Syirik Ketaatan (Tafsir QS. At Tawbah ayat 31)

اتخذوا أحبارهم و رُهبانهم أربابا من دون الله

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah ‘’ (QS. At Tawbah, 9 : 31)

Pada ayat ini Allah memvonis orang Nashara dengan lima vonis :

  1. Orang-orang Nashara tersebut telah mempertuhankan para alim ulama dan pendeta mereka
  2. Mereka telah beribadah kepada selain Allah
  3. Mereka telah melanggar Laa ilaaha illallaah
  4. Mereka musyrik
  5. Alim ulama dan pendeta mereka telah memposisikan dirinya sebagai Arbab

Ketika ayat ini dibacakan di hadapan shahabat ‘Adiy Ibnu Hatim (asalnya beliau ini Nashrani), sedang beliau datang kepada Rasul dalam keadaan masih Nashrani. Ketika mendengar ayat ini dengan vonis-vonis di atas, maka ‘Adiy Ibnu Hatim mengatakan : Kami (maksudnya : dia dan orang-orang Nashrani) tidak pernah shalat, sujud kepada alim ulama kami, atau kepada pendeta kami, lalu kenapa Allah memvonis kami musyrik.

Jadi yang ada dalam benak ‘Adiy Ibnu Hatim bahwa yang namanya ibadah itu adalah shalat, sujud atau berdoa. Sehingga mereka tidak mengetahui bahwa yang mereka lakukan selama ini adalah ibadah kepada selain Allah yang merupakan kemusyrikan, mereka heran.

Sebenarnya, apa kemusyrikan yang dilakukan dan bagaimana bentuknya sehingga kami disebut telah mentuhankan alim ulama ? Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Bukankah alim ulama dan pendeta kalian itu menghalalkan apa yang telah Allah haramkan lalu kalian ikut-ikutan menghalalkannya ? bukankan mereka mengharamkan apa yang telah Allah halalkan kemudian kalian juga mengharamkannya ?”, lalu ‘Adiy berkata : “Ya !”, maka Rasul berkata : “Itulah bentuk peribadatan mereka”.

Jadi, ketika ada manusia, baik itu ‘ulama, masyaikh, atau siapapun ia, yang memposisikan dirinya sebagai pembuat hukum dan mengklaim memiliki kewenangan untuk membuat hukum, undang-undang, atau syari’at, maka dia mengklaim bahwa dirinya sebagai Rabb. Adapun orang yang mengikuti, menaati, atau menjalankan hukum-hukum buatan mereka itu pada hakikatnya sedang beribadah kepada si pembuat hukum dan dapat terjerumus ke dalam kemusyrikan.

Syaikh Al Islam Ibnu Taymiyyah –Rahimahullah– berkata tentang ayat ini:

“Orang-orang yang mengikuti ahbar dan ruhban (seperti dalam surat At Tawbah: 31) dengan menaati mereka dalam menghalalkan apa-apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa-apa yang dihalalkan-Nya, maka mereka terbagi menjadi dua golongan: Pertama; orang-orang yang mengetahui bahwa mereka (ahbar dan ruhban) telah mengubah agama Allah, namun mereka tetap mengikutinya, serta menerima penghalalan apa-apa yang diharamkan-Nya dan pengharaman apa-apa yang dihalalkan-Nya karena mengikuti mereka, maka orang seperti ini adalah orang-orang kafir.

Kedua; orang-orang yang meyakini dan beriman bahwa pengharaman yang halal dan penghalalan yang haram haruslah berlandaskan kepada syari’at Allah, namun mereka tetap mentaati para ahbar dan ruhban dalam bermaksiat kepada-Nya, maka perbuatan mereka sama halnya dengan seorang muslim yang melakukan perbuatan dosa dan dia menganggap bahwa perbuatannya adalah maksiat, maka status mereka sama dengan status para pelaku maksiat tersebut, yaitu tidak kafir.” [Kitab Al-Iman (al-Maktab al-Islamiy, 1392 H), hal. 67 dan Majmu’ al-Fatawa (Riyadh: Mathabi’ ar-Riyadh, 1381 H), 7/70]

Asy Syaikh Muhammad Jamil Jainu pengajar di Darul Hadits Makkah Al Mukarramah dalam Kitabnya Minhaj Firqatun Najiyah berkata:

أنواع الشرك الأكبر : شرك الطاعة: و هو طاعة العلماء و المشايخ في المعصية مع اعتقادهم جواز ذلك لقوله تعالى : “اتخذوا أحبارهم و رُهبانهم أربابا من دون الله” (سورة التوبة) و قد فسرت العبادة بطاعتهم في المعصية بتحليل ما حرّم الله و تحريم ما أحل الله . قال صلى الله عليه و سلم :”لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق” (صحيح رواه أحمد)

Macam-macam syirik besar : Syirik ketaatan : yaitu menaati ‘ulama dan Masyaikh dalam hal kemaksiatan dengan meyakini bahwa hal tersebut diperbolehkan. Allah Ta’ala berfirman : “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah ‘’ QS. At  Tawbah, 9 : 31), dan sungguh ketaatan kepada mereka dalam kemaksiatan ditafsirkan sebagai bentuk ibadah kepada mereka. Dengan mengharamkan apa yang telah Allah halalkan dan menghalalkan apa yang Allah haramkan. Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam: “Tidak ada keta’atan kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Al-Khaliq (Allah) ‘’ (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ahmad).

Di halaman lain beliau berkata :

من مظاهر الشرك …….طاعة الحكام أو العلماء أو المشايخ في أمر يخالف نص القرآن أو صحيح السنة

Merebaknya kesyirikan ….. (pada contoh kesyirikan no. 9) : ‘’Taat kepada ketetapan para penguasa, ‘ulama atau syaikh yang bertentangan dengan nash-nash Al-Qur’an dan hadits shahih‘’

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: