Hatim Yang Tuli (Hatim Al ‘Asham)

Nama lengkapnya Abu Abdurrahman Hatim bin Alwan. Namun, beliau lebih populer dengan nama Hatim Al ‘Asham atau Hatim yang tuli. Tahukah engkau, mengapa seorang ‘ulama yang mulia ini diberi julukan “yang tuli”?

Syaikh An Nawawi Al Bantani dalam Syarh Nashaihul Ibad menceritakan bahwa Abu Abdurrahman Hatim bin Alwan pernah menikahi seorang perempuan. Setelah menikah, maka beliau pun mulai berbincang-bincang dengan istrinya. Pada saat itu, istrinya berbicara sambil mengeluarkan suara yang tidak sedap didengar.

Mendengar hal ini, Hatim kemudian berkata sambil sedikit berteriak, “ulangi perkataanmu, ulangi perkataanmu” sampai beberapa kali. Hal ini dilakukan demi menjaga kehormatan istrinya agar tidak merasa malu di hadapan suaminya tercinta. Perbuatannya tersebut membuat istrinya mengira bahwa Hatim merupakan orang yang agak lemah pendengarannya atau seorang yang tuli. Hal ini tidak diketahui oleh istrinya hingga akhir hayatnya. Selama mendampingi Hatim, istrinya mengira bahwa suaminya memang seorang yang tuli.

Maka, adakah seorang suami hari ini yang sanggup menjaga kehormatan istrinya seperti Hatim Al ‘Asham menjaga istrinya? Semoga masih ada… dan semoga anda adalah orangnya… 🙂

Advertisements

Shalat atau Makan Terlebih Dahulu ?

Ketika dikumandangkan adzan, perut sudah keroncongan sejak beberapa jam lalu. Ketika itu pula, makanan telah tersaji. Apa yang harus kita dahulukan? Shalat terlebih dahulu ataukah menyantap makanan agar kita shalatnya akan lebih khusyu’? Pembahasan kali ini adalah di antara kiat agar seseorang bisa khusyu’ dalam shalat. Simak selengkapnya.

Hidangan

Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قُدِّمَ الْعَشَاءُ فَابْدَءُوا بِهِ قَبْلَ أَنْ تُصَلُّوا صَلاَةَ الْمَغْرِبِ ، وَلاَ تَعْجَلُوا عَنْ عَشَائِكُمْ

Apabila makan malam sudah tersaji, maka dahulukanlah makan malam tersebut dari shalat maghrib. Dan janganlah kalian tergesa-gesa dari makan kalian .” (HR. Bukhari no. 672 dan Muslim no. 557)

[Bukhari: 15-Kitab Al Jama’ah wal Imamah, 14-Bab Apabila Makanan Telah Dihidangkan dan Shalat Hendak Ditegakkan. Muslim: 6-Kitab Al Masajid, 17-Bab Terlarangnya Mendahulukan Shalat Sedangkan Makan Malam Telah Tersaji dan Ingin Dimakan Pada Saat Itu Juga]

Pelajaran Berharga

Pertama; apabila waktu shalat maghrib telah tiba, sedangkan makanan telah tersaji, maka hendaklah seseorang mendahulukan santap makan -jika pada saat itu dalam kondisi sangat lapar-. Yang lebih utama ketika itu adalah mendahulukan makanan sebelum menunaikan shalat. Hal ini berlaku untuk shalat Maghrib dan juga shalat yang lainnya.

Kedua; apa hikmah di balik ini?

Hikmahnya: Di dalam shalat, seseorang perlu menghadirkan hati yang khusyu’. Sedangkan jika seseorang sangat lapar dan butuh pada makanan, kondisi semacam ini akan membuat ia tidak konsentrasi saat shalat, hatinya tidak tenang, dan pikiran akan melayang ke sana-sini. Kondisi semacam ini berakibat seseorang tidak khusyu’ dalam shalat. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menyantap makanan sebelum menunaikan shalat sehingga hati bisa hadir ketika itu.

Ketiga; hendaklah seseorang ketika shalat selalu menghadirkan hati dan menjauhkan diri dari segala hal yang dapat melalaikan dari mengingat Allah ketika shalat. Hendaklah pula dia menghayati shalat, bacaan dan dzikir-dzikir di dalamnya.

Keempat; mayoritas ulama berpendapat bahwa mendahulukan makanan di sini adalah anjuran (sunnah, bukan wajib) dan inilah pendapat yang rojih (yang lebih kuat). Berbeda dengan pendapat Zhohiriyah (Ibnu Hazm, dkk) yang menganggap bahwa hukum mendahulukan makanan dari shalat di sini adalah wajib.

Kelima; jika waktu shalat wajib sangat sempit, sebentar lagi waktu shalat akan berakhir dan seandainya seseorang mendahulukan makan, waktu shalat akan habis, untuk kondisi semacam ini, ia harus mendahulukan shalat agar shalat tetap dilakukan di waktunya. Inilah pendapat mayoritas ulama.

Adapun para ulama yang mewajibkan khusyu’ dalam shalat, maka mereka berpendapat dalam kondisi semacam ini, santap makan lebih didahulukan daripada shalat (walaupun shalatnya telat hingga keluar waktu). Namun pendapat yang lebih tepat, khusyu’ dalam shalat tidak sampai dihukumi wajib.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah berpendapat bahwa hukum khusyu’ dalam shalat adalah sunnah mu’akkad (sangat ditekankan).

Keenam; santap makan lebih utama dari shalat dilakukan ketika seseorang sangat butuh pada makan (yaitu ketika sangat lapar). Namun jika kondisi tidak membutuhkan makan (kondisi kenyang) dan makanan telah tersaji, maka shalat wajib atau shalat jama’ah di masjid tetap harus lebih didahulukan.

Oleh karena itu, tidak sepantasnya seseorang mengatur waktu makan atau waktu tidurnya bertepatan dengan waktu shalat. Hal ini dapat membuat seseorang luput dari shalat di waktu utama yaitu di awal waktu.

Ketujuh; hukum mendahulukan shalat dari santap makan di saat kondisi sangat membutuhkan di sini adalah makruh. Namun jika seseorang dalam kondisi tidak butuh makan (kondisi kenyang) dan makanan telah tersaji lalu lebih memilih shalat, maka pada saat ini tidak dihukumi makruh.

Kedelapan; makanan yang telah tersajikan dan kita sangat ingin untuk menyantapnya, kondisi semacam ini adalah salah satu udzur (alasan) bagi seseorang untuk meninggalkan shalat jama’ah.

Ibnu ‘Umar yang sangat getol (sangat semangat) dalam mengikuti sunnah (ajaran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menyantap makan malamnya dan pada saat itu dia mendengar suara imam yang sedang membaca surat pada shalat jama’ah.

Kalau seseorang meninggalkan shalat jama’ah karena ada udzur untuk menyantap makanan, jika ini bukan kebiasaan, maka dia akan mendapatkan ganjaran shalat jama’ah. Namun jika dijadikan kebiasaan, maka semacam ini tidak dianggap udzur sehingga dia tidak mendapatkan pahala shalat jama’ah. Alasannya berdasarkan hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Jika seseorang dalam keadaan sakit atau bersafar (melakukan perjalanan jauh), maka dia akan dicatat semisal apa yang dia lakukan tatkala mukim (tidak bersafar) atau dalam keadaan sehat.” (HR. Bukhari no. 2996) [Bukhari: 60-Kitab Al Jihad was Sayr, 132-Bab akan dicatat bagi musafir semisal apa yang dia amalkan dalam keadaan dia tidak bersafar (mukim)].

Di sini ada udzur sakit, maka ia dicatat seperti melakukan shalat ketika sehat sebagaimana ia rutin lakukan. Maka begitu pula orang yang ada udzur telat shalat jama’ah karena alasan di atas, maka ia dihitung pula mendapatkan pahala shalat berjama’ah.

Kesembilan; apakah boleh menyantap makanan berat ketika berbuka puasa di bulan Ramadhan atau yang lainnya?

Jawab: sebenarnya tidak mengapa jika seseorang mendahulukan makan. Namun alangkah lebih baik jika dia memakan makanan ringan seperti satu atau beberapa buah kurma, kemudian shalat maghrib, lalu dia menghabiskan makanan lainnya setelah shalat maghrib.

(Pelajaran berharga ini disarikan dari Tawdhihul Ahkam, 1/578-579 dan Fathu Dzil Jalali wal Ikrom bi Syarh Bulughil Marom, 2/480-483)

Alhamdulillahilladzi bi ni’amtihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.

*****

Penulis : Muhammad Abduh Tuasikal

Tulisan lawas, Yogyakarta, 15 Rabi’ul Awwal 1430 H

Direvisi ulang di Riyadh-KSA, 27 Rabi’uts Tsani 1432 H (01/04/2011)

SUMBERNYA DARI SINI

Variasi Lafadzh Adzan

Setiap muncul satu bid’ah, maka satu sunnah akan lenyap dan tak akan dikenal lagi. Begitu menurut pendapat para ulama salaf. Dan ternyata pencapat tersebut pun telah menampakkan kebenarannya. Hari ini, kita ummat akhir zaman seringkali tidak mengenal sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Padahal sunnah-sunnah tersebut termasuk sunnah yang sering dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

Adzan

Di antara sunnah yang hari ini terlupakan adalah sunnah dalam mengumandangkan adzan pada saat-saat tertentu yang mengharuskan muadzdzin melafadzhkan kalimat yang berbeda daripada biasanya.

  • Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan kepada muadzdzin-nya di hari terjadi hujan,

إِذَا قُلْتَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ . فَلاَ تَقُلْ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ . قُلْ صَلُّوا فِى بُيُوتِكُمْ . فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا ، قَالَ فَعَلَهُ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّى ، إِنَّ الْجُمُعَةَ عَزْمَةٌ ، وَإِنِّى كَرِهْتُ أَنْ أُحرِجَكُمْ ، فَتَمْشُونَ فِى الطِّينِ وَالدَّحْضِ

Apabila engkau selesai mengucapkan asyhadu anna muhammadan rasulullah, jangan ucapkan hayya ‘alash shalah (marilah kita shalat), tapi ucapkanlah “shallu fi buyutikum” (Shalatlah di rumah kalian). (Ketika mendengar ucapan beliau), manusia seolah mengingkari perbuatan beliau. Maka beliau pun mengatakan, “Orang yang lebih baik dariku (yakni Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam) telah melakukan hal itu. Sesungguhnya shalat Jum’at itu wajib, namun saya tidak ingin menyusahkan kalian sehingga kalian berjalan di tanah yang becek dan licin. [HR. Bukhari: 859; Muslim: 699]

  • Abu Al Malih mengatakan,

خَرَجْتُ فِى لَيْلَةٍ مَطِيرَةٍ فَلَمَّا رَجَعْتُ اسْتَفْتَحْتُ فَقَالَ أَبِى مَنْ هَذَا قَالَ أَبُو الْمَلِيحِ قَالَ لَقَدْ رَأَيْتُنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ وَأَصَابَتْنَا سَمَاءٌ لَمْ تَبُلَّ أَسَافِلَ نِعَالِنَا فَنَادَى مُنَادِى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « صَلُّوا فِى رِحَالِكُمْ »

Saya keluar (menuju masjid) di suat malam ketika terjadi hujan. Saya pun kembali dan tatkala membuka pintu rumah, ayahku berkata, “Siapa ini?”, saya pun menjawab, “Abu Al Malih.” Beliau mengatakan, “Sesungguhnya saya pernah melihat kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam di hari Hudaibiyah, ketika itu hujan mengguyur kami, namun tidaklah deras. Namun, muadzdzin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkan perkataan dalam adzannya, “Shalluu fi rihalikum” (shalatlah di rumah-rumah kalian).” [HR. Ibnu Majah: 936; Ibnu Khuzaimah: 1657. Diabsahkan al-Albani dalam Shahih Sunan Ibn Majah: 764; Asy Syamilah]

  • Nafi’ rahimahullah mengatakan

أَذَّنَ ابْنُ عُمَرَ فِى لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ بِضَجْنَانَ ثُمَّ قَالَ صَلُّوا فِى رِحَالِكُمْ ، فَأَخْبَرَنَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَأْمُرُ مُؤَذِّنًا يُؤَذِّنُ ، ثُمَّ يَقُولُ عَلَى إِثْرِهِ ، أَلاَ صَلُّوا فِى الرِّحَالِ . فِى اللَّيْلَةِ الْبَارِدَةِ أَوِ الْمَطِيرَةِ فِى السَّفَرِ

Ibnu ‘Umar pernah beradzan pada hari yang sangat dingin di daerah Dajnan, kemudian beliau mengucapkan “shallu fi rihalikum (shalatlah di rumah kalian!)”. Beliau memberitakan kepada kami bahwa di suatu malam yang dingin atau terjadi hujan ketika safar, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam memerintahkan muadzdzin setelah beradzan untuk mengucapkan “ala shallu fi ar-rihal (shalatlah kalian di rumah!) [HR. Bukhari: 606; Muslim: 697]

Dari hadits-hadits di atas terkandung beberapa faedah, diantaranya:

  • Pria boleh meninggalkan shalat berjama’ah di masjid ketika kondisi hujan, angin bertiup kencang, atau ketika kondisi cuaca yang sangat dingin.

Imam Al Qurthubi rahimahullah mengatakan,

Teks hadits menunjukkan diperbolehkan meninggalkan shalat berjama’ah dikarenakan adanya kesulitan ketika kondisi hujan, angin bertiup kencang, dan cuaca yang dingin. Begitupula dengan kondisi semisal yang menyulitkan untuk melaksanakan shalat berjama’ah, baik dalam keadaan mukim maupun bersafar. [Al Mufhim 3/1216]

  • Ketika menghadapi kondisi yang disebutkan di atas, disyari’atkan mengganti lafadzh hayya ‘alash shalah dengan lafadz shallu fi rihalikum atau shallu fi buyutikum. Dan berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu di atas, lafadzh tersebut boleh diucapkan oleh muadzdzin di akhir adzan, yaitu muadzdzin beradzan dengan sempurna, kemudian di akhir adzan, dia mengucapkan lafadzh shallu fi rihalikum atau shallu fi buyutikum.

Terdapat lafadzh lain yang dapat diucapkan oleh muadzdzin ketika menghadapi berbagai kondisi tersebut. Lafadzh ini diriwayatkan dari Nu’aim bin An Nahham, dia mengatakan,

نُودِىَ بِالصُّبْحِ فِى يَوْمٍ بَارِدٍ وَأَنَا فِى مِرْطِ امْرَأَتِى فَقُلْتُ لَيْتَ الْمُنَادِى قَالَ مَنْ قَعَدَ فَلاَ حَرَجَ عَلَيْهِ فَنَادَى مُنَادِى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فِى آخِرِ أَذَانِهِ وَمَنْ قَعَدَ فَلاَ حَرَجَ عَلَيْهِ

Adzan Subuh dikumandangkan ketika cuaca sangat dingin sedangkan saya tengah berselimutkan pakaian istriku. Saya pun mengatakan, “Jika saja muadzdzin mengucapkan “man qa’ada fa laa haraja ‘alayh [siapa yang duduk (tidak datang shalat jama’ah), maka tidak mengapa]. Sesungguhnya muadzdzin nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir adzannya, mengucapkan, “man qa’ada fa laa haraja ‘alaih. [HR. Ahmad: 17963]

Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan,

Musim Dingin

Hadits ini mengandung sunnah penting yang sangat disayangkan telah ditinggalkan oleh muadzdzin pada umumnya, padahal sunnah tersebut salah satu bentuk permisalan yang dapat menerangkan makna yang terkandung dalam firman-Nya, (yang artinya), “dan tidaklah Dia menjadikan kesusahan bagi kalian dalam agama ini”. Sunnah tersebut adalah lafadzh yang diucapkan setelah adzan, yaitu man qa’ada fa laa haraja. Lafadzh ini merupakan lafadzh yang mengkhususkan ucapan muadzdzin hayya ‘alash shalah, yang berkonsekuensi wajibnya untuk memenuhi panggilan tersebut dengan mendatangi masjid dan shalat bersama kaum muslimin, kecuali pada kondisi cuaca yang teramat dingin dan berbagai kondisi yang semisal. [Ash Shahihah 6/205]

Catatan : Namun demikian, kondisi cuaca yang sangat dingin ini sepertinya tidak terjadi di wilayah yang dilalui garis khatulistiwa seperti Nusantara. Cuaca di wilayah Nusantara cenderung sedang dan tidak mengalami cuaca ekstrem, kecuali di beberapa daerah saja. Di daerah yang jauh dari garis khatulistiwa, seperti di Arab, terdapat rentang waktu yang jika musim panas, maka akan terasa sangat panas, sedangkan jika musim dingin maka akan sanggat dingin (peny.)

  • Berdasarkan hadits Abu Al Malih di atas, seorang diperbolehkan untuk tidak mendatangi shalat berjama’ah d masjid, meskipun hujan yang turun tidak begitu deras. Namun, hal ini jangan dijadikan kebiasaan meninggalkan shalat berjama’ah, karena terkadang sikap tersebut membuat seorang menyepelekan kewajiban shalat berjama’ah di masjid. Ingat, di sana terdapat hadits-hadits yang menerangkan ancaman bagi pria yang tidak shalat berjama’ah di masjid.
  • Diperbolehkan meninggalkan shalat berjama’ah di masjid ketika terjadi kondisi tersebut di atas, meskipun muadzdzin tidak mengucapkan lafadzh shallu fi buyutikum atau shallu fi rihalikum di dalam adzannya
  • Shalat di rumah ketika terjadi kondisi di atas tidaklah wajib, namun mubah. Ketika terjadi hujan, atau kondisi cuaca sedang dingin, dan kondisi semisal, seorang diperbolehkan untuk tetap shalat berjama’ah di masjid.

Imam Bukhari rahimahullah membuat bab dalam kitab Shahih beliau, “Bab Dispensasi (rukhshah) ketika Hujan dan (Pemaparan) Alasan/Udzur Seorang Pria Melaksanakan Shalat Wajib di Rumahnya.”

Waffaqaniyallahu wa iyyakum

Maraji’

  1. Ahkam asy-Syitta-i fi as-Sunnah al-Muthahharah karya Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halab
  2. Shafwah al-Bayan fi Ahkam al-Iqamah wa al-Adzan karya Abdul Qadir al-Jazairi

SUMBERNYA DI SINI

Satu Raka’at bagi Ma’mum

Di antara perkara fiqih kontemporer yang sering muncul ke permukaan adalah perkara dapat tidaknya seseorang satu raka’at, ketika ia menjumpai imam shalat dalam keadaan ruku’?

Jama'ah

Dalam beberapa kesempatan ketika kami bertemu dengan sebagian ikhwah (saudara seiman), baik dalam majelis ilmu, maupun di luar, sebagian mereka bertanya tentang hal tersebut. Perkara ini semakin menguatkan kami untuk menurunkan tulisan ini.

Karenanya, kami katakan, bahwa barangsiapa yang mendapatkan imamnya dalam keadaan ruku’, maka ia telah mendapatkan raka’at tersebut, walau ia tak sempat baca Al-Fatihah (dengan syarat bisa tuma’ninah dalam ruku’-nya, karena tuma’ninah adalah bagian dari rukun shalat, peny.). Adapun apabila ia hanya mendapati imamnya telah bangkit dari ruku’-nya, maka ia tak mendapatkan raka’at itu.

Di sana terdapat beberapa hadits, dan atsar yang menguatkan apa yang kami nyatakan. Kami ambilkan dari kitab Al-Irwa’ di bawah (no.496), dan Ash-Shahihah (229) di antaranya:

Hadits Pertama

Dari Al-Hasan-rahimahullah-,

عَنِ الْحَسَنِ: أَنَّ أَبَا بَكْرَةَ جَاءَ وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَاكِعٌ , فَرَكَعَ دُوْنَ الصَّفِّ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّفِّ , فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَتَهُ قَالَ: أَيُّكُمُ الَّذِيْ رَكَعَ دُوْنَ الصَّفِّ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّفِّ ؟ , فَقَالَ أَبُوْ بَكْرَةَ: أَنَا , فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : زَادَكَ اللهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ

“Bahwa Abu Bakrah pernah datang, sedang Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- ruku’. Maka Abu Bakrah ruku’ sebelum (masuk) shaff. Kemudian beliau berjalan menuju shaff. Tatkala Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- menyelesaikan sholatnya sholatnya, maka beliau bersabda, “Siapakah diantara kalian yang ruku’ sebelum shaff, lalu ia berjalan menuju shaff”. Abu Bakrah menjawab, “Saya”. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Semoga Allah memberimu tambahan semangat, jangan ulangi”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (683 & 684), Ahmad dalam Al-Musnad (20421, 20452, 20475, 20476, 20488, 20528), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (2415, 4997, 4998, & 4999), dan selainnya. Di-shahih-kan Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (230)]

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa seorang yang datang terlambat, lalu ia menemui imam sedang ruku’, maka ia disunnahkan untuk ruku’ sambil berjalan di belakang shaff menuju shaff dalam keadaan tenang, tanpa terburu-buru. Dengan ini, ia dianggap telah mendapatkan satu raka’at, tanpa harus menambah. Perhatikan hadits ini, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bertanya, lalu dijawab oleh Abu Bakrah. Ini menunjukkan bahwa Abu Bakrah bukan masbuq yang harus menambah satu raka’at, sebab Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bertanya, dan langsung dijawab oleh Abu Bakrah. Andai ia ketinggalan satu raka’at, maka ia tak akan menjawab pertanyaan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- secara langsung, bahkan akan dijelaskan oleh rawi hadits bahwa Abu Bakrah shalat, lalu ia berkata demikian, dan demikian dalam menjawab pertanyaan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Namun hal itu tak disebutkan dalam hadits ini sehingga kita tahu bahwa Abu Bakrah bukan masbuq yang ketinggalan satu raka’at. Alhamdulillah ala minnatih. (Perkataan Rasulullah “jangan ulangi” juga menunjukkan bahwa shalatnya Abu Bakrah sah dan sempurna raka’atnya, karena jika shalat Abu Bakrah tidak sempurna, maka Rasulullah akan menyuruh Abu Bakrah menambah raka’atnya atau melakukan sujud sahwi. Adapun larangan “jangan ulangi”, justru bermakna agar Abu Bakrah tidak terbiasa telat. Hal ini terbukti dengan kalimat Rasulullah sebelumnya, “Semoga Allah memberimu tambahan semangat”. Dan sebagaimana kita ketahui shalatnya ma’mum yang mengikuti takbiratul ihram bersama imam lebih afdhal, peny.)

Hadits Kedua

Atha’ -rahimahullah- mengatakan bahwa,

عن عَطَاءٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ الزُّبَيْرِ عَلَى الْمِنْبَرِ يَقُوْلُ : إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ وَالنَّاسُ رُكُوْعٌ فَلْيَرْكَع حِيْنَ يَدْخُلُ ثُمَّ يَدُبُّ رَاكِعًا حَتَّى يَدْخُلَ فِي الصَّفِّ فَإِنَّ ذَلِكَ السُّنَّةُ , قَالَ عَطَاءٌ : وَقَدْ رَأَيْتُهُ يَصْنَعُ ذَلِكَ , قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ : وَقَدْ رَأَيْتُ عَطَاءً يَصْنَعُ ذَلِكَ

“Dia telah mendengar Abdullah bin Zubair berkata di atas mimbar, “Jika seorang di antara kalian masuk ke dalam masjid, sedang orang-orang ruku’, maka hendaknya ia ruku’ saat ia masuk, lalu berjalan dalam posisi ruku’ sampai ia masuk dalam shaff, karena sesungguhnya hal itu ternasuk sunnah”. Atha’ berkata, “Sungguh aku telah melihat dia (Abdullah bin Zubair) melakukan hal itu”. Ibnu Juraij berkata, “Sungguh aku telah melihat Atha’ melakukan hal itu”. [HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (1571), Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (7016), Al-Hakim Al-Mustadrak (777), dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubra (5001)]

Hadits Ketiga

Utsman bin Al-Aswad berkata,

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ اْلأَسْوَدِ قَالَ: دَخَلْتُ أَنَا وَعَمْرُو بْنُ تَمِيْمٍ الْمَسْجِدَ, فَرَكَعَ اْلإِمَامُ فَرَكَعْتُ أَنَا وَهُوَ وَمَشَيْنَا رَاكِعَيْنِ حَتَّى دَخَلْنَا الصَّفَّ, فَلَمَّا دَخَلْنَا الصَّفَّ قَالَ لِيْ عَمْرٌو : الَّذِيْ صَنَعْتَ آنِفًا مِمَّنْ سَمِعْتَهُ, قُلْتُ: مِنْ مُجَاهِدٍ , قَالَ: قَدْ رَأَيْتُ ابْنَ الزُّبَيْرِ فَعَلَهُ

“Aku pernah masuk bersama Amr bin Tamim ke dalam masjid. Tiba-tiba imam ruku’. Maka aku dan dia pun ruku’, dan kami berjalan dalam keadaan berjalan ruku’ sehingga masuk ke shaff. Amr berkata kepadaku, “”Yang kamu lakukan tadi dari mana engkau dengar. Aku katakan, “Dari Mujahid”. Dia (Amr bin Tamim) berkata, “Aku sungguh telah melihat Abdullah bin Zubair pernah melakukannya”. [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (2631)]

Hadits Keempat

Katsir bin Abdil Muththolib dari Abdullah bin Zubair

عَنِ ابْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّهُ عَلَّمَ النَّاسَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَقُوْلُ : لِيَرْكَعْ ثُمَّ لْيَمْشِ رَاكِعًا, وَإِنَّهُ رَأَى ابْنَ الزُّبَيْرِ يَفْعَلُهُ

“Bahwa beliau mengajari manusia di atas mimbar seraya berkata, “Hendaknya seorang ruku’, lalu ia berjalan ruku’”. Dia (Katsir) melihat beliau melakukannya”. [HR. Abdur Razzaq dalam Al-Mushannaf (3383)]

Hadits Kelima

Az-Zuhriy-rahimahullah- berkata,

عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ : كَانَ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ إِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَالنَّاسُ رُكُوْعٌ اسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ, فَكَبَّرَ ثُمَّ رَكَعَ ثُمَّ دَبَّ وَهُوَ رَاكِعٌ حَتَّى يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ

“Dahulu Zaid bin Tsabit jika masuk masjid , sedang manusia ruku’, maka beliau menghadap kiblat, lalu bertakbir, ruku’, dan berjalan (menuju shaff), sedang beliau ruku’ sehingga beliau tiba ke shaff”. [HR. Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubra (3/91/no.2420)]

Hadits Keenam

Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif berkata ,

أَبُوْ أُمَامَةَ ابْنُ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ : أَنَّهُ رَأَى زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَاْلإِمَامُ رَاكِعٌ , فَمَشَى حَتَّى أَمْكَنَهُ أَنْ يَصِلَ الصَّفَّ وَهُوَ رَاكِعٌ , كَبَّرَ فَرَكَعَ ثُمَّ دَبَّ وَهُوَ رَاكِعٌ حَتَّى وَصَلَ الصَّفَّ

“Bahwa ia pernah melihat Zaid bin Tsabit masuk ke dalam masjid , sedang imam ruku’. Maka beliau berjalan sehingga memungkinkan dirinya sampai ke shaff, sedang ia ruku’. Kemudian beliau ruku’ lalu berjalan, sedang beliau ruku’ sehingga beliau sampai ke shaff”. [HR. Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (2417)]

Al-Imam Abu Bakr Al-Baihaqiy Asy-Syafi’iy-rahimahullah- berkata saat mengomentari hadits di atas, dan hadits Abu Bakrah yang telah lewat di awal pembahasan, “Dalam hal itu terdapat dalil tentang didapatkannya satu raka’at (dengan mendapatkan ruku’nya imam dan tuma’ninah di dalamnya, peny.). Andaikan tak demikian, maka mereka tak mungkin akan memaksakan diri melakukan hal itu”. [Lihat Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubra (2/90)]

Hadits Ketujuh

Seorang yang tak mendapatkan imamnya ruku’, maka ia tak mendapatkan 1 raka’at. Tapi jika ia dapati imamnya dalam posisi ruku, lalu ia ruku’ bersama imam, maka ia akan mendapatkan raka’at tersebut. Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

عَنْ عَبْدِ اللهِ يَعْنِيْ ابْنَ مَسْعُوْدٍ قَالَ : مَنْ لَمْ يُدْرِكِ اْلإِمَامَ رَاكِعًا لَمْ يُدْرِكْ تِلْكَ الرَّكْعَةَ

“Barangsiapa yang tak mendapatkan imam sedang ruku’, maka ia tidak mendapatkan raka’at tersebut”. [HR. Al-Baihaqiy dalam Al-Kubra (2/90/no.2411)]

Hadits Kedelapan

Zaid bin Wahb-rahimahullah- berkata,

عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ عَبْدِ اللهِ مِنْ دَارِهِ إِلَى الْمَسْجِدِ , فَلَمَّا تَوَسَّطْنَا الْمَسْجِدَ رَكَعَ اْلإِمَامُ فَكَبَّرَ عَبْدُ اللهِ ثُمَّ رَكَعَ وَرَكَعْتُ مَعَهُ ثُمَّ مَشَيْنَا رَاكِعَيْنِ حَتَّى انْتَهَيْنَا إِلَى الصَّفِّ حَتَّى رَفَعَ الْقَوْمُ رُؤُوْسَهُمْ, قَالَ: فَلَمَّا قَضَى اْلإِمَامُ الصَّلاَةَ قُمْتُ أَنَا, وَأَنَا أَرَى لَمْ أُدْرِكْ, فَأَخَذَ بِيَدِيْ عَبْدُ اللهِ, فَأَجْلَسَنِيْ وَقَالَ: إِنَّكَ قَدْ أَدْرَكْتَ

“Aku pernah keluar bersama Abdullah (yakni, Ibnu Mas’ud) dari rumahnya menuju ke masjid. Tatkala kami berada di tengah masjid, maka imam ruku’. Abdullah bin Mas’ud pun bertakbir lalu ruku’. Aku juga ruku’ bersamanya, lalu kami berjalan sampai tiba ke shaff saat kaum (jama’ah sholat) mengangkat kepala mereka. Dia (Zaid bin Wahb) berkata, “Tatkala imam menyelesaikan shalatnya, maka aku berdiri –sedang saya memandang bahwa aku tak mendapatkan shalat (secara sempurna)-, maka Andullah bin Mas’ud menarik tanganku, lalu mendudukkan aku, seraya berkata, “Sesungguhnya engkau telah mendapatkan shalat (secara sempurna)”. [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (2622), Ath-Thohawiy (1/231-232), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (9/271/no.9353), dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubra (2/90/no.2418)]

Hadits Kesembilan

Abdullah bin Umar -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ: مَنْ أَدْرَكَ اْلإِمَامَ رَاكِعًا فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَرْفَعَ اْلإِمَامَ رَأْسَهُ, فَقَدْ أَدْرَكَ تِلْكَ الرَّكْعَةَ

“Barangsiapa yang mendapati imam dalam keadaan ruku’, lalu ia ruku’ sebelum imam mengangkat kepalanya, maka sungguh ia telah mendapatkan raka’at tersebut”. [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (2520), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubra (2/90/no. 2413)]

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy-rahimahullah- berkata seusai membawakan beberapa hadits, dan atsar di atas, “Atsar-atsar ini menunjukkan tentang perkara lain, selain yang ditunjukkan oleh hadits ini (Hadits Abdullah bin Az-Zubair) bahwa barangsiapa yang mendapati ruku’nya imam, maka ia sungguh ia telah mendapatkan raka’at”. [Lihat Ash-Shahihah (1/1/456)]
Apa yang dinyatakan oleh Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- adalah pendapat yang terkuat berdasarkan atsar yang amat gamblang berikut ini:

Hadits Kesepuluh

Dari Abdul Aziz bin Rafi’ dari seorang laki-laki (yakni, Abdullah bin Mughaffal Al-Muzaniy) -radhiyallahu ‘anhu- berkata, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

إِذَا وَجَدْتُمُوْهُ قَائِمًا أَوْ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا أَوْ جَالِسًا , فَافْعَلُوْا كَمَا تَجِدُوْنَهُ, وَلاَ تَعْتَدُّوْا بِالسَّجْدَةِ إِذَا لَمْ تُدْرِكُوْا الرَّكْعَةَ

“Jika kalian mendapati imam dalam keadaan berdiri atau ruku’, atau sujud, atau duduk, maka lakukanlah sebagaimana engkau mendapatinya. Janganlah engkau memperhitungkan sujudnya, jika engkau tak mendapati ruku’nya”. [HR. Abdur Rozzaq dalam Al-Mushannaf (2/281/no.3373), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubra (2/296/no. 3434), dan Al-Marwaziy dalam Masa’il Ahmad wa Ishaq (1/127/1) sebagaimana dalam Ash-Shahihah (1188)]

Faedah : Kata ( الرَّكْعَةَ ) bisa bermakna raka’at, dan bisa juga bermakna ruku’. Namun dalam riwayat hadits Abdullah bin Mughaffal ini, yang dimaksud adalah ruku’. Hal itu dikuatkan oleh riwayat lain dari jalur Abdul Aziz bin Rafi’ di sisi Al-Baihaqiy dari Abdullah bin Mughaffal -radhiyallahu ‘anhu- :
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

إِذَا جِئْتُمْ وَاْلإِمَامُ رَاكِعٌ فَارْكَعُوْا, وَإِنْ كَانَ سَاجِدًا فَاسْجُدُوْا, وَلاَ تَعْتَدُّوْا بِالسُّجُوْدِ إِذَا لَمْ يَكُنْ مَعَهُ الرُّكُوْعُ

“Jika kalian datang, sedang imam ruku’, maka ruku’lah. Jika ia sujud, maka bersujudlah, dan jangan perhitungkan sujudnya, jika tak ada ruku’ yang bersamanya”. [HR. Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubra (2/89/no.2409)]

Para Pembaca yang budiman, usai kita melihat, dan menelaah hadits-hadits, dan atsar-atsar yang berlalu, maka kita bisa menyimpulkan bahwa pendapat yang terkuat adalah pendapat jumhur (kebanyakan) ulama’ yang menyatakan bahwa orang yang mendapatkan imam ruku’, maka ia telah mendapatkan raka’at tersebut, walaupun ia tak sempat membaca Al-Fatihah, sebab dalam hal ini ia mendapatkan rukhshah (keringanan) untuk tak membaca Al-Fatihah, Wallahu a’lam.

Pendapat inilah yang dikuatkan oleh para ulama’ yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Da’imah. Para ulama tersebut pernah ditanya, “Seorang ma’mum datang terlambat, lalu ia mendapati imam ruku’. Maka ia pun bertakbir, dan ruku’ bersama imam sebelum imam bangkit dari ruku’nya. Apakah wajib bagi makmum tersebut untuk mengganti raka’at tersebut setelah imam salam”.
Para ulama dalam Al-Lajnah Ad-Da’imah menjawab, “Jika makmum bertakbir dengan takbiratul ihram dalam keadaan berdiri, lalu ia ruku’, dan mendapati imam ruku’, maka raka’at tersebut telah cukup (sah) baginya berdasarkan hadits Abu Bakrah -radhiyallahu ‘anhu-…”. [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah (7/316-317), cet. Dar Balansiyah]

Selanjutnya, menurut Syaikh Abdul Aziz bin Abdulah bin Baz, disyari’atkan bagi seorang mu`min untuk berjalan menuju jama’ah dengan tenang, tidak tergesa-gesa, walaupun saat itu imam sedang ruku’. Jika dia masih berkesempatan mendapatkan ruku’nya imam, maka alhamdulillah (dia mendapatkan raka’at), dan jika tidak keburu, maka dia harus menambah satu raka’at lagi.

“Apabila seorang makmum mendapatkan ruku’nya imam, maka dia dianggap mendapat satu raka’at. Inilah pendapat yang benar dari jumhur ulama.” (Fatawa bin Baaz, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz). Wallahu a’lam.

 

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 82 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. (dengan sedikit penyesuaian dan tambahan, peny.)

Bintang David Bukan Simbol Nabi Dawud ‘Alayhis Salaam

Bintang David

Simbol Israel (Hexagram) yang disebut dengan Bintang David (Star of David, Shield of David, agen David, Solomon’s Seal) bukanlah ditujukan untuk Nabi Dawud ‘Alayhis Salaam. Ini merupakan disinformasi yang biasa dilakukan oleh orang Yahudi. Adapun David yang dimaksud adalah David Alroy (David El-Roi) seorang nabi palsu di abad ke-12 dan dianggap sebagai Mesiah yang akan menaklukkan Palestina oleh orang Yahudi kala itu.

God of Saturn

Pada masa lampau, simbol tersebut banyak digunakan dalam praktik sihir dan juga pemujaan terhadap Dewa Saturn (nama lain Satan). Kemudian, pada sekitar abad ke-7 SM digunakan oleh para penganut Kabbalah (mistik Yahudi) dalam ajarannya (penyembah Setan / Lucifer, aliran ini disebut juga dengan nama Satanisme, peny.). Baru pada abad ke-17, Hexagram mulai disebut dengan nama Shield of David oleh orang Yahudi, dan diadopsi sebagai lambang dari organisasi Zionis di Kongres Zionis pertama pada tahun 1987.

Penggunaan nama David yang ditujukan kepada David Alroy sesuai dengan cita-cita orang Yahudi untuk menguasai Palestina dan meneruskan usaha dari nabi palsu tersebut. Ketika Negara Israel akhirnya terbentuk, lambang tersebut tetap tetap digunakan pada bendera kebangsaan sebagai ganti bendera Zionis sebelumnya, karena dianggap mewakili identitas bangsa Yahudi.

Freemasonry

Pada masa sekarang Hexagram digunakan oleh gerakan Freemason sebagai simbol pada banyak organisasi dan perusahaan yang berada di bawah kendalinya. (Dikutip dari rubrik “Komentar” Majalah Islam Sabili, edisi 16 Juni 2005/9 Jumadil Awal 1426)

Lambang Sigil Pemujaan Satanisme

Simbol Anti Christ Gereja Satanisme

Simbol Bintang Terbalik Satanisme