At Tadhhiyyah

Perjuangan

Keniscayaan dalam setiap perjuangan adalah untuk senantiasa istiqamah dalam amal da’wah dan jihad. Namun sungguh tidak akan pernah ada perjuangan tanpa tadhhiyah (pengorbanan) yang diberikan para pejuangnya, baik berupa harta, tenaga, pikiran ataupun jiwa.

Allah berfirman dalam al Quran,

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.(QS. At Taubah : 111)

Harta, jiwa, tenaga, dan pemikiran adalah potensi yang dianugerahkan Allah subhanahu wa ta’ala untuk digunakan manusia dalam perjuangan di jalan-Nya. Karena pada hakikatnya, bagi seorang mu’min, apa yang ada pada dirinya telah ia jual demi meraih ridha dan jannah Allah ta’ala. Ia telah menyadari bahwa semua itu adalah karunia yang diberikan Allah sebagai bekal perjalanan hidupnya di dunia menuju kehidupan yang abadi di akhirat kelak. Tidak ada kuasa sedikit pun atas segala karunia yang Allah berikan di dunia ini. Sungguh, rasa syukur terbaik yang diberikan seorang mu’min atas segala apa yang telah diberikan-Nya adalah dengan mengoptimalkan semua potensi yang telah Allah titipkan untuk da’wah dan jihad fii sabiilillah.

Dahulu, Abu Bakr ash Shidiq telah mengajarkan kepada kita bagaimana caranya berkorban dengan harta. Saat ‘Umar ibn al Khathab menyerahkan separuh harta yang ia miliki pada saat itu untuk membiayai jihad, maka Abu Bakr mengeluarkan seluruh harta yang ia miliki. Sehingga saat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bertanya, Apa yang kau tinggalkan untuk istri dan anakmu..? Abu Bakr menjawab, “Cukuplah Allah dan Rasul Nya…”

Begitupun Dzun Nurayn Utsman ibn ‘Affan yang telah mewakafkan sebuah sumur untuk kepentingan kaum muslimin, serta pada saat yang lain, di mana bahan makanan ummat semakin menipis, para saudagar menawar seluruh barang dagangan ‘Utsman dengan hara dua kali lipat demi memenuhi kehidupan ummat. Namun, ‘Utsman menolaknya dan berkata, “Aku hanya akan menjual daganganku kepada orang yang mau membelinya dengan harga sepuluh kali lipat.”

Tentu saja pernyataan ‘Utsman ini mengecewakan para saudagar yang sedang mengharapkan bahan makanan. Mereka pun berkata kepada ‘Utsman, “Tidak ada yang sanggup membayar sepuluh kali lipat untuk barang daganganmu.” Namun ‘Utsman menyela, “Ada, dan Dia telah membelinya. Dialah Allah yang telah membeli barang daganganku dengan harga sepuluh kali lipat.” Maka disedekahkanlah seluruh barang dagangannya demi kepntingan ummat Islam. Allahu akbar…

Pengorbanan harta bukanlah perkara yang mudah. Namun, telah jelas kepada kita bagaimana para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in berlomba-lomba melakukannya demi mendapatkan kemuliaan di sisi Allah dan Rasul Nya. Hal ini terjadi karena mereka telah memahami bahwa semua yang mereka miliki pada hakikatnya adalah titipan yang diberikan Allah sebagai sarana untuk menegakkan diin Nya.

Pengorbanan

Medan Uhud telah menjadi saksi bagaimana para sahabat membuktikan pengorbanan mereka dengan jiwanya. Kita ingat kisah Abu ‘Ubadydah ibn Al-Jarrah, saat dua pecahan baju besi menancap pada wajah Rasulullah, ia menggigit dan mencabut besi itu sampai tanggal giginya. Sedangkan Abu Dujanah menjadikan dirinya sebagai tameng di hadapan Rasulullah. Panah bertubi-tubi menancap di punggungnya, namun ia terus tegak berdiri demi melindungi kekasihnya yang mulia.

Begitu pun dengan Ziyad ibn Sakan. Ia berlari merangsek barisan musuh hingga terhenti oleh luka-luka di sekujur tubuhnya. Ia syahid bersama lima shahabat yang lain. Sedangkan Thalhah ibn Ubaydillah menyerang sepuluh orang musuh yang saat itu menghadang Rasulullah. Ia kemudian menjadi perisai bagi kekasihnya hingga jari-jarinya terkena serangan dan tangannya tertebas terpotong. Rasulullah kemudian berusaha mendaki gunung Uhud, namun beliau tidak mampu karena lemas dan terluka. Maka, Thalhah duduk di bawahnya hingga beliau shallallahu ‘alayi wa sallam bisa mendakinya.

Ada lagi seorang ‘Amr ibn Al-Jamuh. Seorang yang sebelah kakinya pincang. Ia mempunyai empat anak laki-laki yang masih muda. Mereka berperang bersama Rasulullah. Saat pasukan Uhud berangkat, ‘Amr ibn Al-Jamuh ingin ikut bersamanya. Keempat anaknya menyarankan agar ayah mereka tinggal di rumah karena Allah sesungguhnya telah menggugurkan kewajibannya untuk berjihad. Namun ‘Amr tidak menerima hal itu, ia menghadap Rasulullah, kemudian berkata, “Sesungguhnya anak-anakku mencegahku untuk ikut pergi bersamamu. Demi Allah aku benar-benar berharap untuk menemui syahid, lalu aku menginjak syurga dengan kaki pincangku ini.”

Rasulullah menjawab, Adapun engkau, Allah telah membebaskanmu dari kewajiban berjihad.” Kemudian Rasulullah berkata kepada anak-anaknya, Mengapa kalian tidak membiarkannya, siapa tahu Allah akan menganugerahkan kesyahidan kepadanya.” Lalu, ‘Amr berangkat bersama Rasulullah dan gugur sebagai syahid di medan Uhud.

Pengorbanan para prajurit Uhud tidak berhenti sampai di situ. Satu hari sebelum hari itu, seorang ‘Abdullah ibn Jahsy berdo’a, “Ya Allah, aku bersumpah kepadamu, bahwa besok aku akan melemparkan diriku di tengah-tengah musuh. Biarlah mereka membunuhku, membedah perutku, memotong hidung dan telingaku. Jika Engkau kemudian bertanya untuk apa aku berbuat demikian, maka aku akan menjawab: “Demi Engkau.” Dan setelah perang uhud berakhir, para shahabatpun menemukan Abdullah syahid dalam kondisi seperti yang ia do’akan.

Seusai perang uhud, Zaid ibn Tsabit diutus Rasulullah untuk mencari Sa’d ibn Rabi’. Rasulullah berkata kepadanya, “Jika engkau menemukan Sa’d, sampaikan salamku padanya. Katakan kepadanya bahwa Rasulullah menanyakan apa yang engkau dapatkan.” Lalu Zaid berkeliling mencarinya di antara para korban. Ia menemukannya saat Sa’d menghembuskan nafas-nafas terakhirnya. Tubuh Sa’d penuh luka karena tombak, pedang, dan panah. Zaid berkata kepadanya, “Wahai Sa’d, Rasulullah mengirimkan salam untukmu dan menyuruhku menanyakan mengenai apa yang engkau dapatkan.” Sa’d menjawab, “Salam juga untuknya, serta katakan kepadanya: Wahai Rasulullah, aku mencium wangi syurga!”

Sa’d berkata lagi, “Katakan pula kepada kaumku dari golongan Anshar: Tidak ada ampunan bagi kalian jika kalian meninggalkan Rasulullah, sedangkan masih ada mata yang berkedip di antara kalian.” Lalu Sa’d pun menjemput syahidnya.

Serta masih banyak lagi kisah pengorbanan dalam medan Uhud yang tercatat pada lembaran-lembaran shirah. Termasuk, tentu saja, kisah Asadullah Hamzah yang dibunuh oleh Wahsyi, budak bayaran Hindun dengan tombaknya. Lalu dikisahkan –dengan riwayat yang lemah- bahwa Hindun dengan kejamnya merobek dada mayat suci Hamzah dan memakan jantungnya.

Juga tidak lupa sejarah mencatat kisah seorang Mush’ab ibn ‘Umair, seorang pemuda tampan yang gagah perkasa, duta pertama ummat Islam yang menguasai banyak bahasa. Tutur katanya yang lembut serta hartanya yang melimpah membuat ia banyak disukai gadis-gadis Makkah pada saat itu. Namun, ia meninggalkan gemerlap dunia dan keluarganya yang kaya raya menuju sebuah persinggahan abadi, sehingga di akhir hayatnya, gunung Uhud menyaksikan Mush’ab hanya meninggalkan selembar kain yang jika kain itu digunakan untuk menutupi wajahnya, maka kakinya terlihat, namun saat kain itu ditarik untuk menutupi kakinya, maka wajahnya terlihat. Maka, Rasulullah memerintahkan para shahabat untuk menutupi wajahnya dengan kain tersebut. Sedangkan kakinya ditutup dengan daun dan rerumputan.

Para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in kembali mengajarkan kepada kita, bagaimana seharusnya berjuang. Baik dengan harta ataupun dengan jiwanya. Mereka telah memahami makna jual beli yang telah Allah tegaskan dalam al Quran. Sehingga mereka tidak sekedar menghafal ayat-ayat-Nya di lisan, namun lebih dari itu, sanggup mengaktualisasikan pemahamann tersebut dalam realita kehidupan.

Jika kita ingin melihat lagi, dengan penuh kejujuran ke dalam diri kita, maka apa yang telah kita berikan bagi da’wah dan jihad ini..? Sepertinya, begitu jauh jarak yang membentang antara perjuangan dan pengorbanan para sahabat dengan kehidupan kita hari ini. Padahal, kita sama-sama telah membaca al Quran. Kita pun telah sama-sama menghafal dan mengerti maksudnya. Lalu, apa yang membuat kita sepertinya terlalu lemah untuk menjadi bagian dari para pengamal al Quran yang sesungguhnya..? Allah berfirman,

Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’laa : 17)

Juga,

Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).” (QS. Adh Dhuhaa : 4)

Allah telah mengabarkan kepada kita bahwa kehidupan akhirat jauh lebih baik, jauh lebih kekal dibandingkan kehidupan kita hari ini di dunia. Lantas, mengapa kita masih begitu sulit untuk mengorbankan dunia yang fana untuk akhirat yang kekal..?

Ibnu Mas’ud pernah berkata, “Barang siapa yang menginginkan akhirat dia akan mengorbankan dunianya, barang siapa yang menginginkan dunia, dia akan mengorbankan akhiratnya, wahai kaum, korbankanlah yang fana (dunia) demi sesuatu yang abadi.”

Sepertinya kita harus mengintrospeksi diri lebih banyak lagi, karena sungguh, tidak akan tegak perjuangan kecuali dengan pengorbanan. Seorang pelajar misalnya, rela mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan hartanya untuk meraih sesuatu yang dicita-citakannya. Seorang ilmuwan rela berada di dalam laboratorium berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk melakukan sebuah penelitian. Begitu pun dengan seorang kepala keluarga yang rela berkorban banting tulang untuk menghidupi keluarganya. Ia bekerja siang malam tanpa henti, bahkan waktu-waktunya dihabiskan untuk mengejar kebahagiaan dunia yang bersifat fana. Jika untuk menempuh cita-cita duniawi saja manusia rela mengorbankan apa yang dimilikinya, maka seharusnya kita lebih rela dan lebih berani untuk berkorban apapun yang kita miliki demi kehidupan yang abadi.

Asy Syahid Sayyid Quthb

Perjalanan para da’i dan mujahid kontemporer telah memberikan pelajaran yang berharga itu. Sayyid Quthb mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya berkorban, sehingga tiang gantungan menjadi saksi atas segala perjuangan yang ia ikrarkan untuk Islam. Itulah pengorbanannya. Dan sesungguhnya, di depan mata kita ratusan anak-anak Al Quds sedang antri untuk menanti syuhada di hadapan pasukan kera dan babi, menyusul ayah dan paman mereka. Mereka siap mengorbankan jiwanya menjadi batu bata penegak bangunan Islam. Sedangkan para pejuang Chechnya masih bertahan di perbatasan menunggu jemputan bidadari suci. Di hutan-hutan Kaukasus mereka bergerilya, dengan persediaan bahan makanan yang terbatas, namun semua itu tidak menyurutkan langkah merela.

Sejenak, alihkanlah pandangan kita ke arah mujahidin di Iraq, Afghanistan, Somalia, dan Yaman. Mereka tak lelah mengorbankan apa yang mereka miliki, melawan gempuran para thaghut dan tentara salibis la’natullah ‘alayhim. Dalam perjalanan jihadnya, para mujahid itu sedang menanti satu di antara dua kemenangan: meraih kemuliaan di dunia atau mati sebagai syuhada. Maka renungkanlah, di mana diri kita berada..?

Asy Syahid Faris 'Awdah

Al Fadhli

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: