Fadhilah-Fadhilah Da’wah

Da'wah

1)       Da’i adalah peran yang sangat dimuliakan Allah

Allahu ta’ala berfirman.

“Adakah yang lebih baik perkataannya selain dari orang-orang yang menyeru kepada Allah swt dan mereka beramal shalih dan berkata sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. Fushilat 41:33-34)

 

Jadi, da’wah merupakan suatu kemuliaan yang agung bagi pengembannya. Bahkan profesi sebagai da’i adalah profesi para nabi – manusia-manusia mulia dan didekatkan kepada Allah. Maka, tidak salah jika kita mulai sekarang berikrar “Nahnu du’at qabla kulli syaiy’in” (kami adalah da’i sebelum diri kami yang lainnya).

 

2)       Da’wah sangat besar pahalanya dan sebaik-baik amal

Da’wah adalah amal terbaik karena ia memelihara nilai-nilai Islam dalam pribadi dan masyarakat. Tanpa da’wah, ‘amal shalih tidak akan berlangsung. Karenanya, Allah subhanahu wa ta’ala menjanjikan balasan yang berlipat ganda kepada mereka yang masuk ke dalam barisan da’wah serta menyampaikan ilmu dan pengetahuan kepada orang lain.

Rasulullah saw. bersabda dalam banyak hadits, di antaranya adalah.

“Sungguh, sekiranya Allah memberikan hidayah kepada seorang lelaki lantaran (da’wah)-mu, itu lebih baik daripada seekor unta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Barang siapa yang menghidupkan sunnah hasanah dalam Islam, maka baginya pahala dan pahala orang yang telah mengikutinya tanpa terkurangi pahala mereka walau sedikitpun. Dan barangsiapa yang menghidupkan sunnah yang jelek dalam Islam, baginya adalah dosa dan dosa orang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)

Barangsiapa yang menyeru kepada hidayah, maka ia memperoleh pahala seperti pahala-pahala yang mengikutinya tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.” (HR. Muslim)

Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka ia memperoleh pahala sebagaimana pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)

 “Barangsiapa yang beramal shaleh baik laki-laki atau perempuan, sedang ia beriman, maka sesungguhnya Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami balas mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl 16:97)

 

Logikanya seperti ini, jika kita mengajak orang lain untuk shalat malam, dan ternyata pada malam itu dia shalat, sedangkan kita terlalu lelah sehingga tidak sempat untuk bangun, insya Allah, saat kita ikhlash mengajak orang tadi, kitapun akan mendapatkan pahala shalat malam sebagaimana yang diperoleh orang itu tanpa menguranginya sedikit pun. Itu jika yang kita ajak adalah satu orang. Bagaimana jika yang kita ajak adalah sepuluh, seratus, atau bahkan seribu orang..?!

Begitu pun saat kita berhasil membuat seorang muslimah untuk berhijab dengan benar. Ia menggunakan jilbab karena segala informasi yang diberikan oleh kita. Kemudian Allah menganugerahinya hidayah melalui lisan dan aktivitas kita. Berapa banyak pahala yang akan kita kumpulkan, karena setiap harinya, selama ia masih berhijab, pasti Allahu ta’ala menganugerahinya pahala yang senantiasa mengalir..?

Serta masih banyak lagi bentuk kebaikan yang bisa dilakukan untuk melipatkgandakan pahala kita. Termasuk menyampaikan keindahan Islam kepada mereka yang masih berada dalam kubangan kekufuran. Sampaikanlah… Karena jika pun mereka masih belum diberikan hidayah oleh Allah subhanahu wa ta’ala, setidaknya kita telah mendapatkan pahala karena telah menyampaikan kebenaran. Allahu Akbar..!

 

3)       Memperoleh keridhaan, kecintaan dan rahmat dari Allah

Aktivitas da’wah dan jihad akan mendapatkan curahan kasih sayang dari Allah subhanahu wa ta’ala. Firman-Nya.

Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih ? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam syurga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (Ash Shaff 61:10 – 13)

“Orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah 9: 71)

 

Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala yang menjanjikan kebaikan melalui al-Quran, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pun mendoakan kebaikan bagi mereka yang senantiasa menyampaikan pengetahuan yang ia miliki. Beliau ‘alayhi shalatu wa sallam pernah bersabda.

Semoga Allah mencerahkan seseorang yang mendengarkan dari kami satu hadits lalu ia menyampaikannya kepada orang lain. Sebab boleh jadi ia memberikan pemahaman kepada orang yang lebih faham daripada dirinya. Dan boleh jadi yang memberikan pemahaman itu bukan termasuk orang-orang yang faham.” (HR. Ibnu Hibban)

 

Lalu, apalagi yang engkau tunggu..? Kenikmatan dan keberkahan hidup di depan mata. Ia bisa kau genggam dengan aktivitas da’wah ilallah. Bergabunglah dalam barisannya, jadilah bagian dari para mujahid mujahidah da’wah. Raihlah keridhaan dan syurgaNya, yang di dalamnya terdapat bidadari-bidadari suci, di bawahnya mengalir sungai susu, madu, dan khamr, dan bisa dinikmati sepuasnya.

 

4)       A’dzham Ni’amillah (Nikmat Allah yang Terbesar)

Banyaknya nikmat Allah yang diterima seorang hamba adalah balasan atas da’wah yang dilakukannya. Di antara kenikmatan yang dirasakan adalah nikmat di dalam menjalani kehidupan. Nikmat iman, Islam, dan ikhwan dirasakan juga bagi yang berda’wah, juga ketenangan, kedamaian, kebahagiaan, nikmat lahir, nikmat batin, dan nikmat atas penerimaan kita terhadap realitas.

Salah satu kenikmatan yang lain adalah terhindarnya seorang da’i dari malapetakan di dunia. Karena aktivitas da’wah merupakan aktivitas untuk senantiasa menghidupkan ajaran-ajaran yang diridhai Allah. Sedangkan Allah telah mengisahkan kepada kita bagaimana bangsa-bangsa besar hancur luluh lantak diakibatkan mereka melakukan berbagai penyimpangan dari diinul-haqq. Firman Allah subhanahu wa ta’ala.

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukannya di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.” (QS. Al-An’aam 6: 6)

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (untuk menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Israa’ 17: 16)

“Telah dila’nati orang-orang kafir dan Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Maidah 5: 78-79)

 

Sedangkan untuk menghindari malapetaka seperti yang dikisahkan di dalam al-Qur’an, maka Allah memerintahkan kita untuk menyeru manusia ke dalam Islam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman.

“Dan tidaklah Tuhanmu akan membinasakan suatu negeri padahal penduduknya melakukan perbaikan.” (QS. Huud 11: 117)

 

Ya, penduduknya adalah mushlihuun. Maka, Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan mendatangkan malapetaka kepada negeri tersebut. Artinya, kebaikan individu (shalih) itu belum cukup untuk mencegah bencana dan adzabNya di dunia. Allah menegaskan dalam ayat yang lain.

“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang dzhalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasiq.” (QS. Al-A’raaf 7: 165)

 

Dalam sebuah riwayat Rasulullah pernah bercerita, bahwa ada seorang shalih yang berada di tengah-tengah negeri yang rusak secara ruhiyah, akhlaq, dan yang lainnya. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Malaikat untuk meluluhlantakkan negeri tersebut. Malaikat tidak mengadzab negeri tersebut karena ia melihat bahwa masih ada seorang shalih yang senantiasa menyebut namaNya. Malaikat itu kembali menghadap Allah dan bertanya perihal orang shalih di negeri tersebut. Namun, Allah murka dan berfirman “Orang itu yang pertama (dibinasakan)..!”

Hal tersebut dikarenakan keshalihan yang dimilikinya hanya untuk dirinya sendiri. Ia tidak menjadi seorang mushlih sehingga Allah subhanahu wa ta’ala sangat murka kepada orang tersebut. Ia menyembunyikan kebenaran dan takut untuk menyampaikan kebenaran yang diyakininya. Maka, sekali lagi bahwa keshalihan individu belum cukup untuk menghindari diri kita dari adzab di dunia.

 

5)       Al-Hayaah Ar-Rabbaaniyah (Kehidupan yang Rabbani)

Kehidupan rabbaniyyah akan dapat dirasakan dengan berda’wah. Seorang muslim yang disibukkan dengan da’wah akan senantiasa tunduk kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam kehidupannya, sehingga ia akan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan. Ia pun menyadari bahwa sebelum mengajak orang kepada Islam, ia harus mencontohkan nilai-nilai Islam itu terlebih dahulu pada dirinya, sehingga ia – meminjam istilah quantum da’wah dan tarbiyah – menjadi shalih dengan berda’wah. Maka, ketika setiap muslim telah tumbuh menjadi da’i, berkembang pula orang-orang shalih di atas muka bumi ini.

 

6)       Menjadi hujjah di hadapan Allah kelak

Dalam realitanya, akan ada orang-orang yang menjadi lawan-lawan da’wah. Akan ada orang-orang yang juga bersekutu untuk menghimpun kekuatan secara terorganisir demi hancurnya da’wah. Karena fithrah manusia yang dianugerahi kecenderungan untuk bertaqwa serta kecenderungan untuk berma’shiyat. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala, Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Kami ilhamkan kepadanya kefujuran dan ketaqwaan.”

Demikianlah Allah subhanahu wa ta’ala memberikan dua aspek yang ambivalen dalam diri manusia. Selanjutnya, tinggal manusia memilih, apakah ia mengikuti hawa nafsunya atau ia memilih untuk mengikuti naluri wahyu ilahy. Maka, sebuah keniscayaan pula bahwa akan ada orang-orang yang akan menjadi penghuni neraka jahannam. Namun sebelum “golongan kiri” tersebut diadzab oleh Allah subhanahu wa ta’ala di akhirat, akan ada sebuah sidang pertanggungjawaban, tentang mengapa dan bagaimana ia bisa melakukan begitu banyak kema’shiyatan. Tentang segala hal yang berkaitan dengan segala tindakan yang dilakukannya. Termasuk dalam sidang itu adalah sebuah pertanyaan tentang pertemuan hari tersebut. “…Sehingga apabila mereka telah sampai ke neraka, dibukakan pintu-pintunya dan penjaga-penjaganya berkata kepada mereka: ‘Apakah belum pernah datang kepadamu rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Rabbmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan hari ini?’…” (QS. Az-Zumar 39: 71).

Pertanyaan tersebut pasti ditujukan kepada orang-orang yang hidup pada masa nabi dan rasul diutus. Bagaimana dengan orang-orang yang hidup pada masa setelah wafatnya Rasul terakhir? Tentu saja mereka pun mendapatkan pertanyaan dengan esensi yang sama. Yang berbeda hanyalah perihal siapa yang menyampaikannya. Jika kepada orang-orang terdahulu Malaikat bertanya tentang datangnya seorang rasul, maka kepada orang-orang yang kemudian, Malaikat bertanya “Apakah belum pernah datang kepadamu orang-orang shalih, para ‘ulama, atau saudara-saudaramu yang memperingatkanmu akan pertemuan hari ini?”

Dapat dibayangkan jika yang ditanya adalah orang yang cukup dekat dengan kita. Lalu, jawaban dari orang tersebut adalah “belum pernah”. Sudah pasti Allah akan meminta pertanggungjawaban kepada kita sebagai orang yang cukup dekat dengannya tentang segala ilmu dan pengetahuan yang kita miliki dan mengapa kita tidak menyampaikan serta mentransfer kashalihan kita kepada orang lain. Apa yang bisa kita katakan di hadapan Allah yang sedang murka melihat kita? Mungkin yang ada hanyalah penyesalan mengapa ketika di dunia kita tidak menyampaikan kebenaran itu…

Maka dari itu, dengan menjadi seorang da’i, kita dapat berhujjah di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala bahwa kita telah menyampaikan kebenaran, membacakan ayat-ayat-Nya serta senantiasa mengingatkan manusia untuk ta’at kepadaNya. Sehingga tidak ada alasan bagi para pendosa itu untuk mengajak kita ke dalam jahannam. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahkan kepada kita syurga dan ridha-Nya, serta menjauhkan kita dari siksa neraka yang maha dahsyat. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: