Tidak Bai’at = Mati Jahiliyah ?

Persoalan bai’at atau janji setia terhadap seorang Imam/ Amiir/ Khalifah merupakan hal yang masyru‘ (disyariatkan). Namun, sebagian kelompok Islam hari ini memanfaatkan syariat ini untuk mengajak manusia masuk ke dalam kelompoknya dan men-takfir (memvonis kafir) bagi mereka yang tidak masuk ke dalam kelompok tersebut dan tidak berbai’at kepada Imam mereka.

Kelompok seperti ini semakin banyak bermunculan. Masing-masing mengklaim sebagai pemegang kekuasaan kekhilafahan yang sah. Padahal, kekhilafahan merupakan jabatan dalam sebuah institusi pemerintahan Islam yang jelas wilayah kekuasaannya, struktur pemerintahannya, dan warga masyarakatnya. Sebagaimana pemerintahan Islam yang dibangun di Madinah oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam. Saat beliau berda’wah di Makkah, beliau tidak memiliki jabatan politis apapun karena pada saat itu Islam belum memiliki wilayah kekuasaan. Baru setelah hijrah ke Yatsrib, beliau menegaskan secara de facto kekuasaan Islam yang menaungi seluruh wilayah Yatsrib, mengubah namanya menjadi Madinah Al Munawarah serta memenuhi hak-hak kewarganegaraan bagi masyarakatnya, baik mu’min maupun kafir yang termaktub dalam Piagam Madinah. Dawlah Islam Madinah pun diakui oleh Negara Makkah pasca Perjanjian Hudhaybiyah yang isinya mengisyaratkan perjanjian antara dua negara dan dua kekuasaan, maka Dawlah Islam Madinah pun sah sebagai sebuah negara dan kekuasaan secara de jure.

Jika kita lihat hari ini, kelompok-kelompok yang muncul belakangan tersebut mengklaim bahwa pemimpin mereka merupakan pemegang kekuasaan yang sah atas ummat ini. Namun lucunya mereka tidak memiliki wilayah kekuasaan yang jelas, baik secara de facto atau de jure. Bahkan negeri yang telah dikuasai oleh kaum muslimin dan telah dilaksanakan hukum Islam di sana, baik secara de facto ataupun de jure seperti Dawlah Iraq Al Islamiyah, Imarah Islam Thaliban di Afghanistan, Dawlah Islam Kaukasus (Checnya), Daulah Islam Somalia, dan belakangan dideklarasikan juga Imarah Abyan di Yaman. Negara-negara tersebut tidak pernah mengklaim diri sebagai pemegang hak atas kekuasaan ummat secara umum. Tidak ada satupun pemimpin negara-negara tersebut yang menegaskan diri sebagai Khilafah bagi seluruh ummat Islam di seluruh penjur dunia. Bahkan dengan tegas mereka menyebutkan bahwa mereka hanya bertanggungjawab pada wilayah-wilayah yang dikuasainya saja.

Namun hari ini kelompok-kelompok yang tidak memiliki wilayah kekuasaan yang jelas mengklaim diri sebagai Al Jama’ah, di mana pemimpin mereka adalah Amiirul Mu`minin yang wajib ditaati oleh seluruh ummat Islam. Lebih lucu lagi, ada kelompok yang mengklaim memiliki Khalifah namun justru melepaskan diri dari wilayah politis. Padahal jabatan Amiirul Mu`minin/ Khalifah merupakan jabatan politis sekaligus agamis dalam Islam. Ada lagi di antara mereka yang mendaftarkan jama’ahnya sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan di bawah Menteri Dalam Negeri NKRI. Bagaimana mungkin seorang Khalifah berada di bawah kekuasaan Mendagri sebuah negara yang tidak menerapkan hukum Islam..?!

Baiklah, kita akan membahas dalil yang digunakan oleh kelompok-kelompok tersebut dalam rangka mengajak ummat Islam masuk ke dalam jama’ahnya dan kemudian men-takfir orang-orang yang berada di luar mereka. Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam:

وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Barangsiapa yang mati dan dilehernya tidak ada bai’at maka dia mati dalam keadaan jahiliyah. [HR. Muslim No. 1851, Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 769, dari Muawiyah, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 14810, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 16389]

Al Imam An Nawawi dalam Syarah-nya atas Shahih Muslim, tentang makna miitatan jahiliyah berkata sebagai berikut:

هِيَ بِكَسْرِ الْمِيم ، أَيْ : عَلَى صِفَة مَوْتهمْ مِنْ حَيْثُ هُمْ فَوْضَى لَا إِمَام لَهُمْ

Dengan huruf mim dikasrahkan (jadi bacanya miitatan bukan maitatan), artinya kematian mereka disifati sebagaimana mereka dahulu tidak memiliki imam (pada masa jahiliyah). [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Juz. 6, Hal. 322, Mawqi’ Ruh Al Islam]

Adapun penjelasan Imam Asy Syawkani dalam Naylul Awthar adalah sebagai berikut:

وَالْمُرَادُ بِالْمِيتَةِ الْجَاهِلِيَّةِ وَهِيَ بِكَسْرِ الْمِيمِ أَنْ يَكُونَ حَالُهُ فِي الْمَوْتِ كَمَوْتِ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ عَلَى ضَلَالٍ وَلَيْسَ لَهُ إمَامٌ مُطَاعٌ لِأَنَّهُمْ كَانُوا لَا يَعْرِفُونَ ذَلِكَ ، وَلَيْسَ الْمُرَادُ أَنْ يَمُوتَ كَافِرًا بَلْ يَمُوتَ عَاصِيًا .

Dan yang dimaksud dengan miitatan jahiliyah dengan huruf mim yang dikasrahkan adalah dia mati dalam keadaan seperti matinya ahli jahiliyah yang tersesat di mana dia tidak memiliki imam yang ditaati karena mereka tidak mengenal hal itu, dan bukanlah yang dimaksud matinya kafir tetapi mati sebagai orang yang bermaksiat. [Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 7/171. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah]

Sedangkan Fatwa Lajnah Da’imah (Komisi Tetap Fatwa) di Saudi Arabia menerangkan makna hadits di atas:

ومعنى الحديث: أنه لا يجوز الخروج على الحاكم (ولي الأمر) إلا أن يرى منه كفرًا بواحًا، كما جاء ذلك في الحديث الصحيح، كما أنه يجب على الأمة أن يؤمروا عليهم أميرًا يرعى مصالحهم ويحفظ حقوقهم.

Makna hadits tersebut: bahwa tidak boleh keluar dari kepemimpinan Al hakim (waliyul amri – pemimpin) kecuali jika dilihat dari pemimpin itu perilaku kufur yang jelas, sebagaimana diterangkan hal itu dalam hadits shahih, sebagaimana wajib pula bagi umat untuk mengangkat amir (pemimpin) bagi mereka supaya terjaga maslahat mereka dan hak-hak mereka. [Al Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts wal Ifta’, No fatwa.  8225]

Maka, kematian orang yang tidak berbai’at kepada Khalifah yang sah –jika ada- bermakna:
–    Matinya seperti orang yang mati pada zaman jahiliyah,
–    Bukan dia-nya yang jahiliyah dan kafir,
–    Dihitung sebagai orang yang bermaksiat.

Hadits tersebut menunjukkan urgensi bai’at kepada Khalifah yang sah. Berjama’ah adalah salah satu karakter diin al Islam, karenanya tunduk, patuh, dan taat kepada pemimpinnya merupakan konsekwensi yang tidak bisa ditawar lagi. Salah satu bukti ketaatan kepada pemimpin umum ummat Islam yang kita kenal dengan nama Khalifah atau Amiirul Mu`miniin adalah dengan melakukan bai’at. Ya, keluar dari kepemimpinan Islam adalah merupakan maksiat, apalagi jika diketahui ia merupakan pemimpin yang adil yang tidak alasan sedikitpun bagi seseorang keluar dari ketaatan terhadapnya. Namun, hal tersebut bukanlah merupakan bagian dari pembatal keislaman seseorang. Hal ini dapat dipahami karena sebagian sahabat pun pernah tidak berbai’at kepada Khalifah.

Para sahabat dan tabi’in ada yang tidak berbai’at

Imam Ath Thabari menceritakan, bahwa Imam Ali radhiyallah ‘anhu berkata pada Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallah ‘anhu: “Berbai’atlah Engkau!” Sa’ad menjawab: “Aku tidak akan berbai’at sebelum orang-orang semua berbai’at. Tapi demi Allah tidak ada persoalan apa-apa bagiku.” Mendengar itu Ali berkata: “Biarkanlah dia.”

Lalu Ali menemui Ibnu Umar  dan berkata yang sama, maka jawab Ibnu Umar radhiyallah ‘anhuma: “Aku tidak akan berbai’at sebelum orang-orang semua berbai’at.” Jawab Ali: “Berilah aku jaminan.” Jawab Ibnu Umar : “Aku tidak punya orang yang mampu memberi jaminan.” Lalu Al Asytar berkata: “Biar kupenggal lehernya!” Jawab Ali : “Akulah jaminannya, biarkan dia.” [Imam Ibnu Hazm, Al Fashl fil Milal wal Ahwa’ An Nihal, 4/103]

Imam Al Waqidi mencatat ada 7 orang kibarus shahabah yang tidak memberikan bai’at pada Khalifah Ali radhiyallah ‘anhu  yaitu: Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Umar, Shuhaib bin Sinan, Zaid bin Tsabbit, Muhammad bin Maslamah, Salamah bin Aqwa’ dan Usamah bin Zaid  radhiyallah ‘anhum. [Tarikh Ar Rusul, 4/429]

Kelompok-kelompok itu telah mencampuradukan pengertian bai’at kepada imam dengan ikrar dua kalimat syahadat, seolah-olah bai’at itu adalah pintu untuk masuk diin al Islam. Padahal ada sejumlah perbedaan antara keduanya yang sangat esensial. Misalnya, antara lain:

1.    Syahadat merupakan salah satu rukun Islam, sedangkan bai’at tidak termasuk rukun Islam. Tidak juga termasuk rukun iman (berbeda dengan orang-orang syi’ah yang menjadikan Imamah dan bai’at sebagai rukun iman)

2.    Orang yang mengingkari dua kalimat syahadat hukumnya kafir, sedang orang yang tidak berbai’at terhadap seorang imam, maka dia tidak kafir. Ini berlaku bagi Imam Al Muslimiin atau Khalifah. Apalagi jika bai’at itu terhadap seorang imam lokal yang tidak berdasarkan musyawarah umat Islam seluruh dunia atau terhadap jama’ah minal jama’ah muslimin bukan jama’ah muslimin seutuhnya (bai’at kepada para imam tersebut diperbolehkan namun bukan merupakan kewajiban, apalagi dimasukan sebagai pembatal keislaman bagi yang tidak melakukannya).

3.    Syahadat adalah mengucapkan

أشهد أن لا اله إلا الله و أشهد أن محمد رسول الله

Sedangkan materi baiat bermacam-macam tergantung tuntutan kebutuhan dan situasi. Contohnya Bai’at al ‘Aqabah Al Ulaa berbeda isi dengan Bai’at Al Ridhwan. Begitu pun dengan bentuk bai’at terhadap jama’ah minal jama’ah muslimin.

Jelaslah bahwa pendapat yang digunakan oleh kelompok-kelompok yang kita bahas sejak awal merupakan pendapat yang lemah, bahkan keliru. Karena maksud dari mati dalam keadaan jahiliyah bukanlah sebagaimana yang mereka maksudkan, bukan pula menyebabkan orang yang tidak berbai’at menjadi murtad.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: