Khamr Bukan Obat..!

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam al-Qur`an,

يَـۤأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا ٱلْخَمْرُ وَٱلْمَيْسِرُ وَٱلأَنصَابُ وَٱلأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ ٱلشَّيْطَانِ فَٱجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿٩٠﴾ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱلشَّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ ٱلْعَدَاوَةَ وَٱلْبَغْضَآءَ فِى ٱلْخَمْرِ وَٱلْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ وَعَنِ ٱلصَّلاَةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُّنتَهُونَ ﴿٩١﴾ – المائدة

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maaidah, 5: 90-91)

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda,

“Jibril pernah mendatangiku dan berkata, ”Wahai Muhammad sesungguhnya Allah swt. telah melaknat khamr, hasil perahan, pemerah, peminum, pengangkut, alat angkut, penjual, barang dagangannya, penikmat, dan yang dinikmatinya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Sabdanya pula,

“Janganlah kalian meminum khamr, karena khamr adalah kunci bagi segala keburukan.” (HR. Ibnu Majah)

Segala puji bagi Allah ‘azza wa jalla, Yang Maha Menyembuhkan segala macam penyakit. Sungguh tidak ada kesembuhan kecuali segala kesembuhan yang berasal dari-Nya. Dialah Yang menghidupkan dan Yang mematikan. Maka, tiada daya dan upaya serta kekuatan selain yang berasal dari-Nya semata.

Islam merupakan agama yang kompleks, ia adalah diinullah yang diturunkan untuk menjawab segala macam pertanyaan manusia di muka bumi. Ia adalah huda (petunjuk) sekaligus syifaa’ (penyembuh). Allah ta’ala berfirman,

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ ٱلظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَاراً

“Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penyembuh (syifaa’) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzhalim selain kerugian.” (QS. Al-Israa, 17: 82)

Maka dari itu, tidak ada pengobatan yang lebih baik daripada yang diturunkan oleh Allah ta’ala. Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin Allah menurunkan sesuatu yang haram (khamr) sebagai obat..?

Pada masa kini, ilmu kedokteran modern telah berhasil meracik berbagai obat-obatan kimia sintetis yang dianggap menyembuhkan. Padahal pada dasarnya bahan-bahan kimia tersebut merupakan racun yang sangat berbahaya bagi tubuh. Baik dalam dosis yang berat ataupun ringan. Bahkan, di antara obat-obatan tersebut sudah tercampur dengan bahan-bahan yang diharamkan seperti alkohol, heroin, dan yang lainnya.

Allah subhanahu wa ta’ala telah mengharamkan khamr dalam tiga tahap. Pertama adalah dengan menjelaskan bahwa di dalam khamr terdapat manfaat namun banyak bahayanya. Manfaat tersebut di antaranya adalah menghangatkan tubuh serta bersifat mengobati dalam kasus-kasus tertentu. Lalu, Allah ta’ala menjelaskan bahwa seorang tidak boleh shalat dalam keadaan meminum khamr, dikhususkan dalam keadaan mabuk, yaitu di tengah kondisi di mana ia tidak mengerti (sadar) apa yang ia katakan. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan keharaman khamr dalam QS. Al-Maaidah, 5: 90-91. Maka, berbagai bentuk penggunaan khamr yang dapat mengakibatkan masuknya khamr ke dalam tubuh adalah diharamkan..!!!

Hal tersebut juga terkait dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam

“Sesuatu yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnya (pun) haram.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

Maka dari itu, jelaslah bahwa khamr tidak dapat dikonsumsi (dalam hal ini dimasukkan ke dalam tubuh dengan cara meminum ataupun menyuntikkannya) sekalipun untuk kepentingan pengobatan. Karena Rasulullah saw. bersabda.

إن الله لم يجعل شفاءكم فيما حرمه الله – رواه البخار

“Sesungguhnya Allah tidak akan menjadikan kesembuhan dengan sesuatu yang Dia haramkan atasmu.”(HR. Bukhari)

Sangat jelas sekali bahwa menurut hadits di atas, penggunaan khamr sebagai obat justru tidak akan mendatangkan kesembuhan. Apalagi, Rasulullah shallahu ‘alayhi wa sallam pun telah menegaskan dengan sabdanya,

هو ليس بدواء ولكن داء

“Khamr bukanlah obat, tetapi penyakit.” (HR. Muslim)

Sama halnya dengan barang-barang haram atau segala sesuatu yang dibeli dengan harta yang haram, saat ia telah masuk ke dalam tubuh, maka ia melekat di dalam daging, mengalir bersama darah, dan mengisi setiap ruang yang ada di dalam tubuh kita. Maka, apakah Allah dapat memberikan keberkahan dalam kehidupan orang yang di dalam tubuhnya terdapat sesuatu yang diharamkan atasnya..? Maka, apakah Allah akan mendengar doa dari seorang yang di dalam daging dan darahnya terdapat sebuah zat yang Allah tidak pernah ridha akan keberadaan zat tersebut. Sedikit ataupun banyak jumlahnya sama saja. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alayi wa sallam,

“Sesuatu yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnya (pun) haram.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

Dengan demikian, tidak lagi ada alasan untuk kita bertoleransi terhadap barang-barang haram yang masuk ke dalam tubuh kita. Karena walau bagaimana pun yang haram tetaplah haram, sekalipun jumlahnya sedikit. Hal ini dapat di-qiyash kan dengan kisah Jabir radhiyallahu ‘anhu. Ia pernah mendengar Rasulullah ‘alayhi shalatu wa sallam bersabda pada tahun penaklukan kota Makkah,

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya telah mengharamkan penjualan khamr, bangkai, babi, dan patung-patung.”

Seorang bertanya, “Bagaimana dengan lemak bangkai..? Lemaknya dapat digunakan untuk menambal kapal, melumas kulit-kulit, dan orang-orang menggunakannya untuk menyalakan lentera.”

Beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam menjawab,

“Tidak, ia haram.”

Rasulullah saw. lalu melanjutkan,

“Semoga Allah ‘azza wa jalla memerangi orang-orang Yahudi. Ketika Allah mengharamkan lemak-lemaknya, mereka justru melarutkan lemak itu, kemudian menjual dan memakannya.” (HR. Muslim)

Para shahabat bahkan saling berkata kepada sesama mereka saat QS. Al-Maaidah, 5: 90-91 diturunkan, “Khamr telah diharamkan, dan dijadikan sama seperti perbuatan syirik.”

HIKMAH DIHARAMKANNYA KHAMR

Syaikh Al Islam Ibnul-Qayyim al-Jawziyyah berkata dalam Thibbun Nabawi, “Penyembuhan dari hal-hal buruk yang diharamkan dapat dianalisa atas dasar nalar logika dan syariat. Secara syariat telah kami sebutkan dalam beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam. Sedangkan secara nalar logika, Allah subhanahu wa ta’ala telah mengharamkannya karena keburukan yang terkandung di dalamnya.”

Hasil penelitian modern juga menunjukkan bahwa dalam khamr terdapat lebih dari 120 bahaya yang dikandungnya. Di antaranya adalah membuat kepala pusing, menghambat reproduksi, kerawanan mati mendadak, merusak otak dan pikiran, memicu TBC, kejerumusan dalam kefasikan, rusaknya gigi, malas, dan imunitas tubuh yang menurun sehingga pengonsumsinya akan sangat mudah terserang penyakit sekaligus sulit untuk disembuhkan. Bahkan, yang paling buruk dari semua itu adalah kecerdasan akan hilang sehingga kalimat syahadat pun akan terlupakan saat ajal menjelang. Na’udzu billah

Meminum khamr juga dapat menyebabkan rusaknya kesucian pikiran. Sampai-sampai saat Utsman ibn Ma’zhun masih dalam kejahiliyahannya, diapun telah mengharamkan khamr bagi tubuhnya. Dia berkata, “Aku tidak mau meminum sesuatu yang dapat menghilangkan kesadaranku dan membuat orang yang lebih rendah derajatnya dari diriku menertawakanku dan membuatku menikahi orang yang haram aku nikahi karena ketidaktahuanku.”

Secara ilmiah pun dibuktikan bahwa khamr atau minuman beralkohol menyimpan banyak bahaya dan memiliki dampak yang sangat buruk bagi tubuh, khususnya terhadap kinerja liver, lambung, dan jantung. Dr. Peter Perrant menegaskan bahwa satu dari lima pasien yang masuk rumah sakit di Skotlandia disebabkan mengonsumsi khamr.

Pada tahun 1987, Dr. Peter telah meluncurkan buku berjudul Mawadi al-‘Ilaj di London. Dalam buku tersebut ia menyatakan, “Manusia belum menemukan sesuatu yang mendekati khamr yang begitu mampu menghancurkan kesehatan dan kehidupan manusia sendiri. Tidak ada zat (yang menyamai khamr) yang mampu mencandui dan berdampak sangat buruk bagi masyarakat.”

Artinya, kandungan khamr begitu berbahaya bagi tubuh. Bahkan, Inggris mengalami kerugian karena harus membiayai pengobatan medis yang menelan dana sekitar 640 juta poundsterling per tahun. Hal ini diakibatkan, di negeri ini (Inggris), dua ratus ribu orang meninggal dunia akibat barang-barang yang memabukkan. Sehingga secara umum, kerugian yang diakibatkan barang-barang yang memabukkan berkisar 2 milyar Poundsterling per tahun..!! (Sumber: “Majalah Lance” dalam Al-‘Ilaaj bil-Maa’, Asy-Syaikh Mahir Hasan Mahmud)

Begitu pun yang terjadi di Amerika Serikat (USA). Dinas Kesehatan Universitas California, pada tahun 1991 menyebutkan: “Di Amerika Serikat, khamr kini telah menjadi penyebab kematian kedua setelah rokok. Khamr juga menyebabkan menurunnya produktivitas dan hilangnya akal sehat. Amerika Serikat telah mengalami kerugian 71 trilyun Dollar per tahun akibat khamr.”

Berbagai fenomena yang terjadi tersebut membuat salah seorang dokter asal Perancis yang kemudian masuk Islam berkata, “Andai pun dalam Islam hanya disyari’atkan shiyam dan pelarangan khamr, itu pun akan cukup sebagai sebuah alasan untuk mengikutinya. Karena dalam syariat tersebut terdapat jejak yang agung dalam upaya menjaga kesehatan pencernaan dan hati (liver) serta anggota tubuh yang lainnya dari bencana yang mengerikan.”

Khamr telah menjadi bencana yang melanda negara-negara Barat, dan sangat disayangkan juga telah menjadi problem di beberapa negara Arab dan Islam lainnya, termasuk Indonesia. Sungguh ironis dan sangat disayangkan, saat negara-negara Barat tengah berupaya untuk mencegah penggunaan khamar, negara-negara muslim justru membolehkannya. Bahkan, di Indonesia masih bercokol begitu bebasnya pabrik minuman beralkohol..!!!

Sudah saatnya kita lebih berhati-hati lagi dalam memilah dan memilih obat-obatan karena bisa jadi khamr atau alkohol disusupkan ke dalam obat-obatan kimia sintetis dengan bentuk dan nama yang berbeda. Sudah saatnya kita kembali ke alam. Menggunakan obat-obatan yang Allah subhanahu wa ta’ala telah menyediakannya di alam ini, di atas bumi ini, sesuai dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Selalu waspadalah dengan berbagai minuman beralkohol ataupun khamr yang ditawarkan dalam kemasan-kemasan yang menarik dan seringkali menipu kita. Karena sungguh, sedikit ataupun banyak, yang haram tetaplah haram. Wallahu a’lam

Maraji’:
•    Sebagian besar artikel di atas diambil dari kitab Al-‘Ilaaj bil-Maa’ karya Asy-Syaikh Mahir Hasan Mahmud, terjemahan bahasa Indonesia diterbitkan oleh Qultum Media

Sumber-sumber lainnya
•    Al-Quran al-Karim
•    Ath-Thibb An-Nabawi, Syaikh Al Islam Ibnu al-Qayyim al-Jawziyyah,
•    Ath-Thibb al-Badil, ats-Tsimar wa al-A’syab al-Waridat fii al-Quran al-Karim wa as-Sunnah an-Nabawiyah, Asy-Syaikh Mahir Hasan Mahmud, terjemahan bahasa Indonesia diterbitkan oleh Qultum Media
•    At-Taghdziyah an-Nabawiyah, Prof. Dr. Abdul Basith Muhammad as-Sayyid, terjemahan bahasa Indonesia diterbitkan oleh Almahira

Shiyaam dan Kesehatan

Tidak diragukan lagi bahwa shiyaam (berpuasa) memiliki hikmah yang luar biasa bagi kesehatan seseorang yang melaksanakannya. Telah kita bahas bersama di atas bahwa dalam sebuah riawayat Rasulullah saw. pernah bersabda bahwa perut adalah sumber segala penyakit. Maka, cara yang paling efektif untuk mencegahnya adalah dengan melakukan tindakan preventif, yaitu mengurangi zat yang masuk ke dalam perut. Allah berfirman, “Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raaf, 7: 31).

piss

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Sebagaimana sebuah kaidah fiqih “dar`ul fasad awla min jalbil mashalih” menolak kerusakan lebih baik daripada mengambil manfaat. Artinya, apabila dalam suatu perkara terlihat adanya manfaat atau mashlahah, namun di situ juga ada mafsadah atau kerusakan, maka haruslah menghilangkan mafsadah atau kerusakan, karena kerusakan dapat meluas ke mana-mana, sehingga akan mengakibatkan kerusakan yang lebih besar, walaupun pada akhirnya kita tidak mendapatkan manfaat yang dimaksud.

Di dalam makanan tentu terdapat manfaat yang sungguh luar biasa, sehingga kita butuh makanan untuk menghilangkan lapar, menguatkan otot, serta optimal dalam beribadah. Namun, saat kita makan berlebihan, makanan yang baik pun berbalik menjadi racun yang menyerang tubuh kita. Dalam titik seperti ini, maka tidak makan untuk menghindari racun lebih diutamakan daripada kita tetap makan untuk menghilangkan lapar namun racun ikut masuk ke dalam tubuh kita.

Maka dari itu, Islam mengajarkan ummatnya untuk senantiasa menjaga makanan dengan berpuasa. Bahkan, dalam satu tahun, ada satu bulan penuh yang sengaja disyari’atkan oleh Allah untuk ummat muslim berpuasa penuh. Hal ini jika dilihat dari sudut pandang kesehatan mengandung makna bahwa dalam setahuh memang harus ada satu masa di mana tubuh harus menjaga kembali kinerjanya, menahan dari makanan yang kadang menjadi racun bagi tubuh kita. Dengan berpuasa, organ-organ tubuh kita, khususnya organ pencernaan akan melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas kerja. Karena orang yang berpuasa memiliki pola makan yang sangat teratur. Hal ini dapat membantu kinerja dari organ-organ poencernaan untuk bisa melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas kerja. Apalagi, jika kita juga berpuasa pada selain bulan Ramadahn, tentu akan sangat membantu kesehatan tubuh kita.

Selain itu, shiyam merupakan perisai, sebagaimana perisai seorang prajurit ketika berperang. Dari Abu Hurayrah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, “Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari). Sedangkan dari ‘Utsman ibn Abi ‘Ash radhiyallahu ‘anhu
, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Puasa adalah perisai, seperti perisai (yang digunakan) salah satu dari kalian untuk berperang.” (HR. Nasa’i).

Dari Abu Ubaydah radhiyallahu ‘anhu, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Puasa itu adalah perisai selama itu tidak terbakar.” Ad-Darimi menambahkan, “(terbakarnya perisai) Dengan membicarakan kejelekan orang lain (ghibah).” Dari ‘A`isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Puasa adalah perisai dari api neraka.” Dalam riwayat Ahmad, dari Abu Hurayrah, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Puasa adalah perisai dan benteng dari api neraka.”

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah berkata dalam Ath Thibb An Nabawi bahwa puasa adalah perisai bagi penyakit ruhani, hati, dan badan, serta memberikan manfaat yang tidak terhitung. Puasa juga memberikan peran yang luar biasa dalam menjaga kesehatan, menghancurkan sisa-sisa makanan, dan menjaga diri dari makanan yang membahayakan. Terlebih apabila dilakukan dengan benar.

Tubuh sangat memerlukan puasa untuk beristirahat. Kemudian, puasa juga dapat mengatur stamina tubuh dan anggota-anggota tubuh. Yang terpenting dari itu semua adalah bahwa puasa dapat memberikan kebahagiaan hati cepat atau lambat (di dunia dan akhirat). Ini merupakan hal yang sangat bermanfaat bagi seseorang. Jadi, puasa memberikan pengaruh positif yang sangat besar bagi kesehatan dan kehidupan seseorang.

Sedangkan Ibn ‘Arabi berkata, “Sesungguhnya puasa itu perisai dari api neraka, karena puasa dapat mengekang syahwat. Dan neraka itu dikelilingi oleh syahwat.” Hal ini telah dibuktikan dalam sebuah penelitian di sebuah Rumah Sakit di Amerika. Sebagaimana yang dikutip oleh Abdullah Hajjaj dalam at-Tadawi bi ash-Shiyam karya Syaikh Mutawalli Sya’rawi, dari majalah al-Ghadad ash-Shama’ wa al-Istiqlab al-Iklinikah, no. 53 tahun 1981, menyatakan bahwa telah dilakukan penelitian terhadap 6 orang yang berusia sekitar 26 hingga 45 tahun. Penelitian ini dilakukan dengan tiga tahap:

  1. Tahap pertama : pengawasan (controlling), berlangsung selama tiga hari. Pada hari itu mereka makan seperti biasa.
  2. Tahap kedua    : puasa penuh, yaitu mereka puasa selama sepuluh hari, tidak makan dan minum, baik siang ataupun malam, kecuali air putih yang boleh diminum siang dan malam.
  3. Tahap ketiga    : memberikan makan, ini berlangsung selama lima hari.

Kemudian dilakukan pemeriksaan darah untuk mengetauhi hormon sex pada hari-hari tersebut:

  1. Hari kedua, yaitu ditengah masa pengawasan.
  2. Hari kesebelas, yaitu di tengah masa puasa, bertepatan hari kedelapan puasa.
  3. Hari keenam belas, yaitu hari ketiga masa diberikan makanan.

Pemeriksaan darah kembali dilakukan pada hari ketiga, kedua belas, dan ketujuh belas. Adapun hormon yang diteliti adalah:

  1. Testosterone (hormon sex laki-laki)
  2. Follicle Stimulating Hormone (FSH), yaitu hormon kantong perangsang
  3. Hormon Malutone (LH)

Hormon FSH dan LH merupakan hormon kelenjar kelamin (gomedotrobins). Adapun hasilnya adalah sebagai berikut:

  1. Turunnya testosterone dengan frekwensi yang cukup tinggi ketika melakukan puasa. Turunnya hormon itu terus terjadi hingga tiga hari diberikan makan (langkah ketiga). Akan tetapi pada hari keempat (langkah ketiga) hormon itu kembali naik dengan angka yang sangat tinggi, lebih tinggi dari sebelum berpuasa.
  2. Bertambah banyaknya FH dan LH yang keluar. Hal ini terjadi saat melaksanakan puasa hingga 3 hari setelah puasa.
  3. LH banyak terpisah dari aliran darah, sehingga libido menurun.
  4. FSH berkurang ketika berpuasa sehingga bertambah banyaknya hormon keluar dari tubuh.

Hal tersebut sebenarnya telah diisyaratkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam 15 abad yang lalu. Dari Abdullah, beliau alayhi shalatu wa sallam bersabda, “Wahai para pemuda, barangsiapa yang sudah ba’ah di antara kalian menikahlah. Karena menikah itu dapat menundukan pandangan dan menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa karena ia dapat mengekang hawa nafsu.” (HR. Bukhari Muslim). Kita lihat bagaimana Rasulullah  memberikan sebuah resep untuk menjaga kesehatan bagi para pemuda yang sudah ba’ah namun belum mampu menikah, yaitu dengan berpuasa. Dan hikmah di balik itu semua baru terungkap 15 abad kemudian.

Selain itu, dalam www.alsofwah.or.id pada 01 Ramadhan 1424 mengeluarkan artikel dengan judul Penelitian Ilmiah Tentang Puasa. Dalam artikel tersebut disebutkan beberapa manfaat shiyam dari sudut pandang medis.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يايها الذين أمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kalian untuk berpuasa sebagaimana juga telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah, 2: 183).

وأن تصوموا خير لكم إن كنتم تعلمون

“Dan andai kalian memilih puasa tentulah itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah, 2: 184).

Shiyaam, setelah melalui berbagai penelitian ilmiah dan terperinci terhadap organ tubuh manusia dan aktivitas fisiologisnya ditemukan bahwa aktivitas ini merupakan sesuatu yang harus dilakukan oleh tubuh manusia sehingga ia bisa mempertahankan kondisi tubuhnya dalam keadaan yang stabil. Kebutuhan berpuasa bagi kesehatan manusia adalah sebagaimana manusia membutuhkan makan, bernafas, bergerak, dan tidur. Jika seseorang tidak bisa tidur, atau tidak makan dan minum selama rentang waktu yang lama maka ia akan sakit. Tubuh manusia pun akan mengalami hal yang sama jika ia tidak berpuasa.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Nasaa`i dari Abu Umamah:

قال أبو أمامة: يا رسول الله، مرني بعمل ينفعني الله به، قال: ((عليك بالصوم فإنه لا مثل له ))

“Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepadaku satu amalan yang Allah akan memberikan manfaat-Nya kepadaku dengan sebab amalan itu”. Maka Rasulullah bersabda, “Berpuasalah, sebab tidak ada satu amalan pun yang setara dengan puasa”.

Berpuasa dapat membantu tubuh untuk membuang sel-sel yang sudah rusak, sekaligus hormon atau zat-zat yang melebihi jumlah yang dibutuhkan tubuh. Ini adalah metode yang bagus untuk sistem pembuangan sel-sel atau hormon yang rusak dan membangun kembali tubuh dengan sel-sel baru. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang difahami kebanyakan orang bahwa shiyaam menyebabkan orang menjadi lemah dan lesu. Berpuasa yang baik bagi badan itu adalah dengan syarat dilakukan selama satu bulan berturut-turut dalam setahun, dan bisa ditambahkan 3 hari atau lebih pada setiap bulan. Hal ini sangat sesuai dengan anjuran Rasulullah ‘alayhi shalatu wa sallam dalam sebuah haditsnya:

(( من صام من كل شهر ثلاثة أيام فذلك صيام الدهر ))

“Siapa yang berpuasa tiga hari setiap bulan, maka itu sama dengan puasa dahr (puasa sepanjang tahun).”

 

Tom Branch, dari Columbia Press mengatakan:

“Aku menganggap puasa adalah pengalaman ruhani yang sangat luar biasa, lebih besar daripada pengalaman biologis/badan semata. Maka karena keinginan itu, aku mulai berpuasa dengan tujuan membersihkan diriku dari berat badan yang berlebih. Akan tetapi, ternyata aku mendapati bahwa puasa tersebut bermanfaat sekali bagi kejernihan pikiran. Puasa sangat membantu pandangan mata sehingga pandangan menjadi jelas sekali. Demikian juga sangat membantu dalam menganalisis ide-ide baru atau pun persepsi. Dan aktivitas puasaku belum berlalu beberapa hari, tetapi aku mendapati pengaruh kejiwaan yang demikian besar.

Aku telah berpuasa beberapa kali hingga sekarang. Dan aku biasanya memilih waktu antara 1 sampai 6 hari. Dan pada awalnya tujuanku adalah untuk menghilangkan efek negatif dari makanan yang aku konsumsi, juga untuk membersihkan jiwaku dari hal-hal yang aku alami sepanjang hidupku, khususnya setelah memperhatikan dunia dalam beberapa bulan terakhir, dan aku melihat banyak kedhaliman dan kebrutalan yang manusia hidup di dalamnya. Sungguh aku merasa bertangung jawab terhadap keadaan mereka, maka aku pun berpuasa untuk menghilangkan pikiran-pikiran itu.”

“Setiap kali berpuasa perasaan tertarik pada makanan benar-benar hilang, dan aku merasakan badanku sangat rileks dan nyaman. Dan aku merasakan diriku berpaling dari fantasi-fantasi, emosi-emosi negatif seperti dengki, cemburu, suka ngerumpi, juga hilang perasaan takut, perasaan tidak enak, dan bosan. Semua perasaan-perasaan ini hilang dengan sendirinya ketika aku berpuasa. Dan sungguh aku merasa dengan pengalaman yang begitu mengesankan bersama dengan banyak manusia ketika berpuasa. Dan mungkin semua yang aku katakan ini adalah sebab yang menjadikan muslimin -sebagaimana aku melihat mereka di Turki, Suriah, dan Quds- dengan puasa selama sebulan penuh menjadikan jiwa-jiwa mereka begitu mengesankan yang tidak pernah aku temukan di belahan dunia manapun”.

Dalam sebuah penelitian ilmiah juga dibuktikan bahwa shiyaam dapat mencegah beberapa macam penyakit serta menjaga kestabilan kondisi tubuh, di antaranya.

Fasting can change your life

 

Mencegah Dari Tumor

Puasa berfungsi sebagai “dokter bedah” yang menghilangkan sel-sel yang rusak dan lemah di dalam tubuh. Maka, rasa lapar yang dirasakan orang yang sedang berpuasa dapat menggerakan organ-organ internal di dalam tubuh untuk menghancurkan atau memakan sel-sel yang rusak atau lemah tadi untuk menutupi rasa laparnya. Maka hal itu merupakan saat yang baik bagi badan untuk mengganti sel-selnya dengan sel-sel baru sehingga bisa kembali berfungsi dan beraktivitas. Hal tersebut juga dapat menghilangkan atau memakan organ-organ yang sakit dan memperbaharuinya. Puasa juga berfungsi menjaga tubuh dari berbagai zat yang berlebih, seperti kelebihan daging atau lemak, sekaligus bisa mencegah terjadinya tumor ketika awal-awal pembentukannya.

 

Menjaga Kadar Gula Dalam Darah

Saat makanan kelebihan kandungan insulin, maka pankreas akan mengalami tekanan dan melemah. Jika hal ini dibiarkan, pankreas tidak bisa menjalankan fungsinya. Maka, kadar darah pun akan merambat naik dan terus meningkat hingga akhirnya muncul penyakit diabetes. Berpuasa berfungsi menurunkan kadar gula dalam darah hingga mencapai kadar seimbang. Maka sesungguhnya puasa memberikan kesempatan kepada kelenjar pankreas untuk mengoptimalkan kinerjanya. Pankreas kemudian mengeluarkan insulin yang menetralkan gula menjadi zat tepung dan lemak untuk dikumpulkan di dalam pankreas. Di beberapa Negara, untuk menanggulangi diabetes, mereka menggunakan terapi yang mengikuti “sistem puasa” selama lebih dari 10 jam dan kurang dari 20 jam. Setiap kelompok mendapatkan pengaruh sesuai dengan keadaannya. Kemudian, para pasien tersebut mengonsumsi makanan ringan selama berurutan yang kurang dari 3 minggu. Metode semacam ini telah mencapai hasil yang menakjubkan dalam pengobatan diabetes dan tanpa menggunakan satu obat kimia sintetis pun.

 

Berpuasa Adalah Dokter Yang Paling Murah

Sesungguhnya berpuasa adalah “dokter” yang paling murah secara mutlak. Sebab puasa bisa menurunkan berat badan secara signifikan, dengan catatan ketika berbuka puasa memakan makanan dengan menu seimbang dan tidak mengkonsumsi makanan dan minuman langsung ketika berbuka. Rasullulah saw. ketika memulai ifthar adalah dengan memakan beberapa buah kurma dan bukan yang lain, atau seteguk air putih lalu shalat. Inilah petunjuk yang seharusnya kita ikuti.

Itu adalah sebaik-baik petunjuk bagi orang yang berpuasa dari makanan dan minuman untuk waktu yang lama. Kandungan gula yang ada dalam kurma sangat mudah dicerna dan dikirim ke seluruh tubuh oleh darah, sehingga badan akan kembali pada kondisi yang fit. Selain itu, dalam kondisi lambung yang kosong, rasa manis kurma sanggup menetralisir asam lambung yang berlebih sehingga mencegah terjadinya maag atau naiknya udara asam lambung ke tubuh bagian atas.

Adapun jika kita langsung menyantap makanan yang cukup berat, tubuh memerlukan waktu yang lumayan lama untuk bisa mencerna dan menyerap sari makanannya dan baru kemudian kita merasa kenyang. Pada saat seperti ini, ketika awal berbuka kita akan tetap merasa lapar. Akhirnya, kita kurang bisa memperoleh manfaat langsung dari puasa yang telah kita lakukan seharian, yaitu memperoleh kesehatan dan vitalitas, bahkan bias jadi akan menyebabkan obesitas. Tentu saja, hal ini bukanlah tujuan Allah mensyari’atkan shiyaam bagi hamba-hambaNya. Allah berfirman:

شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان، فمن شهد منكم الشهر فليصمه، ومن كان مريضا أو على سفر فعدة من أيام آخر، يريد الله بكم اليسرى ولا يريد بكم العسر (البقرة: 185)

“Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan atas petunjuk itu dan pembeda. Maka siapa yang menemui bulan Ramadhan ini maka berpuasalah. Dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan maka dia mengganti puasa tersebut pada bulan-bulan lain. Allah menginginkan untuk kalian kemudahan dan tidak menginginkan bagi kalian kesulitan” (QS. Al-Baqarah: 185).

 

Penyakit-Penyakit Kulit

Mungkin terasa asing bagi sebagian besar kita saat mendengar ini. Namun, memang demikianlah kenyataannya. Hal ini disebabkan bahwa dengan berpuasa, maka kandungan air dalam darah berkurang, sehingga mengakibatkan juga berkurangnya kandungan air yang ada di kulit. Hal ini pada kemudian akan:

  1. Menambah kekuatan kulit dalam melawan bakteri, mikroba, pathogen, dan penyakit-penyakit dalam perut.
  2. Meminimalisir kemungkinan penyakit-penyakit kulit yang menyebar di sekujur badan seperti sakit psoriasis (sakit kulit kronis).
  3. Meminimalisir alergi kulit dan membatasi masalah kulit berlemak.

 

Ny. Ilham Husain, seorang puteri Mesir menuturkan:

“Ketika aku berusia 10 tahun, aku menderita sakit kulit yang kronis. Penyakit ini muncul dengan warna merah, dan aku tidak menemui satu jenis obat pun. Ketika usiaku mencapai akhir 20 tahun, dan dekat dengan waktu pernikahanku, aku semakin berduka dan mengucilkan diri dari masyarakat, aku benar-benar sumpeg (sempit dada). Akhirnya, salah seorang sahabat ayahku yang selalu membiasakan diri melakukan puasa memberi nasihat kepadaku, “Cobalah wahai puteriku, engkau berpuasa sehari kemudian engkau berbuka (makan) sehari, sebab hal itulah yang juga menjadi sebab kesembuhan suamiku dari penyakit yang sampai sekarang tidak diketahui obatnya oleh dokter. Akan tetapi, lakukanlah dengan keyakinan bahwa penyembuh (asy-Syafii’) adalah Allahu ta’ala dan sesungguhnya sebab terjadinya obat seluruhnya ada di tanganNya. Maka, mohonlah kesembuhan terlebih dahulu kepadaNya dari penyakit yang engkau derita ini, lalu berpuasalah”.

Aku pun berpuasa, dan aku membiasakan diri ketika berbuka puasa mengonsumsi berbagai sayuran dan buah-buahan, kemudian setelah 3 jam aku baru mengonsumsi makanan berat. Dan aku makan (tidak puasa) pada hari ke dua, lalu berpuasa para hari ke tiga, dan demikian seterusnya. Kemudian mulai terjadi hal yang mengherankan semua orang, yaitu sakit yang aku derita itu mulai sembuh setelah melewati waktu 2 bulan sejak aku berpuasa. Aku hampir tidak percaya, dan aku memulai seperti biasa. Aku melihat bekas sakitku itu sedikit-demi sedikit mulai hilang dan sampai akhirnya benar-benar sembuh. Akhirnya, aku pun tidak pernah tertimpa penyakit kulit tersebut sampai akhir hayatku.”

 

Puasa Mencegah “Penyakit Orang Kaya”

Penyakit ini sering juga disebut dengan nama ” nacreous“, disebabkan karena kelebihan makanan dan terlalu sering makan daging. Akhirnya tubuh tidak bisa mengurai berbagai protein yang ada dalam daging. Sehingga akan menyebabkan tumpukan kelebihan urine dalam persendian, khususnya pada persendian jari-jari besar di kaki. Ketika persendian terkena penyakit nacreous, maka ia akan membengkak dan memerah dengan disertai nyeri yang sangat. Terkadang kadar garam pada air kencing berlebih dalam darah, kemudian ia mengendap di ginjal dan akhirnya mengkristal di dalam ginjal. Tentu saja, mengurangi porsi makan merupakan sebab (baca: washilah) bagi kesembuhan dari penyakit yang sangat berbahaya ini.

 

Pembekuan Jantung dan Otak

Para profesor yang melakukan penelitian ilmiah dalam bidang medis –mayoritasnya adalah non-muslim– menegaskan akan kebenaran puasa, sebab puasa bisa menjadi sebab berkurangnya minyak dalam tubuh dan pada gilirannya akan menyebabkan berkurangnya kolesterol. Sedangkan kelebihan kolesterol dapat menghambat aliran darah yang menyebabkan peradangan pada jantung dan otak. Karena itu tidaklah berlebihan jika kita mau mendengarkan kepada firman Allahu ta’ala yang berbunyi:

وأن تصوموا خير لكم إن كنتم تعلمون

“Dan andaikan kalian mau berpuasa tentu itu lebih bagus bagi kalian jika kalian mengetahui.”

Kini, berapa ribu manusia yang terbiasa untuk makan dan minum secara terus menerus tanpa ilmu ataupun bukan karena rasa lapar. Pola hidup yang buruk inilah yang menimbulkan banyak penyakit baru pada masa kini. Andai saja mereka mengikuti sunnah Rasulullah ‘alayhi shalatu wa sallam yang tidak berlebihan dalam hal makan dan minum serta membiasakan puasa minimal tiga kali tiap bulan tentu mereka akan mengetahui bahwa berbagai penyakit yang mereka alami akan berakhir serta akan turun berat badan mereka beberapa puluh kilogram tanpa harus menggunakan obat-obatan kimia sintetis dan program diet yang memberatkan.

 

Sakit Persendian Tulang

Sakit persendian adalah penyakit yang timbul karena berlalunya waktu yang panjang. Dengan hal itu maka organ-organ tubuh mulai terasa nyeri dan sakit-sakitpun akan menyertai, dan kedua tangan dan kaki akan mengalami nyeri yang banyak. Penyakit ini terkadang menimpa manusia pada fase-fase akhir usianya, akan tetapi lebih khusus lagi pada usia antara 30 s/d 50 tahun. Dan masalah yang sesungguhnya adalah kedokteran modern belum mampu menemukan obat atas penyakit ini sampai sekarang.

Akan tetapi percobaan ilmiah yang dilakukan di Rusia menegaskan bahwasanya puasa bisa menjadi sebab kesembuhan penyakit ini. Dan puasa bisa mengembalikan atau membersihkan tubuh dari hal-hal yang membahayakan. Puasa ini dilakukan selama tiga minggu berturut-turut. pada kondisi ini maka mikroba ataupun bakteri penyebab penyakit ini menjadi zat yang dibersihkan pada badan selama puasa. Percobaan ini dilakukan terhadap jumlah penderita penyakit tersebut dan ternyata memperoleh hasil yang menakjubkan.

Kondisi otak manusia juga akan terasa lebih baik pada waktu orang tersebut melakukan ibadah shiyam. Hal ini dibuktikan dengan otak seorang yang sedang berpuasa lebih banyak mengeluarkan omega-3.

Wallahu a’lam…

==========

==========

Maraji’

Al-Jawziyyah, Ibn Qayyim. 2004. Metode Pengobatan Nabi saw. (terj. Abu Umar Basyier Al-Maidani). Jakarta: Griya Ilmu

Ibn ‘Abdu `l Fattaah, Aiman. 2005. Keajaiban Thibbun Nabawi (terj. Asy-Syifaa’ min Wahyi Khaatmi `l Anbiyaa’ oleh Hawin Murtadlo). Solo: Al-Qowam

Mahmud, Mahir Hasan. 2007. Ath-Thibb al-Badil, ats-Tsimar wa al-A’syab al-Waridat fii al-Quran al-Karim wa as-Sunnah an-Nabawiyah, terjemahan bahasa Indonesia Mukjizat Kedokteran Nabi. Jakarta: Qultum Media

Ramadhani, Egha Zainur. 2007. Super Health: Gaya Hidup Sehat Rasulullah. Yogyakarta: Pro-U Media

Raqith, Hamad Hasan. 2003. Kiat Hidup Sehat Islami; Mengungkap Metode Menjaga Kesehatan Menurut Rasulullah saw. (terj. Jujuk Najibah Ardianingsih) ed. Hadratul Ma’wa. Yogyakarta: Zuha Pustaka

Sya’rawi, Mutawalli. 2007. Keistimewaan Puasa (terj. Ahmad Rusydi Wahab, Lc. Cet. II). Jakarta: Qultum Media

Washfi, Dr. dr. Muhammad. 2008. Menguak Rahasia Ilmu Kedokteran dalam al-Quran (terj. Abdul Madjid, Lc.).Surakarta: Indiva Pustaka

Sakit dalam Timbangan Syari’at

Sakit yang dimaksud dalam tulisan ini adalah sakit fisik. Yaitu suatu keadaan di mana metabolisme dalam tubuh tidak berjalan sebagaimana mestinya. Namun, walaupun sakit merupakan satu kondisi yang tidak mengenakkan, sebagai seorang muslim kita tidak perlu banyak mengeluh, karena terlalu banyak mengeluh merupakan bagian dari godaan syaithan.

Sakit

Saat Allah menakdirkan kita untuk sakit, pasti ada alasan tertentu yang menjadi penyebab itu semua. Tidak mungkin Allah subhanahu wa ta’ala melakukan sesuatu tanpa sebab yang mendahuluinya atau tanpa hikmah di balik semua itu. Allah pasti menyimpan hikmah di balik setiap sakit yang kita alami. Karenanya, tidak layak bagi kita untuk banyak mengeluh, menggerutu, apalagi su’udzhan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Lebih parah lagi, kita sampai mengutuk taqdir. Na’udzu billah

Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam  pernah menemui Ummu As-Saa’ib, beliau bertanya : ”Kenapa engkau menggigil seperti ini wahai Ummu As-Saa’ib?” Wanita itu menjawab : “Karena demam wahai Rasulullah, sungguh tidak ada barakahnya sama sekali.” Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam  bersabda : ”Jangan engkau mengecam penyakit demam. Karena penyakit itu bisa menghapuskan dosa-dosa manusia seperti proses pembakaran menghilangkan noda pada besi”. (HR. Muslim)

 

Sakit adalah Ujian

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam al-Quran, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.  (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.” (QS. Al-Baqarah: 155-156). Dalam ayat yang lain, Allah juga berfirman,

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”. (QS. Al-Anbiyaa`: 35)

 “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya, karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat”. (QS. Al-Insaan: 2)

Begitulah Allah subhanahu wa ta’ala menguji manusia, untuk melihat siapa di antara hambaNya yang memang benar-benar berada dalam keimanan dan kesabaran. Karena sesungguhnya iman bukanlah sekedar ikrar yang diucapkan melalui lisan, tapi juga harus menghujam di dalam hati dan teraplikasian dalam kehidupan oleh seluruh anggota badan. Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa Dia akan menguji setiap orang yang mengaku beriman, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. Al-Ankabuut: 2-3)

Semua ujian yang diberikan-Nya semata-mata hanya agar hamba-Nya menjadi lebih baik di hadapanNya. Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam bersabda : ”Barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, maka Dia akan menguji dan menimpakan musibah kepadanya”. (HR. Bukhari).

Jadi, sudah selayaknya bagi setiap mu`min untuk kemudian bertambah imannya saat ujian itu datang, termasuk di dalamnya adalah ujian sakit yang merupakan bagian dari ujian yang menimpa jiwa. Jangan sampai kita menjadi seperti orang-orang munafiq yang tidak mau bertaubat atau mengambil pelajaran saat mereka diuji oleh Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan tidaklah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?” (QS. At-Tawbah: 126)

Sudah selayaknya pula kita merenungi segala amalan yang telah kita lakukan, karena bisa jadi ada beberapa amalan yang memang dianggap sebagai sebuah kemakshiyatan di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Begitu cintanya Allah kepada kita sehingga Dia mengingatkan kita melalui sakit ini, agar kita dapat segera bertaubat sebelum ajal menjemput kita.

Dari Anas ibn Malik radhiyallahu ’anhu diriwayatkan bahwa ia menceritakan : Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam bersabda : ”Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Kalau Allah mencintai seseorang, pasti Allah akan memberikan cobaan kepadanya. Barangsiapa yang ridha menerima cobaanNya, maka ia akan menerima keridhaan Allah. Dan barangsiapa yang kecewa menerimanya, niscaya ia akan menerima kermurkaan Allah”. (HR. Tirmidzi)

 

Sakit adalah Adzab

Bagi seorang mu`min sakit dapat menjadi tadzkirah atau ujian yang akan mendekatkan dirinya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Namun bagi sebagian orang, sakit bisa menjadi adzab yang akan membinasakan dirinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimuatau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih bergantiagar mereka memahami(nya)”.” (QS. Al-An’aam: 65)

“Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian adzab yang kecil di dunia sebelum adzab yang lebih besar di akhirat, mudah-mudahan mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. As-Sajdah: 21)

Maka dari itu, pertaubatan adalah langkah nyata menuju kesembuhan. Seseungguhnya, segala macam bencana yang menimpa kita, pada hakikatnya adalah karena perbuatan kita sendiri. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, artinya, “Apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan bahwa semua musibah yang menimpa manusia, (baik) pada diri, harta maupun anak-anak mereka, serta pada apa yang mereka sukai, tidak lain sebabnya adalah perbuatan-perbuatan buruk (maksiat) yang pernah mereka lakukan.”[1]

Dari ‘A`isyah radhiyallahu ‘anha ia berkata , “Aku mendengar Rasulallah saw bersabda : “Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah walau hanya tertusuk duri, kecuali Allah akan mencatat baginya kebaikan dan dihapus baginya kesalahan dan dosanya.” (HR.Muslim)

Ingatlah bahwa adzab yang diturunkan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap seseorang di dunia bisa berbagai macam bentuknya. Kekurangan harta, bencana alam, peperangan, sakit, atau bahkan kematian. Cukuplah kiranya pelajaran kaum terdahulu yang diadzab oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan berbagai macam penyakit yang aneh dan sulit disembuhkan. Hal itu dikarenakan mereka tetap bertahan di dalam kekafiran, padahal bukti-bukti dan tanda-tanda kebesaran-Nya telah ditampakkan di hadapan mereka. Firman Allah,

“Dan demikianlah Kami menurunkan Al Quran dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali, di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau (agar) Al-Quran itu menimbulkan pengajaran bagi mereka” (QS. Thaahaa: 113)

Allah swt. juga berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir baik harta mereka maupun anak-anak mereka, sekali-kali tidak dapat menolak azab Allah dari mereka sedikitpun” (QS. Ali ‘Imraan: 116)

Lihatlah bahwa azab yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala tidak dapat ditahan, baik oleh harta ataupun sanak saudara kita. Demi Allah, saat azab itu telah sampai pada kita, tidak ada tangan-tangan yang sanggup menahannya, baik tangan manusia, jin, ataupun malaikat. Jangan sampai kita menjai seperti Fir’aun yang baru bertaubat saat ajal di depan mata, dimana Allah subhanahu wa ta’ala telah menutup pintu ampunan-Nya. Semoga kita bukan termasuk orang yang diberi adzab di dunia ataupun di akhirat.

Pasien

 

Sakit adalah Cinta

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menguji hamba-hambaNya untuk menilai siapa yang memang benar-benar memiliki ketulusan iman. Siapa di antara hamba-hambaNya yang sabar, yang sanggup bertahan, baik dalam susah maupun senang. Inilah golongan yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala. Para shahabat berkata saat golongan ini sedang ditimpa sakit, “Demam sehari dapat menghapuskan dosa setahun”.

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah menafsirkan riwayat atsar ini dalam dua pengertian. Pertama, bahwa demam itu meresap ke seluruh anggota tubuh dan sendi-sendinya. Sementara jumlah tiap sendi-sendi tubuh ada 360. Maka, demam itu dapat menghapus dosa sejumlah sendi-sendi tersebut, dalam satu hari.

Kedua, karena demam itu dapat memberikan pengaruh kepada tubuh yang tidak akan hilang seratus persen dalam setahun. Sebagaimana Sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, “Barangsiapa meminum minuman keras, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari.” Karena pengaruh minuman keras tersebut masih tetap ada dalam tubuhnya, pembuluh nadi, dan anggota tubuh lainnya selama empat puluh hari. Wallahu a’lam. Beliau mengakhiri perkataannya.

Hal tersebut dapat dipahami dan diterima walaupun beliau (Imam Ibn al-Qayyim) masih belum mengetahui kedudukan atsar tersebut, karena kita senantiasa mengingat do’a yang seringkali diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam saat beliau menjenguk orang sakit. Beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam senantiasa mengucapkan, “Laa ba’sa thahuurun, insya Allahu ta’ala” Tidak mengapa, insya Allah menjadi pembersih (atas dosa-dosamu). Inilah yang dimaksud bahwa Islam memandang sakit bisa bermakna cinta. Cinta dari Sang Ilahy agar hambaNya tidak mendapatkan azab di akhirat, maka Dia membersihkan segala noda dan dosanya di dunia. Masya Allah.

Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam pernah bersabda : ”Sesungguhnya besarnya pahala (balasan) sangat ditentukan oleh besarnya cobaan. Dan jika sekiranya Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji dan memberikan cobaan kepada mereka”. (HR. Tirmidzi dan Baihaqi).

Dari  Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu ’anhu diriwayatkan bahwa ia menceritakan: Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam bersabda : ”Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan Allah hapuskan berbagai kesalahnnya, seperti sebuah pohon meruntuhkan daun-daunya.” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurayrah radhiyallahu ’anhu diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam bersabda : ”Cobaan itu akan selau menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada diri anaknya ataupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)

Begitu pula, Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam bersabda : ”Tiadalah kepayahan, penyakit, kesusahan, kepedihan dan kesedihan yang menimpa seorang muslim sampai duri di jalan yang mengenainya, kecuali Allah menghapus dengan itu kesalahan – kesalahannya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang wanita datang menemui Nabi shallallahu ’alayhi wasallam, ia berkata : ”Saya mengidap penyakit epilepsi dan apabila penyakitku kambuh, pakaianku tersingkap. Berdoalah kepada Allah untuk diriku”. Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam bersabda : ”Kalau engkau bersabar, engkau mendapatkan jannah. Tapi kalau engkau mau, aku akan mendoakan agar engkau sembuh”. Wanita itu berkata : ”Aku bersabar saja”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ia menceritakan: Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam  bersabda :” Kalau seorang hamba sakit atau sedang bepergian, pasti Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia mengamalkan ibadah di masa masih sehat dan sedang bermukim.” (HR. Bukhari)

Syaikh Al Faqih Muhammad ibn Shalih Al-‘Utsaymin rahimahullah berkata: ”Apabila engkau ditimpa musibah maka janganlah engkau berkeyakinan bahwa kesedihan atau rasa sakit yang menimpamu, sampaipun duri yang mengenai dirimu, akan berlalu tanpa arti. Bahkan Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik (pahala) dan menghapuskan dosa-dosamu dengan sebab itu. Sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.”

Hendaklah kita bersabar dan ridha terhadap sakit yang menimpa kita. Dengan bersabar, kita akan mendapatkan apa yang dijanjikan Allah terhadap orang yang bersabar : “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Selain itu, Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah berpendapat bahwa sakit, khususnya demam, sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Karena, menurutnya, orang yang sedang demam akan meninggalkan makanan yang buruk dan kemudian beralih kepada makanan yang baik-baik. Ia pun akan mengonsumsi obat-obatan[2] yang bermanfaat bagi tubuh. Hal ini tentu akan membantu proses pembersihan tubuh dari segala macam kotoran dan kelebihan yang tidak berguna. Sehingga prosesnya mirip api terhadap besi yang berfungsi menghilangkan karat dari inti besi. Proses seperti ini sudah dikenal di kalangan medis. Karenanya tidak heran jika Abu Hurayrah radhiyallahu ‘anhu  pernah berkata, “Tidak ada penyakit yang menimpaku yang lebih aku sukai daripada demam. Karena demam merasuki seluruh organ tubuhku. Sementara Allah akan memberikan pahala pada setiap organ tubuh yang terkena demam.”

 

Wallahu a’lam…

 

-Al Fadhli-
===============

[1] Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 759).

[2] Dalam hal ini tidak termasuk di dalamnya kategori obat-obatan kimia sintetis, karena justru berbahaya bagi tubuh

Sehat Bersama Sunnah*

*Disampaikan dalam Talkshow Thibb an Nabawi Al Imarat Fair, 04 Juni 2011

Bekam

Muqaddimah

Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An Nahl : 89)

Allahu ta’ala menurunkan al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan menjadikan as Sunnah sebagai “penerjemah” isi al Quran. Dalam ayat yang kami kutip di awal tulisan ini, dengan tegas Allahu ta’ala menjelaskan kepada kita bahwa di dalam al Quran terdapat penjelasan atas segala sesuatu, tanpa terkecuali. Tidak heran jika kemudian, para ilmuwan modern menemukan data-data penting dalam al Quran dan as Sunnah yang begitu bermanfaat bagi kehidupan manusia, khususnya dalam bidang kedokteran.

Syaikh Abu Abdullah Syaikh Musthafa ibn al ‘Adawi, ketika memberikan pengantar dalam kitab Asy Syifaa` min Wahyi Khaatami `l-Anbiyaa’,[1] beliau berkata, “Berbagai hadits menganjurkan, bahkan kadang-kadang memerintahkan berobat. Kemudian, pengobatan memerlukan fiqh tersendiri, sebagaimana bidang-bidang lainnya. Kadang-kadang, berobat adalah wajib, kadang-kadang makruh, kadang-kadang sunnah, kadang-kadang mubah, kadang-kadang haram. Berobat dengan barang-barang haram, hukumnya haram. Membuka aurat tanpa sebab yang mengharuskan, juga haram, dan sebagainya.”

Perhatikan bahwa Syaikh Ibn al ‘Adawi menyebutkan perlu adanya sebuah fiqh tersendiri yang mengatur bidang pengobatan (fiqh thibb). Hal ini tentu saja sangat masuk akal dan dapat diterima berdasarkan pemahaman yang benar tentang diin ini. Tidak ada pertentangan di kalangan ‘ulama salaf bahwa metode pengobatan nabi shallllahu ‘alayhi wa sallam merupakan bagian yang integral dan tidak mungkin dapat dipisahkan dari aspek-aspek lainnya yang juga diatur dalam fiqh tersendiri.

Metode Pengobatan Nabi  telah ditulis dalam banyak kitab Hadits dan Fiqh. Imam al Bukhari menyusun hadits-hadits yang berkaitan dengan ath Thibb an Nabawi dalam kitab ath Thibb an Nabiy. Imam Shuyuthi dan Syaikh Al Islam Ibn Qayyim al Jawziyyah pun demikian. Kedua fuqaha ini sengaja menyimpan ath Thibb an Nabawi menjadi salah satu pembahasan dalam uraian fiqhnya.

Terjemahan Thibb An Nabawi

Maka dari itu, kewajiban mempelajari ath Thibb an Nabawi serta mengamalkannya sama dengan kewajiban kita dalam mempelajari dan mengamalkan ilmu-ilmu fiqh yang lainnya, seperti thaharah, shalat, shiyaam, zakat, haji, jihad, buyu’ atau jinayat. Hal ini juga berarti bahwa dalam satu wilayah harus ada seorang yang faqih terhadap masalah ini yang kemudian dapat mengajarkan ilmu ini kepada yang lainnya. Sedangkan masyarakat yang lain berkewajiban mengamalkannya sebagai bentuk peribadahan yang sempurna terhadapNya.

Kesehatan dalam Islam

Dalam Islam, kesehatan tidaklah selalu berkaitan dengan aspek fisik saja. Bahkan, kesehatan hati menjadi bagian yang pertama kali dibahas dalam al Quran, yaitu pada surat al Baqarah ayat 1-20. Islam juga menganjurkan manusia untuk menjaga kesehatan akal mereka. Hal ini dibuktikan dengan begitu banyaknya ayat al Quran yang menggunakan kata “li ulil albaab” (bagi orang-orang yang berakal) atau “li qawmi yatafakkaruun” (bagi kaum yang berfikir). Hal ini menunjukkan pada kita dengan jelas bahwa sungguh keutamaan bagi mereka yang mempergunakan akalnya untuk berfikir dan memikirkan kebesaran Al Khaliq (Sang Pencipta) untuk kemudian memahami bahasa yang diberikan oleh alam (ayat-ayat kauniyah). Inilah makna menjaga kesehatan akal.

Adapun dalam aspek fisik, Rasuulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah menjelaskan kepada kita dalam haditsnya, “Mu’min yang kuat lebih baik dan lebih disukai di sisi Allah swt. dibandingkan mu’min yang lemah, dari segala sisi”.[2] Sedangkan Allah telah banyak memberikan keutamaan kepada orang-orang pilihan-Nya –salah satunya- adalah dengan fisik yang kuat. Hal ini dapat kita baca dalam kisah Thalut, Musa, Dawud, dan Ayyub ‘alayhimus salaam.

Konsentrasi Islam yang tidak hanya melibatkan aspek fisik dalam upaya menjaga kesehatan telah dibuktikan oleh penelitian modern. Kolej Perubatan Jawi, Institut Latihan Herbal Al-Wahidah, HPA Internasional[3] menemukan sebuah data yang menegaskan bahwa kondisi fisik seseorang dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu spiritual, mental, emosional, dan fisikal. Keempat faktor tersebut memengaruhi tubuh manusia dengan persentase sebagai berikut.

  • Spiritual           : 50 %
  • Mental             : 20 %
  • Emosional        : 20 %
  • Fisik                : 10 %

Sehat dan Terapi Thibb an Nabawi

Dalam merealisasikan perintah Allahu ta’ala, Rasuulullah telah memberikan penjelasan kepada kita melalui amalan-amalan yang beliau lakukan. Baik itu yang berkaitan dengan ibadah mahdhah atau ghayru mahdhah.

Harus kita ketahui bersama bahwa aspek-aspek ibadah mahdhah dan ghayru mahdhah memiliki hikmah yang begitu banyak, khususnya dari sisi kesehatan, seperti bersuci, bersiwak, shalat, dzikrullah, shaum, menjaga fitrah (memotong dan mencukur, menikah, khitan, dll), shaum, celak, pacar, haji, dsb.

Herbal

Selain itu, kesehatan Rasuulullah juga ditopang oleh kebiasaan beliau yang begitu baik dan menyehatkan. Cara tidur, makan, minum, serta kebiasaan-kebiasaan beliau lainnya ternyata juga memberikan efek positif bagi kesehatan. Hal ini telah dijelaskan panjang lebar oleh Syaikh Ibn al Qayyim dalam Zaad al Ma’ad Kitab Thibb an Nabawi.

Adapun bentuk terapi sunnah yang insya Allah dapat menjadi wasilah kesembuhan diri dari berbagai macam penyakit, di antaranya adalah:

  1. Terapi Al Hijaamah (Bekam), al Fashdu dan al Kayy
  2. Terapi Herbal (hadu, habbatus sawda, susu & urine unta, susu kambing, jahe, kurma, air putih, dll)
  3. Terapi al Quran (ruqyah syar’iyyah)

Wallahu a’lam


[1] Ditulis oleh Aiman ibn ‘Abdul Fattaah dengan judul terjemahan Keajaiban Thibbun Nabawi; Bukti Ilmiah dan Rahasia Kesembuhan dalam Metode Pengobatan Nabi

[2] Hadits shahih riwayat Muslim

[3] Lihat INTIBAH jilid 1