Syari’at Nadzhar Sebelum Khitbah

Sebagian orangtua merasa riskan saat melihat anak laki-lakinya yang sudah hampir berkepala 2 namun belum juga memiliki pacar. Alasannya sederhana, mereka khawatir puteranya ini tidak akan menemukan calon istri yang tepat jika tidak pacaran. Saat sang putera mencoba menjelaskan tatacara pernikahan dalam Islam, maka orangtua lebih kaget lagi, karena seolah-olah sang putera akan membeli kucing di dalam karung. Apalagi jika sang calon yang diajukan oleh sang putera adalah muslimah shalihah yang mengenakan cadar. Lalu, bagaimana mugkin puteranya tersebut bisa menyukai atau mencintai sang istri kelak jika belum melihat wajahnya..?

Padahal, Islam mengenal sebuah syari’at yang sunnah dilakukan sebelum pernikahan, bahkan sebelum dilakukan lamaran resmi oleh keluarga mempelai pria. Syari’at ini dikenal dengan nama “an nadzhar” yang secara bahasa bermakna “melihat” atau “memandang“. Yakni, sang calon pengantin pria memandang dengan seksama calon yang akan dipinangnya hingga timbul keinginan yang kuat untuk menikahinya dan menjadikannya kekasih hatinya yang halal.

أخرج الإمام أحمد في مسنده (3\360): عن جابر بن عبد الله الأنصاري قال: سمعت رسول الله يقول: «إذا خطَبَ أحدُكُم المرأة، فَقَدِرَ أن يرى منها بعض ما يَدْعُوهُ إليها، فليَفعَل».

Diriwayatkan Imam Ahmad dari Jabir bin Abdullah beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Ketika salah satu dari kalian melakukan khitbah terhadap seorang perempuan, kemudian memungkinkan baginya untuk melihat apa yang menjadi alasan baginya untuk menikahinya, maka lakukanlah”. Ini merupakan riwayat yang shahih.

Menyukai keindahan dan kecantikan merupakan tabi’at yang tidak bisa dilepaskan dari setiap manusia. Hanya saja, memang kecantikan atau keindahan ini bersifat relatif, sehingga rasa suka atau cinta kadang hadir dengan cara yang tidak masuk akal. Namun demikian, Allah telah menetapkan bagi hamba-Nya:

فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء 

“Maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi…” (Q.S. An Nisaa’ 4:3)

Maka dari itu hendaklah bagi setiap calon mempelai untuk memperhatikan calon pasangannya agar benar-benar yakin dan menikahinya dengan rasa cinta dan suka. Berkata Syaikh Abdurrahman As Sa’di tentang ayat ini, “Ayat ini menunjukan bahwasanya seyogyanya seseorang yang hendak menikah untuk memilih (wanita yang disenanginya), bahkan syari’at telah membolehkan untuk melihat perempuan yang hendak dinikahinya agar ia berada di atas ilmu tentang perempuan yang akan dinikahinya”. [Tafsir As-Sa’di I/164]

Berkata Syaikh Muhammad bin Al ‘Utsaymin, “Sesungguhnya penglihatan orang lain tidak mewakili penglihatan sendiri secara langsung. Bisa jadi seorang perempuan cantik menurut seseorang namun tidak cantik menurut orang yang lain. Terkadang seseorang –misalnya- melihat seorang wanita dalam suatu kondisi tertentu bukan pada kondisi sang perempuan yang biasanya. Terkadang seseorang dalam kondisi gembira dan yang semisalnya maka ia mengalami kondisi tersendiri. Demikian juga tatkala ia sedang sedih maka ia memiliki kondisi yang tersendiri. Kemudian juga terkadang seorang perempuan tatkala mengetahui bahwa ia akan di-nadzhar maka iapun menghiasi dirinya dengan banyak hiasan-hiasan, sehingga tatkala seorang lelaki memandangnya maka ia menyangka bahwa perempuan tersebut sangat cantik jelita, padahal hakekatnya tidaklah demikian”. [Asy-Syarhul Mumti’ XII/20]

Dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau melamar seorang wanita maka Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam pun berkata kepadanya,

اُنْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَْن يُؤْدِمَ بَيْنَكُمَا

Lihatlah ia (wanita yang kau lamar tersebut) karena hal itu akan lebih menimbulkan kasih sayang dan kedekatan diantara kalian berdua [HR At-Thirmidzi III/397 no 1087, Ibnu Majah no 1865 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani. (Lihat As-Shahihah no 96)]

Syaikh Muhammad bin Al ‘Utsaymin berkata, “Terkadang seseorang termasuk golongan para pendamba kecantikan maka ia tidak bisa menjaga kemaluannya kecuali jika menikahi wanita yang cantik jelita”. [Ceramah Syikh Ibnu Utsaimin (Syarh Bulugul Maram, kitab An-Nikaah kaset no 2)]

Berkata Al-Munawi, “Jika pernikahan disebabkan dorongan kecantikan maka pernikahan ini akan lebih langgeng dibandingkan jika yang mendorong pernikahan tersebut adalah harta sang wanita, karena kecantikan adalah sifat yang senantiasa ada pada sang wanita adapun kekayaan adalah sifat yang bisa hilang dari sang wanita”. [Faidhul Qodir 3/271]

وذهب الأئمة الأربعة وجماهير الفقهاء إلى استحباب نظر الخاطب إلى المرأة التي يريد خطبتها قبل أن يخطبها. وحجتهم في ذلك الحديث الصحيح الذي أخرجه مسلم عن أبي هريرة قال: كنت عند النبي ، فأتاه رجلٌ، فأخبره أنه تزوج امرأة من الأنصار. فقال له رسول الله : «أنظرت إليها؟». قال: لا. قال: «فاذهب فانظر إليها، فإن في أعين الأنصار شيئاً» (يقصد صغر عيونهن).

Dan Imam Empat Madzhab serta mayoritas Ulama telah menyepakati sunnahnya seorang lelaki yang ingin melamar seorang perempuan untuk melakukan “nadzhar” sebelum khibtah (lamaran resmi), dengan landasan dalil hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abi Hurayrah : Aku pernah bersama Rasulullah lalu datanglah seorang lelaki, menceritakan bahwa ia menikahi seorang perempuan dari kaum anshar, lalu Rasulullah menanyakan “Sudahkan engkau melihatnya?” lelaki itu menjawab “Belum”. “Pergilah dan lihatlah dia” kata Rasulullah, “Karena pada mata kaum anshar (terkadang ) ada sesuatunya”. (maksudnya kecil matanya).

واتفقوا على أنه لا يُشتَرطُ رضاها بل يجوز في غفلتها. وله تكراره وتأمل المحاسن بلا إذن. لأن النبي قد أذن في ذلك مطلقاً، ولم يشترط استئذانها. ولأنها تستحيي غالباً من الإذن. ولأن في ذلك تغريراً، فربما رآها فلم تعجبه فيتركها فتنكسر وتتأذى. ولهذا قال العلماء: يستحب أن يكون نظره إليها قبل الخطبة حتى إن كرهها تركها من غير إيذاء، بخلاف ما إذا تركها بعد الخطبة. مع العلم أن هذا النظر من غير خلوةٍ بها ولا لمس، إذ لا حاجة إليه. ويجوز لها النظر إليه كذلك، كما أنه يجوز له النظر إليها.

Para ‘Ulama juga telah sepakat bahwa melihat perempuan dengan tujuan khitbah tidak harus mendapatkan izin perempuan tersebut, bahkan diperbolehkan tanpa sepengetahuan perempuan yang bersangkutan. Bahkan diperboleh berulang-ulang untuk meyakinkan diri sebelum melangkah berkhitbah. Ini karena Rasulullah dalam hadist di atas memberikan izin secara mutlak dan tidak memberikan batasan. Selain itu, perempuan juga kebanyakan malu kalau diberitahu bahwa dirinya akan dikhitbah oleh seseorang.

Begitu juga kalau diberitahu terkadang bisa menyebabkan kekecewaan di pihak perempuan, misalnya pihak lelaki telah melihat perempuan yang bersangkutan dan memebritahunya akan niat menikahinya, namun karena satu dan lain hal pihak lelaki membatalkan, padahal pihak perempuan sudah mengharapkan.Maka para ulama mengatakan, sebaiknya melihat calon istri dilakukan sebelum khitbah resmi, sehingga kalau ada pembatalan tidak ada yang merasa dirugikan. Lain halnya membatalkan setelah khitbah kadang menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan.Persyaratan diperbolehkan melihat adalah dengan tanpa khalwat (berduaan saja) dan tanpa bersentuhan karena itu tidak diperlukan. Bagi perempuan juga diperbolehkan melihat lelaki yang mengkhitbahinya sebelum memutuskan menerima atau menolak.

وإنما أختار القول الثاني وهو جواز النظر لما يظهر منها عادة كالرأس والرقبة والساقين. ووجهُ ذلك أن النبي لمّا أذِنَ في النظر إليها –من غيرِ عِلمها–، عُلمَ أنه أذِنَ في النظر إلى جميع ما يظهر عادة. إذ لا يمكن إفرادُ الوجهِ بالنظر مع مشاركة غيره له في الظهور، طالما أن ذلك من غير عِلمها. ولأن الوجه يظهر غالباً وليس بعورة، فما يحتاج إلى رخصة أصلاً! ولعموم قوله : «يرى منها بعض ما يَدْعُوهُ إليها». ولأنها امرأةٌ أبيحَ النظرُ إليها بأمر الشارع، فأُبيحَ النظرُ مِنها إلى ذلك كذواتِ المحارم. وقد جاء ذلك (أي جواز رؤية ساقي المخطوبة) عن عمر بن الخطاب \في خطبته لأم كلثوم بنت علي بن أبي طالب

Para ulama berbeda pendapat mengenai batasan diperbolehkan lelaki melihat perempuan yang ditaksir sebelum khitbah. Sebagian besar ulama mengatakan boleh melihat wajah dan telapak tangan. Sebagian ulama mengatakan boleh melihat kepala, yaitu rambut, leher dan betis. Dalil pendapat ini adalah hadist di atas, bahwa Rasulullah telah mengizinkan melihat perempuan sebelum khitbah, artinya ada keringanan di sana. Kalau hanya wajah dan telapak tangan tentu tidak perlu mendapatkan keringanan dari Rasulullah karena aslinya diperbolehkan. Yang wajar dari melihat perempuan adalah batas aurat keluarga, yaitu kepala, leher dan betis. Dari Umar bin Khattab ketika berkhitbah kepada Umi Kultsum binti Ali bin Abi Thalib melakukan demikian.

Syaikh Utsaimin juga memboleh sang wanita untuk menampakkan rambutnya kepada sang lelaki yang hendak melamarnya. [Nuur ‘alaa Ad-Darb kaset no 165 side B]

Mayoritas ulama berpendapat bahwa bagian tubuh wanita yang boleh dilihat hanyalah wajah dan kedua tangan [Naylul Awthar VI/240]. Akan tetapi pendapat ini masih perlu diteliti lagi mengingat atsar di atas (tentang kisah ‘Umar) di atas yang menyelisihi hal ini.

Dan atsar ini merupakan problem bagi orang-orang yang menyatakan bahwa tidak boleh melihat tatkala nadzhar kecuali wajah dan kedua tangan.

Syaikh Muhammad bin Al ‘Utsaymin juga menyatakan bolehnya mengulang nadzhar, “Jika pada nadzhar yang pertama yang dilakukannya ia tidak mendapati pada diri wanita tersebut apa yang memotivasinya untuk menikahi sang wanita maka hendaknya ia me-nadzhar lagi sang wanita untuk yang kedua kali dan yang ketiga kalinya.” [Asy-Syarhul Mumti’ XII/21]

Dari uraian tersebut di atas, dapat kita pahami bahwa Islam telah mengatur sedemikian rupa segala macam hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia untuk menjaga kemaslahatan mereka.  Demikianlah Islam berusaha menjaga fitrah manusia dan mengarahkan mereka agar meraih kebahagiaannya di dunia berdasarkan ketentuan-Nya.

Sebagai penutup, kami kutipkan perkataan Al Imam Ahmad bin Hanbal yang ditujukan kepada para pemuda yang akan melakukan khitbah,

إذا خطب رَجُلٌ امرأة، سأل عن جَمَالها أوّلاً. فإن حُمِدَ، سأل عن دِينِها. فإن حُمِدَ، تَزوّج. وإن لم يُحْمَدَ، يكون رَدَّهُ لأجْلِ الدِّين. ولا يَسألُ أوّلاً عن الدِّين، فإن حُمِدَ سأل عن الجمال، فإن لم يُحمَد، ردّها. فيكون ردَّه للجمال لا للدِّين

“Saat seorang lelaki hendak berkhitbah kepada seorang perempuan, maka tanyalah tentang kecantikannya terlebih dahulu, jika dipuji maka tanyakanlah tentang agamanya, sehingga jika ia membatalkannya, maka ia membatalkan karena alasan agama. Jika ia menanyakan agamanya terlebih dahulu sebelum kecantikannya, maka ketika ia membatalkan adalah karena alasan kecantikannya dan bukan karena alasan agamanya.” [Syarh Muntaha Al-Iradaat 2/623]

Wallahu a’lam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: