Al Imam Al Mahdi (bag. 3)

KEMUNCULAN AL IMAM AL MAHDI DAN PERANG AKHIR ZAMAN

 

عن أم سلمة زوج النبي صلى الله عليه وسلم عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “يكون اختلافٌ عند موت خليفة فيخرجُ رجل من أهل المدينة هارباً إلى مكَّة فيأتيه ناس من أهل مكة فيخرجونه وهو كاره فيبايعونه بين الركن والمقام ويبعث إليه بَعْثٌ من الشام فَتُخْسَفُ بهم البيداءُ بين مكة والمدينةِ “. روه أبو داود

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, bahwa Nabi bersabda : “Akan terjadi perselisihan pada kematian seorang khalifah, hingga keluarlah seorang dari penduduk Madinah melarikan diri ke Makkah. Kemudian orang-orang dari penduduk Makkah mendatangi dan mengeluarkannya dari kota itu, sedangkan ia tidak menyukai hal tersebut. Maka mereka membai’atnya di antara Rukun dan Maqam. Lalu dikirimlah utusan dari Syam, serta mereka dihancurkan di Baida’, antara Makkah dan Madinah.” [HR. Abu dawud]

عن أم سلمة رضى الله تعالى عنها قالت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يبايع لرجل من أمتي بين الركن والمقام كعدة أهل بدر .مستدرك الحاكم [8328]

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “Seseorang dari umatku akan dibai’at di antara rukun dan maqam oleh orang-orang sejumlah Ahlu Badr (313 orang). [Mustadrak Al Hakim no. 8328]

 

عن نافع بن عتبة قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : تغزون جزيرة العرب فيفتحها الله ثم تغزون فارس فيفتحها الله ثم تغزون الروم فيفتحا الله ثم تغزون الدجال فيفتحه الله . روه مسلم

              Dari Nafi’ bin ‘Utbah, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : Engkau akan memerangi Jazirah Arab dan Allah akan memenangkannya untukmu. Kemudian engkau akan memerangi Persia dan Allah akan memenangkannya untukmu. Kemudian engkau akan memerangi Romawi dan Allah akan memenangkannya untukmu. Kemudian engkau akan memerangi Dajjal dan Allah akan memenangkannya untukmu. [Shahih Muslim]

 

روى أحمد[5/245]  وأبو داود [4294] عن معاذ : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : عمران بيت المقدس خراب يثرب ، وخراب يثرب خروج الملحمة ، وخروج الملحمة فتح القسطنطينية ، وفتح القسطنطينية خروج الدجال.

Diriwayatkan dari Ahmad [5/245] dan Abu Dawud [4294] dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “Kemakmuran Baitul Maqdis akan diiringi pengosongan Yatsrib. Pengosongan Yatsrib akan diiringi oleh keluarnya (kaum muslimin) dalam Al Malhamah (perang akhir zaman/ armageddon), dan Al Malhamah diiringi dengan penaklukan Konstantinopel, dan penaklukan Konstantinopel akan diiringi dengan keluarnya Dajjal.

عن أبى هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال  لا تقوم الساعة حتى يقاتل المسلمون اليهود فيقتلهم المسلمون ، حتى يختبئ اليهودى من وراء الحجر والشجر ، فيقول الحجر أو الشجر : يا مسلم يا عبد الله هذا يهودى خلفى فتعال فاقتله ، إلا الغرقد فإنه من شجر اليهود . متفق عليه

Dari Abu Hurayrah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi Yahudi, maka kaum muslimin membunuhi mereka sehingga orang-orang Yahudi itu bersembunyi di belakang batu dan pohon. Maka, batu dan pohon itu berkata : wahai kaum muslimin, wahai hamba Allah, ini ada orang Yahudi di belakangku, kemarilah, bunuhlah ia! Kecuali pohon gharqad, karena pohon gharqad merupakan pohon orang-orang Yahudi. [Muttafaq ‘Alaih, dengan lafal Muslim]

 

لا تقوم الساعة حتى ينزل الروم بالأعماق أو بدابق فيخرج إليهم جيش من المدينة من خيار أهل الأرض يومئذ فإذا تصافوا قالت الروم خلوا بيننا وبين الذين سبوا منا نقاتلهم فيقول المسلمون لا والله لا نخلي بينكم وبين إخواننا فيقاتلونهم فينهزم ثلث لا يتوب الله عليهم أبدا ويقتل ثلثهم أفضل الشهداء عند الله ويفتتح الثلث لا يفتنون أبدا فيفتتحون قسطنطينية فبينما هم يقتسمون الغنائم قد علقوا سيوفهم بالزيتون إذ صاح فيهم الشيطان إن المسيح قد خلفكم في أهليكم فيخرجون وذلك باطل فإذا جاؤوا الشام خرج فبينما هم يعدون للقتال يسوون الصفوف إذ أقيمت الصلاة فينزل عيسى بن مريم صلى الله عليه وسلم فأمهم فإذا رآه عدو الله ذاب كما يذوب الملح في الماء فلو تركه لانذاب حتى يهلك ولكن يقتله الله بيده فيريهم دمه في حربته. الحديث طويل رواه مسلم في كتاب الفتن (2897) عن أبي هريرة ونحوه حديث ابن مسعود

Tidak akan terjadi kiamat sehingga bangsa Romawi sampai di A’maq atau Dabiq. Kedatangan mereka dihadapi oleh sebuah pasukan yang keluar dari kota Madinah yang merupakan penduduk bumi yang terbaik pada masa itu. Pada saat mereka telah berbaris, bangsa Romawi menggertak : “Biarkan kami masuk untuk membuat perhitungan dengan orang-orang kami yang kalian tawan!” Mendengar gertakan tersebut, kaum muslimin menjawab : “Demi Allah, kami tak akan membiarkan kalian mengusik saudara-saudara kami!” Maka terjadilah peperangan antara kedua pasukan. Sepertiga pasukan Islam akan melarikan diri, maka Allah tidak akan mengampuni mereka selama-lamanya. Sepertiga pasukan Islam akan terbunuh, merekalah sebaik-baik syuhada. Sepertiga yang lainnya akan memperoleh kemenangan dan tidak akan terkena fitnah sedikitpun selamanya. Kemudian mereka menaklukan kota Konstantinopel. Ketika mereka tengah membagi-bagi harta rampasan perang dan telah menggantungkan pedang-pedang mereka pada pohon Zaitun, mendadak suara teriakan setan, “Sesungguhnya Al Masih Ad Dajjal telah menguasai keluarga kalian!”

Mereka pun bergegas pulang, namun ternyata berita itu bohong. Tatkala mereka telah sampai di Syam, barulah Dajjal muncul. Ketika mereka tengah mempersiapkan diri untuk berperang dan merapikan barisan, tiba-tiba datang waktu shalat. Pada saat itulah Nabi Isa bin Maryam turun. Ia memimpin mereka. Begitu melihat Nabi Isa, musuh Allah si Dajjal pun meleleh bagaikan garam yang mencair. Sekiranya ia membiarkannya, sudah tentu musuh Allah itu akan hancur leleh. Namun Allah membunuhnya melalui perantara Nabi Isa, sehingga beliau menunjukkan kepada kaum muslimin darah musuh Allah yang masih segar menempel di ujung tombaknya.

SIMPULAN:

  1. Dibai’atnya Imam Mahdi oleh orang-orang sejumlah Ahlu Badr pasca terjadinya banjir darah di Mina. Setelah itu, Imam Mahdi dan pasukannya menaklukan Jazirah.
  2. Imam Mahdi dan pasukannya melakukan perjalanan ke Baitul Maqdis, Madinah dikosongkan. Yahudi diperangi. Beriring dengan ini, pasukan Khurasan pun melakukan perjalanan ke Baitul Maqdis.
  3. Imam Mahdi memerangi Persia Raya bersama orang-orang Romawi.
  4. Peperangan Akhir Zaman (Armageddon) : Pasukan Imam Mahdi melawan tentara Romawi. Sepertiga kaum muslimin menjadi munafiq, sepertiganya syahid, dan sepertiganya merasakan kemenangan di dunia.
  5. Penaklukan Konstantinopel.
  6. Kemunculan Dajjal.
  7. Kemunculan Nabi Isa dan dibunuhnya Dajjal.

 

Wallahu a’lam…

Al Imam Al Mahdi (bag. 2)

KONDISI DUNIA MENJELANG KEDATANGAN AL IMAM AL MAHDI

1.       Pembantaian dan Pembunuhan Massal terhadap Umat Islam

عنْ ثَوْبَانَ ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم : (يُوْشِكُ الْأمَم أنْ تَدَاعَى عَلَيْكًمْ كَمَا تَدَاعَى الْأكَلَة إِلَى قَصْعَتِهَا) ، فقال قائل : أمِنْ قِلّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ ؟ قال : (بَلْ أنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيْرٌ ، وَلَكِن تَكُوْنُ غُثَاءً كَغُثَاءِ السّيْلِ ، يَنْتَزِعُ المَهَابَة من قلوب عدوِّكم و يجعل في قلوبكم الوَهْن) ، فقال قائل : يا رسول الله وما الوهن ؟ قال : (حب الدنيا ، وكراهية الموت) . أخرجه أبو داود في سننه (4297) وأحمد في مسنده (21891)

Dari Tsawban, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam : Nyaris tiba saatnya banyak umat yang memperebutkan kalian, seperti orang-orang makan yang memperebutkan hidangannya, seseorang berkata : “Apakah karena jumlah kami sedikit pada hari itu?” Beliau bersabda: Bahkan jumlah kalian banyak pada hari itu, akan tetapi ibarat buih di atas air yang mengalir. Sungguh Allah telah mencabut rasa takut dari hati musuh-musuh kalian dan menimpakan kepada kalian penyakit al wahn, seseorang bertanya: “Apakah yang dimaksud dengan al wahn?” Rasul bersabda : Cinta dunia dan takut mati. [Dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya (4297) dan Ahmad dalam Musnadnya (21891)]

 

2.       Kehancuran Ideologi Kuffar (Mulkan Jabbariyah)

فقد روى الإمام أحمد (17680) عن النعمان بن بشير رضي الله عنه الله، قال: كنا جلوساً في المسجد فجاء أبو ثعلبة الخشني فقال: يا بشير بن سعد أتحفظ حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم في الأمراء، فقال حذيفة: أنا أحفظ خطبته. فجلس أبو ثعلبة.

Telah meriwayatkan Al Imam Ahmad (17680) dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Kami sedang duduk-duduk di dalam masjid, kemudian datang Abu Tsa’labah Al Khusyani dan ia berkata : “Wahai Basyir bin Sa’d, apakah engkau menghafal hadits Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam tentang kepemimpinan?” Lalu Hudzayfah berkata : Aku menghafal khutbah beliau.” Kemudian Abu Tsa’labah duduk.

فقال حذيفة: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون خلافة على منهاج النبوة فتكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون ملكًا عاضًا فيكون ما شاء الله أن يكون، ثم يرفعها إذا شاء الله أن يرفعها، ثم تكون ملكًا جبرية فتكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون خلافة على منهاج النبوة، ثم سكت). هذا الحديث حسن صحيح

Hudzyafah berkata : “Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam : Masa kenabian akan berlangsung di tengah-tengah kalian sesuai dengan kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya bila Dia telah menghendakinya. Kemudian masa Khilafah ‘alaa minhaaj an Nubuwwah berlangsung sesuai dengan kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya bila Dia telah menghendakinya. Kemudian berlangsung masa Mulkan ‘Adhan sesuai dengan kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya bila Dia telah menghendakinya. Kemudian berlangsung masa Mulkan Jabbariyah sesuai dengan kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya bila Dia telah menghendakinya. Kemudian berlangsung masa Khilafah ‘alaa minhaan an nubuwwah. Kemudian beliau diam.” Hadits ini hasan shahih.

3.       Kehancuran Ekonomi Dunia Pada Masa Tiga Tahun Kekeringan

قال ابْنُ كَثِيْر فِي تَفْسِيْرِهِ (الجزء الأول \ 580-582) : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (وَإنْ قَبْلَ خُرُوْجِ الدَّجَّالِ ثَلَاثَ سَنَوَاتٍ شِدَادٌ يُصِيْبُ النَاسَ فِيْهَا جُوْعٌ شَدِيْدٌ وَيَأْمُرُ اللهُ السَّمَاءَ فِي السَّنَةِ الْأُولَى أنْ تَحْبِسَ ثُلُثَ مَطَرِهَا وَيَأْمُرُ الْأَرْضَ فَتَحْبِسُ ثُلُثَ نَبَاتِهَا ثُمَّ يَأْمُرُ اللهُ السَّمَاءَ فِي السَّنَةِ الثَّانِيَةِ فَتَحْبِسُ ثُلُثَيْ مَطَرِهَا وَيَأْمُرُ الْأَرْضَ فَتَحْبِسُ ثُلُثَيْ نَبَاتِهَا ثُمّ يَأْمُرُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ السَّمَاءَ فِي السَّنَةِ الثَّالِثَةِ فَتَحْبِسُ مَطَرِهَا كُلَّهُ فَلَا تُقْطِرُ قَطْرَةً وَيَأْمُرُ الْأَرْضَ أنْ تَحْبِسَ نَبَاتِهَا كُلَّهُ فَلَا تُنْبِتُ خَضْرَاءَ فَلَا تَبْقَى ذَاتَ ظِلْفٍ إلّا هَلَكَتْ إلّا مَا شَاءَ اللهُ قِيْلَ فَمَا يُعِيْشُ النَّاسُ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ قَالَ التَّهْلِيْلُ والتَّكْبِيْرُ والتَّسْبِيْحُ والتَّحْمِيْدُ وَيُجْرَى ذَلِكَ عَلَيْهِمْ مُجْرَى الطَّعَامِ) روه ابن ماجه في سننه (4077)

Ibnu Katsir dalam tafisrnya (juz 1/ 580-582) menuliskan sebuah hadits yang panjang tentang ujian yang akan menimpa umat Islam. Bahwa sebelum munculnya Dajjal, pada tahun pertama sepertiga air hujan ditahan dari langit dan sepertiga tumbuhan ditahan dari bumi. Pada tahun kedua, sepertiga yang kedua dari air hujan ditahan dari langit dan tumbuhan ditahan dari bumi. Dan pada tahun ketiga air hujan seluruhnya ditahan dari langit dan tumbuhan seluruhnya ditahan dari bumi. Semua manusia akan hancur kecuali yang dikehendaki Allah dan dikaruniai-Nya. Ketika ditanyakan kepada Rasulullah bagaimana manusia bisa makan, Rasulullah menjawab : Tahlil, Takbir, Tasbih, dan Tahmid akan menjadi makanan bagi mereka. [HR Ibnu Majah dalam Sunan-nya no 4077]

4.       Kehancuran Perekonomian Ribawi, Mata Uang Kertas dan Kembalinya Dinar-Dirham

عن المِقْدَم بْنِ مَعْدِي كَرِب سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يقول : (لَيَأتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يَنْفَعُ فِيْهِ إلّا الدِيْنَار و الدِرْهَم) روه أحمد رقم (16569) سنده ضعيف لوجود أبي بكر بن أبي مريم

Dari Al Miqdam bin Ma’di Karib : Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ’alayhi wa sallam bersabda : Pasti akan benar-benar tiba di tengah-tengah manusia suatu zaman yang tidak akan bermanfaat/ bernilai di dalamnya kecuali dinar dan dirham. [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (16569). Para ahli hadits berpendapat sanadnya dhaif karena terdapat Abu Bakr bin Abi Maryam]


5.       Kembalinya Manusia ke Zaman Kuda dan Unta

Dalam hadits yang panjang yang diriwayatkan Imam Muslim, bahwa kaum muslimin perang berhadap-hadapan dengan bangsa Romawi dengan menggunakan pedang dan unta. Banyak analisis yang menguatkan fenomena ini, di antaranya adalah fenomena Badai Matahari, fenomena segitiga bermuda, dan lain sebagainya.

6.       Pembunuhan dan Peperangan Merajalela demi Mempertahankan Hidup

عنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :(وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ ، لَا تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى يَأْتِيَ عَلَى النَّاسِ يَوْمٌ لَا يَدْرِي الْقَاتِلُ فِيمَ قَتَلَ ، وَلَا الْمَقْتُولُ فِيمَ قُتِلَ)، فَقِيلَ : كَيْفَ يَكُونُ ذَلِكَ ؟ قَالَ : (الْهَرْجُ ، الْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ) رواه مسلم (2908)

Dari Abu Hurayrah, bersabda Rasulullah : “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Dunia tidak akan berakhir hingga datang kepada manusia suatu hari dimana seseorang tidak mengetahui mengapa ia membunuh atau dibunuh.” Seseorang berkata : Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Rasul menjawab : “Inilah Al Harj. Yang membunuh dan yang dibunuh di neraka.”

7.       Banyak Terjadi Bencana Alam

وعن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ ، وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ ، وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ ، وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ ، وَهُوَ الْقَتْلُ الْقَتْلُ ، حَتَّى يَكْثُرَ فِيكُمْ الْمَالُ فَيَفِيضَ ) رواه البخاري (1036) ومسلم (157)

Dari Abu Hurayrah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : Tidak akan terjadi hari kiamat sampai dicabutnya ilmu, banyak terjadi gempa, waktu yang semakin singkat, munculnya fitnah dan bencana, banyaknya al harj, yaitu saling membunuh, hingga melimpahruahnya harta di tengah-tengah kalian sampai kebanjiran (harta). [HR. Bukhari dan Muslim]

Sepotong Pembicaraan tentang Syari’ah dan Khilafah

Oleh : Rd. Laili Al Fadhli*

Tidak ada keraguan bagi setiap aktivis muslim tentang kewajiban melaksanaan syari’at Islam dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk di dalamnya aspek politik, peradilan, dan perundang-undangan. Seruan penegakkan kembali Khilafah Islamiyah menggema terdengar di seluruh antero negeri, menyusuri kolong-kolong langit bumi ini. Sayangnya, seperti ada yang terlupa mengiringi ruhnya. Sehingga seolah-olah konsep Syari’ah dan Khilafah sekedar membicarakan sepotong roti yang tidak diberikan secara adil oleh penguasa kepada rakyatnya. Sehingga seolah-olah konsep Syari’ah dan Khilafah sekedar tentang bagaimana harga cabai di pasar tidak mengalami kenaikan agar rakyat tidak lagi menjerit histeris dan ketakutan.

Islam Kaffah with Khilafah

Bagi setiap muslim sejati, tingkah laku dan seluruh gerak geriknya merupakan cerminan syari’at. Karena Allah telah menegaskan “Tidaklah kami menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah”. Dengan kata lain, mengerjakan seluruh perintahnya dan menjauhi segala larangan-Nya. Adapun dalam prosesnya, maka Allah hanya menghendaki totalitas dan penerimaan sepenuhnya, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan.”

Pada titik ini, kita harusnya memahami bahwa kepentingan ummat terhadap Syari’at dan Khilafah bukan sekedar kepentingan duniawi semata. Mengapa demikian?

Pertama, bahwa kesempurnaan keislaman seseorang hanya akan terealisasi jika ia berhasil menerapkan seluruh syari’at Islam dalam kehidupannya, baik dalam skala pribadi, sosial-masyarakat, atau kehidupan berbangsa dan bernegara. Karenanya, penegakkan syari’at Islam dan Khilafah Islamiyah adalah bentuk peribadahan yang tidak bisa tidak wajib diusahakan sebagai salah satu bukti nyata ketaatan kita kepada Allah azza wa jalla. Penerapan syari’at Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan satu-satunya sarana untuk mencapai kesempurnaan peribadahan dalam rangka menegakkan syari’at Islam dalam kehidupan setiap muslim. Maka, mengikuti satu kaidah ushul fiqih, “Sebuah kewajiban yang tidak bisa terlaksana kecuali dengan “sesuatu”, maka “sesuatu” itu menjadi wajib pula.”

Kedua, bahwa Khilafah ‘alaa minhaaj an nubuwwah merupakan isyarat qath’i yang telah disampaikan oleh Baginda Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam, sebagaimana riwayat shahih yang datang kepada kita. Ya, beliau tidak pernah mengabarkan secara pasti kapan Kekhilafahan akan kembali, namun justru hal tersebut seharusnya memberikan pelajaran kepada kita bahwa kitalah ummat Islam yang seharusnya mengusahakan penegakkan kembali syari’at Islam dan Kekhilafahan ke pentas peradaban. Maka  sesungguhnya menolak kehilafahan berarti menolak sunnah nabawiyah.

Ketiga, bahwa sesungguhnya pelaksanaan syari’at Islam dan penegakkan kembali Kekhilafahan tidaklah harus selalu berbanding lurus dengan apa yang disebut dengan “kesejahteraan”. Ini penting dipahami, karena terbukti setidaknya selama satu dekade pertama, Negara Islam Madinah mengalami guncangan ekonomi yang sangat dahsyat, hari demi hari dilalui dengan peperangan dan pertumpahan darah. Sebagian besar masyarakat terlibat dalam jihad dan meninggalkan pekerjaannya mengais rizki duniawi, sehingga seorang Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu pun harus terpaksa meninggalkan Medan Tabuk karena melihat pohon-pohon mulai berbuah dan dedaunan mulai rindang (tanda panen). Akhirnya, Allah sendiri yang langsung memberikan hukuman karena ia telah berpaling dari jihad fii sabiilillah. Bersyukurlah akhirnya Allah dan Rasul-Nya menerima taubat dari Ka’ab bin Malik dan dua orang sahabat yang lainnya ridhwaanullahu ajma’in.

Al Khilafah

Tidak dapat terbayang bagi kita, sebuah Negara yang baru berdiri harus dihantam sana-sini dengan berbagai persoalan yang dapat melupakan rakyatnya dari kehidupan duniawi. Pengkhianatan kaum Yahudi dari dalam negeri, peperangan dengan kaum musyrikin Makkah, hingga pembebasan negeri-negeri di sekitar Madinah demi menyebarkan risalah tawhid dan da’wah Islamiyyah.

Lebih dari itu, pada masa kekhalifahan ‘Umar bin Al Khathab, para pedagang sempat mengalami guncangan ekonomi karena gagalnya sebagian hasil panen yang menyebabkan terjadinya kenaikan harga pada beberapa bahan pokok masyarakat. Saat diadukan hal ini kepada Khalifah ‘Umar, maka beliau pun cukup memberikan nasihat untuk bersabar karena sesungguhnya harga (selama tidak dipermainkan) adalah sunnatullah. Maka, apakah kita akan berhenti memperjuangkan syari’at Islam dan Kekhilafahan saat melihat beberapa realita sejarah tersebut?

Justru saya pribadi cenderung khawatir saat slogan Syari’ah dan Khilafah terlalu sering dikaitkan dengan “kesejahteraan” yang bersifat duniawi. Maka apa yang akan terjadi nanti bila pada suatu masa syari’at Islam telah dilaksanakan dan Khilafah telah ditegakkan, namun beberpa kejadian sejarah yang menghalangi ummat dari rizki duniawi seperti di atas kemudian terulang..? Maka bisa saja rakyat akan menuntut serta menyalahkan Syari’at dan Khilafah karena dinilai tidak bisa menyelesaikan masalah mereka. Ini jelas merupakan kerugian.

Ya, saya tidak memungkiri bahwa pelaksanaan Syari’ah dan Khilafah dapat memberikan dampak positif bagi kehidupan dunia, sebagaimana yang terjadi pada masa Kekhilafahan ‘Umar bin Abdul Aziz, dan ini juga yang telah dijanjikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dalam sunnahnya saat memberikan isyarat Nubuwwah tentang hadirnya Al Mahdi dari kalangan Ahlul Bait-nya, Muhammad bin Abdullah Al Fathimi Al Hasani (bukan Al Husaini), di mana ia akan memenuhi bumi dengan kebenaran dan keadilan, membagi-bagikan emas dan harta benda untuk mensejahterakan kaum muslimin.

Slogan “Hidup Sejahtera Di Bawah Naungan Khilafah” belum tepat sasaran

Begitupun dalam Al Qur’an, Allah telah menjelaskan kepada kita, “Sekiranya penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa, maka Kami pasti membukakan pintu keberkahan dari langit dan bumi bagi mereka.” Ini jelas menunjukkan bahwa pelaksanaan syari’at Islam yang merupakan representasi dari kesempurnaan iman dan taqwa akan memberikan dampak positif berupa melimpahnya keberkahan dari langit dan bumi.

Namun demikian, harus kita pahami bersama bahwa perbincangan Syari’ah dan Khilafah sudah sepatutnya tidak berhenti sampai di situ, bahkan harus ada upaya penyadaran kepada ummat bahwa tujuan utama pelaksanaan syari’at dan Khilafah bukanlah persoalan sepotong roti dan perut yang keroncongan. Ada lagi yang lebih penting dan utama dari semua itu. Adalah sebuah sarana penyempurnaan keislaman kita, sebagai bukti kongkrit yang merepresentasikan iman dan taqwa dalam jiwa setiap muslim. Bila kita telah sepakat akan hal ini, maka kita pun bisa menarik simpulan bahwa pembicaraan tentang Syari’ah dan Khilafah bukanlah persoalan dunia yang sempit, namun lebih kepada persoalan kehidupan akhirat yang luas membentang. Wallahu a’lam

*Penulis adalah Staf Humas Mahasiswa Pencinta Islam (MPI) Pusat dan Ketua Mahasiswa Pecinta Islam (MPI) Daerah Bandung

Artikel ini juga di muat di Majalah Bulanan An Najah, edisi Mei 2012

Terjemahan Matan Kitab “Safinatun Naja” (bag. 2)

(BAB III)
“SHALAT”

(Fasal Satu)
Udzur shalat:
1. Tidur .
2. Lupa.

(Fasal Dua)
Syarat sah shalat ada delapan, yaitu:
1. Suci dari hadats besar dan kecil.
2. Suci pakaian, badan dan tempat dari najis.
3. Menutup aurat.
4. Menghadap kiblat.
2. Masuk waktu shalat.
3. Mengetahui rukun-rukan shalat.
4. Tidak meyakini bahwa diantara rukun-rukun shalat adalah sunnahnya
5. Menjauhi semua yang membatalkan shalat.

Macam-macam hadats: Hadats ada dua macam, yaitu: Kecil dan Besar.
Hadats kecil adalah hadats yang mewajibkan seseorang untuk berwudhu’, sedangkan hadats besar adalah hadats yang mewajibkan seseorang untuk mandi.

Macam macam aurat: Aurat ada empat macam, yaitu:
1. Aurat semua laki-laki (merdeka atau budak) dan budak perempuan ketika shalat, yaitu antara pusar dan lutut.
2. Aurat perempuan merdeka ketika shalat, yaitu seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan.
3. Aurat perempuan merdeka dan budak terhadap laki-laki yang ajnabi (bukan mahram), yaitu seluruh badan.
4. Aurat perempuan merdeka dan budak terhadap laki-laki mahrammya dan perempuan, yaitu antara pusar dan lutut.

(Fasal Tiga)
Rukun shalat ada tujuh belas, yaitu:
1. Niat.
2. Takbiratul ihram (mengucapkan “Allahu akbar”).
3. Berdiri bagi yang mampu.
4. Membaca al fatihah.
5. Ruku’ (membungkukkan badan).
6. Thuma’ninah (diam sebentar) waktu ruku’.
7. I’tidal (berdiri setelah ruku’).
8. Thuma’ninah (diam sebentar waktu i’tidal).
9. Sujud dua kali.
10. Thuma’ninah (diam sebentar waktu sujud).
11. Duduk diantara dua sujud.
12. Thuma’ninah (diam sebentar ketika duduk).
13. Tasyahud akhir (membaca kalimat-kalimat yang tertentu).
14. Duduk diwaktu tasyahud.
15. Shalawat (kepada nabi).
16. Salam (kepada nabi).
17. Tertib (berurutan sesuai urutannya).

(Fasal Empat)
Niat itu ada tiga derajat, yaitu:
3. Jika shalat yang dikerjakan fardhu, diwajibkanlah niat qasdul fi’li (mengerjakan shalat tersebut), ta’yin (nama sholat yang dikerjakan) dan fardhiyah (kefardhuannya).
4. Jika shalat yang dikerjakan sunnah yang mempunyai waktu atau mempunyai sebab, diwajibkanlah niat mengerjakan shalat tersebut dan nama sholat yang dikerjakan seperti sunah Rawatib (sebelum dan sesudah fardhu-fardhu).
5. Jika shalat yang dikerjakan sunnah Mutlaq (tanpa sebab), diwajibkanlah niat mengerjakan shalat tersebut saja.
Yang dimaksud dengan qasdul fi’li adalah aku beniat sembahyang (menyenghajanya), dan yang dimaksud ta’yin adalah seperti dzuhur atau ashar, adapun fardhiyah adalah niat fardhu.

(Fasal Lima)
Syarat takbiratul ihram ada enam belas, yaitu:
1. Mengucapkan takbiratul ihram tersebut ketika berdiri (jika shalat tersebut fardhu).
2. Mengucapkannya dengan bahasa Arab.
3. Menggunakan lafal “Allah”.
4. Menggunakan lafal “Akbar”.
5. Berurutan antara dua lafal tersebut.
6. Tidak memanjangkan huruf “Hamzah” dari lafal “Allah”.
7. Tidak memanjangkan huruf “Ba” dari lafal “Akbar”.
8. Tidak mentaysdidkan (mendobelkan/mengulang) huruf “Ba” tersebut.
9. Tidak menambah huruf “Waw” berbaris atau tidak antara dua kalimat tersebut.
10. Tidak menambah huruf “Waw” sebelum lafal “Allah”.
11. Tidak berhenti antara dua kalimat sekalipun sebentar.
12. Mendengarkan dua kalimat tersebut.
13. Masuk waktu shalat tersebut jika mempuyai waktu.
14. Mengucapkan takbiratul ihram tersebut ketika menghadap qiblat.
15. Tidak tersalah dalam mengucapkan salah satu dari huruf kalimat tersebut.
16. Takbiratul ihram ma’mum sesudah takbiratul ihram dari imam.

(Fasal Enam)
Syarat-syarat sah membaca surat al-Fatihah ada sepuluh, yaitu:
1. Tertib (yaitu membaca surat al-Fatihah sesuai urutan ayatnya).
2. Muwalat (yaitu membaca surat al-Fatihah dengan tanpa terputus oleh aktivitas yang lain).
3. Memperhatikan makhraj huruf (tempat keluar huruf) serta tempat-tempat tasydid.
4. Tidak lama terputus antara ayat-ayat al-Fatihah ataupun terputus sebentar dengan niat memutuskan bacaan.
5. Membaca semua ayat al-Fatihah.
6. Basmalah termasuk ayat dari al-Fatihah.
7. Tidak menggunakan lahan (lagu) yang dapat merubah makna.
8. Memabaca surat al-Fatihah dalam keaadaan berdiri ketika shalat fardhu.
9. Mendengar surat al-Fatihah yang dibaca.
10. Tidak terhalang oleh dzikir yang lain.

(Fasal Tujuh)
Tempat-tempat tasydid dalam surah al-fatihah ada empat belas, yaitu:
1. Tasydid huruf “Lam” jalalah pada lafal (الله ).
2. Tasydid huruf “Ra’” pada lafal (( الرّحمن .
3. Tasydid huruf “Ra’” pada lapal ( الرّحيم).
4. Tasydid “Lam” jalalah pada lafal ( الحمد لله).
5. Tasydid huruf “Ba’” pada kalimat (ربّ العالمين ).
6. Tasydid huruf “Ra’” pada lafal (الرّحمن ).
7. Tasydid huruf “Ra’” pada lafal ( الرّحيم).
8. Tasydid huruf “Dal” pada lafal (الدّين ).
9. Tasydid huruf “Ya’” pada kalimat إيّاك نعبد) ).
10. Tasydid huruf “Ya” pada kalimat (وإيّاك نستعين ).
11. Tasydid huruf “Shad” pada kalimat ( اهدنا الصّراط المستقيم).
12. Tasydid huruf “Lam” pada kalimat (صراط الّذين ).
13. Tasydid “Dhad” pada kalimat (ولا الضالين).
14. Tasydid huruf “Lam” pada kalimat (ولا الضالين).

(Fasal Delapan)
Tempat disunatkan mengangkat tangan ketika shalat ada empat, yaitu:
1. Ketika takbiratul ihram.
2. Ketika Ruku’.
3. Ketika bangkit dari Ruku’ (I’tidal).
4. Ketika bangkit dari tashahud awal.

(Fasal Sembilan)
Syarat sah sujud ada tujuh, yaitu:
1. Sujud dengan tujuh anggota.
2. Dahi terbuka (jangan ada yang menutupi dahi).
3. Menekan sekedar berat kepala.
4. Tidak ada maksud lain kecuali sujud.
5. Tidak sujud ketempat yang bergerak jika ia bergerak.
6. Meninggikan bagian punggung dan merendahkan bagian kepala.
7. Thuma’ninah pada sujud.

Penutup:

Ketika seseorang sujud anggota tubuh yang wajib di letakkan di tempat sujud ada tujuh, yaitu:
1. Dahi.
2. Bagian dalam dari telapak tangan kanan.
3. Bagian dalam dari telapak tangan kiri.
4. Lutut kaki yang kanan.
5. Lutut kaki yang kiri.
6. Bagian dalam jari-jari kanan.
7. Bagian dalam jari-jari kiri.

(Fasal Sepuluh)
Dalam kalimat tasyahud terdapat dua puluh satu harakah (baris) tasydid, enam belas di antaranya terletak di kalimat tasyahud yang wajib di baca, dan lima yang tersisa dalam kalimat yang menyempurnakan tasyahud (yang sunah dibaca), yaitu:
1. “Attahiyyat”: harakah tasydid terletak di huruf “Ta’”.
2. “Attahiyyat”: harakah tasydid terletak di huruf “Ya’”.
3. “Almubarakatusshalawat”: harakah tasydid di huruf “Shad”.
4. “Atthayyibaat”: harakah tasydid di huruf “Tha’”.
5. “Atthayyibaat”: harakah tasydid di huruf “ya’”.
6. “Lillaah”: harakah tasydid di “Lam” jalalah.
7. “Assalaam”: di huruf “Sin”.
8. “A’laika ayyuhannabiyyu”: di huruf “Ya’”.
9. “A’laika ayyuhannabiyyu”: di huruf “Nun”.
10. “A’laika ayyuhannabiyyu”: di huruf “Ya’”.
11. “Warohmatullaah”: di “Lam” jalalah.
12. “Wabarakatuh, assalaam”: di huruf “Sin”.
13. “Alainaa wa’alaa I’baadillah”: di “Lam” jalalah.
14. “Asshalihiin”: di huruf shad.
15. “Asyhaduallaa”: di “Lam alif”.
16. “Ilaha Illallaah”: di “Lam alif”.
17. “Illallaah”: di “Lam” jalalah.
18. “Waasyhaduanna”: di huruf “Nun”.
19. “Muhammadarrasulullaah”: di huruf “Mim”.
20. “Muhammadarrasulullaah”: di huruf “Ra’”.
21. “Muhammadarrasulullaah”: di huruf “Lam” jalalah.

(Fasal Sebelas)
Sekurang-kurang kalimat shalawat nabi yang memenuhi standar kewajiban di tasyahud akhir adalah Allaahumma shalliy ’alaa Muhammad.
(Adapun) harakat tasydid yang ada di kalimat shalawat nabi tersebut ada di huruf “Lam” dan “Mim” di lafal “Allahumma”. Dan di huruf “Lam” di lafal “Shalli”. Dan di huruf “Mim” di Muhammad.

(Fasal Dua Belas)
Sekurang-kurang salam yang memenuhi standar kewajiban di tasyahud akhir adalah Assalaamu’alaikum. Adpun Harakat tasydid yang ada di kalimat tersebut terletak di huruf “Sin”.

(Fasal Tiga Belas)
Waktu waktu shalat.
1. Waktu shalat dzuhur:
Dimulai dari tergelincirnya matahari dari tengah-tengah langit kearah barat dan berakhir ketika bayangan suatu benda menyamai ukuran panjangnya dengan benda tersebut.
2. Waktu salat Ashar:
Dimulai ketika bayangan dari suatu benda melebihi ukuran panjang dari benda tersebut dan berakhir ketika matahari terbenam.
3. Waktu shalat Magrib:
Berawal ketika matahari terbenam dan berakhir dengan hilangnya sinar merah yang muncul setelah matahari terbenam.
4. Waktu shalat Isya
Diawali dengan hilangnya sinar merah yang muncul setelah matahari terbenam dan berakhir dengan terbitnya fajar shadiq. Yang di maksud dengan Fajar shadiq adalah sinar yang membentang dari arah timur membentuk garis horizontal dari selatan ke utara.
5 Waktu shalat Shubuh:
Di mulai dari timbulnya fajar shadiq dan berakhir dengan terbitnya matahari.

Warna sinar matahari yang muncul setelah matahari terbenam ada tiga, yaitu:
Sinar merah, kuning dan putih. Sinar merah muncul ketika magrib sedangkan sinar kuning dan putih muncul di waktu Isya.
Disunnahkan untuk menunda atau mangakhirkan shalat Isya sampai hilangnya sinar kuning dan putih.

(Fasal Empat Belas)
Shalat itu haram manakala tidak ada mempunyai sebab terdahulu atau sebab yang bersamaan (maksudnya tanpa ada sebab sama sekali seperti sunat mutlaq) dalam beberapa waktu, yaitu:
1. Ketika terbit matahari sampai naik sekira-kira sama dengan ukuran tongkat atau tombak.
2. Ketika matahari berada tepat ditengah tengah langit sampai bergeser kecuali hari Jum’at.
3. Ketika matahari kemerah-merahan sampai tenggelam.
4. Sesudah shalat Shubuh sampai terbit matahari.
5. Sesudah shalat Ashar sampai matahari terbenam.

(Fasal Lima Belas)
Tempat saktah (berhenti dari membaca) pada waktu shalat ada enam tempat, yaitu:
1. Antara takbiratul ihram dan do’a iftitah (doa pembuka sesudah takbiratul ihram).
2. Antara doa iftitah dan ta’awudz (mengucapkan perlindungan dengan Allah SWT dari setan yang terkutuk).
3. Antara ta’awudz dan membaca fatihah.
4. Antara akhir fatihah dan ta’min (mengucapkan amin).
5. Antara ta’min dan membaca surat (qur’an).
6. Antara membaca surat dan ruku’.
Semua tersebut dengan kadar tasbih (bacaan subhanallah), kecuali antara ta’min dan membaca surat, disunahkan bagi imam memanjangkan saktah dengan kadar membaca fatihah.

(Fasal Enam Belas)
Rukun-rukun yang diwajibkan didalamnya tuma’ninah ada empat, yaitu:
1. Ketika ruku’.
2. Ketika i’tidal.
3. Ketika sujud.
4. Ketika duduk antara dua sujud.
Tuma’ninah adalah diam sesudah gerakan sebelumnya, sekira-kira semua anggota badan tetap (tidak bergerak) dengan kadar tasbih (membaca subhanallah).

(Fasal Tujuh Belas)
Sebab sujud sahwi ada empat, yaitu:
1. Meninggalkan sebagian dari ab’adhus shalat (pekerjaan sunnah dalam shalat yang buruk jika seseorang meniggalkannya).
2. Mengerjakan sesuatu yang membatalkan (padahal ia lupa), jika dikerjakan dengan sengaja dan tidak membatalkan jika ia lupa.
3. Memindahkan rukun qauli (yang diucapkan) kebukan tempatnya.
4. Mengerjakan rukun Fi’li (yang diperbuat) dengan kemungkinan kelebihan.

(Fasal Delapan Belas)
Ab’adusshalah ada enam, yaitu:
1. Tasyahud awal
2. Duduk tasyahud awal.
3. Shalawat untuk nabi Muhammad shallallahu ‘alayi wa sallam ketika tasyahud awal.
4. Shalawat untuk keluarga nabi ketika tasyahud akhir.
5. Do’a qunut.
6. Berdiri untuk do’a qunut.
7. Shalawat dan Salam untuk nabi Muhammad shallallahu ‘alayi wa sallam, keluarga dan sahabat ketika do’a qunut.

(Fasal Sembilan Belas)
Perkara yang membatalkan shalat ada empat belas, yaitu:
1. Berhadats (seperti kencing dan buang air besar).
2. Terkena najis, jika tidak dihilangkan seketika, tanpa dipegang atau diangkat (dengan tangan atau selainnya).
3. Terbuka aurat, jika tidak dihilangkan seketikas.
4. Mengucapkan dua huruf atau satu huruf yang dapat difaham.
5. Mengerjakan sesuatu yang membatalkan puasa dengn sengaja.
6. Makan yang banyak sekalipun lupa.
7. Bergerak dengan tiga gerakan berturut-turut sekalipun lupa.
8. Melompat yang luas.
9. Memukul yang keras.
10. Menambah rukun fi’li dengan sengaja.
11. Mendahului imam dengan dua rukun fi’li dengan sengaja.
12. Terlambat denga dua rukun fi’li tanpa udzur.
13. Niat yang membatalkan shalat.
14. Mensyaratkan berhenti shalat dengan sesuatu dan ragu dalam memberhentikannya.

(Fasal Dua Puluh)
Diwajibkan bagi seorang imam berniat menjadi imam terdapat dalam empat shalat, yaitu:
1- Menjadi Imam jum’at
2- Menjadi imam dalam shalat i`aadah (mengulangi shalat).
3- Menjadi imam shalat nazar berjama`ah
4- Menjadi imam shalat jamak taqdim sebab hujan

(Fasal Dua Puluh Satu)
Syarat – Syarat ma`mum mengikut imam ada sebelas perkara, yaitu:
1- Tidak mengetahui batal nya shalat imam dengan sebab hadats atau yang lain nya.
2- Tidak meyakinkan bahwa imam wajib mengqadha` shalat tersebut.
3- Seorang imam tidak menjadi ma`mum .
4- Seorang imam tidak ummi (harus baik bacaanya).
5- Ma`mum tidak melebihi tempat berdiri imam.
6- Harus mengetahui gerak gerik perpindahan perbuatan shalat imam.
7- Berada dalam satu masjid (tempat) atau berada dalam jarak kurang lebih tiga ratus hasta.
8- Ma`mum berniat mengikut imam atau niat jama`ah.
9- Shalat imam dan ma`mum harus sama cara dan kaifiyatnya
10- Ma`mum tidak menyelahi imam dalam perbuata sunnah yang sangat berlainan atau berbeda sekali.
11- Ma`mum harus mengikuti perbuatan imam.

(Fasal Dua Puluh Dua)
Ada lima golongan orang–orang yang sah dalam berjamaah, yaitu:
1- Laki –laki mengikut laki – laki.
2- Perempuan mengikut laki – laki.
3- Banci mengikut laki – laki.
4- Perempuan mengikut banci.
5- Perempuan mengikut perempuan.

(Fasal Dua Puluh Tiga)
Ada empat golongan orang – orang yang tidak sah dalam berjamaah, yaitu:
1- Laki – laki mengikut perempuan.
2- Laki – laki mengikut banci.
3- Banci mengikut perempuan.
4- Banci mengikut banci.

(Fasal Dua Puluh Empat)
Ada empat, syarat sah jamak taqdim (mengabung dua shalat diwaktu yang pertama), yaitu:
1- Di mulai dari shalat yang pertama.
2- Niat jamak (mengumpulkan dua shalat sekali gus).
3- Berturut – turut.
4- Udzurnya terus menerus.

(Fasal Dua Puluh Lima)
Ada dua syarat jamak takhir, yaitu:
1- Niat ta’khir (pada waktu shalat pertama walaupun masih tersisa waktunya sekedar lamanya waktu mengerjakan shalat tersebut).
2- Udzurnya terus menerus sampai selesai waktu shalat kedua.

(Fasal Dua Puluh Enam)
Ada tujuh syarat qasar, yaitu:
1- Jauh perjalanan dengan dua marhalah atau lebih (80,640 km atau perjalanan sehari semalam).
2- Perjalanan yang di lakukan adalah safar mubah (bukan perlayaran yang didasari niat mengerja maksiat ).
3- Mengetahui hukum kebolehan qasar.
4- Niat qasar ketika takbiratul `ihram.
5- Shalat yang di qasar adalah shalat ruba`iyah (tidak kurang dari empat rak`aat).
6- Perjalanan terus menerus sampai selesai shalat tersebut.
7- Tidak mengikuti dengan orang yang itmam (shalat yang tidak di qasar) dalam sebagian shalat nya.

(Fasal Dua Puluh Tujuh)
Syarat sah shalat Jum’at ada enam, yaitu:
1. Khutbah dan shalat Jum’at dilaksanakan pada waktu Dzuhur.
2. Kegiatan Jum’at tersebut dilakukan dalam batas desa.
3. Dilaksanakan secara berjamaah.
4. Jamaah Jum’at minimal berjumlah empat puluh (40) laki-laki merdeka, baligh dan penduduk asli daerah tersebut.
5. Dilaksanakan secara tertib, yaitu dengan khutbah terlebih dahulu, disusul dengan shalat Jum’at.

(Fasal Dua Puluh Delapan)
Rukun khutbah Jum’at ada lima, yaitu:
1. Mengucapkan “الحمد لله” dalam dua khutbah tersebut.
2. Bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alayi wa sallam dalam dua khutbah tersebut.
3. Berwasiat ketaqwaan kepada jamaah Jum’at dalam dua khutbah Jum’at tersebut.
4. Membaca ayat al Qur’an dalam salah satu khutbah.
5. Mendo’akan seluruh umat muslim pada akhir khutbah.

(Fasal Dua Puluh Sembilan)
Syarat sah khutbah jum’at ada sepuluh, yaitu:
1. Bersih dari hadats kecil (seperti kencing) dan besar seperti junub.
2. Pakaian, badan dan tempat bersih dari segala najis.
3. Menutup aurat.
4. Khutbah disampaikan dengan berdiri bagi yang mampu.
5. Kedua khutbah dipisahkan dengan duduk ringan seperti tuma’ninah dalam shalat ditambah beberapa detik.
6. Kedua khutbah dilaksanakan dengan berurutan (tidak diselangi dengan kegiatan yang lain, kecuali duduk).
7. Khutbah dan sholat Jum’at dilaksanakan secara berurutan.
8. Kedua khutbah disampaikan dengan bahasa Arab.
9. Khutbah Jum’at didengarkan oleh 40 laki-laki merdeka, balig serta penduduk asli daerah tersebut.
10. Khutbah Jum’at dilaksanakan dalam waktu Dzuhur.

Terjemahan Matan Kitab “Safinatun Najah” (bag. 1)

(Muqaddimah)

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala puji hanya kepada Allah Rabb semesta alam, dan kepadaNya jualah kita memohon pertolongan atas segala perkara dunia dan akhirat. Dan shalawat serta salamNya semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam, penutup para nabi, juga terhadap keluarga, sahabat sekalian. Dan tiada daya upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa.

(BAB I)
“Aqidah”

(Fasal Satu)

Rukun Islam ada lima perkara, yaitu:

1. Bersaksi bahwa tiada ada tuhan yang haq kecuali Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam adalah utusanNya.

2. Mendirikan shalat (lima waktu).

3. Menunaikan zakat.

4. Puasa Ramadhan.

5. Ibadah haji ke baitullah bagi yang telah mampu melaksanakannya.

(Fasal Dua)

Rukun iman ada enam, yaitu:

1. Beriman kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

2. Beriman kepada sekalian Mala’ikat

3. Beriman dengan segala kitab-kitab suci.

4. Beriman dengan sekalian Rasul-rasul.

5. Beriman dengan hari kiamat.

6. Beriman dengan ketentuan baik dan buruknya dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

(Fasal Tiga)

Adapun arti “La ilaha illah”, yaitu: Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dalam kenyataan selain Allah.

(BAB II)
“Thaharah”

(Fasal Satu)

Adapun tanda-tanda balig (mencapai usia remaja) seseorang ada tiga, yaitu:

1. Berumur seorang laki-laki atau perempuan lima belas tahun.

2. Bermimpi (junub) terhadap laki-laki dan perempuan ketika melewati sembilan tahun.

3. Keluar darah haidh sesudah berumur sembilan tahun .

 

(Fasal Dua)

Syarat boleh menggunakan batu untuk beristinja ada delapan, yaitu:

1. Menggunakan tiga batu.

2. Mensucikan tempat keluar najis dengan batu tersebut.

3. Najis tersebut tidak kering.

4. Najis tersebut tidak berpindah.

5. Tempat istinja tersebut tidak terkena benda yang lain sekalipun tidak najis.

6. Najis tersebut tidak berpindah tempat istinja (lubang kemaluan belakang dan kepala kemaluan depan) .

7. Najis tersebut tidak terkena air .

8. Batu tersebut suci.

(Fasal Tiga)

Rukun wudhu ada enam, yaitu:

1. Niat.

2. Membasuh muka

3. Membasuh kedua tangan serta siku.

4. Menyapu sebagian kepala.

5. Membasuh kedua kaki (sampai mata kaki).

6. Tertib.

(Fasal Empat)

Niat adalah menyengaja suatu (perbuatan) berbarengan (bersamaan) dengan perbuatannya di dalam hati. Adapun mengucapkan niat tersebut maka hukumnya sunnah, dan waktunya ketika pertama membasuh sebagian muka.
Adapun tertib yang dimaksud adalah tidak mendahulukan satu anggota terhadap anggota yag lain (sebagaimana yang telah tersebut).

(Fasal Lima)

Air terbagi kepada dua macam; Air yang sedikit. Dan air yang banyak.
Adapun air yang sedikit adalah air yang kurang dari dua qullah. Dan air yang banyak itu adalah yang sampai dua qullah atau lebih.

Air yang sedikit akan menjadi najis dengan sebab tertimpa najis kedalamnya, sekalipun tidak berubah. Adapun air yang banyak maka tdak akan menjadi najis kecuali air tersebut telah berubah warna, rasa atau baunya.

(Fasal Enam)

Yang mewajibkan mandi ada enam perkara, yaitu:

1- Memasukkan kemaluan (kepala dzakar) ke dalam farji (kemaluan) perempuan.

2- Keluar air mani.

3- Mati.

4- Keluar darah haidh [datang bulan].

5- Keluar darah nifas [darah yang keluar setelah melahirkan].

6- Melahirkan.

 (Fasal Tujuh)

Fardhu–fardhu (rukun) mandi yang diwajibkan ada dua perkara, yaitu:

1- Niat mandi wajib.

2- Menyampaikan air ke seluruh tubuh dengan sempurna.

(Fasal Delapan)

Syarat– Syarat Wudhu` ada sepuluh, yaitu:

1- Islam.

2- Tamyiz (cukup umur dan ber’akal).

3- Suci dari haidh dan nifas.

4- Lepas dari segala hal dan sesuatu yang bisa menghalang sampai air ke kulit.

5- Tidak ada sesuatu disalah satu anggota wudhu` yang merubah keaslian air.

6- Mengetahui bahwa hukum wudhu` tersebut adalah wajib.

7- Tidak boleh beri`tiqad (berkeyakinan) bahwa salah satu dari fardhu–fardhu wudhu` hukumnya sunnah (tidak wajib).

8- Kesucian air wudhu` tersebut.

9- Masuk waktu shalat yang dikerjakan.

10- Muwalat .

Dua syarat terakhir ini khusus untuk da`im al-hadats .

(Fasal Sembilan)

Yang membatalkan wudhu` ada empat, yaitu:

1- Apa bila keluar sesuatu dari salahsatu kemaluan seperti angin dan lainnya, kecuali air mani.

2- Hilang akal seperti tidur dan lain lain, kecuali tidur dalam keadaan duduk rapat bagian punggung dan pantatnya dengan tempat duduknya, sehingga yakin tidak keluar angin sewaktu tidur tersebut

3- Bersentuhan antara kulit laki–laki dengan kulit perempuan yang bukan mahram baginya dan tidak ada penghalang antara dua kulit tersebut seperti kain dll.

Mahram”: (orang yang haram dinikahi seperti saudara kandung).

4- Menyentuh kemaluan orang lain atau dirinya sendiri atau menyentuh tempat pelipis dubur (kerucut sekeliling) dengan telapak tangan atau telapak jarinya.

(Fasal Sepuluh)

Larangan bagi orang yang berhadats kecil ada tiga, yaitu:

1- Shalat, fardhu maupun sunnah.

2- Thawaaf (keliling ka`bah tujuh kali).

3- Menyentuh kitab suci Al-Qur`an atau mengangkatnya.

Larangan bagi orang yang berhadats besar (junub) ada lima, yaitu:

1- Shalat.

2- Thawaaf.

3- Menyentuh Al-Qur`an.

4- Membaca Al-Qur`an.

5- I`tikaf (berdiam di masjid).

Larangan bagi perempuan yang sedang haidh ada sepuluh, yaitu:

1- Shalat.

2- Thawaaf.

3- Menyentuh Al-Qur`an.

4- Membaca Al-Qur`an.

5- Puasa

6- I’tikaf di masjid.

7- Masuk ke dalam masjid sekalipun hanya untuk sekedar lewat jika ia takut akan mengotori masjid tersebut.

8- Cerai, karena itu, dilarang suami menceraikan isterinya dalam keadaan haidh.

9- Jima`.

10- Bersenang–senang dengan pasangan di antara pusar dan lutut.

(Fasal Sebelas)

Sebab – Sebab yang membolehkan tayammum ada tiga hal, yaitu:

1- Tidak ada air untuk berwudhu`.

2- Ada penyakit yang mengakibatkan tidak boleh memakai air.

3- Ada air hanya sekedar mencukupi kebutuhan minum manusia atau binatang yang Muhtaram .

Adapun selain Muhtaram ada enam macam, yaitu:

1- Orang yang meninggalkan shalat wajib.

2- kafir Harbiy (yang boleh di bunuh).

3- Murtad.

4- Penzina dalam keadaan Ihshan (orang yang sudah ber’aqad nikah yang sah).

5- Anjing yang menyalak (tidak mena`ati pemiliknya atau tidak boleh dipelihara).

6- Babi.

(Fasal Dua Belas)

Syarat–Syarat mengerjakan tayammum ada sepuluh, yaitu:

1- Bertayammum dengan tanah.

2- Menggunakan tanah yang suci tidak terkena najis.

3- Tidak pernah di pakai sebelumnya (untuk tayammaum yang fardhu).

4- Murni dari campuran yang lain seperti tepung dan seumpamanya.

5- Meng-qashd atau menghendaki (berniat) bahwa sapuan dengan tanah tersebut untuk dijadikan tayammum.

6- Masuk waktu shalat fardhu tersebut, sebelum tayammum.

7- Bertayammum tiap kali shalat fardhu tiba.

8- Berhati–hati dan bersungguh–sungguh dalam mencari arah qiblat sebelum memulai tayammum.

9- Menyapu muka dan dua tangannya dengan dua kali mengusap tanah tayammum secara masing – masing (terpisah).

10- Menghilangkan segala najis di badan terlebih dahulu.

(Fasal Tiga Belas)

Rukun-rukun tayammum ada lima, yaitu:

1. Memindah debu.

2. Niat.

3. Mengusap wajah.

4. Mengusap kedua belah tangan sampai siku.

5. Tertib antara dua usapan.

 

(Fasal Empat Belas)

Perkara yang membatalkan tayammum ada tiga, yaitu:

1. Semua yang membatalkan wudhu’.

2. Murtad.

3. Ragu-ragu terdapatnya air, apabila dia bertayammum karena tidak ada air.

(Fasal Lima Belas)

Perkara yang menjadi suci dari yang asalnya najis ada tiga, yaitu:

1. Khamar (air yang diperah dari anggur) apabila telah menjadi cuka.

2. Kulit binatang yang disamak.

3. Semua najis yang telah berubah menjadi binatang.

(Fasal Enam Belas)

Macam macam najis ada tiga, yaitu:

1. Najis besar (Mughalladzah), yaitu Anjing, Babi atau yang lahir dari salah satunya.

2. Najis ringan (Mukhaffafah), yaitu air kencing bayi yang tidak makan, selain susu dari ibunya, dan umurnya belum sampai dua tahun.

3. Najis sedang (Mutawassithah), yaitu semua najis selain dua yang diatas.

(Fasal Tujuh Belas)

Cara menyucikan najis-najis:

Najis besar (Mughalladzhah), menyucikannya dengan membasuh sebanyak tujuh kali, salah satunya menggunakan debu, setelah hilang ‘ayin (benda) yang najis.

Najis ringan (Mukhaffafah), menyucikannya dengan memercikkan air secara menyeluruh dan menghilangkan ‘ayin yang najis.

Najis sedang (Mutawassithah) terbagi dua bagian, yaitu:

1. ‘Ainiyyah yaitu najis yang masih nampak warna, bau, atau rasanya, maka cara menyucikan najis ini dengan menghilangkan sifat najis yang masih ada.

2. Hukmiyyah, yaitu najis yang tidak nampak warna, bau dan rasanya, maka cara menyucikan najis ini cukup dengan mengalirkan air pada benda yang terkena najis tersebut.

(Fasal Delapan Belas)

Darah haid yang keluar paling sedikit sehari semalam, namun pada umumnya selama enam atau tujuh hari, dan tidak akan lebih dari 15 hari. Paling sedikit masa suci antara dua haid adalah 15 hari, namun pada umumnya 24 atau 23 hari, dan tidak terbatas untuk masa sucinya. Paling sedikit masa nifas adalah sekejap, pada umumnya 40 hari, dan tidak akan melebihi dari 60 hari.