Pintu Masuk Dosa dan Maksiat

Masih saja engkau ikuti satu pandangan dengan pandangan lainnya…

Pada semua yang hijau lagi manis dan menggoda…

Kau kira itu adalah obat bagi lukamu yang menganga…

Padahal ia hanya menambah goresan luka yang ada…

[Ibn Qayyim Al Jawziyyah]

Jangan Diajak Maksiat

1. Pandangan (Lahadzhat)

Lahadzat adalah pandangan kepada hal-hal yang menuju kemaksiatan. Bukan sekedar memandang, tetapi diikuti dengan pandangan selanjutnya. Pandangan adalah pemimpin sekaligus duta nafsu syahwat. Menjaga pandangan berarti menjaga kemaluan. Maka siapa saja yang mengumbar pandangannya, maka ia akan masuk kepada hal-hal yang membinasakan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menasihati ‘Ali radhiyallahu ‘anhu :

Jangan kamu ikuti pandangan pertamamu dengan pandangan kedua dan selanjutnya. Pandangan pertama adalah kenikmatan bagimu, dan yang kedua membinasakanmu.

Pandangan ibarat sebuah anak panah, namun belum sampai anak panah itu mengenai apa yang dilihat, namun ia telah mengenai hati orang yang melihat. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam :

Pandangan adalah anak panah beracun dari panah-panah iblis. Barangsiapa yang menundukan pandangannya dari keelokan wanita yang cantik karena Allah, maka Allah akan mewariskan dalam hatinya kemanisan iman hingga hari kiamat.

Memandang adalah sumber dari segala bencana yang menimpa manusia. Melihat melahirkan lamunan dan khayalan, khayalan melahirkan pemikiran, pikiran melahirkan syahwat dan syahwat melahirkan kemauan. Kemauan akan semakin kuat hingga memunculkan tekad dan akhirnya terjadilah apa yang terjadi selagi tidak ada yang menghalangi.

Sungguh, kepayahan yang ditimbulkan oleh lahadzat terus-menerus akan tetap ada dan menyakiti pelakunya. Sebuah hikmah mengatakan, “Sesungguhnya menahan pandangan-pandangan kepada yang haram lebih ringan daripada menahan kepayahan yang ditimbulkan terus menerus.”

2. Lintasan Pikiran (Khatharat)

Bahwa apa yang hadir di pintu lamunan dan khayalan lebih berbahaya dan sulit dihindari. Dari sinilah awal dari kebaikan dan keburukan. Dari sini pula lahir kemauan (iradah), cita-cita, dan tekad yang kuat (azzam). Namun hendaknya seseorang membatasi lamunan yang berputar pada empat hal:

  • Lamunan yang bisa dimanfaatkan oleh seorang hamba dalam urusan dunianya.
  • Lamunan yang berfungsi mengusir marabahaya dunia.
  • Lamunan yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan akhirat.
  • Lamunan yang berfungsi menolak marabahaya akhirat.

Kemampuan seseorang dalam menentukan skala prioritas untuk memilih satu di antara empat lamunan di atas begitu penting. Karena bila ia mendahulukan yang satu, maka ia akan kehilangan yang lain. Namun, ada pula di antara mereka yang sanggup mengompromikan karena sulit untuk dipisahkan. Maka yang berperan untuk melakukan hal tersebut adalah akal, pemahaman agama, serta pengetahuan. Ketinggian derajat seseorang dan juga keberhasilannya ditentukan oleh keputusannya dalam menyikapi antara benturan kepentingan tersebut.

Hendaknya pula manusia menggunakan akalnya untuk Allah dan kepentingan di akhiratnya. Yaitu dengan :

  • Memahami ayat-ayat Allah dalam al Quran dan maksudnya.
  • Memikirkan dan mengambil ayat Allah dari alam.
  • Memikirkan nikmat Allah yang bermacam-macam dan begitu luas.
  • Memikirkan tentang aib pribadi.
  • Memikirkan kewajiban dan tugas yang berkaitan erat dengan waktu.

Ketahuilah, bahwa masuknya lintasan pikiran dan lamunan tidak akan mengundang bahaya. Yang berbahaya adalah ketika semua itu diundang dan kemudian tidak diarahkan. Lamunan akan sangat mudah menyerang jiwa yang kosong dan sangat berat melawan jiwa yang tenang.

Bila manusia berusaha mengosongkan lintasan pikirannya, maka setan akan masuk dan menanamkan kebatilan di dalamnya dalam bentuk yang berbeda dari wujud aslinya sehingga mereka mengira bahwa ia adalah kemuliaan yang paling tinggi.

Allah telah merangkai dua jenis jiwa pada diri manusia, yaitu ammarah bissuu’ (yang memerintahkan kepada keburukan) dan jiwa muthma’innah (yang tenang). Dua jiwa ini akan selalu bertarung. Yang menang akan menguasai jiwa dan pikiran, sedangkan peperangan akan terus berlanjut hingga ajalnya tiba.

Hati ibarat sebuah kanvas putih yang bersih dan lintasan pikiran adalah ukiran dan lukisan yang berada di atasnya. Sungguh orang yang paling sempurna adalah orang yang memenuhi pikirannya, lamunannya, dan kemauannya untuk mencapai hal-hal yang diridhai Allah dan kebaikan bagi manusia secara umum. Umar bin Al Khathab adalah salah satu contoh orang yang pikirannya penuh sesak dengan peribadahan kepada Allah. Bila ia shalat, pikirannya juga digunakan untuk mengatur tentaranya. Sehingga ia menyatukan dalam satu waktu antara shalat dengan jihad.

3. Lisan (Lafadzhat)

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Ada seorang laki-laki berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Maka Allah berakata, “Siapa yang mengatakan bahwa Aku tidak mengampuni dosa fulan? Sesungguhnya aku telah mengampuni dosanya dan menghapus kesalahannya. Dan aku telah menghapus amal-amalmu.” [HR. Muslim dari Jundub]

Siapa yang menjamin bagiku apa yang ada di antara dua jenggotnya dan di antara dua kakinya, maka aku menjamin baginya syurga. [HR. Bukhari, Tirmidziy, dan Ahmad]

Iman seseorang tidak akan lurus sampai lurus hatinya. Dan hati seseorang tidak akan lurus hingga lurus lidahnya. [HR. Ahmad]

Siapa yang menjaga lidahnya, maka Allah akan menutupi aib-aibnya. [HR. Abu Nu’aim dan Ibnu Abid Dunya]

Kebanyakan makhluq Allah yang menyimpang adalah dikarenakan perkataan dan diamnya. Sedangkan orang yang ahli adalah yang dapat berdiri di antara keduanya dengan seimbang.

  • Bencana Lisan
    • Perkataan yang tidak dibutuhkan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya. [HR. Tirmidziy]

    • Melibatkan diri dalam kebatilan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang keras lagi suka bertengkar. [Muttafaq ‘Alayh]

    • Banyak bicara dan memaksakan diri dengan kata-kata sajak.

Ibnul Jawzi rahimahullah berkata,

Dalam hal ini tidak termasuk pidato/ ceramah bila dimaksudkan untuk menggugah hati para pendengar.

    • Bicara keji, suka mencela, dan suka mengumpat.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Jauhilah perbuatan keji, karena Allah tidak menyukai perkataan keji dan mengata-ngatai dengan perkataan keji. [HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad]

An Nakha’iy rahimahullah berkata,

Bila seseorang berkata kepada orang lain : “Hai keledai, hai babi..!”, maka pada hari kiamat nanti akan dikatakan kepadanya, “Apakah menurut pendapatmu Allah menciptakannya sebagai keledai atau babi?”

    • Bercanda dengan berlebihan.

Dalam hal ini, tidaklah Rasulullah bercanda kecuali memenuhi tiga hal:

  • Tidak berdusta
  • Sering dilakukan terhadap wanita, anak-anak, dan orang-orang lemah yang membutuhkan bimbingan
  • Dilakukan jarang-jarang, tidak terus menerus.

 

    • Mengejek dan mengolok-olok.

Larangan ini telah banyak disebutkan dalam al Quran dan as Sunnah. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa mengolok-olok orang lain dapat dilakukan meski dengan kerdipan mata, dan hal tersebut sudah termasuk dosa dan maksiat.

    • Membocorkan rahasia, melanggar janji, berdusta dalam perkataan dan sumpah.

Semua hal tersebut dilarang, kecuali bila ada keringanan untuk berdusta, seperti berdusta untuk menyenangkan istri atau sebagai siasat perang.

    • Ghibah.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Siapa yang mencari-cari aib orang lain, maka Allah akan mencari-cari aibnya. [HR. Abu Dawud]

Jauhilah ghibah karena ghibah lebih keras daripada zina.

Syari’at menetapkan bahwa ada sebagian ghibah yang diperbolehkan, di antaranya:

  • Karena ada tindak kedzhaliman. Orang yang didzhalimi boleh menyebut kedzhaliman yang dilakukan orang tertuduh kepadanya.
  • Sebagai upaya mengubah kemunkaran.
  • Meminta fatwa.
  • Memperingatkan kaum muslimin.
  • Bila orang yang dighibah melakukan kefasikan terang-terangan.

 

    • Namimah (mengadu domba).

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Tidak masuk syurga orang yang suka mengadu domba. [Muttafaq ‘Alayh]

    • Perkataan dengan dua lidah.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya orang yang paling jahat adalah orang yang memiliki dua wajah, yang datang kepada seseorang dengan wajah yang satu, dan kepada yang lain, dengan wajah yang lainnya. [Muttafaq ‘Alayh]

    • Kata-kata pujian yang berlebihan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda saat mendengar seseorang memuji orang lain,

Celakalah engkau karena telah memenggal leher rekanmu. [Muttafaq ‘Alayh]

    • Kesalahan yang berkaitan erat dalam menjelaskan maksud Allah dalam Al Quran dan maksud Rasul dalam as Sunnah.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

Begitu cepat manusia bertanya, sampai-sampai mereka berkata, “Allah telah menciptakan makhluq.” Lalu, siapakah yang menciptakan Allah. [HR. Abu Dawud]

Pertanyaan tentang sesuatu yang rumit merupakan bencana. Tidak ada yang bisa meluruskannya kecuali ulama yang lurus. Siapa yang ilmunya terbatas, lalu mencari-cari tahu makna sifat dan Dzat Allah, atau menta’wil ayat-ayat mutasyabbihat, atau mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bermanfaat akan menyebabkan dirinya terpeleset dan membinasakan dirinya sendiri.

##########

Sumber Rujukan :

Ibnu Qayyim Al Jawziyyah. Ad Daa’ wad Dawaa’ (Al Jawaabul Kaafi liman Saala ‘anid Dawaa’isy Syaaffi’).

Ibnu Qudamah Al Maqdisi. Mukhtashar Minhajul Qashidin libnil Jawzi.

##########

Rd. Laili Al Fadhli

Disampaikan pada ta’lim umum Mahasiswa Pecinta Islam (MPI) Bandung , Sabtu, 22 September 2012

Advertisements

Etika Memakai Sandal dan Sepatu

Sandal

Muqaddimah

Islam adalah satu-satunya agama yang banyak sekali memperhatikan aspek akhlaq dan etika, dari hal yang sebesar-besarnya hingga sekecil-kecilnya. Oleh karena itu, pantaslah pula apa yang dikatakan ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anha ketika ditanya tentang akhlaq Rasulullah bahwa akhlaq beliau adalah al-Qur’an.

Bila kita mengamati kandungan al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi, maka sangat sulit kita untuk tidak mengatakan bahwa di dalamnya selalu terkait dengan akhlaq dan etika itu.

Salah satu hal yang nampaknya sepele tetapi besar artinya yang diberikan perhatian oleh Islam adalah masalah etika memakai sandal atau sepatu.

Nah, apa urgensinya? Bagaimana etikanya?

Naskah Hadits

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا انْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِالْيَمِيْنِ, وَإِذَا انْتَزَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ, لِتَكُنِ الْيُمْنَى أَوَّلَهُمَا تُنْعَلُ, وَآخِرَهُمَا تُنْزَعُ. رواه البخاري

Dari Abu Hurairah radliyallâhu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam bersabda, “Bila salah seorang diantara kamu memakai sandal, maka hendaklah dia memulainya dengan kaki kanan dan bila dia melepasnya, maka hendaklah dia memulainya dengan kaki kiri. Jadikanlah kaki kanan yang pertama dari keduanya dipakai dan yang terakhir dari keduanya yang dilepas (dicopot).” (HR.Bukhari)

Kandungan Hadits

1. Terdapat hadits yang diriwayatkan ‘Aisyah di dalam kitab ash-Shahîhain bahwasanya Nabi Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam sangat suka menganan (memakai dengan memulai yang kanan), baik ketika memakai sandal atau sepatu (atau sandal dan yang semaknanya), menyisir, bersuci dan seluruh urusannya. Beliau Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam senantiasa memulai dengan kanan dan mendahulukannya terhadap sesuatu yang baik dan mengakhirkannya terhadap yang selain itu. bila memakai sandal, beliau mendahulukan kaki kanan; bila memakai pakaian, beliau mendahulukan sebelah kanan dan bila masuk masjid, beliau mendahulukan kaki kanan.
Beliau mendahulukan yang kiri untuk selain hal itu; ketika masuk WC, keluar dari Masjid, melepas kedua sandal, pakaian dan semisalnya.

2. Beliau mengkhususkan yang kanan di dalam makan, minum, berjabat tangan dan mengambil sesuatu yang baik. Dan beliau mengkhususkan yang kiri terhadap kotoran dan sesuatu yang tidak disukai. Inilah sunnah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam yang beliau sukai dan senang melakukannya.

3. Di dalam masalah thaharah (bersuci), beliau mendahulukan untuk mencuci tangan kanan dan kaki kanan. Ketika mencukur di dalam manasik haji, beliau mendahulukan bagian sebelah kanan dari kepalanya atas bagian kirinya, demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam.

4. Menurut syari’at, akal dan estetika bahwa mendahulukan yang kanan terhadap sesuatu yang baik dan mengkhususkannya serta mengkhususkan yang kiri terhadap sesuatu yang tidak disukai adalah lebih utama. Oleh karena itu, kaidah syari’at yang kemudian diambil dari sunnah beliau Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam adalah mendahulukan yang kanan terhadap setiap sesuatu yang pernah beliau lakukan dalam rangka memuliakan beliau dan yang selain itu, dianjurkan untuk memulainya dengan yang kiri.

5. Ibn al-‘Arabi (bukan Ibn ‘Arabi – tokoh Sufi yang sesat-red.,) berkata, “Memulai dengan yang kanan disyari’atkan terhadap semua amal shalih karena keutamaannya secara estetika lebih kuat dan secara syari’at lebih dianjurkan untuk mendahulukannya.”

6. al-Hulaimi berkata, “Sesungguhnya memulai dengan yang kiri ketika melepas (sandal atau sepatu-red.,) karena memakai itu adalah suatu kehormatan dan juga karena ia (dalam posisi) menjaga (melindungi). Manakala yang kanan lebih mulia dan terhormat daripada yang kiri, maka dimulailah dengannya ketika memakai dan dikemudiankan ketika melepas (mencopot) sehingga kehormatannya tetap ada dan jatahnya dari hal itu lebih banyak.”

(SUMBER: Tawdlîh al-Ahkâm Min Bulûgh al-Marâm, karya
Syaikh.’Abdullah al-Bassam, jld.VI, h.233-234)

Lisan

Dikisahkan bahwa terdapat seorang Raja yang memiliki pelayan penuh hikmah. Pada suatu hari ia memerintahkan pelayannya untuk membeli bagian terbaik dari kambing untuk menunya kali ini. Maka pelayan tersebut membelikan lidah kambing.

Lebih baik diam

Kemudian, sang Raja kembali memerintahkan pelayannya untuk membeli bagian terburuk dari kambing, maka pelayan itu kembali dengan membawa lidah kambing.

Sang Raja terkejut dan bertanya kepada pelayannya, “Aku memerintahkanmu untuk membeli bagian terbaik dari kambing, engkau membawakanku lidahnya, dan aku memerintahkanmu untuk membeli bagian terburuk dari kambing, dan engkau pun kembali membawakanku lidahnya. Apa maksud dengan semua ini?”

Pelayan itu pun menjawab, “Lidah adalah bagian terbaik dari makhluq karena ia adalah kunci dari segala bentuk hikmah dan ilmu. Dan lidah adalah bagian terburuk dari makhluq karena ia adalah sumber segala bentuk kerusakan, asal dari berbagai keburukan, penyebab kedengkian dan hasad, serta menjadi penyebab dari peperangan yang terjadi di kalangan para raja dan penguasa.”[1]

Sang Raja begitu takjub mendengar penjelasan dari pelayannya tersebut, tak terasa meleleh butiran air mata membasahi pipinya. Dari pelayannya ia belajar, bahwa lidah, bila digunakan oleh manusia di atas jalan kebaikan, hasilnya pun berupa kebaikan. Sedangkan bila lidah digunakan di atas jalan keburukan, hasilnya pun berupa keburukan.

Karenanya, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam…” (Muttafaqun ‘Alayh)

Sudah sepatutnya kita belajar mengendalikan lisan kita. Sungguh, tidak ada senjata yang lebih tajam daripada lisan. Sehingga Al Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma lebih senang dicela oleh kebanyakan manusia karena banyak diam, daripada harus banyak berkata-kata untuk mendapatkan pujian. Saat ditanyakan kepadanya, mengapa ia lebih banyak diam, Al Hasan menjawab, “Sungguh aku mendapati lisanku bagaikan pedang, bila aku berbicara tentang sesuatu yang tidak memiliki manfaat di dalamnya, pedang itu menebasku…”

Ibnul Qayyim dalam Al Jawaabul Kaafi mengatakan, “Hendaknya seseorang tidak mengucapkan sepatah kata pun, kecuali kata-kata yang di dalamnya terdapat keuntungan dan manfaat bagi agamanya. Sebelum mengucapkan sesuatu, hendaklah memikirkan, apakah di dalamnya terdapat keuntungan dan manfaat atau tidak ada? Bila ternyata ucapan tersebut tidak memiliki keuntungan atau faidah, maka diamlah. Namun bila telah yakin bahwa ucapan tersebut bermanfaat, hendaklah ia kembali berpikir ulang, adakah kata-kata lain yang lebih bermanfaat dari ucapan tersebut? Bila ada, segera ganti dengan kata-kata yang lain itu.”[2]

Belajar diam merupakan bagian dari belajar mengekang hawa nafsu, karena kebanyakan kata yang terucap hanyalah berasal dari hawa nafsu belaka. Karenanya, para tabi’in tidak dengan serta merta banyak menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya, walaupun ia memiliki kapasitas keilmuan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Hal ini dilakukan sebagai upaya pengekangan terhadap hawa nafsu yang terus mendorong seseorang untuk berbicara.

Al Imam Abu Hanifah pernah berkata kepada salah seorang muridnya, Daud Ath Tha’i, “Wahai Abu Sulaiman sesungguhnya perangkat ilmu telah aku berikan.” Daud berkata, “Lalu, apa lagi yang tersisa?” Abu Hanifah menjawab, “Tinggal mengamalkannya.”

Daud berkata, “Nafsuku mendorongku untuk keluar dari majlis beliau (Abu Hanifah) dan membuka majlis baru. Maka aku berkata kepada nafsuku, “Tidak. Hingga kamu tetap duduk bersama mereka dan tidak menjawab satu pertanyaan pun.”

Maka, ia pun tetap bersama mereka selama satu tahun sebelum membuka kajian sendiri. Ia berkata, “Banyak pertanyaan yang datang dan aku mengekang ambisiku untuk menjawab lebih dari hasrat seorang yang kehausan air, dan aku tetap tidak menjawabnya. Kemudian setelah itu aku menyendiri dari mereka untuk membuka kajian sendiri.”[3]

Lihatlah bagaimana salafush shalih senantiasa melawan keinginan hawa nafsunya untuk senantiasa mengucapkan kata-kata yang tidak bermanfaat. Bahkan, Abdullah bin Abi Zakaria telah meletakkan batu di dalam mulutnya untuk belajar diam.[4] Dan Abdullah melakukan hal tersebut selama 20 tahun, sampai ia bisa mengendalikannya![5]

Meninggalkan ucapan atau perbuatan yang tidak berguna merupakan tolok ukur baik tidaknya keislaman seseorang. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda :

Di antara ciri kebaikan keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah pun telah mengabarkan kepada kita bahwa kebanyakan manusia yang masuk neraka disebabkan oleh dua hal : lisan dan farj (kemaluan).[6] Karenanya tidak salah bila menikah merupakan separuh diin. Hal ini dikarenakan orang yang menikah telah menutup 1 dari dua pintu menuju neraka. Selanjutnya adalah tinggal bagaimana ia menutup pintu yang kedua: pintu lisan.

Menjaga lisan dari ucapan yang tidak berguna memang sulit. Begitu mudahnya kata-kata mengalir keluar, bahkan tanpa kita sadari. Padahal, sebagian ulama salaf telah menegaskan : “Tidak berguna seluruh ucapan anak Adam, kecuali dzikrullah.” [7] Sungguh, amat beruntung seorang yang telah berhasil menjaga lisannya. Karena hal tersebut menunjukkan kelurusan iman di dalam hatinya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, dari Anas bin Malik :

Tidak lurus iman seorang hamba hingga lurus hatinya,dan tidak lurus hati seorang hamba hingga lurus lisannya.” (HR. Ahmad)


[1] Lihat Silsilah Ta’limil Lughatil ‘Arabiyah; Al Qira’ah Mustawa Tsalits hal. 22-24

[2] Al Jawabul Kaafi : 171

[3] Hilyatul Aulia : 7/342

[4] Hilyatul Aulia : 5/125

[5] Shifatush Shafwah : 4/431

[6] Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari, Ahmad, dan Tirmidzi dari Abu Hurayrah.

[7] Al Jawabul Kafi : 170

Hatim Yang Tuli (Hatim Al ‘Asham)

Nama lengkapnya Abu Abdurrahman Hatim bin Alwan. Namun, beliau lebih populer dengan nama Hatim Al ‘Asham atau Hatim yang tuli. Tahukah engkau, mengapa seorang ‘ulama yang mulia ini diberi julukan “yang tuli”?

Syaikh An Nawawi Al Bantani dalam Syarh Nashaihul Ibad menceritakan bahwa Abu Abdurrahman Hatim bin Alwan pernah menikahi seorang perempuan. Setelah menikah, maka beliau pun mulai berbincang-bincang dengan istrinya. Pada saat itu, istrinya berbicara sambil mengeluarkan suara yang tidak sedap didengar.

Mendengar hal ini, Hatim kemudian berkata sambil sedikit berteriak, “ulangi perkataanmu, ulangi perkataanmu” sampai beberapa kali. Hal ini dilakukan demi menjaga kehormatan istrinya agar tidak merasa malu di hadapan suaminya tercinta. Perbuatannya tersebut membuat istrinya mengira bahwa Hatim merupakan orang yang agak lemah pendengarannya atau seorang yang tuli. Hal ini tidak diketahui oleh istrinya hingga akhir hayatnya. Selama mendampingi Hatim, istrinya mengira bahwa suaminya memang seorang yang tuli.

Maka, adakah seorang suami hari ini yang sanggup menjaga kehormatan istrinya seperti Hatim Al ‘Asham menjaga istrinya? Semoga masih ada… dan semoga anda adalah orangnya… 🙂

Pembungkus Agama dan Asas Zuhud

Hamid Al Laqaf -rahimahullah- pernah didatangi seorang pria, ia berkata kepadanya: “Berilah aku nasihat.” Hamid berkata: “Buatlah pembungkus untuk agamamu seperti pembungkus buku.” Pria tadi kemudian bertanya: “Apa yang dimaksud dengan pembungkus agama itu?” Hamid menjawab: “Pembungkus agama itu adalah:

  1. Tidak berbicara kecuali sebatas yang perlu saja;
  2. Meninggalkan duniawi, kecuali sebatas yang perlu saja; dan
  3. Tidak bergaul dengan manusia, kecuali sebatas yang perlu saja.

Selanjutnya, ketahuilah bahwa asas zuhud itu adalah:

  1. Menjauhi semua yang haram, maupun yang besar maupun yang kecilnya;
  2. Mengerjakan semua yang difardhukan, baik yang mudah maupun yang sulitnya;
  3. Meninggalkan keduniaan, baik yang sedikit maupun yang banyaknya.”

[Al Munabbihat ‘alal Isti’daad li Yawmil Ma’ad, Ibnu Hajar Al Asqalani -rahimahullah-]

Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al Bantani Al Jawi berkata dalam Nashahihul ‘Ibad:

Nabi Sulaiman dan Luqman (Al Hakim) pernah berkata: “Apabila berbicara itu bagaikan perak, maka diam itu bagaikan emas.” Maksudnya apabila perkataan seseorang dalam kebaikan nilainya seperti perak, maka diam dari berkata buruk nilainya seperti emas.

Menurut Syaikh Abdul Qadir Jailani -rahimahullah-: “Manusia terbagi menjadi empat tipe, yaitu:

  1. Orang yang tidak mempunyai lisan dan tidak mempunyai hati. Ini adalah tipe orang durhaka, lali, dan jahil. Hati-hatilah jangan sampai Anda seperti mereka dan jangan bergaul bersama mereka, sebab mereka itu layak mendapatkan adzab.
  2. Orang yang berlisan tapi tidak berhati. Kata-kata orang seperti ini seolah mengandung hikmah tetapi ia sendiri tidak pernah mengamalkannya. Ia mengajak manusia untuk beriman dan beramal shalih serta bertaqwa kepada Allah, sementara dia sendiri mengkufuri dan menjauhi Allah. Oleh karena itu, jauhilah mereka agar Anda tidak tertipu oleh keindahan perkataan mereka yang bisa membuat diri Anda terbakar oleh api kemaksiatan mereka atau terjerumus oleh kebusukan hati mereka.
  3. Orang yang memiliki hati tetapi tidak memiliki lisan. Ini adalah tipe orang mu`min yang disembunyikan oleh Allah dari pandangan makhluq-Nya. Allah membukakan mata hatinya hingga dapat melihat kekurangan dirinya, menerangi hatinya dan mengenalkan kepadanya bencana banyak bergaul dengan orang lain dan musibah yang diakibatkan oleh banyak bicara. Sebenarnya dia adalah kekasih Allah yang disembunyikan dalam pemeliharaan-Nya, padahal dia memiliki banyak kebaikan dalam dirinya. Bergaullah dengan orang yang seperti ini dan berkhidmahlah kepadanya, niscaya Allah pun akan mencintai Anda.
  4. Orang yang mau belajar dan mengajar serta mengamalkan ilmunya. Ia betul-betul mengenal Allah dan memahami ayat-ayat-Nya. Allah memberinya ilmu yang tidak diketahui oleh banyak orang dan Allah melapangkan dadanya untuk menerima bermacam-macam ilmu. Oleh karena itu, berhati-hatilah, jangan sampai Anda menyelisihinya, menjauhinya, atau meninggalkan nasihatnya.”

Perlu diketahui bahwa pada dasarnya zuhud itu menjauhi semua yang diharamkan, baik yang besar maupun yang kecil. Sikap ini mewariskan sikap wara‘ (hati-hati). Menunaikan semua yang difardhukan, baik yang mudah maupun yang sulit. Sikap ini akan mewariskan taubat dan kembali ke jalan Allah sehingga hati pelakunya akan memperoleh penerangan dan terhindar dari syubhat, terlebih lagi dari hal-hal yang diharamkan. Terakhir adalah membiarkan urusan duniawi ditangan oleh ahlinya, baik yang kecil maupun yang besar. Sikap ini akan melahirkan sikap qana’ah (menerima apa adanya) tawakkal, dan percaya kepada apa yang ada di sisi Allah serta tidak mengharapkan apa yang ada di tangan orang lain.

[Nashaihul Ibad, Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al Bantani Al Jawi]

Tutuplah Aibmu, Saudaraku…

Bismillah… Semoga bermanfaat…

عَنْ أَبَي هُرَيْرَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنْ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

Dari Abu Hurayrah, ia berkata : Aku telah mendengar Rasulullah – shallallahu ‘alayhi wa sallam – bersabda: [Setiap ummatku dimaafkan, kecuali al mujahirin. Dan sesungguhnya termasuk al mujaharah adalah seorang yang bermaksiat pada malam hari kemudian pada pagi harinya – padahal Allah telah menutupinya – ia berkata : “Wahai fulan, aku telah melakukan hal ini dan hal itu.” Allah telah menutup (aib)nya pada malam hari dan ia membukanya pada pagi harinya]. (Shahih Al Bukhari no. 6069)

Hadits ini mengandung beberapa faidah yang agung, di antaranya:

  1. Setiap umat Islam pasti akan mendapat ampunan Allah ta’ala, kecuali Al Mujahir.
  2. Setiap orang pasti melakukan kemaksiatan dan orang yang paling buruk di antara mereka (ahli maksiat) adalah para al mujahir, yaitu : mereka yang memperlihatkan maksiat dan keburukan mereka di depan orang lain, atau mereka yang sekedar menceritakan kemaksiatan atau aib yang telah mereka lakukan kepada orang lain tanpa sebab yang disyari’atkan (sekedar menceritakan).
  3. Menutupi aib diri sendiri bukanlah kemunafikan bahkan hal tersebut diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
  4. Pentingnya rasa malu dalam diri seorang muslim, dan di antara ciri seorang muslim yang masih memiliki rasa malu adalah : tidak menceritakan aib diri sendiri atau bahkan memperlihatkan kemaksiatan di hadapan orang lain.
  5. Sebaik-baik orang yang bermaksiat adalah orang yang bertaubat, dan jika diri masih terlalu lemah dan seringkali kalah oleh hawa nafsu, maka minimal kita bermaksiat tidak di hadapan orang lain dan menyembunyikan aib serta kemaksitan yang telah kita lakukan tersebut, lalu kembali bertaubat atasnya, berusaha memperbaikinya,  dan berdoa agar Allah senantiasa menutupi aurat dan aib-aib kita.
  6. Menceritakan aib diri sendiri merupakan perbuatan yang dicela, apalagi menceritakan aib orang lain (saudara se islam), dan ini telah dijelaskan dalam banyak ayat dan hadits.

Wallahu a’lam…

Keutamaan Hijab

Sebagian orang berpikir bahwa berjilbab hati lebih utama dibandingkan jilbab fisik. Bahkan di antara mereka kemudian berpendapat bahwasudah cukup bagi setiap wanita untuk menjaga hatinya tanpa harus menjaga fisiknya. Padahal, hati yang berjilbab sungguh tampak dari fisik yang berjilbab. Ya, tidak setiap orang yang berjilbab fisik sudah benar-benar berjilbab hati. Namun, sungguh setiap orang yang hatinya berjilbab, pasti fisiknya juga berjilbab.

Berjilbablah wahai muslimah... 🙂

Selain itu, dalam ajaran Islam, berjilbab atau mengenakan hijab memiliki banyak keutamaan di hadapan Allahu ta’ala, di antaranya:

• Hijab itu adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَا كَانَ لمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إذاَ قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أمْرًا أنْ يَكُونَ لهُمُ الخِيَرَةُ مِنْ أمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’minah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab: 36)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan kaum wanita untuk menggunakan hijab sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluan-nya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Q.S An-Nur: 31)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الجَاهِلِيَّةِ الأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah.” (Q.S. Al-Ahzab: 33)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

 

“Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 53)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ المُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ

“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Wanita itu aurat” maksudnya adalah bahwa ia harus menutupi tubuhnya.

• Hijab itu ‘iffah (kemuliaan)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kewajiban menggunakan hijab sebagai tanda ‘Iffah (menahan diri dari maksiat).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ياَ أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ المُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أدْنَى أنْ يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ

“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Itu karena mereka menutupi tubuh mereka untuk menghindari dan menahan diri dari perbuatan jelek (dosa), “karena itu mereka tidak diganggu”. Maka orang-orang fasik tidak akan mengganggu mereka. Dan pada firman Allah “karena itu mereka tidak diganggu” sebagai isyarat bahwa mengetahui keindahan tubuh wanita adalah suatu bentuk gangguan berupa fitnah dan kejahatan bagi mereka.

• Hijab itu kesucian

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 53)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati hijab sebagai kesucian bagi hati orang-orang mu’min, laki-laki maupun perempuan. Karena mata bila tidak melihat maka hatipun tidak berhasrat. Pada saat seperti ini, maka hati yang tidak melihat akan lebih suci. Ketiadaan fitnah pada saat itu lebih nampak, karena hijab itu menghancurkan keinginan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ

“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.” (Q.S. Al-Ahzab: 32)

• Hijab itu pelindung

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

(إنَّ اللهَ حَيِيٌّ سَتِيرٌ يُحِبُّ الحَيَاءَ وَالسِّتْرَ)

“Sesungguhnya Allah itu Malu dan Melindungi serta Menyukai rasa malu dan perlindungan”

Sabda beliau yang lain:

(( أيَّمَا اِمْرَأَةٍ نَزَعَتْ ثِيَابَهَا في غَيْرِ بَيْتِهَا خَرَقَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهَا سِتْرَهُ))

 

“Siapa saja di antara wanita yang melepaskan pakaiannya di selain rumahnya, maka Allah Azza wa Jalla telah mengoyak perlindungan rumah itu dari padanya.”

Jadi balasannya setimpal dengan perbuatannya.

• Hijab itu taqwa

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ياَ بَنِي آدَمَ قَدْ أنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْءَاتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ

“Hai anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik.” (Q.S. Al-A’raaf: 26)

• Hijab itu iman

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berfirman kecuali kepada wanita-wanita beriman: “Dan katakanlah kepada wanita yang beriman.” (Q.S. An-Nur: 31). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: “Dan istri-istri orang beriman.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Dan ketika wanita-wanita dari Bani Tamim menemui Ummul Mu’minin, Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan pakaian tipis, beliau berkata: “Jika kalian wanita-wanita beriman, maka (ketahuilah) bahwa ini bukanlah pakaian wanita-wanita beriman, dan jika kalian bukan wanita beriman, maka silahkan nikmati pakaian itu.”

• Hijab itu haya’ (rasa malu)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

((إنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَإنَّ خُلُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاءُ))

“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.”

Sabda beliau yang lain:

“Malu itu adalah bagian dari iman dan iman itu di surga.”

Sabda Rasul yang lain:

((الحَيَاءُ وَالإيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا ، فَإنْ رُفِعَ أحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَرُ))

“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan terangkat.”

• Hijab itu ghirah (perasaan cemburu)

Hijab itu selaras dengan perasaan cemburu yang merupakan fitrah seorang laki-laki sempurna yang tidak senang dengan pandangan-pandangan khianat yang tertuju kepada istri dan anak wanitanya. Berapa banyak peperangan terjadi pada masa Jahiliyah dan masa Islam akibat cemburu atas seorang wanita dan untuk menjaga kehormatannya. Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa wanita-wanita kalian berdesak-desakan dengan laki-laki kafir orang ‘ajam (non Arab) di pasar-pasar, tidakkah kalian merasa cemburu? Sesungguhnya tidak ada kebaikan pada seseorang yang tidak memiliki perasaan cemburu.”

Beberapa syarat hijab yang harus terpenuhi:

1.    Menutupi seluruh anggota tubuh wanita -berdasarkan pendapat yang paling rajih / terang
2.    Hijab itu sendiri pada dasarnya bukan perhiasan.
3.    Tebal dan tidak tipis atau trasparan.
4.    Longgar dan tidak sempit atau ketat.
5.    Tidak memakai wangi-wangian yang mencolok.
6.    Tidak menyerupai pakaian wanita-wanita kafir.
7.    Tidak menyerupai pakaian laki-laki.
8.    Tidak bermaksud memamerkannya kepada orang-orang.

Jangan berhias terlalu berlebihan

Bila anda memperhatikan syarat-syarat tersebut di atas akan nampak bagi anda bahwa banyak di antara wanita-wanita sekarang ini yang menamakan diri sebagai wanita berjilbab, padahal pada hakekatnya mereka belum berjilbab. Mereka tidak menamakan jilbab dengan nama yang sebenarnya. Mereka menamakan tabarruj sebagai hijab dan menamakan maksiat sebagai ketaatan.

Musuh-musuh kebangkitan Islam berusaha dengan sekuat tenaga menggelincirkan wanita itu, lalu Allah menggagalkan tipu daya mereka dan meneguhkan orang-orang Mu’min di atas ketaatan kepada Tuhannya. Mereka memanfaatkan wanita itu dengan cara-cara kotor untuk memalingkannya dari jalan Tuhan dengan memproduksi jilbab dalam berbagai bentuk dan menamakannya sebagai “jalan tengah” yang dengan itu ia akan mendapatkan ridha Tuhannya -sebagaimana pengakuan mereka- dan pada saat yang sama ia dapat beradaptasi dengan lingkungannya dan tetap menjaga kecantikannya.

Kami dengar dan kami taat

Seorang muslim yang jujur akan menerima perintah Tuhannya dan segera menerjemahkannya dalam amal nyata, karena cinta dan perhomatannya terhadap Islam, bangga dengan syariat-Nya, mendengar dan taat kepada sunnah nabi-Nya dan tidak peduli dengan keadaan orang-orang sesat yang berpaling dari kenyataan yang sebenarnya, serta lalai akan tempat kembali yang ia nantikan. Allah menafikan keimanan orang yang berpaling dari ketaatan kepada-Nya dan kepada rasul-Nya:

وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرْيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَمَا أُولَئِكَ بِالمُؤْمِنِينَ (47) وَإذَا دُعُوا إلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ (48)

“Dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami menaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.” (Q.S. An-Nur: 47-48)

Firman Allah yang lain:

إنَّمَا كاَنَ قَوْلَ المُؤْمِنِينَ إذَا دُعُوا إلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ المُفْلِحُونَ (51) وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللهَ وَيَتَّقِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الفَائِزُونَ (52)

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (Q.S. An-Nur: 51-52)

Dari Shofiyah binti Syaibah berkata: “Ketika kami bersama Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata: “Saya teringat akan wanita-wanita Quraisy dan keutamaan mereka.” Aisyah berkata: “Sesungguhnya wanita-wanita Quraisy memiliki keutamaan, dan demi Allah, saya tidak melihat wanita yang lebih percaya kepada kitab Allah dan lebih meyakini ayat-ayat-Nya melebihi wanita-wanita Anshor. Ketika turun kepada mereka ayat:

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” (Q.S. An-Nur: 31)

Maka para suami segera mendatangi istri-istri mereka dan membacakan apa yang diturunkan Allah kepada mereka. Mereka membacakan ayat itu kepada istri, anak wanita, saudara wanita dan kaum kerabatnya. Dan tidak seorangpun di antara wanita itu kecuali segera berdiri mengambil kain gorden (tirai) dan menutupi kepala dan wajahnya, karena percaya dan iman kepada apa yang diturunkan Allah dalam kitab-Nya. Sehingga mereka (berjalan) di belakang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dengan kain penutup seakan-akan di atas kepalanya terdapat burung gagak.”

(Dinukil dari kitab : الحجاب Al Hijab. Penebit: Darul Qosim دار القاسم للنشر والتوزيع P.O. Box 6373 Riyadh 11442)