21 Mei

Hari itu Hari Kamis, empatbelas tahun yang lalu, sosok yang senyumnya bisa mengharubirukan Indonesia harus menyerah. Soeharto, penguasa terlama yang bertahta di Nusantara modern, harus tunduk pada kemauan Sang Maha Kuasa. Ia harus menanggalkan kekuasaan mutlak berselimut “demokrasi Pancasila” melalui tekanan aksi massa di mana-mana mengiringi ambruknya ekonomi dan keuangan negeri.

Soeharto

Peristiwa hari Kamis itu mengakhiri sebuah era panjang penindasan. Memulai era baru penuh perubahan dan euforia politik. Bayangkan, UUD 1945 yang tadinya dikeramatkan -tak boleh diutak-utik seolah kitab suci dari langit- kini telah empat kali diamandemen. Pancasila, 32 tahun diposisikan sebagai “sumber dari segala sumber hukum,” 13 tahun dipaksakan menjadi asas tunggal seluruh perkumpulan, tiba-tiba dipinggirkan jauh-jauh.

Era baru ini membuat perjuangan sebagian gerakan Islam seolah mencapai garis finish. Mereka yang masuk bui karena menolak asas tunggal dibebaskan. Sebagian tahanan politik Islam bahkan bisa duduk di DPR, menjadi legislator mewarnai hiruk-pikuk pembuatan undang-undang. Mereka yang biasa kucing-kucingan dengan intelijen Orde Baru untuk menggelar halaqah dan daurah, tiba-tiba saja bisa menggelar rapat publik terbuka. Juga memasang plang gerakan (dengan embel-embel “partai” tentu saja) di depan rumah kontrakan yang biasa diamati sebagai sarang “ekstrem kanan.”

Tapi ada juga yang berubah. Lawan perjuangan gerakan Islam menjadi kabur. Mereka yang tadinya disebut “thaghut” dalam halaqah dan daurah,kini menjadi “mitra koalisi.” Padahal, nyaris tak ada yang berubah dari para thaghut itu, tetap sekuler, menolak syari’at Islam dan menafikan negara Islam. Mereka hanya lebih ramah dan tak langsung main gebuk seperti Orde Baru.

Di sisi lain, harakah Islam yang istiqamah juga mengalami perubahan. Dari disebut radikal dan ekstrem, menjadi disebut “teroris.” Lalu rejim baru, yang juga berkoalisi dengan “harakah” Islam, memburu para teroris itu dengan biaya yang dikucurkan oleh Amerika dan sekutu Baratnya. Sejarah pun terulang, bak era 1950-an ketika Masyumi menjadi penguasa dan berkoalisi dengan partai-partai sekuler. Sementara harakah yang bersikeras ingin menegakkan daulah Islam disemati cap “pemberontak.”

Betapa aneh dan ganjil, aqidah sama, tujuan pun sama. Namun perbedaan manhaj dan metode membuat jalan yang dilalui begitu berbeda. Betapa ajaib lika-liku perjalanan taqdir manusia, kejatuhan seorang penguasa bisa menjadi pintu perubahan yang luar biasa. Pantas saja kejatuhan berturut-turut hampir semua penguasa di Timur Tengah membuka celah peluang yang sangat menggoda.

Namun peluang perubahan itu masih sama nilainya. Shahwah Islamiyah bisa mengambil posisi di negeri-negeri Muslim. Namun bisa juga peluang itu menjadi pintu berubahnya harakah Islam menjadi zombie-zombie demokrasi yang hina. Reformasi ataupun revolusi, sebagai akibat jatuhnya para tiran dan thaghut, hanyalah layar kosong babak baru yang masih perlu diberi warna. Sudah siapkah kuas dan cat Anda? *(Ibnu)

Disalin dari Majalah Islam An Najah edisi 80, no. 08/VII/ Mei 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: