Syirik Ketaatan (Tafsir QS. At Tawbah ayat 31)

اتخذوا أحبارهم و رُهبانهم أربابا من دون الله

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah ‘’ (QS. At Tawbah, 9 : 31)

Pada ayat ini Allah memvonis orang Nashara dengan lima vonis :

  1. Orang-orang Nashara tersebut telah mempertuhankan para alim ulama dan pendeta mereka
  2. Mereka telah beribadah kepada selain Allah
  3. Mereka telah melanggar Laa ilaaha illallaah
  4. Mereka musyrik
  5. Alim ulama dan pendeta mereka telah memposisikan dirinya sebagai Arbab

Ketika ayat ini dibacakan di hadapan shahabat ‘Adiy Ibnu Hatim (asalnya beliau ini Nashrani), sedang beliau datang kepada Rasul dalam keadaan masih Nashrani. Ketika mendengar ayat ini dengan vonis-vonis di atas, maka ‘Adiy Ibnu Hatim mengatakan : Kami (maksudnya : dia dan orang-orang Nashrani) tidak pernah shalat, sujud kepada alim ulama kami, atau kepada pendeta kami, lalu kenapa Allah memvonis kami musyrik.

Jadi yang ada dalam benak ‘Adiy Ibnu Hatim bahwa yang namanya ibadah itu adalah shalat, sujud atau berdoa. Sehingga mereka tidak mengetahui bahwa yang mereka lakukan selama ini adalah ibadah kepada selain Allah yang merupakan kemusyrikan, mereka heran.

Sebenarnya, apa kemusyrikan yang dilakukan dan bagaimana bentuknya sehingga kami disebut telah mentuhankan alim ulama ? Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Bukankah alim ulama dan pendeta kalian itu menghalalkan apa yang telah Allah haramkan lalu kalian ikut-ikutan menghalalkannya ? bukankan mereka mengharamkan apa yang telah Allah halalkan kemudian kalian juga mengharamkannya ?”, lalu ‘Adiy berkata : “Ya !”, maka Rasul berkata : “Itulah bentuk peribadatan mereka”.

Jadi, ketika ada manusia, baik itu ‘ulama, masyaikh, atau siapapun ia, yang memposisikan dirinya sebagai pembuat hukum dan mengklaim memiliki kewenangan untuk membuat hukum, undang-undang, atau syari’at, maka dia mengklaim bahwa dirinya sebagai Rabb. Adapun orang yang mengikuti, menaati, atau menjalankan hukum-hukum buatan mereka itu pada hakikatnya sedang beribadah kepada si pembuat hukum dan dapat terjerumus ke dalam kemusyrikan.

Syaikh Al Islam Ibnu Taymiyyah –Rahimahullah– berkata tentang ayat ini:

“Orang-orang yang mengikuti ahbar dan ruhban (seperti dalam surat At Tawbah: 31) dengan menaati mereka dalam menghalalkan apa-apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa-apa yang dihalalkan-Nya, maka mereka terbagi menjadi dua golongan: Pertama; orang-orang yang mengetahui bahwa mereka (ahbar dan ruhban) telah mengubah agama Allah, namun mereka tetap mengikutinya, serta menerima penghalalan apa-apa yang diharamkan-Nya dan pengharaman apa-apa yang dihalalkan-Nya karena mengikuti mereka, maka orang seperti ini adalah orang-orang kafir.

Kedua; orang-orang yang meyakini dan beriman bahwa pengharaman yang halal dan penghalalan yang haram haruslah berlandaskan kepada syari’at Allah, namun mereka tetap mentaati para ahbar dan ruhban dalam bermaksiat kepada-Nya, maka perbuatan mereka sama halnya dengan seorang muslim yang melakukan perbuatan dosa dan dia menganggap bahwa perbuatannya adalah maksiat, maka status mereka sama dengan status para pelaku maksiat tersebut, yaitu tidak kafir.” [Kitab Al-Iman (al-Maktab al-Islamiy, 1392 H), hal. 67 dan Majmu’ al-Fatawa (Riyadh: Mathabi’ ar-Riyadh, 1381 H), 7/70]

Asy Syaikh Muhammad Jamil Jainu pengajar di Darul Hadits Makkah Al Mukarramah dalam Kitabnya Minhaj Firqatun Najiyah berkata:

أنواع الشرك الأكبر : شرك الطاعة: و هو طاعة العلماء و المشايخ في المعصية مع اعتقادهم جواز ذلك لقوله تعالى : “اتخذوا أحبارهم و رُهبانهم أربابا من دون الله” (سورة التوبة) و قد فسرت العبادة بطاعتهم في المعصية بتحليل ما حرّم الله و تحريم ما أحل الله . قال صلى الله عليه و سلم :”لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق” (صحيح رواه أحمد)

Macam-macam syirik besar : Syirik ketaatan : yaitu menaati ‘ulama dan Masyaikh dalam hal kemaksiatan dengan meyakini bahwa hal tersebut diperbolehkan. Allah Ta’ala berfirman : “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah ‘’ QS. At  Tawbah, 9 : 31), dan sungguh ketaatan kepada mereka dalam kemaksiatan ditafsirkan sebagai bentuk ibadah kepada mereka. Dengan mengharamkan apa yang telah Allah halalkan dan menghalalkan apa yang Allah haramkan. Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam: “Tidak ada keta’atan kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Al-Khaliq (Allah) ‘’ (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ahmad).

Di halaman lain beliau berkata :

من مظاهر الشرك …….طاعة الحكام أو العلماء أو المشايخ في أمر يخالف نص القرآن أو صحيح السنة

Merebaknya kesyirikan ….. (pada contoh kesyirikan no. 9) : ‘’Taat kepada ketetapan para penguasa, ‘ulama atau syaikh yang bertentangan dengan nash-nash Al-Qur’an dan hadits shahih‘’

Wallahu a’lam

Advertisements

Tauhid, Menggugurkan Dosa-Dosa

Tauhid memiliki kedudukan yang sangat agung dan utama di dalam agama Islam, karena sesungguhnya tauhid merupakan inti ajaran Islam ini.

Imam Ibnu Abil ‘Izzi Al-Hanafirahimahullah– berkata, “Ketahuilah, bahwa tauhid merupakan awal da’wah seluruh para rasul, awal tempat singgah perjalanan, dan awal tempat berdiri seorang hamba yang berjalan menuju Allah.” (Minhatul Ilahiyah Fi Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal. 45).

Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyahrahimahullah– berkata, “Sesungguhnya Allah ‘Azza Wa Jalla telah mengutus para Rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya, menciptakan langit-langit dan bumi, agar Dia dikenal, diibadahi, ditauhidkan, dan agar agama itu semuanya bagi Allah, semua ketaatan untuk-Nya, dan dakwah hanya untuk-Nya.”

Kemudian beliau menyebutkan beberapa ayat Al-Qur’an (Adz-Dzariyat: 56; Ath-Thalaq: 12; Al-Maidah: 97), lalu berkata, “Allah memberitakan bahwa tujuan penciptaan dan perintah adalah agar dikenal nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, hanya Dia yang diibadahi, tidak disekutukan.”  (Ad-Da’ wad Dawa’, hal:196, tahqiq Syeikh Ali bin Hasan, penerbit: Dar Ibnil Jauzi).

Oleh karena itulah, tidak mengherankan bahwa tauhid memiliki banyak sekali keutamaan. Di antara keutamaannya adalah bahwa tauhid menggugurkan dosa-dosa. Inilah di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut:

1- Dosa sepenuh bumi gugur dengan tauhid.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَأَزِيدُ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَجَزَاؤُهُ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا أَوْ أَغْفِرُ وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ ذِرَاعًا وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَمَنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً وَمَنْ لَقِيَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطِيئَةً لَا يُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَقِيتُهُ بِمِثْلِهَا مَغْفِرَةً

Dari Abu Dzarr, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman, ‘Barangsiapa membawa satu kebaikan, maka dia mendapatkan balasan sepuluh kalinya, dan Aku akan menambahi. Barangsiapa membawa satu keburukan, maka balasannya satu keburukan semisalnya, atau Aku akan mengampuni. Barangsiapa mendekat kepada-Ku sejengkal, niscaya Aku mendekatinya sehasta. Barangsiapa mendekat kepada-Ku sehasta, niscaya Aku mendekatinya sedepa. Barangsiapa mendatangi-Ku dengan berjalan, niscaya Aku mendatanginya dengan berjalan cepat. Barangsiapa menemui-Ku dengan dosa sepenuh bumi, dia tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Ku, niscaya Aku menemuinya dengan ampunan seperti itu.’” (Hadits shahih riwayat Muslim no. 2687; Ibnu Majah, no. 3821; Ahmad, no. 20853).

Dalam hadits lain diriwayatkan,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

Dari Anas bin Malik , dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam, sesungguhnya selama engkau berdoa kepada-Ku dan mengharap kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni untukmu dosa yang ada padamu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai awan di langit, kemudian engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menghadap-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian menemui-Ku, engkau tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Ku, niscaya Aku menemuimu dengan ampunan seperti itu.” (Hadits shahih riwayat Tirmidzi, no. 3540. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Hadits ini memuat tiga sebab untuk meraih ampunan Allah, yaitu: berdoa disertai dengan harapan, istighfar (mohon ampun), dan tauhid. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali –rahimahullah– berkata, “Sebab ke tiga di antara sebab-sebab ampunan adalah tauhid. Ini adalah sebab yang terbesar. Barangsiapa kehilangan tauhid, maka dia telah kehilangan ampunan dari Allah. Dan barangsiapa menghadap Allah dengan membawa tauhid, maka dia telah membawa sebab ampunan yang paling besar. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

Sesungguhnya, Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (Q.S. An-Nisa’/4: 48, 116).

Maka, barangsiapa menghadap Allah dengan bertauhid, walau dengan membawa dosa sepenuh bumi, maka Allah akan menemuinya dengan ampunan sepenuh bumi juga. Tetapi ini bersama dengan kehendak Allah ‘Azza wa Jalla. Jika Dia menghendaki, Dia akan mengampuninya; Namun, jika Dia menghendaki, Dia akan menyiksanya dengan sebab dosa-dosanya. Kemudian, akhirnya dia tidak kekal di dalam neraka, namun akan keluar darinya, kemudian akan measuk ke dalam surga.” (Jami’ul ‘Uluum wal Hikam, juz 1, hal. 416-417, dengan penelitian Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrahim Baajis, penerbit. Muassasah Ar-Risalah).

2- Sembilan puluh sembilan lembar catatan keburukan gugur dengan tauhid.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّ اللَّهَ سَيُخَلِّصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا كُلُّ سِجِلٍّ مِثْلُ مَدِّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ فَيَقُولُ لَا يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَفَلَكَ عُذْرٌ فَيَقُولُ لَا يَا رَبِّ فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً فَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتَخْرُجُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَيَقُولُ احْضُرْ وَزْنَكَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ فَقَالَ إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ قَالَ فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ فَلَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللَّهِ شَيْءٌ

Sesungguhnya, Allah akan membebaskan seorang lelaki dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Akan dibentangkan padanya 99 lembaran (catatan amal keburukan), tiap-tiap lembaran seukuran sejauh pandangan mata. Kemudian Allah bertanya, “Apakah engkau mengingkari sesuatu dari lembaran (catatan amal keburukan) ini? Apakah para (malaikat) penulisKu al-Hafizhun (yang mencatat) menzhalimimu?

Maka, hamba tadi menjawab, “Tidak wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah engkau memilik alasan?” Maka, hamba tadi menjawab, “Tidak wahai Rabb-ku.” Maka, Allah berfirman, “Benar, sesungguhnya di sisi Kami engkau memiliki satu kebaikan. Sesungguhnya pada hari ini engkau tidak akan dizhalimi. Kemudian, dikeluarkan sebuah bithaqah (karcis) yang bertuliskan: Asyhadu alla ilaaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu warasuluhu (Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah adalah hambaNya dan Rasul-Nya. Allah berfirman, “Datangkanlah timbanganmu. Hamba tadi berkata, “Wahai Rabb-ku, apa (pengaruh) karcis ini terhadap lembaran-lembaran ini.” Maka, Allah berfirman, “Sesungguhnya engkau tidak akan dizhalimi.” Rasulullah bersabda, “Maka, lembaran-lembaran itu diletakkan di atas satu daun timbangan, dan satu karcis tersebut diletakkan di atas satu daun timbangan yang lain. Maka, ringanlah lembaran-lembaran itu, dan beratlah karcis tersebut. Maka, sesuatupun tidak berat ditimbang dengan nama Alah.” (H.R. Ahmad, II/213; Tirmidzi, no:2639; Ibnu Majah, no. 4300; dari Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh (wafat th 1285 H) –rahimahullah– berkata di dalam kitabnya Fathul Majid:

Barangsiapa mengatakan Laa ilaaha illa Allah dengan sempurna, yang mencegahnya dari syirik besar dan syirik kecil, maka orang ini tidak akan terus-menerus melakukan suatu dosa, sehingga dosa-dosanya diampuni dan diharamkan dari neraka.


Dan jika dia mengatakannya dengan sifat yang mencegahnya dari syirik besar, tanpa syirik kecil, dan setelah itu dia tidak melakukan perkara yang membatalkannya, maka hal itu merupakan kebaikan yang tidak bisa ditandingi oleh kejelekan apapun juga. Sehingga timbangan kebaikannya menjadi berat dengan hal itu, sebagaimana tersebut di dalam hadits bithaqah, sehingga dia diharamkan dari neraka, tetapi derajatnya di surga berkurang sekadar dosa-dosanya.” (Fathul Majid I/139-140, tahqiq Dr. Al-Walid bin Abdurrahman bin Muhammad Aalu Furrayyan, penerbit: Majlis Islam Al-Asiawi).

Setelah kita mengetahui hal ini, maka hendaklah kita memperhatikan tauhid dengan sebenar-benarnya, memahaminya, dan mengamalkannya, sehingga kita meraih keutamaannya. Hanya Allah tempat memohon pertolongan.

SUMBERNYA DI SINI

Tiada Tawhid Tanpa Mengkufuri Thaghut

Tawhid

Asas atau fondasi ajaran Islam (aqidah Islamiyyah) sebagaimana telah kita ketahui bersama adalah kalimat tawhid Laa ilaaha illallah yang di dalamnya berisi an nafyu dan al itsbat. An-Nafyu artinya meniadakan penghambaan dari setiap ilah-ilah atau rabb-rabb selain Allah, sedangkan al-Itsbat artinya menetapkan penghambaan hanya kepada Allah semata, dengan mengarahkan semua bentuk peribadahan hanya kepada Allah saja. Yang pertama bermakna mengkufuri thaghut. Sedangkan yang kedua bermakna iman kepada Allah. Firman-Nya dalam al Quran.

Maka barang siapa yang kufur terhadap thaghut dan beriman kepada Allah maka sesungguhny ia telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat.” (Al-Baqarah: 256)

Mengkufuri thaghut didahulukan sebelum menetapkan iman, karena iman tidak pernah akan terealisasi sebelum kita mengosongkan jiwa dari segala bentuk penghambaan kepada selain-Nya. Seseorang yang mengaku beriman namun tidak mengkufuri thaghut pada hakikatnya belum beriman, kondisinya tidak jauh berbeda dengan orang yang mengaku mengkufuri thaghut namun menolak penghambaan kepada Allah.

Mengkufuri thaghut dan hanya menghambakan diri kepada Allah bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya harus berjalan beriringan, karena inilah maksud dari kalimat syahadat yang pertama, Laa ilaaha illallah. Laa ilaaha berarti mengkufuri thaaghut, dan illallah berarti beriman atau beribadah hanya kepada Allah semata. Dengan ini, sempurnalah tawhidullah seorang muslim.

Ibnu Katsir telah menjelaskan kepada kita tentang tafsir ayat di atas (Al Baqarah : 256). Beliau berkata dalam kitab tafsirnya, “Maksudnya barangsiapa yang meninggalkan tandingan-tandingan, berhala-berhala dan segala sesuatu yang diserukan oleh syaitan untuk disembah selain Allah, lalu ia mentauhidkan Allah dengan hanya menyembah-Nya dan bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang haq kecuali Allah, berarti ia telah seperti yang diungkapkan oleh-Nya ‘maka sesungguhnya dia telah berpegang teguh pada al ‘urwah al wutsqa (buhul tali yang sangat kuat)’ maksudnya ia telah kokoh urusannya dan istiqamah di atas tuntunan yang paling baik dan pada jalan yang lurus.”[1]

Ibnu Katsir juga menjelaskan kepada kita semua dengan mengutip perkataan ‘ulama salaf dalam mendefinisikan al ‘urwah al wutsqa. Ia berkata, “Mujahid mengatakan bahwa al ‘urwah al wutsqa artinya iman. Menurut As Saddi artinya diinul Islam. Sedangkan menurut Sa’id ibn Jubair dan Add Dhahak adalah kalimat ‘Laa ilaaha illallah’. Menurut Anas ibn Malik arti al ‘urwah al wutsqa adalah Al Quran. Menurut riwayat yang bersumber dari Salim ibn Abul Ja’d, yang dimaksud al ‘urwah al wutsqa adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. Semua pendapat tersebut benar, satu sama lainnya tidak bertentangan.

Mu’adz ibn Jabal mengatakan sehubungan dengan ayat “yang tidak akan putus”. Bahwa yang dimaksud terputus artinya tidak dapat masuk syurga.”[2]

Dari penjelasan di atas, kita akan mengerti bahwa tidak seorang pun dapat menjadi bagian dari ahli tawhid (muwahhidin) hingga ia memenuhi dua syarat, yakni mengkufuri thaghut dan menyembah hanya kepada Allah saja. Dengan kata lain, tiada tauhiduLlah tanpa mengkufuri thaghut. Orang-orang yang belum mengkufuri thaghut, kendati pun ia menyembah Allah dalam shalat, zakat, puasa, serta berbagai bentuk ibadah yang lainnya bukanlah termasuk ke dalam ahli tauhid. Jika ia bukan termasuk ahli tauhid, maka jelaslah bahwa ia termasuk ke dalam golongan ahli syirik (musyrikin).

Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab rahimahullah berkata : “Dan siapa yang bersyahadat laa ilaaha ilallaah, namun di samping ibadah kepada Allah, dia beribadah kepada yang lain juga, maka syahadatnya tidak dianggap meskipun dia shalat, shaum, zakat dan melakukan amalan Islam lainnya.”[3]

Syaikh Sulaiman ibnu Abdillah ibnu Muhammad rahimahullah mengatakan : “Sesungguhnya ucapan laa ilaaha ilallaah
tanpa mengetahui maknanya dan tanpa mengamalkan tuntutannya berupa komitmen terhadap tauhid, meninggalkan syirik akbar, dan kufur kepada thaghut maka sesungguhnya hal itu (syahadat) tidak bermanfaat, berdasarkan ijma’ (para ulama)
.”[4]

Sesungguhnya Allah telah memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang menjauhi thaghut dan hanya menyembah-Nya saja,

Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku,” (Az Zumar: 17)

Hanya kepada ahli tawhid sajalah berita gembira itu disampaikan. Merekalah yang akan mendapatkan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Sedangkan dalam ayat yang lain, Allah menolak keimanan orang-orang yang mengaku muslim, mengaku bertawhid, mengaku beriman kepada-Nya, namun mereka tidak mau mengkufuri thaghut. Firman-Nya,

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (An Nisa : 60)

Ayat di atas menceritakan sebagian orang yang mengaku beriman, namun mereka hendak berhukum kepada thaghut. Padahal, berhukum adalah salah satu bentuk penghambaan atau penyembahan atau peribadahan yang sudah sepatutnya hanya ditujukan kepada Allah saja, yakni berhukum dengan apa yang diturunkan-Nya (Al Quran dan as Sunnah). Maka, barangsiapa yang berhukum kepada thaghut, ia sesungguhnya telah melakukan perbuatan syirik akbar yang menyebabkan dirinya keluar dari Islam, sedangkan keimanannya tidak diterima Allah subhanahu wa ta’ala.

Jauhi Thaghut

Sejak dahulu, Allah telah mengutus para Rasul untuk menyeru manusia kepada tawhid dan meninggalkan kemusyrikan. Firman-Nya,

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.” (An Nahl : 36)

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (Al Anbiya : 25)

Dua ayat di atas menegaskan bahwa inti da’wah para Nabi dan Rasul adalah mengajak manusia untuk menyembah kepada Allah saja dan menjauhi atau mengkufuri thaghut. Hal ini ditegaskan kembali oleh Allah, bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin itu sendiri adalah hanya untuk beribadah kepada-Nya saja, bukan kepada selain-Nya.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Adz Dzaariyaat : 56)

Oleh karena itu, tiada pilihan lain bagi kita selain melaksanakan perintah-Nya, bertauhid dengan sempurna, karena tidak akan pernah ada iman di dalam dada, kecuali dengan mengkufuri thaghut dan menyembah-Nya saja. Keduanya wajib dilaksanakan sebagai landasan amaliyah kita. Tanpanya, segala amalan yang kita kerjakan akan sia-sia.

Sungguh, bila kamu berbuat syirik, maka hapuslah amalanmu, dan sunguh kamu tergolong orang-orang yang rugi. (Az Zumar : 65)

Dan bila mereka berbuat syirik, maka lenyaplah dari mereka apa yang pernah mereka amalkan. (Al An’am : 88)

Wallahu a’lam

[1] Tafsir Ibn Katsir Juz III

[2] Tafsir Ibn Katsir Juz III

[3] Ad Durar As Saniyyah : 1/323, & Minhajut Ta’sis : 61

[4] Kitab At Taisir