Al Aqsha dalam Perjalanan Sejarah *

Oleh : Al Fadhli **

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.  Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Al Isra : 1)

Kompleks Masjid Al Aqsha

Al-Masjid Al-Aqsa merupakan nama arab yang berarti Masjid terjauh. 10 tahun setelah Nabi Muhammad menerima wahyu pertama, beliau melakukan perjalanan malam dari Mekkah ke Baitul Maqdis (Jerusalem) dan kemudian menuju langit ketujuh untuk menerima perintah sholat 5 waktu dari Allah, peristiwa ini disebut Isra’ Miraj. Masjid ini disebut oleh Rasulullah dalam Hadits sebagai Masjid Biru karena mempunyai Kubah berwarna biru.

Masjid Al-Aqsa merupakan bangunan tertua kedua setelah Ka’bah di Mekkah, dan tempat suci dan tempat terpenting ketiga setelah Mekkah dan Madinah. Luas kompleks Masjid Al-Aqsa sekitar 144.000 meter persegi, atau 1/6 dari seluruh area yang dikelilingi tembok kota tua Jerusalem yang berdiri saat ini. Dikenal juga sebagai Al Haram El Sharif atau oleh yahudi disebut Kuil Sulaiman. Kompleks Masjid Al-Aqsa dapat menampung sekitar 400.000 jemaah (Masjid Al-Aqsa menampung sekitar 5.000 jamaah, selebihnya sholat di kompleks yang ber-area terbuka).

Pembangunan kembali kompleks Masjid Al-Aqsa dimulai 6 tahun setelah Nabi wafat oleh Umar Bin Khattab. Beliau menginginkan untuk dibangun sebuah masjid di selatan Foundation Stone (membelakangi Foundation Stone, menghadap selatan/Mekkah). Pembangunan tersebut dilakukan oleh Khalifah Ummayah Abd Al Malik Ibn Marwan dan diselesaikan oleh anaknya Al Walid 68 tahun setelah Nabi wafat dengan diberi nama Masjid Al Aqsha.

Di tahun 638, Kekhalifahan Islam membentangkan kekuasaannya hingga Yerusalem.  Dengan adanya penaklukkan Arab, orang Yahudi diizinkan kembali ke kota. Khulafaur Rasyidin Umar bin Khattab menandatangani kesepakatan dengan Patriakh Kristen Monofisit Sophronius untuk meyakinkan dia bahwa tempat-tempat suci dan umat Kristen Yerusalem akan dilindungi di bawah kekuasaan orang Muslim.  Umar memimpin dari Batu Fondasi di Bukit Bait, yang sebelumnya telah ia bersihkan untuk mempersiapkan bangunan masjid.  Menurut uskup Gaul Arculf, yang tinggal di Yerusalem dari 679 hingga 688, Masjid Umar merupakan bangunan kayu persegi yang dibangun di atas sisa-sisa bangunan yang dapat menampung 3.000 jamaah. Khalifah Abdul Malik dari Umayyah mempersiapkan pembangunan Kubah Shakhrah (Dome oh the Rock) pada akhir abad ke-7.  Sejarawan abad ke-10 al-Muqaddasi menulis bahwa Abdul Malik membangun altar untuk menyelesaikan kemegahan gereja-gereja monunental Yerusalem.  Selama lebih dari empat ratus tahun berikutnya, ketenaran Yerusalem berkurang saat wilayah itu direbut dan menjadi wilayah kekuasaan Arab.

Kubah Ash Shakhrah (Masjid Umar)

Kubah Al-Shakhrah inilah yang kemudian diperkenalkan oleh Israel kepada dunia internasional sebagai Masjid Al-Aqsa untuk menipu umat Islam dunia, dan menjauhkannya dari pengetahuan dan pengawasan kaum Muslimin. Kubah ini letaknya di dalam wilayah yang sama dengan Masjid Al-Aqsa atau di area Al-Haram Asy-Syarif.

Setelah sebelumnya dikuasai oleh pasukan Kuffar, tahun 1187, Kota Yerusalem direbut dari Tentara Salib oleh Saladin atau Salahuddin Al-Ayyubi yang mengizinkan orang Yahudi dan Muslim kembali dan bermukim di dalam kota. Di bawah pemerintahan Dinasti Ayyubiyyah, Salahuddin Al-Ayyubi, periode investasi besar dimulai dengan pembangunan rumah-rumah, pasar, kamar-mandi umum, dan pondok-pondok bagi peziarah, begitu pula ditetapkannya sumbangan keagamaan. Meski demikian, selama abad ke-13, Yerusalem turun status menjadi desa karena jatuhnya nilai strategis kota ini.

Tahun 1244, Yerusalem dikepung oleh Kharezmian bangsa Tatar, yang mengurangi penduduk Kristen kota dan mengusir orang Yahudi. Khwarezmia dari bangsa Tatar diusir oleh Ayyubiyyah tahun 1247.   Dari 1250 hingga 1517, Yerusalem dikusasai oleh Mamluk.

Pada tahun 1517 Yerusalem dan sekitarnya jatuh ke tangan Turki Ottoman yang masih mengambil kendali hingga 1917. Pada paruh abad ke-19, bangsa Ottoman membangun jalan aspal pertama dari Jaffa hingga Yerusalem, dan pada 1892 jalur rel mulai mencapai kota.

Setelah Pertempuran Yerusalem, Tentara Britania dipimpin General Edmund Allenby mengepung kota, dan di tahun 1922, LBB (Liga Bangsa-bangsa bentuk pertama PBB, Persatuan Bangsa-bangsa) pada Konferensi Lausanne mempercayakan Britania Raya untuk mengatur Mandat bagi Palestina.

Dari tahun 1922 hingga tahun 1948 total populasi kota meningkat dari 52.000 menjadi 165.000 dengan dua pertiganya orang Yahudi dan sepertiga orang Arab (umat Muslim dan Kristen). Situasi antara orang Arab dan Yahudi di Palestina tidak tenang. Di Yerusalem, kerusuhan terjadi tahun 1920 dan tahun 1929. Di bawah pemerintahan Britania, taman-taman baru dibuat di pinggir kota di bagian utara dan barat kota dan institusi pendidikan tinggi seperti Universitas Ibrani didirikan.

Tanah tak berpemilik antara Yerusalem Barat dan Timur mulai diurus pada November 1948: Moshe Dayan, komandan tentara Israel di Yerusalem bertemu dengan rekan Yordanianya Abdullah el Tell di sebuah tempat tinggal gurun di lingkungan Musrara Yerusalem dan menandai posisi mereka masing-masing: posisi Israel berwarna merah dan Yordania berwarna hijau.

Setelah Israel merebut Yerusalem Timur pada Perang Enam Hari di tahun 1967, orang Yahudi dan Kristen diperbolehkan memasuki kembali tempat-tempat suci, sementara Bukit Bait masih menjadi yurisdiksi wakaf Islam.  Wilayah orang Maroko yang berbatasan dengan Tembok Barat, dikosongkan dan dihancurkan untuk membuat jalan bagi sebuah plaza bagi mereka mengunjungi dinding. Sejak perang, Israel telah memperluas lingkar kota dan menetapkan lingkar pemukiman Yahudi di tanah kosong sebelah timur Garis Hijau.

Pada tahun 1970 sekelompok rabi ekstremis – dipimpin oleh Shlomo Goren, yang kemudian menjadi kepala rabi Israel – mulai melobi agar orang Yahudi diizinkan masuk ke kompleks mesjid untuk berdoa, walaupun keputusan rabbi tradisional bertenangan dengan praktek seperti.

Kelompok-kelompok Yahudi segera muncul menuntut lebih: bahwa masjid akan diledakkan untuk mencari jalan untuk pembangunan sebuah kuil ketiga yang akan membawa lebih dekat kepada kedatangan Mesias mereka.

1996

Di saat menjabat perdana menteri, Netanyahu membuka terowongan di Tembok Barat, penggalian lainnya mendekati kompleks masjid, sehingga terjadi bentrokan yang menewaskan 75 orang Palestina dan 15 tentara Israel.

Israel, yang mengatakan masjid berada di atas reruntuhan dua kuil Yahudi kuno, yang dibangun oleh Salomo dan Herodes, mengacu pada situs di Gunung Bait dan telah menyampaikan pengakuan untuk mendapatkan kedaulatan atas wilayah tersebut dalam perundingan damai baru-baru ini.

Maket Haikal Sulaiman

2000

Sebelumnya kekacauan yang oleh Israel pada otoritas Islam di situs ini telah memicu bentrokan antara polisi Israel dan Palestina. Kunjungan pasukan bersenjata lengkap ke kompleks mesjid oleh Ariel Sharon pada tahun 2000, lama sebelum ia menjadi perdana menteri, untuk menyatakan hak Israel ada memicu Intifada kedua.

Pada perundingan Camp David di tahun 2000, Bill Clinton, kemudian menjadi presiden AS, mengusulkan membagi kedaulatan sehingga Israel akan memiliki kontrol atas “ruang bawah tanah” dari kompleks masjid dan Tembok Barat. Selama pembicaraan Ehud Barak, perdana menteri Israel sekarang, pengamat mengkhawatirkan sebutan atas keseluruhan kompleks Yahudi dengan “Mahakudus”, istilah yang sebelumnya digunakan hanya mengacu pada tempat suci di dalam candi yang telah hancur.

Meskipun undang-undang kemurnian agama Yahudi telah melarang orang Yahudi secara tradisional memasuki Mount Temple (Kuil Bukit), namun semakin banyak rabi Yahudi menuntut agar diizinkan untuk berdoa di dalam kompleks tersebut. Lebih lagi kelompok fanatik yang diketahui mendukung peledakan masjid-masjid dan membangun sebuah kuil ketiga di tempat mereka.

2004

Terjadi kerusakan kecil di jalan batu menuju Gerbang Mughrabi di depan kompleks mesjid oleh sebuah badai kecil. Kerusakan bertambah luas karena Israel membongkar jalan itu kemudian.

Menurut bukti yang ditunjukkan ke pengadilan Yerusalem, saat ini para pejabat Israel menggunakan kerusakan jalan tersebut sebagai dalih untuk membongkarnya enam tahun yang lalu. Tujuannya adalah untuk menggantikan jalan dengan jembatan logam permanen dan kemudian memperluas plaza doa Yahudi ke daerah dimana jalan itu.

Skema ini adalah gagasan Shmuel Rabinowitz, rabi yang bertanggung jawab atas Tembok Barat, yang menyatakan kerusakan jalan pada tahun 2004 adalah sebuah “keajaiban” yang mana Israel ditawari kesempatan untuk menguasai lebih banyak tanah yang dikuasai Islam di Kota Tua .

2007

Rencana Shmuel Rabinowitz itu disetujui oleh sebuah komite menteri khusus yang dipimpin oleh Ehud Olmert, yang kemudian menjadi perdana menteri. Proyek ini juga mendapat dukungan dari Netanyahu, meskipun ia membekukan pekerjaan konstruksinya pada bulan Juli atas perintah pengadilan Yerusalem.

Hakim, Moussia Arad, mengusulkan pada bulan Januari agar jalan dikembalikan, atau paling tidak jembatan mengikuti rute jalan yang tepat, dan semua pendoa dilarang di lokasi. Posisi itu mendapatkan dukungan dari pejabat PBB yang memantau pekerja Israel di Gerbang Mughrabi.

Pendekatan ilmiah untuk penggalian itu disorot pada awal tahun 2007 ketika muncul tiga tahun sebelumnya arkeolog-arkeolog Israel telah menemukan di sebuah situs ruang berdoa muslim dari masa Saladin, berasal dari abad ke-11, tapi penemuan itu tidak dihiraukan.

Pada bulan Februari 2007, ketika Israel membawa alat berat untuk penggalian di Gerbang Mughrabi, ratusan warga Palestina bentrok dengan polisi sementara Gerakan Islam di Israel menggelar demonstrasi besar-besaran. Jihad Islam mengatakan telah menembakkan dua roket Qassam dari Gaza sebagai jawaban, dan Brigade Martir al-Aqsa mengancam akan melakukan serangan jika pekerjaan itu tidak dihentikan.

Otoritas Islam juga mengungkapkan kekhawatiran bahwa bagian masjid mungkin akan rusak oleh buldoser, dan mesin berat mungkin juga akan menghancurkan Masjid Al-Buraq yang masih belum ditemukan, yang diyakini terletak dekat dengan Gerbang Mughrabi, yang menandai situs di mana Nabi Muhammad menambatkan kudanya pada malam perjalanan dari Mekah menuju Yerusalem (Isra’).

Untuk menenangkan situasi, Israel mengizinkan pakar dari Turki untuk memeriksa penggalian beberapa waktu kemudian. Mereka melaporkan bahwa Israel sedang berusaha mengenyampingkan sejarah Islam di Yerusalem sehingga aspek Yahudi bisa lebih ditonjolkan.

2009

Pada bulan Desember, bertepatan dengan bulan Ramadhan, Israel mulai melakukan penggalian untuk membangun sejumlah terowongan di dekat Mesjid Al-Aqsa. Terowongan-terowongan itu dibangun saling terhubung di bawah lingkungan Arab Silwan, berkedalaman 120 meter, lebar 1,5 meter dan tinggi 3 meter, dan diarahkan menuju bagian utara Mesjid Al-Aqsa.

Pihak Palestina meyakini Israel ingin meng-yahudinisasi Yerusalem dan menghancurkan Mesjid Al-Aqsa, kemudian membangun kuil kedua di atas reruntuhan Mesjid. Namun pihak Israel berdalih melakukan penggalian terowongan untuk fasilitas pariwisata yang pembangunannya dimulai di bawah tanah.

Sementara itu 100.000 orang Palestina tidak bisa mencapai mesjid Al-Aqsa untuk shalat Jum’at (11/12/09) karena dilarang tentara pendudukan Israel. Sejak pagi Jumat ribuan orang Palestina tersebut yang berdatangan dari seluruh kota-kota Tepi Barat mengantri untuk diizinkan masuk ke dalam areal mesjid.

Jangan Salah Kaprah

2010

Pemerintah Israel telah berkeras meneruskan rencana untuk memperbesar alun-alun doa Yahudi di Tembok Barat di Kota Lama Yerusalem, meskipun diperingatkan akan beresiko memicu intifadhah ketiga.

Para pejabat Israel menolak proposal pengadilan Yerusalem minggu ini (Maret 2010) untuk mengesampingkan rencananya setelah hakim menerima pendapat bahwa perluasan alun-alun doa akan melanggar “status quo” yang meliputi pengaturan tempat-tempat suci Kota Tua. Otoritas Islam menyetujui pengaturan tersebut setelah Israel menduduki Yerusalem Timur pada tahun 1967.

Situs yang dimaksud oleh pejabat Israel terletak di Gerbang Mughrabi, sebuah pintu masuk ke kompleks masjid yang dikenal sebagai Haram al-Sharif, situs yang paling sensitif dalam konflik antara Israel dan Palestina. Di dalamnya ada Masjid Al-Aqsa dan Dome oh the Rock dengan kubah berlapis emasnya (disusun dari berbagai sumber, peny.).

==========

* Disampaikan dalam Talkshow Futuhat Al Aqsa “Min Huna Nabda Fii Al Aqsa Naltaqi”; Bandung, 29 Mei 2011

** Penyusun adalah Ketua Umum Mahasiswa Pecinta Islam (MPI) Bandung Raya

Hadiah Pahala (bag. 2 – bantahan)

Telah kami jelaskan sebelumnya dalam artikel Hadiah Pahala (bag. 1) tentang bermanfaatnya amalan orang yang hidup bagi orang yang sudah meninggal. Namun, ada sebagian kalangan yang tetap berkeyakinan bahwa amalan orang yang hidup tidak bermanfaat sama sekali bagi mayyit karena dianggap bertentangan dengan dalil-dalil yang shahih. Di antara dalil yang mereka gunakan adalah.

1.    Dalil Al Qur`an

ألا تزر وازرة وزر أخرى * وأن ليس للإنسان إلا ما سعى

 (yaitu) bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwa seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” [QS. An Najm : 38-39]

لها ما كسبت و عليها مااكتسبت

Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya[QS. Al Baqarah : 286]

ولا تجزون إلا ما كنتم تعملون

Dan tidaklah kalian diberi pahala melainkan apa-apa yang kalian kerjakan.” [QS. Yaasin : 54]

BANTAHAN :

Penulis Syarh Aqidah Thahawiyah berkata:

قد أجاب العلماء بأجوبة : أصحها جوابان :
أحدهما : أن الإنسان بسعيه وحسن عشرته اكتسب الأصدقاء ، وأولد الأولاد ، ونكح الأزواج ، وأسدى الخير وتودد إلى الناس ، فترحموا عليه ، ودعوا له ، وأهدوا له ثواب الطاعات ، فكان ذلك أثر سعيه ، بل دخول المسلم مع جملة المسلمين في عقد الإسلام من أعظم الأسباب في وصول نفع كل من المسلمين إلى صاحبه ، في حياته وبعد مماته ، ودعوة المسلمين تحيط من ورائهم . يوضحه : أن الله تعالى جعل الإيمان سبباً لانتفاع صاحبه بدعاء إخوانه من المؤمنين وسعيهم ، فإذا أتى به فقد سعى في السبب الذي يوصل إليه ذلك .

Para ‘ulama telah memberikan beberapa jawaban tentang hal ini. Adapun jawaban yang paling benar ada dua:

Pertama, sesungguhnya manusia dengan usaha dan pergaulannya yang santun memperoleh banyak kawan dan sahabat, melahirkan banyak anak, menikahi beberapa istri, melakukan hal-hal yang baik untuk masyarakat dan menyebabkan orang-orang cinta dan suka padanya. Maka banyaklah orang-orang itu yang menyayanginya. Merekapun berdoa untuknya dan mengahadiahkan pula pahala dari ketaatan-ketaatan yang sudah dilakukannya, maka itu adalah bekas dari usahanya sendiri. Bahkan masuknya seorang muslim bersama golongan kaum muslimin yang lain didalam ikatan islam adalah merupakan sebab paling besar dalam hal sampainya kemanfaatan dari masing-masing kaum muslimin kepada yang lainnya baik didalam kehidupan ini maupun sesudah mati nanti dan doa kaum muslimin yang lain. Dalam satu penjelasan disebutkan bahwa Allah ta’ala menjadikan iman sebagai sebab untuk memperoleh kemanfaatan dengan do’a serta usaha dari kaum mukminin yang lain. Maka jika seseorang sudah berada dalam iman, maka dia sudah berusaha mencari sebab yang akan menyampaikannya kepada yang demikian itu. (Dengan demikian pahala keta’atan yang dihadiahkan kepadanya dan kaum mu`minin sebenarnya bagian dari usahanya sendiri).

الثاني ، وهو أقوى منه – : أن القرآن لم ينف انتفاع الرجل بسعي غيره وإنما نفى ملكه لغير سعيه ، وبين الأمرين فرق لا يخفى . فأخبر تعالى أنه لا يملك إلا سعيه ، وأما سعي غيره فهو ملك لساعيه ، فإن شاء أن يبدله لغيره ، وإن شاء أن يبقيه لنفسه .

Kedua, Ayat Al Qur`an itu tidak menafikan adanya kemanfaatan untuk seseorang dengan sebab usaha orang lain. Ayat Al Qur`an itu hanya menafikan “kepemilikan seseorang terhadap usaha orang lain”. Dan dua hal ini adalah dua perkara yang berbeda. Dan Allah hanya mengabarkan bahwa “laa yamliku illa sa’yah (orang itu tidak akan memiliki kecuali apa yang diusahakan sendiri). Adapun usaha orang lain, maka itu adalah milik bagi siapa yang mengusahakannya. Jika dia mau, maka dia boleh memberikannya kepada orang lain dan pula jika ia mau, dia boleh menetapkannya untuk dirinya sendiri. [Jadi huruf “lam” pada lafadz “lil insan” itu adalah “lil istihqaq” yakni menunjukan arti “milik”, pen]

وقوله سبحانه : ألا تزر وازرة وزر أخرى * وأن ليس للإنسان إلا ما سعى . آيتان محكمتان ، مقتضيتان عدل الرب تعالى : فالأولى تقتضي أنه لا يعاقب أحداً بجرم غيره ، ولا يؤاخذه بجريرة غيره ، كما يفعله ملوك الدنيا . والثانية تقتضي أنه لا يفلح إلا بعمله ، لينقطع طمعه من نجاته بعمل آبائه وسلفه ومشايخه ، كما عليه أصحاب الطمع الكاذب ، وهو سبحانه لم يقل لا ينتفع إلا بما سعى .

Dan firman Allah : “(yaitu) bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwa seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” [QS. An Najm : 38-39]

Ini adalah dua ayat yang gamblang artinya. Keduanya berkonsekwensi bahwa Rabb ta’ala Maha Adil. Yang pertama menandaskan bahwa Allah tak akan menyiksa seseorang karena kejahatan orang lain. Yang kedua menandaskan bahwa seseorang hanya mendapatkan ganjaran dari amalnya sendiri. Hal itu untuk memutuskan hasrat seseorang yang ingin selamat dengan amalan orangtuanya, nenek moyangnya, atau guru-gurunya, sebagaimana yang diyakini oleh mereka yang gila ambisi. Allah tidak menyatakan bahwa manusia tidak bisa mengambil manfaat selain dari usahanya.

Berkata penulis tafsir Khazin :

Yang demikian itu adalah untuk kaum Ibrahin dan musa. Adapun ummat islam (ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam), maka mereka bias mendapat pahala dari usahanya dan juga dari usaha orang lain.

Jadi ayat itu menerangkan hukum yang terjadi pada syariat Nabi Musa dan Nabi Ibrahim, bukan hukum dalam syariat nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam. Hal ini dikarenakan pangkal ayat tersebut berbunyi :

“ Atau belum dikabarkan kepadanya apa yang ada dalam kitab nabi Musa dan nabi Ibrahim yang telah memenuhi kewajibannya bahwa seseorang tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasanya tiada yang didapat oleh manusia selain dari yang diusahakannya”.

Sahabat Nabi, Ahli tafsir yang utama Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu. Berkata dalam menafsirkan ayat tersebut :

Ayat tersebut telah dinasakh (dibatalkan) hukumnya dalam syariat kita dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala : “Kami hubungkan dengan mereka anak-anak mereka”, maka dimasukanlah anak ke dalam surga berkat kebaikan yang dibuat oleh bapaknya. [Tafsir Khazin juz IV/223]

Firman Allah yang dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhusebagai penasakh surat An Najm ayat 39 itu adalah surat Ath Thuur ayat 21 yang lengkapnya sebagai berikut :

“Dan orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka mengikuti mereka dengan iman, maka kami hubungkan anak cucu mereka itu dengan mereka dan tidaklah mengurangi sedikitpun dari amal mereka. Tiap-tiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya”.

Tersebut dalam Naylul Awthar juz IV hal. 102 bahwa kata-kata : “Tidak ada seseorang itu…..” maksudnya

“Tidak ada dari segi keadilan (min thariqil adli), adapun dari segi karunia (min thariqil fadhli), maka ada bagi seseorang itu apa yang tidak dia usahakan.

Selanjutnya, berkata penulis Syarh Aqidah Thahawiyah:

 وكذلك قوله تعالى : لها ما كسبت . وقوله : ولا تجزون إلا ما كنتم تعملون . على أن سياق هذه الآية يدل على أن المنفي عقوبة العبد بعمل غيره ، فإنه تعالى قال : فاليوم لا تظلم نفس شيئاً ، ولا تجزون إلا ما كنتم تعملون .

Begitu pun dengan firman Allah : “Baginya pula amal kebaikannya” [QS. Al Baqarah : 286] dan firman-Nya : “Dan tidaklah kalian diberi pahala melainkan apa-apa yang kalian kerjakan.” [QS. Yaasin : 54]

Alur kalimat dalam ayat itu menunjukkan bahwa yang disangkal Allah adalah seorang hamba menanggung siksa Allah karena perbuatan orang lain. Karena Allah ta’ala berfirman: “Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan tidaklah kalian diberi pahala melainkan apa-apa yang kalian kerjakan.” [QS. Yaasin : 54]

2.   Dalil As Sunnah

Yaitu hadits shahih dari Abu Hurayrah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam:

إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث : صدقة جارية ، أو ولد صالح يدعو له ، أوعلم ينتفع به من بعده

Apabila anak Adam meninggal dunia, maka amalannya terputus kecuali tiga hal : shadaqah jariyah, anak shalih yang mendoakannya, dan ilmu yang bermanfaat sesudah matinya. (HR. Muslim 1631], Abu Dawud [2880], Turmudzi [1376] dan Nasa`i [3651])

BANTAHAN :

Penulis Syarh Aqidah Thahawiyah berkata:

عمله فاستدلال ساقط ، فإنه لم يقل انقطاع انتفاعه ، وإنما أخبر عن انقطاع عمله . وأما عمل غيره فهو لعامله ، [فإن] وهبه له وصل إليه ثواب عمل العامل ، لا ثواب عمله هو ، وهذا كالدين يوفيه الإنسان عن غيره ، فتبرأ ذمته ، ولكن ليس له ما وفى به الدين .

Pengambilan dalil ini tidak berguna. Karena Beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam tidak bersabda : “Terputus kesempatan dirinya mengambil manfaat.” Namun yang disabdakan adalah terputusnya amal perbuatannya. Adapun amalan orang lain, adalah untuk pelakunya. Kalau dihadiahkan kepadanya, akan sampai kepadanya pahala amalan si pelaku tersebut, bukan amalan dirinya. Ini sama dengan hutang yang dibayarkan orang lain untuk dirinya. Sehingga hilang tanggungannya. Padahal ia tidak memiliki sesuatu untuk membayar hutangnya.

3.    Klasifikasi yang membedakan antara amalan tubuh dengan amalan harta

BANTAHAN :

Penulis Syarh Aqidah Thahawiyah berkata tentang hal ini:

وأما تفريق من فرق بين العبادات المالية والبدنية – فقد شرع النبي صلى الله عليه وسلم عن الميت ، كما تقدم ، مع أن الصوم لا تجزىء فيه النيابة، وكذلك حديث جابر رضي الله عنه ، قال : صليت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عيد الاضحى ، فلما انصرف أتى بكبش فذبحه ، فقال : بسم الله والله أكبر ، اللهم هذا عني وعمن لم يضح من أمتي ، رواه أحمد و أبو داود و الترمذي ، وحديث الكبشين اللذين قال في أحدهما : اللهم هذا عن أمتي جميعاً ، وفي الآخر : اللهم هذا عن محمد وآل محمد ، رواه أحمد . والقربة في الاضحية إراقة الدم ، وقد جعلها لغيره .

Adapun klasifikasi yang dilakukan mereka yang membedakan antara amalan tubuh dengan amalan harta (jelas tidak benar). Karena Nabi telah mensyari’atkan puasa untuk orang mati terdahulu. Padahal yang namanya puasa itu tidak dapat digantikan. Begitu juga dengan hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Aku pernah shalat ‘Iedul Adh-ha bersama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Selesai shalat beliau datang membawa seekor kibas dan menyembelihnya.  Maka bersabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam : “Bismillah wallahu akbar. Ya Allah, ini untukku dan untuk ummatku yang belum pernah berkurban.(HR. Ahmad [III : 356], Abu Dawud [2810], dan At Tirmidzi [1521])

Dan hadits tentang dua kibas yang pada salah satunya beliau bersabda : “Ya Allah ini untuk ummatku seluruhnya.” Dan pada yang lainnya : “Ini untuk Muhammad dan keluarga Muhammad.[HR. Ahmad]

Dan berkurban dengan menyembelih adalah mengalirkan darah. Namun Nabi menjadikannya untuk orang lain.

وكذلك عبادة الحج بدنية ، وليس [المال] ركناً فيه ، وإنما هو وسيلة ، ألا ترى أن المكي يجب عليه الحج إذا قدر على المشي إلى عرفات ، من غير شرط المال . وهذا هو الأظهر ، أعني أن الحج غير مركب من مال وبدن ، بل بدني محض ، كما قد نص عليه جماعة من أصحاب أبي حنيفة المتأخرين . وانظر إلى فروض الكفايات : كيف قام فيها البعض عن الباقين ؟ ولأن هذا إهداء ثواب ، وليس من باب النيابة ، كما أن الأجير الخاص ليس له أن يستنيب عنه ، وله أن يعطي أجرته لمن شاء .

Begitu juga dengan ibadah haji, merupakan ibadah yang dilakukan anggota badan. Sementara harta bukanlah rukunnya. Namunn hanya merupakan sarana/ perantara (وسيلة). Bukankah orang Makkah juga wajib haji, kalau ia mampu berjalan ke Arafah tanpa ada syarat harus berharta? Inilah yang nampak. Maksudnya, bahwa haji bukanlah ibadah yang terdiri dari harta dan amalan naggota tubuh. Namun semata-mata amalan anggota tubuh. Sebagaimana ditandaskan oleh sebagian sahabat Abu Hanifah yang datang belakangan. Coba lihat ibadah-ibadah yang fardhu kifayah. Bagaimana ibadah yang dilakukan sebagian bisa mengugurkan kewajiban atas yang lain. Karena itu termasuk menghadiahkan pahala amal, bukan termasuk mewakilkan orang lain untuk beribadah. Sebagaimana seorang pekerja spesialis, yang tidak dapat digantikan orang lain, namun ia berhak untuk menghadiahkan upahnya kepada orang lain.

Wallahu a’lam

Tahlilan dan Berkumpulnya Orang di Rumah Mayyit

Tahlilan

Di antara tradisi keagamaan yang lekat dengan ummat Islam di Indonesia adalah berkumpulnya masyarakat di rumah orang yang meninggal dunia, baik sebelum mayyit dikubur ataupun setelahnya. Tradisi ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan, terutama bagi ummat Islam yang menisbatkan ajaran agamanya pada madzhab Syafi’i. Bukan hanya itu, di sebagian tempat di Indonesia, tradisi berkumpul di rumah mayyit juga diiringi dengan “pesta” di mana sang empunya rumah yang tidak lain adalah kerabat mayyit harus menyediakan hidangan dan uang yang dibagikan kepada masyarakat yang berkumpul. Bahkan saya pernah menyalatkan jenazah dan setelah selesai salam, seseorang menghampiri jama’ah dan membagikan uang kepada jama’ah.

Tradisi berkumpul di rumah mayyit asalnya bertujuan mendoakan mayyit dengan ritual yang dikenal dengan istilah “tahlilan”. Yaitu membaca dzikir dan doa-doa tertentu, memohon kebaikan dan ampunan, khususnya bagi si mayyit. Tahlilan tidak hanya dilakukan sekali. Biasanya tahlilan dilakukan 3 malam berturut-turut atau sepekan berturut-turut, setelah itu dilanjutkan dengan malam ke tujuh (jika sebelumnya tidak dilaksanakan secara sepekan berturut-turut), lalu diadakan kembali pada malam ke 40, 100, bahkan 1000, yang dihitung sejak wafatnya si mayyit.

Adapun dasar pemikiran diadakannya tradisi ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad didalam Az Zuhd dan Al Hafidzh Abu Nu’aim di dalam Al Hilyah tentang anjuran memberi makan setelah kematian;

قال الإمام أحمد بن حنبل رضي الله عنه في كتاب الزهد له حدثنا هاشم بن القاسم قال ثنا الاشجعي عن سفيان قال قال طاووس إن الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام.

قال الحافظ أبو نعيم في الحلية حدثنا أبو بكر بن مالك ثنا عبد الله بن أحمد ابن حنبل ثنا أبي ثنا هاشم بن القاسم ثنا الأشجعي عن سفيان قال قال طاووس إن الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعم عنهم تلك الأيام.

Imam Ahmad bin Hanbal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Menceritakan kepada kami Hisyam bin Al Qasim, ia berkata, menceritakan kepada kami Al Asyja’iy dari Sufyan, ia berkata : Thawus berkata, “sesungguhnya orang mati terfitnah (ditanya malaikat) di dalam kubur mereka selama 7 hari, maka mereka mengajurkan supaya memberikan makanan (yang pahala) untuk mereka pada hari-hari tersebut”.

Al Hafidhz Abu Nu’aim berkata : “Menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Malik, menceritakan kepada kami Abdulllah bin Ahmad Ibnu Hanbal, menceritakan kepada kami Hisyam bin Al Qasim, menceritakan kepada kami Al Asyja’iy dari Sufyan, ia berkata, Thawus berkata : sesungguhnya orang mati terfitnah didalam kubur mereka selama 7 hari, maka mereka menganjurkan agar bersedekah makanan yang pahalanya untuk mereka pada hari-hari tersebut.

Atas dasar inilah kemudian tradisi tahlilan dalam rangka mendoakan mayyit, memohonkan ampunan baginya, serta bersedekah (yang pahalanya ditujukan) untuk si mayyit senantiasa dilaksanakan oleh sebagian besar kalangan ummat Islam di Indonesia.

Namun demikian, apakah benar bahwa riwayat di atas bisa dijadikan landasan tentang disyari’atkannya tahlilan?

Pertama, kita tidak berselisih mengenai sampainya hadiah pahala untuk si mayyit karena hal ini sudah saya jelaskan dalam artikel Hadiah Pahala. Intinya Ahlus Sunnah bersepakat tentang sampainya pahala tersebut kepada si mayyit.

Kedua, yang perlu dicermati di sini adalah bagaimana hukumnya berkumpul di rumah mayyit dan memberikan makanan kepada para tamu yang berta’ziyah.

Telah sampai sebuah riwayat dari Jarir bin Abdullah Al Bajaliy radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :

كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة

“Kami (yakni para shahabat semuanya) memandang/menganggap (yakni menurut madzhab kami para shahabat) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah dikuburnya mayit termasuk dari bagian meratap.” (Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah [No. 1612 dan ini adalah lafadzhnya] dan Imam Ahmad di musnadnya [2/204 dan riwayat yang kedua bersama tambahannya keduanya adalah dari riwayat beliau], dari jalan Ismail bin Abi Khalid dari Qais bin Abi Hazim dari Jarir sebagaimana tersebut)

Riwayat di atas menunjukkan bolehnya makan-makan di rumah ahli mayit “sebelum dikubur”. Akan tetapi yang dimaksud ialah ingin menjelaskan kebiasaan yang terjadi mereka makan-makan di rumah ahli mayit sesudah mayit itu dikubur. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kalimat “ba’da dafnihi” yang menunjukkan batasan dari keumuman riwayat di atas. Kalimat “ba’da dafnihi” sendiri merupakan tambahan dari riwayat Al Imam Ahmad.

Meratap merupakan perbuatan yang dibenci dan diharamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan tidak ada pertentangan di kalangan Ahlus Sunnah dalam masalah ini. Jika berkumpul-kumpulnya orang di rumah mayyit disebut bagian dari meratap, maka tidak ragu lagi, perbuatan ini wajib kita tinggalkan. Pendapat ini juga diperkuat oleh perkataan para ‘ulama salaf tentang hal ini.

Berkata Al Imam Asy Syafi’i radhiyallahu ‘anhu dalam Al ‘Umm [I/248],

وأكره المأتم وهي الجماعة وإن لم يكن لهم بكاء فإن ذلك يجدد الحزن

“Aku membenci al ma`tam yaitu berkumpul (di rumah mayyit), meskipun di situ tidak ada tangisan, karena hal tersebut akan memperbaharui kesedihan.”

Al Imam An Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Al Majmu’ Syarah Muhadzdzab [5/319-320] menjelaskan :

قال صاحب الشامل وغيره وأما اصلاح اهل الميت طعاما وجمع الناس عليه فلم ينقل فيه شئ وهو بدعة غير مستحبة

“Shahibu asy Syamil” dan selainnya berkata : Adapun penyediaan hidangan makanan oleh keluarga mayit dan berkumpulnya orang banyak di situ adalah tidak ada nashnya sama sekali, dan itu adalah bid’ah, bukan sunnah.”

Penulis Al Mughniy menyatakan,

فأما صنع أهل الميت طعاما للناس فمكروه لأن فيه زيادة على مصيبتهم وشغلا لهم إلى شغلهم وتشبها بصنع أهل الجاهلية

“Maka adapun bila ahlu (keluarga) mayyit membuat makanan untuk orang, maka itu makruh, karena bisa menambah atas mushibah mereka, menambah kesibukan mereka (merepotkan) dan meniru-niru perbuatan Jahiliyah” [Al Mughniy II/215]

Dalam kitab I’anatuth Thalibin [II/165-167] panjang lebar dijelaskan permasalahan ini, di antaranya adalah sebuah pertanyaan kepada Mufti Makkah,

وقد اطلعت على سؤال رفع لمفاتي مكة المشرفة فيما يفعله أهل الميت من الطعام. وجواب منهم لذلك. (وصورتهما). ما قول المفاتي الكرام بالبلد الحرام دام نفعهم للانام مدى الايام، في العرف الخاص في بلدة لمن بها من الاشخاص أن الشخص إذا انتقل إلى دار الجزاء، وحضر معارفه وجيرانه العزاء، جرى العرف بأنهم ينتظرون الطعام، ومن غلبة الحياء على أهل الميت يتكلفون التكلف التام، ويهيئون لهم أطعمة عديدة، ويحضرونها لهم بالمشقة الشديدة. فهل لو أراد رئيس الحكام – بما له من الرفق بالرعية، والشفقة على الاهالي – بمنع هذه القضية بالكلية ليعودوا إلى التمسك بالسنة السنية، المأثورة عن خير البرية وإلى عليه ربه صلاة وسلاما، حيث قال: اصنعوا لآل جعفر طعاما يثاب على هذا المنع المذكور ؟

“Dan sungguh telah aku perhatikan mengeni pertanyaan yang ditanyakan (diangkat) kepada para Mufti Mekkah (مفاتي مكة المشرفة) tentang apa yang dilakukan oleh Ahlu (keluarga) mayyit perihal makanan (membuat makanan) dan (juga aku perhatikan) jawaban mereka atas perkara tersebut. Gambaran (penjelasan mengenai keduanya ; pertanyaan dan jawaban tersebut) yaitumengenai (bagaimana) pendapat para Mufti yang mulia (المفاتي الكرام) di negeri “al-Haram”, (semoga (Allah) mengabadikan manfaat mareka untuk seluruh manusia sepanjang masa) , tentang kebiasaan (‘urf) yang khusus di suatu negeri bahwa jika ada yang meninggal , kemudian para penta’ziyah hadir dari yang mereka kenal dan tetangganya, lalu terjadi kebiasaan bahwa mereka (penta’ziyah) itu menunggu (disajikan) makanan dan karena rasa sangat malu telah meliputi ahlu (keluarga mayyit) maka mereka membebani diri dengan beban yang sempurna (التكلف التام), dan (kemudian keluarga mayyit) menyediakan makanan yang banyak (untuk penta’ziyah) dan menghadirkannya kepada mereka dengan rasa kasihan. Maka apakah bila seorang ketua penegak hukum yang dengan kelembutannya terhadap rakyat dan rasa kasihannya kepada ahlu mayyit dengan melarang (mencegah) permasalahan tersebut secara keseluruhan agar (manusia) kembali berpegang kepada As-Sunnah yang lurus, yang berasal dari manusia yang Baik (خير البرية) dan (kembali) kepada jalan Beliau (semoga shalawat dan salam atas Beliau), saat ia bersabda, “sediakanlah makanan untuk keluarga Ja’far”, apakah pemimpin itu diberi pahala atas yang disebutkan (pelarangan itu) ?

Maka, Mufti tersebut menjawab,

نعم، ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر، ثبت الله به قواعد الدين وأيد به الاسلام والمسلمين

Iya… Apa yang dilakukan oleh manusia dari berkumpul ditempat ahlu (keluarga) mayyit dan menghidangkan makanan, itu bagian dari bid’ah munkarah, yang diberi pahala bagi yang mencegahnya dan menyuruhnya. Allah akan mengukuhkan dengannya kaidah-kaidah agama dan mendorong Islam serta ummat Islam.

Juga perkataan Asy Syaikh Al ‘Allamah Ahmad bin Hajar dalam Tuhfah Al Muhtaaj,

وما اعتيد من جعل أهل الميت طعاما ليدعوا الناس إليه، بدعة مكروهة – كإجابتهم لذلك، لما صح عن جرير رضي الله عنه. كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة

Dan kebiasaaan dari ahlu (keluarga) mayyit membuat makanan untuk mengundang (mengajak) menusia kepadanya, ini bid’ah makruhah, sebagaimana mereka memenuhi ajakan itu, sesuai dengan hadits shahih dari Jarir radhiyallahu ‘anhu, “Kami (sahabat) menganggap bahwa berkumpul ke ahlu (keluarga) mayyit dan menyediakan makanan (untuk mereka) setelah dikuburnya (mayyit) adalah bagian dari meratap (an Niyahah)”.

Juga kutipan dari kitab Hasiyatul Jamal ‘alaa Syarh al Minhaj (karangan Al ‘Allamah asy-Syekh Sulaiman Al Jamal),

ومن البدع المنكرة والمكروه فعلها: ما يفعله الناس من الوحشة والجمع والاربعين، بل كل ذلك حرام إن كان من مال محجور، أو من ميت عليه دين، أو يترتب عليه ضرر، أو نحو ذلك.

Dan di antara bid’ah munkarah dan makruh mengerjakannya yaitu apa yang dilakukan orang daripada berduka cita , berkumpul, dan 40 harian, bahkan semua itu haram jika (dibiayai) dari harta yang terlarang (haram), atau dari (harta) mayyit yang memiliki (tanggungan) hutang atau (dari harta) yang bisa menimbulkan bahaya atasnya, atau yang lain sebagainya.

وقال أيضا: ويكره الضيافة من الطعام من أهل الميت، لانه شرع في السرور، وهي بدعة. روى الامام أحمد وابن ماجه بإسناد صحيح، عن جرير بن عبد الله، قال: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام من النياحة.

Dan (juga) berkata (Penulis Radd al Muhtar): “Dan dimakruhkan penyediaan jamuan besar (الضيافة) dari Ahlu (keluarga) mayyit, karena menyajikan makanan itu disyaratkan ketika kondisi berbahagia (شرع في السرور), dan ini adalah bi’dah. Diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad dan Ibnu Majah dengan isnad yang shahih, dari Jarir bin Abdullah, berkata ; “Kami (sahabat) menganggap berkumpulnya ke (tempat) ahlu (keluarga) mayyit dan menyediakan makanan bagian dari meratap”.

وفي البزاز: ويكره اتخاذ الطعام في اليوم الاول والثالث وبعد الاسبوع، ونقل الطعام إلى القبر في المواسم 

Dan di dalam kitab Al Bazaz, “Dimakruhkan menyediakan makanan pada hari pertama, ke tiga dan setelah satu minggu dan (juga) dikatakan (termasuk) makanan (yang dibawa) ke kuburan pada musiman”.

Juga perkataan Mufti madzhab Syafi’i, Ahmad Zaini bin Dahlan,

ولا شك أن منع الناس من هذه البدعة المنكرة فيه إحياء للسنة، وإماته للبدعة، وفتح لكثير من أبواب الخير، وغلق لكثير من أبواب الشر، فإن الناس يتكلفون تكلفا كثيرا، يؤدي إلى أن يكون ذلك الصنع محرما. والله سبحانه وتعالى أعلم.

Dan tidak ada keraguan bahwa mencegah manusia dari bid’ah Munkarah ini,padanya termasuk menghidupkan as Sunnah, mematikan bid’ah, dan membuka pintu-pintu kebaikan, serta mengunci pintu-pintu keburukan. Maka jika manusia membebani (dirinya) dengan beban yang banyak, itu hanya akan mengantarkan mereka kepada perkara yang diharamkan.

Demikianlah pandangan para ‘ulama tentang berkumpul-kumpul di rumah mayyit, baik sebelum ataupun setelah mayyit itu dikuburkan. Dari sini kita dapat memahami bahwa Islam justru menolak dengan tegas segala bentuk ritual yang dapat memberatkan ummat. Bahkan (dalam hal ini) Islam menganjurkan bagi para tamu untuk menyediakan makanan bagi keluarga mayyit, menghibur mereka dari kesedihan, dan meringankan beban mereka. Bukan justru memberatkan beban mereka dan menambahkan kesulitan bagi mereka,

قال العلامة أحمد بن حجر في (تحفة المحتاج لشرح المنهاج): ويسن لجيران أهله – أي الميت – تهيئة طعام يشبعهم يومهم وليلتهم،

Al ’Allamah Ahmad bin Hajar dalam Tuhfah al Muhtaaj li Syarh al Minhaj mengatakan, “Dianjurkan bagi para tetangga keluarga mayit untuk menyiapkan makanan yang cukup untuk mengenyangkan keluarga mayit selama sehari dan semalam.

للخبر الصحيح اصنعوا لآل جعفر طعاما فقد جاءهم ما يشغلهم.

Dalilnya adalah sebuah hadits yang sahih, “Buatkan makanan untuk keluarga Ja’far karena telah datang kepada mereka duka yang menyibukkan mereka –dari menyiapkan makanan-”

Wallahu a’lam

Ikhtilaf 1 Syawal

Hingga pekan ke dua bulan Syawal ini, masih ada juga sebagian kalangan yang membesar-besarkan masalah itsbat 1 Syawal Kemenag dan MUI yang berbeda bila dibandingkan dengan mayoritas negara-negara di dunia. Apalagi, masalah penolakan terhadap para saksi yang telah bersumpah melihat hilal di sejumlah titik di Indonesia. Seolah-olah perbedaan 1 Syawal kemarin merupakan perbedaan aqidah yang satu golongan berhak untuk menyatakan dirinya benar dan yang lainnya salah.

Hilal

Bahwa permasalahan ini bermula dari perbedaan metode penentuan. Selain masalah metode, tidak ada yang perlu diperuncing lagi, karena sesungguhnya menjaga ukhuwah di antara kaum muslimin jauh lebih penting daripada menyalahkan orang-orang yang berlebaran hari Selasa, atau sebaliknya terus-terusan menyalahkan Kemenag dan MUI serta orang-orang yang berlebaran hari Rabu. Ini bukanlah sikap yang dahulu pernah dilakukan oleh para sahabat dan generasi salaf setelahnya.

Telah masyhur bagi kita kisah Ibnu Mas’ud yang menolak fatwa Khalifah Utsman terkait dengan shalat safar yang tidak di qashar. Imam Abu Dawud (1/307) meriwayatkan kisah ini sebagai berikut.

أن عثمان رضي الله عنه صلى بمنى أربعا ، فقال عبد الله بن مسعود منكرا عليه : صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم ركعتين ، و مع أبي بكر ركعتين ، و مع عمر ركعتين ، و مع عثمان صدرا من إمارته ثم أتمها ، ثم تفرقت بكم الطرق فلوددت أن لي من أربع ركعات ركعتي متقبلتين ، ثم إن ابن مسعود صلى أربعا ! فقيل له : عبت على عثمان ثم صليت أربعا ؟ ! قال : الخلاف شر . و سنده صحيح . و روى أحمد ( 5 / 155 ) نحو هذا عن أبي ذر رضي الله عنهم أجمعين

Bahwasanya Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu shalat di Mina 4 rakaat. Maka shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengingkarinya seraya berkata: “Aku dulu shalat bersama Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar dan di awal pemerintahan ‘Utsman 2 rakaat, dan setelah itu ‘Utsman shalat 4 rakaat. Kemudian terjadilah perbedaan diantara kalian, dan harapanku dari 4 rakaat shalat itu yang diterima adalah yang 2 rakaat darinya.”

Namun ketika di Mina, shahabat Abdullah bin Mas’ud justru shalat 4 rakaat. Maka dikatakanlah kepada beliau: “Engkau telah mengingkari ‘Utsman atas shalatnya yang 4 rakaat, kemudian engkau shalat 4 rakaat pula?!” Abdullah bin Mas’ud berkata: “Perselisihan itu jelek.” Sanadnya shahih. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Ahmad (5/155) seperti riwayat di atas dari shahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

Begitu pula dengan kisah Al Imam Ahmad ibn Hanbal yang pada saat shalat shubuh di belakang Al Imam Syafi’i ikut mengangkat tangan dan mengaminkan qunut Al Imam Asy Syafi’i. Bahkan dengan tegas beliau berfatwa tentang tata cara shalat di belakang orang yang melakukan qunut shubuh, “Angkatlah tanganmu dan aminkan qunutnya.” Masya Allah… Indah sekali sikap yang ditunjukkan oleh Al Imam Ahmad. Padahal beliau termasuk orang yang menolak syari’at qunut shubuh berdasarkan fatwa pribadinya.

Pun dalam masalah perbedaan hari raya ‘idul fithri. Pada masa sahabat juga sempat terjadi perbedaan, sebagaimana yang diceritakan oleh Al Imam Ash Shan’ani dalam Subulus Salam (II/63).

وأن المنفرد بمعرفة يوم العيد بالرؤية يجب عليه موافقة غيره ويلزمه حكمهم في الصلاة والإفطار والأضحية. وقد أخرج الترمذي مثل هذا الحديث عن أبي هريرة وقال: حديث حسن. وفي معناه حديث ابن عباس وقد قال له كريب: إنه صام أهل الشام ومعاوية برؤية الهلال يوم الجمعة بالشام وقدم المدينة آخر الشهر وأخبر ابن عباس بذلك فقال ابن عباس: لكنا رأيناه ليلة السبت فلا نزال نصوم حتى نكمل ثلاثين أو نراه قال: قلت: أولا تكتفي برؤية معاوية والناس؟ قال: لا هكذا أمرنا رسول الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم

 Dan bahwasanya seorang yang menyendiri dalam mengetahui masuknya hari raya dengan melihat hilal tetap wajib mengikuti kebanyakan manusia. Hukum ini harus dia ikuti, apakah dalam waktu shalat, ber’idul Fithri atau pun berkurban (Idul Adha). At Tirmidzi telah meriwayatkan yang serupa dengan ini dari Abu Hurayrah, dan dia berkata: hadits hasan. Dan semakna dengan ini adalah hadits Ibnu ‘Abbas, ketika Kuraib berkata kepadanya, bahwa penduduk Syam dan Mu’awiyah berpuasa berdasarkan melihat hilal pada hari Jumat di Syam. Beliau dating ke Madinah pada akhir bulan dan mengabarkan kepada Ibnu ‘Abbas hal itu, maka Ibnu Abbas berkata kepadanya: “Tetapi kami melihatnya (hilal) pada  sabtu malam, maka kami tidak berpuasa sampai sempurna tiga puluh hari atau kami melihatnya.” Aku berkata: “Tidakkah cukup ru’yahnya Mu’awiyah dan Manusia?” Ibnu Abbas menjawab: “Tidak, inilah yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam kepada kami.”

Jelaslah kepada kita bahwa permasalahan penetapan 1 Syawal telah mengalami perbedaan pendapat sejak masa sahabat. Begitu pun dengan penolakan kesaksian ru’yatul hilal. Maka, Ibnu ‘Abbas pernah melakukannya dengan menolak kesaksian Mu’awiyah dan penduduk Syam dengan alasan bahwa hilal belum terlihat di Madinah. Hanya saja perlu dipertanyakan kepada Kemenag dan MUI tentang penolakan saksi tersebut, apakah dikarenakan mengikuti Ibnu ‘Abbas dalam riwayat di atas atau memiliki motif lain. Wallahu a’lam

Namun demikian, sikap yang terbaik adalah mengikuti pendapat mayoritas karena ibadah shaum dan ‘idul fithri adalah ibadah jama’i, sebagaimana penjelasan Al Imam Ash Shan’ani di atas. Hal ini juga dikuatkan oleh Imam Abul Hasan As Sindi menyebutkan dalam  Hasyiah As Sindi ‘Ala Ibni Majah:

وَالظَّاهِر أَنَّ مَعْنَاهُ أَنَّ هَذِهِ الْأُمُور لَيْسَ لِلْآحَادِ فِيهَا دَخْل وَلَيْسَ لَهُمْ التَّفَرُّد فِيهَا بَلْ الْأَمْر فِيهَا إِلَى الْإِمَام وَالْجَمَاعَة وَيَجِب عَلَى الْآحَاد اِتِّبَاعهمْ لِلْإِمَامِ وَالْجَمَاعَة وَعَلَى هَذَا فَإِذَا رَأَى أَحَد الْهِلَال وَرَدَّ الْإِمَام شَهَادَته يَنْبَغِي أَنْ لَا يَثْبُت فِي حَقّه شَيْء مِنْ هَذِهِ الْأُمُور وَيَجِب عَلَيْهِ أَنْ يَتْبَع الْجَمَاعَة فِي ذَلِكَ

“Jelasnya, makna hadits ini adalah bahwasanya perkara-perkara semacam ini (menentukan awal Ramadhan, Idul Fithri dan Idul Adha, pen) keputusannya bukanlah di tangan individu. Tidak ada hak bagi mereka untuk melakukannya sendiri-sendiri. Bahkan permasalahan semacam ini dikembalikan kepada penguasa dan mayoritas umat Islam. Dalam hal ini, setiap individu pun wajib untuk mengikuti penguasa dan mayoritas umat Islam. Maka jika ada seseorang yang melihat hilal namun penguasa menolak persaksiannya, sudah sepatutnya untuk tidak dianggap persaksian tersebut dan wajib baginya untuk mengikuti mayoritas umat Islam dalam permasalahan itu.” (Hasyiah As Sindi ‘Ala Ibni Majah, 3/431)

Kita sama-sama mengakui bahwa penguasa hari ini bukanlah Amiirul Mu`miniin, bukanlah penguasa yang menjaga hukum-hukum Allah di atas muka bumi, namun ijma’ jama’ah hari ini telah diwakilkan kepada (dalam hal ini) sidang itsbat dengan mengirimkan perwakilan dari setiap ormas Islam dalam persidangan tersebut. Maka sudah selayaknya putusan yang diambil dalam sidang tersebut, selama memenuhi syarat-syarat yang disyari’atkan dan tidak menyimpang dari sunnah, harus diterima dengan lapang dada.

Sayangnya memang harus kita akui bahwa seringkali persidangan itsbat tidak dilakukan dengan jujur dan adil sesuai sunnah sehingga walaupun hasil akhirnya benar, hal tersebut diambil dari metode yang tidak tepat. Dan memang hal inilah yang menjadi akar penyebabnya, yakni perbedaan metode penentuan. Sebagian kalangan masih ada yang bersikukuh menggunakan metode hisab dengan alasan mempermudah urusan dalam diin. Sedangkan sebagian yang lain masih menggunakan metode sebagaimana Rasulullah melakukannya yakni ru’yatul hilal (melihat hilal). Namun, hal tersebut dipersulit kembali dengan adanya batasan derajat dalam metode hisab, ada yang menentukan titik minimal (dengan asumsi bahwa jika kurang dari titik tersebut hilal tidak terlihat sehingga tidak masuk hitungan), sedangkan yang lain tidak mensyaratkan hal tersebut atau lebih dikenal dengan metode wujudul hilal.

Begitupun dengan kalangan yang menggunakan metode ru’yatul hilal, masih ada hal-hal yang membuat metode ini juga tampak bermasalah dengan pertanyaan-pertanyaan seperti : “apakah melihatnya harus dengan mata telanjang atau boleh menggunakan alat”. Padahal dalam riwayat-riwayat yang shahih tidak ada satupun yang menjelaskan tentang dilarangnya penggunaan alat dalam ru’yatul hilal, sebagaimana tidak adanya larangan penggunaan mikrofon dalam adzan.

Jika kita cermati, permasalahan ini sangat sederhana jika ummat mau bersatu menghilangkan egonya masing-masing. Kembali kepada as sunnah an nabawiyah asy syariifah dan bertoleransi terhadap perbedaan pendapat yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Sekali lagi saya tegaskan, inti dari tulisan ini bukanlah dalam rangka mengatakan bahwa pendapat yang satu adalah benar sedangkan yang lainnya salah. Adalah bagaimana kita harus legowo menerima perbedaan pendapat di kalangan ummat dan mencari jalan terbaik di tengah perselisihan tersebut sehingga ummat tidak terpecah. Karena menjaga ukhuwah Islamiyah jauh lebih penting daripada memegang teguh suatu pendapat dan menyalahkan pendapat yang lain yang pada akhirnya akan memecah belah ummat Islam. Padahal permasalahan ini bukanlah permasalahan yang dapat membahayakan iman.

Sungguh indah pernyataan Asy Syaikh Hasan Al Banna dalam Risalah Ta’alim tentang hal ini,

والخلاف الفقهي في الفروع لا يكون سببا للتفرق في الدين، ولا يؤدي إلى خصومة ولا بغضاء ولكل مجتهد أجره، ولا مانع من التحقيق العلمي النزيه في مسائل الخلاف في ظل الحب في الله والتعاون على الوصول إلى الحقيقة، من غير أن يجر ذلك إلى المراء المذموم والتعصب

Khilaf (perbedaan pendapat) fiqih pada hal furu’ (cabang) hendaknya tidak men­jadi faktor pemecah belah dalam agama, tidak menyebabkan permusuhan dan tidak juga kebencian. Setiap mujtahid mendapatkan pahalanya. Sementara itu, tidak ada larangan melakukan studi ilmiah yang jujur terhadap persoalan khilafiyah dalam naungan kasih sayang dan saling membantu karena Allah untuk menuju kepada kebenaran. Semua itu dengan tanpa melahirkan sikap egois dan ta’ashub (fanatik).

Wallahu a’lam