Hukum Memagari Kuburan dengan Tembok Menurut Nahdlatul Ulama (NU)

Tanya:

Bagaimana hukumnya membangun kuburan dan mengelilinginya (memagarinya) dengan tembok pada tanah milik sendiri?

Jawab:

Membangun kuburan dan memagari dengan tembok di tanah kuburan milik sendiri dengan tidak ada suatu kepentingan, hukumnya makruh.

Keterangan:

Dalam kitab Fathul Mu’in dijelaskan:

)وكره بناء له) أي للقبر، (أو عليه) لصحة النهي عنه بلا حاجة، كخوف نبش، أو حفر سبع أو هدم سيل.

Makruh hukumnya membangun suatu bagunan di atas kuburan, karena adanya hadits shahih yang melarangnya, bila hal tersebut dilakukan tanpa keperluan seperti kekhawatiran akan digali dan dibongkar binatang buas, atau diterjang banjir.

ومحل كراهة البناء، إذا كان بملكه، فإن كان بناء نفس القبر بغير حاجة مما مر، أو نحو قبة عليه بمسبلة، وهي ما اعتاد أهل البلد الدفن فيها، عرف أصلها ومسبلها أم لا، أو موقوفة، حرم، وهدم وجوبا، لانه يتأبد بعد انمحاق الميت

Dan kemakruhan tersebut bila kuburan itu berada di tanah miliknya sendiri. Sedangkan membangun kuburan tanpa ada suatu keperluan sebagaimana yang telah dijelaskan, atau memberi kubah di atas kuburan yang terletak di pemakaman umum, atau di tanah wakaf, maka hukumnya haram dan wajib dihancurkan, karena bangunan tersebut akan mash ada setelah jenazahnya hancur (mengabadikan jenazah setelah kehancurannya).

و قال البجيرمي : واستثنى بعضهم قبور الأنبياء والشهداء والصالحين و غيرهم

Dan berkata Imam Al Bujayrimiy: “Sebagian ulama mengecualikan keberadaan bangunan kuburan pada kuburan para Nabi, Syuhada, dan orang-orang shalih, dan semisalnya.”

Sumber :

Ahkamul Fuqaha; Solusi Problematika Aktual Hukum Islam. Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (NU) (1926-2010) nomor 14, halaman14-15. Diterbitkan oleh : LTN PBNU dan “Khalista” Surabaya

Hadiah Pahala (bag. 2 – bantahan)

Telah kami jelaskan sebelumnya dalam artikel Hadiah Pahala (bag. 1) tentang bermanfaatnya amalan orang yang hidup bagi orang yang sudah meninggal. Namun, ada sebagian kalangan yang tetap berkeyakinan bahwa amalan orang yang hidup tidak bermanfaat sama sekali bagi mayyit karena dianggap bertentangan dengan dalil-dalil yang shahih. Di antara dalil yang mereka gunakan adalah.

1.    Dalil Al Qur`an

ألا تزر وازرة وزر أخرى * وأن ليس للإنسان إلا ما سعى

 (yaitu) bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwa seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” [QS. An Najm : 38-39]

لها ما كسبت و عليها مااكتسبت

Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya[QS. Al Baqarah : 286]

ولا تجزون إلا ما كنتم تعملون

Dan tidaklah kalian diberi pahala melainkan apa-apa yang kalian kerjakan.” [QS. Yaasin : 54]

BANTAHAN :

Penulis Syarh Aqidah Thahawiyah berkata:

قد أجاب العلماء بأجوبة : أصحها جوابان :
أحدهما : أن الإنسان بسعيه وحسن عشرته اكتسب الأصدقاء ، وأولد الأولاد ، ونكح الأزواج ، وأسدى الخير وتودد إلى الناس ، فترحموا عليه ، ودعوا له ، وأهدوا له ثواب الطاعات ، فكان ذلك أثر سعيه ، بل دخول المسلم مع جملة المسلمين في عقد الإسلام من أعظم الأسباب في وصول نفع كل من المسلمين إلى صاحبه ، في حياته وبعد مماته ، ودعوة المسلمين تحيط من ورائهم . يوضحه : أن الله تعالى جعل الإيمان سبباً لانتفاع صاحبه بدعاء إخوانه من المؤمنين وسعيهم ، فإذا أتى به فقد سعى في السبب الذي يوصل إليه ذلك .

Para ‘ulama telah memberikan beberapa jawaban tentang hal ini. Adapun jawaban yang paling benar ada dua:

Pertama, sesungguhnya manusia dengan usaha dan pergaulannya yang santun memperoleh banyak kawan dan sahabat, melahirkan banyak anak, menikahi beberapa istri, melakukan hal-hal yang baik untuk masyarakat dan menyebabkan orang-orang cinta dan suka padanya. Maka banyaklah orang-orang itu yang menyayanginya. Merekapun berdoa untuknya dan mengahadiahkan pula pahala dari ketaatan-ketaatan yang sudah dilakukannya, maka itu adalah bekas dari usahanya sendiri. Bahkan masuknya seorang muslim bersama golongan kaum muslimin yang lain didalam ikatan islam adalah merupakan sebab paling besar dalam hal sampainya kemanfaatan dari masing-masing kaum muslimin kepada yang lainnya baik didalam kehidupan ini maupun sesudah mati nanti dan doa kaum muslimin yang lain. Dalam satu penjelasan disebutkan bahwa Allah ta’ala menjadikan iman sebagai sebab untuk memperoleh kemanfaatan dengan do’a serta usaha dari kaum mukminin yang lain. Maka jika seseorang sudah berada dalam iman, maka dia sudah berusaha mencari sebab yang akan menyampaikannya kepada yang demikian itu. (Dengan demikian pahala keta’atan yang dihadiahkan kepadanya dan kaum mu`minin sebenarnya bagian dari usahanya sendiri).

الثاني ، وهو أقوى منه – : أن القرآن لم ينف انتفاع الرجل بسعي غيره وإنما نفى ملكه لغير سعيه ، وبين الأمرين فرق لا يخفى . فأخبر تعالى أنه لا يملك إلا سعيه ، وأما سعي غيره فهو ملك لساعيه ، فإن شاء أن يبدله لغيره ، وإن شاء أن يبقيه لنفسه .

Kedua, Ayat Al Qur`an itu tidak menafikan adanya kemanfaatan untuk seseorang dengan sebab usaha orang lain. Ayat Al Qur`an itu hanya menafikan “kepemilikan seseorang terhadap usaha orang lain”. Dan dua hal ini adalah dua perkara yang berbeda. Dan Allah hanya mengabarkan bahwa “laa yamliku illa sa’yah (orang itu tidak akan memiliki kecuali apa yang diusahakan sendiri). Adapun usaha orang lain, maka itu adalah milik bagi siapa yang mengusahakannya. Jika dia mau, maka dia boleh memberikannya kepada orang lain dan pula jika ia mau, dia boleh menetapkannya untuk dirinya sendiri. [Jadi huruf “lam” pada lafadz “lil insan” itu adalah “lil istihqaq” yakni menunjukan arti “milik”, pen]

وقوله سبحانه : ألا تزر وازرة وزر أخرى * وأن ليس للإنسان إلا ما سعى . آيتان محكمتان ، مقتضيتان عدل الرب تعالى : فالأولى تقتضي أنه لا يعاقب أحداً بجرم غيره ، ولا يؤاخذه بجريرة غيره ، كما يفعله ملوك الدنيا . والثانية تقتضي أنه لا يفلح إلا بعمله ، لينقطع طمعه من نجاته بعمل آبائه وسلفه ومشايخه ، كما عليه أصحاب الطمع الكاذب ، وهو سبحانه لم يقل لا ينتفع إلا بما سعى .

Dan firman Allah : “(yaitu) bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwa seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” [QS. An Najm : 38-39]

Ini adalah dua ayat yang gamblang artinya. Keduanya berkonsekwensi bahwa Rabb ta’ala Maha Adil. Yang pertama menandaskan bahwa Allah tak akan menyiksa seseorang karena kejahatan orang lain. Yang kedua menandaskan bahwa seseorang hanya mendapatkan ganjaran dari amalnya sendiri. Hal itu untuk memutuskan hasrat seseorang yang ingin selamat dengan amalan orangtuanya, nenek moyangnya, atau guru-gurunya, sebagaimana yang diyakini oleh mereka yang gila ambisi. Allah tidak menyatakan bahwa manusia tidak bisa mengambil manfaat selain dari usahanya.

Berkata penulis tafsir Khazin :

Yang demikian itu adalah untuk kaum Ibrahin dan musa. Adapun ummat islam (ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam), maka mereka bias mendapat pahala dari usahanya dan juga dari usaha orang lain.

Jadi ayat itu menerangkan hukum yang terjadi pada syariat Nabi Musa dan Nabi Ibrahim, bukan hukum dalam syariat nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam. Hal ini dikarenakan pangkal ayat tersebut berbunyi :

“ Atau belum dikabarkan kepadanya apa yang ada dalam kitab nabi Musa dan nabi Ibrahim yang telah memenuhi kewajibannya bahwa seseorang tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasanya tiada yang didapat oleh manusia selain dari yang diusahakannya”.

Sahabat Nabi, Ahli tafsir yang utama Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu. Berkata dalam menafsirkan ayat tersebut :

Ayat tersebut telah dinasakh (dibatalkan) hukumnya dalam syariat kita dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala : “Kami hubungkan dengan mereka anak-anak mereka”, maka dimasukanlah anak ke dalam surga berkat kebaikan yang dibuat oleh bapaknya. [Tafsir Khazin juz IV/223]

Firman Allah yang dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhusebagai penasakh surat An Najm ayat 39 itu adalah surat Ath Thuur ayat 21 yang lengkapnya sebagai berikut :

“Dan orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka mengikuti mereka dengan iman, maka kami hubungkan anak cucu mereka itu dengan mereka dan tidaklah mengurangi sedikitpun dari amal mereka. Tiap-tiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya”.

Tersebut dalam Naylul Awthar juz IV hal. 102 bahwa kata-kata : “Tidak ada seseorang itu…..” maksudnya

“Tidak ada dari segi keadilan (min thariqil adli), adapun dari segi karunia (min thariqil fadhli), maka ada bagi seseorang itu apa yang tidak dia usahakan.

Selanjutnya, berkata penulis Syarh Aqidah Thahawiyah:

 وكذلك قوله تعالى : لها ما كسبت . وقوله : ولا تجزون إلا ما كنتم تعملون . على أن سياق هذه الآية يدل على أن المنفي عقوبة العبد بعمل غيره ، فإنه تعالى قال : فاليوم لا تظلم نفس شيئاً ، ولا تجزون إلا ما كنتم تعملون .

Begitu pun dengan firman Allah : “Baginya pula amal kebaikannya” [QS. Al Baqarah : 286] dan firman-Nya : “Dan tidaklah kalian diberi pahala melainkan apa-apa yang kalian kerjakan.” [QS. Yaasin : 54]

Alur kalimat dalam ayat itu menunjukkan bahwa yang disangkal Allah adalah seorang hamba menanggung siksa Allah karena perbuatan orang lain. Karena Allah ta’ala berfirman: “Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan tidaklah kalian diberi pahala melainkan apa-apa yang kalian kerjakan.” [QS. Yaasin : 54]

2.   Dalil As Sunnah

Yaitu hadits shahih dari Abu Hurayrah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam:

إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث : صدقة جارية ، أو ولد صالح يدعو له ، أوعلم ينتفع به من بعده

Apabila anak Adam meninggal dunia, maka amalannya terputus kecuali tiga hal : shadaqah jariyah, anak shalih yang mendoakannya, dan ilmu yang bermanfaat sesudah matinya. (HR. Muslim 1631], Abu Dawud [2880], Turmudzi [1376] dan Nasa`i [3651])

BANTAHAN :

Penulis Syarh Aqidah Thahawiyah berkata:

عمله فاستدلال ساقط ، فإنه لم يقل انقطاع انتفاعه ، وإنما أخبر عن انقطاع عمله . وأما عمل غيره فهو لعامله ، [فإن] وهبه له وصل إليه ثواب عمل العامل ، لا ثواب عمله هو ، وهذا كالدين يوفيه الإنسان عن غيره ، فتبرأ ذمته ، ولكن ليس له ما وفى به الدين .

Pengambilan dalil ini tidak berguna. Karena Beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam tidak bersabda : “Terputus kesempatan dirinya mengambil manfaat.” Namun yang disabdakan adalah terputusnya amal perbuatannya. Adapun amalan orang lain, adalah untuk pelakunya. Kalau dihadiahkan kepadanya, akan sampai kepadanya pahala amalan si pelaku tersebut, bukan amalan dirinya. Ini sama dengan hutang yang dibayarkan orang lain untuk dirinya. Sehingga hilang tanggungannya. Padahal ia tidak memiliki sesuatu untuk membayar hutangnya.

3.    Klasifikasi yang membedakan antara amalan tubuh dengan amalan harta

BANTAHAN :

Penulis Syarh Aqidah Thahawiyah berkata tentang hal ini:

وأما تفريق من فرق بين العبادات المالية والبدنية – فقد شرع النبي صلى الله عليه وسلم عن الميت ، كما تقدم ، مع أن الصوم لا تجزىء فيه النيابة، وكذلك حديث جابر رضي الله عنه ، قال : صليت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عيد الاضحى ، فلما انصرف أتى بكبش فذبحه ، فقال : بسم الله والله أكبر ، اللهم هذا عني وعمن لم يضح من أمتي ، رواه أحمد و أبو داود و الترمذي ، وحديث الكبشين اللذين قال في أحدهما : اللهم هذا عن أمتي جميعاً ، وفي الآخر : اللهم هذا عن محمد وآل محمد ، رواه أحمد . والقربة في الاضحية إراقة الدم ، وقد جعلها لغيره .

Adapun klasifikasi yang dilakukan mereka yang membedakan antara amalan tubuh dengan amalan harta (jelas tidak benar). Karena Nabi telah mensyari’atkan puasa untuk orang mati terdahulu. Padahal yang namanya puasa itu tidak dapat digantikan. Begitu juga dengan hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Aku pernah shalat ‘Iedul Adh-ha bersama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Selesai shalat beliau datang membawa seekor kibas dan menyembelihnya.  Maka bersabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam : “Bismillah wallahu akbar. Ya Allah, ini untukku dan untuk ummatku yang belum pernah berkurban.(HR. Ahmad [III : 356], Abu Dawud [2810], dan At Tirmidzi [1521])

Dan hadits tentang dua kibas yang pada salah satunya beliau bersabda : “Ya Allah ini untuk ummatku seluruhnya.” Dan pada yang lainnya : “Ini untuk Muhammad dan keluarga Muhammad.[HR. Ahmad]

Dan berkurban dengan menyembelih adalah mengalirkan darah. Namun Nabi menjadikannya untuk orang lain.

وكذلك عبادة الحج بدنية ، وليس [المال] ركناً فيه ، وإنما هو وسيلة ، ألا ترى أن المكي يجب عليه الحج إذا قدر على المشي إلى عرفات ، من غير شرط المال . وهذا هو الأظهر ، أعني أن الحج غير مركب من مال وبدن ، بل بدني محض ، كما قد نص عليه جماعة من أصحاب أبي حنيفة المتأخرين . وانظر إلى فروض الكفايات : كيف قام فيها البعض عن الباقين ؟ ولأن هذا إهداء ثواب ، وليس من باب النيابة ، كما أن الأجير الخاص ليس له أن يستنيب عنه ، وله أن يعطي أجرته لمن شاء .

Begitu juga dengan ibadah haji, merupakan ibadah yang dilakukan anggota badan. Sementara harta bukanlah rukunnya. Namunn hanya merupakan sarana/ perantara (وسيلة). Bukankah orang Makkah juga wajib haji, kalau ia mampu berjalan ke Arafah tanpa ada syarat harus berharta? Inilah yang nampak. Maksudnya, bahwa haji bukanlah ibadah yang terdiri dari harta dan amalan naggota tubuh. Namun semata-mata amalan anggota tubuh. Sebagaimana ditandaskan oleh sebagian sahabat Abu Hanifah yang datang belakangan. Coba lihat ibadah-ibadah yang fardhu kifayah. Bagaimana ibadah yang dilakukan sebagian bisa mengugurkan kewajiban atas yang lain. Karena itu termasuk menghadiahkan pahala amal, bukan termasuk mewakilkan orang lain untuk beribadah. Sebagaimana seorang pekerja spesialis, yang tidak dapat digantikan orang lain, namun ia berhak untuk menghadiahkan upahnya kepada orang lain.

Wallahu a’lam

Tahlilan dan Berkumpulnya Orang di Rumah Mayyit

Tahlilan

Di antara tradisi keagamaan yang lekat dengan ummat Islam di Indonesia adalah berkumpulnya masyarakat di rumah orang yang meninggal dunia, baik sebelum mayyit dikubur ataupun setelahnya. Tradisi ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan, terutama bagi ummat Islam yang menisbatkan ajaran agamanya pada madzhab Syafi’i. Bukan hanya itu, di sebagian tempat di Indonesia, tradisi berkumpul di rumah mayyit juga diiringi dengan “pesta” di mana sang empunya rumah yang tidak lain adalah kerabat mayyit harus menyediakan hidangan dan uang yang dibagikan kepada masyarakat yang berkumpul. Bahkan saya pernah menyalatkan jenazah dan setelah selesai salam, seseorang menghampiri jama’ah dan membagikan uang kepada jama’ah.

Tradisi berkumpul di rumah mayyit asalnya bertujuan mendoakan mayyit dengan ritual yang dikenal dengan istilah “tahlilan”. Yaitu membaca dzikir dan doa-doa tertentu, memohon kebaikan dan ampunan, khususnya bagi si mayyit. Tahlilan tidak hanya dilakukan sekali. Biasanya tahlilan dilakukan 3 malam berturut-turut atau sepekan berturut-turut, setelah itu dilanjutkan dengan malam ke tujuh (jika sebelumnya tidak dilaksanakan secara sepekan berturut-turut), lalu diadakan kembali pada malam ke 40, 100, bahkan 1000, yang dihitung sejak wafatnya si mayyit.

Adapun dasar pemikiran diadakannya tradisi ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad didalam Az Zuhd dan Al Hafidzh Abu Nu’aim di dalam Al Hilyah tentang anjuran memberi makan setelah kematian;

قال الإمام أحمد بن حنبل رضي الله عنه في كتاب الزهد له حدثنا هاشم بن القاسم قال ثنا الاشجعي عن سفيان قال قال طاووس إن الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام.

قال الحافظ أبو نعيم في الحلية حدثنا أبو بكر بن مالك ثنا عبد الله بن أحمد ابن حنبل ثنا أبي ثنا هاشم بن القاسم ثنا الأشجعي عن سفيان قال قال طاووس إن الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعم عنهم تلك الأيام.

Imam Ahmad bin Hanbal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Menceritakan kepada kami Hisyam bin Al Qasim, ia berkata, menceritakan kepada kami Al Asyja’iy dari Sufyan, ia berkata : Thawus berkata, “sesungguhnya orang mati terfitnah (ditanya malaikat) di dalam kubur mereka selama 7 hari, maka mereka mengajurkan supaya memberikan makanan (yang pahala) untuk mereka pada hari-hari tersebut”.

Al Hafidhz Abu Nu’aim berkata : “Menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Malik, menceritakan kepada kami Abdulllah bin Ahmad Ibnu Hanbal, menceritakan kepada kami Hisyam bin Al Qasim, menceritakan kepada kami Al Asyja’iy dari Sufyan, ia berkata, Thawus berkata : sesungguhnya orang mati terfitnah didalam kubur mereka selama 7 hari, maka mereka menganjurkan agar bersedekah makanan yang pahalanya untuk mereka pada hari-hari tersebut.

Atas dasar inilah kemudian tradisi tahlilan dalam rangka mendoakan mayyit, memohonkan ampunan baginya, serta bersedekah (yang pahalanya ditujukan) untuk si mayyit senantiasa dilaksanakan oleh sebagian besar kalangan ummat Islam di Indonesia.

Namun demikian, apakah benar bahwa riwayat di atas bisa dijadikan landasan tentang disyari’atkannya tahlilan?

Pertama, kita tidak berselisih mengenai sampainya hadiah pahala untuk si mayyit karena hal ini sudah saya jelaskan dalam artikel Hadiah Pahala. Intinya Ahlus Sunnah bersepakat tentang sampainya pahala tersebut kepada si mayyit.

Kedua, yang perlu dicermati di sini adalah bagaimana hukumnya berkumpul di rumah mayyit dan memberikan makanan kepada para tamu yang berta’ziyah.

Telah sampai sebuah riwayat dari Jarir bin Abdullah Al Bajaliy radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :

كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة

“Kami (yakni para shahabat semuanya) memandang/menganggap (yakni menurut madzhab kami para shahabat) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah dikuburnya mayit termasuk dari bagian meratap.” (Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah [No. 1612 dan ini adalah lafadzhnya] dan Imam Ahmad di musnadnya [2/204 dan riwayat yang kedua bersama tambahannya keduanya adalah dari riwayat beliau], dari jalan Ismail bin Abi Khalid dari Qais bin Abi Hazim dari Jarir sebagaimana tersebut)

Riwayat di atas menunjukkan bolehnya makan-makan di rumah ahli mayit “sebelum dikubur”. Akan tetapi yang dimaksud ialah ingin menjelaskan kebiasaan yang terjadi mereka makan-makan di rumah ahli mayit sesudah mayit itu dikubur. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kalimat “ba’da dafnihi” yang menunjukkan batasan dari keumuman riwayat di atas. Kalimat “ba’da dafnihi” sendiri merupakan tambahan dari riwayat Al Imam Ahmad.

Meratap merupakan perbuatan yang dibenci dan diharamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan tidak ada pertentangan di kalangan Ahlus Sunnah dalam masalah ini. Jika berkumpul-kumpulnya orang di rumah mayyit disebut bagian dari meratap, maka tidak ragu lagi, perbuatan ini wajib kita tinggalkan. Pendapat ini juga diperkuat oleh perkataan para ‘ulama salaf tentang hal ini.

Berkata Al Imam Asy Syafi’i radhiyallahu ‘anhu dalam Al ‘Umm [I/248],

وأكره المأتم وهي الجماعة وإن لم يكن لهم بكاء فإن ذلك يجدد الحزن

“Aku membenci al ma`tam yaitu berkumpul (di rumah mayyit), meskipun di situ tidak ada tangisan, karena hal tersebut akan memperbaharui kesedihan.”

Al Imam An Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Al Majmu’ Syarah Muhadzdzab [5/319-320] menjelaskan :

قال صاحب الشامل وغيره وأما اصلاح اهل الميت طعاما وجمع الناس عليه فلم ينقل فيه شئ وهو بدعة غير مستحبة

“Shahibu asy Syamil” dan selainnya berkata : Adapun penyediaan hidangan makanan oleh keluarga mayit dan berkumpulnya orang banyak di situ adalah tidak ada nashnya sama sekali, dan itu adalah bid’ah, bukan sunnah.”

Penulis Al Mughniy menyatakan,

فأما صنع أهل الميت طعاما للناس فمكروه لأن فيه زيادة على مصيبتهم وشغلا لهم إلى شغلهم وتشبها بصنع أهل الجاهلية

“Maka adapun bila ahlu (keluarga) mayyit membuat makanan untuk orang, maka itu makruh, karena bisa menambah atas mushibah mereka, menambah kesibukan mereka (merepotkan) dan meniru-niru perbuatan Jahiliyah” [Al Mughniy II/215]

Dalam kitab I’anatuth Thalibin [II/165-167] panjang lebar dijelaskan permasalahan ini, di antaranya adalah sebuah pertanyaan kepada Mufti Makkah,

وقد اطلعت على سؤال رفع لمفاتي مكة المشرفة فيما يفعله أهل الميت من الطعام. وجواب منهم لذلك. (وصورتهما). ما قول المفاتي الكرام بالبلد الحرام دام نفعهم للانام مدى الايام، في العرف الخاص في بلدة لمن بها من الاشخاص أن الشخص إذا انتقل إلى دار الجزاء، وحضر معارفه وجيرانه العزاء، جرى العرف بأنهم ينتظرون الطعام، ومن غلبة الحياء على أهل الميت يتكلفون التكلف التام، ويهيئون لهم أطعمة عديدة، ويحضرونها لهم بالمشقة الشديدة. فهل لو أراد رئيس الحكام – بما له من الرفق بالرعية، والشفقة على الاهالي – بمنع هذه القضية بالكلية ليعودوا إلى التمسك بالسنة السنية، المأثورة عن خير البرية وإلى عليه ربه صلاة وسلاما، حيث قال: اصنعوا لآل جعفر طعاما يثاب على هذا المنع المذكور ؟

“Dan sungguh telah aku perhatikan mengeni pertanyaan yang ditanyakan (diangkat) kepada para Mufti Mekkah (مفاتي مكة المشرفة) tentang apa yang dilakukan oleh Ahlu (keluarga) mayyit perihal makanan (membuat makanan) dan (juga aku perhatikan) jawaban mereka atas perkara tersebut. Gambaran (penjelasan mengenai keduanya ; pertanyaan dan jawaban tersebut) yaitumengenai (bagaimana) pendapat para Mufti yang mulia (المفاتي الكرام) di negeri “al-Haram”, (semoga (Allah) mengabadikan manfaat mareka untuk seluruh manusia sepanjang masa) , tentang kebiasaan (‘urf) yang khusus di suatu negeri bahwa jika ada yang meninggal , kemudian para penta’ziyah hadir dari yang mereka kenal dan tetangganya, lalu terjadi kebiasaan bahwa mereka (penta’ziyah) itu menunggu (disajikan) makanan dan karena rasa sangat malu telah meliputi ahlu (keluarga mayyit) maka mereka membebani diri dengan beban yang sempurna (التكلف التام), dan (kemudian keluarga mayyit) menyediakan makanan yang banyak (untuk penta’ziyah) dan menghadirkannya kepada mereka dengan rasa kasihan. Maka apakah bila seorang ketua penegak hukum yang dengan kelembutannya terhadap rakyat dan rasa kasihannya kepada ahlu mayyit dengan melarang (mencegah) permasalahan tersebut secara keseluruhan agar (manusia) kembali berpegang kepada As-Sunnah yang lurus, yang berasal dari manusia yang Baik (خير البرية) dan (kembali) kepada jalan Beliau (semoga shalawat dan salam atas Beliau), saat ia bersabda, “sediakanlah makanan untuk keluarga Ja’far”, apakah pemimpin itu diberi pahala atas yang disebutkan (pelarangan itu) ?

Maka, Mufti tersebut menjawab,

نعم، ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر، ثبت الله به قواعد الدين وأيد به الاسلام والمسلمين

Iya… Apa yang dilakukan oleh manusia dari berkumpul ditempat ahlu (keluarga) mayyit dan menghidangkan makanan, itu bagian dari bid’ah munkarah, yang diberi pahala bagi yang mencegahnya dan menyuruhnya. Allah akan mengukuhkan dengannya kaidah-kaidah agama dan mendorong Islam serta ummat Islam.

Juga perkataan Asy Syaikh Al ‘Allamah Ahmad bin Hajar dalam Tuhfah Al Muhtaaj,

وما اعتيد من جعل أهل الميت طعاما ليدعوا الناس إليه، بدعة مكروهة – كإجابتهم لذلك، لما صح عن جرير رضي الله عنه. كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة

Dan kebiasaaan dari ahlu (keluarga) mayyit membuat makanan untuk mengundang (mengajak) menusia kepadanya, ini bid’ah makruhah, sebagaimana mereka memenuhi ajakan itu, sesuai dengan hadits shahih dari Jarir radhiyallahu ‘anhu, “Kami (sahabat) menganggap bahwa berkumpul ke ahlu (keluarga) mayyit dan menyediakan makanan (untuk mereka) setelah dikuburnya (mayyit) adalah bagian dari meratap (an Niyahah)”.

Juga kutipan dari kitab Hasiyatul Jamal ‘alaa Syarh al Minhaj (karangan Al ‘Allamah asy-Syekh Sulaiman Al Jamal),

ومن البدع المنكرة والمكروه فعلها: ما يفعله الناس من الوحشة والجمع والاربعين، بل كل ذلك حرام إن كان من مال محجور، أو من ميت عليه دين، أو يترتب عليه ضرر، أو نحو ذلك.

Dan di antara bid’ah munkarah dan makruh mengerjakannya yaitu apa yang dilakukan orang daripada berduka cita , berkumpul, dan 40 harian, bahkan semua itu haram jika (dibiayai) dari harta yang terlarang (haram), atau dari (harta) mayyit yang memiliki (tanggungan) hutang atau (dari harta) yang bisa menimbulkan bahaya atasnya, atau yang lain sebagainya.

وقال أيضا: ويكره الضيافة من الطعام من أهل الميت، لانه شرع في السرور، وهي بدعة. روى الامام أحمد وابن ماجه بإسناد صحيح، عن جرير بن عبد الله، قال: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام من النياحة.

Dan (juga) berkata (Penulis Radd al Muhtar): “Dan dimakruhkan penyediaan jamuan besar (الضيافة) dari Ahlu (keluarga) mayyit, karena menyajikan makanan itu disyaratkan ketika kondisi berbahagia (شرع في السرور), dan ini adalah bi’dah. Diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad dan Ibnu Majah dengan isnad yang shahih, dari Jarir bin Abdullah, berkata ; “Kami (sahabat) menganggap berkumpulnya ke (tempat) ahlu (keluarga) mayyit dan menyediakan makanan bagian dari meratap”.

وفي البزاز: ويكره اتخاذ الطعام في اليوم الاول والثالث وبعد الاسبوع، ونقل الطعام إلى القبر في المواسم 

Dan di dalam kitab Al Bazaz, “Dimakruhkan menyediakan makanan pada hari pertama, ke tiga dan setelah satu minggu dan (juga) dikatakan (termasuk) makanan (yang dibawa) ke kuburan pada musiman”.

Juga perkataan Mufti madzhab Syafi’i, Ahmad Zaini bin Dahlan,

ولا شك أن منع الناس من هذه البدعة المنكرة فيه إحياء للسنة، وإماته للبدعة، وفتح لكثير من أبواب الخير، وغلق لكثير من أبواب الشر، فإن الناس يتكلفون تكلفا كثيرا، يؤدي إلى أن يكون ذلك الصنع محرما. والله سبحانه وتعالى أعلم.

Dan tidak ada keraguan bahwa mencegah manusia dari bid’ah Munkarah ini,padanya termasuk menghidupkan as Sunnah, mematikan bid’ah, dan membuka pintu-pintu kebaikan, serta mengunci pintu-pintu keburukan. Maka jika manusia membebani (dirinya) dengan beban yang banyak, itu hanya akan mengantarkan mereka kepada perkara yang diharamkan.

Demikianlah pandangan para ‘ulama tentang berkumpul-kumpul di rumah mayyit, baik sebelum ataupun setelah mayyit itu dikuburkan. Dari sini kita dapat memahami bahwa Islam justru menolak dengan tegas segala bentuk ritual yang dapat memberatkan ummat. Bahkan (dalam hal ini) Islam menganjurkan bagi para tamu untuk menyediakan makanan bagi keluarga mayyit, menghibur mereka dari kesedihan, dan meringankan beban mereka. Bukan justru memberatkan beban mereka dan menambahkan kesulitan bagi mereka,

قال العلامة أحمد بن حجر في (تحفة المحتاج لشرح المنهاج): ويسن لجيران أهله – أي الميت – تهيئة طعام يشبعهم يومهم وليلتهم،

Al ’Allamah Ahmad bin Hajar dalam Tuhfah al Muhtaaj li Syarh al Minhaj mengatakan, “Dianjurkan bagi para tetangga keluarga mayit untuk menyiapkan makanan yang cukup untuk mengenyangkan keluarga mayit selama sehari dan semalam.

للخبر الصحيح اصنعوا لآل جعفر طعاما فقد جاءهم ما يشغلهم.

Dalilnya adalah sebuah hadits yang sahih, “Buatkan makanan untuk keluarga Ja’far karena telah datang kepada mereka duka yang menyibukkan mereka –dari menyiapkan makanan-”

Wallahu a’lam

Hukum Tahlilan

Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) memutuskan bahwa selamatan kematian setelah hari wafat, hari ketiga, ketujuh dll adalah : MAKRUH, RATAPAN TERLARANG, BID’AH TERCELA (BID’AH MADZMUMAH), OCEHAN ORANG-ORANG BODOH.
 Berikut apa yang tertulis pada keputusan itu :

Tahlilan

MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926
TENTANG
KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

TANYA :

Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

JAWAB :

Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.

KETERANGAN :

Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:

“MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN (YANG DILARANG).”

Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :

“Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan TENTANG YANG DILAKUKAN PADA HARI KETIGA KEMATIAN DALAM BENTUK PENYEDIAAN MAKANAN UNTUK PARA FAKIR DAN YANG LAIN, DAN DEMIKIAN HALNYA YANG DILAKUKAN PADA HARI KETUJUH, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.

Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuaan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak?

Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”

Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).

Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN” ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam terhadap seseorang yang batal (karena hadats) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.

Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).

SELESAI , KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926

REFERENSI :

 Lihat : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman 15-17), Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.

 Masalah Keagamaan Jilid 1 – Hasil Muktamar dan Munas Ulama Nahdlatul Ulama Kesatu/1926 s/d/ Ketigapuluh/2000, KH. A.Aziz Masyhuri, Penerbit PPRMI dan Qultum Media.

Hadiah Pahala (bag. 1)

MUQADIMAH: PERSELISIHAN AHLUS SUNNAH TENTANG HAL INI

Permasalahan hadiah pahala, yakni menghadiahkan pahala yang dilakukan oleh orang yang masih hidup untuk orang yang sudah meninggal, seringkali menjadi polemik dalam kehidupan beragama umat Islam di sekitar kita. Bahkan, terjadi saling tahdzir dan vonis di antara mereka yang tidak sependapat, seperti menyebut satu sama lainnya ahlu bid’ah dan bahkan yang lebih buruk darinya. Padahal, jika kita mengembalikannya pada dalil-dalil shahih di atas pemahaman para ‘ulama salaf, kita akan menemukan bahwa telah ada kesepakatan di antara mereka dalam bagian tertentu dan terjadi ikhtilaf pada bagian yang lainnya.

Al Imam Ibn Abi Al ‘Izz berkata dalam Syarh Aqidah Thahawiyah,

واختلف في العبادات البدنية ، كالصوم والصلاة وقراءة القرآن والذكر : فذهب أبو حنيفة و أحمد وجمهور السلف إلى وصولها ، والمشهور من مذهب الشافعي و مالك عدم وصولها

Terdapat perselisihan dalam ibadah-ibadah badaniyyah.[1] Seperti shaum, shalat, membaca al Quran, dan berdzikir. Madzhab Abu Hanifah, Ahmad, dan jumhur As Salaf berpendapat tentang sampainya semua itu (kepada mayit). Yang masyhur menurut madzhab Asy Syafi’i dan Malik adalah tidak sampai.

Al Imam Nawawi Asy Syafi’i menjelaskan perbedaan pendapat mengenai hal ini dalam Al Adzkaar :

واختلف العلماء في وصول ثواب قراءة القرآن، فالمشهور من مذهب الشافعي وجماعة أنه لا يَصل‏.‏ وذهب أحمدُ بن حنبل وجماعةٌ من العلماء وجماعة من أصحاب الشافعي إلى أنه يَصل، والاختيار أن يقولَ القارئُ بعد فراغه‏:‏ ‏”‏اللهمّ أوصلْ ثوابَ ما قرأته إلى فلان، واللّه أعلم‏.‏

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ‘ulama tentang sampainya pahala bacaan al Quran. Pendapat yang masyhur dari madzhab Syafi’i dan sekelompok ulama adalah tidak sampai. Namun menurut Imam Ahmad ibn Hanbal dan juga para sahabat Asy Syafi’i berpendapat bahwa pahalanya sampai. Maka lebih baik adalah si pembaca menghaturkan doa : “Ya Allah sampaikanlah pahala bacaan apa yang aku baca ini untuk si fulan.”

Asy Syaikh Al Faaqih Abu Abdillah Muhammad bin Shalih al ‘Utsaymin [w. 1421 H] dalam Majmu Fatawa wa Rasaail [17/220-221] menyatakan.

وأما القراءة للميت بمعنى أن الإنسان يقرأ و ينوي أن يكون ثوابها للميت، فقد اختلف العلماء رحمهم الله هل ينتفع بذلك أو لا ينتفع؟ على قولين مشهورين الصحيح أنه ينتفع، ولكن الدعاء له أفضل

“Pembacaan al Qur’an untuk orang mati dengan pengertian bahwa manusia membaca al Qur’an serta meniatkan untuk menjadikan pahalanya bagi orang mati, maka sungguh ulama telah berselisih pendapat mengenai apakah yang demikian itu bermanfaat ataukah tidak ? Atas hal ini terdapat dua perkataan yang sama-sama masyhur dimana yang shahih adalah (bahwa membaca al Qur’an untuk orang mati) memberikan manfaat, adapun do’a lebih utama (untuk dilakukan).”

Dalil-Dalil Yang Menjadi Pijakan Sampainya Pahala

1.      Dalil Al Quran

وَٱلَّذِينَ جَآءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلإِيمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِينَ آمَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ ﴿١٠﴾

Dan orang-orang yang dayang sesudah mereka (muhajirin dan anshar), mereka berdoa : ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami’.” (QS. Al Hasyr : 10)

 2.      Dalil As Sunnah

  • Hadits riwayat Abu Dawud [3221] dari ‘Utsman ibn ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata:

كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا فرغ من دفن الميت وقف عليه فقال : استغفروا لأخيكم ، واسألوا له التثبيت ، فإنه الآن يسأل

Apabila Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam usai menguburkan mayit, beliau kemudian berdiri di muka kuburan dan berkata : “Mohonkanlah ampunan untuk saudaramu dan mintakanlah baginya keteguhan. Sesungguhnya ia kini sedang ditanya.”

  •  Hadits dalam shahih Muslim, dari Buraydah ibn Al Hashib, bahwa ia berkata:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعلمهم اذا خرجوا إلى المقابر أن يقولوا : السلام عليكم أهل الديار من المؤمنين والمسلمين ، وإنا إن شاء الله بكم لاحقون ، نسأل الله لنا ولكم العافية

Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mengajarkan mereka bila keluar (berziarah) ke kuburan untuk mengucapkan: “Assalaamu ‘alaykum wahai penghuni negeri abadi, dari kalangan kaum mu`minin dan muslimin. Sesungguhnya kami pasti akan menyusul kalian. Kami memohon keselamatan bagi kami dan bagi kalian.”

  • Hadits shahih Al Bukhari [1388] dan Muslim [1004] tentang sampainya pahala shadaqah. Dari ‘A`isyah radhiyallahu ‘anha:

أن رجلا أتى النبي صلى الله عليه وسلم، فقال : يا رسول الله ، إن أمي افتلتت نفسها ، ولم توص ، وأظنها لو تكلمت تصدقت ، أفلها أجر إن تصدقت عنها ؟ قال : نعم

Bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, ia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku meninggal mendadak dan belum sempat memberikan wasiat. Saya kira, jika ia bisa berbicara ia akan bershadaqah. Apakah (pahala shadaqah) akan sampai kepadanya bila aku bershadaqah untuknya? Rasulullah menjawab : “Ya”.

  •  Hadits shahih Al Bukhari [1952] dan Muslim [1147] tentang sampainya pahala shaum. Dari ‘A`isyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

من مات وعليه صيام صام عنه وليه

Siapa yang meninggal dan masih memiliki kewajiban berpuasa, maka walinyalah yang berpuasa untuknya.”

  •  Hadits shahih Al Bukhari [1852] dan Ahmad [I: 179] tentang sampainya pahala haji. Dari Ibn ‘Abbas radihyallahu ‘anhuma,

أن امرأة من جهينة جاءت الى النبي صلى الله عليه وسلم ، فقالت : إن أمي نذرت أن تحج فلم تحج حتى ماتت ، أفأحج عنها ؟ قال : حجي عنها ، أرأيت لو كان على أمك دين ، أكنت قاضيته ؟ اقضوا الله ، فالله أحق بالوفاء 

“Bahwa seorang wanita dari Juhaynah datang kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam dan bertanya: ‘Sesungguhnya ibuku bernadzar untuk haji, namun belum menunaikannya hingga ia meninggal. Apakah aku bisa berhaji untuknya?’ Nabi menjawab : ‘Berhajilah untuknya. Bagaimana pendapatmu bila ibumu memiliki hutang, apakah engkau akan membayarkannya? Tunaikanlah hutangnya kepada Allah. Sesungguhnya Allah lebih berhak untuk ditunaikan hak-Nya’.”

 3.      Ijma’

Umat Islam bersepakat tentang disyari’atkannya berdoa untuk mayit pada shalat jenazah. Juga membayarkan hutang bagi orang yang sudah mati, meskipun pembayarannya itu dari pihak luar dan tidak berasal dari harta warisannya. Hal ini dijelaskan oleh hadits riwayat Ahmad [III: 330] dan Al Hakim [II : 58] dari Abu Qatadah, di mana ia menjamin dua dinar dari hutang si mayit. Seusai ia membayarkannya, Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

الآن بردت عليه جلدته

Sekarang, engkau telah mendinginkan kulitnya.”

Imam Ibn Abi al ‘Izz Al Hanafi menjelaskan dalam Syarh Aqidah Thahawiyah:

اتفق أهل السنة أن الأموات ينتفعون من سعي الأحياء بأمرين : أحدهما : ما تسبب إليه الميت في حياته . والثاني : دعاء المسلمين واستغفارهم له ، والصدقة والحج ، على نزاع فيما يصل إليه من ثواب الحج : فعن محمد بن الحسن : أنه إنما يصل إلى الميت ثواب النفقة ، والحج للحاج . وعند عامة العلماء : ثواب الحج للمحجوج عنه ، وهو الصحيح

Ahlus sunnah bersepakat bahwa orang-orang mati dapat mengambil manfaat dari orang-orang yang masih hidup dengan dua hal. Pertama, (kebaikan orang lain) yang disebabkan oleh orang mati itu semasa hidupnya. Kedua, doa dan istighfarnya kaum muslimin (untuknya), sedekah, dan hajinya. Untuk permasalahan haji, ada perselisihan apakah pahalanya sampai atau tidak. “Dari Muhammad ibn Al Hasan rahiimahullah, berkata, “Sesungguhnya yang sampai kepada orang yang sudah mati adalah sedekah. Adapun haji, (pahalanya) untuk orang yang melakukannya.” Namun, menurut umumnya para ‘ulama[2] bahwa pahala haji untuk orang yang dihajikan, dan inilah pendapat yang shahih.

 4.      Fatwa Para ‘Ulama Ahlus Sunnah

  • Al Imam Ahmad ibn Hanbal yang diceritakan oleh Syaikh Al Islam Ibn Qayyim al Jawziyyah dalam kitab Ar Ruuh, beliau menuturkan,

قال الخلال وأخبرني الحسن بن أحمد الوراق حدثنى على بن موسى الحداد وكان صدوقا قال كنت مع أحمد بن حنبل ومحمد بن قدامة الجوهرى في جنازة فلما دفن الميت جلس رجل ضرير يقرأ عند القبر فقال له أحمد يا هذا إن القراءة عند القبر بدعة فلما خرجنا من المقابر قال محمد بن قدامة لأحمد بن حنبل يا أبا عبد الله ما تقول في مبشر الحلبي قال ثقة قال كتبت عنه شيئا قال نعم فأخبرني مبشر عن عبد الرحمن بن العلاء اللجلاج عن أبيه أنه أوصى إذا دفن أن يقرأ عند رأسه بفاتحة البقرة وخاتمتها وقال سمعت ابن عمر يوصي بذلك فقال له أحمد فارجع وقل للرجل يقرأ

 “Berkata Al Khalal, mengabarkan kepadaku Al Hasan ibn Ahmad Al Waraq, menceritakan kepadaku ‘Ali ibn Musa Al Haddad dan ia adalah seorang yang sangat jujur, ia berkata : “Pernah aku bersama Ahmad ibn Hanbal dan Muhammad ibn Qudamah Al Jawhari menghadiri jenazah, maka pada saat mayit dimakamkan, seorang lelaki kurus duduk di samping kubur sambil membaca (Al Quran). Melihat hal ini Imam Ahmad berkata kepadanya: “Wahai sesungguhnya membaca al Quran di samping kuburan adalah bid’ah..!”

Maka saat kami keluar dari pekuburan, berkata Imam Muhammad ibn Qudamah kepada Imam Ahmad ibn Hanbal : “Wahai Abu ‘Abdillah, bagaimana pendapatmu tentang Mubassyar Al Halabi? Imam Ahmad menjawab : “Beliau adalah orang yang tsiqah (terpercaya). Apakah engkau meriwayatkan sesuatu darinya?”

Muhammad ibn Qudamah menjawab : “Ya, mengabarkan kepadaku Mubasyar dari Abdurahman ibn Al ‘Alaa Al Laj-Laj dari bapaknya bahwa dia berwasiat apabila telah dikuburkan agar dibacakan di samping kepalanya permulaan surat Al Baqarah dan akhirnya. Dia juga berkata : “Aku telah mendengar Ibn ‘Umar berwasiat yang demikian itu”.

Mendengar riwayat tersebut Imam Ahmad berkata : “Kembalilah dan katakan kepada lelaki itu agar bacaannya diteruskan.

  •  Syaikh Al Islam Ibn Al Qayyim menjelaskan pendapat Imam Asy Syafi’i tentang membaca al Quran di samping kuburan,

وقال الحسن بن الصباح الزعفراني سألت الشافعي عن القراءة عند القبر فقال لا بأس بها

            Berkata Al Hasan ibn Ash Shabah Az Za’faraniy, aku bertanya kepada Asy Syafi’i tentang membaca al Quran di samping kuburan. Beliau menjawab, “tidak apa-apa.”[3]

  •  Imam Abu Ja’far dalam Aqidah Thahawiyah berkata tentang hal ini:

وفي دعاء الأحياء وصدقاتهم منفعة للأموات

Doa dan sedekah orang yang masih hidup dapat bermanfaat bagi orang yang sudah mati.

  •  Imam Ibn Abu Al ‘Izz dalam syarah Aqidah Thahawiyah berkata,

وأما قراءة القرآن وإهداؤها له تطوعاً بغير أجرة ، فهذا يصل إليه ، كما يصل ثواب الصوم والحج

Adapun Membaca al Qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada orang yang mati secara sukarela dan tanpa upah, maka pahalanya akan sampai kepadanya sebagaimana sampainya pahala puasa dan haji.

SIMPULAN

Bahwa Ahlus Sunnah bersepakat tentang bermanfaatnya doa dan istighfar orang-orang yang masih hidup untuk orang-orang yang sudah mati. Adapun untuk ibadah-ibadah badaniyah seperti shaum, shadaqah, haji, dan membaca al Quran terdapat perselisihan tentang samapi atau tidaknya, dan pendapat yang diambil oleh sebagian besar para ‘ulama adalah sampainya pahala tersebut kepada mayit.

Adapun sebagian ahli bid’ah dari kalangan ahli kalam yang menyatakan bahwa doa dan yang lainnya tidak bermanfaat sama sekali telah keluar dari perselisihan ahli sunnah, sebagaimana perkataan Ibn Abi al ‘Izz al Hanafi :

وذهب بعض أهل البدع من أهل الكلام إلى عدم وصول شيء البتة ، لا الدعاء ولا غيره . وقولهم مردود بالكتاب والسنة ، لكنهم استدلوا بالمتشابه

Sementara sebagian ahlu bid’ah dari kalangan ahli kalam berpendapat bahwa tidak sampai sedikitpun kepadanya, baik doa ataupun yang lainnya. Pendapat ini tertolak dengan al Kitab dan as Sunnah, namun mereka berdalil dengan ayat-ayat mutasyabbihat.[4]

Wallahu a’lam

-Al Fadhli-


[1] Perselisihan ini terdapat pada Empat Imam Madzhab mengenai ibadah badaniyah selain haji

[2] Termasuk pendapat para Imam Madzhab

[3] Telah masyhur bahwa pendapat Imam Asy Syafi’i adalah tidak sampainya pahala bacaan al Quran kepada mayit. Namun, riwayat ini menjelaskan bahwa –walaupun beliau berpendapat demikian- beliau tidak melarang seseorang yang ingin membaca al Quran di samping kuburan.

[4] Sebagaimana akan dijelaskan kemudian insya Allah