Debu dalam Islam

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Aku diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada orang sebelumku: Aku diberi kemenangan dari perjalanan sebulan, dan dijadikan bumi itu sebagai tempat shalat dan penyuci; …” (Muttafaq ‘Alayh)

Diriwayatkan oleh Muslim dari Hudzayfah“…dan dijadikan tanah itu penyuci bagi kita apabila kita tidak mendapatkan air”.

Diriwayatkan oleh Ahmad dari ‘Ali ibn Abi Thalib“…dan dijadikan tanah bagiku sebagai penyuci”.

Debu

Tidaklah Allah semata-mata menciptakan sesuatu namun tidak ada manfaat atau hikmah yang dikandung dari penciptaan tersebut. Tanah atau debu merupakan alat penyuci selain air, statusnya adalah suci dan menyucikan. Saat air tidak ditemukan, maka debu bisa digunakan. Proses penyucian hadats dengan menggunakan debu disebut tayammumTayammum berlaku untuk membersihkanhadats kecil atau besar dan hanya digunakan untuk melaksanakan ibadah saja. Artinya, setelah ibadah tersebut selesai dilaksanakan, maka secara hakiki hadats-nya belum dibersihkan sepenuhnya hingga ditemukannya air. Jika air belum ditemukan hingga akan melaksanakan ibadah lagi, maka tayammum kembali dilakukan untuk memenuhi syarat pelaksanaan ibadah tersebut.[1]

Walaupun demikian, sebagian ‘ulama berpendapat bahwa penyucian hadats dengan debu sama derajatnya dengan penyucian hadats yang menggunakan air. Artinya, hadats tersebut secara hakiki benar-benar telah bersih sehingga dapat beribadah tanpa harus mengulang tayammum untuk setiap ibadah. Golongan ini berbeda pendapat saat telah menemukan air. Pendapat pertama mengemukakan bahwa seseorang yang telah bertayammum harus mengulang penyuciannya dengan air saat telah menemukan air, sedangkan pendapat kedua tidak apa untuk tidak mengulangnya, karena dirinya telah suci, kecuali jika dirinya kembali berhadats, maka harus menggunakan air.Wallahu a’lam.

Dalam sebuah riwayat disebutkan pula bahwa debu pun bisa membersihkan najis. Bahkan untuk menghilangkan najis yang berat, sesuatu harus dicuci tujuh kali dengan satu kali penyucian menggunakan debu. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Bersihnya bejana seorang di antara kalian yang airnya telah dijilat anjing adalah setelah ia dicuci tujuh kali, yang pertamanya dicampur dengan tanah.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat yang lain, dari Ibn ‘Umar, beliau berkata : “Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Barang siapa menjulurkan pakaiannya (di tanah), Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat”. Ummu Salamah bertanya : “Apa yang harus dilakukan para wanita dengan ujung-ujung baju mereka?”, Rasulullah menjawab: “Mereka menurunkannya (di bawah mata kaki) hingga sejengkal”. “Kalau begitu akan tersingkap kaki-kaki mereka”, jelas Ummu Salamah. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam berkata (lagi): “Mereka turunkan hingga sehasta dan jangan melebihi kadar tersebut”. Ummu Salamah berkata lagi: “Bagaimana jika terkena najis?” Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menjawab: “Sapuan yang kedua adalah penyucinya.” Maksudnya adalah pada saat kain yang menjulur itu mengenai najis yang ada di tanah, maka sesungguhnya najis itu telah dibersihkan oleh debu-debu yang juga menyapu kain tersebut. Kita lihat bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam  memberikan rukhshah bagi para wanita untuk mengenakan pakaian hingga satu hasta di bawah mata kaki, karena memang demikianlah yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu menutup aurat dengan sempurna. Sedangkan lebih dari satu hasta merupakan perbuatan yang berlebih-lebihan dan tidak ada faedahnya sama sekali. Sama halnya dengan pria, tidak ada faedahnya untuk menjulurkan pakaiannya hingga menyentuh tanah. Walaupun sapuan kedua merupakan penyucinya, namun hal ini tidak berlaku bagi pria. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam,

“Dan janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun. Engkau berbicara dengan saudaramu sambil bermuka manis juga merupakan kebaikan. Angkatlah sarungmu hingga tengah betis. Jika engkau enggan maka hingga kedua mata kaki. Waspadalah engkau dari isbal karena sesungguhnya hal itu (isbal) termasuk kesombongan. Dan Allah tidak menyukai kesombongan”. (HR. Ahmad (V/64) no 20655, Abu Dawud (IV/56) no 4084, dan dari jalannya al Bayhaqi dalam as-Sunan al-Kubra (X/236) no 20882, dan di-shahih-kan oleh Syaikh al Albani)

 

Wallahu a’lam…

-Al Fadhli-

================

Daftar Rujukan

A. Hassan. 1983. Tarjamah Bulughul Maram Ibn Hajjar Al-Atsqalani; Beserta Keterangannya. Bandung: Diponegoro

Mudjib, Abdul. 2001. Kaidah-Kaidah Ilmu Fiqh. Jakarta: Kalam Mulia

Rasjid, Sulaiman. 1992. Fiqh Islam cet. XXV. Bandung: Sinar Baru

Sabiq, Sayyid. Fiqh Sunnah Lengkap. Terdapat dalam CD E-Book Materi Islam 1430 H.


[1] Ini merupakan pendapat yang masyhur dalam madzhab syafi’iyyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: