Satu Raka’at bagi Ma’mum

Di antara perkara fiqih kontemporer yang sering muncul ke permukaan adalah perkara dapat tidaknya seseorang satu raka’at, ketika ia menjumpai imam shalat dalam keadaan ruku’?

Jama'ah

Dalam beberapa kesempatan ketika kami bertemu dengan sebagian ikhwah (saudara seiman), baik dalam majelis ilmu, maupun di luar, sebagian mereka bertanya tentang hal tersebut. Perkara ini semakin menguatkan kami untuk menurunkan tulisan ini.

Karenanya, kami katakan, bahwa barangsiapa yang mendapatkan imamnya dalam keadaan ruku’, maka ia telah mendapatkan raka’at tersebut, walau ia tak sempat baca Al-Fatihah (dengan syarat bisa tuma’ninah dalam ruku’-nya, karena tuma’ninah adalah bagian dari rukun shalat, peny.). Adapun apabila ia hanya mendapati imamnya telah bangkit dari ruku’-nya, maka ia tak mendapatkan raka’at itu.

Di sana terdapat beberapa hadits, dan atsar yang menguatkan apa yang kami nyatakan. Kami ambilkan dari kitab Al-Irwa’ di bawah (no.496), dan Ash-Shahihah (229) di antaranya:

Hadits Pertama

Dari Al-Hasan-rahimahullah-,

عَنِ الْحَسَنِ: أَنَّ أَبَا بَكْرَةَ جَاءَ وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَاكِعٌ , فَرَكَعَ دُوْنَ الصَّفِّ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّفِّ , فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَتَهُ قَالَ: أَيُّكُمُ الَّذِيْ رَكَعَ دُوْنَ الصَّفِّ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّفِّ ؟ , فَقَالَ أَبُوْ بَكْرَةَ: أَنَا , فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : زَادَكَ اللهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ

“Bahwa Abu Bakrah pernah datang, sedang Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- ruku’. Maka Abu Bakrah ruku’ sebelum (masuk) shaff. Kemudian beliau berjalan menuju shaff. Tatkala Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- menyelesaikan sholatnya sholatnya, maka beliau bersabda, “Siapakah diantara kalian yang ruku’ sebelum shaff, lalu ia berjalan menuju shaff”. Abu Bakrah menjawab, “Saya”. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Semoga Allah memberimu tambahan semangat, jangan ulangi”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (683 & 684), Ahmad dalam Al-Musnad (20421, 20452, 20475, 20476, 20488, 20528), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (2415, 4997, 4998, & 4999), dan selainnya. Di-shahih-kan Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (230)]

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa seorang yang datang terlambat, lalu ia menemui imam sedang ruku’, maka ia disunnahkan untuk ruku’ sambil berjalan di belakang shaff menuju shaff dalam keadaan tenang, tanpa terburu-buru. Dengan ini, ia dianggap telah mendapatkan satu raka’at, tanpa harus menambah. Perhatikan hadits ini, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bertanya, lalu dijawab oleh Abu Bakrah. Ini menunjukkan bahwa Abu Bakrah bukan masbuq yang harus menambah satu raka’at, sebab Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bertanya, dan langsung dijawab oleh Abu Bakrah. Andai ia ketinggalan satu raka’at, maka ia tak akan menjawab pertanyaan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- secara langsung, bahkan akan dijelaskan oleh rawi hadits bahwa Abu Bakrah shalat, lalu ia berkata demikian, dan demikian dalam menjawab pertanyaan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Namun hal itu tak disebutkan dalam hadits ini sehingga kita tahu bahwa Abu Bakrah bukan masbuq yang ketinggalan satu raka’at. Alhamdulillah ala minnatih. (Perkataan Rasulullah “jangan ulangi” juga menunjukkan bahwa shalatnya Abu Bakrah sah dan sempurna raka’atnya, karena jika shalat Abu Bakrah tidak sempurna, maka Rasulullah akan menyuruh Abu Bakrah menambah raka’atnya atau melakukan sujud sahwi. Adapun larangan “jangan ulangi”, justru bermakna agar Abu Bakrah tidak terbiasa telat. Hal ini terbukti dengan kalimat Rasulullah sebelumnya, “Semoga Allah memberimu tambahan semangat”. Dan sebagaimana kita ketahui shalatnya ma’mum yang mengikuti takbiratul ihram bersama imam lebih afdhal, peny.)

Hadits Kedua

Atha’ -rahimahullah- mengatakan bahwa,

عن عَطَاءٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ الزُّبَيْرِ عَلَى الْمِنْبَرِ يَقُوْلُ : إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ وَالنَّاسُ رُكُوْعٌ فَلْيَرْكَع حِيْنَ يَدْخُلُ ثُمَّ يَدُبُّ رَاكِعًا حَتَّى يَدْخُلَ فِي الصَّفِّ فَإِنَّ ذَلِكَ السُّنَّةُ , قَالَ عَطَاءٌ : وَقَدْ رَأَيْتُهُ يَصْنَعُ ذَلِكَ , قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ : وَقَدْ رَأَيْتُ عَطَاءً يَصْنَعُ ذَلِكَ

“Dia telah mendengar Abdullah bin Zubair berkata di atas mimbar, “Jika seorang di antara kalian masuk ke dalam masjid, sedang orang-orang ruku’, maka hendaknya ia ruku’ saat ia masuk, lalu berjalan dalam posisi ruku’ sampai ia masuk dalam shaff, karena sesungguhnya hal itu ternasuk sunnah”. Atha’ berkata, “Sungguh aku telah melihat dia (Abdullah bin Zubair) melakukan hal itu”. Ibnu Juraij berkata, “Sungguh aku telah melihat Atha’ melakukan hal itu”. [HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (1571), Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (7016), Al-Hakim Al-Mustadrak (777), dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubra (5001)]

Hadits Ketiga

Utsman bin Al-Aswad berkata,

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ اْلأَسْوَدِ قَالَ: دَخَلْتُ أَنَا وَعَمْرُو بْنُ تَمِيْمٍ الْمَسْجِدَ, فَرَكَعَ اْلإِمَامُ فَرَكَعْتُ أَنَا وَهُوَ وَمَشَيْنَا رَاكِعَيْنِ حَتَّى دَخَلْنَا الصَّفَّ, فَلَمَّا دَخَلْنَا الصَّفَّ قَالَ لِيْ عَمْرٌو : الَّذِيْ صَنَعْتَ آنِفًا مِمَّنْ سَمِعْتَهُ, قُلْتُ: مِنْ مُجَاهِدٍ , قَالَ: قَدْ رَأَيْتُ ابْنَ الزُّبَيْرِ فَعَلَهُ

“Aku pernah masuk bersama Amr bin Tamim ke dalam masjid. Tiba-tiba imam ruku’. Maka aku dan dia pun ruku’, dan kami berjalan dalam keadaan berjalan ruku’ sehingga masuk ke shaff. Amr berkata kepadaku, “”Yang kamu lakukan tadi dari mana engkau dengar. Aku katakan, “Dari Mujahid”. Dia (Amr bin Tamim) berkata, “Aku sungguh telah melihat Abdullah bin Zubair pernah melakukannya”. [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (2631)]

Hadits Keempat

Katsir bin Abdil Muththolib dari Abdullah bin Zubair

عَنِ ابْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّهُ عَلَّمَ النَّاسَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَقُوْلُ : لِيَرْكَعْ ثُمَّ لْيَمْشِ رَاكِعًا, وَإِنَّهُ رَأَى ابْنَ الزُّبَيْرِ يَفْعَلُهُ

“Bahwa beliau mengajari manusia di atas mimbar seraya berkata, “Hendaknya seorang ruku’, lalu ia berjalan ruku’”. Dia (Katsir) melihat beliau melakukannya”. [HR. Abdur Razzaq dalam Al-Mushannaf (3383)]

Hadits Kelima

Az-Zuhriy-rahimahullah- berkata,

عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ : كَانَ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ إِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَالنَّاسُ رُكُوْعٌ اسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ, فَكَبَّرَ ثُمَّ رَكَعَ ثُمَّ دَبَّ وَهُوَ رَاكِعٌ حَتَّى يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ

“Dahulu Zaid bin Tsabit jika masuk masjid , sedang manusia ruku’, maka beliau menghadap kiblat, lalu bertakbir, ruku’, dan berjalan (menuju shaff), sedang beliau ruku’ sehingga beliau tiba ke shaff”. [HR. Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubra (3/91/no.2420)]

Hadits Keenam

Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif berkata ,

أَبُوْ أُمَامَةَ ابْنُ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ : أَنَّهُ رَأَى زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَاْلإِمَامُ رَاكِعٌ , فَمَشَى حَتَّى أَمْكَنَهُ أَنْ يَصِلَ الصَّفَّ وَهُوَ رَاكِعٌ , كَبَّرَ فَرَكَعَ ثُمَّ دَبَّ وَهُوَ رَاكِعٌ حَتَّى وَصَلَ الصَّفَّ

“Bahwa ia pernah melihat Zaid bin Tsabit masuk ke dalam masjid , sedang imam ruku’. Maka beliau berjalan sehingga memungkinkan dirinya sampai ke shaff, sedang ia ruku’. Kemudian beliau ruku’ lalu berjalan, sedang beliau ruku’ sehingga beliau sampai ke shaff”. [HR. Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (2417)]

Al-Imam Abu Bakr Al-Baihaqiy Asy-Syafi’iy-rahimahullah- berkata saat mengomentari hadits di atas, dan hadits Abu Bakrah yang telah lewat di awal pembahasan, “Dalam hal itu terdapat dalil tentang didapatkannya satu raka’at (dengan mendapatkan ruku’nya imam dan tuma’ninah di dalamnya, peny.). Andaikan tak demikian, maka mereka tak mungkin akan memaksakan diri melakukan hal itu”. [Lihat Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubra (2/90)]

Hadits Ketujuh

Seorang yang tak mendapatkan imamnya ruku’, maka ia tak mendapatkan 1 raka’at. Tapi jika ia dapati imamnya dalam posisi ruku, lalu ia ruku’ bersama imam, maka ia akan mendapatkan raka’at tersebut. Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

عَنْ عَبْدِ اللهِ يَعْنِيْ ابْنَ مَسْعُوْدٍ قَالَ : مَنْ لَمْ يُدْرِكِ اْلإِمَامَ رَاكِعًا لَمْ يُدْرِكْ تِلْكَ الرَّكْعَةَ

“Barangsiapa yang tak mendapatkan imam sedang ruku’, maka ia tidak mendapatkan raka’at tersebut”. [HR. Al-Baihaqiy dalam Al-Kubra (2/90/no.2411)]

Hadits Kedelapan

Zaid bin Wahb-rahimahullah- berkata,

عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ عَبْدِ اللهِ مِنْ دَارِهِ إِلَى الْمَسْجِدِ , فَلَمَّا تَوَسَّطْنَا الْمَسْجِدَ رَكَعَ اْلإِمَامُ فَكَبَّرَ عَبْدُ اللهِ ثُمَّ رَكَعَ وَرَكَعْتُ مَعَهُ ثُمَّ مَشَيْنَا رَاكِعَيْنِ حَتَّى انْتَهَيْنَا إِلَى الصَّفِّ حَتَّى رَفَعَ الْقَوْمُ رُؤُوْسَهُمْ, قَالَ: فَلَمَّا قَضَى اْلإِمَامُ الصَّلاَةَ قُمْتُ أَنَا, وَأَنَا أَرَى لَمْ أُدْرِكْ, فَأَخَذَ بِيَدِيْ عَبْدُ اللهِ, فَأَجْلَسَنِيْ وَقَالَ: إِنَّكَ قَدْ أَدْرَكْتَ

“Aku pernah keluar bersama Abdullah (yakni, Ibnu Mas’ud) dari rumahnya menuju ke masjid. Tatkala kami berada di tengah masjid, maka imam ruku’. Abdullah bin Mas’ud pun bertakbir lalu ruku’. Aku juga ruku’ bersamanya, lalu kami berjalan sampai tiba ke shaff saat kaum (jama’ah sholat) mengangkat kepala mereka. Dia (Zaid bin Wahb) berkata, “Tatkala imam menyelesaikan shalatnya, maka aku berdiri –sedang saya memandang bahwa aku tak mendapatkan shalat (secara sempurna)-, maka Andullah bin Mas’ud menarik tanganku, lalu mendudukkan aku, seraya berkata, “Sesungguhnya engkau telah mendapatkan shalat (secara sempurna)”. [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (2622), Ath-Thohawiy (1/231-232), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (9/271/no.9353), dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubra (2/90/no.2418)]

Hadits Kesembilan

Abdullah bin Umar -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ: مَنْ أَدْرَكَ اْلإِمَامَ رَاكِعًا فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَرْفَعَ اْلإِمَامَ رَأْسَهُ, فَقَدْ أَدْرَكَ تِلْكَ الرَّكْعَةَ

“Barangsiapa yang mendapati imam dalam keadaan ruku’, lalu ia ruku’ sebelum imam mengangkat kepalanya, maka sungguh ia telah mendapatkan raka’at tersebut”. [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (2520), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubra (2/90/no. 2413)]

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy-rahimahullah- berkata seusai membawakan beberapa hadits, dan atsar di atas, “Atsar-atsar ini menunjukkan tentang perkara lain, selain yang ditunjukkan oleh hadits ini (Hadits Abdullah bin Az-Zubair) bahwa barangsiapa yang mendapati ruku’nya imam, maka ia sungguh ia telah mendapatkan raka’at”. [Lihat Ash-Shahihah (1/1/456)]
Apa yang dinyatakan oleh Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- adalah pendapat yang terkuat berdasarkan atsar yang amat gamblang berikut ini:

Hadits Kesepuluh

Dari Abdul Aziz bin Rafi’ dari seorang laki-laki (yakni, Abdullah bin Mughaffal Al-Muzaniy) -radhiyallahu ‘anhu- berkata, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

إِذَا وَجَدْتُمُوْهُ قَائِمًا أَوْ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا أَوْ جَالِسًا , فَافْعَلُوْا كَمَا تَجِدُوْنَهُ, وَلاَ تَعْتَدُّوْا بِالسَّجْدَةِ إِذَا لَمْ تُدْرِكُوْا الرَّكْعَةَ

“Jika kalian mendapati imam dalam keadaan berdiri atau ruku’, atau sujud, atau duduk, maka lakukanlah sebagaimana engkau mendapatinya. Janganlah engkau memperhitungkan sujudnya, jika engkau tak mendapati ruku’nya”. [HR. Abdur Rozzaq dalam Al-Mushannaf (2/281/no.3373), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubra (2/296/no. 3434), dan Al-Marwaziy dalam Masa’il Ahmad wa Ishaq (1/127/1) sebagaimana dalam Ash-Shahihah (1188)]

Faedah : Kata ( الرَّكْعَةَ ) bisa bermakna raka’at, dan bisa juga bermakna ruku’. Namun dalam riwayat hadits Abdullah bin Mughaffal ini, yang dimaksud adalah ruku’. Hal itu dikuatkan oleh riwayat lain dari jalur Abdul Aziz bin Rafi’ di sisi Al-Baihaqiy dari Abdullah bin Mughaffal -radhiyallahu ‘anhu- :
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

إِذَا جِئْتُمْ وَاْلإِمَامُ رَاكِعٌ فَارْكَعُوْا, وَإِنْ كَانَ سَاجِدًا فَاسْجُدُوْا, وَلاَ تَعْتَدُّوْا بِالسُّجُوْدِ إِذَا لَمْ يَكُنْ مَعَهُ الرُّكُوْعُ

“Jika kalian datang, sedang imam ruku’, maka ruku’lah. Jika ia sujud, maka bersujudlah, dan jangan perhitungkan sujudnya, jika tak ada ruku’ yang bersamanya”. [HR. Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubra (2/89/no.2409)]

Para Pembaca yang budiman, usai kita melihat, dan menelaah hadits-hadits, dan atsar-atsar yang berlalu, maka kita bisa menyimpulkan bahwa pendapat yang terkuat adalah pendapat jumhur (kebanyakan) ulama’ yang menyatakan bahwa orang yang mendapatkan imam ruku’, maka ia telah mendapatkan raka’at tersebut, walaupun ia tak sempat membaca Al-Fatihah, sebab dalam hal ini ia mendapatkan rukhshah (keringanan) untuk tak membaca Al-Fatihah, Wallahu a’lam.

Pendapat inilah yang dikuatkan oleh para ulama’ yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Da’imah. Para ulama tersebut pernah ditanya, “Seorang ma’mum datang terlambat, lalu ia mendapati imam ruku’. Maka ia pun bertakbir, dan ruku’ bersama imam sebelum imam bangkit dari ruku’nya. Apakah wajib bagi makmum tersebut untuk mengganti raka’at tersebut setelah imam salam”.
Para ulama dalam Al-Lajnah Ad-Da’imah menjawab, “Jika makmum bertakbir dengan takbiratul ihram dalam keadaan berdiri, lalu ia ruku’, dan mendapati imam ruku’, maka raka’at tersebut telah cukup (sah) baginya berdasarkan hadits Abu Bakrah -radhiyallahu ‘anhu-…”. [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah (7/316-317), cet. Dar Balansiyah]

Selanjutnya, menurut Syaikh Abdul Aziz bin Abdulah bin Baz, disyari’atkan bagi seorang mu`min untuk berjalan menuju jama’ah dengan tenang, tidak tergesa-gesa, walaupun saat itu imam sedang ruku’. Jika dia masih berkesempatan mendapatkan ruku’nya imam, maka alhamdulillah (dia mendapatkan raka’at), dan jika tidak keburu, maka dia harus menambah satu raka’at lagi.

“Apabila seorang makmum mendapatkan ruku’nya imam, maka dia dianggap mendapat satu raka’at. Inilah pendapat yang benar dari jumhur ulama.” (Fatawa bin Baaz, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz). Wallahu a’lam.

 

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 82 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. (dengan sedikit penyesuaian dan tambahan, peny.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: