Biar sejarah yang bicara ......

imam-bonjol Apabila diteliti masa Perang Padri di daerah Sumatera Barat dalam abad ke-19 dapat digolongkan kepada beberapa priode, yaitu:

(a) Periode 1809 – 1821
Periode ini adalah merupakan pembersihan yang ditakukan oleh kaum Padri terhadap golongan penghulu adat yang dianggap menyimpang dan bertentangan dengan syari’at Islam. Dalam masa ini terjadilah pertempuran antara kaum Padri melawan golongan penghulu adat.

(b) Periode 1821 – 1832
Priode ini adalah merupakan pertempuran antara kaum Padri dengan Belanda-Kristen yang dibantu sepenuhnya oleh golongan penghulu adat. Dalam masa ini sifat pertempuran telah berubah antara penguasa kolonial Belanda-Kristen yang mau menjajah Sumatera Barat yang dibantu oleh para penguasa bangsa sendiri yang berkolaborasi untuk mempertahankan eksistensinya sebagai penguasa yang ditentang secara gigih oleh kaum Padri.

View original post 1,076 more words

Ikhtilaf ‘Ulama : Sebab dan Sikap Kita Terhadapnya

Segala puji bagi Allah ta’ala yang telah memberikan kepada kita nikmat iman dan islam serta kesehatan, karunia yang tiada taranya yang telah diberikan-Nya kepada kita sebagai hamba-Nya. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada manusia terbaik sepanjang zaman dan penutup para nabi dan rasul, Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang telah membawa manusia dari alam jahiliyah kepada masa yang terang benderang yang penuh dengan iman dan ilmu pengetahuan, juga kepada para keluarga, sahabat, dan orang-orang yang tetap istiqamah menegakkan risalah yang dibawanya hingga akhir jaman.

Pelangi : Indah karena perbedaan

Salah satu karunia Allah ta’ala yang diberikannya kepada umat Islam adalah tidak adanya perbedaan bahwa sumber utama dalam hukum dan sikap hidup kita adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam wafat, Allah ta’ala telah menyempurnakan ajaran agama ini, seperti disebutkan dalam firman-Nya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu” [QS. Al-Maidah : 3].

Demikian pula dengan sunnah, tidak ada satu sisi pun, baik yang berhubungan dengan syari’at atau pun dalam kehidupan sehari-hari, kecuali telah disampaikan dan dicontohkan oleh beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sunnah.

Umat Islam di masa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (baca: sahabat) selalu kembali kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam setiap kali terjadi perbedapat pendapat atau perselisihan di antara mereka. Setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, sirnalah perselisihan dan perbedaan di antara mereka. Atau terjadi kasus yang cukup rumit, sehingga Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdiam diri menunggu turunnya Al-Qur`an, namun setelah turunnya Al-Qur`an yang menjelaskan realita dan hukumnya, sirnalah segala persoalan yang mengganjal mereka. Seperti kasus ‘berita bohong’ (hadits ifk) yang dialamatkan kepada ‘Aisyah radliyallahu ‘anha dan juga penyebab turunnya ayat tentang li’an dalam surah An-Nuur yang dialami salah seorang sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Hilal bin Umayyah radliyallaahu ‘anhu, salah satu dari tiga orang yang Allah ta’ala menerima taubatnya ketika ketinggalan dalam perang Tabuk pada tahun ke sembilan Hijriyah.

Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah meninggal dunia, mulailah terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama, tetapi bukan persoalan yang menyangkut aqidah atau prinsip dalam Islam. Kita yakin bahwa para ulama tidak mungkin meyakini suatu hukum syari’at atau memberikan fatwa kecuali yang sesuai dengan tuntutan Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, namun sebagai manusia biasa yang tidak ma’shum, mungkin saja seseorang keliru dalam memahami kandungan yang terdapat al-Qur`an dan sunnah, tanpa bermaksud menyalahi apalagi menentang atau berpaling dari keduanya.

Berikut ini adalah beberapa sebab terjadinya perbedaan pendapat di kalangan para ulama, yang di antaranya adalah:

1.     Nash atau dalil dalam suatu masalah tidak sampai kepada seseorang yang keliru dalam mengambil suatu keputusan atau memberikan fatwa. Kasus seperti ini bukan hanya terjadi di masa sekarang, bahkan pernah terjadi beberapa kali di masa sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa di masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab radliyallaahu ‘anhu, setelah Palestina di kuasai kaum muslimin, Khalifah Umar radliyallaahu ‘anhu melakukan perjalanan menuju Palestina bersama satu rombongan dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Ketika di tengah perjalanan, terdengarlah kabar bahwa di negeri Syam tengah dilanda wabah yang sangat berbahaya serta telah banyak menelan korban jiwa.[1] Mendengar berita itu, Umar radliyallaahu ‘anhu menahan perjalanan dan bermusyawarah dengan para pembesar dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Terjadilah perbedaan pendapat di antara mereka dalam masalah, apakah mereka meneruskan perjalanan atau kembali ke Madinah? Yang berpendapat untuk kembali ke Madinah memberikan argumentasi bahwa masuknya mereka ke kota itu akan membawa mereka kepada kematian, karena wabah itu sangat berbahaya. Sedangkan pendapat kedua memberikan hujjah bahwa semua yang terjadi tidak pernah terlepas dari qadla dan qadar Allah ta’ala. Semua itu telah tercatat di Lauhul Mahfuzh. Pada saat itulah Abdurrahman bin ‘Auf radliyallaahu ‘anhu datang dan berkata : “Sesungguhnya saya mempunyai pengetahuan tentang hal ini, saya pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فِى أَرْضٍ فَلاَ تَقْدُمُوْا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ فِيْهَا فَلاَ تَخْرُجُوْا فِرَارًا مِنْهُ.

Apabila kalian mendengar berita tentangnya (penyakit tha’un) di suatu negeri, maka janganlah kamu memasukinya. Dan ketika wabah penyakit itu tengah terjadi, sedang kamu berada di sana, maka janganlah keluar (pergi meninggalkan negeri itu) karena lari dari penyakit tersebut.”[2]

Setelah mendengar hadits tersebut, semuanya tunduk dan patuh terhadap sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan kembali ke kota Madinah.

Demikian pula yang sering terjadi di masa sekarang, sering kita dengar perbedaan pendapat di kalangan para ulama, dan salah satu penyebab yang dominan adalah tidak sampainya nash atau dalil kepada orang yang keliru dalam mengambil suatu keputusan hukum, di samping adanya sebab-sebab yang lain tentunya. Wallahu A’lam.

2.     Hadits (dalil) telah sampai kepada seseorang yang kebetulan keliru dalam mengambil suatu keputusan, namun ia kurang percaya kepada pembawa berita atau yang meriwayatkan hadits. Misalnya, imam Fulan mengatakan bahwa hadits ini shahih, sedangkan imam yang lain berpandangan bahwa hadits tersebut dla’if (lemah). Seperti imam Nawawi rahimahullah berkeyakinan  bahwa hadits tentang qunut dalam shalat subuh adalah shahih, seperti yang dia tekankan dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab. Sementara itu, mayoritas ulama hadits dari masa ke masa meyakini bahwa hadits itu dla’if dan tidak bisa dijadikan sebagai sumber hukum syari’at. Ini hanyalah sebuah contoh, masih banyak contoh lain yang serupa, namun kita cukupkan dengan satu contoh itu. Hal ini juga pernah terjadi di masa khalifah Umar bin al-Khaththab t, ketika beliau menolak riwayat Fathimah binti Qais radliyallahu ‘anha bahwa perempuan yang telah dicerai yang ketiga kalinya oleh suaminya, perempuan itu tidak berhak lagi mendapatkan hak terhadap nafkah dan tempat tinggal dari suaminya. Khalifah Umar radliyallaahu ‘anhu menolak riwayat itu karena kurang percaya terhadap orang yang meriwayatkan hadits tersebut. Wallahu A’lam.

3.     Dalil (hadits) telah sampai kepada orang tersebut, namun ia keliru dalam memahaminya. Contoh perbedaan seperti ini pernah terjadi di zaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bahkan pada masa hidup Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Peritistiwa itu bermula ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam baru selesai perang Ahzab pada tahun ke lima Hijriyah dan meletakkan peralatan perang. Pada saat itu, datanglah malaikat Jibril ‘alaihis-salaam dan berkata : “Berangkatlah menuju perkampungan Bani Quraizhah”. Maka saat itu juga Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada para sahabat agar segera berangkat menuju perkampungan mereka dan bersabda:

لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ إِلاَّ فِى بَنِي قُرَيْظَةَ

Janganlah seseorang shalat Ashar kecuali di (perkampungan) Bani Quraizhah.” [Muttafaqun ‘alaih][3]

Para sahabat berbeda pendapat dalam memahami nash hadits ini. Sebagian mereka memahami bahwa yang dimaksud Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah agar mereka segera berangkat, sehingga sampai di perkampungan Bani Quraizhah sebelum shalat ‘Ashar. Karena itulah, ketika tiba waktu shalat ‘Ashar, sedangkan mereka masih berada di tengah perjalanan, mereka tetap melaksanakan shalat ‘ashar dan tidak menta’khirkannya hingga sampai di perkampungan Bani Quraizhah. Sedangkan yang lain memahami bahwa yang dimaksud Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah agar mereka jangan melaksanakan shalat ‘Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah. Sehingga ketika tiba waktu shalat ‘Ashar, sedangkan mereka masih berada di tengah perjalanan, mereka tidak langsung melaksanakan shalat ‘ashar dan menundanya hingga sampai di perkampungan Bani Quraizhah. Ketika hal itu disampaikan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak memberikan komentar apa-apa, dan tidak mencela kelompok yang manapun. Tidak diragukan lagi, bahwa yang benar adalah yang melakukan shalat dalam waktunya dan tidak menundanya hingga keluar dari waktunya, karena kewajiban melaksanakan shalat dalam waktunya adalah dengan dalil yang jelas, sedangkan dalil (hadits) ini masih mengandung beberapa penafsiran.

Kemungkinan besar, inilah penyebab paling dominan yang melatar belakangi terjadinya perbedaan di kalangan para ulama dalam persoalan far’iyah (cabang), namun bukan yang menyangkut persoalan prinsif di dalam syari’at Islam. Hadits-hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah dibukukan dalam kitab-kitab hadits, baik dalam kitab Shahih, Sunan, Masanid, ataupun Ma’ajim. Namun pemahaman setiap orang, seringkali berbeda satu sama lain. Wallahu A’lam.

4.     Dalil telah sampai kepadanya tapi sudah dinasakh, namun ia tidak mengetahui dalil yang menasakhnya. Dalam kasus seperti ini, orang yang tidak mengetahui adanya nasakh dimaafkan, karena asal suatu masalah adalah tidak adanya nasakh, sampai diketahui dalil yang menasakhnya. Termasuk dalam sebab ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu tentang meletakkan kedua tangan ketika ruku’. Di permulaan Islam, disyari’atkan bagi orang yang shalat menutup kedua tangan dan meletakkannya di antara kedua lutut ketika ruku’. Hukum ini kemudian dinasakh dengan meletakkan dua telapak tangan pada dua lutut. Al-Bukhari telah meriwayatkan tentang hal ini di dalam Shahih-nya. Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu tidak mengetahui tentang hal ini dan tetap melaksanakan shalat seperti pada masa di awal Islam. Ketika Al-Alqamah dan Al-Aswad shalat di sampingnya dan meletakkan kedua tangan pada kedua lutut, Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu menegur keduanya. Kenapa? Karena ia tidak mengetahui adanya nashakh. Seseorang tentu tidak diberikan beban di luar batas kemampuannya. Wallahu A’lam.

5.     Hadits (dalil) telah sampai kepadanya, namun ia lupa terhadap dalil tersebut. Sudah menjadi sunnatullah, bahwa lupa adalah bagian dari fitrah kita sebagai manusia biasa. Banyak orang yang telah hapal sekian banyak hadits-hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, namun kemudian ia lupa. Ini merupakan salah satu penyebab terjadinya terjadi perbedaan pendapat, walau dalam porsi yang tidak terlalu besar.

Bagaimana sikap kita terhadap perbedaan pendapat ini?

Kalau kita menemukan perbedaan seperti yang telah disebutkan di atas, siapakah yang harus kita ikuti? Apakah kita akan mengikuti seorang imam dan tidak pernah keluar dari pendapatnya, walau pun kebenaran ada pada pendapat yang lain? Ataukah kita mengikuti pendapat yang lebih kuat sesuai dengan dalil-dalil yang ada, walau berbeda pendapat dengan imam yang kita ikuti?

Jawaban yang benar adalah yang kedua, karena wajib bagi yang mengetahui dalil yang shahih untuk mengikutinya, walau berbeda pendapat dengan para imam. Karena mereka adalah manusia yang mungkin saja keliru dalam memberikan fatwa atau mengambil kesimpulan dalam suatu hukum. Siapapun yang meyakini bahwa ada seseorang selain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang harus diambil pendapatnya setiap waktu dan keadaan, berarti dia meyakini bahwa selain beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam ada yang memiliki keistimewaan risalah atau ada yang ma’shum (dipelihara dari dosa dan kesalahan). Padahal tidak ada seorang pun yang memiliki keistimewaan seperti ini selain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan setiap orang bisa diterima pendapatnya atau ditolak kecuali yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan sanad yang shahih. Wallahu A’lam.

Dikutip dari “Kitab al-Ilmi” karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah.

 

[1]      Dalam sejarah Islam disebut dengan wabah ‘Tha’un Amwas’. Wabah ini telah menelan korban sekitar 25.000 jiwa, termasuk di antaranya adalah panglima besar Abu Ubaidah Amir bin al-Jarrah radliyallaahu ‘anhu dan Mu’adz bin Jabal radliyallaahu ‘anhu.

[2]      HR. Al-Bukhari no. 5729 dan Muslim no. 2219

[3]      HR. al-Bukhari no. 946 dan Muslim no. 1770.

Lisan

Dikisahkan bahwa terdapat seorang Raja yang memiliki pelayan penuh hikmah. Pada suatu hari ia memerintahkan pelayannya untuk membeli bagian terbaik dari kambing untuk menunya kali ini. Maka pelayan tersebut membelikan lidah kambing.

Lebih baik diam

Kemudian, sang Raja kembali memerintahkan pelayannya untuk membeli bagian terburuk dari kambing, maka pelayan itu kembali dengan membawa lidah kambing.

Sang Raja terkejut dan bertanya kepada pelayannya, “Aku memerintahkanmu untuk membeli bagian terbaik dari kambing, engkau membawakanku lidahnya, dan aku memerintahkanmu untuk membeli bagian terburuk dari kambing, dan engkau pun kembali membawakanku lidahnya. Apa maksud dengan semua ini?”

Pelayan itu pun menjawab, “Lidah adalah bagian terbaik dari makhluq karena ia adalah kunci dari segala bentuk hikmah dan ilmu. Dan lidah adalah bagian terburuk dari makhluq karena ia adalah sumber segala bentuk kerusakan, asal dari berbagai keburukan, penyebab kedengkian dan hasad, serta menjadi penyebab dari peperangan yang terjadi di kalangan para raja dan penguasa.”[1]

Sang Raja begitu takjub mendengar penjelasan dari pelayannya tersebut, tak terasa meleleh butiran air mata membasahi pipinya. Dari pelayannya ia belajar, bahwa lidah, bila digunakan oleh manusia di atas jalan kebaikan, hasilnya pun berupa kebaikan. Sedangkan bila lidah digunakan di atas jalan keburukan, hasilnya pun berupa keburukan.

Karenanya, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam…” (Muttafaqun ‘Alayh)

Sudah sepatutnya kita belajar mengendalikan lisan kita. Sungguh, tidak ada senjata yang lebih tajam daripada lisan. Sehingga Al Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma lebih senang dicela oleh kebanyakan manusia karena banyak diam, daripada harus banyak berkata-kata untuk mendapatkan pujian. Saat ditanyakan kepadanya, mengapa ia lebih banyak diam, Al Hasan menjawab, “Sungguh aku mendapati lisanku bagaikan pedang, bila aku berbicara tentang sesuatu yang tidak memiliki manfaat di dalamnya, pedang itu menebasku…”

Ibnul Qayyim dalam Al Jawaabul Kaafi mengatakan, “Hendaknya seseorang tidak mengucapkan sepatah kata pun, kecuali kata-kata yang di dalamnya terdapat keuntungan dan manfaat bagi agamanya. Sebelum mengucapkan sesuatu, hendaklah memikirkan, apakah di dalamnya terdapat keuntungan dan manfaat atau tidak ada? Bila ternyata ucapan tersebut tidak memiliki keuntungan atau faidah, maka diamlah. Namun bila telah yakin bahwa ucapan tersebut bermanfaat, hendaklah ia kembali berpikir ulang, adakah kata-kata lain yang lebih bermanfaat dari ucapan tersebut? Bila ada, segera ganti dengan kata-kata yang lain itu.”[2]

Belajar diam merupakan bagian dari belajar mengekang hawa nafsu, karena kebanyakan kata yang terucap hanyalah berasal dari hawa nafsu belaka. Karenanya, para tabi’in tidak dengan serta merta banyak menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya, walaupun ia memiliki kapasitas keilmuan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Hal ini dilakukan sebagai upaya pengekangan terhadap hawa nafsu yang terus mendorong seseorang untuk berbicara.

Al Imam Abu Hanifah pernah berkata kepada salah seorang muridnya, Daud Ath Tha’i, “Wahai Abu Sulaiman sesungguhnya perangkat ilmu telah aku berikan.” Daud berkata, “Lalu, apa lagi yang tersisa?” Abu Hanifah menjawab, “Tinggal mengamalkannya.”

Daud berkata, “Nafsuku mendorongku untuk keluar dari majlis beliau (Abu Hanifah) dan membuka majlis baru. Maka aku berkata kepada nafsuku, “Tidak. Hingga kamu tetap duduk bersama mereka dan tidak menjawab satu pertanyaan pun.”

Maka, ia pun tetap bersama mereka selama satu tahun sebelum membuka kajian sendiri. Ia berkata, “Banyak pertanyaan yang datang dan aku mengekang ambisiku untuk menjawab lebih dari hasrat seorang yang kehausan air, dan aku tetap tidak menjawabnya. Kemudian setelah itu aku menyendiri dari mereka untuk membuka kajian sendiri.”[3]

Lihatlah bagaimana salafush shalih senantiasa melawan keinginan hawa nafsunya untuk senantiasa mengucapkan kata-kata yang tidak bermanfaat. Bahkan, Abdullah bin Abi Zakaria telah meletakkan batu di dalam mulutnya untuk belajar diam.[4] Dan Abdullah melakukan hal tersebut selama 20 tahun, sampai ia bisa mengendalikannya![5]

Meninggalkan ucapan atau perbuatan yang tidak berguna merupakan tolok ukur baik tidaknya keislaman seseorang. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda :

Di antara ciri kebaikan keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah pun telah mengabarkan kepada kita bahwa kebanyakan manusia yang masuk neraka disebabkan oleh dua hal : lisan dan farj (kemaluan).[6] Karenanya tidak salah bila menikah merupakan separuh diin. Hal ini dikarenakan orang yang menikah telah menutup 1 dari dua pintu menuju neraka. Selanjutnya adalah tinggal bagaimana ia menutup pintu yang kedua: pintu lisan.

Menjaga lisan dari ucapan yang tidak berguna memang sulit. Begitu mudahnya kata-kata mengalir keluar, bahkan tanpa kita sadari. Padahal, sebagian ulama salaf telah menegaskan : “Tidak berguna seluruh ucapan anak Adam, kecuali dzikrullah.” [7] Sungguh, amat beruntung seorang yang telah berhasil menjaga lisannya. Karena hal tersebut menunjukkan kelurusan iman di dalam hatinya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, dari Anas bin Malik :

Tidak lurus iman seorang hamba hingga lurus hatinya,dan tidak lurus hati seorang hamba hingga lurus lisannya.” (HR. Ahmad)


[1] Lihat Silsilah Ta’limil Lughatil ‘Arabiyah; Al Qira’ah Mustawa Tsalits hal. 22-24

[2] Al Jawabul Kaafi : 171

[3] Hilyatul Aulia : 7/342

[4] Hilyatul Aulia : 5/125

[5] Shifatush Shafwah : 4/431

[6] Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari, Ahmad, dan Tirmidzi dari Abu Hurayrah.

[7] Al Jawabul Kafi : 170

21 Mei

Hari itu Hari Kamis, empatbelas tahun yang lalu, sosok yang senyumnya bisa mengharubirukan Indonesia harus menyerah. Soeharto, penguasa terlama yang bertahta di Nusantara modern, harus tunduk pada kemauan Sang Maha Kuasa. Ia harus menanggalkan kekuasaan mutlak berselimut “demokrasi Pancasila” melalui tekanan aksi massa di mana-mana mengiringi ambruknya ekonomi dan keuangan negeri.

Soeharto

Peristiwa hari Kamis itu mengakhiri sebuah era panjang penindasan. Memulai era baru penuh perubahan dan euforia politik. Bayangkan, UUD 1945 yang tadinya dikeramatkan -tak boleh diutak-utik seolah kitab suci dari langit- kini telah empat kali diamandemen. Pancasila, 32 tahun diposisikan sebagai “sumber dari segala sumber hukum,” 13 tahun dipaksakan menjadi asas tunggal seluruh perkumpulan, tiba-tiba dipinggirkan jauh-jauh.

Era baru ini membuat perjuangan sebagian gerakan Islam seolah mencapai garis finish. Mereka yang masuk bui karena menolak asas tunggal dibebaskan. Sebagian tahanan politik Islam bahkan bisa duduk di DPR, menjadi legislator mewarnai hiruk-pikuk pembuatan undang-undang. Mereka yang biasa kucing-kucingan dengan intelijen Orde Baru untuk menggelar halaqah dan daurah, tiba-tiba saja bisa menggelar rapat publik terbuka. Juga memasang plang gerakan (dengan embel-embel “partai” tentu saja) di depan rumah kontrakan yang biasa diamati sebagai sarang “ekstrem kanan.”

Tapi ada juga yang berubah. Lawan perjuangan gerakan Islam menjadi kabur. Mereka yang tadinya disebut “thaghut” dalam halaqah dan daurah,kini menjadi “mitra koalisi.” Padahal, nyaris tak ada yang berubah dari para thaghut itu, tetap sekuler, menolak syari’at Islam dan menafikan negara Islam. Mereka hanya lebih ramah dan tak langsung main gebuk seperti Orde Baru.

Di sisi lain, harakah Islam yang istiqamah juga mengalami perubahan. Dari disebut radikal dan ekstrem, menjadi disebut “teroris.” Lalu rejim baru, yang juga berkoalisi dengan “harakah” Islam, memburu para teroris itu dengan biaya yang dikucurkan oleh Amerika dan sekutu Baratnya. Sejarah pun terulang, bak era 1950-an ketika Masyumi menjadi penguasa dan berkoalisi dengan partai-partai sekuler. Sementara harakah yang bersikeras ingin menegakkan daulah Islam disemati cap “pemberontak.”

Betapa aneh dan ganjil, aqidah sama, tujuan pun sama. Namun perbedaan manhaj dan metode membuat jalan yang dilalui begitu berbeda. Betapa ajaib lika-liku perjalanan taqdir manusia, kejatuhan seorang penguasa bisa menjadi pintu perubahan yang luar biasa. Pantas saja kejatuhan berturut-turut hampir semua penguasa di Timur Tengah membuka celah peluang yang sangat menggoda.

Namun peluang perubahan itu masih sama nilainya. Shahwah Islamiyah bisa mengambil posisi di negeri-negeri Muslim. Namun bisa juga peluang itu menjadi pintu berubahnya harakah Islam menjadi zombie-zombie demokrasi yang hina. Reformasi ataupun revolusi, sebagai akibat jatuhnya para tiran dan thaghut, hanyalah layar kosong babak baru yang masih perlu diberi warna. Sudah siapkah kuas dan cat Anda? *(Ibnu)

Disalin dari Majalah Islam An Najah edisi 80, no. 08/VII/ Mei 2012

Fitnah Dajjal (bag. 2)

Mata Satu : Simbol Sistem Dajjal

  1. Siapa yang selamat dari fitnah sebelum fitnah Dajjal, maka ia selamat dari fitnah Dajjal

ذُكِرَ الدَّجَّالُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَأَنَا لَفِتْنَةُ بَعْضِكُمْ أَخْوَفُ عِنْدِي مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَلَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِمَّا قَبْلَهَا إِلَّا نَجَا مِنْهَا وَمَا صُنِعَتْ فِتْنَةٌ مُنْذُ كَانَتْ الدُّنْيَا صَغِيرَةٌ وَلَا كَبِيرَةٌ إِلَّا لِفِتْنَةِ الدَّجَّالِ

Suatu ketika ihwal Dajjal disebutkan di hadapan Rasulullah shallallahu ’alaih wa sallam kemudian beliau bersabda: ”Sungguh fitnah yang terjadi di antara kalian lebih aku takuti dari fitnah Dajjal, dan tiada seseorang yang dapat selamat dari rangkaian fitnah sebelum fitnah Dajjal melainkan akan selamat pula darinya (Dajjal), dan tiada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini –baik kecil ataupun besar- kecuali untuk fitnah Dajjal.”(HR. Ahmad 22215)

  1. Keluarnya Dajjal

لَا يَخْرُجُ الدَّجَّالُ حَتَّى يَذْهَلَ النَّاسُ عَنْ ذِكْرِهِ وَحَتَّى تَتْرُكَ الْأَئِمَّةُ ذِكْرَهُ عَلَى الْمَنَابِرِ

Dajjal tidak akan muncul sehingga sekalian manusia telah lupa untuk mengingatnya dan sehingga para Imam tidak lagi menyebut-nyebutnya di atas mimbar-mimbar.”(HR. Ahmad 16073)

Yahudi Isfahan Terlihat Beda dengan Tayalisahnya

Dan dalam Hadits Tamim Ad Dari, kita mendapatkan beberapa simpulan mengenai waktu keluarnya Dajjal:

    1. Diutusnya Nabi terakhir,

    2. Kurma Baisan tidak lagi berbuah,

    3. Mengeringnya Danau Thabariyah/ Tiberias/ Galilee/ Galilea/ Kinnerot,

    4. Mengeringnya ‘Ain Zughar.

    5. Lalu Rasulullah menunjuk arah timur sebagai arah keluar Dajjal.

Tentara Yahudi Mengenakan Tayalisah

Adapun dalam bahasan sebelumnya, dapat kita pahami bersama bahwa Dajjal keluar setelah beberapa fase berikut:

  1. Dibai’atnya Al Imam Al Mahdi,

  2. Penaklukan Jazirah Arab oleh Al Imam Al Mahdi,

  3. Penaklukan Hind dan Sind oleh pasukan berpanji hitam,

  4. Penaklukan Syam,

  5. Penaklukan Persia,

  6. Al Malhamah Al Kubra (Armageddon), dan

  7. Penaklukan Konstantinopel. Setelah ditaklukan, maka setan berteriak mengabarkan kemunculan Dajjal, namun ini adalah kabar palsu, baru setelah kaum muslimin berkumpul di Baitul Maqdis, maka Dajjal benar-benar telah keluar bersama 70.000 orang Yahudi dari Isfahan (Asbahan), sekitar wilayah Khurasan (sekarang termasuk ke dalam wilayah Negara Syi’ah Iran).

Tayalisah khas Yahudi

عن معاذ بن جبل قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الملحمة الكبرى وفتحُ القسطنطينية وخروجُ الدجال في سبعة أشهر . روه أبو داود

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : Al Malhamah Al Kubra, penaklukan Konstantinopel dan keluarnya Dajjal terjadi selama tujuh bulan.(HR Abu Dawud)

Khamaini pun mengenakan Tayalisah

عن عبد الله بن بسر أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : بَيْنَ الملحمة وفتح المدينة ستّ سنين ويخرج الدجال في السابعة . روه الإِمام أحمد

Dari Abdullah bin Bisri, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : Rentang waktu antara Al Malhamah Al Kubra dan penaklukan Madinah (Konstantinopel) adalah enam tahun dan pada tahun ke tujuh, Dajjal akan keluar.(HR Imam Ahmad)

عَنْ أنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رسولُ اللهِ صلّى اللهُ عليْهِ وسلّم : يَخْرُجُ الدَّجَّالُ مِنْ يَهُوْدِيَّةِ أصْبَهَانَ مَعَهُ سَبْعُوْنَ ألْفًا مِنَ الْيَهُوْد عَلَيْهِمْ السِّيْجَانُ . رواه الإمام أحمد

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : Dajjal keluar di Al Yahudiyah (perkampungan orang-orang Yahudi) di Asfahan dan bersamanya 70.000 orang-orang Yahudi yang mengenakan As Siijaan. (HR Ahmad)

و عنه : أنّ رَسُوْلَ اللهِ صلّى الله عليْهِ وسلّمَ قال يُتّبع الدّجّال مِن يهودِ أصبهان سبْعون ألْفًا عَلَيْهِمْ الطيالِسة . رواه مسلم

Dan juga dari Anas, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : Dajjal akan diikuti oleh 70.000 orang Yahudi Asfahan yang mereka semua mengenakan Ath Thayaalisah.(HR Muslim)

  1. Di antara Fitnah Dajjal

    1. Menipu umat manusia,

Telah dijelaskan bahwa secara makna harfiah, Dajjal artinya “penipu ulung”. Di antara tipuannya adalah Dajjal membawa air (sungai) dan api –dalam riwayat yang lain syurga dan neraka-. Apa yang tampak seperti air di sisi Dajjal, sesungguhnya itu adalah api, dan sebaliknya apa yang tampak seperti api di sisi Dajjal maka itulah air/ sungai yang sebenarnya.

Baphomet : Salah Satu Gambaran Iblis, Setan yang disembah pasukan Dajjal

Sistem Dajjal : Sistem penuh tipuan. Apa yang tampak sama sekali tidak menunjukkan fakta dan realita.

Pendidikan -> Pembodohan

Kesehatan -> Racun dan pembunuhan

Berita dan informasi -> Doktrin sesat dan menyesatkan

Demokrasi -> Tirani dan diktatorisme

Musik dan Nyanyian -> Ritualisme penyembah setan

Tujuan dari sistem Dajjal adalah untuk membuat manusia sama seperti apa yang mereka inginkan. Hal ini ditujukan dalam rangka menyambut The New World Order (Tatanan Dunia Baru) yang dipimpin oleh Dajjal.

Jari Metal : Bagian dari Konspirasi Pasukan Dajjal

    1. Menghidupkan orang mati

قال نعيم بن حماد في كتاب الفتن عن ابن مسعود , قَالَ رسولُ اللهِ صلّى اللهُ عليْهِ وسلّم : فيتناول الدجال منهم رجلاً ثم يقول : هذا الذي يزعم أني لا أقدر عليه؟ فاقتلوه ، فينشر ثم يقول : أنا أحييه ، فيقول : قمٍ فيقوم بإذن الله ولا يأذن لنفس غيرها

Berkata Nu’aim bin Hammad dalam kitab Al Fitan, dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : Maka Dajjal menangkap salah seorang laki-laki di antara manusia, kemudian berkata : “Inikah orang yang mengatakan bahwa aku tidak bisa berbuat apa-apa terhadapnya? Bunuh ia!” Maka ia pun digergaji, kemudian Dajjal berkata, “Aku akan menghidupkannya”. Dajjal berkata, “Berdirilah!” Maka laki-laki itu pun berdiri dengan izin Allah dan Allah tidak mengizinkan untuk jiwa lain selain jiwa laki-laki tersebut.

فيقول : أليس قد أمتك ثم أحييتك؟ فيقول : الآن أزيد لك تكذيباً بشرني رسول الله صلى الله عليه وسلم أنك تقتلني ثم أحيا بإذن الله فيوضع على جلده صفائح من نحاس ثم يقول : اطرحوه في ناري ، فيحول الله ذلك على النذير .

Dajjal pun kembali berkata, “Bukankah aku telah mematikanmu kemudian aku menghidupkanmu?” Berkata laki-laki itu: “Sekarang aku semakin mendustakanmu. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah memberikan gambar gembira kepadaku bahwa engkau membunuhku kemudian aku hidup atas izin Allah.” Maka diletakkan lembaran-lembaran logam di atas kulitnya dan Dajjal berkata : “Lemparkan ia ke nerakaku, maka Allah mengubah bagi laki-laki pemberi peringatan tersebut menjadi kebun.”

Illuminaty : Pasukan Setia Dajjal

  1. Berlindung dari Fitnah Dajjal

وإِن من فتنته أن معه جنَّةً وناراً . فنارُه جَنّةٌ وَجَنَّتُهُ نار ، فمن ابْتُلِيَ بِنَارِهِ فَلْيَسْتَغثْ بِاللَّهِ وليقرأْ فَوَاتِحَ الكهْفَ فَتَكُونَ عَلَيْهِ بَرْداً وَسَلاماً كما كانت النارُ على إِبراهِيمَ . روه أبو عبد الله بن ماجه عن أبي أمامة الباهلي

Sesungguhnya di antara fitnah Dajjal adalah bahwa ia membawa Syurga dan Neraka. Nerakanya adalah Syurga dan Syurganya adalah Neraka. Siapa saja yang dilemparkan ke dalam nerakanya, maka minta tolonglah kepada Allah dan bacalah pembuka Surat Al Kahfi karena ia akan menjadi penyejuk dan penyelamat sebagaimana dahulu Api menjadi dingin atas Nabi Ibrahim. (HR Ibnu Majah dari Abu Umamah Al Bahali)

عن أبي الدرداء يرويه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : من حَفِظَ عَشْر آياتٍ من سُورةِ الكَهْفِ عصِمَ مِن فتنةِ الدجَّالِ . روه أبو داود

Dari Abu Ad Darda`, ia telah meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, beliau bersabda : Siapa yang menghafal sepuluh ayat dari Surat Al Kahfi maka ia selamat dari fitnah Dajjal. (HR Abu Dawud)

Al Kahfi

Dan disunnahkan membaca doa berikut sebelum salam dalam setiap shalat:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa jahannam dan siksa kubur, dan fitnah kehidupan dan kematian, serta keburukan fitnah Masihid Dajjal.”(HR. Muslim 924)

Salah Satu Lambang Pemuja Setan

Fitnah Dajjal (bag. 1)

Sistem Dajjal : Piramida dan Mata Satu

1.       Fitnah Terbesar dan Terberat yang Melanda Ummat Manusia adalah Fitnah Dajjal

روى أحمد عن هشام بن عامر لجيرانه : إنكم لتخلفوني إلى رجال ما كانوا بأخصّ لرسول الله صلى الله عليه وسلم ولا أوعى لحديثه مني ، فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ” ما بين خلق آدم عليه السلام إلى قيام الساعة أمر أكبر من الدجال. و روه مسلم

Diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal dari Hisyam bin ‘Amir, bahwa ia berkata kepada tetangga-tetangganya, “Sesungguhnya kalian membawa aku kepada orang-orang yang mereka tidak lebih tahu akan Rasulullah shallallahu’ alayhi wa sallam dan tidak mengingat hadits beliau daripada aku. Sesungguhnya aku mendengar beliau bersabda : “Di antara penciptaan Adam dan terjadinya Kiamat tidak ada fitnah yang lebih besar daripada Dajjal.” Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim.

Bagi kita yang telah sedikit banyak mengetahui berbagai macam fitnah yang terjadi menjelang hari kiamat, begitu dahsyatnya fitnah-fitnah tersebut menghantam ummat Islam. Sebutlah fitnah duhaima’, Ahlas, dan Sarra’ yang gelombangnya seperti gelombang samudera, menghantam setiap manusia tidak peduli di manapun ia berada. Atau fitnah harj, di mana jiwa tidak lagi bernilai harganya, orang-orang saling membunuh tanpa tahu alasan mengapa ia membunuh dan mengapa ia terbunuh.

Namun, fitnah Dajjal lebih besar dari itu, lebih berat dari itu, dan lebih dahsyat menghantam setiap manusia lebih dari semua fitnah yang pernah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Untuk itu, sepatutnya bagi kita untuk mengetahui apa dan bagaimana fitnah Dajjal agar kita tidak terjerumus ke dalam fitnahnya yang mengerikan ini.

 2.       Dajjal adalah Makhluq dalam Wujud Seorang Manusia

روى البخاري ، عن أحمد بن محمد المكي ، عن إبراهيم بن سعد ، عن الزهري ، عن سالم
عن أبيه قال : لا والله ما قال رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) لعيسى أحمر ، ولكن قال : ( بَيْنَمَا أنا نائمِ أطوف بالكعبة وإذا رجل آدَمُ سَبْطُ الشّعرِ يُهَوِّدُ بين رجلين يَنْطِف رأسهُ ماءً أو يُهْرِق ماء فقلت : من هذا؟ قالوا : هذا المسيح ابْنُ مَريمْ ، فَذَهبت ألتفت فإذا رجل أحمرُجسيمٌ جَعْدُ الرأس؟ أعوَرُ الْعَيْن اليمنى كأن عينه عنبة طافِيةٌ؟ قلت : مَن هَذا؟ قالوا : الدجالُ : وأقرب الناس به شبهاً ابْنُ قطن قال الزهري : ابن قطن رجل من خزاعة هلك في الجاهلية
.

Imam Al Bukhari meriwayatkan dari Ahmad bin Muhammad Al Makki dari Ibrahim bin Sa’d dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya, bahwa ia berkata : “Tidak, demi Allah, Rasulullah shallallahu’ alayhi wa sallam tidak berkata bahwa Nabi ‘Isa itu merah, akan tetapi beliau bersabda : “Ketika aku sedang tidur aku berthawaf di Ka’bah dan melihat seorang laki-laki Adam dengan rambut terjulur berjalan di antara dua orang laki-laki. Kepalanya meneteskan air atau mengalirkan air. Maka aku berkata : “Siapa ini?” Mereka berkata: “Ini adalah ‘Isa Al Masih bin Maryam.” Maka akupun menoleh dan melihat seorang laki-laki merah besar dengan rambut keriting, mata sebelah kanannya buta, seolah-olah matanya adalah buah anggur yang menggantung. Aku pun bertanya, “Siapa ini?” Mereka menjawab, “Dajjal.” Orang yang paling mirip dengannya adalah Ibnu Qathan.” Berkata Az Zuhri : Ibnu Qathan adalah seorang laki-laki dari Khaza’ah yang telah mati pada masa jahiliyyah.”[1]

Sebagian orang berpendapat bahwa Dajjal bukanlah makhluq atau wujud. Mereka berpendapat bahwa Dajjal sebatas “sistem” atau Fitnah yang bersifat ma’nawiyah saja. Padahal, kenyataannya dalam hadits-hadits yang shahih dinyatakan bahwa Dajjal merupakan wujud yang nyata, ia adalah salah seorang dari anak manusia yang hidup di atas muka bumi ini dengan ciri-ciri fisik tertentu. Diciptakan oleh Allah azza wa jalla dengan berbagai kemampuan yang dapat menipu manusia, bahkan keajaiban-keajaiban yang tidak diberikan kepada manusia sebelumnya.

Bukti yang paling kuat tentu saja hadits Tamim Ad Dari tentang perjalanannya ke sebuah pulau di sebelah Barat Jazirah, di mana ia bertemu langsung dengan Dajjal di sana.

 3.       Dajjal datang Sebagai Al Masih (Mesiah)

فلما قَضى رسول اللَّه ( صلى الله عليه وسلم ) صلاتَه جَلَسَ على المنبرِ وهو يَضْحَكُ فقالَ : لِيَلْزَمْ كل إِنسانٍ مُصلاهُ ثم قال : أتدرُونَ لِم جَمَعْتًكُمْ ؟ قالوا : اللَّهُ ورسولهُ أعلمُ : قال : إِني واللَّهِ ما جمعتكم لِرغبةٍ ولا لِرَهْبَة ، ولكن لأن تميماً الدَّارِي كان رجلاً نَصرانياً فجاءَ فبايع وأسلم ، وحدثني حديثاً وافق الذي كنت أحَدّثكم عن المسيح الدجالِ ، حدثني أنه ركب البحر في سفينة بحرية مع ثلاثين رجلاً من لَخْم وجُذَامَ ، فلعب بهم الموج شهراً في البحر ثم أرْسَوا إِلى جزيرة في البحر حيث تَغْرُبُ الشمسُ فجلسوا في أقرب السفينة فدخلوا الجزيرة

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam usai melakukan shalat, beliau duduk diatas mimbar sambil tersenyum seraya berkata, “Hendaklah tiap-tiap orang tetap berada di tempat sholatnya.” Kemudian beliau melanjutkan, “Tahukah kamu, mengapa saya kumpulkan kamu?.” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lah yang lebih mengerti.” Beliau bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku tidak mengumpulkan kalian karena senang atau benci. Aku kumpulkan kalian karena Tamim Ad Dari, seorang penganut Nasrani, telah berbaiat masuk Islam dan dia bercerita kepadaku tentang suatu masalah yang sesuai dengan apa yang pernah aku sampaikan kepada kalian mengenai Masih Ad Dajjal. Ia bercerita bahwa ia pernah naik perahu bersama tiga puluh orang yang terdiri atas orang-orang yang berpenyakit kulit dan lepra. Lalu mereka dihempas ombak selama sebulan di laut, kemudian mereka mencari perlindungan ke sebuah pulau di tengah lautan hingga sampai di daerah terbenamnya matahari.

Laut Mediteran berada di Barat Laut Jazirah Arab atau sebelah Tenggara Eropa

Daerah terbenamnya matahari berarti di sebelah Barat. Dan bila kita perhatikan, lautan di sebelah Barat Jazirah Arab hanya ada dua, yaitu Laut Merah dan Laut Mediterrania. Bila kita berkata bahwa Tamim ad Dari melakukan perjalanan tersebut di Laut Merah, maka pernyataan ini tidak masuk akal, karena Laut Merah merupakan laut yang sempit dan tenang, sehingga dari sudut pandang ilmiah, tidak mungkin sebuah perahu layar terombang-ambing selama sebulan di laut tersebut. Maka, kemungkinan terbesar hanya pada Laut Mediterrania. Artinya, Tamim Ad Dari melakukan pendaratan di pulau-pulau yang berada di sebelah barat Jazirah Arab yang berbatasan langsung dengan Laut Mediterania. Karena itu, pulau yang dimaksud adalah Eropa atau sebagian dari Eropa.

فَلَقيَهُمْ شَيْءُ أهْلَبُ كَثِيرُ الشَّعْرِ لاَ يدْرُونَ مَا قُبُلُه مِن دُبُرِهِ مِنْ كِثْرَةِ الشَّعْرِ ، فَقَالُوا : وَيْلَكَ مَا أنْتَ ؟ قال : أنا الجَسَّاسَةُ . قالوا : وما الجَسَّاسَةُ ؟ قالت : أيها القوم انطلقوا إِلى هذا الرجل بالدَّيْر فإِنه إِلى خَبَرِكُم بِالأشواق قال : فلما سَمّتْ لَنَا رجلاً فَرقْنَا منها أَن تكون شيطانة .

Lantas mereka menggunakan sampan kecil dan memasuki pulau tersebut. Di sana mereka berjumpa dengan seekor binatang yang bulunya sangat lebathingga tidak kelihatan mana bagian depannya dan mana bagian belakangnya, karena lebat bulunya. Mereka berkata kepada binatang itu, “Celakalah kamu! Siapakah kamu?” Binatang itu menjawab, “Aku adalah Al Jassasah.” Mereka bertanya , “Apakah Al Jassasah itu?” Dia menjawab, “Wahai kaum, pergilah kepada orang yang berada di dalam biara ini, karena ia sangat merindukan berita kalian.” Kata Tamim, “Ketika binatang itu menyebut seseorang, kami menjauhinya, karena kami takut binatang itu adalah setan.

Al Jassasah adalah makhluq yang pertama kali ditemui oleh Tamim Ad Dari. Disebut Al Jassasah karena pandai mengintai dan melakukan aksi mata-mata (tajassus). Hal ini dapat dilihat dari wujud makhluq tersebut yang tidak bisa dibedakan antara bagian depan dan belakangnya. Bahkan manusia tidak bisa mengira bahwa ia adalah makhluq hidup.

Menurut Syaikh Imran Hussein, hal ini juga sekaligus menunjukkan bahwa penduduk pulau tersebut masyhur dengan kepiawaiannya dalam aksi tajassus (mata-mata). Wallahu a’lam.

Selanjutnya Tamim Ad Dari diminta untuk memasuki sebuah biara atau tempat ibadah orang-orang Yahudi/ Nashrani. Bila kita tilik lebih jauh, pulau di sebelah Barat Mediterrania yang memiliki ciri-ciri tersebut memang tidak akan jauh dari Italy (Romawi) atau sekitarnya. Namun, Syaikh Imran Hussein lebih yakin bila pulau yang dimaksud adalah Inggris.

 قال : فانْطَلَقْنَا سِرَاعاً حتى دخلنا الديرَ ، فإِذا فيه أعظمُ إِنسان رأيناه قط خَلْقاً وأشَدَّه وثاقاً مجموعةٌ يداه إِلى عُنُقِهِ ما بين ركبتيهِ إِلى كعبيه بالحديد . قلنا : وَيْلَكَ مَا أنْتَ ؟ قالَ : قَدْ قدَرْتُمْ على خَبَرِي فأخبروني ما أَنتم ؟ قالوا : نحن أناسٌ من العرب ركبنا في سفينة بحرية فصادفنا البحر حين اغتَلَمَ ، فلعب بنا الموج شهراً ثم أرْفأنا إِلى جزيرتك هذه ، فجلسنا في أقربهَا فدخلنا الجزيرة فلقينا دابة أَهلب كثيرةَ الشَعر ِما ندري ما قبُلهُ من دُبُرِهِ من كثرة الشعرِ ، فقلنا وَيْلَكَ ما أنت ؟ فقالت : أنا الجَسَّاسَةُ ، قالت : أَعمدوا إِلى هذَا الرجل في الدَّيْر ِفإِنه إِلى خَبَركُمْ بِالأشوَاق ، فأقبلنا إليكم سراعاً وفَرَغنَا منها ولم نَأمَنْ أن تكون شيطانة ، فقال : أخبروني عن نخل بَيْسَانِ فَقلنا عن أيّ شأنَها تَسْتَخْبِرُ ? قال : أسألكم عن نَخْلها هل يُثْمَرُ ? قلنا له : نَعَم . قال : أمَا إِنَّه يُوشِك أن لا يُثْمِرَ .

Lalu kami berangkat cepat-cepat hingga kami memasuki biara tersebut, tiba-tiba di sana ada seorang laki-laki yang sangat besar tubuhnya dan tegap, kedua tangannya dibelenggu ke kuduknya, anatar kedua lututnya dan mata kakinya dirantai dengan besi. Kami bertanya, “Siapakah Engkau ini?” Dia menjawab, “Kalian telah dapat menguak beritaku, karena itu beritahukanlah kepadaku siapakah sebenarnya kalian ini?” Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang dari Arab. Kami naik perahu dan kami terkatung-katung di laut dipermainkan ombak selama satu bulan, kemudian kami mencari tempat berlindung ke pulaumu ini dengan menaiki sampan kecil yang ada di sini lantas kami masuk pulau ini, dan kami bertemu seekor binatang yang bulunya sangat lebat hingga tidak kelihatan mana qabulnya dan mana duburnya karena lebat bulunya. Lalu kami bertanya, “Celakalah kamu ! Siapakah kamu?” Dia menjawab, “Aku adalah Al Jassasah.” Kami bertanya, “Apakah Al Jassasah itu?” Dia menjawab, “Pergilah kepada lelaki ini di dalam biara, karena ia merindukan berita kalian.” Lalu kami bergegas menemui dan meninggalkan dia, dan kami merasa tidak aman jangan-jangan dia itu setan.” Dia (lelaki itu) berkata, “Tolong kabarkan kepada kami tentang desa Nakhl Baisan.” Kami menjawab, “Tentang apanya?” Dia berkata, “Tentang kurmanya, apakah berbuah?” Kami menjawab, “Ya.” Dia berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya pohon-pohon kurmanya akan tidak berbuah lagi.”

Letak Kota Baisan

Orang yang berada di dalam Biara tersebut pertama kali bertanya tentang Kurma di daerah Baisan. Baisan merupakan sebuah kota di Palestina di al-Ghaur utara, ia berada dekat Sungai Jalut yang mengalir di perkebunan Ibnu Amir. Wisnu Sasongko mengatakan dalam Armageddon bahwa Israel sering menjadikan Baisan sebagai target sasaran sehingga hancur leburlah perkebunan kurma yang ada di sana. Apakah ini merupakan isyarat bahwa pohon kurma di Baisan sudah tidak lagi berbuah? Wallahu a’lam.

 

 قال : أخبروني عن بحيرة الطَّبَرَيَّةِ ، قلنا : عن أي شَأنَها تستخبر ? قال : هل فيهَا مَاءَ ? قالوا : هي كثيرة الماءَ . قال : إِن ماءَها يوشك أن يذهب .

Dan dia bertanya lagi, “Tolong beritahukan kepadaku tentang danau Ath Thabariyah.” Kami bertanya, “tenatang apanya?” Dia bertanya, “Apakah ada airnya?” Kami menjawab, “Airnya banyak sekali.” Dia berkata, “Ketahuilah sesungguhnya airnya akan habis.”

Letak danau Thabariyah

Danau Thabariyah atau lebih dikenal dengan nama Laut Galilee/ Galilea atau dalam bahasa Ibrani disebut Kinnerot  atau Genesaret. Danau Thabariyah terletak di dataran tinggi Golan sebelah timur dari Palestina. Sekarang danau tersebut dikuasai oleh kaum Yahudi. Sejak tahun 2000, Danau Thabariyah telah mengalami kekeringan dengan sangat cepat dan drastis, bahkan saluran-saluran air yang mengalir dari danau ini, khususnya di sekitar Jordania tersisa seperti solokan-solokan kecil saja (beritanya di sini). Menurut beberapa ahli dan peneliti, Danau Thabariyah akan mengering dalam waktu kurang dari 100 tahun saja. Bahkan sebagian di antara mereka mengatakan bahwa danau ini akan mengering dalam waktu kurang dari 50 tahun saja (videonya di sini). Wallahu a’lam…

قال : أخبروني عن عين زُغَرْ قالوا : عن أَي شأنها تستخبر ? قال : هل في العين ماءُ ? وهل يَزْرَعُ أهلها بماءٍ العين ? قلنا له : نعم هي كثيرة الماءِ وأَهلها يزرعون من مائها .

Selanjutnya dia berkata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang negeri ‘Ain Zughar.” Kami bertanya, “Tentang apanya?” Dia menjawab, “Apakah sumbernya masih mengeluarkan air yang dapat digunakan penduduknya untuk menyiram tanamannya?” Kami menjawab, “Airnya banyak sekali, dan penduduknya menggunakannya untuk menyiram tanaman mereka.”

Perhatikan Airnya yang Semakin Surut

Yaqut berkata, “Orang terpercaya bercerita kepadaku bahwa Zughar berada di ujung sebuah danau yang berbau busuk pada sebuah lembah di sana. Jarak antara mata air itu dengan Baitul Maqdis sepanjang perjalanan tiga malam, daerah tersebut ada di sisi kota Hijaz, dan mereka memiliki perkebunan di sana [Lihat Mu’jamul Buldaan (III/142-143), dan kitab an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (II/304)].

Mata Air Zughar sendiri masih menyambung dengan Danau Thabariyah, terletak di sebelah selatan danau tersebut, masuk ke dalam wilayah Syiria. Mata air ini menjadi tumpuan utama bagi penduduk Syiria dan Palestina dalam mengairi perkebunan mereka. Keringnya Danau Thabariyah pasti akan diiringi oleh keringnya Zughar. Atau bisa jadi sebaliknya, Zughar yang lebih dahulu kering lalu disusul dengan keringnya Danau Thabariyah

قال : أخبروني عن نبي الأمِيّينَ ما فعل ? قالوا : قد خرج من مكة ونزل بِيَثْرِب . قال : أقاتله العرب ? قلنا : نعم . قال : كيف صنع بهم ؟ فأخبرناه أنه قد ظَهَرَ على مَنْ يليهِ من العرب وأَطاعوه قال : قال لهم قد كان ذاكَ ؟ قلنا : نعم . قال : أمَا إِنه خيرٌ لهم أنْ يطيعوه وإِني مخبركم عَنِّي ، إِنِّي أنَا المسِيحُ ، وإِني يُوشِكُ أنْ تُؤْذَن لِي في الخروج فَأخْرُجَ فأسيرُ في الأرض فلا أدَعَ قريةً إِلا هَبَطتُها في أربعين ليلةً غير مكة وطيبةَ فهما محرمتانِ عليَّ كِلّتَاهُمَا

Dia berkata lagi, “Tolong beritahukan kepadaku tentang Nabi orang ummi, apakah yang dilakukannya?” Kami menjawab, “Beliau telah hijrah meninggalkan Mekkah ke Yastrib” Dia bertanya, “Apakah orang-orang arab memeranginya?” Kami menjawab, “Ya.” Dia bertanya lagi, “Apakah yang dilakukannya terhadap mereka?” Lalu kami beritahukan bahwa beliau menolong orang-orang Arab yang mengikuti beliau dan mereka mematuhi beliau. Dia bertanya, “Apakah benar demikian?” Kami menjawab, “Benar.” Dia berkata, “Ketahuilah bahwasannya lebih baik bagi mereka untuk mematuhinya. Dan perlu saya beritahukan kepada kalian bahwa saya adalah Al Masih (Ad Dajjal), dan saya akan diizinkan keluar, yang nantinya saya akan berkelana di muka bumi, maka tidak ada satupun desa melainkan saya singgahi selama empat puluh malam kecuali Mekkah dan Thaybah, karena kedua kota ini diharamkan atas saya.

Dekatnya waktu antara kedatangan Nabi terakhir dengan hari kiamat seperti dekatnya jari tengah dan jari telunjuk. Sedangkan menjelang hari kiamat, Dajjal akan dilepas dan dibiarkan berkelana ke seluruh penjuru bumi. Pantas saja bila Dajjal menanyakan hal tersebut. Dan Dajjal sendiri membenarkan nubuwwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam, bahkan membenarkan orang-orang yang mengikutinya.

Kemudian Dajjal berkelana selama 40 malam ke seluruh kota, kecuali Makkah dan Madinah. Ini merupakan tanda keistimewaan Makkah dan Madinah. Walaupun dua kota ini tidak terhindar dari fitnah-fitnah yang besar, namun dua kota ini terhindar dari fitnah yang paling besar.

 

كُلما أرَدْتُ أن أدخل واحدة أو إِحداهما اسْتَقْبَلَني مَلك بِيَدِهِ السيفُ صَلْتا يَصُدَّني عَنْهَا ، وإِنَّ عَلَى كلِّ نَقْبٍ منها ملائكة يحرسونها قال : قال رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) : ( وطَعَنَ بِمِخْصَرتِهِ في المنبر هذه : طيبةُ يَعني المدينَةَ ألاَّ هَلْ كنت حدثتكم ذلك ? فقال الناسُ : نَعَمْ . قال : إنَّهُ أعْجَبَني حديث تميم إنَّهُ وافق الذي كنتُ أحدثكم عنه وعن المدينة ومكة ألاَ إِنه في بحر الشام أو بحر اليمين لا بل من قبل المشرق وَأوْمأ بيده إِلى المشرق . قالت : فحفظت هذا من رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) )

Setiap saya hendak memasuki salah satunya, saya dihadang oleh seorang malaikat yang menghunus pedang. Dan pada tiap-tiap lorongnya ada malaikat yang menjaganya.” Fatimah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda sembari mencocokkan (memasukkan) tongkat kecilnya ke mimbar,” “Inilah Thaybah, inilah Thaybah, inilah Thaybah, yakni Madinah. Ingatlah bukankah aku telah memberitahukan kepadamu mengenai hal itu?” Orang-orang menjawab, “Ya.” Selanjutnya beliau bersabda, “Saya heran terhadap cerita Tamim yang sesuai dengan apa yang telah saya ceritakan kepada kalian, juga tentang kota Madinah dan Mekkah. Ketahuilah bahwa dia bearada di laut Syam atau laut Yaman. Oh tidak, tetapi dia akan dating dari arah Timur… dari arah Timur… dari arah Timur…” Dan beliau berisyarat dengan tangan beliau menunjuk kea rah Timur. Fatimah berkata, “Maka saya hafal ini dari Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.” (HR. Muslim, dari Fatimah binti Qais, Abu Hurayrah, ‘A`isyah, dan Jabir, Fathul Bari 13:328).

Sudah jelas kiranya penjelasan Tamim Ad Dari tentang Dajjal yang ditemuinya di Eropa tadi. Dajjal akan dilepaskan selama 40 hari, dan Rasuulullah membenarkan cerita Tamim Ad Dari. Penjelasan lebih rinci tentang status Dajjal sebagai Al Masih (mesiah) insya Allah di akhir pembahasan ini.

4.       Di antara Ciri Dajjal : Matanya Buta Sebelah, Rambutnya Keriting, dan Di antara Dua Matanya (di dahinya) tertulis kafara

قال أحمد : حدثنا يزيد ، أخبرنا محمد بن إسحاق ، عن نافع ، عن ابن عمر أن رسول الله (صلى الله عليه وسلم ) قال : ( إِنَّه لم يكن نبيّ إلاَّ وَصَفَهُ لأمَّتِهِ ولأصفَنَّهُ صِفَةً لَم يَصِفْهَا من كان قبلي ، إنه أعورُ وإِن الله ليس بأعورَ عينُه الْيُمْنى كأنها عِنَبَة طَافِيَةٌ ) وهذا إسناد جيد حسن .

Berkata Imam Ahmad bin Hanbal: “Zaid meriwayatkan dari Muhammad bin Ishaq, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar, bahwasanya Rasululullah shallallahu’ alayhi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya tidak ada seorang Nabi sebelum aku kecuali ia telah menyebutkan ciri-cirinya kepada ummatnya, dan aku sungguh akan menyebutkan ciri yang belum disebutkan oleh orang sebelum aku. Sesungguhnya ia buta mata sebelahnya, dan sesungguhnya Allah tidak buta mata sebelahnya. Mata kanan Dajjal seolah-olah buah anggur yang menonjol.” Sanad hadits ini hasan.

Sebagaimana Sabda Rasulullah dalam hadits kedua di atas:

فَذَهبت ألتفت فإذا رجل أحمرُجسيمٌ جَعْدُ الرأس؟ أعوَرُ الْعَيْن اليمنى كأن عينه عنبة طافِيةٌ؟ قلت : مَن هَذا؟ قالوا : الدجالُ

Maka akupun menoleh dan melihat seorang laki-laki merah besar dengan rambut keriting, mata sebelah kanannya buta, seolah-olah matanya adalah buah anggur yang menggantung. Aku pun bertanya, “Siapa ini?” Mereka menjawab, “Dajjal.”

وقال الإِمام أحمد ، حدثنا محمد بن سابق ، أخبرنا إبراهيم بن طهمان ، عن أبي الزبير ، عن جابر بن عبد الله أنه قال : قال رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) : ( يخرج الدّجالُ في خِفَّةٍ مِنَ الدِّين وإِدْبَارٍ من العِلم وله أربعون ليلَةً يَسْبَحُهَا في الأرض اليومُ منها كالسنةِ ، واليوم منها كالشهر . واليوم منها كالجُمُعَةِ ، ثم سائر أيامه كأيامكم هذِهِ وله حمار يركبه عرض ما بين أذنيه أربعون ذِراعاً ، فيقول للناس : أنا ر بّكم وهو أعورُ وإِن ربكم ليس بأعْوَرَ مَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ كَفَرَ بِهَجَاءٍ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِن كاتب أوْ غير كاتب يَرد كلَّ ماءٍ ومنهل إلا المدينةَ ومكّةَ حًرّمهمَا الله عليه وقامَت الملائكةُ بِأبْوابِهما

Dan berkata Imam Ahmad bin Hanbal, telah meriwayatkan kepada kami dari Muhammad bin Sabiq, dari Ibrahim bin Thahman, dari Abu Zubair, dari Jabir bin ‘Abdullah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “Dajjal keluar saat agama dianggap enteng dan ilmu ditinggalkan. Ia mempunyai waktu empat puluh malam. Ia berjalan di atas bumi. Satu hari darinya seperti satu tahun, satu hari darinya seperti satu bulan, satu hari darinya seperti satu Jum’at, kemudian hari-hari lainnya seperti hari-hari kalian ini. Ia mempunyai keledai yang ia kendarai, lebar antara kedua telinga adalah empat puluh lengan. Ia berkata kepada orang-orang, “Aku adalah Tuhan kalian.” Ia buta mata sebelahnya dan Tuhan kalian tidaklah buta mata sebelahnya. Tertulis di antara kedua matanya, kafara. Dengan huruf yang terbaca oleh setiap mu’min yang bisa baca tulis atau yang tidak bisa baca tulis. Ia mendatangi semua air dan daratan, kecuali Makkah dan Madinah karena diharamkan oleh Allah atasnya dan Malaikat berdiri di pintu-pintunya.”

Yang menarik dari ciri-ciri Dajjal yang disebutkan dari hadits-hadits di atas adalah perkataan Rasulullah tentang butanya mata Dajjal yang sebelah kanan. Jumhur ulama berpendapat bahwa hal tersebut bukan sekedar ma’nawi (majas), namun memang demikian keadaan fisik Dajjal. Hanya saja tidak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut juga sekaligus menandakan bahwa Dajjal telah menutup diri dari kebenaran. Hal ini ditunjukkan dengan butanya mata sebelah kanan.

Sebagaimana kita ketahui, kanan selalu identik dengan benar. Bahkan dalam bahasa Inggris, kanan dan benar sama-sama disebut “right”. Ini adalah ungkapan umum yang disepakati oleh manusia secara umum. Karenanya tidak salah bila kita mengikuti pendapat Syaikh Imran Hussein yang mengatakan bahwa Dajjal hanya melihat dengan mata lahir dan inilah yang akan dilakukannya kepada seluruh manusia. Dajjal akan membuat manusia buta mata hatinya.

Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa Dajjal adalah penipu ulung. Dia datang untuk menipu seluruh manusia. Khususnya menjadi Al Masih bagi orang-orang Yahudi (Bani Israel). Di antara tipuan yang dilakukan oleh Dajjal adalah membuat realita tidak sesuai dengan apa yang tampak. Apa yang tampak bukanlah realita yang sebenarnya. Inilah tipu muslihat Dajjal. Dan para pengikutnya pun telah memiliki sistem yang sifatnya sama dengan sifat Dajjal itu sendiri. Membuat manusia mengira bahwa dunia adalah kehidupan yang sebenarnya, padahalbagi setiap mu’min kehidupan yang abadi adalah di akhirat kelak. Mungkin karena ini pula Rasulullah mengatakan bahwa setiap mu’min akan sanggup melihat tanda “kafara”, baik mereka bisa baca tulis atau tidak. Mengapa? Karena setiap mu’min melihat dengan mata hati, bukan dengan sekedar mata lahir sebagaimana penglihatan Dajjal. Wallahu a’lam.

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” [QS. Al Hajj : 46]

Dalam sebuah riwayat, bahwa Rasulullah pernah bersabda : “Waspadalah terhadap firasat seorang mu’min, karena ia melihat dengan cahaya Allah…”

5.     Dajjal akan Dilepaskan Pada Saat Agama Diremehkan dan Ilmu (syar’i) Ditinggalkan. Ia akan berada di bumi Selama 40 Hari.

Sebagaimana sabdanya dalam hadits di atas:

يخرج الدّجالُ في خِفَّةٍ مِنَ الدِّين وإِدْبَارٍ من العِلم وله أربعون ليلَةً يَسْبَحُهَا في الأرض يَسْبَحُهَا في الأرض اليومُ منها كالسنةِ ، واليوم منها كالشهر . واليوم منها كالجُمُعَةِ ، ثم سائر أيامه كأيامكم هذِهِ

Dajjal keluar saat agama dianggap enteng dan ilmu ditinggalkan. Ia mempunyai waktu empat puluh malam. Ia berjalan di atas bumi. Satu hari darinya seperti satu tahun, satu hari darinya seperti satu bulan, satu hari darinya seperti satu Jum’at, kemudian hari-hari lainnya seperti hari-hari kalian ini.

Telah kita bahas, bahwa Dajjal datang sebagai Al Masih, yang secara bahasa berarti penghapus, maksudnya penghapus kebaikan/ kebenaran. Sedangkan Nabi ‘Isa juga merupakan Al Masih (penghapus), yakni penghapus kejahatan.

Dalam titik ini, Dajjal akan mengaku sebagai Al Masih yang sebenarnya, yakni pembawa kebaikan kepada Bani Israel. Karena sebagian besar Bani Israel telah menolak kedatangan Nabi ‘Isa sebagai Al Masih 2000 tahun yang lalu. Mereka menganggap bahwa Nabi Isa merupakan aak zina karena lahir tanpa ayah (wal’iyyaudzubillah). Karenannya tidak mungkin menjadi Al Masih bagi mereka. Apalagi di hadapan mata mereka sendiri, Nabi Isa tampak disalib dan mati. Maka bagaimana mungkin seorang Al Masih mati namun kebaikannya belum dirasakan. Karena hal inilah mereka meyakini bahwa akan ada Al Masih yang akan menyelesaikan misi sebagaimana yang termaktub dalam taurat dan Injil, atau sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi Daniel. Bahwa Al Masih akan membawa setidaknya empat kebaikan bagi Bani Israel:

  1. Membebaskan Yerussalem
  2. Mengembalikan Bani Israel ke Yerussalem
  3. Mendirikan Negara Israel (Kerajaan Daud)
  4. Mendominasi dunia (mengingat kejayaan Sulaiman)

Dalam melakukan aksinya, sejak dilepasnya Dajjal dan memasuki fase satu hari sama dengan satu tahun, maka Dajjal telah membuat orang-orang Yahudi yakin bahwa dialah Al Masih itu. Karenanya ia berusaha menggunakan para pengikutnya untuk merealisasikan poin-poin di atas.

Menurut Syaikh Imran Hussein. Dalam fase pertama ini Dajjal tidak berada pada dimensi yang sama dengan kita, karenanya harinya berbeda dengan hari-hari kita. Namun, keberadaannya pasti tidak jauh dari pula di mana ia dirantai pada saat ditemui oleh Tamim ad Dari.

Menurut beliau, Dajjal pertama kali dilepas untuk menguasai Inggris. Buktinya adalah bahwa sejak tahun 1917 hingga 1948 Inggris lah yang telah melakukan aksi-aksi Al Masih bagi kepentingan Bani Israel. Inggris lah yang “membebaskan” Yerussalem dari tangan Turki Osmani sekitar tahun 1917 dan mengembalikan orang-orang Yahudi ke sana melalui Deklarasi Balfour.

Inggris pun menjelma menjadi kekuatan yang mendominasi dunia. Tidak heran karena mereka dipimpin oleh Dajjal.

Tradisi kerajaan Inggris yang kental dengan mistis dan masih memiliki garis keturunan dengan raja-raja mesir kuno (fir’aun) membuat Dajjal tidak sulit bila harus berkomunikasi dengan mereka, walaupun berbeda dimensi. Hubungan yang erat antara para sihir kerajaan Inggris dengan para Jin membuat semua itu menjadi mudah. Dan tradisi ini bukanlah rahasia di kalangan kerajaan Inggris. Sebut saja Merlyn, penyihir resmi-nya Arthur yang kisahnya telah diangkat ke dalam film atau serial TV. Ini menunjukkan bahwa kerajaan Inggris bahkan hingga sekarang sangat erat dengan unsur-unsur mistis, hubungan dengan alam Jin, dan sihir.

Hal tersebut akan dapat kita pahami lebih mendalam bila kita juga mengatahui sejarah Ksatria Templar dan Illuminaty-nya. Sebuah ritual mistis penyembah Iblis (disebut juga dengan nama Baphomet, Azazil, atau Lucifer) yang memang sengaja mempersiapkan sistem Dajjal untuk menyambut kedatangan Dajjal di dimensi yang sama dengan dimensi manusia. Wallahu a’lam.

Pada fase pertama ini, Dajjal telah berhasil menipu Bani Israel dengan memenuhi “nubuwwat” tentang Al Masih yang akan menolong mereka. Kemunculan Dajjal di fase pertama ini, juga dapat kita sebut dengan pintu Fase Mulkan Jabbariyan dalam bahasa yang lain. Sebuah fase terakhir dalam kehidupan ummat manusia menjelang fase Khilafah ‘alaa minhaj an Nubuwwah. Sejak itulah kemudian Turki Osmani dirongrong habis-habisan dan resmi runtuh pada 1924 M.

Setelah lahirnya Negara Israel pada tahun 1948, maka Dajjal memasuki fase kedua, yaitu ia berpindah ke dimensi yang satu harinya adalah satu bulan bagi kita. Maka, Syaikh Imran Hussein menyatakan, dengan ini pindah pula Dajjal dari Inggris ke negara yang lain. Sebuah negara yang akan selalu mensupport kebijakan-kebijakan Israel. Sebuah negara yang akan mendominasi dunia dengan kekuatan politik, ekonomi, dan militernya. Sebuah negara yang tidak lebih dari boneka para Zionis, yaitu Amerika (US).

Dan kehancuran Amerika pun diambang mata. Mengapa?

Tidaklah heran bila Amerika pada akhirnya akan hancur. Karena Dajjal telah bersiap-siap pindah dimensi ke fase ketiga, di mana satu harinya sama dengan satu Jum’at. Maka, pastilah Dajjal akan menggoyangkan dunia untuk menghancurkan Negara yang dulu menjadi bonekanya, agar negara baru muncul menggantikan dominasi negara tersebut, baik dari sisi militer, ekonomi, maupun politik.

Tidak ada bayangan lain bagi kita sepertinya kecuali mengatakan bahwa negara yang telah dipersiapkan menjadi ‘pemimpin dunia’ selanjutnya adalah Negara Israel, sesuai dengan nubuwwat yang dibawa Taurat tentang Al Masih. Tiga poin telah terlaksana, dan hanya tinggal satu poin lagi, yaitu mendominasi dunia.

Dari sisi ekonomi, dominasi uang kertas hari ini tidak lebih dari sebuah penipuan massal yang dilakukan oleh bankir-bankir Yahudi. Dengan menggunakan kertas yang aslinya tidak memiliki nilai sama sekali, sistem ini pasti akan hancur dengan sendirinya, bila tidak, maka mereka sendiri yang akan menghancurkannya, karena sistem perekonomian dan keuangan baru telah diciptakan, yaitu uang elektronik. Tanpa kertas tanpa bebas, lebih mudah. Ini menurut mereka. Namun apa yang sebenarnya terjadi adalah upaya mengontrol seluruh aktivitas manusia di seluruh dunia. Lebih lanjut tentang sistem keuangan Dajjal akan dibahas kemudian.

Perhatikan Simbol Mata Satu dan Tulisan “Kfir”

Dari sisi militer, pasukan Israel telah mempersiapkan brigade khusus mereka yaitu brigade KFIR, tidak jauh dengan apa yang tertulis di jidat Dajjal “KAFARA”. Juga, Israel adalah satu-satunya negara yang bebas memproduksi nuklir. Ini merupakan langkah taktis yang dilakukan mereka dalam upaya mendominasi dunia dan menanti kedatangan Al Masih mereka di dimensi kita.

Namun demikian, kita telah mempelajari berbagai hadits yang sharih (jelas), bahwa sebelum Dajjal memasuki dimensi kita, dengan izin Allah bangsa Yahudi di Palestina akan dihancurleburkan oleh pasukan Al Imam Al Mahdi. Setelah menguasai Jazirah Arab, maka pasukan Al Mahdi akan memerangi Syam dan memenangkannya, lalu kemudian Persia, dan juga memenangkannya, setelah itu seluruh pasukan akan berkumpul di Baitul Maqdis untuk melakukan peperangan terbesar melawan Bangsa Romawi. Maka, setelah bangsa Romawi ditaklukan, Kaum Muslimin pun melakukan ekspansi ke Eropa. Baru setelah itu, Dajjal akan muncul dalam dimensi kita bersama 70.000 orang Yahudi dari Isfahan (Iran).

Yang terpenting dari itu semua adalah, bila orang-orang Yahudi dan para pengikut setia Dajjal dari kalangan Illuminatis, Zionis, Freemasson, atau Luciferian telah begitu siap siaga dan serius dalam menyambut kedatangan Dajjal, Al Masih mereka, maka di mana kita?

Sudahkah kita bersiap-siap menyambut kedatangan Imam Mahdi dan Nabi ‘Isa? Inginkah kita menjadi pasukan pembela Imam Mahdi bila kita ditaqdirkan masih hidup dan melihat Al Mahdi? Lalu, apa yang sudah kita persiapkan untuk itu semua? Layakkah kita menjadi pasukan terbaik di atas muka bumi ini? Maka dari itu, bersiapsiagalah…

Wallahu a’lam

 


[1] Namanya Abdul Uzza bin Qathan bin Amru bin Jundub bin Sa’id bin ‘Aidz bin Malik bin Al Mushthaliq