Hadiah Pahala (bag. 2 – bantahan)

Telah kami jelaskan sebelumnya dalam artikel Hadiah Pahala (bag. 1) tentang bermanfaatnya amalan orang yang hidup bagi orang yang sudah meninggal. Namun, ada sebagian kalangan yang tetap berkeyakinan bahwa amalan orang yang hidup tidak bermanfaat sama sekali bagi mayyit karena dianggap bertentangan dengan dalil-dalil yang shahih. Di antara dalil yang mereka gunakan adalah.

1.    Dalil Al Qur`an

ألا تزر وازرة وزر أخرى * وأن ليس للإنسان إلا ما سعى

 (yaitu) bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwa seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” [QS. An Najm : 38-39]

لها ما كسبت و عليها مااكتسبت

Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya[QS. Al Baqarah : 286]

ولا تجزون إلا ما كنتم تعملون

Dan tidaklah kalian diberi pahala melainkan apa-apa yang kalian kerjakan.” [QS. Yaasin : 54]

BANTAHAN :

Penulis Syarh Aqidah Thahawiyah berkata:

قد أجاب العلماء بأجوبة : أصحها جوابان :
أحدهما : أن الإنسان بسعيه وحسن عشرته اكتسب الأصدقاء ، وأولد الأولاد ، ونكح الأزواج ، وأسدى الخير وتودد إلى الناس ، فترحموا عليه ، ودعوا له ، وأهدوا له ثواب الطاعات ، فكان ذلك أثر سعيه ، بل دخول المسلم مع جملة المسلمين في عقد الإسلام من أعظم الأسباب في وصول نفع كل من المسلمين إلى صاحبه ، في حياته وبعد مماته ، ودعوة المسلمين تحيط من ورائهم . يوضحه : أن الله تعالى جعل الإيمان سبباً لانتفاع صاحبه بدعاء إخوانه من المؤمنين وسعيهم ، فإذا أتى به فقد سعى في السبب الذي يوصل إليه ذلك .

Para ‘ulama telah memberikan beberapa jawaban tentang hal ini. Adapun jawaban yang paling benar ada dua:

Pertama, sesungguhnya manusia dengan usaha dan pergaulannya yang santun memperoleh banyak kawan dan sahabat, melahirkan banyak anak, menikahi beberapa istri, melakukan hal-hal yang baik untuk masyarakat dan menyebabkan orang-orang cinta dan suka padanya. Maka banyaklah orang-orang itu yang menyayanginya. Merekapun berdoa untuknya dan mengahadiahkan pula pahala dari ketaatan-ketaatan yang sudah dilakukannya, maka itu adalah bekas dari usahanya sendiri. Bahkan masuknya seorang muslim bersama golongan kaum muslimin yang lain didalam ikatan islam adalah merupakan sebab paling besar dalam hal sampainya kemanfaatan dari masing-masing kaum muslimin kepada yang lainnya baik didalam kehidupan ini maupun sesudah mati nanti dan doa kaum muslimin yang lain. Dalam satu penjelasan disebutkan bahwa Allah ta’ala menjadikan iman sebagai sebab untuk memperoleh kemanfaatan dengan do’a serta usaha dari kaum mukminin yang lain. Maka jika seseorang sudah berada dalam iman, maka dia sudah berusaha mencari sebab yang akan menyampaikannya kepada yang demikian itu. (Dengan demikian pahala keta’atan yang dihadiahkan kepadanya dan kaum mu`minin sebenarnya bagian dari usahanya sendiri).

الثاني ، وهو أقوى منه – : أن القرآن لم ينف انتفاع الرجل بسعي غيره وإنما نفى ملكه لغير سعيه ، وبين الأمرين فرق لا يخفى . فأخبر تعالى أنه لا يملك إلا سعيه ، وأما سعي غيره فهو ملك لساعيه ، فإن شاء أن يبدله لغيره ، وإن شاء أن يبقيه لنفسه .

Kedua, Ayat Al Qur`an itu tidak menafikan adanya kemanfaatan untuk seseorang dengan sebab usaha orang lain. Ayat Al Qur`an itu hanya menafikan “kepemilikan seseorang terhadap usaha orang lain”. Dan dua hal ini adalah dua perkara yang berbeda. Dan Allah hanya mengabarkan bahwa “laa yamliku illa sa’yah (orang itu tidak akan memiliki kecuali apa yang diusahakan sendiri). Adapun usaha orang lain, maka itu adalah milik bagi siapa yang mengusahakannya. Jika dia mau, maka dia boleh memberikannya kepada orang lain dan pula jika ia mau, dia boleh menetapkannya untuk dirinya sendiri. [Jadi huruf “lam” pada lafadz “lil insan” itu adalah “lil istihqaq” yakni menunjukan arti “milik”, pen]

وقوله سبحانه : ألا تزر وازرة وزر أخرى * وأن ليس للإنسان إلا ما سعى . آيتان محكمتان ، مقتضيتان عدل الرب تعالى : فالأولى تقتضي أنه لا يعاقب أحداً بجرم غيره ، ولا يؤاخذه بجريرة غيره ، كما يفعله ملوك الدنيا . والثانية تقتضي أنه لا يفلح إلا بعمله ، لينقطع طمعه من نجاته بعمل آبائه وسلفه ومشايخه ، كما عليه أصحاب الطمع الكاذب ، وهو سبحانه لم يقل لا ينتفع إلا بما سعى .

Dan firman Allah : “(yaitu) bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwa seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” [QS. An Najm : 38-39]

Ini adalah dua ayat yang gamblang artinya. Keduanya berkonsekwensi bahwa Rabb ta’ala Maha Adil. Yang pertama menandaskan bahwa Allah tak akan menyiksa seseorang karena kejahatan orang lain. Yang kedua menandaskan bahwa seseorang hanya mendapatkan ganjaran dari amalnya sendiri. Hal itu untuk memutuskan hasrat seseorang yang ingin selamat dengan amalan orangtuanya, nenek moyangnya, atau guru-gurunya, sebagaimana yang diyakini oleh mereka yang gila ambisi. Allah tidak menyatakan bahwa manusia tidak bisa mengambil manfaat selain dari usahanya.

Berkata penulis tafsir Khazin :

Yang demikian itu adalah untuk kaum Ibrahin dan musa. Adapun ummat islam (ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam), maka mereka bias mendapat pahala dari usahanya dan juga dari usaha orang lain.

Jadi ayat itu menerangkan hukum yang terjadi pada syariat Nabi Musa dan Nabi Ibrahim, bukan hukum dalam syariat nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam. Hal ini dikarenakan pangkal ayat tersebut berbunyi :

“ Atau belum dikabarkan kepadanya apa yang ada dalam kitab nabi Musa dan nabi Ibrahim yang telah memenuhi kewajibannya bahwa seseorang tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasanya tiada yang didapat oleh manusia selain dari yang diusahakannya”.

Sahabat Nabi, Ahli tafsir yang utama Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu. Berkata dalam menafsirkan ayat tersebut :

Ayat tersebut telah dinasakh (dibatalkan) hukumnya dalam syariat kita dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala : “Kami hubungkan dengan mereka anak-anak mereka”, maka dimasukanlah anak ke dalam surga berkat kebaikan yang dibuat oleh bapaknya. [Tafsir Khazin juz IV/223]

Firman Allah yang dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhusebagai penasakh surat An Najm ayat 39 itu adalah surat Ath Thuur ayat 21 yang lengkapnya sebagai berikut :

“Dan orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka mengikuti mereka dengan iman, maka kami hubungkan anak cucu mereka itu dengan mereka dan tidaklah mengurangi sedikitpun dari amal mereka. Tiap-tiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya”.

Tersebut dalam Naylul Awthar juz IV hal. 102 bahwa kata-kata : “Tidak ada seseorang itu…..” maksudnya

“Tidak ada dari segi keadilan (min thariqil adli), adapun dari segi karunia (min thariqil fadhli), maka ada bagi seseorang itu apa yang tidak dia usahakan.

Selanjutnya, berkata penulis Syarh Aqidah Thahawiyah:

 وكذلك قوله تعالى : لها ما كسبت . وقوله : ولا تجزون إلا ما كنتم تعملون . على أن سياق هذه الآية يدل على أن المنفي عقوبة العبد بعمل غيره ، فإنه تعالى قال : فاليوم لا تظلم نفس شيئاً ، ولا تجزون إلا ما كنتم تعملون .

Begitu pun dengan firman Allah : “Baginya pula amal kebaikannya” [QS. Al Baqarah : 286] dan firman-Nya : “Dan tidaklah kalian diberi pahala melainkan apa-apa yang kalian kerjakan.” [QS. Yaasin : 54]

Alur kalimat dalam ayat itu menunjukkan bahwa yang disangkal Allah adalah seorang hamba menanggung siksa Allah karena perbuatan orang lain. Karena Allah ta’ala berfirman: “Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan tidaklah kalian diberi pahala melainkan apa-apa yang kalian kerjakan.” [QS. Yaasin : 54]

2.   Dalil As Sunnah

Yaitu hadits shahih dari Abu Hurayrah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam:

إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث : صدقة جارية ، أو ولد صالح يدعو له ، أوعلم ينتفع به من بعده

Apabila anak Adam meninggal dunia, maka amalannya terputus kecuali tiga hal : shadaqah jariyah, anak shalih yang mendoakannya, dan ilmu yang bermanfaat sesudah matinya. (HR. Muslim 1631], Abu Dawud [2880], Turmudzi [1376] dan Nasa`i [3651])

BANTAHAN :

Penulis Syarh Aqidah Thahawiyah berkata:

عمله فاستدلال ساقط ، فإنه لم يقل انقطاع انتفاعه ، وإنما أخبر عن انقطاع عمله . وأما عمل غيره فهو لعامله ، [فإن] وهبه له وصل إليه ثواب عمل العامل ، لا ثواب عمله هو ، وهذا كالدين يوفيه الإنسان عن غيره ، فتبرأ ذمته ، ولكن ليس له ما وفى به الدين .

Pengambilan dalil ini tidak berguna. Karena Beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam tidak bersabda : “Terputus kesempatan dirinya mengambil manfaat.” Namun yang disabdakan adalah terputusnya amal perbuatannya. Adapun amalan orang lain, adalah untuk pelakunya. Kalau dihadiahkan kepadanya, akan sampai kepadanya pahala amalan si pelaku tersebut, bukan amalan dirinya. Ini sama dengan hutang yang dibayarkan orang lain untuk dirinya. Sehingga hilang tanggungannya. Padahal ia tidak memiliki sesuatu untuk membayar hutangnya.

3.    Klasifikasi yang membedakan antara amalan tubuh dengan amalan harta

BANTAHAN :

Penulis Syarh Aqidah Thahawiyah berkata tentang hal ini:

وأما تفريق من فرق بين العبادات المالية والبدنية – فقد شرع النبي صلى الله عليه وسلم عن الميت ، كما تقدم ، مع أن الصوم لا تجزىء فيه النيابة، وكذلك حديث جابر رضي الله عنه ، قال : صليت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عيد الاضحى ، فلما انصرف أتى بكبش فذبحه ، فقال : بسم الله والله أكبر ، اللهم هذا عني وعمن لم يضح من أمتي ، رواه أحمد و أبو داود و الترمذي ، وحديث الكبشين اللذين قال في أحدهما : اللهم هذا عن أمتي جميعاً ، وفي الآخر : اللهم هذا عن محمد وآل محمد ، رواه أحمد . والقربة في الاضحية إراقة الدم ، وقد جعلها لغيره .

Adapun klasifikasi yang dilakukan mereka yang membedakan antara amalan tubuh dengan amalan harta (jelas tidak benar). Karena Nabi telah mensyari’atkan puasa untuk orang mati terdahulu. Padahal yang namanya puasa itu tidak dapat digantikan. Begitu juga dengan hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Aku pernah shalat ‘Iedul Adh-ha bersama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Selesai shalat beliau datang membawa seekor kibas dan menyembelihnya.  Maka bersabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam : “Bismillah wallahu akbar. Ya Allah, ini untukku dan untuk ummatku yang belum pernah berkurban.(HR. Ahmad [III : 356], Abu Dawud [2810], dan At Tirmidzi [1521])

Dan hadits tentang dua kibas yang pada salah satunya beliau bersabda : “Ya Allah ini untuk ummatku seluruhnya.” Dan pada yang lainnya : “Ini untuk Muhammad dan keluarga Muhammad.[HR. Ahmad]

Dan berkurban dengan menyembelih adalah mengalirkan darah. Namun Nabi menjadikannya untuk orang lain.

وكذلك عبادة الحج بدنية ، وليس [المال] ركناً فيه ، وإنما هو وسيلة ، ألا ترى أن المكي يجب عليه الحج إذا قدر على المشي إلى عرفات ، من غير شرط المال . وهذا هو الأظهر ، أعني أن الحج غير مركب من مال وبدن ، بل بدني محض ، كما قد نص عليه جماعة من أصحاب أبي حنيفة المتأخرين . وانظر إلى فروض الكفايات : كيف قام فيها البعض عن الباقين ؟ ولأن هذا إهداء ثواب ، وليس من باب النيابة ، كما أن الأجير الخاص ليس له أن يستنيب عنه ، وله أن يعطي أجرته لمن شاء .

Begitu juga dengan ibadah haji, merupakan ibadah yang dilakukan anggota badan. Sementara harta bukanlah rukunnya. Namunn hanya merupakan sarana/ perantara (وسيلة). Bukankah orang Makkah juga wajib haji, kalau ia mampu berjalan ke Arafah tanpa ada syarat harus berharta? Inilah yang nampak. Maksudnya, bahwa haji bukanlah ibadah yang terdiri dari harta dan amalan naggota tubuh. Namun semata-mata amalan anggota tubuh. Sebagaimana ditandaskan oleh sebagian sahabat Abu Hanifah yang datang belakangan. Coba lihat ibadah-ibadah yang fardhu kifayah. Bagaimana ibadah yang dilakukan sebagian bisa mengugurkan kewajiban atas yang lain. Karena itu termasuk menghadiahkan pahala amal, bukan termasuk mewakilkan orang lain untuk beribadah. Sebagaimana seorang pekerja spesialis, yang tidak dapat digantikan orang lain, namun ia berhak untuk menghadiahkan upahnya kepada orang lain.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: