Mengakhiri Krisis Perjalanan Gerakan Jihad

Pejuang Thaliban

Secara ringkas, dari evaluasi dan perbandingan gagasan yang ada di pemikiran saya dengan gagasan pada tiga aliran tersebut[1], ada beberapa poin simpulan sebagai berikut:

Pertama:  Tawaran-tawaran aliran yang menyerah, meletakkan senjata, dan menjauh dari jalan jihad merupakan aliran yang secara syar’i melenceng dan secara realitas mandul hasilnya. Hal seperti itu ditunjukkan nash-nash syar’i dan eksperimen-eksperimen masa lalu di negara kita dan eksperimen semua bangsa.[2]

Sesuatu yang tidak bisa kita peroleh dengan jihad dan senjata, sudah tentu tidak akan pernah kita raih dengan kekalahan dan sikap menyerah, baik untuk tujuan organisasi maupun untuk keselamatan pribadi.

Kedua: Aliran yang gigih a la kaum jihad dengan cara-cara lama hanya akan menggiring mereka menuju kegagalan masa lalu yang akan terulang kembali. Aliran ini gagal, meski situasi perjuangan dan faktor-faktor pendukung posisi kita sebelum adanya tatanan dunia baru lebih baik dan lebih sesuai, namun cara-cara, manhaj pemikiran, dan metode perjuangan tersebut tidak bisa mewujudkan aliran ini. Apalagi bila realita di sekeliling kita sudah berubah dan kondisi-kondisi global tidak memungkinkan lagi untuk berjuang dengan cara-cara lama tersebut, tentu akan gagal lagi.[3]

Masa lima tahun (1996-2001) telah membuktikan kemandulan cara-cara tersebut dan ketidakmampuan organisasi-organisasi jihad lama atau usaha-usaha baru mencapai hasil atau kemajuan apapun. Semua itu hanya mengakibatkan bertambahnya perpecahan, kerugian, dan korban berupa para syuhada dan orang-orang yang ditangkap melalui berbagai usaha terbatas yang mereka lakukan. Selain karena pengaruh kampanye-kampanye pembekuan sumber-sumber dana, pemutarbalikkan informasi, pengejaran pihak keamanan, membuat sisa-sisa aliran ini bertambah terisolir dari negeri dan komunitasnya. Hal ini membuat mereka yang masih tersisa menjadi kelompok-kelompok kecil yang hidup dalam kenangan-kenangan dan harapan-harapan masa lalu, serta cita-cita masa depan yang setiap hari hanya menambah khayalan mereka saja.

Mujahidin Moro

Ketiga: Seruan yang digagas oleh Syaikh Usamah dan dilaksanakan oleh Jaringan Al Qaidah dengan berperang melawan Amerika merupakan pintu bagi koreksi arah (gerakan) jihad, memobilisasi ummat, dan dengan melalui hal itu selanjutnya bergerak menuju prioritas-prioritas dalam menghilangkan problematika realitas kaum muslimin. Seruan itu merupakan cara terbaik, paling mendekati realitas, dan sesuai dengan perubahan situasi yang diakibatkan oleh tatanan dunia baru.[4]

Di dalam seruan itu, saya melihat adanya harapan, peluang pembaruan, dan titik awal yang kuat untuk mengoreksi perjalanan (gerakan) jihad dan aliran Jihadi, yakni jika hal tersebut bisa menciptakan orientasi yang serius ke arah penelusuran manhaj yang diperlukan untuk itu, juga bisa mengembangkan manajemen dan metode perjuangan yang sesuai dengan tahapan yang ada.

Saya berharap mereka dapat menentukan sarana perjuangan yang sesuai dan benar, juga mampu menentukan tujuan dan metode yang tepat. Pembaharuan besar dan perubahan tujuan serta metode perjuangan ini membutuhkan upaya-upaya besar untuk mengembangkan manhaj dan dasar-dasar pemikiran, sekaligus membutuhkan pengembangan yang besar dalam metode penyusunan ide-ide tersebut agar bisa membumi. Namun, persitiwa September 2001 mendahului semua itu sebelum hal tersebut dapat diwujudkan, padahal semua ini memerlukan waktu yang panjang.

Belajar dari fakta tersebut, saya berkeyakinan bahwa kita perlu meluncurkan teori-teori perjuangan baru untuk mengisi kekosongan besar yang terjadi akibat adanya perubahan dalam konfrontasi tersebut.

Setelah proses pemikiran yang penjang dan belajar dari rangkaian pengalaman dan pengembangan pemikiran tersebut yang ada pada diri saya selama sepuluh tahun, seperti yang telah saya jelaskan dalam buku ini, di Afghanistan, saya meluncurkan apa yang saya anggap sebagai awal doktrin baru sebagai upaya memperbaiki perjalanan aliran Jihadi dan berjuang untuk keluar dari krisis. Usulan itu saya namakan Detasemen Perlawanan Islam Global di mana teori-teorinya bertumpu atas tiga pilar:

  1. Konsistensi
  2. Koreksi
  3. Pengembangan
Dikutip dari:
Perjalanan Gerakan Jihad, Syaikh Abu Mush’ab As Suri
Editor dan Catatan Kaki:
Al Fadhli

[1] Aliran yang dimaksudkan adalah tiga aliran yang ada pada gerakan jihad kontemporer setelah melalui berbagai macam eksperimen dan krisis, yakni : kelompok yang menyerahkan diri untuk mengakhiri krisis; kelompok yang konsisten di jalur jihad, namun bersifat konvensional (mengedepankan sentimen kebangsaan dan membatasi jihadnya pada batas-batas geografis dan politis); dan kelompok yang menyerukan jihad global melawan Amerika (shalibiyyin), Zionist (Yahudi) dan sekutu-sekutunya.

[2] Sebagai contoh adalah Ikhwanul Muslimin di Mesir atau Syiria, serta organisasi yang berafiliasi padanya di beberapa negara. Mereka menanggalkan senjata untuk kemudian masuk ke dalam parlemen dan “berperang” di sana. Padahal, jihad adalah satu-satunya cara yang dibenarkan syar’i dalam meninggikan kalimat Allah.

[3] Contohnya HAMAS di Palestina yang membatasi jihadnya di wilayah Palestina saja atau Tandzhim Al Jihad di Mesir sebelum menggabungkan diri ke dalam Tandzhim Al Qaidah. Saat ini, di beberapa negara, termasuk Indonesia, masih terdapat aliran seperti ini. Mereka terfokus untuk memerangi penguasa murtad dan perjalanan Jihad mereka (biasanya) dibumbui sentimen kebangsaan yang sempit, padahal target prioritas dalam konfrontasi masa kini adalah Amerika Salibis yang ditukangi Zionis Yahudi dan antek-anteknya (la’natullah ‘alayhim), sedangkan setiap bumi tempat para musuh Allah itu berkeliaran telah menjadi medan qital. Mereka adalah kepala dari ular berbisa yang senantiasa meracuni dunia Islam. Kehancuran mereka akan diiringi oleh kehancuran dari penguasa murtad yang mendukung mereka, karena para penguasa itu hanya pengekor saja.

[4] Sayangnya seruan ini kurang disambut oleh Gerakan Jihad di beberapa negara sehingga perlawanan global ini hanya akan menjadi harapan hampa. Seharusnya kita sadar bahwa Islam tidak dibatasi oleh sekat-sekat politis dan geografis. Di mana disebut nama Allah, di sanalah tanah air ummat Islam, sehingga bukan saatnya lagi bagi Gerakan Jihad yang masih eksis saat ini mengusung bendera jihadnya di bawah panji-panji kebangsaan dan nasionalisme yang sempit. Seruan ini adalah secercah harapan, dan harapan ini akan tercapai (insya Allah) jika didukung oleh kekuatan kolektif ummat, khususnya mujahidin di berbagai penjuru bumi yang akan mengangkat satu panji saja: LAA ILAAHA ILLALLAH…

Advertisements

At Tadhhiyyah

Perjuangan

Keniscayaan dalam setiap perjuangan adalah untuk senantiasa istiqamah dalam amal da’wah dan jihad. Namun sungguh tidak akan pernah ada perjuangan tanpa tadhhiyah (pengorbanan) yang diberikan para pejuangnya, baik berupa harta, tenaga, pikiran ataupun jiwa.

Allah berfirman dalam al Quran,

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.(QS. At Taubah : 111)

Harta, jiwa, tenaga, dan pemikiran adalah potensi yang dianugerahkan Allah subhanahu wa ta’ala untuk digunakan manusia dalam perjuangan di jalan-Nya. Karena pada hakikatnya, bagi seorang mu’min, apa yang ada pada dirinya telah ia jual demi meraih ridha dan jannah Allah ta’ala. Ia telah menyadari bahwa semua itu adalah karunia yang diberikan Allah sebagai bekal perjalanan hidupnya di dunia menuju kehidupan yang abadi di akhirat kelak. Tidak ada kuasa sedikit pun atas segala karunia yang Allah berikan di dunia ini. Sungguh, rasa syukur terbaik yang diberikan seorang mu’min atas segala apa yang telah diberikan-Nya adalah dengan mengoptimalkan semua potensi yang telah Allah titipkan untuk da’wah dan jihad fii sabiilillah.

Dahulu, Abu Bakr ash Shidiq telah mengajarkan kepada kita bagaimana caranya berkorban dengan harta. Saat ‘Umar ibn al Khathab menyerahkan separuh harta yang ia miliki pada saat itu untuk membiayai jihad, maka Abu Bakr mengeluarkan seluruh harta yang ia miliki. Sehingga saat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bertanya, Apa yang kau tinggalkan untuk istri dan anakmu..? Abu Bakr menjawab, “Cukuplah Allah dan Rasul Nya…”

Begitupun Dzun Nurayn Utsman ibn ‘Affan yang telah mewakafkan sebuah sumur untuk kepentingan kaum muslimin, serta pada saat yang lain, di mana bahan makanan ummat semakin menipis, para saudagar menawar seluruh barang dagangan ‘Utsman dengan hara dua kali lipat demi memenuhi kehidupan ummat. Namun, ‘Utsman menolaknya dan berkata, “Aku hanya akan menjual daganganku kepada orang yang mau membelinya dengan harga sepuluh kali lipat.”

Tentu saja pernyataan ‘Utsman ini mengecewakan para saudagar yang sedang mengharapkan bahan makanan. Mereka pun berkata kepada ‘Utsman, “Tidak ada yang sanggup membayar sepuluh kali lipat untuk barang daganganmu.” Namun ‘Utsman menyela, “Ada, dan Dia telah membelinya. Dialah Allah yang telah membeli barang daganganku dengan harga sepuluh kali lipat.” Maka disedekahkanlah seluruh barang dagangannya demi kepntingan ummat Islam. Allahu akbar…

Pengorbanan harta bukanlah perkara yang mudah. Namun, telah jelas kepada kita bagaimana para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in berlomba-lomba melakukannya demi mendapatkan kemuliaan di sisi Allah dan Rasul Nya. Hal ini terjadi karena mereka telah memahami bahwa semua yang mereka miliki pada hakikatnya adalah titipan yang diberikan Allah sebagai sarana untuk menegakkan diin Nya.

Pengorbanan

Medan Uhud telah menjadi saksi bagaimana para sahabat membuktikan pengorbanan mereka dengan jiwanya. Kita ingat kisah Abu ‘Ubadydah ibn Al-Jarrah, saat dua pecahan baju besi menancap pada wajah Rasulullah, ia menggigit dan mencabut besi itu sampai tanggal giginya. Sedangkan Abu Dujanah menjadikan dirinya sebagai tameng di hadapan Rasulullah. Panah bertubi-tubi menancap di punggungnya, namun ia terus tegak berdiri demi melindungi kekasihnya yang mulia.

Begitu pun dengan Ziyad ibn Sakan. Ia berlari merangsek barisan musuh hingga terhenti oleh luka-luka di sekujur tubuhnya. Ia syahid bersama lima shahabat yang lain. Sedangkan Thalhah ibn Ubaydillah menyerang sepuluh orang musuh yang saat itu menghadang Rasulullah. Ia kemudian menjadi perisai bagi kekasihnya hingga jari-jarinya terkena serangan dan tangannya tertebas terpotong. Rasulullah kemudian berusaha mendaki gunung Uhud, namun beliau tidak mampu karena lemas dan terluka. Maka, Thalhah duduk di bawahnya hingga beliau shallallahu ‘alayi wa sallam bisa mendakinya.

Ada lagi seorang ‘Amr ibn Al-Jamuh. Seorang yang sebelah kakinya pincang. Ia mempunyai empat anak laki-laki yang masih muda. Mereka berperang bersama Rasulullah. Saat pasukan Uhud berangkat, ‘Amr ibn Al-Jamuh ingin ikut bersamanya. Keempat anaknya menyarankan agar ayah mereka tinggal di rumah karena Allah sesungguhnya telah menggugurkan kewajibannya untuk berjihad. Namun ‘Amr tidak menerima hal itu, ia menghadap Rasulullah, kemudian berkata, “Sesungguhnya anak-anakku mencegahku untuk ikut pergi bersamamu. Demi Allah aku benar-benar berharap untuk menemui syahid, lalu aku menginjak syurga dengan kaki pincangku ini.”

Rasulullah menjawab, Adapun engkau, Allah telah membebaskanmu dari kewajiban berjihad.” Kemudian Rasulullah berkata kepada anak-anaknya, Mengapa kalian tidak membiarkannya, siapa tahu Allah akan menganugerahkan kesyahidan kepadanya.” Lalu, ‘Amr berangkat bersama Rasulullah dan gugur sebagai syahid di medan Uhud.

Pengorbanan para prajurit Uhud tidak berhenti sampai di situ. Satu hari sebelum hari itu, seorang ‘Abdullah ibn Jahsy berdo’a, “Ya Allah, aku bersumpah kepadamu, bahwa besok aku akan melemparkan diriku di tengah-tengah musuh. Biarlah mereka membunuhku, membedah perutku, memotong hidung dan telingaku. Jika Engkau kemudian bertanya untuk apa aku berbuat demikian, maka aku akan menjawab: “Demi Engkau.” Dan setelah perang uhud berakhir, para shahabatpun menemukan Abdullah syahid dalam kondisi seperti yang ia do’akan.

Seusai perang uhud, Zaid ibn Tsabit diutus Rasulullah untuk mencari Sa’d ibn Rabi’. Rasulullah berkata kepadanya, “Jika engkau menemukan Sa’d, sampaikan salamku padanya. Katakan kepadanya bahwa Rasulullah menanyakan apa yang engkau dapatkan.” Lalu Zaid berkeliling mencarinya di antara para korban. Ia menemukannya saat Sa’d menghembuskan nafas-nafas terakhirnya. Tubuh Sa’d penuh luka karena tombak, pedang, dan panah. Zaid berkata kepadanya, “Wahai Sa’d, Rasulullah mengirimkan salam untukmu dan menyuruhku menanyakan mengenai apa yang engkau dapatkan.” Sa’d menjawab, “Salam juga untuknya, serta katakan kepadanya: Wahai Rasulullah, aku mencium wangi syurga!”

Sa’d berkata lagi, “Katakan pula kepada kaumku dari golongan Anshar: Tidak ada ampunan bagi kalian jika kalian meninggalkan Rasulullah, sedangkan masih ada mata yang berkedip di antara kalian.” Lalu Sa’d pun menjemput syahidnya.

Serta masih banyak lagi kisah pengorbanan dalam medan Uhud yang tercatat pada lembaran-lembaran shirah. Termasuk, tentu saja, kisah Asadullah Hamzah yang dibunuh oleh Wahsyi, budak bayaran Hindun dengan tombaknya. Lalu dikisahkan –dengan riwayat yang lemah- bahwa Hindun dengan kejamnya merobek dada mayat suci Hamzah dan memakan jantungnya.

Juga tidak lupa sejarah mencatat kisah seorang Mush’ab ibn ‘Umair, seorang pemuda tampan yang gagah perkasa, duta pertama ummat Islam yang menguasai banyak bahasa. Tutur katanya yang lembut serta hartanya yang melimpah membuat ia banyak disukai gadis-gadis Makkah pada saat itu. Namun, ia meninggalkan gemerlap dunia dan keluarganya yang kaya raya menuju sebuah persinggahan abadi, sehingga di akhir hayatnya, gunung Uhud menyaksikan Mush’ab hanya meninggalkan selembar kain yang jika kain itu digunakan untuk menutupi wajahnya, maka kakinya terlihat, namun saat kain itu ditarik untuk menutupi kakinya, maka wajahnya terlihat. Maka, Rasulullah memerintahkan para shahabat untuk menutupi wajahnya dengan kain tersebut. Sedangkan kakinya ditutup dengan daun dan rerumputan.

Para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in kembali mengajarkan kepada kita, bagaimana seharusnya berjuang. Baik dengan harta ataupun dengan jiwanya. Mereka telah memahami makna jual beli yang telah Allah tegaskan dalam al Quran. Sehingga mereka tidak sekedar menghafal ayat-ayat-Nya di lisan, namun lebih dari itu, sanggup mengaktualisasikan pemahamann tersebut dalam realita kehidupan.

Jika kita ingin melihat lagi, dengan penuh kejujuran ke dalam diri kita, maka apa yang telah kita berikan bagi da’wah dan jihad ini..? Sepertinya, begitu jauh jarak yang membentang antara perjuangan dan pengorbanan para sahabat dengan kehidupan kita hari ini. Padahal, kita sama-sama telah membaca al Quran. Kita pun telah sama-sama menghafal dan mengerti maksudnya. Lalu, apa yang membuat kita sepertinya terlalu lemah untuk menjadi bagian dari para pengamal al Quran yang sesungguhnya..? Allah berfirman,

Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’laa : 17)

Juga,

Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).” (QS. Adh Dhuhaa : 4)

Allah telah mengabarkan kepada kita bahwa kehidupan akhirat jauh lebih baik, jauh lebih kekal dibandingkan kehidupan kita hari ini di dunia. Lantas, mengapa kita masih begitu sulit untuk mengorbankan dunia yang fana untuk akhirat yang kekal..?

Ibnu Mas’ud pernah berkata, “Barang siapa yang menginginkan akhirat dia akan mengorbankan dunianya, barang siapa yang menginginkan dunia, dia akan mengorbankan akhiratnya, wahai kaum, korbankanlah yang fana (dunia) demi sesuatu yang abadi.”

Sepertinya kita harus mengintrospeksi diri lebih banyak lagi, karena sungguh, tidak akan tegak perjuangan kecuali dengan pengorbanan. Seorang pelajar misalnya, rela mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan hartanya untuk meraih sesuatu yang dicita-citakannya. Seorang ilmuwan rela berada di dalam laboratorium berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk melakukan sebuah penelitian. Begitu pun dengan seorang kepala keluarga yang rela berkorban banting tulang untuk menghidupi keluarganya. Ia bekerja siang malam tanpa henti, bahkan waktu-waktunya dihabiskan untuk mengejar kebahagiaan dunia yang bersifat fana. Jika untuk menempuh cita-cita duniawi saja manusia rela mengorbankan apa yang dimilikinya, maka seharusnya kita lebih rela dan lebih berani untuk berkorban apapun yang kita miliki demi kehidupan yang abadi.

Asy Syahid Sayyid Quthb

Perjalanan para da’i dan mujahid kontemporer telah memberikan pelajaran yang berharga itu. Sayyid Quthb mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya berkorban, sehingga tiang gantungan menjadi saksi atas segala perjuangan yang ia ikrarkan untuk Islam. Itulah pengorbanannya. Dan sesungguhnya, di depan mata kita ratusan anak-anak Al Quds sedang antri untuk menanti syuhada di hadapan pasukan kera dan babi, menyusul ayah dan paman mereka. Mereka siap mengorbankan jiwanya menjadi batu bata penegak bangunan Islam. Sedangkan para pejuang Chechnya masih bertahan di perbatasan menunggu jemputan bidadari suci. Di hutan-hutan Kaukasus mereka bergerilya, dengan persediaan bahan makanan yang terbatas, namun semua itu tidak menyurutkan langkah merela.

Sejenak, alihkanlah pandangan kita ke arah mujahidin di Iraq, Afghanistan, Somalia, dan Yaman. Mereka tak lelah mengorbankan apa yang mereka miliki, melawan gempuran para thaghut dan tentara salibis la’natullah ‘alayhim. Dalam perjalanan jihadnya, para mujahid itu sedang menanti satu di antara dua kemenangan: meraih kemuliaan di dunia atau mati sebagai syuhada. Maka renungkanlah, di mana diri kita berada..?

Asy Syahid Faris 'Awdah

Al Fadhli

Tahdzir terhadap Mujahidin

Kesalahan yang dilakukan oleh sebagian mujahidin tidak berarti bahwa jihad adalah sebuah kesalahan, dan menasihati mereka (para mujahid, peny.) haruslah disertai wala’ (loyalitas, kecintaan) kepada mereka sehingga tidak terbuka celah bagi “para penolak” untuk mengingkari jihad.

Sesungguhnya mujahidin adalah “manusia biasa” sebagaimana yang lainnya, bisa benar dan juga bisa salah. Selain para nabi, tidak ada seorangpun yang ma’shum (dijamin terbebas dari kesalahan). Oleh karena itu, hal sangat penting yang harus diwaspadai adalah apabila ada keperluan  untuk menyebutkan kesalahan tersebut dalam rangka menasihati mereka, maka hal ini tidak boleh dipaparkan di mimbar-mimbar umum, karena dapat dipahami sebagai pendiskreditan terhadap jihad dan mujahidin. Bahkan terkadang pemaparan gamblang di mimbar-mimbar umum secara tegas dapat dianggap membantu program musuh (orang-orang kafir) yang memerangi jihad, para da’i, dan para mujahidin. Tanpa sadar mereka telah bekerja (baca: dipekerjakan) untuk menjalankan strategi musuh yang lalim, yaitu memberangus para da’i yang jujur serta meniadakan syi’ar jihad dan ihtisab (pengawasan ketat). Ketika kita tidak menyadari efek suatu ucapan (yaitu celaan terhadap mujahidin), maka yang muncul adalah bahaya yang sangat besar. Karena bisa jadi “sang pembicara (yang bermulut usil dan lancang)” tersebut telah memposisikan dirinya sebagai nara sumber (informan atau intel) bagi musuh untuk memerangi para da’i dan mujahidin yang tengah berusaha membangkitkan umat dari “tidur panjang”nya. Atau boleh jadi hal tersebut pernah terbetik dalam dirinya, namun dia tidak menyadari bahwa dirinya berada dalam “parit” musuh, yaitu satu barisan bersama orang-orang kafir dan munafiq.

Apabila dalam diri seirang da’i terbersit keinginan keras untuk memberikan “komentar” terhadap sebagian kesalahan (mujahidin), maka hal tersebut dapat direalisasikan dengan menggunakan ungkapan (global) yang tidak dapat dipahami oleh media massa yang hobi mendistorsi kabar berita dan orang-orang di balik kemudinya yang senang memanfaatkan “suatu komentar” untuk kepentingan pribadi mereka semata. Caranya, dengan memuji para mujahidin terlebih dahulu, hasil yang mereka capai dalam jihad dan merebut kembali kehormatan, peran mereka dalam membela negeri dan kehormatan kaum muslimin serta peran mereka dalam menggentarkan orang-orang kafir. Karena pada saat itu (ketika mujahidin berjihad), berbagai organisasi (pengkritik mujahidin) yang gencar melakukan kritik dan penilaian negatif tiada lain merupakan kepanjangan tangan dari orang-orang kafir yang menempatkan mereka dalam barisan kaum kafir untuk memerangi para da’i dan mujahidin. Kemudian setelahnya (memuji mujahidin), barulah memberikan komentar terhadap kesalahan yang timbul dari sebagian “kelompok jihadi”, walaupun boleh jadi kesalahan tersebut terjadi karena suatu alasan tertentu. Dan apabila tidak ada alasan yang melegalkannya, maka nasihat atau kritikan tersebut tetap diberikan sesuai proporsinya dengan menggunakan ungkapan yang menunjukkan kecintaan, simpati, nasihat, dan loyalitas kepada mereka.

Apabila nasihat bijak dan berhati-hati ini terlontar, maka saya menduga bahwa mass media yang hobi memerangi “mujahidin” tidak akan begitu saja menerima komentar da’i bijak tersebut, terlebih lagi akan mewawancarainya dan mempopulerkan komentarnya kepada publik. Tidak akan pernah!

Sesungguhnya para mujahidin tidak akan merasa sakit hati terhadap maksud dan komentar da’i bijak tersebut. Dan mereka pun tidak akan menuduhnya sebagai seorang “pecundang”, atau orang-orang yang bergembira ria bila bencana menimpa para mujahidin.

Oleh :
Syaikh ‘Abd al ‘Aziz bin Nashir al Julayyil

Dalam:
At Tarbiyah al Jihadiyah fi Dhaw’ al Kitab wa as sunnah
(Riyadh : Daar Thayyibah, 1424 H) hal. 204-205

Dikutip dari:
Majalah Harakah Sunniyah As Silmi DPP HASMI

edisi 13 – Sya’ban 1427 H / September 2006 M