Risalah ‘Abbad Al Khawwash Untuk Para Ulama dan Penuntut Ilmu

Sebuah risalah indah dan sangat bermanfaat bagi mereka yang tengah berjalan di atas kemuliaan ilmu dan amal.

 

عَنْ عَبَّادِ بْنِ عَبَّادٍ الْخَوَّاصِ الشَّامِيِّ أَبِي عُتْبَةَ قَالَ أَمَّا بَعْدُ اعْقِلُوا وَالْعَقْلُ نِعْمَةٌ فَرُبَّ ذِي عَقْلٍ قَدْ شُغِلَ قَلْبُهُ بِالتَّعَمُّقِ عَمَّا هُوَ عَلَيْهِ ضَرَرٌ عَنْ الِانْتِفَاعِ بِمَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ حَتَّى صَارَ عَنْ ذَلِكَ سَاهِيًا

Dari ‘Abbad bin ‘Abbad Al Khawwash As Syami Abu ‘Utbah ia berkata: “Perhatian, gunakanlah akal, karena akal sebuah nikmat. Berapa banyak orang berakal menyibukkan hatinya untuk memperdalam hal-hal yang membahayakan dirinya daripada memanfaatkan apa yang dibutuhkannya, sehingga ia lupa hal itu.

وَمِنْ فَضْلِ عَقْلِ الْمَرْءِ تَرْكُ النَّظَرِ فِيمَا لَا نَظَرَ فِيهِ حَتَّى لَا يَكُونَ فَضْلُ عَقْلِهِ وَبَالًا عَلَيْهِ فِي تَرْكِ مُنَافَسَةِ مَنْ هُوَ دُونَهُ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ أَوْ رَجُلٍ شُغِلَ قَلْبُهُ بِبِدْعَةٍ قَلَّدَ فِيهَا دِينَهُ رِجَالًا دُونَ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ اكْتَفَى بِرَأْيِهِ فِيمَا لَا يَرَى الْهُدَى إِلَّا فِيهَا وَلَا يَرَى الضَّلَالَةَ إِلَّا بِتَرْكِهَا يَزْعُمُ أَنَّهُ أَخَذَهَا مِنْ الْقُرْآنِ وَهُوَ يَدْعُو إِلَى فِرَاقِ الْقُرْآنِ

Diantara keutamaan akal seseorang adalah meninggalkan perhatian terhadap hal-hal yang tidak perlu sehingga keutamaan akalnya tidak menjadi bencana baginya, yaitu ia meninggalkan persaingan dengan orang yang lebih rendah amal shalihnya, atau seseorang yang menyibukkan hatinya dengan bid’ah, yang ia sekedar mengikuti orang dalam urusan agamanya tanpa mengikuti para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, atau ia hanya merasa cukup dengan pendapatnya sendiri, yang ia tidak melihat petunjuk kecuali kepada akalnya, dan tidak melihat kesesatan kecuali meninggalkannya dengan anggapan bahwa ia mengambilnya dari Al Qur`an, padahal ia menyerukan untuk meninggalkan Al Qur`an.

أَفَمَا كَانَ لِلْقُرْآنِ حَمَلَةٌ قَبْلَهُ وَقَبْلَ أَصْحَابِهِ يَعْمَلُونَ بِمُحْكَمِهِ وَيُؤْمِنُونَ بِمُتَشَابِهِهِ وَكَانُوا مِنْهُ عَلَى مَنَارٍ كَوَضَحِ الطَّرِيقِ فَكَانَ الْقُرْآنُ إِمَامَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ إِمَامًا لِأَصْحَابِهِ وَكَانَ أَصْحَابُهُ أَئِمَّةً لِمَنْ بَعْدَهُمْ رِجَالٌ مَعْرُوفُونَ مَنْسُوبُونَ فِي الْبُلْدَانِ مُتَّفِقُونَ فِي الرَّدِّ عَلَى أَصْحَابِ الْأَهْوَاءِ مَعَ مَا كَانَ بَيْنَهُمْ مِنْ الِاخْتِلَافِ

Bukankah Al Qur`an mempunyai pengemban-pengemban sebelumnya, yaitu para pembelanya yang mengamalkan ayat-ayat yang muhkam dan mengimani ayat-ayat yang mutasyabbih? Mereka berada di menara layaknya cahaya jalan, Al Qur`an imam Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, sedang Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam imam para sahabatnya, dan para sahabat adalah imam orang-orang setelah mereka, yaitu orang-orang yang sudah dikenal kebaikannya, mereka menjadi barometer di negeri-negeri mereka yang sepakat menolak para pengagung hawa nafsu walaupun diantara mereka terdapat perselisihan pendapat.

وَتَسَكَّعَ أَصْحَابُ الْأَهْوَاءِ بِرَأْيِهِمْ فِي سُبُلٍ مُخْتَلِفَةٍ جَائِرَةٍ عَنْ الْقَصْدِ مُفَارِقَةٍ لِلصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ فَتَوَّهَتْ بِهِمْ أَدِلَّاؤُهُمْ فِي مَهَامِهَ مُضِلَّةٍ فَأَمْعَنُوا فِيهَا مُتَعَسِّفِينَ فِي تِيهِهِمْ كُلَّمَا أَحْدَثَ لَهُمْ الشَّيْطَانُ بِدْعَةً فِي ضَلَالَتِهِمْ انْتَقَلُوا مِنْهَا إِلَى غَيْرِهَا لِأَنَّهُمْ لَمْ يَطْلُبُوا أَثَرَ السَّالِفِينَ وَلَمْ يَقْتَدُوا بِالْمُهَاجِرِينَ

Para pengagum hawa nafsu meraba-raba dengan pendapat mereka, yaitu dengan cara yang bermacam-macam, yang melenceng dari tujuan karena memisahkan diri dari jalan yang lurus. Petunjuk mereka menyesatkan mereka sendiri dalam misteri padang pasir yang menyesatkan. Mereka konsentrasi melihat petunjuk jalan dengan penuh kebingungan dalam kesesatannya. Setiap kali setan membuat satu bid’ah dalam kesesatan, mereka berpindah dari satu bid’ah ke bid’ah lain, karena mereka tidak mencari petunjuk para pendahulu dan juga tidak mengikuti jejak kaum muhajirin.

 

Bersambung..

 

Advertisements

Ikhtilaf ‘Ulama : Sebab dan Sikap Kita Terhadapnya

Segala puji bagi Allah ta’ala yang telah memberikan kepada kita nikmat iman dan islam serta kesehatan, karunia yang tiada taranya yang telah diberikan-Nya kepada kita sebagai hamba-Nya. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada manusia terbaik sepanjang zaman dan penutup para nabi dan rasul, Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang telah membawa manusia dari alam jahiliyah kepada masa yang terang benderang yang penuh dengan iman dan ilmu pengetahuan, juga kepada para keluarga, sahabat, dan orang-orang yang tetap istiqamah menegakkan risalah yang dibawanya hingga akhir jaman.

Pelangi : Indah karena perbedaan

Salah satu karunia Allah ta’ala yang diberikannya kepada umat Islam adalah tidak adanya perbedaan bahwa sumber utama dalam hukum dan sikap hidup kita adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam wafat, Allah ta’ala telah menyempurnakan ajaran agama ini, seperti disebutkan dalam firman-Nya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu” [QS. Al-Maidah : 3].

Demikian pula dengan sunnah, tidak ada satu sisi pun, baik yang berhubungan dengan syari’at atau pun dalam kehidupan sehari-hari, kecuali telah disampaikan dan dicontohkan oleh beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sunnah.

Umat Islam di masa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (baca: sahabat) selalu kembali kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam setiap kali terjadi perbedapat pendapat atau perselisihan di antara mereka. Setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, sirnalah perselisihan dan perbedaan di antara mereka. Atau terjadi kasus yang cukup rumit, sehingga Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdiam diri menunggu turunnya Al-Qur`an, namun setelah turunnya Al-Qur`an yang menjelaskan realita dan hukumnya, sirnalah segala persoalan yang mengganjal mereka. Seperti kasus ‘berita bohong’ (hadits ifk) yang dialamatkan kepada ‘Aisyah radliyallahu ‘anha dan juga penyebab turunnya ayat tentang li’an dalam surah An-Nuur yang dialami salah seorang sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Hilal bin Umayyah radliyallaahu ‘anhu, salah satu dari tiga orang yang Allah ta’ala menerima taubatnya ketika ketinggalan dalam perang Tabuk pada tahun ke sembilan Hijriyah.

Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah meninggal dunia, mulailah terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama, tetapi bukan persoalan yang menyangkut aqidah atau prinsip dalam Islam. Kita yakin bahwa para ulama tidak mungkin meyakini suatu hukum syari’at atau memberikan fatwa kecuali yang sesuai dengan tuntutan Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, namun sebagai manusia biasa yang tidak ma’shum, mungkin saja seseorang keliru dalam memahami kandungan yang terdapat al-Qur`an dan sunnah, tanpa bermaksud menyalahi apalagi menentang atau berpaling dari keduanya.

Berikut ini adalah beberapa sebab terjadinya perbedaan pendapat di kalangan para ulama, yang di antaranya adalah:

1.     Nash atau dalil dalam suatu masalah tidak sampai kepada seseorang yang keliru dalam mengambil suatu keputusan atau memberikan fatwa. Kasus seperti ini bukan hanya terjadi di masa sekarang, bahkan pernah terjadi beberapa kali di masa sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa di masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab radliyallaahu ‘anhu, setelah Palestina di kuasai kaum muslimin, Khalifah Umar radliyallaahu ‘anhu melakukan perjalanan menuju Palestina bersama satu rombongan dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Ketika di tengah perjalanan, terdengarlah kabar bahwa di negeri Syam tengah dilanda wabah yang sangat berbahaya serta telah banyak menelan korban jiwa.[1] Mendengar berita itu, Umar radliyallaahu ‘anhu menahan perjalanan dan bermusyawarah dengan para pembesar dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Terjadilah perbedaan pendapat di antara mereka dalam masalah, apakah mereka meneruskan perjalanan atau kembali ke Madinah? Yang berpendapat untuk kembali ke Madinah memberikan argumentasi bahwa masuknya mereka ke kota itu akan membawa mereka kepada kematian, karena wabah itu sangat berbahaya. Sedangkan pendapat kedua memberikan hujjah bahwa semua yang terjadi tidak pernah terlepas dari qadla dan qadar Allah ta’ala. Semua itu telah tercatat di Lauhul Mahfuzh. Pada saat itulah Abdurrahman bin ‘Auf radliyallaahu ‘anhu datang dan berkata : “Sesungguhnya saya mempunyai pengetahuan tentang hal ini, saya pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فِى أَرْضٍ فَلاَ تَقْدُمُوْا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ فِيْهَا فَلاَ تَخْرُجُوْا فِرَارًا مِنْهُ.

Apabila kalian mendengar berita tentangnya (penyakit tha’un) di suatu negeri, maka janganlah kamu memasukinya. Dan ketika wabah penyakit itu tengah terjadi, sedang kamu berada di sana, maka janganlah keluar (pergi meninggalkan negeri itu) karena lari dari penyakit tersebut.”[2]

Setelah mendengar hadits tersebut, semuanya tunduk dan patuh terhadap sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan kembali ke kota Madinah.

Demikian pula yang sering terjadi di masa sekarang, sering kita dengar perbedaan pendapat di kalangan para ulama, dan salah satu penyebab yang dominan adalah tidak sampainya nash atau dalil kepada orang yang keliru dalam mengambil suatu keputusan hukum, di samping adanya sebab-sebab yang lain tentunya. Wallahu A’lam.

2.     Hadits (dalil) telah sampai kepada seseorang yang kebetulan keliru dalam mengambil suatu keputusan, namun ia kurang percaya kepada pembawa berita atau yang meriwayatkan hadits. Misalnya, imam Fulan mengatakan bahwa hadits ini shahih, sedangkan imam yang lain berpandangan bahwa hadits tersebut dla’if (lemah). Seperti imam Nawawi rahimahullah berkeyakinan  bahwa hadits tentang qunut dalam shalat subuh adalah shahih, seperti yang dia tekankan dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab. Sementara itu, mayoritas ulama hadits dari masa ke masa meyakini bahwa hadits itu dla’if dan tidak bisa dijadikan sebagai sumber hukum syari’at. Ini hanyalah sebuah contoh, masih banyak contoh lain yang serupa, namun kita cukupkan dengan satu contoh itu. Hal ini juga pernah terjadi di masa khalifah Umar bin al-Khaththab t, ketika beliau menolak riwayat Fathimah binti Qais radliyallahu ‘anha bahwa perempuan yang telah dicerai yang ketiga kalinya oleh suaminya, perempuan itu tidak berhak lagi mendapatkan hak terhadap nafkah dan tempat tinggal dari suaminya. Khalifah Umar radliyallaahu ‘anhu menolak riwayat itu karena kurang percaya terhadap orang yang meriwayatkan hadits tersebut. Wallahu A’lam.

3.     Dalil (hadits) telah sampai kepada orang tersebut, namun ia keliru dalam memahaminya. Contoh perbedaan seperti ini pernah terjadi di zaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bahkan pada masa hidup Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Peritistiwa itu bermula ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam baru selesai perang Ahzab pada tahun ke lima Hijriyah dan meletakkan peralatan perang. Pada saat itu, datanglah malaikat Jibril ‘alaihis-salaam dan berkata : “Berangkatlah menuju perkampungan Bani Quraizhah”. Maka saat itu juga Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada para sahabat agar segera berangkat menuju perkampungan mereka dan bersabda:

لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ إِلاَّ فِى بَنِي قُرَيْظَةَ

Janganlah seseorang shalat Ashar kecuali di (perkampungan) Bani Quraizhah.” [Muttafaqun ‘alaih][3]

Para sahabat berbeda pendapat dalam memahami nash hadits ini. Sebagian mereka memahami bahwa yang dimaksud Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah agar mereka segera berangkat, sehingga sampai di perkampungan Bani Quraizhah sebelum shalat ‘Ashar. Karena itulah, ketika tiba waktu shalat ‘Ashar, sedangkan mereka masih berada di tengah perjalanan, mereka tetap melaksanakan shalat ‘ashar dan tidak menta’khirkannya hingga sampai di perkampungan Bani Quraizhah. Sedangkan yang lain memahami bahwa yang dimaksud Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah agar mereka jangan melaksanakan shalat ‘Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah. Sehingga ketika tiba waktu shalat ‘Ashar, sedangkan mereka masih berada di tengah perjalanan, mereka tidak langsung melaksanakan shalat ‘ashar dan menundanya hingga sampai di perkampungan Bani Quraizhah. Ketika hal itu disampaikan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak memberikan komentar apa-apa, dan tidak mencela kelompok yang manapun. Tidak diragukan lagi, bahwa yang benar adalah yang melakukan shalat dalam waktunya dan tidak menundanya hingga keluar dari waktunya, karena kewajiban melaksanakan shalat dalam waktunya adalah dengan dalil yang jelas, sedangkan dalil (hadits) ini masih mengandung beberapa penafsiran.

Kemungkinan besar, inilah penyebab paling dominan yang melatar belakangi terjadinya perbedaan di kalangan para ulama dalam persoalan far’iyah (cabang), namun bukan yang menyangkut persoalan prinsif di dalam syari’at Islam. Hadits-hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah dibukukan dalam kitab-kitab hadits, baik dalam kitab Shahih, Sunan, Masanid, ataupun Ma’ajim. Namun pemahaman setiap orang, seringkali berbeda satu sama lain. Wallahu A’lam.

4.     Dalil telah sampai kepadanya tapi sudah dinasakh, namun ia tidak mengetahui dalil yang menasakhnya. Dalam kasus seperti ini, orang yang tidak mengetahui adanya nasakh dimaafkan, karena asal suatu masalah adalah tidak adanya nasakh, sampai diketahui dalil yang menasakhnya. Termasuk dalam sebab ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu tentang meletakkan kedua tangan ketika ruku’. Di permulaan Islam, disyari’atkan bagi orang yang shalat menutup kedua tangan dan meletakkannya di antara kedua lutut ketika ruku’. Hukum ini kemudian dinasakh dengan meletakkan dua telapak tangan pada dua lutut. Al-Bukhari telah meriwayatkan tentang hal ini di dalam Shahih-nya. Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu tidak mengetahui tentang hal ini dan tetap melaksanakan shalat seperti pada masa di awal Islam. Ketika Al-Alqamah dan Al-Aswad shalat di sampingnya dan meletakkan kedua tangan pada kedua lutut, Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu menegur keduanya. Kenapa? Karena ia tidak mengetahui adanya nashakh. Seseorang tentu tidak diberikan beban di luar batas kemampuannya. Wallahu A’lam.

5.     Hadits (dalil) telah sampai kepadanya, namun ia lupa terhadap dalil tersebut. Sudah menjadi sunnatullah, bahwa lupa adalah bagian dari fitrah kita sebagai manusia biasa. Banyak orang yang telah hapal sekian banyak hadits-hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, namun kemudian ia lupa. Ini merupakan salah satu penyebab terjadinya terjadi perbedaan pendapat, walau dalam porsi yang tidak terlalu besar.

Bagaimana sikap kita terhadap perbedaan pendapat ini?

Kalau kita menemukan perbedaan seperti yang telah disebutkan di atas, siapakah yang harus kita ikuti? Apakah kita akan mengikuti seorang imam dan tidak pernah keluar dari pendapatnya, walau pun kebenaran ada pada pendapat yang lain? Ataukah kita mengikuti pendapat yang lebih kuat sesuai dengan dalil-dalil yang ada, walau berbeda pendapat dengan imam yang kita ikuti?

Jawaban yang benar adalah yang kedua, karena wajib bagi yang mengetahui dalil yang shahih untuk mengikutinya, walau berbeda pendapat dengan para imam. Karena mereka adalah manusia yang mungkin saja keliru dalam memberikan fatwa atau mengambil kesimpulan dalam suatu hukum. Siapapun yang meyakini bahwa ada seseorang selain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang harus diambil pendapatnya setiap waktu dan keadaan, berarti dia meyakini bahwa selain beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam ada yang memiliki keistimewaan risalah atau ada yang ma’shum (dipelihara dari dosa dan kesalahan). Padahal tidak ada seorang pun yang memiliki keistimewaan seperti ini selain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan setiap orang bisa diterima pendapatnya atau ditolak kecuali yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan sanad yang shahih. Wallahu A’lam.

Dikutip dari “Kitab al-Ilmi” karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah.

 

[1]      Dalam sejarah Islam disebut dengan wabah ‘Tha’un Amwas’. Wabah ini telah menelan korban sekitar 25.000 jiwa, termasuk di antaranya adalah panglima besar Abu Ubaidah Amir bin al-Jarrah radliyallaahu ‘anhu dan Mu’adz bin Jabal radliyallaahu ‘anhu.

[2]      HR. Al-Bukhari no. 5729 dan Muslim no. 2219

[3]      HR. al-Bukhari no. 946 dan Muslim no. 1770.

Nasihat untuk Thullabul ‘Ilmi

Oleh : Al Imam Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah[1]

Belajar Islam

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasul-Nya Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya. Amma ba’du: Tidak diragukan lagi bahwa menuntut ilmu termasuk dari ibadah (taqarrub) yang paling utama dan merupakan sebab-sebab keberuntungan meraih syurga serta kemuliaan bagi siapa yangmengamalkannya.

Termasuk dari perkara yang paling penting dalam hal ini adalah ikhlas dalam menuntutnya, yaitu hendaknya menuntut ilmu itu karena Allah,  bukan karena tujuan yang lain.  Karena hal itu adalah jalan untuk mendapat manfaat dari ilmu dan diberi taufik untuk meraih tingkatan-tingkatan yang tinggi, baik di dunia maupun di akhirat.

Telah disebutkan dalam hadits dari Nabi Salallahu Alayhi Wasalam, bahwa beliau bersabda:

“Barang siapa menuntut ilmu yang seharusnya dicari hanya karena mengharap wajah Allah lalu ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan tujuan duniawi, maka ia tidak akan mencium bau syurga pada hari kiamat kelak.” (HR. Abu Dawud dengan sanad hasan)

Dan Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad yang ada kelemahan didalamnya dari Nabi Salallahu Alaihi Wasalam bahwa beliau bersabda:

“Barang siapa menuntut ilmu untuk berdebat dengan para ulama atau menyelisihi orang-orang bodoh atau untuk memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya, maka Allah akan memasukkannya kedalam neraka.” (HR. Tirmidzi)

Maka saya wasiatkan kepada setiap penuntut ilmu dan setiap muslim yang membaca pesan ini agar mengikhlaskan niat karena Allah dalam semua perbuatan (amal) sebagai pengamalan dari firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (QS.Al-Kahfi (18): 110).

Dan dalam shahih Muslim dari Nabi Salallahu Alaihi Wasalam, bahwa beliau bersabda:

“Allah ‘‘Azza Wa Jalla berfirman,’ Aku adalah serikat yang paling kaya dan tidak butuh dengan serikat barang siapa yang melakukan suatu amal dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku didalamnya, maka Aku tinggalkan ia dan sekutunya.” (HR. Muslim)

Sebagaimana saya wasiatkan kepada setiap penuntut ilmu dan setiap muslim agar takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menyadari bahwa Dia selalu mengawasinya dalam setiap urusan, hal ini merupakan pengamalan dari firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (QS. Al-Mulk (67): 12).

Dan firman-Nya: (QS. Ar-Rahman (55): 46).

Dan telah berkata sebagian salaf, “ Kepala ilmu itu ialah takut kepada Allah.”

Dan berkata pula Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Cukuplah takut kepada Allah itu suatu ilmu, dan cukuplah tertipu (tidak takut) dengan-Nya itu suatu kebodohan.”

Sebagian salaf yang lain berkata, “Barang siapa yang kepada Allah dia lebih mengenal, niscaya terhadap-Nya ia lebih takut.”

Sebagai dalil yang membenarkan ungkapan tersebut ialah  sabda Nabi Salallahu Alaihi Wasalam kepada para sahabatnya:

“Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan bertakwa kepada Allah diantara kalian.”

Maka semakin kuat ilmu seorang hamba terhadap Allah, niscaya hal  itu akan menjadi sebab kesempurnaan ketakwaan dan keikhlasannya serta berhentinya seorang hamba pada hudud (batasan-batasan Allah) dan kewaspadaannya dari maksiat-maksiat. Oleh karena itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: (QS. Faathir (35): 28).

Maka orang-orang yang berilmu tentang Allah dan agama-Nya mereka adalah orang yang paling takut dan bertakwa kepada Allah serta paling lurus dalam dien-Nya, diatas mereka semua itu adalah para Nabi dan rasul Alaihi Salam, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan.

Oleh karena itu Nabi Salallahu Alaihi Waslaam memberitahu bahwa termasuk dari tanda-tanda kebahagiaan adalah jika Allah memahamkan seorang hamba-Nya terhadap dien-Nya, maka bersabda Rasulullah Salallahu Alaihi Waslam:

“Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya niscaya Dia fahamkan orang itu tentang dien.” (HR.Bukhari dan Muslim -dari sahabat Mu’awiyah Radhiallahu ‘anhu-)

Hal itu tidak lain karena kepahaman tentang dien akan mendorong sesorang untuk mengerjakan perintah-perintah Allah, takut kepada-Nya, mengerjakan  apa yang difardhukan oleh-Nya dan  hati-hati dari kemurkaan-Nya serta menuntunnya kepada akhlak-akhlak yang mulia, amal-amal yang baik dan nasehat (menunaikan hak-hak) Allah serta hamba-hamba-Nya.

Maka saya mohon kepada Allah ‘Azza Wa Jalla aga Dia berkenan mengaruniakan kepada kita, para penuntut ilmu dan seluruh kaum muslimin kepahaman tentang dien-Nya dan istiqamah diatasnya serta melindungi kita semua dari keburukan-keburukan diri kita dan kejelekan-kejelekan amal kita. Sesungguhnya Dia-lah yang paling layak dan maha berkuasa atas hal itu.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam atas hamba dan rasul-Nya Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

 

Tawshiyat

Beberapa wasiat yang sering diulang-ulang oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah[2]

Wasiat-wasiat Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah sangat banyak dan berbeda-beda, tergantung kondisi dan orang-orang yang dinasehati. Akan tetapi ada beberapa wasiat-wasiat tertentu yang beliau sering mengulang-ulangnya, baik dalam sambutan-sambutannya, ceramah-ceramahnya, surat-suratnya maupun nasehat-nasehat secara lisan kepada beberapa orang. Di antara wasiat-wasiat tersebut ialah :

  1. Wasiat untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala
  2. Memberikan perhatian terhadap Al-Qur’an Al Karim, baik dengan menghafalnya, mentadabburinya, berhukum dengannya dan mengamalkannya.
  3. Memberikan perhatian terhadap As-Sunnah, mengamalkannya dan menghafal apa yang mudah darinya.
  4. Bersungguh- sungguh dalam berda’wah menyeru  manusia kepada Allah, amar ma’ruf dan nahi munkar serta bersabar atasnya
  5. Memberikan perhatian terhadap kitab-kitab aqidah, beliau berwasiat untuk menghafal apa yang mudah darinya seperti Aqidah wasithiyah, Risalah at Tadmuriah dan selainnya dari kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah; dan Kitab tauhid, Tsalatsatul Ushuul serta Kasyfu Asy-Syubuhat karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
  6. Berwasiat untuk membaca kitab-kitab hadits, seperti : Bukhari, Muslim dan kitab-kitab sunnah serta musnad yang lainnya dan menghafal apa yang  mudah darinya seperti : ‘Umdatul Ahkam karya Al Maqdisi rahimahullah, Bulughul Maram karya Ibnu Hajar rahimahullah dan Al Arba’in An Nawawiyah karya An Nawawi rahimahullah beserta pelengkapnya karya Ibnu Rajab rahimahullah.
  7. Berwasiat untuk menjaga persatuan kalimat kaum muslimin dan  peringatan untuk menjauhi perpecahan dan perselisihan.

 

 Wallahu a’lam…


[1] Dikutip dari kitab Jawaanib Min Siirati Al Imam Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, oleh Syaikh Muhammad bin  Musa al Musa. Hlm. 427

[2] Dikutip dari kitab Jawaanib Min Siirati Al Imam Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, oleh Syaikh Muhammad bin  Musa al Musa. Hlm. 429

Wahai Ukhti Muslimah, Ketahuilah…


Dari Ummu Salamah, dia berkata. ‘Ummu Sulaim pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata. ‘Wahai Rasulullah sesungguhnya Allah tidak merasa malu dari kebenaran. Lalu apakah seorang wanita itu harus mandi jika dia bermimpi ?. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab. ‘Jika dia melihat air (mani)’. Lalu Ummu Salamah menutup wajahnya, dan berkata. ‘Wahai Rasulullah, apakah wanita itu juga bisa bermimpi .? ‘Beliau menjawab. ‘Ya, bisa’. Maka sesuatu yang menyerupai dirinya adalah anaknya”. (Hadits shahih, ditakhrij Ahmad 6/306, Al-Bukhari 1/44, Muslim 3/223, At-Tirmidzi, hadits nomor 122, An-Nasa’i 1/114, Ibnu Majah hadits nomor 600, Ad-Darimi 1/195, Al-Baihaqi 1/168-169)

Muslimah

Wahai Ukhti Muslimah !
Diantara kebaikan ke-Islaman seorang wanita adalah jika dia mengetahui agamanya. Maka Islam mewajibkan para wanita mencari ilmu sebagaimana yang diwajibkan terhadap kaum laki-laki. Perhatikanlah firman Allah ini.

“Artinya : Katakanlah. Adakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui ?”. (Az-Zumar : 9)

Bahkan perhatikan pula firman Allah yang secara khusus ditujukan kepada Ummahatul-Mukminin, yang menganjurkan mereka agar mempelajari kandungan Al-Qur’an dan hadits Nabawi yang dibacakan di rumah-rumah mereka. Firman-Nya.

“Artinya : Dan, ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah”. (Al-Ahzab : 34)

Karena perintah Allah inilah para wanita merasakan keutamaan ilmu. Maka mereka pun pergi menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menuntut suatu majlis bagi mereka dari beliau, agar di situ mereka bisa belajar.

Dari Abu Sa’id Al-Khudry Radhiyallahu anhu, dia berkata. ‘Para wanita berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Kaum laki-laki telah mengalahkan kami atas dirimu. Maka buatlah bagi kami dari waktumu’. Maka beliau menjanjikan suatu hari kepada mereka, yang pada saat itu beliau akan menemui mereka dan memberi wasiat serta perintah kepada mereka. Di antara yang beliau katakan kepada mereka adalah : ‘Tidaklah ada di antara kamu sekalian seorang wanita yang ditinggal mati oleh tiga anaknya, melainkan anak-anaknya itu menjadi penghalang dari neraka baginya‘. Lalu ada seorang wanita yang bertanya. ‘Bagaimana dengan dua anak?’ Maka beliau menjawab. ‘Begitu pula dua anak’. (Diriwayatkan Al-Bukhari, 1/36 dan Muslim 16/181)

Begitulah Islam menyeru agar para wanita diajari dan diberi bimbingan tentang hal-hal yang harus mereka biasakan, untuk kebaikan di dunia dan akhirat.

Wahai Ukhti Muslimah !
Perhatikanlah di dalam wasiat Nabawi ini, bahwa Ummu Salamah datang untuk mempelajari apa-apa yang tidak diketahuinya, sehingga akhirnya dia bisa mengetahui secara komplit. Begitulah seharusnya yang dilakukan seorang wanita muslimah. Dia bisa bertanya tentang hukum-hukum agamanya. Karena yang tahu hukum-hukum tersebut diantara mereka hanya sedikit sekali. Marilah kita simak wasiat ini.

Wahai Ukhti Muslimah !
Perhatikanlah bagaimana adab Ummu Sulaim yang memulai ucapannya dengan berkata. “Sesungguhnya Allah tidak merasa malu dari kebenaran”. Maksudnya, tidak ada halangan untuk menjelaskan yang benar. Sehingga Allah membuat perumpamaan dengan seekor nyamuk dan yang serupa lainnya sebagaimana firman-Nya. “Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu”. (Al-Baqarah : 26)

Perhatikan Ummu Sulaim. Tidak ada halangan baginya untuk bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang apa-apa yang mestinya dia ketahui dan dia pelajari, meskipun mungkin hal itu dianggap aneh. Sungguh benar Ummul Mukminin, ‘A`isyah yang berkata. “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Tidak ada rasa malu yang menghalangi mereka untuk memahami agama”. (Diriwayatkan Al-Bukhari 1/44)

Selagi engkau dikungkung rasa malu dan tidak mau mengetahui hukum-hukum agamamu, maka ini merupakan kesalahan yang amat besar, bahkan bisa berbahaya. Ada baiknya engkau membiasakan dirimu untuk tidak merasa malu dalam mempelajari hukum-hukum agama, baik hukum itu kecil maupun besar. Sebab jika seorang wanita lebih banyak dikungkung rasa malu, maka dia sama sekali tidak akan mengetahui sesuatu pun. Perhatikanlah perkataan Mujahid Rahimahullah. “Orang yang malu dan sombong tidak akan mau mempelajari ilmu”. Seakan-akan dia menganjurkan orang-orang yang mencari ilmu agar tidak merasa lemah dan takkabur, sebab hal itu akan mempengaruhi usaha mereka dalam mencari ilmu.

Ada suatu pertanyaan dari Ummu Sulaim, dia bertanya. “Apakah seorang wanita itu harus mandi jika dia bermimpi?”. Maksudnya, jika dia bermimpi bahwa dia disetubuhi. Jawaban Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Jika dia melihat air“. Makna jawaban ini, bahwa jika seorang wanita benar-benar bermimpi dan ada petunjuk atau bukti terjadinya hal itu, yaitu dia melihat adanya bekas air mani di pakaian, maka ini merupakan syarat mandinya. Namun jika dia bermimpi dan tidak melihat bekas air mani, maka dia tidak perlu mandi. Setelah diberi jawaban yang singkat dan padat ini, Ummu Salamah langsung menutupi wajahnya seraya bertanya. “Apakah wanita itu juga bermimpi?”.

Wahai Ukhti Muslimah !
Rasa herannya Ummu Salamah itu bukanlah sesuatu yang aneh. Pernah terjadi pada diri ‘A`isyah, sementaranya ilmunya lebih komplit, sebagaimana yang disebutkan dalam suatu riwayat, dia berkata. “Kecelakaan bagimu. Apakah wanita akan mengalami seperti itu ?”. Dia berkata seperti itu dengan maksud untuk mengingkari bahwa wanita juga bisa bermimpi.

Jika permasalahan-permasalahannya yang hakiki tidaklah seperti yang disangkakan bahwa setiap wanita bisa bermimpi. Mimpi itu hanya terjadi pada sebagian wanita, sedangkan yang lain tidak. Maka inilah sebab pengingkaran dan keheranan yang muncul dari Ummu Salamah dan ‘A`isyah. Namun keheranan ini bisa dituntaskan oleh jawaban Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Na’am, taribat yaminuki’, maksudnya : Benar, seorang wanita bisa bermimpi. Perkataan beliau : “Taribat yaminuki“, maksudnya, dia menjadi rendah dan berada di atas tanah. Ini merupakan lafazh yang diucapkan saat menghardik, dan tidak dimaksudkan menurut zhahirnya.

Kemudian di akhir ucapan beliau ada salah satu bukti nubuwah, yaitu perkataan beliau : “Sesuatu yang bisa menyerupai dirinya adalah anaknya“.

Wahai Ukhti Muslimah !
Ilmu pengetahuan modern telah menetapkan bahwa laki-laki dan wanita saling bersekutu dalam pembentukan janin. Sebab jenis hewan yang berkembang biak, benih datang dari pasangan laki-laki ke indung telur yang ada di dalam tubuh yang perempuan, lalu sperma yang satu bercampur dengan yang lain. Dengan pengertian, bahwa sefaro sifat-sifat yang diwariskan kira-kira bersumber dari yang laki-laki dan yang sefaronya lagi kira-kira berasal dari perempuan. Kemudian bisa juga terjadi pertukaran dan kesesuaian, sehingga ada sifat-sifat yang lebih menonjol daripada yang lain. Maka dari sinilah terjadi penyerupaan.

Jadi sebagaimana yang engkau ketahui wahai Ukhti Muslimah, seperti apapun keadaannya, tidak mungkin bagi jenis hewan yang berkembang biak, yakni hanya laki-laki saja yang bisa membuahi suatu mahluk hidup, tanpa bersekutu dengan indung telur pada jenis perempuan.

Perhatikanlah bagaimana keindahan pengabaran Nabawi ini. Karena sejak beliau di utus sebagai rasul, jauh sebelum masa Aristoteles, ada kepercayaan bahwa wanita tidak mempunyai campur tangan dalam pembentukan dan keberadaan anak. Hanya air mani sajalah yang terpenting. Mereka tidak yakin bahwa air mani seorang laki-laki akan sampai ke rahim perempuan, lalu berkembang menjadi janin, sedikit demi sedikit janin membesar sehingga menjadi bayi dan akhirnya benar-benar sempurna menjadi sosok manusia di dalam rahim. Lalu Muhammad bin Abdullah datang mengabarkan kepada kita tentang apa yang bakal disibak oleh ilmu pengetahuan modern. Benar, ini merupakan wahyu yang diwahyukan, dan beliau sama sekali tidak berkata dari kemauan dirinya sendiri, tetapi beliau berkata menurut apa yang diajarkan Allah kepada beliau.

Begitulah wahai Ukhti Muslimah apa yang bisa kita pelajari dari wasiat Nabawi ini, semoga Allah memberi manfaat kepada kita semua.
Wallahu a’lam

Majdi As-Sayyid Ibrahim

 

Ilmu dan ‘Ulama`

العلم نور

Secara umum, dari sudut pandang bahasa, ilmu adalah lawan dari “jahl” (kebodohan). Dalam pengertian lain yaitu mengetahui sesuatu yang pasti pada kenyataannya dengan pengetahuan yang pasti.[1]

Ilmu yang kami maksudkan di sini adalah ilmu syar’i, sedangkan yang dimaksud dengan ilmu syar’i adalah:

العِلمُ المُنَزَّلُ مِن السَّمَاءِ إلى الْأَرْضِ، الْعِلمُ الْمُوحَى مِن اللهِ تَعَالى إلى نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم مِن الْكِتَابِ وَ السُّنَّةِ

Ilmu yang diturunkan dari langit ke bumi, yakni ilmu yang diwahyukan Allahu ta’aala kepada Nabi-Nya berupa al Quran dan as Sunnah.”[2]

Syaikh Muhammad ibn Shalih al ‘Utsaymin menjabarkan sebagai berikut, “Yang dimaksud dengan ilmu syar’i adalah segala sesuatu yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, maka ilmu yang mendapat pujian di sini adalah ilmu tentang wahyu, ilmu tentang perkara yang diturunkan oleh Allah saja.”[3]

Firman Allah dalam al Quran,

وَلَوْلاَ فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهُ لَهَمَّتْ طَّآئِفَةٌ مِّنْهُمْ أَن يُضِلُّوكَ وَمَا يُضِلُّونَ إِلاَّ أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَضُرُّونَكَ مِن شَيْءٍ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيْكَ ٱلْكِتَابَ وَٱلْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ وَكَانَ فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيماً ﴿١١٣﴾ 

Dan Allah telah menurunkan al Kitab dan al Hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.” (QS. An Nisaa’ : 113)

Rasulullah bersabda,

مَن يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah menjadikannya faqih dalam diin.” (HR. Bukhari)

Maka dari itu, kewajiban menuntut ilmu, baik dalam al Quran dan as Sunnah pada hakikatnya adalah kewajiban untuk mempelajari diin al Islam. Adapun ilmu-ilmu selain ilmu syar’i, maka kedudukannya  berada di bawah ilmu syar’i yang hukum mempelajarinya bisa menjadi fardhu ‘ain, fardhu kifayah, mubah, atau bahkan haram, sesuai dengan kondisi penuntut ilmunya. Sedangkan hukum menuntut ilmu syar’i, tiada keraguan lagi,  adalah fardhu ‘ain. Maka, barangsiapa yang meninggalkannya berarti ia telah bermaksiat kepada Allah.[4]

Adapun Ahl al ‘Ilm (baca: ahlul ilm) yang Allah dan Rasul-Nya telah menjelaskan keutamaan, ketinggian derajat, dan besarnya pahala mereka adalah para pengusung ilmu yang mulia ini. Mereka yang telah terikat dengan kecintaan yang mendalam untuk menuntut ilmu syar’i, mengamalkannya, serta menda’wahkannya. Allah berfirman,

يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لاَ تَفْعَلُونَ ﴿٢﴾ كَبُرَ مَقْتاً عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لاَ تَفْعَلُونَ ﴿٣﴾

Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS. Ash Shaff : 2-3)

Syaikh Al Islam Ibn Taymiyyah berkata tentang ahl al ‘ilm,

وهؤُلاءَ هُمُ الذِيْنِ جَمِعُوا بَيْنَ الْبَصِيْرَةٌ فِي الدِّيْنِ وَالْقُوَّةٌ عَلى الدَّعْوَة، وَلِذَلِكَ كَانُوا وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءَ الَّذِيْنَ قَالَ اللهُ فِيْهِمْ: (وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَإِسْحـــقَ وَيَعْقُوْبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ) فَالْأَيْدِي الْقُوَّة فِي أَمْرِ الله، وَالْأَبْصَار الْبَصَائِرُ فِى دِيْنِ الله، فَبِالْبَصَائِرُ يدرك الْحَقّ وَيعرف، وَبِالْقُوَّة يتمكن مِن تَبْلِيْغِهِ وَتَنْفِيْذِهِ وَالدَّعْوَةِ إِلَيْهِ.

“Mereka adalah orang-orang yang menghimpun di dalam diri mereka “al Bashiirah fii ad Diin” (bashirah dalam diin) dan “al Quwwah ‘alaa ad Da’wah” (kekuatan untuk berda’wah). Maka, mereka adalah para pewaris Nabi, yang Allah telah mengatakan tentang diri mereka,

Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang memiliki kekuatan dan kecerdasan.” (QS. Shaad, 38: 45)

Kata “kekuatan” dalam ayat tersebut maknanya adalah kekuatan dalam menjalankan perintah Allah, sedangkan kata “kecerdasan” maknanya adalah kecerdasan dalam memahami diin Allah. Jadi, dengan kecerdasan itu seseorang bisa memahami yang haqq dan mengetahuinya, dan dengan kekuatan ia mampu menyampaikannya, melaksanakannya, dan menda’wahkannya.”[5]

'Ulama` Abad Pertengahan (Ilustrasi)

Imam Asy Syathibi berkata,

الْعِلْمُ الَّذِى هُوَ الْعِلْمُ الْمُعْتَبَرُ شَرَعًا ــ أَعنى الَّذِى مدح اللهُ وَرَسُوْلَهُ أَهْله عَلى الْإِطْلَاق ـ هُوَ الْعِلْمُ الْبَاعث عَلى الْعَمَل، الَّذِى لَايُخَلّى صَاحِبُهُ جَاريا مَعَ هَوَاه كَيْفَمَا كَانَ، بَلْ هُوَ الْمُقَيِّد لِصَاحِبه بِمَقتضاه، الْحَامِلُ لَهُ عَلي قَوَانِيِّنَهُ طَوْعًا أَوْ كَرْهًا

“Ilmu yang dikatakan ilmu mu’tabar menurut pandangan syar’i, maksud saya adalah yang Allah dan Rasul-Nya memuji ahlinya secara mutlak, ialah ilmu yang mendorong seseorang beramal, yang tidak membiarkan pemiliknya berjalan menurut kemauan hawa nafsunya, tapi ia mengikat pemiliknya dengan apa yang menjadi tuntutannya, membawa ia untuk taat atau benci atas hukum-hukumnya.”[6]

Pernyataan di atas menegaskan bahwa yang dimaksud ahl al ‘ilm adalah mereka yang benar-benar mengamalkan ilmunya. Allah berfirman dalam al Quran,

إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَاءُ ﴿٢٨﴾ 

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, adalah ‘ulama.” (QS. Faathir, 35: 28)

Ayat di atas menerangkan bahwa yang dimaksud ‘ulama (ahl al ‘ilm) adalah orang-orang yang memiliki rasa takut (khasy-yah) kepada Allahu ta’ala, dan tidaklah rasa takut ini akan melahirkan sesuatu kecuali ketaatan, yakni kecintaan seorang hamba untuk senantiasa mengamalkan ilmu yang dimilikinya dan selalu konsisten untuk beramal di atas ilmu.

-Al Fadhli-


[1] Syaikh Muhammad ibn Shalih al ‘Utsaymin, Kitab Al Ilmi

[2] Syaikh Abd al Qadir Abd al Aziz, Al Jami’ Fii Thalab al Ilmi asy Syariif

[3] Kitab Al Ilmi

[4] Adapun rinciannya akan dijelaskan kemudian,insya Allah

[5] Manjmu’ Fattawa Juz IV hal 92-93

[6] Al Muwaafiqaat Juz I hal 69