Tawassul : Masyru’ dan Mamnu’

Tawassul adalah mengadakan wasilah (perantara) antara seorang hamba dan Rabbnya saat hamba tersebut berdoa. Dalam tradisi keagamaan umat Islam di Nusantara, tradisi tawassul merupakan sebuah ritual yang sudah mengakar bahkan telah menjadi kekhususan tersendiri dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah proses peribadahan ini (berdoa).

Namun demikian, dalam praktiknya tawassul seringkali dibumbui oleh hal-hal negatif yang justru bertentangan dengan aqidah Islamiyah, yang dalam hal ini dapat menjerumuskan seseorang ke dalam dosa yang paling besar dalam Islam, musyrik. Karena dalam beberapa praktiknya, kegiatan tawassul justru kemudian memberikan hak dan sifat-sifat uluhiyah (ketuhanan), yang seharusnya menjadi hak milik Allah semata, kepada sang perantara. Atas dasar ini, sebagian orang kemudian berpendapat bahwa seluruh jenis tawassul yang tidak dicontohkan Rasulullah merupakan kemusyrikan. Sedangkan sebagian lagi berpendapat bahwa seluruh jenis tawassul merupakan kegiatan yang diperbolehkan karena hal ini tidaklah berkaitan dengan aqidah, melainkan permasalahan furu’ (cabang) dalam tata cara berdoa kepada Allahu ta’ala, sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Hasan Al Banna -semoga Allah memaafkannya- dalam Ushul ‘Isyrin poin ke 15:

والدعاء إذا قرن بالتوسل إلى الله تعالى بأحد من خلقه خلاف فرعي في كيفية الدعاء وليس من مسائل العقيدة

Dan berdoa kepada Allah jika diiringi tawassul dengan salah satu makhluq-Nya merupakan perbedaan pendapat furu’ (cabang) dalam tata cara berdoa dan bukan merupakan permasalahan aqidah.

Adapun pendapat yang menyatakan bahwa tawassul merupakan permasalahan aqidah, di mana jika kita salah dalam mempraktikannya dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam dosa besar menyandarkan pendapat mereka pada surat Az Zumar ayat ke 3, Allah berfirman:

أَلاَ لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلْخَالِصُ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِ أَوْلِيَآءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلْفَىۤ إِنَّ ٱللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِى مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ ٱللَّهَ لاَ يَهْدِى مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَـفَّارٌ

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. [QS. Az Zumar : 3]

Mereka juga menyandarkan pendapat mereka dengan ucapan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab -semoga Allah merahmatinya- yang berkata tentang pembatal keislaman poin ke 2:

من جعل بينه وبين الله وسائط يدعوهم ويسألهم الشفاعة ويتوكل عليهم فقد كفر إجماعا

Siapa yang menjadikan antara dirinya dan Allah perantara-perantara yang ia berdoa kepada mereka dan meminta syafaat kepada mereka dan bertawakkal kepada mereka, maka ia kafir berdasarkan ijma’.

Namun demikian, banyak di antara mereka yang tidak mengerti maksud dari ayat ke 3 dalam surat Az Zumar di atas dan ucapan Syaikh Muhammad tersebut sehingga mereka terjebak pada pemahaman yang berpendapat bahwa semua jenis tawassul yang tidak dicontohkan Rasulullah -shalawat dan salam atas beliau- merupakan bagian dari kemusyrikan.

Lalu, bagaimana kedudukan tawassul dalam ajaran Islam di atas timbangan Al Qur`an dan as Sunnah yang shahih? Bagaimana kita bersikap adil dan seimbang dalam permasalahan ini?

Puji syukur kehadirat Allahu ta’ala, Asy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz -semoga Allah merahmatinya- telah menjelaskan dengan rinci permasalahan ini saat ditanyakan kepada beliau :

اختلط على كثير من الناس مفهوم التوسل الجائز والتوسل الممنوع, نرجو من سماحة الشيخ أن يبيِّن لنا ما هو التوسل، وما هو الجائز منه وما هو الممنوع، وأمثلة على ذلك؟

Begitu beragam pemahaman orang-orang mengenai tawassul jaiz (yang diperbolehkan) dan tawassul mamnu‘ (yang dilarang). Kami memohon dengan hormat kepada Syaikh untuk menjelaskan kepada kami apa itu tawassul, bagaimanakah tawassul yang diperbolehkan (masyru‘ / disyari’atkan) dan bagaimanakah tawassul mamnu‘, berikut contoh-contohnya.

Syaikh pun menjawabnya dengan begitu rinci:

التوسل كما ذكره ابن القيم وغيره -رحمة الله عليه-، التوسل أقسام ثلاث: توسل والشرك الأكبر، كدعاء الأموات والاستغاثة بالأموات، والذبح لهم والنذر لهم، هذا هو الشرك الأكبر، يقول المشركون: مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى[الزمر: 3]، هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّه.[يونس: 18]، يتوسلون بدعائهم واستغاثتهم بهم، وهذا هو الشرك الأكبر.

Tawassul, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu `l-Qayyim dan selainnya -semoga Allah merahmati mereka semua-, terbagi ke dalam tiga jenis: Pertama; Tawassul yang hukumnya syirik akbar, seperti berdoa dan beristighasah kepada orang-orang yang sudah meninggal, menyembelih dan bernadzar untuk mereka. Semua ini merupakan syirik akbar. Berkata orang-orang musyrik : “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.”[QS. Az Zumar : 3] “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” [QS. Yunus : 18]. Mereka bertawassul dengan berdoa kepada orang-orang mati dan beristighasah kepada mereka, dan semua ini adalah syirik akbar.

Hal ini dapat dipahami, karena walaupun secara istilah disebut tawassul namun dalam praktiknya justru telah mengalihkan hak dan sifat-sifat uluhiyah kepada orang-orang yang sudah meninggal berupa berdan beristighasah kepada mereka, atau menyembelih dan bernadzar untuk mereka. Padahal akal sehat kita pun memahami bahwa orang yang sudah meninggal tidak bisa memberikan manfaat atau bahaya.

Inilah sebenarnya yang menjadi illat (sebab) dari batalnya keislaman seseorang sebagaimana yang dijelaskan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di atas, beliau telah menegaskannya dengan kalimat : “yang ia berdoa kepada mereka dan meminta syafaat kepada mereka dan bertawakkal kepada mereka”. Dan ini merupakan penjelasan dari surat Az Zumar ayat ke 3 tentang ucapan orang-orang musyrikin : “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Wallahu a’lam.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz melanjutkan:

التوسل الثاني: التوسل بذواتهم، تقول: اللهم إني أسألك بذات فلان، بنبيك فلان، اللهم إني أسأل بعبادك الصالحين، اللهم إني أسألك بمحمد، بموسى، هذا توسل ممنوع، بدعة، لأنه وسيلة للغلو والشرك

Kedua: Tawassul dengan dzat, keduduakan, atau hak mereka (orang-orang yang sudah meninggal, baik itu para nabi maupun para wali) seperti : [Yaa Allah aku memohon kepadamu dengan nama “fulan”, dengan nama nabimu, “fulan”. Yaa Allah aku memohon kepadamu dengan nama hamba-Mu yang shalih. Yaa Allah aku memohon kepada dengan nama Muhammad dan Musa]. Tawassul jenis ini merupakan tawassul yang baru yang belum pernah ada pada masa Rasulullah dan para sahabat, maka hukumnya terlarang lagi bid’ah karena dapat menjadi pintu bagi sikap ghulluw (berlebihan) dan syirik.

Hal ini dikarenakan praktik ini tidak dikenal pada masa para shahabat, bahkan dahulu ‘Umar bin Al Khathab bertawassul dengan Al ‘Abbas (paman Rasulullah) setelah Rasulullah wafat. Hal ini menunjukkan bahwa para shahabat tidak lagi bertawassul dengan Rasulullah saat beliau wafat melainkan mengganti dan mencari orang-oang yang dianggap memiliki keutamaan dan pada saat itu Khalifah ‘Umar telah memilih Al ‘Abbas. Jika bertawassul dengan hak dan kedudukan Rasulullah (saat beliau sudah wafat) merupakan praktik yang disyari’atkan dan diperbolehkan maka para shahabat pasti melakukannya, namun kenyataannya mereka tidak melakukan hal tersebut. Begitupun, jika dengan kedudukan dan hak Rasulullah yang sudah wafat saja tidak dilakukan para shahabat maka apalagi dengan para wali dan orang-orang shalih lainnya (sudah meninggal) yang kedudukannya jelas di bawah kedudukan Rasulullah -shalawat dan salam atasnya-. Wallahu a’lam.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz melanjutkan:

التوسل الثالث الجائز المشروع: وهو التوسل بأسماء الله وصفاته، التوسل بأعمالك الصالحة، بإيمانك، هذا التوسل المشروع،

Ketiga : Tawassul jaiz dan masyru‘ (yang diperbolehkan dan disyari’atkan). Yaitu tawassul dengan nama-nama Allah atau dengan iman dan amal shalih. Semua ini merupakan tawassul masyru‘.

مثل ما قال الله -جل وعلا-: وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا[الأعراف: 180]، ومثل ما كان النبي -صلى الله عليه وسلم- يدعو الله بأسمائه وصفاته، هذا يقال له: التوسل المشروع، وقد جاء في حديث: أعوذ بعزتك أن تذلني، فالتوسل بصفات الله أمر مشروع، أسألك برحمتك، أسألك بعلمك، أسألك بإحسانك، أسألك بقدرتك أن تغفر لي،….

Contohnya adalah seperti yang difirmankan Allah jalla wa ‘alaa : “Dan hanya milik Allah-lah al-asmaa`u `l-husnaa, maka berdoalah dengannya.” [QS. Al A’raaf : 180]. Juga sebagaimana Nabi -shalawat dan salam atasnya- berdoa kepada Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Inilah yang disebut tawassul masyru‘. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadits, Rasulullah berdoa : “Aku berlindung dengan izzah-Mu agar aku tidak Engkau hinakan.” Maka tawassul dengan sifat-sifat Allah adalah perkara yang disyari’atkan, juga seperti : “Aku memohon dengan rahmat-Mu, aku memohon dengan ilmu-Mu, aku memohon dengan kebaikan-Mu, aku memohon dengan kekuatan-Mu, ampunilah aku.”

Dan seperti ini pula tawassul dengan amal shalih berupa berbakti kepada kedua orang tua, menunaikan amanah, menahan diri dari yang diharamkan oleh Allah  dan semisal yang demikian itu, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits penghuni goa yang diriwayatkan dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim):

Mereka ada tiga orang, kemalaman dan hujan membuat mereka bermalam di dalam goa. Maka tatkala mereka telah masuk ke dalamnya, batu besar jatuh dari atas gunung, lalu menutupi pintu goa. Maka mereka tidak bisa keluar, lalu mereka saling berkata: ‘Sesungguhnya tidak ada yang bisa menyelamatkan kamu dari batu besar ini kecuali kamu memohon kepada Allah  dengan amal-amal shalihmu. Maka mereka bertawajjuh (menghadap) kepada Allah  dan memohon kepada-Nya dengan sebagian amal mereka yang baik. Salah seorang dari mereka berkata: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai ayah ibu yang sudah tua dan aku tidak memberi minuman sebelum keduanya kepada keluarga (anak istri) dan harta (budak). Dan pada suatu hari aku terlalu jauh mencari pohon, maka tatkala aku pergi kepada keduanya dengan minuman keduanya, ternyata kedua sudah tidur. Maka aku tidak membangunkan keduanya dan aku tidak suka memberi minuman kepada keluarga dan harta sebelum keduanya. Maka aku terus seperti itu hingga terbit fajar, lalu keduanya terbangun dan meminum susu mereka. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan hal itu karena mengharap ridha-Mu maka lapangkanlah dari kami apa yang ada pada kami. maka batu besar itu bergeser sedikit yang mereka tidak bisa keluar darinya.

Adapun yang kedua, maka ia bertawassul dari sifat iffah (menahan diri) nya dari perbuatan zina, di mana dia mempunyai sepupu perempuan yang dia sangat mencintainya. Lalu ia (sepupunya) datang kepadanya meminta bantuan maka ia enggan kecuali ia menyerahkan dirinya (untuk berbuat zinah), lalu ia setuju karena kebutuhannya. Maka ia memberinya seratus dua puluh (120) dinar. Tatkala dia sudah duduk di antara dua kakinya, dia (sepupunya) berkata: ‘Wahai Abdullah, takutlah kepada Allah  dan janganlah engkau memecahkan cincin kecuali dengan sebenarnya.” Ia pun merasa takut kepada Allah  saat itu, berdiri darinya dan membiarkan emas (dinar) karena takut dari siksa Allah . Ia berkata: ‘Ya Allah, jika ia mengetahui bahwa aku melakukan hal ini karena mengharap ridha-Mu maka lapangkanlah dari kami apa yang ada pada kami.’ Maka batu itu bergeser sedikit yang mereka tidak bisa keluar darinya.

Kemudian yang ketiga berkata: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai beberapa karyawan, aku memberikan kepada setiap orang upahnya kecuali satu orang yang dia meninggalkan upahnya. Lalu aku mengembangkannya untuknya sehingga menjadi unta, sapi, kambing dan budak. Lalu ia datang meminta upahnya, maka aku berkata kepadanya: ‘Semua ini adalah upahmu,’ maksudnya unta, sapi, kambing, dan budak.’ Ia berkata: Wahai hamba Allah, bertaqwalah kepada Allah  dan janganlah engkau mengolok olok aku.’ Lalu kukatakan kepadanya: ‘Sesungguhnya aku tidak mengolok-olokmu, sesungguhnya semuanya adalah hartamu.’ Maka ia membawa semuanya. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan hal itu karena mengharapkan ridha-Mu maka lapangkanlah dari kami apa yang kami alami.’ Maka batu itu bergeser, lalu mereka semua keluar sambil berjalan.” [Al-Bukhari 3465 dan Muslim 2743 dengan maknanya]

Dan termasuk tawassul yang disyari’atkan adalah bertawassul dengan orang-orang shalih yang masih hidup, meminta mereka mendoakan kebaikan kepada kita sebagaimana Khalifah Umar dahulu bertawassul dengan Al ‘Abbas yang telah dijelaskan di atas. Begitupun dahulu Khalifah ‘Umar pernah meminta seorang tabi’in, ‘Uwais Al Qarni untuk mendoakan kebaikan baginya dan semua ini merupakan tawassul yang diperbolehkan dan pernah dilakukan oleh para shahabat -semoga Allah meridhai mereka smuanya-.

Wallahu a’lam...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: