Demokratisnya Itsbat 1 Syawwal

Republika. Pemerintah Indonesia melalui Menteri Agama Suryadharma Ali memutuskan 1 Syawal 1432 H jatuh pada hari Rabu (31/8). Hal ini berdasarkan hasil hisab dan ru’yat yang melibatkan Kementerian Agama, ormas-ormas Islam, instansi terkait dan tokoh-tokoh masyarakat yang melakukan pemantauan hilal.

Sidang Itsbat 1 Syawal 1432

Saya termasuk orang yang menyaksikan sidang ini malam tadi di salah satu stasiun televeisi. Sidang itsbat kali ini cukup menarik karena peserta dari kalangan ormas Islam memiliki pernyataan yang berbeda-beda atas realita yang terjadi di lapangan. Namun sayangnya pendapat tersebut lebih dikarenakan mengedepankan golongannya.

Sebelumnya, NU dan Persis telah menetapkan bahwa 1 Syawal 1432 jatuh pada hari Rabu, 31 Agustus 2011 berdasarkan hisab (perhitungan) bahwa hilal baru dapat dilihat pada hari Selasa sore tanggal 30 Agustus 2011, dengan prakiraan ketinggian hilal sudah lebih dari 2 derajat. Adapun Muhammadiyah menyatakan bahwa 1 Syawal 1432 jatuh pada hari Selasa tanggal 30 Agustus 2011 dengan perhitungan bahwa pada hari senin sore hilal sudah muncul walaupun kemungkinan besar belum dapat dilihat, karena ketinggian hilal baru mencapai 1,3 derajat. Artinya, pada hari Selasa sudah memasuki bulan baru dalam perhitungan kalender hijriyyah.

Dari 96 titik resmi Kemennag yang telah ditentukan untuk melihat hilal, tidak ada satupun yang tampak. Namun, ternyata terjadi hal yang di luar perkiraan, yaitu tampaknya hilal di dua titik (bukan resmi dari Kemennag); Cakung, Jakarta Timur, dan Jepara, Jawa Tengah. Bahkan, saksi yang melihat hilal tersebut telah bersumpah atas kesaksiannya. Hal ini tentu mengejutkan beberapa pihak. Berdasarkan hitungan astronomi, hilal seharusnya tidak tampak karena baru mencapai ketinggian 1,3 derajat saja. Sedangkan hilal biasanya akan tampak saat telah mencapai tinggi di atas 2 derajat.

Kejanggalan –atau lebih tepatnya perbedaan- antara perhituangan (hisab) dan realita di lapangan membuat sejumlah ormas tidak meyakini atau menolak kesaksian Cakung dan Jepara. Terutama ormas NU yang dengan tegas menolak kesaksian tersebut dan meminta Kemennag segera menetapkan bahwa 1 Syawal jatuh pada hari Rabu tanggal 31 Agustus 2011. Adapun Muhammadiyah semakin yakin bahwa 1 Syawal jatuh pada hari Selasa tanggal 30 Agustus 2011. Sayangnya, permintaan Muhammadiyah untuk mendatangkan para saksi ke ruangan sidang tidak terealisasi sehingga akhirnya Muhammadiyah “meminta izin” kepada Kemennag untuk melaksanakan Hari Raya ‘Idul Fithri lebih cepat satu hari dari apa yang ditetapkan pemerintah, melalui Kemennag NKRI dan MUI.

Saya cukup heran menyaksikan sidang itsbat ini. Karena seharusnya saksi yang telah bersumpah harus diambil atau diterima kesaksiannya, adapun perhitungannya di hadapan Allah. Jika kesaksian yang sudah disumpah atas nama Allah saja ditolak, maka dengan apa lagi manusia bersaksi di hadapan pengadilan..?

Kejanggalan ini terus mengganjal di hati. Apalagi ternyata Kemennag akhirnya memutuskan penetapan 1 Syawal dengan sangat demokratis sekali, yaitu meminta pendapat dan melihat suara terbanyak, dalam hal ini menolak kesaksian Cakung dan Jepara dengan alasan bertentangan dengan mayoritas hisab. Inilah sebagai satu bukti bahwa ternyata demokrasi bisa mengalahkan syari’at. Bukankah hisab adalah perkiraan dan ru’yat adalah kenyataan..?

Dari sudut pandang syari’at jelas, langkah Kemennag ini merupakan sebuah ijtihad yang keliru. Sedangkan dari sudut pandang demokrasi jelas putusan ini adalah putusan yang sangat demokratis karena berpihak pada suara mayoritas dan tetap mengharga perbedaan pendapat.

‘Alaa kulli haalin, Syaikh Hasan Al Banna -rahiimahuLlah- berkata : Ikhtilaaf dalam masalah furu’ janganlah dijadikan sebab pertikaian dalam Agama.

‘Ied al Mubaarak, berbahagialah bagi yang hari ini telah merayakan ‘Ied al Fithri…

Dan sempurnakan shaum dengan sebaik-baiknya bagi yang menunda Hari Raya penuh barakah ini sampai esok hari… 🙂

تقبل الله منا ومنكم, كل عام وأنتم بخير

Syirik Ketaatan (Tafsir QS. At Tawbah ayat 31)

اتخذوا أحبارهم و رُهبانهم أربابا من دون الله

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah ‘’ (QS. At Tawbah, 9 : 31)

Pada ayat ini Allah memvonis orang Nashara dengan lima vonis :

  1. Orang-orang Nashara tersebut telah mempertuhankan para alim ulama dan pendeta mereka
  2. Mereka telah beribadah kepada selain Allah
  3. Mereka telah melanggar Laa ilaaha illallaah
  4. Mereka musyrik
  5. Alim ulama dan pendeta mereka telah memposisikan dirinya sebagai Arbab

Ketika ayat ini dibacakan di hadapan shahabat ‘Adiy Ibnu Hatim (asalnya beliau ini Nashrani), sedang beliau datang kepada Rasul dalam keadaan masih Nashrani. Ketika mendengar ayat ini dengan vonis-vonis di atas, maka ‘Adiy Ibnu Hatim mengatakan : Kami (maksudnya : dia dan orang-orang Nashrani) tidak pernah shalat, sujud kepada alim ulama kami, atau kepada pendeta kami, lalu kenapa Allah memvonis kami musyrik.

Jadi yang ada dalam benak ‘Adiy Ibnu Hatim bahwa yang namanya ibadah itu adalah shalat, sujud atau berdoa. Sehingga mereka tidak mengetahui bahwa yang mereka lakukan selama ini adalah ibadah kepada selain Allah yang merupakan kemusyrikan, mereka heran.

Sebenarnya, apa kemusyrikan yang dilakukan dan bagaimana bentuknya sehingga kami disebut telah mentuhankan alim ulama ? Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Bukankah alim ulama dan pendeta kalian itu menghalalkan apa yang telah Allah haramkan lalu kalian ikut-ikutan menghalalkannya ? bukankan mereka mengharamkan apa yang telah Allah halalkan kemudian kalian juga mengharamkannya ?”, lalu ‘Adiy berkata : “Ya !”, maka Rasul berkata : “Itulah bentuk peribadatan mereka”.

Jadi, ketika ada manusia, baik itu ‘ulama, masyaikh, atau siapapun ia, yang memposisikan dirinya sebagai pembuat hukum dan mengklaim memiliki kewenangan untuk membuat hukum, undang-undang, atau syari’at, maka dia mengklaim bahwa dirinya sebagai Rabb. Adapun orang yang mengikuti, menaati, atau menjalankan hukum-hukum buatan mereka itu pada hakikatnya sedang beribadah kepada si pembuat hukum dan dapat terjerumus ke dalam kemusyrikan.

Syaikh Al Islam Ibnu Taymiyyah –Rahimahullah– berkata tentang ayat ini:

“Orang-orang yang mengikuti ahbar dan ruhban (seperti dalam surat At Tawbah: 31) dengan menaati mereka dalam menghalalkan apa-apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa-apa yang dihalalkan-Nya, maka mereka terbagi menjadi dua golongan: Pertama; orang-orang yang mengetahui bahwa mereka (ahbar dan ruhban) telah mengubah agama Allah, namun mereka tetap mengikutinya, serta menerima penghalalan apa-apa yang diharamkan-Nya dan pengharaman apa-apa yang dihalalkan-Nya karena mengikuti mereka, maka orang seperti ini adalah orang-orang kafir.

Kedua; orang-orang yang meyakini dan beriman bahwa pengharaman yang halal dan penghalalan yang haram haruslah berlandaskan kepada syari’at Allah, namun mereka tetap mentaati para ahbar dan ruhban dalam bermaksiat kepada-Nya, maka perbuatan mereka sama halnya dengan seorang muslim yang melakukan perbuatan dosa dan dia menganggap bahwa perbuatannya adalah maksiat, maka status mereka sama dengan status para pelaku maksiat tersebut, yaitu tidak kafir.” [Kitab Al-Iman (al-Maktab al-Islamiy, 1392 H), hal. 67 dan Majmu’ al-Fatawa (Riyadh: Mathabi’ ar-Riyadh, 1381 H), 7/70]

Asy Syaikh Muhammad Jamil Jainu pengajar di Darul Hadits Makkah Al Mukarramah dalam Kitabnya Minhaj Firqatun Najiyah berkata:

أنواع الشرك الأكبر : شرك الطاعة: و هو طاعة العلماء و المشايخ في المعصية مع اعتقادهم جواز ذلك لقوله تعالى : “اتخذوا أحبارهم و رُهبانهم أربابا من دون الله” (سورة التوبة) و قد فسرت العبادة بطاعتهم في المعصية بتحليل ما حرّم الله و تحريم ما أحل الله . قال صلى الله عليه و سلم :”لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق” (صحيح رواه أحمد)

Macam-macam syirik besar : Syirik ketaatan : yaitu menaati ‘ulama dan Masyaikh dalam hal kemaksiatan dengan meyakini bahwa hal tersebut diperbolehkan. Allah Ta’ala berfirman : “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah ‘’ QS. At  Tawbah, 9 : 31), dan sungguh ketaatan kepada mereka dalam kemaksiatan ditafsirkan sebagai bentuk ibadah kepada mereka. Dengan mengharamkan apa yang telah Allah halalkan dan menghalalkan apa yang Allah haramkan. Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam: “Tidak ada keta’atan kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Al-Khaliq (Allah) ‘’ (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ahmad).

Di halaman lain beliau berkata :

من مظاهر الشرك …….طاعة الحكام أو العلماء أو المشايخ في أمر يخالف نص القرآن أو صحيح السنة

Merebaknya kesyirikan ….. (pada contoh kesyirikan no. 9) : ‘’Taat kepada ketetapan para penguasa, ‘ulama atau syaikh yang bertentangan dengan nash-nash Al-Qur’an dan hadits shahih‘’

Wallahu a’lam

Hukum Tahlilan

Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) memutuskan bahwa selamatan kematian setelah hari wafat, hari ketiga, ketujuh dll adalah : MAKRUH, RATAPAN TERLARANG, BID’AH TERCELA (BID’AH MADZMUMAH), OCEHAN ORANG-ORANG BODOH.
 Berikut apa yang tertulis pada keputusan itu :

Tahlilan

MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926
TENTANG
KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

TANYA :

Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

JAWAB :

Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.

KETERANGAN :

Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:

“MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN (YANG DILARANG).”

Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :

“Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan TENTANG YANG DILAKUKAN PADA HARI KETIGA KEMATIAN DALAM BENTUK PENYEDIAAN MAKANAN UNTUK PARA FAKIR DAN YANG LAIN, DAN DEMIKIAN HALNYA YANG DILAKUKAN PADA HARI KETUJUH, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.

Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuaan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak?

Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”

Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).

Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN” ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam terhadap seseorang yang batal (karena hadats) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.

Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).

SELESAI , KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926

REFERENSI :

 Lihat : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman 15-17), Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.

 Masalah Keagamaan Jilid 1 – Hasil Muktamar dan Munas Ulama Nahdlatul Ulama Kesatu/1926 s/d/ Ketigapuluh/2000, KH. A.Aziz Masyhuri, Penerbit PPRMI dan Qultum Media.

Tafsir “Ahsanu ‘Amala” (QS. Al Mulk ayat 2)

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya” (QS. Al Mulk, 67: 2)

Abu Nu’aim rahimahullahu dalam Hilyatul Auliya (8/95) berkata:

حدثنا أبي ثنا محمد بن أحمد بن يزيد ومحمد بن جعفر قالا ثنا إسماعيل ابن يزيد ثنا إبراهيم بن الأشعث قال سمعت الفضيل بن عياض يقول في قوله لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً قال أخلصه وأصوبه فانه إذا كان خالصا ولم يكن صوابا لم يقبل وإذا كان صوابا ولم يكن خالصا لم يقبل حتى يكون خالصا والخالص إذا كان لله والصواب إذا كان على السنة

Menceritakan kepada kami Bapakku, menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Yazid dan Muhammad bi Ja’far berkata keduanya, menceritakan kepada kami Ismail bin Yazid, menceritakan kepada kami Ibrohim bin Al-’Asy’ats, beliau berkata aku mendengar Al-Fudhail bin ’Iyadh berkata tentang firman Allah: ”Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya”, beliau berkata: ‘Maksudnya, dia ikhlas dan benar dalam melakukannya. Sebab amal yang dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar maka tidak akan diterima. Dan jika dia benar, tetapi tidak ikhlas maka amalnya juga tidak diterima. Adapun amal yang ikhlas adalah amal yang dilakukan karena Allah, sedang amal yang benar adalah bila dia sesuai dengan Sunnah Rasulullah”.

Atsar ini dikutip pula oleh Al-Lalikai dalam Syarah Ushul Itiqad (3/407), Al-Baghawi dalam Tafsir (5/125-124), Ibn Rajab dalam Jami Al-Ulum wal Hikam (3/20 –Tahqiq Dr. Mahir), dan lainnya. Lihat pula perkataan Ibn Katsir semisal ini dalam Tafsirnya (I/231).

Sumber : KEMBANGSUNDA

Ciri Anak Sholeh

Adik-adik mau tahu ciri anak yang sholeh & sholehah? Kalau mau, mari simak 10 nashihat berikut ini semoga kalian semua menjadi orang-orang yang beruntung.

Anak Sholeh Rajin Ngaji

Ciri-ciri anak yang sholeh & sholehah:

1. Cinta kepada Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun dan tidak beribadah kepada selainNya seperti beribadah, berdoa, atau meminta pertolongan kepada Sapi, Kerbau, Matahari, Nyi Roro Kidul, Dewa-Dewi, Batu, Pohon-pohon besar, Kuburan orang sholeh, patung dan lain sebagainya.

2. Cinta kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam dan meyakininya sebagai Nabi utusan Allah. Mematuhi perintahnya dan menjauhi apa yang dilarangnya, serta percaya dengan risalah yang dibawanya yaitu hadits atau As-Sunnah.

3. Cinta kepada Al-Qur’an, yaitu dengan selalu membacanya, senantiasa berusaha menghafalnya karena orang yang menjaganya akan mendapatkan syafa’at atau pertolongan kelak di hari kiamat di akhirat. Dan tidak lupa untuk mengamalkan isnya dan menjalankan hukum-hukumnya.

4. Cinta kepada shahabat-shahabat Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam yang turut membela dan memperjuangkan Islam disisi Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dengan tidak membenci mereka ataupun mencaci mereka. Di antara sahabat-sahabat Rasul yang utama adalah Abu Bakar Ash Shiddiq, ‘Umar bin Al Khattab, ‘Utsman bin ‘Affan, dan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

5. Cinta kepada Keluarga Rasulullah yang turut berjuang bersama Rasulullah menyebarkan Islam ke seluruh negeri dan cinta kepada orang-orang yang selalu mengikuti jalan atau sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.

6. Cinta Sholat lima waktu dengan tidak sekalipun meninggalkannya serta mengerjakan sholat-sholat sunnah, bagi anak laki-laki berjama’ah di Masjid dan anak perempuan sholat di rumah mereka tepat pada waktunya.

7. Cinta masjid, karena masjid adalah rumah Allah dengan tidak membuat keributan atau bermain berlebihan di dalamnya serta tidak bercanda atau tertawa ketika sholat karena menghargai rumah Allah.

8. Cinta kepada kedua orang tua, dengan mematuhi perintahnya, tidak menyakiti hati mereka, selalu berbuat baik kepada mereka, berusaha menyenangkan hati orang tua dan tidak menyusahkan atau membandel terhadap keduanya.

9. Cinta kepada saudara, adik-kakak, kakek-nenek, paman-bibi, tetangga dan seluruh kaum muslimin di seluruh dunia.

10. Cinta dan sayang kepada fakir miskin, anak terlantar, anak yatim, dengan memberikan bantuan sesuai dengan keperluan mereka dan perduli serta tidak mencemooh atau mengolok-olok mereka sebab mereka adalah juga hamba Allah.

Semoga adik-adik bisa menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah yang senantiasa mendoakan kedua orangtuanya dan berbuat baik selalu… Aamiin…

Sumber : MENTARIINDONESIA dengan sedikit perubahan.

Tauhid, Menggugurkan Dosa-Dosa

Tauhid memiliki kedudukan yang sangat agung dan utama di dalam agama Islam, karena sesungguhnya tauhid merupakan inti ajaran Islam ini.

Imam Ibnu Abil ‘Izzi Al-Hanafirahimahullah– berkata, “Ketahuilah, bahwa tauhid merupakan awal da’wah seluruh para rasul, awal tempat singgah perjalanan, dan awal tempat berdiri seorang hamba yang berjalan menuju Allah.” (Minhatul Ilahiyah Fi Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal. 45).

Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyahrahimahullah– berkata, “Sesungguhnya Allah ‘Azza Wa Jalla telah mengutus para Rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya, menciptakan langit-langit dan bumi, agar Dia dikenal, diibadahi, ditauhidkan, dan agar agama itu semuanya bagi Allah, semua ketaatan untuk-Nya, dan dakwah hanya untuk-Nya.”

Kemudian beliau menyebutkan beberapa ayat Al-Qur’an (Adz-Dzariyat: 56; Ath-Thalaq: 12; Al-Maidah: 97), lalu berkata, “Allah memberitakan bahwa tujuan penciptaan dan perintah adalah agar dikenal nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, hanya Dia yang diibadahi, tidak disekutukan.”  (Ad-Da’ wad Dawa’, hal:196, tahqiq Syeikh Ali bin Hasan, penerbit: Dar Ibnil Jauzi).

Oleh karena itulah, tidak mengherankan bahwa tauhid memiliki banyak sekali keutamaan. Di antara keutamaannya adalah bahwa tauhid menggugurkan dosa-dosa. Inilah di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut:

1- Dosa sepenuh bumi gugur dengan tauhid.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَأَزِيدُ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَجَزَاؤُهُ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا أَوْ أَغْفِرُ وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ ذِرَاعًا وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَمَنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً وَمَنْ لَقِيَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطِيئَةً لَا يُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَقِيتُهُ بِمِثْلِهَا مَغْفِرَةً

Dari Abu Dzarr, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman, ‘Barangsiapa membawa satu kebaikan, maka dia mendapatkan balasan sepuluh kalinya, dan Aku akan menambahi. Barangsiapa membawa satu keburukan, maka balasannya satu keburukan semisalnya, atau Aku akan mengampuni. Barangsiapa mendekat kepada-Ku sejengkal, niscaya Aku mendekatinya sehasta. Barangsiapa mendekat kepada-Ku sehasta, niscaya Aku mendekatinya sedepa. Barangsiapa mendatangi-Ku dengan berjalan, niscaya Aku mendatanginya dengan berjalan cepat. Barangsiapa menemui-Ku dengan dosa sepenuh bumi, dia tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Ku, niscaya Aku menemuinya dengan ampunan seperti itu.’” (Hadits shahih riwayat Muslim no. 2687; Ibnu Majah, no. 3821; Ahmad, no. 20853).

Dalam hadits lain diriwayatkan,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

Dari Anas bin Malik , dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam, sesungguhnya selama engkau berdoa kepada-Ku dan mengharap kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni untukmu dosa yang ada padamu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai awan di langit, kemudian engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menghadap-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian menemui-Ku, engkau tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Ku, niscaya Aku menemuimu dengan ampunan seperti itu.” (Hadits shahih riwayat Tirmidzi, no. 3540. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Hadits ini memuat tiga sebab untuk meraih ampunan Allah, yaitu: berdoa disertai dengan harapan, istighfar (mohon ampun), dan tauhid. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali –rahimahullah– berkata, “Sebab ke tiga di antara sebab-sebab ampunan adalah tauhid. Ini adalah sebab yang terbesar. Barangsiapa kehilangan tauhid, maka dia telah kehilangan ampunan dari Allah. Dan barangsiapa menghadap Allah dengan membawa tauhid, maka dia telah membawa sebab ampunan yang paling besar. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

Sesungguhnya, Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (Q.S. An-Nisa’/4: 48, 116).

Maka, barangsiapa menghadap Allah dengan bertauhid, walau dengan membawa dosa sepenuh bumi, maka Allah akan menemuinya dengan ampunan sepenuh bumi juga. Tetapi ini bersama dengan kehendak Allah ‘Azza wa Jalla. Jika Dia menghendaki, Dia akan mengampuninya; Namun, jika Dia menghendaki, Dia akan menyiksanya dengan sebab dosa-dosanya. Kemudian, akhirnya dia tidak kekal di dalam neraka, namun akan keluar darinya, kemudian akan measuk ke dalam surga.” (Jami’ul ‘Uluum wal Hikam, juz 1, hal. 416-417, dengan penelitian Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrahim Baajis, penerbit. Muassasah Ar-Risalah).

2- Sembilan puluh sembilan lembar catatan keburukan gugur dengan tauhid.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّ اللَّهَ سَيُخَلِّصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا كُلُّ سِجِلٍّ مِثْلُ مَدِّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ فَيَقُولُ لَا يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَفَلَكَ عُذْرٌ فَيَقُولُ لَا يَا رَبِّ فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً فَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتَخْرُجُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَيَقُولُ احْضُرْ وَزْنَكَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ فَقَالَ إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ قَالَ فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ فَلَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللَّهِ شَيْءٌ

Sesungguhnya, Allah akan membebaskan seorang lelaki dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Akan dibentangkan padanya 99 lembaran (catatan amal keburukan), tiap-tiap lembaran seukuran sejauh pandangan mata. Kemudian Allah bertanya, “Apakah engkau mengingkari sesuatu dari lembaran (catatan amal keburukan) ini? Apakah para (malaikat) penulisKu al-Hafizhun (yang mencatat) menzhalimimu?

Maka, hamba tadi menjawab, “Tidak wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah engkau memilik alasan?” Maka, hamba tadi menjawab, “Tidak wahai Rabb-ku.” Maka, Allah berfirman, “Benar, sesungguhnya di sisi Kami engkau memiliki satu kebaikan. Sesungguhnya pada hari ini engkau tidak akan dizhalimi. Kemudian, dikeluarkan sebuah bithaqah (karcis) yang bertuliskan: Asyhadu alla ilaaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu warasuluhu (Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah adalah hambaNya dan Rasul-Nya. Allah berfirman, “Datangkanlah timbanganmu. Hamba tadi berkata, “Wahai Rabb-ku, apa (pengaruh) karcis ini terhadap lembaran-lembaran ini.” Maka, Allah berfirman, “Sesungguhnya engkau tidak akan dizhalimi.” Rasulullah bersabda, “Maka, lembaran-lembaran itu diletakkan di atas satu daun timbangan, dan satu karcis tersebut diletakkan di atas satu daun timbangan yang lain. Maka, ringanlah lembaran-lembaran itu, dan beratlah karcis tersebut. Maka, sesuatupun tidak berat ditimbang dengan nama Alah.” (H.R. Ahmad, II/213; Tirmidzi, no:2639; Ibnu Majah, no. 4300; dari Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh (wafat th 1285 H) –rahimahullah– berkata di dalam kitabnya Fathul Majid:

Barangsiapa mengatakan Laa ilaaha illa Allah dengan sempurna, yang mencegahnya dari syirik besar dan syirik kecil, maka orang ini tidak akan terus-menerus melakukan suatu dosa, sehingga dosa-dosanya diampuni dan diharamkan dari neraka.


Dan jika dia mengatakannya dengan sifat yang mencegahnya dari syirik besar, tanpa syirik kecil, dan setelah itu dia tidak melakukan perkara yang membatalkannya, maka hal itu merupakan kebaikan yang tidak bisa ditandingi oleh kejelekan apapun juga. Sehingga timbangan kebaikannya menjadi berat dengan hal itu, sebagaimana tersebut di dalam hadits bithaqah, sehingga dia diharamkan dari neraka, tetapi derajatnya di surga berkurang sekadar dosa-dosanya.” (Fathul Majid I/139-140, tahqiq Dr. Al-Walid bin Abdurrahman bin Muhammad Aalu Furrayyan, penerbit: Majlis Islam Al-Asiawi).

Setelah kita mengetahui hal ini, maka hendaklah kita memperhatikan tauhid dengan sebenar-benarnya, memahaminya, dan mengamalkannya, sehingga kita meraih keutamaannya. Hanya Allah tempat memohon pertolongan.

SUMBERNYA DI SINI