Hadiah Pahala (bag. 1)

MUQADIMAH: PERSELISIHAN AHLUS SUNNAH TENTANG HAL INI

Permasalahan hadiah pahala, yakni menghadiahkan pahala yang dilakukan oleh orang yang masih hidup untuk orang yang sudah meninggal, seringkali menjadi polemik dalam kehidupan beragama umat Islam di sekitar kita. Bahkan, terjadi saling tahdzir dan vonis di antara mereka yang tidak sependapat, seperti menyebut satu sama lainnya ahlu bid’ah dan bahkan yang lebih buruk darinya. Padahal, jika kita mengembalikannya pada dalil-dalil shahih di atas pemahaman para ‘ulama salaf, kita akan menemukan bahwa telah ada kesepakatan di antara mereka dalam bagian tertentu dan terjadi ikhtilaf pada bagian yang lainnya.

Al Imam Ibn Abi Al ‘Izz berkata dalam Syarh Aqidah Thahawiyah,

واختلف في العبادات البدنية ، كالصوم والصلاة وقراءة القرآن والذكر : فذهب أبو حنيفة و أحمد وجمهور السلف إلى وصولها ، والمشهور من مذهب الشافعي و مالك عدم وصولها

Terdapat perselisihan dalam ibadah-ibadah badaniyyah.[1] Seperti shaum, shalat, membaca al Quran, dan berdzikir. Madzhab Abu Hanifah, Ahmad, dan jumhur As Salaf berpendapat tentang sampainya semua itu (kepada mayit). Yang masyhur menurut madzhab Asy Syafi’i dan Malik adalah tidak sampai.

Al Imam Nawawi Asy Syafi’i menjelaskan perbedaan pendapat mengenai hal ini dalam Al Adzkaar :

واختلف العلماء في وصول ثواب قراءة القرآن، فالمشهور من مذهب الشافعي وجماعة أنه لا يَصل‏.‏ وذهب أحمدُ بن حنبل وجماعةٌ من العلماء وجماعة من أصحاب الشافعي إلى أنه يَصل، والاختيار أن يقولَ القارئُ بعد فراغه‏:‏ ‏”‏اللهمّ أوصلْ ثوابَ ما قرأته إلى فلان، واللّه أعلم‏.‏

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ‘ulama tentang sampainya pahala bacaan al Quran. Pendapat yang masyhur dari madzhab Syafi’i dan sekelompok ulama adalah tidak sampai. Namun menurut Imam Ahmad ibn Hanbal dan juga para sahabat Asy Syafi’i berpendapat bahwa pahalanya sampai. Maka lebih baik adalah si pembaca menghaturkan doa : “Ya Allah sampaikanlah pahala bacaan apa yang aku baca ini untuk si fulan.”

Asy Syaikh Al Faaqih Abu Abdillah Muhammad bin Shalih al ‘Utsaymin [w. 1421 H] dalam Majmu Fatawa wa Rasaail [17/220-221] menyatakan.

وأما القراءة للميت بمعنى أن الإنسان يقرأ و ينوي أن يكون ثوابها للميت، فقد اختلف العلماء رحمهم الله هل ينتفع بذلك أو لا ينتفع؟ على قولين مشهورين الصحيح أنه ينتفع، ولكن الدعاء له أفضل

“Pembacaan al Qur’an untuk orang mati dengan pengertian bahwa manusia membaca al Qur’an serta meniatkan untuk menjadikan pahalanya bagi orang mati, maka sungguh ulama telah berselisih pendapat mengenai apakah yang demikian itu bermanfaat ataukah tidak ? Atas hal ini terdapat dua perkataan yang sama-sama masyhur dimana yang shahih adalah (bahwa membaca al Qur’an untuk orang mati) memberikan manfaat, adapun do’a lebih utama (untuk dilakukan).”

Dalil-Dalil Yang Menjadi Pijakan Sampainya Pahala

1.      Dalil Al Quran

وَٱلَّذِينَ جَآءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلإِيمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِينَ آمَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ ﴿١٠﴾

Dan orang-orang yang dayang sesudah mereka (muhajirin dan anshar), mereka berdoa : ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami’.” (QS. Al Hasyr : 10)

 2.      Dalil As Sunnah

  • Hadits riwayat Abu Dawud [3221] dari ‘Utsman ibn ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata:

كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا فرغ من دفن الميت وقف عليه فقال : استغفروا لأخيكم ، واسألوا له التثبيت ، فإنه الآن يسأل

Apabila Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam usai menguburkan mayit, beliau kemudian berdiri di muka kuburan dan berkata : “Mohonkanlah ampunan untuk saudaramu dan mintakanlah baginya keteguhan. Sesungguhnya ia kini sedang ditanya.”

  •  Hadits dalam shahih Muslim, dari Buraydah ibn Al Hashib, bahwa ia berkata:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعلمهم اذا خرجوا إلى المقابر أن يقولوا : السلام عليكم أهل الديار من المؤمنين والمسلمين ، وإنا إن شاء الله بكم لاحقون ، نسأل الله لنا ولكم العافية

Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mengajarkan mereka bila keluar (berziarah) ke kuburan untuk mengucapkan: “Assalaamu ‘alaykum wahai penghuni negeri abadi, dari kalangan kaum mu`minin dan muslimin. Sesungguhnya kami pasti akan menyusul kalian. Kami memohon keselamatan bagi kami dan bagi kalian.”

  • Hadits shahih Al Bukhari [1388] dan Muslim [1004] tentang sampainya pahala shadaqah. Dari ‘A`isyah radhiyallahu ‘anha:

أن رجلا أتى النبي صلى الله عليه وسلم، فقال : يا رسول الله ، إن أمي افتلتت نفسها ، ولم توص ، وأظنها لو تكلمت تصدقت ، أفلها أجر إن تصدقت عنها ؟ قال : نعم

Bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, ia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku meninggal mendadak dan belum sempat memberikan wasiat. Saya kira, jika ia bisa berbicara ia akan bershadaqah. Apakah (pahala shadaqah) akan sampai kepadanya bila aku bershadaqah untuknya? Rasulullah menjawab : “Ya”.

  •  Hadits shahih Al Bukhari [1952] dan Muslim [1147] tentang sampainya pahala shaum. Dari ‘A`isyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

من مات وعليه صيام صام عنه وليه

Siapa yang meninggal dan masih memiliki kewajiban berpuasa, maka walinyalah yang berpuasa untuknya.”

  •  Hadits shahih Al Bukhari [1852] dan Ahmad [I: 179] tentang sampainya pahala haji. Dari Ibn ‘Abbas radihyallahu ‘anhuma,

أن امرأة من جهينة جاءت الى النبي صلى الله عليه وسلم ، فقالت : إن أمي نذرت أن تحج فلم تحج حتى ماتت ، أفأحج عنها ؟ قال : حجي عنها ، أرأيت لو كان على أمك دين ، أكنت قاضيته ؟ اقضوا الله ، فالله أحق بالوفاء 

“Bahwa seorang wanita dari Juhaynah datang kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam dan bertanya: ‘Sesungguhnya ibuku bernadzar untuk haji, namun belum menunaikannya hingga ia meninggal. Apakah aku bisa berhaji untuknya?’ Nabi menjawab : ‘Berhajilah untuknya. Bagaimana pendapatmu bila ibumu memiliki hutang, apakah engkau akan membayarkannya? Tunaikanlah hutangnya kepada Allah. Sesungguhnya Allah lebih berhak untuk ditunaikan hak-Nya’.”

 3.      Ijma’

Umat Islam bersepakat tentang disyari’atkannya berdoa untuk mayit pada shalat jenazah. Juga membayarkan hutang bagi orang yang sudah mati, meskipun pembayarannya itu dari pihak luar dan tidak berasal dari harta warisannya. Hal ini dijelaskan oleh hadits riwayat Ahmad [III: 330] dan Al Hakim [II : 58] dari Abu Qatadah, di mana ia menjamin dua dinar dari hutang si mayit. Seusai ia membayarkannya, Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

الآن بردت عليه جلدته

Sekarang, engkau telah mendinginkan kulitnya.”

Imam Ibn Abi al ‘Izz Al Hanafi menjelaskan dalam Syarh Aqidah Thahawiyah:

اتفق أهل السنة أن الأموات ينتفعون من سعي الأحياء بأمرين : أحدهما : ما تسبب إليه الميت في حياته . والثاني : دعاء المسلمين واستغفارهم له ، والصدقة والحج ، على نزاع فيما يصل إليه من ثواب الحج : فعن محمد بن الحسن : أنه إنما يصل إلى الميت ثواب النفقة ، والحج للحاج . وعند عامة العلماء : ثواب الحج للمحجوج عنه ، وهو الصحيح

Ahlus sunnah bersepakat bahwa orang-orang mati dapat mengambil manfaat dari orang-orang yang masih hidup dengan dua hal. Pertama, (kebaikan orang lain) yang disebabkan oleh orang mati itu semasa hidupnya. Kedua, doa dan istighfarnya kaum muslimin (untuknya), sedekah, dan hajinya. Untuk permasalahan haji, ada perselisihan apakah pahalanya sampai atau tidak. “Dari Muhammad ibn Al Hasan rahiimahullah, berkata, “Sesungguhnya yang sampai kepada orang yang sudah mati adalah sedekah. Adapun haji, (pahalanya) untuk orang yang melakukannya.” Namun, menurut umumnya para ‘ulama[2] bahwa pahala haji untuk orang yang dihajikan, dan inilah pendapat yang shahih.

 4.      Fatwa Para ‘Ulama Ahlus Sunnah

  • Al Imam Ahmad ibn Hanbal yang diceritakan oleh Syaikh Al Islam Ibn Qayyim al Jawziyyah dalam kitab Ar Ruuh, beliau menuturkan,

قال الخلال وأخبرني الحسن بن أحمد الوراق حدثنى على بن موسى الحداد وكان صدوقا قال كنت مع أحمد بن حنبل ومحمد بن قدامة الجوهرى في جنازة فلما دفن الميت جلس رجل ضرير يقرأ عند القبر فقال له أحمد يا هذا إن القراءة عند القبر بدعة فلما خرجنا من المقابر قال محمد بن قدامة لأحمد بن حنبل يا أبا عبد الله ما تقول في مبشر الحلبي قال ثقة قال كتبت عنه شيئا قال نعم فأخبرني مبشر عن عبد الرحمن بن العلاء اللجلاج عن أبيه أنه أوصى إذا دفن أن يقرأ عند رأسه بفاتحة البقرة وخاتمتها وقال سمعت ابن عمر يوصي بذلك فقال له أحمد فارجع وقل للرجل يقرأ

 “Berkata Al Khalal, mengabarkan kepadaku Al Hasan ibn Ahmad Al Waraq, menceritakan kepadaku ‘Ali ibn Musa Al Haddad dan ia adalah seorang yang sangat jujur, ia berkata : “Pernah aku bersama Ahmad ibn Hanbal dan Muhammad ibn Qudamah Al Jawhari menghadiri jenazah, maka pada saat mayit dimakamkan, seorang lelaki kurus duduk di samping kubur sambil membaca (Al Quran). Melihat hal ini Imam Ahmad berkata kepadanya: “Wahai sesungguhnya membaca al Quran di samping kuburan adalah bid’ah..!”

Maka saat kami keluar dari pekuburan, berkata Imam Muhammad ibn Qudamah kepada Imam Ahmad ibn Hanbal : “Wahai Abu ‘Abdillah, bagaimana pendapatmu tentang Mubassyar Al Halabi? Imam Ahmad menjawab : “Beliau adalah orang yang tsiqah (terpercaya). Apakah engkau meriwayatkan sesuatu darinya?”

Muhammad ibn Qudamah menjawab : “Ya, mengabarkan kepadaku Mubasyar dari Abdurahman ibn Al ‘Alaa Al Laj-Laj dari bapaknya bahwa dia berwasiat apabila telah dikuburkan agar dibacakan di samping kepalanya permulaan surat Al Baqarah dan akhirnya. Dia juga berkata : “Aku telah mendengar Ibn ‘Umar berwasiat yang demikian itu”.

Mendengar riwayat tersebut Imam Ahmad berkata : “Kembalilah dan katakan kepada lelaki itu agar bacaannya diteruskan.

  •  Syaikh Al Islam Ibn Al Qayyim menjelaskan pendapat Imam Asy Syafi’i tentang membaca al Quran di samping kuburan,

وقال الحسن بن الصباح الزعفراني سألت الشافعي عن القراءة عند القبر فقال لا بأس بها

            Berkata Al Hasan ibn Ash Shabah Az Za’faraniy, aku bertanya kepada Asy Syafi’i tentang membaca al Quran di samping kuburan. Beliau menjawab, “tidak apa-apa.”[3]

  •  Imam Abu Ja’far dalam Aqidah Thahawiyah berkata tentang hal ini:

وفي دعاء الأحياء وصدقاتهم منفعة للأموات

Doa dan sedekah orang yang masih hidup dapat bermanfaat bagi orang yang sudah mati.

  •  Imam Ibn Abu Al ‘Izz dalam syarah Aqidah Thahawiyah berkata,

وأما قراءة القرآن وإهداؤها له تطوعاً بغير أجرة ، فهذا يصل إليه ، كما يصل ثواب الصوم والحج

Adapun Membaca al Qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada orang yang mati secara sukarela dan tanpa upah, maka pahalanya akan sampai kepadanya sebagaimana sampainya pahala puasa dan haji.

SIMPULAN

Bahwa Ahlus Sunnah bersepakat tentang bermanfaatnya doa dan istighfar orang-orang yang masih hidup untuk orang-orang yang sudah mati. Adapun untuk ibadah-ibadah badaniyah seperti shaum, shadaqah, haji, dan membaca al Quran terdapat perselisihan tentang samapi atau tidaknya, dan pendapat yang diambil oleh sebagian besar para ‘ulama adalah sampainya pahala tersebut kepada mayit.

Adapun sebagian ahli bid’ah dari kalangan ahli kalam yang menyatakan bahwa doa dan yang lainnya tidak bermanfaat sama sekali telah keluar dari perselisihan ahli sunnah, sebagaimana perkataan Ibn Abi al ‘Izz al Hanafi :

وذهب بعض أهل البدع من أهل الكلام إلى عدم وصول شيء البتة ، لا الدعاء ولا غيره . وقولهم مردود بالكتاب والسنة ، لكنهم استدلوا بالمتشابه

Sementara sebagian ahlu bid’ah dari kalangan ahli kalam berpendapat bahwa tidak sampai sedikitpun kepadanya, baik doa ataupun yang lainnya. Pendapat ini tertolak dengan al Kitab dan as Sunnah, namun mereka berdalil dengan ayat-ayat mutasyabbihat.[4]

Wallahu a’lam

-Al Fadhli-


[1] Perselisihan ini terdapat pada Empat Imam Madzhab mengenai ibadah badaniyah selain haji

[2] Termasuk pendapat para Imam Madzhab

[3] Telah masyhur bahwa pendapat Imam Asy Syafi’i adalah tidak sampainya pahala bacaan al Quran kepada mayit. Namun, riwayat ini menjelaskan bahwa –walaupun beliau berpendapat demikian- beliau tidak melarang seseorang yang ingin membaca al Quran di samping kuburan.

[4] Sebagaimana akan dijelaskan kemudian insya Allah

2 Responses

  1. […] mengenai sampainya hadiah pahala untuk si mayyit karena hal ini sudah saya jelaskan dalam artikel Hadiah Pahala. Intinya Ahlus Sunnah bersepakat tentang sampainya pahala tersebut kepada si […]

  2. […] kami jelaskan sebelumnya dalam artikel Hadiah Pahala (bag. 1) tentang bermanfaatnya amalan orang yang hidup bagi orang yang sudah meninggal. Namun, ada sebagian […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: