaruhi usaha mereka dalam mencari ilmu.

Ada suatu pertanyaan dari Ummu Sulaim, dia bertanya. “Apakah seorang wanita itu harus mandi jika dia bermimpi?”. Maksudnya, jika dia bermimpi bahwa dia disetubuhi. Jawaban Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Jika dia melihat air“. Makna jawaban ini, bahwa jika seorang wanita benar-benar bermimpi dan ada petunjuk atau bukti terjadinya hal itu, yaitu dia melihat adanya bekas air mani di pakaian, maka ini merupakan syarat mandinya. Namun jika dia bermimpi dan tidak melihat bekas air mani, maka dia tidak perlu mandi. Setelah diberi jawaban yang singkat dan padat ini, Ummu Salamah langsung menutupi wajahnya seraya bertanya. “Apakah wanita itu juga bermimpi?”.

Wahai Ukhti Muslimah !
Rasa herannya Ummu Salamah itu bukanlah sesuatu yang aneh. Pernah terjadi pada diri ‘A`isyah, sementaranya ilmunya lebih komplit, sebagaimana yang disebutkan dalam suatu riwayat, dia berkata. “Kecelakaan bagimu. Apakah wanita akan mengalami seperti itu ?”. Dia berkata seperti itu dengan maksud untuk mengingkari bahwa wanita juga bisa bermimpi.

Jika permasalahan-permasalahannya yang hakiki tidaklah seperti yang disangkakan bahwa setiap wanita bisa bermimpi. Mimpi itu hanya terjadi pada sebagian wanita, sedangkan yang lain tidak. Maka inilah sebab pengingkaran dan keheranan yang muncul dari Ummu Salamah dan ‘A`isyah. Namun keheranan ini bisa dituntaskan oleh jawaban Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Na’am, taribat yaminuki’, maksudnya : Benar, seorang wanita bisa bermimpi. Perkataan beliau : “Taribat yaminuki“, maksudnya, dia menjadi rendah dan berada di atas tanah. Ini merupakan lafazh yang diucapkan saat menghardik, dan tidak dimaksudkan menurut zhahirnya.

Kemudian di akhir ucapan beliau ada salah satu bukti nubuwah, yaitu perkataan beliau : “Sesuatu yang bisa menyerupai dirinya adalah anaknya“.

Wahai Ukhti Muslimah !
Ilmu pengetahuan modern telah menetapkan bahwa laki-laki dan wanita saling bersekutu dalam pembentukan janin. Sebab jenis hewan yang berkembang biak, benih datang dari pasangan laki-laki ke indung telur yang ada di dalam tubuh yang perempuan, lalu sperma yang satu bercampur dengan yang lain. Dengan pengertian, bahwa sefaro sifat-sifat yang diwariskan kira-kira bersumber dari yang laki-laki dan yang sefaronya lagi kira-kira berasal dari perempuan. Kemudian bisa juga terjadi pertukaran dan kesesuaian, sehingga ada sifat-sifat yang lebih menonjol daripada yang lain. Maka dari sinilah terjadi penyerupaan.

Jadi sebagaimana yang engkau ketahui wahai Ukhti Muslimah, seperti apapun keadaannya, tidak mungkin bagi jenis hewan yang berkembang biak, yakni hanya laki-laki saja yang bisa membuahi suatu mahluk hidup, tanpa bersekutu dengan indung telur pada jenis perempuan.

Perhatikanlah bagaimana keindahan pengabaran Nabawi ini. Karena sejak beliau di utus sebagai rasul, jauh sebelum masa Aristoteles, ada kepercayaan bahwa wanita tidak mempunyai campur tangan dalam pembentukan dan keberadaan anak. Hanya air mani sajalah yang terpenting. Mereka tidak yakin bahwa air mani seorang laki-laki akan sampai ke rahim perempuan, lalu berkembang menjadi janin, sedikit demi sedikit janin membesar sehingga menjadi bayi dan akhirnya benar-benar sempurna menjadi sosok manusia di dalam rahim. Lalu Muhammad bin Abdullah datang mengabarkan kepada kita tentang apa yang bakal disibak oleh ilmu pengetahuan modern. Benar, ini merupakan wahyu yang diwahyukan, dan beliau sama sekali tidak berkata dari kemauan dirinya sendiri, tetapi beliau berkata menurut apa yang diajarkan Allah kepada beliau.

Begitulah wahai Ukhti Muslimah apa yang bisa kita pelajari dari wasiat Nabawi ini, semoga Allah memberi manfaat kepada kita semua.
Wallahu a’lam

Majdi As-Sayyid Ibrahim

 

Fitnah Wanita Menurut Said Bin Al Musayyib

Siapakah Said Bin Al Musayyib

Beliau adalah pembesar para tabiโ€™in yang sezaman dengan para sahabat senior yaitu Umar bin Al-Khathab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, sayyidah Aisyah dan Ummu Salamahridhwanullah โ€˜alayhim ajmaโ€™in. Beliau juga perawi yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Abu Hurairahย radhiyallahu โ€˜anhuย sehingga beliau pun menikahkan Said dengan putrinya.

Beliau adalah seorang yang tidak pernah ketinggalan shalat berjamaah selama 40 atau 50 tahun, juga tidak pernah melihat punggung orang orang yang sedang shalat karena dia selalu di barisan terdepan. Beliau juga seorang yang tegas dan tidak mau tunduk dengan kemauan para penguasa. Namun beliau tetaplah seorang yang lembut dan mengedepankan rasa persaudaraan dalam pergaulan terutama dengan orang orang yang shalih dan bertaqwa. Banyak sanjungan dan pujian terlontar kepada beliau mengenai wawasan, kehormatan dan kemuliaan beliau.

Belia menolak pinangan khalifah Abdul Malik bin Marwan untuk dinikahkan kepada putranya, Al-Walid untuk putrinya dan memilih menikahkan putrinya kepada Katsir bin Abdul Muthallib bin Abi Wadaโ€™ah hanya dengan dua atau tiga dirham. Karena penolakannya ini beliau dihukum 60 kali cambuk, disiramkan air dingin ke tubuhnya saat muslim dingin, dan dipakaikan kepadanya jubah yang terbuat dari kain sutera.

Ketakutan Beliau Akan Fitnah Wanita

Dari Ali bin Zaid dari Said bi Al-Musayyib, dia berkata, โ€œTidak ada yang lebih mudah bagi setan untuk menggoda kecuali melalui perempuan.โ€ย Kemudian, Said berkataย โ€œTidak ada sesuatu yang lebih aku takutkan daripada perempuan.โ€ย Padahal saat itu umurnya sudah lanjut, tua renta dan salah satu penglihatannya telah buta sedangkan yang tersisa pun sudah kabur penglihatannya karena rabun.

Dari Imran bin Abdul Malik, dia berkata, โ€œSaid bin Al-Musayyib berkata, โ€œAku tidak pernah merasa takut kepada sesuatu pun seperti ketakutanku pada wanita.โ€ Orang orang yang mendengarnya selanjutnya mengatakan, โ€œSesungguhnya orang seperti Anda tidak pernah menginginkan wanita (untuk dinikahi) dan tidak ada wanita yang mau mengawini anda,โ€ Dia berkata, โ€œMemang itulah yang aku katakan kepada kalian.โ€

Nabiย shalallahu โ€˜alayhi wasallamย bersabda:

โ€œTidaklah aku tinggalkan setelahku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi laki laki (melainkan fitnah yang datang dari) wanita.โ€ย Dikeluarkan oleh Bukhari (9/5096); Muslim (4/2097), Ibnu Majah (3998) dan At-Tirmidzi (2780) dan dia berkata: โ€œHadits Hasan Shahihโ€

Demikianlah Said bin Al Musayyib. Bagaimana dengan para pemuda saat ini yang dikaruniai penglihatan sempurna, dan menemukan wanita wanita yang bahkan belum pernah ada di zaman Nabiย shalallahu โ€˜alayhi wasallamย bebas berkeliaran di jalan jalan, sedangkan setanlaโ€™natullah โ€˜alayhย menghiasi pandangan mereka terhadap wanita wanita tersebut?..

Hendaklah mereka takut akan apa yang telah diperingatkan oleh Rasulullahย shalallahu โ€˜alayhi wasallam. Hendaknya mereka khawatir diri mereka akan terjatuh kepada fitnah terbesar bagi kaum adam umat ini. Fitnah Wanita.

***

Artikelย muslimah.or.id

Dikutip dengan sedikit gubahan dari 60ย Biografi Ulama Salafย karya Syaikh Ahmad Farid (Penerjemah: Masturi Irham, Lc. dan Asmuโ€™i Taman, Lc.ย  penerbit Pustaka Al Kautsar, 2006)