Kaidah Tadakhul Ibadah dan Perubahan Niat dalam Ibadah

Disarikan dari Dirasah Ushul Fiqih

bersama Syaikh Fahd Al Ammari

(Qadhi Al Mamlakah Al Ula, Makkah Al Mukarramah)

 

Beberapa Jenis Tadakhul Ibadah

Tadakhul dalam permasalahan hadats

  1. Hadats kecil masuk ke dalam hadats besar
  2. Para ulama berbeda pendapat apakah disyaratkan dua niat atau tidak dalam masalah ini.
  3. Yang wajib masuk ke dalam yang wajib
  4. Yang sunnah masuk ke dalam yang wajib

Tadakhul dalam shalat

  1. Tidak ada tadakhul dalam beberapa shalat fardhu
  2. Tidak ada tadakhul dalam shalat sunnah muqayyadah
  3. Sahnya tadakhul antara shalat fardhu dengan shalat sunnah muthlaqah
  4. Sahnya tadakhul antara shalat sunnah muqayyadah dengan shalat sunnah muthlaqah

Tadakhul dalam shiyam

  1. Tidak ada tadakhul dalam beberapa shaum yang wajib
  2. Terjadi perbedaan pendapat tentang sah atau tidaknya tadakhul antara yang wajib dan sunnah
  3. Terdapat rincian tentang tadakhul antara beberapa shaum sunnah

 

Kaidah Perubahan Niat dalam Ibadah

  1. Perubahan niat dari ibadah muthlaqah ke ibadah muqayyadah : tidak sah
  2. Perubahan niat dari ibadah muqayyadah ke ibadah muthlaqah : sah
  3. Perubahan niat dari ibadah muqayyadah ke ibadah muqayyadah : tidak sah
  4. Perubahan niat dari ibadah muthlaqah ke ibadah muthlaqah : sah

 

Rd. Laili Al Fadhli

Disampaikan dalam kajian umum Mahasiswa Pecinta Islam (MPI) Bandung, Sabtu 29 September 2012

Advertisements

Menggabungkan Dua Niat dalam Satu Ibadah

Ditanyakan:

هل يمكن الجمع في النية بين صيام ثلاثة أيام من الشهر وصيام يوم عرفة ، وهل نأخذ الأجرين ؟

Bolehkah menggabungkan niat puasa sunnat tiga hari dalam satu bulan dengan puasa hari Arafah? Apakah mendapat dua pahala sekaligus?

Jawab:

الحمد لله

تداخل العبادات قسمان

Alhamdulillah, masalah penggabungan lebih dari satu ibadah dengan satu niat terbagi menjadi dua jenis:

قسم لا يصح : وهو فيما إذا كانت العبادات مقصودة بنفسها ، أو تابعة لغيرها ، فهذا لا يمكن أن تتداخل العبادات فيه ، مثال ذلك : إنسان فاتته سنة الفجر حتى طلعت الشمس ، وجاء وقت صلاة الضحى ، فهنا لا تجزئ سنة الفجر عن صلاة الضحى ، ولا الضحى عن سنة الفجر ، ولا الجمع بينهما أيضاً ، لأن سنة الفجر مستقلة ، وسنة الضحى مستقلة ، فلا تجزئ إحداهما عن الأخرى 

كذلك إذا كانت الأخرى تابعة لما قبلها ، فإنها لا تتداخل ، فلو قال إنسان : أنا أريد أن أنوي بصلاة الفجر صلاة الفريضة والراتبة ، قلنا : لا يصح هذا ، لأن الراتبة تابعة للصلاة فلا تجزي عنه

Pertama: Ibadah yang tidak boleh digabungkan dengan ibadah lainnya dalam satu niat. Yaitu ibadah yang independen atau ibadah parsial (merupakan bagian dari ibadah lainnya). Ibadah jenis ini tidak mungkin digabungkan dengan yang lainnya, misalnya seseorang yang terluput shalat sunnat fajar hingga terbit matahari, dalam waktu bersamaan masuklah waktu shalat Duha. Dalam kondisi seperti ini, tidak boleh menggantikan shalat sunnat fajar dengan shalat Duha demikian sebaliknya dan tidak boleh pula menggabungkan keduanya dalam satu niat. Sebab shalat sunnat fajar bersifat independen demikian pula shalat Duha. Tidak boleh digabungkan antara keduanya.

Demikian pula bila kedua ibadah tersebut bersifat parsial atau bagian darinya, tidak boleh digabungkan dalam satu niat. Misalnya seseorang berkata: “Saya meniatkan shalat Fajar dengan shalat wajib atau dengan shalat sunnat rawatib.” Ini jelas tidak boleh! Sebab shalat sunnat rawatib adalah bagian dari shalat wajib sebelumnya, maka keduanya tidak boleh digabungkan dalam satu niat.

والقسم الثاني : أن يكون المقصود بالعبادة مجرد الفعل ، والعبادة نفسها ليست مقصودة ، فهذا يمكن أن تتداخل العبادات فيه ، مثاله : رجل دخل المسجد والناس يصلون الفجر ، فإن من المعلوم أن الإنسان إذا دخل المسجد لا يجلس حتى يصلي ركعتين ، فإذا دخل مع الإمام في صلاة الفريضة أجزأت عن الركعتين ، لماذا ؟ لأن المقصود أن تصلي ركعتين عند دخول المسجد ، وكذلك لو دخل الإنسان المسجد وقت الضحى وصلى ركعتين ينوي بهما صلاة الضحى ، أجزأت عن تحية المسجد ، وإن نواهما جميعاً فهو أكمل ، فهذا هو الضابط في تداخل العبادات

Kedua: Maksud pensyariatan ibadah itu hanyalah sekedar formalitas ritual saja dan bukanlah tujuan. Dalam kondisi ini boleh digabungkan dalam satu niat. Misalnya: seoarang lelaki yang masuk masjid sementara orang-orang tengah menunaikan shalat subuh. Sebagaimana dimaklumi bahwa apabila seseorang memasuki masjid, ia harus mengerjakan dua rakaat tahiyyatul masjid. Jika ia ikut shalat bersama imam shalat subuh ketika itu maka sudah terhitung melaksanakan dua rakaat tahiyyatul masjid. Karena maksud dari tahiyyatul masjid adalah mengerjakan dua rakaat setiap kali masuk ke dalam masjid. Demikian pula bila seseorang masuk masjid bertepatan waktu Duha, lalu ia kerjakan dua rakaat dengan niat shalat duha maka telah terhitung mengerjakan dua rakaat tahiyyatul masjid. Jika ia niatkan keduanya maka itu lebih ideal. Itulah batasan masalah penggabungan dua ibadah dalam satu niat.
ومنه الصوم ، فصوم يوم عرفة مثلاً المقصود أن يأتي عليك هذا اليوم وأنت صائم ، سواء كان نويته من الأيام الثلاثة التي تصام من كل شهر أو نويته ليوم عرفة ، لكن إذا نويته ليوم عرفة لم يجزئ عن صيام الأيام الثلاثة ، وإن نويته يوماً من الأيام الثلاثة أجزأ عن يوم عرفة ، وإن نويت الجميع كان أفضل
Termasuk di antaranya puasa hari Arafah, maksud pensyariatannya adalah agar kaum muslimin berpuasa pada hari itu, baik ia niatkan untuk puasa tiga hari setiap bulannya atau ia niatkan untuk hari Arafah. Hanya saja jika ia niatkan untuk hari Arafah maka tidak dapat menempati posisi puasa tiga hari setiap bulan. Jika ia niatkan untuk salah satu dari tiga hari puasa setiap bulan maka telah terhitung puasa hari Arafah, apabila ia niatkan keduanya lebih ideal lagi.
لقاء الباب المفتوح لابن عثيمين 51/19
Sumber : Liqa’ Babul Maftuh karangan Ibnu Utsaimin XIX/51

Ikhtilaf 1 Syawal

Hingga pekan ke dua bulan Syawal ini, masih ada juga sebagian kalangan yang membesar-besarkan masalah itsbat 1 Syawal Kemenag dan MUI yang berbeda bila dibandingkan dengan mayoritas negara-negara di dunia. Apalagi, masalah penolakan terhadap para saksi yang telah bersumpah melihat hilal di sejumlah titik di Indonesia. Seolah-olah perbedaan 1 Syawal kemarin merupakan perbedaan aqidah yang satu golongan berhak untuk menyatakan dirinya benar dan yang lainnya salah.

Hilal

Bahwa permasalahan ini bermula dari perbedaan metode penentuan. Selain masalah metode, tidak ada yang perlu diperuncing lagi, karena sesungguhnya menjaga ukhuwah di antara kaum muslimin jauh lebih penting daripada menyalahkan orang-orang yang berlebaran hari Selasa, atau sebaliknya terus-terusan menyalahkan Kemenag dan MUI serta orang-orang yang berlebaran hari Rabu. Ini bukanlah sikap yang dahulu pernah dilakukan oleh para sahabat dan generasi salaf setelahnya.

Telah masyhur bagi kita kisah Ibnu Mas’ud yang menolak fatwa Khalifah Utsman terkait dengan shalat safar yang tidak di qashar. Imam Abu Dawud (1/307) meriwayatkan kisah ini sebagai berikut.

أن عثمان رضي الله عنه صلى بمنى أربعا ، فقال عبد الله بن مسعود منكرا عليه : صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم ركعتين ، و مع أبي بكر ركعتين ، و مع عمر ركعتين ، و مع عثمان صدرا من إمارته ثم أتمها ، ثم تفرقت بكم الطرق فلوددت أن لي من أربع ركعات ركعتي متقبلتين ، ثم إن ابن مسعود صلى أربعا ! فقيل له : عبت على عثمان ثم صليت أربعا ؟ ! قال : الخلاف شر . و سنده صحيح . و روى أحمد ( 5 / 155 ) نحو هذا عن أبي ذر رضي الله عنهم أجمعين

Bahwasanya Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu shalat di Mina 4 rakaat. Maka shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengingkarinya seraya berkata: “Aku dulu shalat bersama Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar dan di awal pemerintahan ‘Utsman 2 rakaat, dan setelah itu ‘Utsman shalat 4 rakaat. Kemudian terjadilah perbedaan diantara kalian, dan harapanku dari 4 rakaat shalat itu yang diterima adalah yang 2 rakaat darinya.”

Namun ketika di Mina, shahabat Abdullah bin Mas’ud justru shalat 4 rakaat. Maka dikatakanlah kepada beliau: “Engkau telah mengingkari ‘Utsman atas shalatnya yang 4 rakaat, kemudian engkau shalat 4 rakaat pula?!” Abdullah bin Mas’ud berkata: “Perselisihan itu jelek.” Sanadnya shahih. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Ahmad (5/155) seperti riwayat di atas dari shahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

Begitu pula dengan kisah Al Imam Ahmad ibn Hanbal yang pada saat shalat shubuh di belakang Al Imam Syafi’i ikut mengangkat tangan dan mengaminkan qunut Al Imam Asy Syafi’i. Bahkan dengan tegas beliau berfatwa tentang tata cara shalat di belakang orang yang melakukan qunut shubuh, “Angkatlah tanganmu dan aminkan qunutnya.” Masya Allah… Indah sekali sikap yang ditunjukkan oleh Al Imam Ahmad. Padahal beliau termasuk orang yang menolak syari’at qunut shubuh berdasarkan fatwa pribadinya.

Pun dalam masalah perbedaan hari raya ‘idul fithri. Pada masa sahabat juga sempat terjadi perbedaan, sebagaimana yang diceritakan oleh Al Imam Ash Shan’ani dalam Subulus Salam (II/63).

وأن المنفرد بمعرفة يوم العيد بالرؤية يجب عليه موافقة غيره ويلزمه حكمهم في الصلاة والإفطار والأضحية. وقد أخرج الترمذي مثل هذا الحديث عن أبي هريرة وقال: حديث حسن. وفي معناه حديث ابن عباس وقد قال له كريب: إنه صام أهل الشام ومعاوية برؤية الهلال يوم الجمعة بالشام وقدم المدينة آخر الشهر وأخبر ابن عباس بذلك فقال ابن عباس: لكنا رأيناه ليلة السبت فلا نزال نصوم حتى نكمل ثلاثين أو نراه قال: قلت: أولا تكتفي برؤية معاوية والناس؟ قال: لا هكذا أمرنا رسول الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم

 Dan bahwasanya seorang yang menyendiri dalam mengetahui masuknya hari raya dengan melihat hilal tetap wajib mengikuti kebanyakan manusia. Hukum ini harus dia ikuti, apakah dalam waktu shalat, ber’idul Fithri atau pun berkurban (Idul Adha). At Tirmidzi telah meriwayatkan yang serupa dengan ini dari Abu Hurayrah, dan dia berkata: hadits hasan. Dan semakna dengan ini adalah hadits Ibnu ‘Abbas, ketika Kuraib berkata kepadanya, bahwa penduduk Syam dan Mu’awiyah berpuasa berdasarkan melihat hilal pada hari Jumat di Syam. Beliau dating ke Madinah pada akhir bulan dan mengabarkan kepada Ibnu ‘Abbas hal itu, maka Ibnu Abbas berkata kepadanya: “Tetapi kami melihatnya (hilal) pada  sabtu malam, maka kami tidak berpuasa sampai sempurna tiga puluh hari atau kami melihatnya.” Aku berkata: “Tidakkah cukup ru’yahnya Mu’awiyah dan Manusia?” Ibnu Abbas menjawab: “Tidak, inilah yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam kepada kami.”

Jelaslah kepada kita bahwa permasalahan penetapan 1 Syawal telah mengalami perbedaan pendapat sejak masa sahabat. Begitu pun dengan penolakan kesaksian ru’yatul hilal. Maka, Ibnu ‘Abbas pernah melakukannya dengan menolak kesaksian Mu’awiyah dan penduduk Syam dengan alasan bahwa hilal belum terlihat di Madinah. Hanya saja perlu dipertanyakan kepada Kemenag dan MUI tentang penolakan saksi tersebut, apakah dikarenakan mengikuti Ibnu ‘Abbas dalam riwayat di atas atau memiliki motif lain. Wallahu a’lam

Namun demikian, sikap yang terbaik adalah mengikuti pendapat mayoritas karena ibadah shaum dan ‘idul fithri adalah ibadah jama’i, sebagaimana penjelasan Al Imam Ash Shan’ani di atas. Hal ini juga dikuatkan oleh Imam Abul Hasan As Sindi menyebutkan dalam  Hasyiah As Sindi ‘Ala Ibni Majah:

وَالظَّاهِر أَنَّ مَعْنَاهُ أَنَّ هَذِهِ الْأُمُور لَيْسَ لِلْآحَادِ فِيهَا دَخْل وَلَيْسَ لَهُمْ التَّفَرُّد فِيهَا بَلْ الْأَمْر فِيهَا إِلَى الْإِمَام وَالْجَمَاعَة وَيَجِب عَلَى الْآحَاد اِتِّبَاعهمْ لِلْإِمَامِ وَالْجَمَاعَة وَعَلَى هَذَا فَإِذَا رَأَى أَحَد الْهِلَال وَرَدَّ الْإِمَام شَهَادَته يَنْبَغِي أَنْ لَا يَثْبُت فِي حَقّه شَيْء مِنْ هَذِهِ الْأُمُور وَيَجِب عَلَيْهِ أَنْ يَتْبَع الْجَمَاعَة فِي ذَلِكَ

“Jelasnya, makna hadits ini adalah bahwasanya perkara-perkara semacam ini (menentukan awal Ramadhan, Idul Fithri dan Idul Adha, pen) keputusannya bukanlah di tangan individu. Tidak ada hak bagi mereka untuk melakukannya sendiri-sendiri. Bahkan permasalahan semacam ini dikembalikan kepada penguasa dan mayoritas umat Islam. Dalam hal ini, setiap individu pun wajib untuk mengikuti penguasa dan mayoritas umat Islam. Maka jika ada seseorang yang melihat hilal namun penguasa menolak persaksiannya, sudah sepatutnya untuk tidak dianggap persaksian tersebut dan wajib baginya untuk mengikuti mayoritas umat Islam dalam permasalahan itu.” (Hasyiah As Sindi ‘Ala Ibni Majah, 3/431)

Kita sama-sama mengakui bahwa penguasa hari ini bukanlah Amiirul Mu`miniin, bukanlah penguasa yang menjaga hukum-hukum Allah di atas muka bumi, namun ijma’ jama’ah hari ini telah diwakilkan kepada (dalam hal ini) sidang itsbat dengan mengirimkan perwakilan dari setiap ormas Islam dalam persidangan tersebut. Maka sudah selayaknya putusan yang diambil dalam sidang tersebut, selama memenuhi syarat-syarat yang disyari’atkan dan tidak menyimpang dari sunnah, harus diterima dengan lapang dada.

Sayangnya memang harus kita akui bahwa seringkali persidangan itsbat tidak dilakukan dengan jujur dan adil sesuai sunnah sehingga walaupun hasil akhirnya benar, hal tersebut diambil dari metode yang tidak tepat. Dan memang hal inilah yang menjadi akar penyebabnya, yakni perbedaan metode penentuan. Sebagian kalangan masih ada yang bersikukuh menggunakan metode hisab dengan alasan mempermudah urusan dalam diin. Sedangkan sebagian yang lain masih menggunakan metode sebagaimana Rasulullah melakukannya yakni ru’yatul hilal (melihat hilal). Namun, hal tersebut dipersulit kembali dengan adanya batasan derajat dalam metode hisab, ada yang menentukan titik minimal (dengan asumsi bahwa jika kurang dari titik tersebut hilal tidak terlihat sehingga tidak masuk hitungan), sedangkan yang lain tidak mensyaratkan hal tersebut atau lebih dikenal dengan metode wujudul hilal.

Begitupun dengan kalangan yang menggunakan metode ru’yatul hilal, masih ada hal-hal yang membuat metode ini juga tampak bermasalah dengan pertanyaan-pertanyaan seperti : “apakah melihatnya harus dengan mata telanjang atau boleh menggunakan alat”. Padahal dalam riwayat-riwayat yang shahih tidak ada satupun yang menjelaskan tentang dilarangnya penggunaan alat dalam ru’yatul hilal, sebagaimana tidak adanya larangan penggunaan mikrofon dalam adzan.

Jika kita cermati, permasalahan ini sangat sederhana jika ummat mau bersatu menghilangkan egonya masing-masing. Kembali kepada as sunnah an nabawiyah asy syariifah dan bertoleransi terhadap perbedaan pendapat yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Sekali lagi saya tegaskan, inti dari tulisan ini bukanlah dalam rangka mengatakan bahwa pendapat yang satu adalah benar sedangkan yang lainnya salah. Adalah bagaimana kita harus legowo menerima perbedaan pendapat di kalangan ummat dan mencari jalan terbaik di tengah perselisihan tersebut sehingga ummat tidak terpecah. Karena menjaga ukhuwah Islamiyah jauh lebih penting daripada memegang teguh suatu pendapat dan menyalahkan pendapat yang lain yang pada akhirnya akan memecah belah ummat Islam. Padahal permasalahan ini bukanlah permasalahan yang dapat membahayakan iman.

Sungguh indah pernyataan Asy Syaikh Hasan Al Banna dalam Risalah Ta’alim tentang hal ini,

والخلاف الفقهي في الفروع لا يكون سببا للتفرق في الدين، ولا يؤدي إلى خصومة ولا بغضاء ولكل مجتهد أجره، ولا مانع من التحقيق العلمي النزيه في مسائل الخلاف في ظل الحب في الله والتعاون على الوصول إلى الحقيقة، من غير أن يجر ذلك إلى المراء المذموم والتعصب

Khilaf (perbedaan pendapat) fiqih pada hal furu’ (cabang) hendaknya tidak men­jadi faktor pemecah belah dalam agama, tidak menyebabkan permusuhan dan tidak juga kebencian. Setiap mujtahid mendapatkan pahalanya. Sementara itu, tidak ada larangan melakukan studi ilmiah yang jujur terhadap persoalan khilafiyah dalam naungan kasih sayang dan saling membantu karena Allah untuk menuju kepada kebenaran. Semua itu dengan tanpa melahirkan sikap egois dan ta’ashub (fanatik).

Wallahu a’lam

Demokratisnya Itsbat 1 Syawwal

Republika. Pemerintah Indonesia melalui Menteri Agama Suryadharma Ali memutuskan 1 Syawal 1432 H jatuh pada hari Rabu (31/8). Hal ini berdasarkan hasil hisab dan ru’yat yang melibatkan Kementerian Agama, ormas-ormas Islam, instansi terkait dan tokoh-tokoh masyarakat yang melakukan pemantauan hilal.

Sidang Itsbat 1 Syawal 1432

Saya termasuk orang yang menyaksikan sidang ini malam tadi di salah satu stasiun televeisi. Sidang itsbat kali ini cukup menarik karena peserta dari kalangan ormas Islam memiliki pernyataan yang berbeda-beda atas realita yang terjadi di lapangan. Namun sayangnya pendapat tersebut lebih dikarenakan mengedepankan golongannya.

Sebelumnya, NU dan Persis telah menetapkan bahwa 1 Syawal 1432 jatuh pada hari Rabu, 31 Agustus 2011 berdasarkan hisab (perhitungan) bahwa hilal baru dapat dilihat pada hari Selasa sore tanggal 30 Agustus 2011, dengan prakiraan ketinggian hilal sudah lebih dari 2 derajat. Adapun Muhammadiyah menyatakan bahwa 1 Syawal 1432 jatuh pada hari Selasa tanggal 30 Agustus 2011 dengan perhitungan bahwa pada hari senin sore hilal sudah muncul walaupun kemungkinan besar belum dapat dilihat, karena ketinggian hilal baru mencapai 1,3 derajat. Artinya, pada hari Selasa sudah memasuki bulan baru dalam perhitungan kalender hijriyyah.

Dari 96 titik resmi Kemennag yang telah ditentukan untuk melihat hilal, tidak ada satupun yang tampak. Namun, ternyata terjadi hal yang di luar perkiraan, yaitu tampaknya hilal di dua titik (bukan resmi dari Kemennag); Cakung, Jakarta Timur, dan Jepara, Jawa Tengah. Bahkan, saksi yang melihat hilal tersebut telah bersumpah atas kesaksiannya. Hal ini tentu mengejutkan beberapa pihak. Berdasarkan hitungan astronomi, hilal seharusnya tidak tampak karena baru mencapai ketinggian 1,3 derajat saja. Sedangkan hilal biasanya akan tampak saat telah mencapai tinggi di atas 2 derajat.

Kejanggalan –atau lebih tepatnya perbedaan- antara perhituangan (hisab) dan realita di lapangan membuat sejumlah ormas tidak meyakini atau menolak kesaksian Cakung dan Jepara. Terutama ormas NU yang dengan tegas menolak kesaksian tersebut dan meminta Kemennag segera menetapkan bahwa 1 Syawal jatuh pada hari Rabu tanggal 31 Agustus 2011. Adapun Muhammadiyah semakin yakin bahwa 1 Syawal jatuh pada hari Selasa tanggal 30 Agustus 2011. Sayangnya, permintaan Muhammadiyah untuk mendatangkan para saksi ke ruangan sidang tidak terealisasi sehingga akhirnya Muhammadiyah “meminta izin” kepada Kemennag untuk melaksanakan Hari Raya ‘Idul Fithri lebih cepat satu hari dari apa yang ditetapkan pemerintah, melalui Kemennag NKRI dan MUI.

Saya cukup heran menyaksikan sidang itsbat ini. Karena seharusnya saksi yang telah bersumpah harus diambil atau diterima kesaksiannya, adapun perhitungannya di hadapan Allah. Jika kesaksian yang sudah disumpah atas nama Allah saja ditolak, maka dengan apa lagi manusia bersaksi di hadapan pengadilan..?

Kejanggalan ini terus mengganjal di hati. Apalagi ternyata Kemennag akhirnya memutuskan penetapan 1 Syawal dengan sangat demokratis sekali, yaitu meminta pendapat dan melihat suara terbanyak, dalam hal ini menolak kesaksian Cakung dan Jepara dengan alasan bertentangan dengan mayoritas hisab. Inilah sebagai satu bukti bahwa ternyata demokrasi bisa mengalahkan syari’at. Bukankah hisab adalah perkiraan dan ru’yat adalah kenyataan..?

Dari sudut pandang syari’at jelas, langkah Kemennag ini merupakan sebuah ijtihad yang keliru. Sedangkan dari sudut pandang demokrasi jelas putusan ini adalah putusan yang sangat demokratis karena berpihak pada suara mayoritas dan tetap mengharga perbedaan pendapat.

‘Alaa kulli haalin, Syaikh Hasan Al Banna -rahiimahuLlah- berkata : Ikhtilaaf dalam masalah furu’ janganlah dijadikan sebab pertikaian dalam Agama.

‘Ied al Mubaarak, berbahagialah bagi yang hari ini telah merayakan ‘Ied al Fithri…

Dan sempurnakan shaum dengan sebaik-baiknya bagi yang menunda Hari Raya penuh barakah ini sampai esok hari… 🙂

تقبل الله منا ومنكم, كل عام وأنتم بخير