Kewajiban Menuntut Ilmu

KEWAJIBAN BELAJAR

image

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة
Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “Menuntut ilmu wajib bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan”.

اعلم, بأنه لايفترض على كل مسلم، طلب كل علم وإنما يفترض عليه طلب علم الحال كما قال: وأفضل العلم علم الحال، وأفضل العمل حفظ الحال
Perlu diketahui bahwa, kewajiban menuntut ilmu bagi muslim laki-laki dan perempuan ini tidak untuk sembarang ilmu, tapi terbatas pada ilmu agama, dan ilmu yang menerangkan cara bertingkah laku atau bermuamalah dengan sesama manusia. Sehingga ada yang berkata,“Ilmu yang paling utama ialah ilmu Hal. Dan perbuatan yang paling mulia adalah menjaga perilaku.” Yang dimaksud ilmu hal ialah ilmu agama islam, shalat misalnya.

ويفترض على المسلم طلب ما يقع له فى حاله، فى أى حال كان، فإنه لابد له من الصلاة فيفترض عليه علم ما يقع له فى صلاته بقدر ما يؤدى به فرض الصلاة،
Oleh karena setiap orang islam wajib mengerjakan shalat, maka mereka wajib mengetahui rukun-rukun dan sarat-sarat sahnya shalat, supaya dapat melaksanakan shalat dengan sempurna.

ويجب عليه بقدر ما يؤدى به الواجب، لأن ما يتوسل به إلى إقامة الفرض يكون فرضا، وما يتوسل به إلى إقامة الواجب يكون واجبا وكذا فى الصوم، والزكاة، إن كان له مال، والحج إن وجب عليه. وكذا فى البيوع إن كان يتجر.
Setiap orang islam wajib mempelajari/mengetahui rukun maupun shalat amalan ibadah yang akan dikerjakannya untuk memenuhi kewajiban tersebut. Karena sesuatu yang menjadi perantara untuk melakukan kewajiban, maka mempelajari wasilah/perantara tersebut hukumnya wajib. Ilmu agama adalah sebagian wasilah untuk mengerjakan kewajiban agama. Maka, mempelajari ilmu agama hukumnya wajib. Misalnya ilmu tentang puasa, zakat bila berharta, haji jika sudah mampu, dan ilmu tentang jual beli jika berdagang.

قيل لمحمد بن الحسن، رحمة الله عليه: لما لاتصنف كتابا فى الزهد؟ قال: قد صنفت كتابا فى البيوع، يعنى: الزاهد من يحترز عن الشبهات والمكروهات فى التجارات.
Muhammad bin Al-Hasan pernah ditanya mengapa beliau tidak menyusun kitab tentang zuhud, beliau menjawab, “aku telah mengarang sebuah kitab tentang jual beli.” Maksud beliau adalah yang dikatakan zuhud ialah menjaga diri dari hal-hal yang subhat (tidak jelas halal haramnya) dalam berdagang.

وكذلك فى سائر المعاملات والحرف، وكل من اشتغل بشيئ منها يفترض عليه علم التحرز عن الحرام فيه. وكذلك يفترض عليه علم أحوال القلب من التوكل والإنابة والخشية والرضى، فإنه واقع فى جميع الأحوال.
Setiap orang yang berkecimpung di dunia perdagangan, wajib mengetahui cara berdagang dalam islam supaya dapat menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan. Setiap orang juga harus mengetahui ilmu-ilmu yang berkaitan dengan batin atau hati, misalnya tawakal, tobat, takut kepada Allah, dan ridha. Sebab, semua itu terjadi pada segala keadaan.

📝 Dinukil dari Kitab Ta’lim Muta’alim

🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸

📌Channel Telegram: http://www.bit.ly/bekalakhirat
📌 Blog: http://www.bekalakhirat.wordpress.com
📌 FAQ WA/ Telegram Only: 082319017000

Advertisements

Keutamaan Ilmu Akhirat atas Ilmu Dunia

🕋 KEUTAMAAN ILMU AKHIRAT ATAS ILMU DUNIA 🕋

Disusun oleh: Abu Ezra Al-Fadhli

#ilmu #hadits

✅Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan dishahihkan Ibnu Hibban:

عن أبي هريرة ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم :  إن الله يبغض كل جعظري جواظ سخاب بالأسواق ، جيفة بالليل ، حمار بالنهار ، عالم بأمر الدنيا ، جاهل بأمر الآخرة

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu , Rasuulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda : ” Allah membenci setiap orang yang kasar/ sombong, banyak makan, suka berteriak-teriak di pasar, tertidur pulas sepanjang malam seperti bangkai dan di siang hari seperti keledai, ‘alim (pandai) dalam urusan dunia tetapi jahil (bodoh) dalam urusan akhirat. ”

📌Di antara beberapa faidah yang bisa dipetik hikmahnya dari riwayat di atas adalah:

1⃣ Menjauhi sifat-sifat buruk yang disebutkan dalam hadits tersebut, yakni:

✅ kasar/ sombong, karena sesungguhnya tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji dzarrah kesombongan. Sedangkan makna kesombongan adalah: merendahkan manusia dan menolak kebenaran.
✅ banyak (berlebihan) makan dan minum, karena berlebihan dalam makna dan minum adalah perbuatan setan. Adapun ciri khas orang-orang beriman adalah mereka makan hanya pada saat lapar dan berhenti sebelum kenyang.
✅ suka bertertiak di pasar. Karena karakter orang-orang beriman adalah senantiasa mengeluarkan kata-kata yang baik lagi lemah lembut, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasuulullaahi shallallaahu ‘alayhi wa sallam.
✅ tertidur pulas sepanjang malam seperti bangkai, yakni membiarkan malamnya berlalu begitu saja, tanpa dzikir, wudhu, dan shalat. Orang yang membiarkan malamnya berlalu begitu saja tanpa ada upaya menghidupkannya dengan ibadah diibaratkan dengan bangkai.
✅ seperti keledai di siang hari. Yakni sibuk dalam urusan dunia, namun melupakan urusan akhirat. Orang-orang yang hanya menyibukkan hari-hari mereka untuk dunia dan kepentingan syahawat semata tak ubahnya dengan binatang, karena tidak pernah berpikir tentang kehidupan yang abadi di akhirat.
✅ alim dalam urusan dunia tapi jahil dalam urusan akhirat. Saat ditanya tentang permasalahan duniawi, maka ia bisa membicarakan, menjelaskan, dan mempraktikannya, namun saat berhubungan dengan permasalahan akhirat dan ibadah, maka ia diam membisu dan tidak memahaminya.

2⃣ Keutamaan ilmu akhirat atas ilmu dunia. Dalam sabdanya, Rasuulullaahi shallallaahu ‘alayhi wa sallam menegaskan bahwa orang-orang yang lebih menekuni ilmu dunia namun jahil atas ilmu akhirat, maka ancamannya adalah kemurkaan Allaah Azza wa Jalla. Dalil-dalil lain yang mendukung hal ini banyak sekali di antaranya adalah:

✅ Sabda Rasuulullaahi shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

طلب العلم فريضة على كل مسلم

Menuntut al-ilmu itu fardhu atas setiap muslim (HR. Ath Thabrani dan Ibnu Majah)

✅ Al-Haafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata tentang ilmu yang wajib dalam riwayat di atas:

والمراد بالعلم: العلم الشرعي الذي يُفيد معرفة مايجب على المكلَّف من أمر دينه في عباداته ومعاملاته، والعلم بالله وصفاته ومايجب من القيام بأمره وتنزيهه عن النقائص. ومدار ذلك على التفسير والحديث والفقه

Dan yang dimaksud dengan al ‘ilmu adalah ilmu syar’i yang bermanfaat untuk mengetahui apa-apa yang diwajibkan atas mukallaf dari urusan diin-nya; dalam ibadah-ibadahnya atau muamalah-muamalahnya. Serta ilmu tentang Allah dan sifat-sifat-Nya; apa kewajiban kita terhadap-Nya dan cara mensucikan-Nya dari berbagai macam kekurangan. Dan semua itu beredar pada tafsir, hadits, dan fiqih. [Fathul Baari, Juz I, hal. 141]

✅ Al-Imam An-Nawawi berkata tentang ilmu yang fardhu ‘ain:

فرض العين ــ أي من العلم الشرعي ــ وهو تعلّم المكلّف مالا يتأدي الواجب الذي تعيَّن عليه فعله إلا به

Hukumnya fardhu ‘ain -yakni ilmu syar’i- yakni kewajiban seorang mukallaf (muslim baaligh-‘aaqil) untuk menuntut semua ilmu yang tidak akan terlaksana kewajiban-kewajiban agama kecuali dengan memahami ilmu ini [Al-Majmu’ I/24]

✅ Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah mensifati ilmu yang fardhu ain:

طلبُ كل واحدٍ عِلم ماأمره الله به وما نهاه عنه، فإن هذا فرض على الأعيان
Yakni wajib bagi setiap individu untuk menuntut ilmu tentang apa-apa yang Allaah perintahkan atasnya dan tentang apa-apa yang Allaah larang darinya. Maka semua ini hukumnya fardhu ‘ain. [Majmu’ Fatawa 28/80]

✅ Semua penjelasan di atas menegaskan kepada kita bahwasanya ilmu akhirat jauh lebih utama dibandingkan ilmu duniawi karena hukumnya fardhu ‘ain, dan sebagian (rinciannya) fardhu kifayah. Adapun ilmu duniawi, maka tidak ada yang diwajibkan kepada semua manusia, kecuali fardhu ‘ain khusus kepada sebagian manusia, fardhu kifayah pada sebagiannya, dan sunnah pada sebagian yang lain, yang akan dirinci pada pembahasan selanjutnya, in Syaa Allaah.

#ilmu #hadits #riwayat #atsar

〰〰〰〰〰〰〰

Channel Telegram @bekalakhirat
telegram.me/bekalakhirat
bekalakhirat.wordpress.com
FB: /bekalakhiratchannel
CP +6282319017000

〰〰〰〰〰〰〰

Risalah ‘Abbad Al Khawwash Untuk Para Ulama dan Penuntut Ilmu

Sebuah risalah indah dan sangat bermanfaat bagi mereka yang tengah berjalan di atas kemuliaan ilmu dan amal.

 

عَنْ عَبَّادِ بْنِ عَبَّادٍ الْخَوَّاصِ الشَّامِيِّ أَبِي عُتْبَةَ قَالَ أَمَّا بَعْدُ اعْقِلُوا وَالْعَقْلُ نِعْمَةٌ فَرُبَّ ذِي عَقْلٍ قَدْ شُغِلَ قَلْبُهُ بِالتَّعَمُّقِ عَمَّا هُوَ عَلَيْهِ ضَرَرٌ عَنْ الِانْتِفَاعِ بِمَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ حَتَّى صَارَ عَنْ ذَلِكَ سَاهِيًا

Dari ‘Abbad bin ‘Abbad Al Khawwash As Syami Abu ‘Utbah ia berkata: “Perhatian, gunakanlah akal, karena akal sebuah nikmat. Berapa banyak orang berakal menyibukkan hatinya untuk memperdalam hal-hal yang membahayakan dirinya daripada memanfaatkan apa yang dibutuhkannya, sehingga ia lupa hal itu.

وَمِنْ فَضْلِ عَقْلِ الْمَرْءِ تَرْكُ النَّظَرِ فِيمَا لَا نَظَرَ فِيهِ حَتَّى لَا يَكُونَ فَضْلُ عَقْلِهِ وَبَالًا عَلَيْهِ فِي تَرْكِ مُنَافَسَةِ مَنْ هُوَ دُونَهُ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ أَوْ رَجُلٍ شُغِلَ قَلْبُهُ بِبِدْعَةٍ قَلَّدَ فِيهَا دِينَهُ رِجَالًا دُونَ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ اكْتَفَى بِرَأْيِهِ فِيمَا لَا يَرَى الْهُدَى إِلَّا فِيهَا وَلَا يَرَى الضَّلَالَةَ إِلَّا بِتَرْكِهَا يَزْعُمُ أَنَّهُ أَخَذَهَا مِنْ الْقُرْآنِ وَهُوَ يَدْعُو إِلَى فِرَاقِ الْقُرْآنِ

Diantara keutamaan akal seseorang adalah meninggalkan perhatian terhadap hal-hal yang tidak perlu sehingga keutamaan akalnya tidak menjadi bencana baginya, yaitu ia meninggalkan persaingan dengan orang yang lebih rendah amal shalihnya, atau seseorang yang menyibukkan hatinya dengan bid’ah, yang ia sekedar mengikuti orang dalam urusan agamanya tanpa mengikuti para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, atau ia hanya merasa cukup dengan pendapatnya sendiri, yang ia tidak melihat petunjuk kecuali kepada akalnya, dan tidak melihat kesesatan kecuali meninggalkannya dengan anggapan bahwa ia mengambilnya dari Al Qur`an, padahal ia menyerukan untuk meninggalkan Al Qur`an.

أَفَمَا كَانَ لِلْقُرْآنِ حَمَلَةٌ قَبْلَهُ وَقَبْلَ أَصْحَابِهِ يَعْمَلُونَ بِمُحْكَمِهِ وَيُؤْمِنُونَ بِمُتَشَابِهِهِ وَكَانُوا مِنْهُ عَلَى مَنَارٍ كَوَضَحِ الطَّرِيقِ فَكَانَ الْقُرْآنُ إِمَامَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ إِمَامًا لِأَصْحَابِهِ وَكَانَ أَصْحَابُهُ أَئِمَّةً لِمَنْ بَعْدَهُمْ رِجَالٌ مَعْرُوفُونَ مَنْسُوبُونَ فِي الْبُلْدَانِ مُتَّفِقُونَ فِي الرَّدِّ عَلَى أَصْحَابِ الْأَهْوَاءِ مَعَ مَا كَانَ بَيْنَهُمْ مِنْ الِاخْتِلَافِ

Bukankah Al Qur`an mempunyai pengemban-pengemban sebelumnya, yaitu para pembelanya yang mengamalkan ayat-ayat yang muhkam dan mengimani ayat-ayat yang mutasyabbih? Mereka berada di menara layaknya cahaya jalan, Al Qur`an imam Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, sedang Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam imam para sahabatnya, dan para sahabat adalah imam orang-orang setelah mereka, yaitu orang-orang yang sudah dikenal kebaikannya, mereka menjadi barometer di negeri-negeri mereka yang sepakat menolak para pengagung hawa nafsu walaupun diantara mereka terdapat perselisihan pendapat.

وَتَسَكَّعَ أَصْحَابُ الْأَهْوَاءِ بِرَأْيِهِمْ فِي سُبُلٍ مُخْتَلِفَةٍ جَائِرَةٍ عَنْ الْقَصْدِ مُفَارِقَةٍ لِلصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ فَتَوَّهَتْ بِهِمْ أَدِلَّاؤُهُمْ فِي مَهَامِهَ مُضِلَّةٍ فَأَمْعَنُوا فِيهَا مُتَعَسِّفِينَ فِي تِيهِهِمْ كُلَّمَا أَحْدَثَ لَهُمْ الشَّيْطَانُ بِدْعَةً فِي ضَلَالَتِهِمْ انْتَقَلُوا مِنْهَا إِلَى غَيْرِهَا لِأَنَّهُمْ لَمْ يَطْلُبُوا أَثَرَ السَّالِفِينَ وَلَمْ يَقْتَدُوا بِالْمُهَاجِرِينَ

Para pengagum hawa nafsu meraba-raba dengan pendapat mereka, yaitu dengan cara yang bermacam-macam, yang melenceng dari tujuan karena memisahkan diri dari jalan yang lurus. Petunjuk mereka menyesatkan mereka sendiri dalam misteri padang pasir yang menyesatkan. Mereka konsentrasi melihat petunjuk jalan dengan penuh kebingungan dalam kesesatannya. Setiap kali setan membuat satu bid’ah dalam kesesatan, mereka berpindah dari satu bid’ah ke bid’ah lain, karena mereka tidak mencari petunjuk para pendahulu dan juga tidak mengikuti jejak kaum muhajirin.

 

Bersambung..

 

Madzhab Fiqih : Kedudukan dan Cara Menyikapinya

Kitab Fiqih Empat Madzhab

Pengertian

Madzhab — “dzahaba” = pergi, berlalu. Kata madzhab merupakan “isim makan” yaitu sebuah kata yang menunjukkan tempat kata dasarnya. Maka, dari sisi bahasa, madzhab berarti tempat pergi atau tempat berlalu. Mungkin juga kita artikan “titik tolak” dalam istilah yang lain.

Selain bermakna pergi dan berlalu, dzahaba juga bermakna “pendapat”. Maka dari sisi istilah, madzhab diartikan sebagai cara atau metode seseorang atau kelompok, baik dalam masalah keyakinan, perilaku, hukum, dan lain sebagainya.

Fiqih —alimaya’lamu dan fahimayafhamu = mengetahui, mengerti.

Dari sisi istilah, fiqih bermakna “Hukum-hukum praktis dalam syari’at yang diambil dari dalil-dalil terperinci.”

Madzhab Fiqih — Metode yang digunakan oleh seorang mujtahid untuk menentukan sejumlah hukum-hukum praktis dalam syari’at.

Fase Perkembangan Ilmu Fiqih

  1. Fase Penetapan Syari’at (Marhalah Tasyri’) 0-41 H
  2. Fase Peletakkan Dasar-Dasar Fiqih (Marhalah Ta’sis Lil Fiqhi) 41-132 H
  3. Masa Kecemerlangan Fiqih (Marhalatu Izdiharil Fiqhi) 132-350
    1. Lahirnya para mujtahid, termasuk Al A’immah Al Arba’ah
    2. Perhatian yang besar dari Kekhilafahan
    3. Maraknya pembukuan dari berbagai macam disiplin ilmu
    4. Banyaknya munazarat (adu argumentasi)
    5. Fase Kejumudan dan Fanatisme Madzhab (Marhalatul Jumud wat Ta’ashshub) 350-…

Sejarah Munculnya Madzhab Fiqih

  1. Cara pandang sang Imam yang diikuti oleh murid-muridnya
  2. Munculnya sebuah komunitas yang memiliki sebuah kesamaan cara pandang
  3. Disusunnya kitab-kitab yang berisi cara pandang para ulama di kalangan internal mereka
  4. Terbentuknya madzhab-madzhab fiqih, dan yang terkenal ada 5 : Hanafiyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hanabilah, dan Dzahiriyah.

Sikap yang Proporsional Terkait dengan Beberapa Hal

Taqlid

  • Haram bagi orang yang telah memiliki kemampuan untuk meneliti dalil
  • Haram bagi orang awam yang fanatik terhadap madzhabnya padahal telah datang kepadanya dalil yang lebih kuat
  • Bagi orang-orang awam yang belum memiliki kemampuan meneliti dalil, maka diperbolehkan baginya mengikuti pendapat salah satu mujtahid walaupun tidak mengetahui dalilnya

Hukum Bermadzhab

  • Boleh, dengan syarat tidak fanatik dan memilih pendapat yang lebih kuat dalilnya bila diketahui pendapat madzhab yang dia anut memiliki landasan yang lebih lemah

Sikap terhadap Para Imam dan Para Ulama

  • Menghormati mereka dan mengakui kapasitas keilmuan mereka
  • Menempatkan mereka secara proporsional karena tidak ada yang ma’shum selain para Nabi dan Rasul
  • Kekeliruan para mujtahid dalam sebuah pendapat ketika menentukan hukum tidak identik dengan dosa
  • Bila tidak setuju dengan pendapat ulama lain, hendaknya didukung oleh dalil yang kuat, bukan sekedar sentimen pribadi atau kelompok
  • Ketidaksetujuan terhadap suatu pendapat juga bukan berarti menjelek-jelekan pendapat yang bertentangan tersebut, apalagi sampai menghina dan merendahkan para imam
  • Tidak dibenarkan mencari-cari kesalahan para ulama
  • Perlu dipertegas kriteria seseorang disebut sebagai ulama, agar masyarakat awam mengetahui kepada siapa mereka merujuk

Sikap terhadap Khilafiyah

  • Di antara berlebihan (ifrath) dan tafrith (meremehkan)
  • Ikhtilaf tanawwu’ tidak bisa dihindari — toleransi
  • Ikhtilaf tadhadh wajib dihindari — ketegasan dan iftiraq

Talfiq, yaitu mengumpulkan beberapa pendapat para imam

  • Dianjurkan mengambil pendapat yang lebih kuat di antara para imam
  • Haram bila dilakukan dalam rangka mencari pendapat yang paling mudah tanpa melihat sisi kuat-lemahnya dalil yang digunakan

 

Wallahu a’lam

Rd. Laili Al Fadhli

Materi Kajian Umum Mahasiswa Pecinta Islam (MPI) Bandung, 28 Syawwal 1433 H

Disarikan dari Kitab Al Madzahibul Fiqhiyyah wal Mauqifush Shahih Minha

Menyikapi Ikhtilaf (Perbedaan Pendapat) di Tengah-Tengah Umat

 

MAKNA IKHTILAF

Secara etimologis, ikhtilaf berarti: tidak sama, tidak sepakat (Al-Mu’jam Al-Wasith: 1/251).

Dalam istilah ulama, ikhtilaf atau khilaf memiliki dua arti:

  • Perlawanan, perpecahan, perdebatan dan benturan yang menimbulkan permusuhan dan kebencian. Ibnu Mas’ud ra berkata: “Khilaf itu buruk”.
  • Perbedaan pendapat dan sudut pandang yang disebabkan oleh perbedaan tingkat kecerdasan dan informasi. (Ma’an ‘ala Thariq ad-Da’wah: 102).

 

KAIDAH-KAIDAH DALAM MEMAHAMI IKHTILAF

1)       Ikhtilaf Adalah Perkara Yang Kauni (Sunnatullah), Sedangkan Mencegahnya Merupakan Perkara Yang Syar’i.

2)      Tidak Semua Ikhtilaf adalah Iftiraq.

  1. Iftiraq tidak akan terjadi kecuali pada ushul kubra kulliyah (pokok-pokok yang besar dan mendasar) yang tidak ada peluang untuk diperselisihkan. Yakni pokok-pokok yang telah jelas berdasarkan nash qath’i atau ijma’ atau telah jelas sebagai manhaj ilmiah Ahlus sunnah wal Jama’ah yang tidak lagi diperselisihkan (oleh Ahlus Sunnah) mengenainya.
  2. Ikhtilaf (perselisihan pendapat) yang diperbolehkan itu bersumber dari ijtihad dan niat yang baik, dan orang yang salah akan diberi pahala apabila ia mencari kebenaran. Sementara Iftiraq (perpecahan) tidak terjadi dari kesungguh-sungguhan dalam mencari kebenaran dan niat yang baik, dia timbul dari mengikuti hawa nafsu.
  3. Iftiraq berkaitan erat dengan ancaman Allah, dan semua iftiraq menyimpang serta binasa, adapun ikhtilaf yang diperbolehkan tidaklah seperti itu betapapun hebat ikhtilaf yang terjadi diantara kaum muslimin.

3)      Kebenaran Itu Hanya Satu, Tidak Terbilang.

 

MACAM-MACAM IKHTILAF

1)       Ikhtilaf Tercela

  1. Ikhtilaf yang kedua belah pihak dicela, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ikhtilafnya orang-orang Nashara. “Artinya: Maka Kami timbulkan diantara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat[Al-Maidah : 14], Yahudi [5: 64], dan Ahli Bida’ wal Ahwa’ [6: 159]
  2. Ikhtilaf Tadhad, yang satu dipuji yang lain dicela.

2)      Ikhtilaf yang boleh

  1. Ikhtilafnya dua orang mujtahid dalam perkara yang diperbolehkan ijtihad di dalamnya.

i.      Hendaknya dalam masalah yang di ijtihad-kan, tidak ada dalil yang qath’iyuts tsubut (qath’i adanya sebagai dalil) dan qath’iyud-dalalah (qath’i penunjukannya/dalalahnya), sebab tidak boleh berijtihad dalam menentang nash.

ii.      Hendaknya dalil tentang permasalahan itu mengandung beberapa kemungkinan.

iii.      Hendaknya ijtihad yang dilakukan tidak dalam masalah yang telah ijma’ (disepakati) atau tidak dalam masalah yang telah baku sebagai manhaj ilmiyah Ahlus Sunnah.

iv.      Hendaknya hukum atas permasalahan itu bersumber dari seorang mujtahid yang telah memenuhi persyaratan ijtihad, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka tentang ushul fiqh.

v.      Hendaknya kesimpulan hukum dibangun berdasarkan metode Ahlus Sunnah dalam cara pandang maupun cara mengambil dalil.

  1. Ikhtilaf Tanawwu’

 

SEBAB-SEBAB IKHTILAF

  • Perbedaan kemampuan akal para ulama dalam menyimpulkan ayat atau hadits yang multi interpretative.
  • Perbedaan informasi dan ilmu yang dimiliki para ulama.
  • Perbedaan lingkungan, situasi dan kondisi.
  • Perbedaan ketentraman hati dalam menilai suatu riwayat hadits.
  • Perbedaan dalam menempatkan dalil yang harus didahulukan dari yang lain.

(Risalah Da’watunaMajmu’ah Rasail Al-Banna)

 

 

ADAB-ADAB IKHTILAF

  • Ikhlas dalam mencapai dan mencari kebenaran,
  • Lapang dada dalam menerima kritik,
  • Keinginan kuat untuk bersatu, berukhuwah dan berjama’ah,
  • Bersikap objektif dan adil terhadap pihak yang berbeda,
  • Berdiskusi di bawah naungan ukhuwah; menggunakan bahasa terbaik lagi santun serta dengan cara-cara yang lemah lembut dan penuh kasih sayang,
  • Menjauhi ta’ashub,
  • Tidak mengingkari ikhtilaf yang mu’tabar dan diperbolehkan,
  • Meninggalkan yang mustahab demi menyatukan hati,
  • Meninggalkan perkara yang tidak membuahkan amal.

 

SIMPULAN

1)       Ikhtilaf, meskipun ia sudah menjadi perkara yang ditakdirkan oleh Allah akan tetapi wajib bagi kita untuk menjauhinya dan tidak punya keinginan untuk berikhtilaf pada suatu yag boleh selama kita masih ada jalan untuk menghindarinya.

2)      Perkara-perkara yang diperbolehkan ijtihad padanya, memiliki beberapa syarat dan ketentuan-ketentuan yang diatur oleh ilmu dan keikhlasan bukan diatur oleh perkiraan dan kemauan hawa nafsu.

3)      Ahlus Sunnah memiliki manhaj dalam memahami ikhtilaf yang diambil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Diantara adab-adabnya adalah mengikuti akhlak para salaf shalih dalam pergaulan dengan sesama mereka ketika terjadi ikhtilaf.

4)      Tidak boleh bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menuduh saudaranya memisahkan diri dari manhaj Ahlus Sunnah kecuali berdasarkan ilmu dan keadilan, bukan berdasarkan kebodohan dan kezhaliman.

5)      Tidak mencampur adukkan antara masalah-masalah ijtihadiyah dengan masalah iftiraq (perpecahan) demikian juga tidak boleh mencampur-adukkan antara orang yang membuat bid’ah juz’iyah dengan orang yang meninggalkan sunnah dengan bid’ah kulliyah.

 

 

Rd. Laili Al Fadhli, dikutip dari bebagai sumber

Ikhtilaf ‘Ulama : Sebab dan Sikap Kita Terhadapnya

Segala puji bagi Allah ta’ala yang telah memberikan kepada kita nikmat iman dan islam serta kesehatan, karunia yang tiada taranya yang telah diberikan-Nya kepada kita sebagai hamba-Nya. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada manusia terbaik sepanjang zaman dan penutup para nabi dan rasul, Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang telah membawa manusia dari alam jahiliyah kepada masa yang terang benderang yang penuh dengan iman dan ilmu pengetahuan, juga kepada para keluarga, sahabat, dan orang-orang yang tetap istiqamah menegakkan risalah yang dibawanya hingga akhir jaman.

Pelangi : Indah karena perbedaan

Salah satu karunia Allah ta’ala yang diberikannya kepada umat Islam adalah tidak adanya perbedaan bahwa sumber utama dalam hukum dan sikap hidup kita adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam wafat, Allah ta’ala telah menyempurnakan ajaran agama ini, seperti disebutkan dalam firman-Nya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu” [QS. Al-Maidah : 3].

Demikian pula dengan sunnah, tidak ada satu sisi pun, baik yang berhubungan dengan syari’at atau pun dalam kehidupan sehari-hari, kecuali telah disampaikan dan dicontohkan oleh beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sunnah.

Umat Islam di masa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (baca: sahabat) selalu kembali kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam setiap kali terjadi perbedapat pendapat atau perselisihan di antara mereka. Setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, sirnalah perselisihan dan perbedaan di antara mereka. Atau terjadi kasus yang cukup rumit, sehingga Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdiam diri menunggu turunnya Al-Qur`an, namun setelah turunnya Al-Qur`an yang menjelaskan realita dan hukumnya, sirnalah segala persoalan yang mengganjal mereka. Seperti kasus ‘berita bohong’ (hadits ifk) yang dialamatkan kepada ‘Aisyah radliyallahu ‘anha dan juga penyebab turunnya ayat tentang li’an dalam surah An-Nuur yang dialami salah seorang sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Hilal bin Umayyah radliyallaahu ‘anhu, salah satu dari tiga orang yang Allah ta’ala menerima taubatnya ketika ketinggalan dalam perang Tabuk pada tahun ke sembilan Hijriyah.

Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah meninggal dunia, mulailah terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama, tetapi bukan persoalan yang menyangkut aqidah atau prinsip dalam Islam. Kita yakin bahwa para ulama tidak mungkin meyakini suatu hukum syari’at atau memberikan fatwa kecuali yang sesuai dengan tuntutan Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, namun sebagai manusia biasa yang tidak ma’shum, mungkin saja seseorang keliru dalam memahami kandungan yang terdapat al-Qur`an dan sunnah, tanpa bermaksud menyalahi apalagi menentang atau berpaling dari keduanya.

Berikut ini adalah beberapa sebab terjadinya perbedaan pendapat di kalangan para ulama, yang di antaranya adalah:

1.     Nash atau dalil dalam suatu masalah tidak sampai kepada seseorang yang keliru dalam mengambil suatu keputusan atau memberikan fatwa. Kasus seperti ini bukan hanya terjadi di masa sekarang, bahkan pernah terjadi beberapa kali di masa sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa di masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab radliyallaahu ‘anhu, setelah Palestina di kuasai kaum muslimin, Khalifah Umar radliyallaahu ‘anhu melakukan perjalanan menuju Palestina bersama satu rombongan dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Ketika di tengah perjalanan, terdengarlah kabar bahwa di negeri Syam tengah dilanda wabah yang sangat berbahaya serta telah banyak menelan korban jiwa.[1] Mendengar berita itu, Umar radliyallaahu ‘anhu menahan perjalanan dan bermusyawarah dengan para pembesar dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Terjadilah perbedaan pendapat di antara mereka dalam masalah, apakah mereka meneruskan perjalanan atau kembali ke Madinah? Yang berpendapat untuk kembali ke Madinah memberikan argumentasi bahwa masuknya mereka ke kota itu akan membawa mereka kepada kematian, karena wabah itu sangat berbahaya. Sedangkan pendapat kedua memberikan hujjah bahwa semua yang terjadi tidak pernah terlepas dari qadla dan qadar Allah ta’ala. Semua itu telah tercatat di Lauhul Mahfuzh. Pada saat itulah Abdurrahman bin ‘Auf radliyallaahu ‘anhu datang dan berkata : “Sesungguhnya saya mempunyai pengetahuan tentang hal ini, saya pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فِى أَرْضٍ فَلاَ تَقْدُمُوْا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ فِيْهَا فَلاَ تَخْرُجُوْا فِرَارًا مِنْهُ.

Apabila kalian mendengar berita tentangnya (penyakit tha’un) di suatu negeri, maka janganlah kamu memasukinya. Dan ketika wabah penyakit itu tengah terjadi, sedang kamu berada di sana, maka janganlah keluar (pergi meninggalkan negeri itu) karena lari dari penyakit tersebut.”[2]

Setelah mendengar hadits tersebut, semuanya tunduk dan patuh terhadap sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan kembali ke kota Madinah.

Demikian pula yang sering terjadi di masa sekarang, sering kita dengar perbedaan pendapat di kalangan para ulama, dan salah satu penyebab yang dominan adalah tidak sampainya nash atau dalil kepada orang yang keliru dalam mengambil suatu keputusan hukum, di samping adanya sebab-sebab yang lain tentunya. Wallahu A’lam.

2.     Hadits (dalil) telah sampai kepada seseorang yang kebetulan keliru dalam mengambil suatu keputusan, namun ia kurang percaya kepada pembawa berita atau yang meriwayatkan hadits. Misalnya, imam Fulan mengatakan bahwa hadits ini shahih, sedangkan imam yang lain berpandangan bahwa hadits tersebut dla’if (lemah). Seperti imam Nawawi rahimahullah berkeyakinan  bahwa hadits tentang qunut dalam shalat subuh adalah shahih, seperti yang dia tekankan dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab. Sementara itu, mayoritas ulama hadits dari masa ke masa meyakini bahwa hadits itu dla’if dan tidak bisa dijadikan sebagai sumber hukum syari’at. Ini hanyalah sebuah contoh, masih banyak contoh lain yang serupa, namun kita cukupkan dengan satu contoh itu. Hal ini juga pernah terjadi di masa khalifah Umar bin al-Khaththab t, ketika beliau menolak riwayat Fathimah binti Qais radliyallahu ‘anha bahwa perempuan yang telah dicerai yang ketiga kalinya oleh suaminya, perempuan itu tidak berhak lagi mendapatkan hak terhadap nafkah dan tempat tinggal dari suaminya. Khalifah Umar radliyallaahu ‘anhu menolak riwayat itu karena kurang percaya terhadap orang yang meriwayatkan hadits tersebut. Wallahu A’lam.

3.     Dalil (hadits) telah sampai kepada orang tersebut, namun ia keliru dalam memahaminya. Contoh perbedaan seperti ini pernah terjadi di zaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bahkan pada masa hidup Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Peritistiwa itu bermula ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam baru selesai perang Ahzab pada tahun ke lima Hijriyah dan meletakkan peralatan perang. Pada saat itu, datanglah malaikat Jibril ‘alaihis-salaam dan berkata : “Berangkatlah menuju perkampungan Bani Quraizhah”. Maka saat itu juga Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada para sahabat agar segera berangkat menuju perkampungan mereka dan bersabda:

لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ إِلاَّ فِى بَنِي قُرَيْظَةَ

Janganlah seseorang shalat Ashar kecuali di (perkampungan) Bani Quraizhah.” [Muttafaqun ‘alaih][3]

Para sahabat berbeda pendapat dalam memahami nash hadits ini. Sebagian mereka memahami bahwa yang dimaksud Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah agar mereka segera berangkat, sehingga sampai di perkampungan Bani Quraizhah sebelum shalat ‘Ashar. Karena itulah, ketika tiba waktu shalat ‘Ashar, sedangkan mereka masih berada di tengah perjalanan, mereka tetap melaksanakan shalat ‘ashar dan tidak menta’khirkannya hingga sampai di perkampungan Bani Quraizhah. Sedangkan yang lain memahami bahwa yang dimaksud Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah agar mereka jangan melaksanakan shalat ‘Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah. Sehingga ketika tiba waktu shalat ‘Ashar, sedangkan mereka masih berada di tengah perjalanan, mereka tidak langsung melaksanakan shalat ‘ashar dan menundanya hingga sampai di perkampungan Bani Quraizhah. Ketika hal itu disampaikan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak memberikan komentar apa-apa, dan tidak mencela kelompok yang manapun. Tidak diragukan lagi, bahwa yang benar adalah yang melakukan shalat dalam waktunya dan tidak menundanya hingga keluar dari waktunya, karena kewajiban melaksanakan shalat dalam waktunya adalah dengan dalil yang jelas, sedangkan dalil (hadits) ini masih mengandung beberapa penafsiran.

Kemungkinan besar, inilah penyebab paling dominan yang melatar belakangi terjadinya perbedaan di kalangan para ulama dalam persoalan far’iyah (cabang), namun bukan yang menyangkut persoalan prinsif di dalam syari’at Islam. Hadits-hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah dibukukan dalam kitab-kitab hadits, baik dalam kitab Shahih, Sunan, Masanid, ataupun Ma’ajim. Namun pemahaman setiap orang, seringkali berbeda satu sama lain. Wallahu A’lam.

4.     Dalil telah sampai kepadanya tapi sudah dinasakh, namun ia tidak mengetahui dalil yang menasakhnya. Dalam kasus seperti ini, orang yang tidak mengetahui adanya nasakh dimaafkan, karena asal suatu masalah adalah tidak adanya nasakh, sampai diketahui dalil yang menasakhnya. Termasuk dalam sebab ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu tentang meletakkan kedua tangan ketika ruku’. Di permulaan Islam, disyari’atkan bagi orang yang shalat menutup kedua tangan dan meletakkannya di antara kedua lutut ketika ruku’. Hukum ini kemudian dinasakh dengan meletakkan dua telapak tangan pada dua lutut. Al-Bukhari telah meriwayatkan tentang hal ini di dalam Shahih-nya. Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu tidak mengetahui tentang hal ini dan tetap melaksanakan shalat seperti pada masa di awal Islam. Ketika Al-Alqamah dan Al-Aswad shalat di sampingnya dan meletakkan kedua tangan pada kedua lutut, Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu menegur keduanya. Kenapa? Karena ia tidak mengetahui adanya nashakh. Seseorang tentu tidak diberikan beban di luar batas kemampuannya. Wallahu A’lam.

5.     Hadits (dalil) telah sampai kepadanya, namun ia lupa terhadap dalil tersebut. Sudah menjadi sunnatullah, bahwa lupa adalah bagian dari fitrah kita sebagai manusia biasa. Banyak orang yang telah hapal sekian banyak hadits-hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, namun kemudian ia lupa. Ini merupakan salah satu penyebab terjadinya terjadi perbedaan pendapat, walau dalam porsi yang tidak terlalu besar.

Bagaimana sikap kita terhadap perbedaan pendapat ini?

Kalau kita menemukan perbedaan seperti yang telah disebutkan di atas, siapakah yang harus kita ikuti? Apakah kita akan mengikuti seorang imam dan tidak pernah keluar dari pendapatnya, walau pun kebenaran ada pada pendapat yang lain? Ataukah kita mengikuti pendapat yang lebih kuat sesuai dengan dalil-dalil yang ada, walau berbeda pendapat dengan imam yang kita ikuti?

Jawaban yang benar adalah yang kedua, karena wajib bagi yang mengetahui dalil yang shahih untuk mengikutinya, walau berbeda pendapat dengan para imam. Karena mereka adalah manusia yang mungkin saja keliru dalam memberikan fatwa atau mengambil kesimpulan dalam suatu hukum. Siapapun yang meyakini bahwa ada seseorang selain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang harus diambil pendapatnya setiap waktu dan keadaan, berarti dia meyakini bahwa selain beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam ada yang memiliki keistimewaan risalah atau ada yang ma’shum (dipelihara dari dosa dan kesalahan). Padahal tidak ada seorang pun yang memiliki keistimewaan seperti ini selain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan setiap orang bisa diterima pendapatnya atau ditolak kecuali yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan sanad yang shahih. Wallahu A’lam.

Dikutip dari “Kitab al-Ilmi” karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah.

 

[1]      Dalam sejarah Islam disebut dengan wabah ‘Tha’un Amwas’. Wabah ini telah menelan korban sekitar 25.000 jiwa, termasuk di antaranya adalah panglima besar Abu Ubaidah Amir bin al-Jarrah radliyallaahu ‘anhu dan Mu’adz bin Jabal radliyallaahu ‘anhu.

[2]      HR. Al-Bukhari no. 5729 dan Muslim no. 2219

[3]      HR. al-Bukhari no. 946 dan Muslim no. 1770.

21 Mei

Hari itu Hari Kamis, empatbelas tahun yang lalu, sosok yang senyumnya bisa mengharubirukan Indonesia harus menyerah. Soeharto, penguasa terlama yang bertahta di Nusantara modern, harus tunduk pada kemauan Sang Maha Kuasa. Ia harus menanggalkan kekuasaan mutlak berselimut “demokrasi Pancasila” melalui tekanan aksi massa di mana-mana mengiringi ambruknya ekonomi dan keuangan negeri.

Soeharto

Peristiwa hari Kamis itu mengakhiri sebuah era panjang penindasan. Memulai era baru penuh perubahan dan euforia politik. Bayangkan, UUD 1945 yang tadinya dikeramatkan -tak boleh diutak-utik seolah kitab suci dari langit- kini telah empat kali diamandemen. Pancasila, 32 tahun diposisikan sebagai “sumber dari segala sumber hukum,” 13 tahun dipaksakan menjadi asas tunggal seluruh perkumpulan, tiba-tiba dipinggirkan jauh-jauh.

Era baru ini membuat perjuangan sebagian gerakan Islam seolah mencapai garis finish. Mereka yang masuk bui karena menolak asas tunggal dibebaskan. Sebagian tahanan politik Islam bahkan bisa duduk di DPR, menjadi legislator mewarnai hiruk-pikuk pembuatan undang-undang. Mereka yang biasa kucing-kucingan dengan intelijen Orde Baru untuk menggelar halaqah dan daurah, tiba-tiba saja bisa menggelar rapat publik terbuka. Juga memasang plang gerakan (dengan embel-embel “partai” tentu saja) di depan rumah kontrakan yang biasa diamati sebagai sarang “ekstrem kanan.”

Tapi ada juga yang berubah. Lawan perjuangan gerakan Islam menjadi kabur. Mereka yang tadinya disebut “thaghut” dalam halaqah dan daurah,kini menjadi “mitra koalisi.” Padahal, nyaris tak ada yang berubah dari para thaghut itu, tetap sekuler, menolak syari’at Islam dan menafikan negara Islam. Mereka hanya lebih ramah dan tak langsung main gebuk seperti Orde Baru.

Di sisi lain, harakah Islam yang istiqamah juga mengalami perubahan. Dari disebut radikal dan ekstrem, menjadi disebut “teroris.” Lalu rejim baru, yang juga berkoalisi dengan “harakah” Islam, memburu para teroris itu dengan biaya yang dikucurkan oleh Amerika dan sekutu Baratnya. Sejarah pun terulang, bak era 1950-an ketika Masyumi menjadi penguasa dan berkoalisi dengan partai-partai sekuler. Sementara harakah yang bersikeras ingin menegakkan daulah Islam disemati cap “pemberontak.”

Betapa aneh dan ganjil, aqidah sama, tujuan pun sama. Namun perbedaan manhaj dan metode membuat jalan yang dilalui begitu berbeda. Betapa ajaib lika-liku perjalanan taqdir manusia, kejatuhan seorang penguasa bisa menjadi pintu perubahan yang luar biasa. Pantas saja kejatuhan berturut-turut hampir semua penguasa di Timur Tengah membuka celah peluang yang sangat menggoda.

Namun peluang perubahan itu masih sama nilainya. Shahwah Islamiyah bisa mengambil posisi di negeri-negeri Muslim. Namun bisa juga peluang itu menjadi pintu berubahnya harakah Islam menjadi zombie-zombie demokrasi yang hina. Reformasi ataupun revolusi, sebagai akibat jatuhnya para tiran dan thaghut, hanyalah layar kosong babak baru yang masih perlu diberi warna. Sudah siapkah kuas dan cat Anda? *(Ibnu)

Disalin dari Majalah Islam An Najah edisi 80, no. 08/VII/ Mei 2012