Sepotong Pembicaraan tentang Syari’ah dan Khilafah

Oleh : Rd. Laili Al Fadhli*

Tidak ada keraguan bagi setiap aktivis muslim tentang kewajiban melaksanaan syari’at Islam dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk di dalamnya aspek politik, peradilan, dan perundang-undangan. Seruan penegakkan kembali Khilafah Islamiyah menggema terdengar di seluruh antero negeri, menyusuri kolong-kolong langit bumi ini. Sayangnya, seperti ada yang terlupa mengiringi ruhnya. Sehingga seolah-olah konsep Syari’ah dan Khilafah sekedar membicarakan sepotong roti yang tidak diberikan secara adil oleh penguasa kepada rakyatnya. Sehingga seolah-olah konsep Syari’ah dan Khilafah sekedar tentang bagaimana harga cabai di pasar tidak mengalami kenaikan agar rakyat tidak lagi menjerit histeris dan ketakutan.

Islam Kaffah with Khilafah

Bagi setiap muslim sejati, tingkah laku dan seluruh gerak geriknya merupakan cerminan syari’at. Karena Allah telah menegaskan “Tidaklah kami menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah”. Dengan kata lain, mengerjakan seluruh perintahnya dan menjauhi segala larangan-Nya. Adapun dalam prosesnya, maka Allah hanya menghendaki totalitas dan penerimaan sepenuhnya, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan.”

Pada titik ini, kita harusnya memahami bahwa kepentingan ummat terhadap Syari’at dan Khilafah bukan sekedar kepentingan duniawi semata. Mengapa demikian?

Pertama, bahwa kesempurnaan keislaman seseorang hanya akan terealisasi jika ia berhasil menerapkan seluruh syari’at Islam dalam kehidupannya, baik dalam skala pribadi, sosial-masyarakat, atau kehidupan berbangsa dan bernegara. Karenanya, penegakkan syari’at Islam dan Khilafah Islamiyah adalah bentuk peribadahan yang tidak bisa tidak wajib diusahakan sebagai salah satu bukti nyata ketaatan kita kepada Allah azza wa jalla. Penerapan syari’at Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan satu-satunya sarana untuk mencapai kesempurnaan peribadahan dalam rangka menegakkan syari’at Islam dalam kehidupan setiap muslim. Maka, mengikuti satu kaidah ushul fiqih, “Sebuah kewajiban yang tidak bisa terlaksana kecuali dengan “sesuatu”, maka “sesuatu” itu menjadi wajib pula.”

Kedua, bahwa Khilafah ‘alaa minhaaj an nubuwwah merupakan isyarat qath’i yang telah disampaikan oleh Baginda Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam, sebagaimana riwayat shahih yang datang kepada kita. Ya, beliau tidak pernah mengabarkan secara pasti kapan Kekhilafahan akan kembali, namun justru hal tersebut seharusnya memberikan pelajaran kepada kita bahwa kitalah ummat Islam yang seharusnya mengusahakan penegakkan kembali syari’at Islam dan Kekhilafahan ke pentas peradaban. Maka  sesungguhnya menolak kehilafahan berarti menolak sunnah nabawiyah.

Ketiga, bahwa sesungguhnya pelaksanaan syari’at Islam dan penegakkan kembali Kekhilafahan tidaklah harus selalu berbanding lurus dengan apa yang disebut dengan “kesejahteraan”. Ini penting dipahami, karena terbukti setidaknya selama satu dekade pertama, Negara Islam Madinah mengalami guncangan ekonomi yang sangat dahsyat, hari demi hari dilalui dengan peperangan dan pertumpahan darah. Sebagian besar masyarakat terlibat dalam jihad dan meninggalkan pekerjaannya mengais rizki duniawi, sehingga seorang Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu pun harus terpaksa meninggalkan Medan Tabuk karena melihat pohon-pohon mulai berbuah dan dedaunan mulai rindang (tanda panen). Akhirnya, Allah sendiri yang langsung memberikan hukuman karena ia telah berpaling dari jihad fii sabiilillah. Bersyukurlah akhirnya Allah dan Rasul-Nya menerima taubat dari Ka’ab bin Malik dan dua orang sahabat yang lainnya ridhwaanullahu ajma’in.

Al Khilafah

Tidak dapat terbayang bagi kita, sebuah Negara yang baru berdiri harus dihantam sana-sini dengan berbagai persoalan yang dapat melupakan rakyatnya dari kehidupan duniawi. Pengkhianatan kaum Yahudi dari dalam negeri, peperangan dengan kaum musyrikin Makkah, hingga pembebasan negeri-negeri di sekitar Madinah demi menyebarkan risalah tawhid dan da’wah Islamiyyah.

Lebih dari itu, pada masa kekhalifahan ‘Umar bin Al Khathab, para pedagang sempat mengalami guncangan ekonomi karena gagalnya sebagian hasil panen yang menyebabkan terjadinya kenaikan harga pada beberapa bahan pokok masyarakat. Saat diadukan hal ini kepada Khalifah ‘Umar, maka beliau pun cukup memberikan nasihat untuk bersabar karena sesungguhnya harga (selama tidak dipermainkan) adalah sunnatullah. Maka, apakah kita akan berhenti memperjuangkan syari’at Islam dan Kekhilafahan saat melihat beberapa realita sejarah tersebut?

Justru saya pribadi cenderung khawatir saat slogan Syari’ah dan Khilafah terlalu sering dikaitkan dengan “kesejahteraan” yang bersifat duniawi. Maka apa yang akan terjadi nanti bila pada suatu masa syari’at Islam telah dilaksanakan dan Khilafah telah ditegakkan, namun beberpa kejadian sejarah yang menghalangi ummat dari rizki duniawi seperti di atas kemudian terulang..? Maka bisa saja rakyat akan menuntut serta menyalahkan Syari’at dan Khilafah karena dinilai tidak bisa menyelesaikan masalah mereka. Ini jelas merupakan kerugian.

Ya, saya tidak memungkiri bahwa pelaksanaan Syari’ah dan Khilafah dapat memberikan dampak positif bagi kehidupan dunia, sebagaimana yang terjadi pada masa Kekhilafahan ‘Umar bin Abdul Aziz, dan ini juga yang telah dijanjikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dalam sunnahnya saat memberikan isyarat Nubuwwah tentang hadirnya Al Mahdi dari kalangan Ahlul Bait-nya, Muhammad bin Abdullah Al Fathimi Al Hasani (bukan Al Husaini), di mana ia akan memenuhi bumi dengan kebenaran dan keadilan, membagi-bagikan emas dan harta benda untuk mensejahterakan kaum muslimin.

Slogan “Hidup Sejahtera Di Bawah Naungan Khilafah” belum tepat sasaran

Begitupun dalam Al Qur’an, Allah telah menjelaskan kepada kita, “Sekiranya penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa, maka Kami pasti membukakan pintu keberkahan dari langit dan bumi bagi mereka.” Ini jelas menunjukkan bahwa pelaksanaan syari’at Islam yang merupakan representasi dari kesempurnaan iman dan taqwa akan memberikan dampak positif berupa melimpahnya keberkahan dari langit dan bumi.

Namun demikian, harus kita pahami bersama bahwa perbincangan Syari’ah dan Khilafah sudah sepatutnya tidak berhenti sampai di situ, bahkan harus ada upaya penyadaran kepada ummat bahwa tujuan utama pelaksanaan syari’at dan Khilafah bukanlah persoalan sepotong roti dan perut yang keroncongan. Ada lagi yang lebih penting dan utama dari semua itu. Adalah sebuah sarana penyempurnaan keislaman kita, sebagai bukti kongkrit yang merepresentasikan iman dan taqwa dalam jiwa setiap muslim. Bila kita telah sepakat akan hal ini, maka kita pun bisa menarik simpulan bahwa pembicaraan tentang Syari’ah dan Khilafah bukanlah persoalan dunia yang sempit, namun lebih kepada persoalan kehidupan akhirat yang luas membentang. Wallahu a’lam

*Penulis adalah Staf Humas Mahasiswa Pencinta Islam (MPI) Pusat dan Ketua Mahasiswa Pecinta Islam (MPI) Daerah Bandung

Artikel ini juga di muat di Majalah Bulanan An Najah, edisi Mei 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: