Ikhtilaf 1 Syawal

Hingga pekan ke dua bulan Syawal ini, masih ada juga sebagian kalangan yang membesar-besarkan masalah itsbat 1 Syawal Kemenag dan MUI yang berbeda bila dibandingkan dengan mayoritas negara-negara di dunia. Apalagi, masalah penolakan terhadap para saksi yang telah bersumpah melihat hilal di sejumlah titik di Indonesia. Seolah-olah perbedaan 1 Syawal kemarin merupakan perbedaan aqidah yang satu golongan berhak untuk menyatakan dirinya benar dan yang lainnya salah.

Hilal

Bahwa permasalahan ini bermula dari perbedaan metode penentuan. Selain masalah metode, tidak ada yang perlu diperuncing lagi, karena sesungguhnya menjaga ukhuwah di antara kaum muslimin jauh lebih penting daripada menyalahkan orang-orang yang berlebaran hari Selasa, atau sebaliknya terus-terusan menyalahkan Kemenag dan MUI serta orang-orang yang berlebaran hari Rabu. Ini bukanlah sikap yang dahulu pernah dilakukan oleh para sahabat dan generasi salaf setelahnya.

Telah masyhur bagi kita kisah Ibnu Mas’ud yang menolak fatwa Khalifah Utsman terkait dengan shalat safar yang tidak di qashar. Imam Abu Dawud (1/307) meriwayatkan kisah ini sebagai berikut.

أن عثمان رضي الله عنه صلى بمنى أربعا ، فقال عبد الله بن مسعود منكرا عليه : صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم ركعتين ، و مع أبي بكر ركعتين ، و مع عمر ركعتين ، و مع عثمان صدرا من إمارته ثم أتمها ، ثم تفرقت بكم الطرق فلوددت أن لي من أربع ركعات ركعتي متقبلتين ، ثم إن ابن مسعود صلى أربعا ! فقيل له : عبت على عثمان ثم صليت أربعا ؟ ! قال : الخلاف شر . و سنده صحيح . و روى أحمد ( 5 / 155 ) نحو هذا عن أبي ذر رضي الله عنهم أجمعين

Bahwasanya Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu shalat di Mina 4 rakaat. Maka shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengingkarinya seraya berkata: “Aku dulu shalat bersama Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar dan di awal pemerintahan ‘Utsman 2 rakaat, dan setelah itu ‘Utsman shalat 4 rakaat. Kemudian terjadilah perbedaan diantara kalian, dan harapanku dari 4 rakaat shalat itu yang diterima adalah yang 2 rakaat darinya.”

Namun ketika di Mina, shahabat Abdullah bin Mas’ud justru shalat 4 rakaat. Maka dikatakanlah kepada beliau: “Engkau telah mengingkari ‘Utsman atas shalatnya yang 4 rakaat, kemudian engkau shalat 4 rakaat pula?!” Abdullah bin Mas’ud berkata: “Perselisihan itu jelek.” Sanadnya shahih. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Ahmad (5/155) seperti riwayat di atas dari shahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

Begitu pula dengan kisah Al Imam Ahmad ibn Hanbal yang pada saat shalat shubuh di belakang Al Imam Syafi’i ikut mengangkat tangan dan mengaminkan qunut Al Imam Asy Syafi’i. Bahkan dengan tegas beliau berfatwa tentang tata cara shalat di belakang orang yang melakukan qunut shubuh, “Angkatlah tanganmu dan aminkan qunutnya.” Masya Allah… Indah sekali sikap yang ditunjukkan oleh Al Imam Ahmad. Padahal beliau termasuk orang yang menolak syari’at qunut shubuh berdasarkan fatwa pribadinya.

Pun dalam masalah perbedaan hari raya ‘idul fithri. Pada masa sahabat juga sempat terjadi perbedaan, sebagaimana yang diceritakan oleh Al Imam Ash Shan’ani dalam Subulus Salam (II/63).

وأن المنفرد بمعرفة يوم العيد بالرؤية يجب عليه موافقة غيره ويلزمه حكمهم في الصلاة والإفطار والأضحية. وقد أخرج الترمذي مثل هذا الحديث عن أبي هريرة وقال: حديث حسن. وفي معناه حديث ابن عباس وقد قال له كريب: إنه صام أهل الشام ومعاوية برؤية الهلال يوم الجمعة بالشام وقدم المدينة آخر الشهر وأخبر ابن عباس بذلك فقال ابن عباس: لكنا رأيناه ليلة السبت فلا نزال نصوم حتى نكمل ثلاثين أو نراه قال: قلت: أولا تكتفي برؤية معاوية والناس؟ قال: لا هكذا أمرنا رسول الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم

 Dan bahwasanya seorang yang menyendiri dalam mengetahui masuknya hari raya dengan melihat hilal tetap wajib mengikuti kebanyakan manusia. Hukum ini harus dia ikuti, apakah dalam waktu shalat, ber’idul Fithri atau pun berkurban (Idul Adha). At Tirmidzi telah meriwayatkan yang serupa dengan ini dari Abu Hurayrah, dan dia berkata: hadits hasan. Dan semakna dengan ini adalah hadits Ibnu ‘Abbas, ketika Kuraib berkata kepadanya, bahwa penduduk Syam dan Mu’awiyah berpuasa berdasarkan melihat hilal pada hari Jumat di Syam. Beliau dating ke Madinah pada akhir bulan dan mengabarkan kepada Ibnu ‘Abbas hal itu, maka Ibnu Abbas berkata kepadanya: “Tetapi kami melihatnya (hilal) pada  sabtu malam, maka kami tidak berpuasa sampai sempurna tiga puluh hari atau kami melihatnya.” Aku berkata: “Tidakkah cukup ru’yahnya Mu’awiyah dan Manusia?” Ibnu Abbas menjawab: “Tidak, inilah yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam kepada kami.”

Jelaslah kepada kita bahwa permasalahan penetapan 1 Syawal telah mengalami perbedaan pendapat sejak masa sahabat. Begitu pun dengan penolakan kesaksian ru’yatul hilal. Maka, Ibnu ‘Abbas pernah melakukannya dengan menolak kesaksian Mu’awiyah dan penduduk Syam dengan alasan bahwa hilal belum terlihat di Madinah. Hanya saja perlu dipertanyakan kepada Kemenag dan MUI tentang penolakan saksi tersebut, apakah dikarenakan mengikuti Ibnu ‘Abbas dalam riwayat di atas atau memiliki motif lain. Wallahu a’lam

Namun demikian, sikap yang terbaik adalah mengikuti pendapat mayoritas karena ibadah shaum dan ‘idul fithri adalah ibadah jama’i, sebagaimana penjelasan Al Imam Ash Shan’ani di atas. Hal ini juga dikuatkan oleh Imam Abul Hasan As Sindi menyebutkan dalam  Hasyiah As Sindi ‘Ala Ibni Majah:

وَالظَّاهِر أَنَّ مَعْنَاهُ أَنَّ هَذِهِ الْأُمُور لَيْسَ لِلْآحَادِ فِيهَا دَخْل وَلَيْسَ لَهُمْ التَّفَرُّد فِيهَا بَلْ الْأَمْر فِيهَا إِلَى الْإِمَام وَالْجَمَاعَة وَيَجِب عَلَى الْآحَاد اِتِّبَاعهمْ لِلْإِمَامِ وَالْجَمَاعَة وَعَلَى هَذَا فَإِذَا رَأَى أَحَد الْهِلَال وَرَدَّ الْإِمَام شَهَادَته يَنْبَغِي أَنْ لَا يَثْبُت فِي حَقّه شَيْء مِنْ هَذِهِ الْأُمُور وَيَجِب عَلَيْهِ أَنْ يَتْبَع الْجَمَاعَة فِي ذَلِكَ

“Jelasnya, makna hadits ini adalah bahwasanya perkara-perkara semacam ini (menentukan awal Ramadhan, Idul Fithri dan Idul Adha, pen) keputusannya bukanlah di tangan individu. Tidak ada hak bagi mereka untuk melakukannya sendiri-sendiri. Bahkan permasalahan semacam ini dikembalikan kepada penguasa dan mayoritas umat Islam. Dalam hal ini, setiap individu pun wajib untuk mengikuti penguasa dan mayoritas umat Islam. Maka jika ada seseorang yang melihat hilal namun penguasa menolak persaksiannya, sudah sepatutnya untuk tidak dianggap persaksian tersebut dan wajib baginya untuk mengikuti mayoritas umat Islam dalam permasalahan itu.” (Hasyiah As Sindi ‘Ala Ibni Majah, 3/431)

Kita sama-sama mengakui bahwa penguasa hari ini bukanlah Amiirul Mu`miniin, bukanlah penguasa yang menjaga hukum-hukum Allah di atas muka bumi, namun ijma’ jama’ah hari ini telah diwakilkan kepada (dalam hal ini) sidang itsbat dengan mengirimkan perwakilan dari setiap ormas Islam dalam persidangan tersebut. Maka sudah selayaknya putusan yang diambil dalam sidang tersebut, selama memenuhi syarat-syarat yang disyari’atkan dan tidak menyimpang dari sunnah, harus diterima dengan lapang dada.

Sayangnya memang harus kita akui bahwa seringkali persidangan itsbat tidak dilakukan dengan jujur dan adil sesuai sunnah sehingga walaupun hasil akhirnya benar, hal tersebut diambil dari metode yang tidak tepat. Dan memang hal inilah yang menjadi akar penyebabnya, yakni perbedaan metode penentuan. Sebagian kalangan masih ada yang bersikukuh menggunakan metode hisab dengan alasan mempermudah urusan dalam diin. Sedangkan sebagian yang lain masih menggunakan metode sebagaimana Rasulullah melakukannya yakni ru’yatul hilal (melihat hilal). Namun, hal tersebut dipersulit kembali dengan adanya batasan derajat dalam metode hisab, ada yang menentukan titik minimal (dengan asumsi bahwa jika kurang dari titik tersebut hilal tidak terlihat sehingga tidak masuk hitungan), sedangkan yang lain tidak mensyaratkan hal tersebut atau lebih dikenal dengan metode wujudul hilal.

Begitupun dengan kalangan yang menggunakan metode ru’yatul hilal, masih ada hal-hal yang membuat metode ini juga tampak bermasalah dengan pertanyaan-pertanyaan seperti : “apakah melihatnya harus dengan mata telanjang atau boleh menggunakan alat”. Padahal dalam riwayat-riwayat yang shahih tidak ada satupun yang menjelaskan tentang dilarangnya penggunaan alat dalam ru’yatul hilal, sebagaimana tidak adanya larangan penggunaan mikrofon dalam adzan.

Jika kita cermati, permasalahan ini sangat sederhana jika ummat mau bersatu menghilangkan egonya masing-masing. Kembali kepada as sunnah an nabawiyah asy syariifah dan bertoleransi terhadap perbedaan pendapat yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Sekali lagi saya tegaskan, inti dari tulisan ini bukanlah dalam rangka mengatakan bahwa pendapat yang satu adalah benar sedangkan yang lainnya salah. Adalah bagaimana kita harus legowo menerima perbedaan pendapat di kalangan ummat dan mencari jalan terbaik di tengah perselisihan tersebut sehingga ummat tidak terpecah. Karena menjaga ukhuwah Islamiyah jauh lebih penting daripada memegang teguh suatu pendapat dan menyalahkan pendapat yang lain yang pada akhirnya akan memecah belah ummat Islam. Padahal permasalahan ini bukanlah permasalahan yang dapat membahayakan iman.

Sungguh indah pernyataan Asy Syaikh Hasan Al Banna dalam Risalah Ta’alim tentang hal ini,

والخلاف الفقهي في الفروع لا يكون سببا للتفرق في الدين، ولا يؤدي إلى خصومة ولا بغضاء ولكل مجتهد أجره، ولا مانع من التحقيق العلمي النزيه في مسائل الخلاف في ظل الحب في الله والتعاون على الوصول إلى الحقيقة، من غير أن يجر ذلك إلى المراء المذموم والتعصب

Khilaf (perbedaan pendapat) fiqih pada hal furu’ (cabang) hendaknya tidak men­jadi faktor pemecah belah dalam agama, tidak menyebabkan permusuhan dan tidak juga kebencian. Setiap mujtahid mendapatkan pahalanya. Sementara itu, tidak ada larangan melakukan studi ilmiah yang jujur terhadap persoalan khilafiyah dalam naungan kasih sayang dan saling membantu karena Allah untuk menuju kepada kebenaran. Semua itu dengan tanpa melahirkan sikap egois dan ta’ashub (fanatik).

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: