Fadhilah-Fadhilah Da’wah

Da'wah

1)       Da’i adalah peran yang sangat dimuliakan Allah

Allahu ta’ala berfirman.

“Adakah yang lebih baik perkataannya selain dari orang-orang yang menyeru kepada Allah swt dan mereka beramal shalih dan berkata sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. Fushilat 41:33-34)

 

Jadi, da’wah merupakan suatu kemuliaan yang agung bagi pengembannya. Bahkan profesi sebagai da’i adalah profesi para nabi – manusia-manusia mulia dan didekatkan kepada Allah. Maka, tidak salah jika kita mulai sekarang berikrar “Nahnu du’at qabla kulli syaiy’in” (kami adalah da’i sebelum diri kami yang lainnya).

 

2)       Da’wah sangat besar pahalanya dan sebaik-baik amal

Da’wah adalah amal terbaik karena ia memelihara nilai-nilai Islam dalam pribadi dan masyarakat. Tanpa da’wah, ‘amal shalih tidak akan berlangsung. Karenanya, Allah subhanahu wa ta’ala menjanjikan balasan yang berlipat ganda kepada mereka yang masuk ke dalam barisan da’wah serta menyampaikan ilmu dan pengetahuan kepada orang lain.

Rasulullah saw. bersabda dalam banyak hadits, di antaranya adalah.

“Sungguh, sekiranya Allah memberikan hidayah kepada seorang lelaki lantaran (da’wah)-mu, itu lebih baik daripada seekor unta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Barang siapa yang menghidupkan sunnah hasanah dalam Islam, maka baginya pahala dan pahala orang yang telah mengikutinya tanpa terkurangi pahala mereka walau sedikitpun. Dan barangsiapa yang menghidupkan sunnah yang jelek dalam Islam, baginya adalah dosa dan dosa orang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)

Barangsiapa yang menyeru kepada hidayah, maka ia memperoleh pahala seperti pahala-pahala yang mengikutinya tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.” (HR. Muslim)

Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka ia memperoleh pahala sebagaimana pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)

 “Barangsiapa yang beramal shaleh baik laki-laki atau perempuan, sedang ia beriman, maka sesungguhnya Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami balas mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl 16:97)

 

Logikanya seperti ini, jika kita mengajak orang lain untuk shalat malam, dan ternyata pada malam itu dia shalat, sedangkan kita terlalu lelah sehingga tidak sempat untuk bangun, insya Allah, saat kita ikhlash mengajak orang tadi, kitapun akan mendapatkan pahala shalat malam sebagaimana yang diperoleh orang itu tanpa menguranginya sedikit pun. Itu jika yang kita ajak adalah satu orang. Bagaimana jika yang kita ajak adalah sepuluh, seratus, atau bahkan seribu orang..?!

Begitu pun saat kita berhasil membuat seorang muslimah untuk berhijab dengan benar. Ia menggunakan jilbab karena segala informasi yang diberikan oleh kita. Kemudian Allah menganugerahinya hidayah melalui lisan dan aktivitas kita. Berapa banyak pahala yang akan kita kumpulkan, karena setiap harinya, selama ia masih berhijab, pasti Allahu ta’ala menganugerahinya pahala yang senantiasa mengalir..?

Serta masih banyak lagi bentuk kebaikan yang bisa dilakukan untuk melipatkgandakan pahala kita. Termasuk menyampaikan keindahan Islam kepada mereka yang masih berada dalam kubangan kekufuran. Sampaikanlah… Karena jika pun mereka masih belum diberikan hidayah oleh Allah subhanahu wa ta’ala, setidaknya kita telah mendapatkan pahala karena telah menyampaikan kebenaran. Allahu Akbar..!

 

3)       Memperoleh keridhaan, kecintaan dan rahmat dari Allah

Aktivitas da’wah dan jihad akan mendapatkan curahan kasih sayang dari Allah subhanahu wa ta’ala. Firman-Nya.

Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih ? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam syurga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (Ash Shaff 61:10 – 13)

“Orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah 9: 71)

 

Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala yang menjanjikan kebaikan melalui al-Quran, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pun mendoakan kebaikan bagi mereka yang senantiasa menyampaikan pengetahuan yang ia miliki. Beliau ‘alayhi shalatu wa sallam pernah bersabda.

Semoga Allah mencerahkan seseorang yang mendengarkan dari kami satu hadits lalu ia menyampaikannya kepada orang lain. Sebab boleh jadi ia memberikan pemahaman kepada orang yang lebih faham daripada dirinya. Dan boleh jadi yang memberikan pemahaman itu bukan termasuk orang-orang yang faham.” (HR. Ibnu Hibban)

 

Lalu, apalagi yang engkau tunggu..? Kenikmatan dan keberkahan hidup di depan mata. Ia bisa kau genggam dengan aktivitas da’wah ilallah. Bergabunglah dalam barisannya, jadilah bagian dari para mujahid mujahidah da’wah. Raihlah keridhaan dan syurgaNya, yang di dalamnya terdapat bidadari-bidadari suci, di bawahnya mengalir sungai susu, madu, dan khamr, dan bisa dinikmati sepuasnya.

 

4)       A’dzham Ni’amillah (Nikmat Allah yang Terbesar)

Banyaknya nikmat Allah yang diterima seorang hamba adalah balasan atas da’wah yang dilakukannya. Di antara kenikmatan yang dirasakan adalah nikmat di dalam menjalani kehidupan. Nikmat iman, Islam, dan ikhwan dirasakan juga bagi yang berda’wah, juga ketenangan, kedamaian, kebahagiaan, nikmat lahir, nikmat batin, dan nikmat atas penerimaan kita terhadap realitas.

Salah satu kenikmatan yang lain adalah terhindarnya seorang da’i dari malapetakan di dunia. Karena aktivitas da’wah merupakan aktivitas untuk senantiasa menghidupkan ajaran-ajaran yang diridhai Allah. Sedangkan Allah telah mengisahkan kepada kita bagaimana bangsa-bangsa besar hancur luluh lantak diakibatkan mereka melakukan berbagai penyimpangan dari diinul-haqq. Firman Allah subhanahu wa ta’ala.

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukannya di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.” (QS. Al-An’aam 6: 6)

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (untuk menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Israa’ 17: 16)

“Telah dila’nati orang-orang kafir dan Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Maidah 5: 78-79)

 

Sedangkan untuk menghindari malapetaka seperti yang dikisahkan di dalam al-Qur’an, maka Allah memerintahkan kita untuk menyeru manusia ke dalam Islam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman.

“Dan tidaklah Tuhanmu akan membinasakan suatu negeri padahal penduduknya melakukan perbaikan.” (QS. Huud 11: 117)

 

Ya, penduduknya adalah mushlihuun. Maka, Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan mendatangkan malapetaka kepada negeri tersebut. Artinya, kebaikan individu (shalih) itu belum cukup untuk mencegah bencana dan adzabNya di dunia. Allah menegaskan dalam ayat yang lain.

“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang dzhalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasiq.” (QS. Al-A’raaf 7: 165)

 

Dalam sebuah riwayat Rasulullah pernah bercerita, bahwa ada seorang shalih yang berada di tengah-tengah negeri yang rusak secara ruhiyah, akhlaq, dan yang lainnya. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Malaikat untuk meluluhlantakkan negeri tersebut. Malaikat tidak mengadzab negeri tersebut karena ia melihat bahwa masih ada seorang shalih yang senantiasa menyebut namaNya. Malaikat itu kembali menghadap Allah dan bertanya perihal orang shalih di negeri tersebut. Namun, Allah murka dan berfirman “Orang itu yang pertama (dibinasakan)..!”

Hal tersebut dikarenakan keshalihan yang dimilikinya hanya untuk dirinya sendiri. Ia tidak menjadi seorang mushlih sehingga Allah subhanahu wa ta’ala sangat murka kepada orang tersebut. Ia menyembunyikan kebenaran dan takut untuk menyampaikan kebenaran yang diyakininya. Maka, sekali lagi bahwa keshalihan individu belum cukup untuk menghindari diri kita dari adzab di dunia.

 

5)       Al-Hayaah Ar-Rabbaaniyah (Kehidupan yang Rabbani)

Kehidupan rabbaniyyah akan dapat dirasakan dengan berda’wah. Seorang muslim yang disibukkan dengan da’wah akan senantiasa tunduk kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam kehidupannya, sehingga ia akan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan. Ia pun menyadari bahwa sebelum mengajak orang kepada Islam, ia harus mencontohkan nilai-nilai Islam itu terlebih dahulu pada dirinya, sehingga ia – meminjam istilah quantum da’wah dan tarbiyah – menjadi shalih dengan berda’wah. Maka, ketika setiap muslim telah tumbuh menjadi da’i, berkembang pula orang-orang shalih di atas muka bumi ini.

 

6)       Menjadi hujjah di hadapan Allah kelak

Dalam realitanya, akan ada orang-orang yang menjadi lawan-lawan da’wah. Akan ada orang-orang yang juga bersekutu untuk menghimpun kekuatan secara terorganisir demi hancurnya da’wah. Karena fithrah manusia yang dianugerahi kecenderungan untuk bertaqwa serta kecenderungan untuk berma’shiyat. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala, Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Kami ilhamkan kepadanya kefujuran dan ketaqwaan.”

Demikianlah Allah subhanahu wa ta’ala memberikan dua aspek yang ambivalen dalam diri manusia. Selanjutnya, tinggal manusia memilih, apakah ia mengikuti hawa nafsunya atau ia memilih untuk mengikuti naluri wahyu ilahy. Maka, sebuah keniscayaan pula bahwa akan ada orang-orang yang akan menjadi penghuni neraka jahannam. Namun sebelum “golongan kiri” tersebut diadzab oleh Allah subhanahu wa ta’ala di akhirat, akan ada sebuah sidang pertanggungjawaban, tentang mengapa dan bagaimana ia bisa melakukan begitu banyak kema’shiyatan. Tentang segala hal yang berkaitan dengan segala tindakan yang dilakukannya. Termasuk dalam sidang itu adalah sebuah pertanyaan tentang pertemuan hari tersebut. “…Sehingga apabila mereka telah sampai ke neraka, dibukakan pintu-pintunya dan penjaga-penjaganya berkata kepada mereka: ‘Apakah belum pernah datang kepadamu rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Rabbmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan hari ini?’…” (QS. Az-Zumar 39: 71).

Pertanyaan tersebut pasti ditujukan kepada orang-orang yang hidup pada masa nabi dan rasul diutus. Bagaimana dengan orang-orang yang hidup pada masa setelah wafatnya Rasul terakhir? Tentu saja mereka pun mendapatkan pertanyaan dengan esensi yang sama. Yang berbeda hanyalah perihal siapa yang menyampaikannya. Jika kepada orang-orang terdahulu Malaikat bertanya tentang datangnya seorang rasul, maka kepada orang-orang yang kemudian, Malaikat bertanya “Apakah belum pernah datang kepadamu orang-orang shalih, para ‘ulama, atau saudara-saudaramu yang memperingatkanmu akan pertemuan hari ini?”

Dapat dibayangkan jika yang ditanya adalah orang yang cukup dekat dengan kita. Lalu, jawaban dari orang tersebut adalah “belum pernah”. Sudah pasti Allah akan meminta pertanggungjawaban kepada kita sebagai orang yang cukup dekat dengannya tentang segala ilmu dan pengetahuan yang kita miliki dan mengapa kita tidak menyampaikan serta mentransfer kashalihan kita kepada orang lain. Apa yang bisa kita katakan di hadapan Allah yang sedang murka melihat kita? Mungkin yang ada hanyalah penyesalan mengapa ketika di dunia kita tidak menyampaikan kebenaran itu…

Maka dari itu, dengan menjadi seorang da’i, kita dapat berhujjah di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala bahwa kita telah menyampaikan kebenaran, membacakan ayat-ayat-Nya serta senantiasa mengingatkan manusia untuk ta’at kepadaNya. Sehingga tidak ada alasan bagi para pendosa itu untuk mengajak kita ke dalam jahannam. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahkan kepada kita syurga dan ridha-Nya, serta menjauhkan kita dari siksa neraka yang maha dahsyat. Aamiin.

Advertisements

Allah Pasti Menepati Djandjinja !

Penulis : Mohammad Natsir

Kabinet Natsir

Saudara pembatja,

Dalam menghadapi situasi jang kritis seperti dewasa ini kita hadapi, mungkin terdapat orang jang kurang kuat djiwanja, mendjadi putus asa atau nekat. Mendjadi orang jang „ja-is” atau mengambil langkah ,.tahlukah”. Ke-dua2-nja bukan sikap jang diridai Allah, tidak sesuai dengan iman jang dikandung oleh dada jang mu’min.

Kepada orang jang demikian itulah kuhadapkan sepatah kata ini. Bahwa situasi jang dihadapi oleh umat Islam dewasa ini kritis, memang ! Bahwa situasi itu pantas menggelisahkan, memang ! Bahwa karena itu umat Islam harus waspada, awas dan mengawasi, itulah sikap jang dengan sendirinja sudah djadi konsekwensi dari pada situasi itu.

Namun didalam kesibukan menjusun tenaga, membulatkan kesatuan umat untuk menghadapi segala kemungkinan, wadjiblah kita tin-djau, apakah situasi kritis jang kita hadapi sekarang ini, ada matjam tjontohnja didalam sedjarah perdjuangan umat Islam sepandjang tarich-nja 13 abad jang lampau itu.

Djawabnja : Ada, dan alangkah banjaknja ! Tetapi tjontoh2 jang bertemu dalam sedjarah itu, djauh lebih hebat dan lebih dahsjat. Situasi kritis jang menentang kita dewasa ini, sesungguhnja belumlah mentjapai taraf jang se-dahsjat2-nja, seperti jang pernah dilukiskan oleh Al-Quran didalam Ajat: „Hatta jaqularrasulu walladzina amanu ma’ahu mata nasrullah”. Situasi jang demikian dahsjatnja sehingga menjebabkan Rasulullah dan kaum Mu’minin jang menjertainja ber-tanja2 : „Bila akan datang djandji Tuhan memberi kemenangan ?” (Q.s. Al-Baqarah : 214).

Belum setaraf demikian, saudara pembatja, situasi kritis jang kita hadapi sekarang ini ! Meskipun mungkin akan sampai kepada taraf demikian ……….. , djika kita lengah dan tidak mengambil sunnah jang dipakai oleh Nabi Besar kita dan para Sahabatnja kaum Mu’minin itu.

Sjarat terpenting bagi mu’min dapat menghadapi segala matjam situasi kritis, ialah djiwa jang kuat, kepala jang dingin dan bersikap bukan putus asa dan bukan pula nekat melangkah ke „tahlukah”.

Dimulai dengan menguatkan djiwa, ialah djangan sedjenakpun kita lupa, bahwa iman kita itu membulat kepada kejakinan, bahwa djandji Allah nistjaja akan ditepati-Nja. Djandji2 Allah itu antara lain bertemu dalam Ajat: „Innallaha la jushlihu ‘amalal-mufsidin”. Bahwasanja Allah tidak mungkin memberi sukses, amal orang2 jang merusak (Q.s. Junus: 81).

Dalam sedjarah bangsa kita jang dekat, masih membajang diruang mata peristiwa Madiun dari kaum komunis, ialah amal jang merusak. Maka kesudahan amal itu ialah tidak sukses pada achirnja dan tertjantum peristiwa tersebut didalam sedjarah Negara kita sebagai lembaran hitam jang sangat menjedihkan, jang akan dibatja oleh turunan kita.

Memang, adakalanja apa jang batil itu beroleh kemenangan, untuk sementara waktu. Tapi kemenangan jang batil akan disusul oleh jang hak. Itupun termasuk djandji2 Allah jang dimaksudkan diatas.

Situasi kritis jang kita hadapi dewasa ini adalah karena apa jang batil tampaknja se-akan2 mendapat kemenangan. Seorang Muslim harus jakin, bahwa kemenangan batil itu akan segera disusul oleh jang hak sehingga mendjadi “zahuqa”, sehingga memangnjalah bahwa jang batil itu nistjaja akan hantjur luluh dan binasa.

Maka djika ada djiwa seorang Muslim jang melemah karena situasi kritis jang sekarang ini, bangkitkanlah kekuatan itu dengan mengingati djandji2 Allah, dan bahwa djandji Allah itu tidak boleh tidak tentu akan ditepati oleh Allah sendiri.

Mata nasrullah ? Ber-tanja2 kaum Mu’min. Kapan tiba kemenangan kita ? Ala inna nasrallahi qarib. Kemenangan itu sudah dekat, tampak sajup2 diruang mata. Itulah djandji Allah, dan djandji Allah nistjaja ditepati-Nja. Tjam-kanlah !

19 September 1953

Karakteristik Ghuraba

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : بدأ الإسلام غريبا وسيعود كما بدأ فطوبى للغرباء – رواه مسلم

Dari Abu Hurayrah radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Islam dimulai dalam kondisi asing, dan akan kembali sebagaimana ia dimulai (sebagai sesuatu yang) asing; maka berbahagialah bagi kaum ghuraba` (orang-orang yang asing tersebut)”. [H.R.Muslim]

Terasing

KAJIAN BAHASA

  1. Lafazh ghariiban ; yang merupakan derivasi (kata turunan) dari lafazh al-Ghurbah memiliki dua makna: pertama, makna yang bersifat fisik seperti seseorang hidup di negeri orang lain (bukan negeri sendiri) sebagai orang asing. Kedua, bersifat maknawi -makna inilah yang dimaksud disini- yaitu bahwa seseorang dalam keistiqamahannya, ibadahnya, berpegang teguh dengan agama dan menghindari fitnah-fitnah yang timbul adalah merupakan orang yang asing di tengah kaum yang tidak memiliki prinsip seperti demikian. Keterasingan ini bersifat relatif sebab terkadang seseorang merasa asing di suatu tempat namun tidak di tempat lainnya, atau pada masa tertentu merasa asing namun pada masa lainnya tidak demikian.
  2. Makna kalimat bada-al Islamu ghariibaa [Islam dimulai dalam kondisi asing]” : ia dimulai dengan (terhimpunnya) orang per-orang (yang masuk Islam), kemudian menyebar dan menampakkan diri, kemudian akan mengalami surut dan berbagai ketidakberesan hingga tidak tersisa lagi selain orang per-orang (yang berpegang teguh kepadanya) sebagaimana kondisi ia dimulai.
  3. Makna kalimat ” fa thuuba lil ghurabaa’ [maka berbahagialah bagi kaum ghuraba’ (orang-orang yang asing tersebut) ] ” : Para ulama berbeda pendapat mengenai makna lafazh thuuba . Terdapat beberapa makna, diantaranya: fariha wa qurratu ‘ain (berbahagia dan terasa sejuklah di pandang mata); ni’ma maa lahum (alangkah baiknya apa yang mereka dapatkan); ghibthatan lahum (kesukariaanlah bagi mereka); khairun lahum wa karaamah (kebaikan serta kemuliaanlah bagi mereka); al-Jannah (surga); syajaratun fil jannah (sebuah pohon di surga). Semua pendapat ini dimungkinkan maknanya dalam pengertian hadits diatas.

Ghuraba

INTISARI DAN HUKUM-HUKUM TERKAIT

  1. Hadits tersebut menunjukkan betapa besar keutamaan para Shahabat radhiyallaahu ‘anhum yang telah masuk Islam pada permulaan diutusnya Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam karena karakteristik tentang ghuraba’ tersebut sangat pas buat mereka. Keterasingan (ghurbah) yang mereka alami adalah bersifat maknawi dimana kondisi mereka menyelisihi kondisi yang sudah berlaku di tengah kaum mereka yang telah terwabahi oleh kesyirikan dan kesesatan.
  2. Berpegang teguh kepada Dienullah, beristiqamah dalam menjalankannya serta mengambil suri teladan Nabi kita, Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam adalah merupakan sifat seorang Mukmin yang haq yang mengharapkan pahala sebagaimana yang diraih oleh kaum ghuraba’ tersebut meskipun (dalam menggapai hal tersebut) kebanyakan orang yang menentangnya. Yang menjadi tolok ukur adalah berpegang teguh kepada al-Haq, bukan kondisi yang berlaku dan dilakukan oleh kebanyakan orang. Allah Ta’ala berfirman: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya…” (Q.S. 6:116).
  3. Besarnya pahala yang akan diraih oleh kaum ghuraba’ serta tingginya kedudukan mereka. Yang dimaksud adalah kaum ghuraba’ terhadap agamanya alias mereka menjadi asing lantaran berpegang teguh kepada al-Haq dan beristiqamah terhadapnya, bukan mereka yang jauh dari negeri asalnya dan menjadi asing disana.

Dalam beberapa riwayat, dinyatakan bahwa makna al-Ghuraba’ adalah orang yang baik/lurus manakala kondisi manusia sudah rusak. Juga terdapat makna; mereka adalah orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia. Ini menunjukkan bahwa kelurusan jiwa semata tidak cukup akan tetapi harus ada upaya yang dilakukan secara bijak, lemah lembut dan penuh kasih sayang dalam memperbaiki kondisi manusia yang sudah rusak agar label ghuraba’ yang dipuji dalam hadits diatas dapat ditempelkan kepada seorang Mu`min.
Wallahu a’lam

At Tadhhiyyah

Perjuangan

Keniscayaan dalam setiap perjuangan adalah untuk senantiasa istiqamah dalam amal da’wah dan jihad. Namun sungguh tidak akan pernah ada perjuangan tanpa tadhhiyah (pengorbanan) yang diberikan para pejuangnya, baik berupa harta, tenaga, pikiran ataupun jiwa.

Allah berfirman dalam al Quran,

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.(QS. At Taubah : 111)

Harta, jiwa, tenaga, dan pemikiran adalah potensi yang dianugerahkan Allah subhanahu wa ta’ala untuk digunakan manusia dalam perjuangan di jalan-Nya. Karena pada hakikatnya, bagi seorang mu’min, apa yang ada pada dirinya telah ia jual demi meraih ridha dan jannah Allah ta’ala. Ia telah menyadari bahwa semua itu adalah karunia yang diberikan Allah sebagai bekal perjalanan hidupnya di dunia menuju kehidupan yang abadi di akhirat kelak. Tidak ada kuasa sedikit pun atas segala karunia yang Allah berikan di dunia ini. Sungguh, rasa syukur terbaik yang diberikan seorang mu’min atas segala apa yang telah diberikan-Nya adalah dengan mengoptimalkan semua potensi yang telah Allah titipkan untuk da’wah dan jihad fii sabiilillah.

Dahulu, Abu Bakr ash Shidiq telah mengajarkan kepada kita bagaimana caranya berkorban dengan harta. Saat ‘Umar ibn al Khathab menyerahkan separuh harta yang ia miliki pada saat itu untuk membiayai jihad, maka Abu Bakr mengeluarkan seluruh harta yang ia miliki. Sehingga saat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bertanya, Apa yang kau tinggalkan untuk istri dan anakmu..? Abu Bakr menjawab, “Cukuplah Allah dan Rasul Nya…”

Begitupun Dzun Nurayn Utsman ibn ‘Affan yang telah mewakafkan sebuah sumur untuk kepentingan kaum muslimin, serta pada saat yang lain, di mana bahan makanan ummat semakin menipis, para saudagar menawar seluruh barang dagangan ‘Utsman dengan hara dua kali lipat demi memenuhi kehidupan ummat. Namun, ‘Utsman menolaknya dan berkata, “Aku hanya akan menjual daganganku kepada orang yang mau membelinya dengan harga sepuluh kali lipat.”

Tentu saja pernyataan ‘Utsman ini mengecewakan para saudagar yang sedang mengharapkan bahan makanan. Mereka pun berkata kepada ‘Utsman, “Tidak ada yang sanggup membayar sepuluh kali lipat untuk barang daganganmu.” Namun ‘Utsman menyela, “Ada, dan Dia telah membelinya. Dialah Allah yang telah membeli barang daganganku dengan harga sepuluh kali lipat.” Maka disedekahkanlah seluruh barang dagangannya demi kepntingan ummat Islam. Allahu akbar…

Pengorbanan harta bukanlah perkara yang mudah. Namun, telah jelas kepada kita bagaimana para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in berlomba-lomba melakukannya demi mendapatkan kemuliaan di sisi Allah dan Rasul Nya. Hal ini terjadi karena mereka telah memahami bahwa semua yang mereka miliki pada hakikatnya adalah titipan yang diberikan Allah sebagai sarana untuk menegakkan diin Nya.

Pengorbanan

Medan Uhud telah menjadi saksi bagaimana para sahabat membuktikan pengorbanan mereka dengan jiwanya. Kita ingat kisah Abu ‘Ubadydah ibn Al-Jarrah, saat dua pecahan baju besi menancap pada wajah Rasulullah, ia menggigit dan mencabut besi itu sampai tanggal giginya. Sedangkan Abu Dujanah menjadikan dirinya sebagai tameng di hadapan Rasulullah. Panah bertubi-tubi menancap di punggungnya, namun ia terus tegak berdiri demi melindungi kekasihnya yang mulia.

Begitu pun dengan Ziyad ibn Sakan. Ia berlari merangsek barisan musuh hingga terhenti oleh luka-luka di sekujur tubuhnya. Ia syahid bersama lima shahabat yang lain. Sedangkan Thalhah ibn Ubaydillah menyerang sepuluh orang musuh yang saat itu menghadang Rasulullah. Ia kemudian menjadi perisai bagi kekasihnya hingga jari-jarinya terkena serangan dan tangannya tertebas terpotong. Rasulullah kemudian berusaha mendaki gunung Uhud, namun beliau tidak mampu karena lemas dan terluka. Maka, Thalhah duduk di bawahnya hingga beliau shallallahu ‘alayi wa sallam bisa mendakinya.

Ada lagi seorang ‘Amr ibn Al-Jamuh. Seorang yang sebelah kakinya pincang. Ia mempunyai empat anak laki-laki yang masih muda. Mereka berperang bersama Rasulullah. Saat pasukan Uhud berangkat, ‘Amr ibn Al-Jamuh ingin ikut bersamanya. Keempat anaknya menyarankan agar ayah mereka tinggal di rumah karena Allah sesungguhnya telah menggugurkan kewajibannya untuk berjihad. Namun ‘Amr tidak menerima hal itu, ia menghadap Rasulullah, kemudian berkata, “Sesungguhnya anak-anakku mencegahku untuk ikut pergi bersamamu. Demi Allah aku benar-benar berharap untuk menemui syahid, lalu aku menginjak syurga dengan kaki pincangku ini.”

Rasulullah menjawab, Adapun engkau, Allah telah membebaskanmu dari kewajiban berjihad.” Kemudian Rasulullah berkata kepada anak-anaknya, Mengapa kalian tidak membiarkannya, siapa tahu Allah akan menganugerahkan kesyahidan kepadanya.” Lalu, ‘Amr berangkat bersama Rasulullah dan gugur sebagai syahid di medan Uhud.

Pengorbanan para prajurit Uhud tidak berhenti sampai di situ. Satu hari sebelum hari itu, seorang ‘Abdullah ibn Jahsy berdo’a, “Ya Allah, aku bersumpah kepadamu, bahwa besok aku akan melemparkan diriku di tengah-tengah musuh. Biarlah mereka membunuhku, membedah perutku, memotong hidung dan telingaku. Jika Engkau kemudian bertanya untuk apa aku berbuat demikian, maka aku akan menjawab: “Demi Engkau.” Dan setelah perang uhud berakhir, para shahabatpun menemukan Abdullah syahid dalam kondisi seperti yang ia do’akan.

Seusai perang uhud, Zaid ibn Tsabit diutus Rasulullah untuk mencari Sa’d ibn Rabi’. Rasulullah berkata kepadanya, “Jika engkau menemukan Sa’d, sampaikan salamku padanya. Katakan kepadanya bahwa Rasulullah menanyakan apa yang engkau dapatkan.” Lalu Zaid berkeliling mencarinya di antara para korban. Ia menemukannya saat Sa’d menghembuskan nafas-nafas terakhirnya. Tubuh Sa’d penuh luka karena tombak, pedang, dan panah. Zaid berkata kepadanya, “Wahai Sa’d, Rasulullah mengirimkan salam untukmu dan menyuruhku menanyakan mengenai apa yang engkau dapatkan.” Sa’d menjawab, “Salam juga untuknya, serta katakan kepadanya: Wahai Rasulullah, aku mencium wangi syurga!”

Sa’d berkata lagi, “Katakan pula kepada kaumku dari golongan Anshar: Tidak ada ampunan bagi kalian jika kalian meninggalkan Rasulullah, sedangkan masih ada mata yang berkedip di antara kalian.” Lalu Sa’d pun menjemput syahidnya.

Serta masih banyak lagi kisah pengorbanan dalam medan Uhud yang tercatat pada lembaran-lembaran shirah. Termasuk, tentu saja, kisah Asadullah Hamzah yang dibunuh oleh Wahsyi, budak bayaran Hindun dengan tombaknya. Lalu dikisahkan –dengan riwayat yang lemah- bahwa Hindun dengan kejamnya merobek dada mayat suci Hamzah dan memakan jantungnya.

Juga tidak lupa sejarah mencatat kisah seorang Mush’ab ibn ‘Umair, seorang pemuda tampan yang gagah perkasa, duta pertama ummat Islam yang menguasai banyak bahasa. Tutur katanya yang lembut serta hartanya yang melimpah membuat ia banyak disukai gadis-gadis Makkah pada saat itu. Namun, ia meninggalkan gemerlap dunia dan keluarganya yang kaya raya menuju sebuah persinggahan abadi, sehingga di akhir hayatnya, gunung Uhud menyaksikan Mush’ab hanya meninggalkan selembar kain yang jika kain itu digunakan untuk menutupi wajahnya, maka kakinya terlihat, namun saat kain itu ditarik untuk menutupi kakinya, maka wajahnya terlihat. Maka, Rasulullah memerintahkan para shahabat untuk menutupi wajahnya dengan kain tersebut. Sedangkan kakinya ditutup dengan daun dan rerumputan.

Para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in kembali mengajarkan kepada kita, bagaimana seharusnya berjuang. Baik dengan harta ataupun dengan jiwanya. Mereka telah memahami makna jual beli yang telah Allah tegaskan dalam al Quran. Sehingga mereka tidak sekedar menghafal ayat-ayat-Nya di lisan, namun lebih dari itu, sanggup mengaktualisasikan pemahamann tersebut dalam realita kehidupan.

Jika kita ingin melihat lagi, dengan penuh kejujuran ke dalam diri kita, maka apa yang telah kita berikan bagi da’wah dan jihad ini..? Sepertinya, begitu jauh jarak yang membentang antara perjuangan dan pengorbanan para sahabat dengan kehidupan kita hari ini. Padahal, kita sama-sama telah membaca al Quran. Kita pun telah sama-sama menghafal dan mengerti maksudnya. Lalu, apa yang membuat kita sepertinya terlalu lemah untuk menjadi bagian dari para pengamal al Quran yang sesungguhnya..? Allah berfirman,

Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’laa : 17)

Juga,

Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).” (QS. Adh Dhuhaa : 4)

Allah telah mengabarkan kepada kita bahwa kehidupan akhirat jauh lebih baik, jauh lebih kekal dibandingkan kehidupan kita hari ini di dunia. Lantas, mengapa kita masih begitu sulit untuk mengorbankan dunia yang fana untuk akhirat yang kekal..?

Ibnu Mas’ud pernah berkata, “Barang siapa yang menginginkan akhirat dia akan mengorbankan dunianya, barang siapa yang menginginkan dunia, dia akan mengorbankan akhiratnya, wahai kaum, korbankanlah yang fana (dunia) demi sesuatu yang abadi.”

Sepertinya kita harus mengintrospeksi diri lebih banyak lagi, karena sungguh, tidak akan tegak perjuangan kecuali dengan pengorbanan. Seorang pelajar misalnya, rela mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan hartanya untuk meraih sesuatu yang dicita-citakannya. Seorang ilmuwan rela berada di dalam laboratorium berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk melakukan sebuah penelitian. Begitu pun dengan seorang kepala keluarga yang rela berkorban banting tulang untuk menghidupi keluarganya. Ia bekerja siang malam tanpa henti, bahkan waktu-waktunya dihabiskan untuk mengejar kebahagiaan dunia yang bersifat fana. Jika untuk menempuh cita-cita duniawi saja manusia rela mengorbankan apa yang dimilikinya, maka seharusnya kita lebih rela dan lebih berani untuk berkorban apapun yang kita miliki demi kehidupan yang abadi.

Asy Syahid Sayyid Quthb

Perjalanan para da’i dan mujahid kontemporer telah memberikan pelajaran yang berharga itu. Sayyid Quthb mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya berkorban, sehingga tiang gantungan menjadi saksi atas segala perjuangan yang ia ikrarkan untuk Islam. Itulah pengorbanannya. Dan sesungguhnya, di depan mata kita ratusan anak-anak Al Quds sedang antri untuk menanti syuhada di hadapan pasukan kera dan babi, menyusul ayah dan paman mereka. Mereka siap mengorbankan jiwanya menjadi batu bata penegak bangunan Islam. Sedangkan para pejuang Chechnya masih bertahan di perbatasan menunggu jemputan bidadari suci. Di hutan-hutan Kaukasus mereka bergerilya, dengan persediaan bahan makanan yang terbatas, namun semua itu tidak menyurutkan langkah merela.

Sejenak, alihkanlah pandangan kita ke arah mujahidin di Iraq, Afghanistan, Somalia, dan Yaman. Mereka tak lelah mengorbankan apa yang mereka miliki, melawan gempuran para thaghut dan tentara salibis la’natullah ‘alayhim. Dalam perjalanan jihadnya, para mujahid itu sedang menanti satu di antara dua kemenangan: meraih kemuliaan di dunia atau mati sebagai syuhada. Maka renungkanlah, di mana diri kita berada..?

Asy Syahid Faris 'Awdah

Al Fadhli

Amal Da’wah Islamiyyah

Kalimat Tawhid

Aktivitas da’wah Islamiyyah merupakan aktivitas integral yang meliputi seluruh aspek kehidupan, karena diin al Islam sendiri merupakan diin yang integral yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Asy Syaikh Hasan Al Banna berkata,

Islam adalah sistem yang integral, mencakup seluruh aspek kehidupan. Maka ia adalah negara dan tanah air atau pemerintahan dan umat, moral dan kekuatan atau kasih sayang dan keadilan, wawasan dan undang-undang atau ilmu pengetahuan dan peradilan, materi dan kekayaan alam atau penghasilan dan kekayaan, serta jihad dan dawah atau pasukan dan pemikiran. Sebagaimana juga ia adalah aqidah yang murni dan ibadah yang benar, tidak kurang tidak lebih.”[1]

Dengan kata lain amal da’wah adalah amalan kehidupan. Karena di tempat di mana kita hidup, di situlah kita menyerukan kebenaran, sesuai dengan porsi dan profesi sekunder kita dalam kehidupan ini. Mengapa saya katakan profesi sekunder? Karena profesi primer kita telah dietatapkan oleh Allah ‘azza wa jalla, yakni sebagai hamba-Nya yang diberi amanah mengelola bumi dan seisinya, mengatur kehidupan agar senantiasa berputar di atas syari’at-Nya semata. Hanya karena inilah kita diciptakan. Allah berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz Dzaariyaat : 56)

Inilah profesi primer kita dalam kehidupan dunia. Yakni sebagai hamba-Nya yang senantiasa menyerahkan seluruh bentuk pengabdian, peribadahan, atau penghambaan hanya kepada Allah semata, baik berupa ritual-ritual ibadah, ketaatan, ittiba’, atau berhukum dengan hukum-Nya.

Dalam menjalani profesi primer ini, ada beberapa peran yang mesti kita jalankan. Di antaranya adalah sebagai khalifah di muka bumi, yang ditegaskan firman-Nya,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلأَرْضِ خَلِيفَةً ﴿٣٠﴾

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.” (QS. Al Baqarah : 30)

Maksudnya adalah menjadikan Adam ‘alayhis salaam dan keturunanannya sebagai khalifah, yaitu makhluq yang berperan sebagai penyelenggara tawhid di atas muka bumi. Hal ini tentu saja hanya berlaku bagi orang-orang beriman, karena hanya orang-orang berimanlah yang dapat menegakkan tawhid dan syari’at Allah dengan da’wah dan jihad. Jadi, segala sesuatu yang ada di bumi, baik itu berupa binatang, tumbuhan, atau kekayaan alam lainnya, sudah sepatutnya kita gunakan dalam rangka beribadah kepada Allah dan menyelenggarakan tawhid di atas muka bumi. Menyeru manusia ke dalamnya dan membentuk satu institusi yang dapat menjaga keutuhan tawhid dalam kehidupan sosial bermasyarakat dan bernegara. Allah berfirman,

أَلَمْ تَرَوْاْ أَنَّ ٱللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى ٱلسَّمَاوَاتِ وَمَا فِى ٱلأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً ﴿٢٠﴾

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” (QS. Luqmaan : 20)

Begitulah, Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan bumi untuk kepentingan manusia seluruhnya, lebih khusus lagi digunakan dalam rangka menjalankan profesi primernya sebagai hamba Allah subhanahu wa ta’ala.

Dalam kaitannya dengan aktivitas da’wah Islamiyyah, Allah telah mengutus seorang rasul pada setiap kaum untuk menyerukan tawhid. Agar manusia kembali ke atas rel kehidupannya, kembali kepada profesi primernya di muka bumi, menghidupkan fitrahnya, dan membawa mereka dari kegelapan jahiliyyah menuju cahaya Islam yang terang benderang. Firman-Nya dalam Al Quran,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ ٱعْبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُواْ ٱلْطَّاغُوتَ ﴿٣٦﴾

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghutitu”.” (QS. An Nahl : 36)

Telah jelas bahwa tugas da’wah para Nabi dan Rasul hanyalah tawhid, yakni mengajak atau menyerukan manusia untuk berlepas diri dari segala bentuk sesembahan selain dari Allah (thaghut) dan menyembah Allah saja. Inilah inti dari amal da’wah Islamiyyah. Segala bentuk perjuangan yang telah dilakukan para Nabi dan Rasul hanyalah dalam rangka mengembalikan profesi primer manusia sebagai hamba Allah. Tidak ada satupun seruan yang dilantangkan para Nabi dan Rasul selain seruan tawhid.

At Tawhid

Sayyid Quthb menggambarkan dalam Ma’alim Fii Thariiq seruan yang dilantangkan oleh Rasulullah tidak pernah tercampur sedikitpun dengan seruan selain seruan tawhid. Walaupun konsekwensinya, seruan ini tidak mendapatkan sambutan hangat yang –bisa jadi- jika Rasul pada saat itu menyeru manusia dengan seruan-seruan kesukuan, nasionalisme, humanisme, moral, atau ekonomi -atau mengiringi seruan tawhid dengan seruan-seruan tersebut- banyak masyarakat yang dapat tertarik ke dalam lingkaran da’wah Islamiyyah. Namun, Rasulullah tidak pernah melakukannya, sama sekali tidak!

Mengapa demikian?

Karena yang diharapkan oleh Rasulullah hanyalah kemurnian tawhid, bukan yang lainnya. Bila kemurnian da’wah tawhid telah bercampur dengan seruan-seruan selain seruan tawhid, maka niscaya seruan yang mulia ini tidak akan mendapatkan ridha dari Allah, karena apa yang diharapkan Allah atas penciptaan manusia di muka bumi hanyalah untuk beribadah kepada-Nya saja. Tidaklah heran jikalau Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

ابن عمر رضي الله عنهما ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ” أمرت أن أقاتل الناس ، حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله ، وأن محمدا رسول الله ، ويقيموا الصلاة ، ويؤتوا الزكاة ، فإذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءهم وأموالهم إلا بحق الإسلام ، وحسابهم على الله تعالى” (رواه البخاري و مسلم)

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersyahadat laa ilaaha illallah wa anna muhammadan Rasulullah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Apabila mereka mengerjakan semua itu, terpeliharalah darah dan harta mereka kecuali dengan sebab haq al Islam (melakukan pelanggaran), dan perhitungannya di sisi Allahu ta’ala. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits di atas dapat ditarik sebuah simpulan bahwa Rasul diutus ke muka bumi, berda’wah, dan berjihad di medan pertempuran tiada lain dan tiada bukan semata-mata hanya ingin menyerukan tawhid dan menyelenggarakan tawhid di atas muka bumi, sebelum menyerukan ritual ibadah. Karenanya, setiap kali akan memerangi suatu kaum, Rasulullah senantiasa memerintahkan kepala pasukannya berda’wah terlebih dahulu dengan menawarkan opsi: bertawhid, atau tunduk di bawah pemerintahan Islam (menjadi kafir dzhimmi/ mu’ahid) atau diperangi sampai datang putusan Allah ‘azza wa jalla.

Tawhid terlebih dahulu wahai para da'i!

Inilah prioritas amal da’wah Islamiyyah : da’wah tawhid, bukan yang lain! Adapun yang dimaksud integralitas da’wah bukanlah berarti mengiringi seruan da’wah tawhid dengan seruan-seruan yang lain, baik itu seruan-seruan kekuasaan atau politis, humanis, atau kesejahteraan (duniawi). Maksud dari integralitas amal da’wah Islamiyyah adalah bagaimana kemudian kita dapat memanfaatkan seluruh potensi yang ada, sesuai dengan profesi sekunder kita dalam rangka menegakkan tawhid di atas bumi tempat kita berpijak, di lingkungan kita masing-masing. Apapun profesi sekunder kita, ingatlah bahwa profesi primer kita adalah hamba Allah yang tiada ilaah selain-Nya.

Upaya menyerukan tawhid kepada seluruh umat manusia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari status profesi primer kita sebagai hamba-Nya. Upaya da’wah tawhid merupakan kewajiban bagi setiap mu’min yang telah diberikan amanah sebagai khalifah di atas muka bumi, hingga kita mendapatkan satu dari dua kemenangan : hidup mulia atau mati sebagai syuhada.

Wallahu a’lam

[1] Majmu’atu Rasail Hasan Al Banna

Tak Ada Kebangkitan Tanpa Pengorbanan

Itulah moto kita saat ini. Oleh karenanya, persaksian bahwa kita seorang muslim sejati haruslah terwujud dalam bentuk amal nyata. Di antara kekuatan yang harus diperhatikan dan ditumbuhkembangkan demi meraih kemuliaan Islam adalah:

1. Kekuatan Aqidah

Yaitu dengan menjadikan iman kepada Allahu ta’ala sebagai basis kesadaran, keyakinan, motivasi, dan kekuatan penggerak dalam melakukan perjuangan agar sikap dan posisi perjuangan selalu berada di atas kebenaran.

2. Kekuatan Ilmu

Yaitu mengembalikan semua gagasan, pemikiran dan konsep perubahan serta jalan yang ditempuh yang bersumber dari merujuk kepada al Quran dan as Sunnah.

3. Kekuatan Akhlaq

Yaitu adanya rasa keterikatan, semangat kebersamaan, persaudaraan, semangat berkorban, solidaritas personal dan organisasi, serta keyakinan akan kemenangan. Allahu ta’ala berfirman:

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian. Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Anfaal : 46)

4. Kekuatan Jihad dan Siyasah

Yaitu agar umat islam dengan pasti mampu mengantisipasi gerakan lawan sekaligus memukul balik serangan lawan.

Jihad yang dimaksud di sini meliputi : jihad an nafs (mengalahkan hawa nafsu), jihad memerangi setan, jihad memerangi ahli maksiat, jihad memerangi orang munafiq, dan jihad memerangi orang kafir.

5. Kekuatan Materi dan Do’a

Materi sebagai faktor pendukung yang penting dalam menyediakan sarana-sarana da’wah dan keberlangsungan da’wah Islamiyah. Sedangkan do’a adalah senjata setiap mu’min.

Hendaklah kita memperbanyak do’a dan mengajak kaum muslimin di mana saja mereka berada untuk berdo’a demi tercapainya kemuliaan Islam. Hanya kepada Allah jualah kami berharap. Semoga bermanfaat. Aamiin.

Saudaraku, sediakanlah pengorbanan penuh anda…

Dikutip -dengan sedikit perubahan- dari:

Majalah Da’wah Islam GERIMIS, edisi 10 thn. 3 Okt-Nov 2008, hal 16

Menangislah yang Ingin Menangis, Pergilah yang Ingin Pergi

Menangislah yang ingin menangis… Pergilah yang ingin pergi… Karena da’wah dan jihad akan tetap berputar hingga hari akhir… Hanya saja, apa engkau mau menjadi yang tergantikan..?

Jalan Da'wah

Jika para Nabi dan Rasul saja sudah lazim untuk ditinggalkan atau bahkan dikhianati para prajuritnya sendiri, maka apalah lagi kita yang manusia biasa… Sebagai pemimpin, kita bisa saja ditinggal lari para prajuritnya… Persis seperti Nabi Musa yang pada saat diperintahkan berjihad, kaumnya menjawab, “Pergilah engkau bersama Tuhanmu.”

Siklus “pengkhianatan” ini memang lumrah… Karenanya, Allah kemudian menguatkan para Amiir ad da’wah wa al jihad dengan firman-Nya, “Fa’fu ‘anhum washfah…” Maafkanlah mereka dan biarkanlah… Dan the show must go on..! Karena amalan kita bukanlah untuk prajurit kita. Amalan kita juga bukan untuk dalam rangka meraih puncak eksistensi duniawi. Amalan kita hanyalah agar semata-mata Allah melihatnya lalu membalasnya dengan jutaan kebaikan di dunia dan di syurga…

Semoga coretan ini dapat menjadi penyegar para pejuang yang seringkali “dikhianati” prajuritnya… Amalan mereka telah Allah catat, dan amalan kita pun telah Allah catat… Jika dalam ber-diin saja Allah tidak memaksa, maka apalagi dalam da’wah, jihad, atau harakah… Yang penting jangan kita yang menjadi penyebab perpecahannya… Yang penting kita tetap berada di atas manhaj rabbani… Pijakan kita tetaplah al Quran dan as Sunnah… Dan tujuan kita pun tetap terpancang: TAWHIDULLAH

Maka, pilihannya ada pada diri kita: MENGGANTIKAN atau TERGANTIKAN

 

Wallahu a’lam…