Amal Da’wah Islamiyyah

Kalimat Tawhid

Aktivitas da’wah Islamiyyah merupakan aktivitas integral yang meliputi seluruh aspek kehidupan, karena diin al Islam sendiri merupakan diin yang integral yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Asy Syaikh Hasan Al Banna berkata,

Islam adalah sistem yang integral, mencakup seluruh aspek kehidupan. Maka ia adalah negara dan tanah air atau pemerintahan dan umat, moral dan kekuatan atau kasih sayang dan keadilan, wawasan dan undang-undang atau ilmu pengetahuan dan peradilan, materi dan kekayaan alam atau penghasilan dan kekayaan, serta jihad dan dawah atau pasukan dan pemikiran. Sebagaimana juga ia adalah aqidah yang murni dan ibadah yang benar, tidak kurang tidak lebih.”[1]

Dengan kata lain amal da’wah adalah amalan kehidupan. Karena di tempat di mana kita hidup, di situlah kita menyerukan kebenaran, sesuai dengan porsi dan profesi sekunder kita dalam kehidupan ini. Mengapa saya katakan profesi sekunder? Karena profesi primer kita telah dietatapkan oleh Allah ‘azza wa jalla, yakni sebagai hamba-Nya yang diberi amanah mengelola bumi dan seisinya, mengatur kehidupan agar senantiasa berputar di atas syari’at-Nya semata. Hanya karena inilah kita diciptakan. Allah berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz Dzaariyaat : 56)

Inilah profesi primer kita dalam kehidupan dunia. Yakni sebagai hamba-Nya yang senantiasa menyerahkan seluruh bentuk pengabdian, peribadahan, atau penghambaan hanya kepada Allah semata, baik berupa ritual-ritual ibadah, ketaatan, ittiba’, atau berhukum dengan hukum-Nya.

Dalam menjalani profesi primer ini, ada beberapa peran yang mesti kita jalankan. Di antaranya adalah sebagai khalifah di muka bumi, yang ditegaskan firman-Nya,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلأَرْضِ خَلِيفَةً ﴿٣٠﴾

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.” (QS. Al Baqarah : 30)

Maksudnya adalah menjadikan Adam ‘alayhis salaam dan keturunanannya sebagai khalifah, yaitu makhluq yang berperan sebagai penyelenggara tawhid di atas muka bumi. Hal ini tentu saja hanya berlaku bagi orang-orang beriman, karena hanya orang-orang berimanlah yang dapat menegakkan tawhid dan syari’at Allah dengan da’wah dan jihad. Jadi, segala sesuatu yang ada di bumi, baik itu berupa binatang, tumbuhan, atau kekayaan alam lainnya, sudah sepatutnya kita gunakan dalam rangka beribadah kepada Allah dan menyelenggarakan tawhid di atas muka bumi. Menyeru manusia ke dalamnya dan membentuk satu institusi yang dapat menjaga keutuhan tawhid dalam kehidupan sosial bermasyarakat dan bernegara. Allah berfirman,

أَلَمْ تَرَوْاْ أَنَّ ٱللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى ٱلسَّمَاوَاتِ وَمَا فِى ٱلأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً ﴿٢٠﴾

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” (QS. Luqmaan : 20)

Begitulah, Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan bumi untuk kepentingan manusia seluruhnya, lebih khusus lagi digunakan dalam rangka menjalankan profesi primernya sebagai hamba Allah subhanahu wa ta’ala.

Dalam kaitannya dengan aktivitas da’wah Islamiyyah, Allah telah mengutus seorang rasul pada setiap kaum untuk menyerukan tawhid. Agar manusia kembali ke atas rel kehidupannya, kembali kepada profesi primernya di muka bumi, menghidupkan fitrahnya, dan membawa mereka dari kegelapan jahiliyyah menuju cahaya Islam yang terang benderang. Firman-Nya dalam Al Quran,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ ٱعْبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُواْ ٱلْطَّاغُوتَ ﴿٣٦﴾

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghutitu”.” (QS. An Nahl : 36)

Telah jelas bahwa tugas da’wah para Nabi dan Rasul hanyalah tawhid, yakni mengajak atau menyerukan manusia untuk berlepas diri dari segala bentuk sesembahan selain dari Allah (thaghut) dan menyembah Allah saja. Inilah inti dari amal da’wah Islamiyyah. Segala bentuk perjuangan yang telah dilakukan para Nabi dan Rasul hanyalah dalam rangka mengembalikan profesi primer manusia sebagai hamba Allah. Tidak ada satupun seruan yang dilantangkan para Nabi dan Rasul selain seruan tawhid.

At Tawhid

Sayyid Quthb menggambarkan dalam Ma’alim Fii Thariiq seruan yang dilantangkan oleh Rasulullah tidak pernah tercampur sedikitpun dengan seruan selain seruan tawhid. Walaupun konsekwensinya, seruan ini tidak mendapatkan sambutan hangat yang –bisa jadi- jika Rasul pada saat itu menyeru manusia dengan seruan-seruan kesukuan, nasionalisme, humanisme, moral, atau ekonomi -atau mengiringi seruan tawhid dengan seruan-seruan tersebut- banyak masyarakat yang dapat tertarik ke dalam lingkaran da’wah Islamiyyah. Namun, Rasulullah tidak pernah melakukannya, sama sekali tidak!

Mengapa demikian?

Karena yang diharapkan oleh Rasulullah hanyalah kemurnian tawhid, bukan yang lainnya. Bila kemurnian da’wah tawhid telah bercampur dengan seruan-seruan selain seruan tawhid, maka niscaya seruan yang mulia ini tidak akan mendapatkan ridha dari Allah, karena apa yang diharapkan Allah atas penciptaan manusia di muka bumi hanyalah untuk beribadah kepada-Nya saja. Tidaklah heran jikalau Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

ابن عمر رضي الله عنهما ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ” أمرت أن أقاتل الناس ، حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله ، وأن محمدا رسول الله ، ويقيموا الصلاة ، ويؤتوا الزكاة ، فإذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءهم وأموالهم إلا بحق الإسلام ، وحسابهم على الله تعالى” (رواه البخاري و مسلم)

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersyahadat laa ilaaha illallah wa anna muhammadan Rasulullah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Apabila mereka mengerjakan semua itu, terpeliharalah darah dan harta mereka kecuali dengan sebab haq al Islam (melakukan pelanggaran), dan perhitungannya di sisi Allahu ta’ala. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits di atas dapat ditarik sebuah simpulan bahwa Rasul diutus ke muka bumi, berda’wah, dan berjihad di medan pertempuran tiada lain dan tiada bukan semata-mata hanya ingin menyerukan tawhid dan menyelenggarakan tawhid di atas muka bumi, sebelum menyerukan ritual ibadah. Karenanya, setiap kali akan memerangi suatu kaum, Rasulullah senantiasa memerintahkan kepala pasukannya berda’wah terlebih dahulu dengan menawarkan opsi: bertawhid, atau tunduk di bawah pemerintahan Islam (menjadi kafir dzhimmi/ mu’ahid) atau diperangi sampai datang putusan Allah ‘azza wa jalla.

Tawhid terlebih dahulu wahai para da'i!

Inilah prioritas amal da’wah Islamiyyah : da’wah tawhid, bukan yang lain! Adapun yang dimaksud integralitas da’wah bukanlah berarti mengiringi seruan da’wah tawhid dengan seruan-seruan yang lain, baik itu seruan-seruan kekuasaan atau politis, humanis, atau kesejahteraan (duniawi). Maksud dari integralitas amal da’wah Islamiyyah adalah bagaimana kemudian kita dapat memanfaatkan seluruh potensi yang ada, sesuai dengan profesi sekunder kita dalam rangka menegakkan tawhid di atas bumi tempat kita berpijak, di lingkungan kita masing-masing. Apapun profesi sekunder kita, ingatlah bahwa profesi primer kita adalah hamba Allah yang tiada ilaah selain-Nya.

Upaya menyerukan tawhid kepada seluruh umat manusia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari status profesi primer kita sebagai hamba-Nya. Upaya da’wah tawhid merupakan kewajiban bagi setiap mu’min yang telah diberikan amanah sebagai khalifah di atas muka bumi, hingga kita mendapatkan satu dari dua kemenangan : hidup mulia atau mati sebagai syuhada.

Wallahu a’lam

[1] Majmu’atu Rasail Hasan Al Banna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: