Jurang Pemisah antara Da’i dan Da’wah

Munculnya banyak aktivis harakah dan jama’ah da’wah merupakan buah yang patut disyukuri, terlepas dari penyimpangan dan kekurangan yang terdapat pada masing-masing harakah, namun fenomena kebangkitan Islam (Ash Shahwah al Islamiyyah) semakin tampak ke permukaan. Masjid semakin penuh dengan jama’ah yang sebagian besar adalah anak-anak muda, al Quran yang lebih banyak dibaca oleh kaum muda, maraknya budaya jilbab hingga berbagai aktivis Islami lainnya yang kian massif dalam men-syiarkan Islam dan mengenalkannya ke seluruh pelosok bumi.

Jalan Da'wah adalah Jalan yang Panjang

Namun demikian, aktivitas ini tidak luput dari beberapa kekeliruan yang meneror para aktivisnya. Apakah merupakan penyakit individu atau kelompok. Penyakit ini lambat laun semakin menghambat laju da’wah dan yang lebih parah adalah menjauhkan da’i dan mujahid dari jalur yang benar. Padahal Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan jalan da’wah tersebut. Adapun beberapa kekeliruan yang saat ini nampak dalam diri para da’i dan mujahid itu, menurut pengamatan penulis adalah sebagai berikut.

1. Semangat dan amal tanpa ilmu

Urgensi ilmu dalam amal Islam tidak perlu dijelaskan panjang lebar lagi di sini, dalil-dalil yang menjelaskan perkara ini sangat banyak. Amal yang tidak dilandasi ilmu akan tertolak, bahkan dimurkai oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Begitu pun semangat yang membara, akan sia-sia jika ia hanya dibiarkan menggelora namun miskin ilmu dan hujjah. Padahal da’wah tidak akan tegak kecuali dengan hujjah yang nyata.

Hilangnya ilmu dalam kehidupan da’i juga akan menyebabkan terjadinya berbagai penyimpangan dan kesesatan. Hilangnya ilmu juga akan mengakibatkan para da’i salah langkah, salah ucap, dan salah dalam menentukan pilihan-pilihannya.

Hal ini memang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bahwa Allah tidak akan mencabut ilmu itu langsung ke langit, namun melalui para ulama yang wafat satu demi satu, lalu kemudian muncullah para ruwaibidhah, yakni orang-orang yang berfatwa namun pada asalnya dia adalah orang bodoh; orang-orang yang sok bisa mengurus berbagai permasalahan ummat, yang pada akhirnya akan menjerat ummat dalam jurang kesesatan, semakin jauh dan semakin jauh.

2. Aktivitas yang padat, ruhiyah yang kering

Penyakit yang kedua biasanya berkaitan erat dengan penyakit yang pertama. Kurangnya ilmu akan mengakibatkan para da’i dan mujahid menjadi aktivis yang lemah iman. Semangat mereka bukan karena Allah, namun telah tergantikan oleh dunia dan isinya. Mereka lupa bahwa da’wah pada hakikatnya adalah mengajak manusia menuju Allah. Lalu, bagaimana mungkin kita akan mengajak menuju Allah jika kita sendiri jauh dari Allah..?!

Apa yang terjadi dengan da’wah jika para pengusungnya justru terjerembab ke dalam dosa dan kehinaan..? Karenanya, sudah saatnya kita kembali menata hati kita, membersihkannya dan mensuplai ia dengan gizi yang baik, yakni ibadah yang benar, yang shahih, tidak sekedar banyak namun berkualitas di hadapan-Nya…

3. Berlawanan antara lisan dan akhlaq

Allah mencela orang-orang yang berkata namun tidak mengamalkan. Dengan berda’wah, kita berharap akan terdorong untuk melaksanakan apa-apa yang kita ucapkan. Tidak salah jika sekali atau dua kali kita luput dan terjebak dalam hal ini dan kita masih diberikan kesempatan bertaubat atas kesalahan-kesalahan kita. Namun, bagaimana jika hal tersebut berlaku berulang-ulang..? Kita yang masih sering tidak menepati janji, berdusta, tidak mengedepankan akhlaq dan adab Islami dalam kehidupan kita, padahal tidaklah Rasulullah di utus selain untuk menyempurnakan akhlaq…

Di sisi lain, seorang da’i kadang terlalu keras dalam berda’wah sampai-sampai para pendengarnya kabur dan membencinya. Bukan membenci karena kebenaran yang ia bawa, namun karena cara dia menyampaikan kebenaran yang tidak tepat.

Akhlaq yang mulia sudah sepantasnya menjadi perhiasan dalam diri seorang da’i. Tidak mudah memang, namun usaha kita ke arah sanalah yang akan dinilai, baik oleh Allah maupun oleh ummat. Biarkan ummat merasakan keindahan da’wah dari lisan dan akhlaq para da’inya, sehingga mereka tidak meninggalkan sang da’i dan mau mengikuti kebenaran atas izin Allah…

4. Mengejar kuantitas bukan kualitas

Tidak salah memperbanyak ibadah, juga tidak salah memperbanyak jumlah kader da’wah untuk bergabung dalam lingkaran da’wah kita. Namun, bagaimana mungkin kita melakukannya dalam kualitas yang minim..? Allah meminta ahsanu ‘amala (yang paling baik amalannya) bukan aktsaru amala (yang paling banyak amalannya)… Karenanya fokus kita sekarang harus berubah, yakni meningkatkan kualitas amal dan kualitas kader, karena hanya dengan amal dan kader yang berkualitaslah Islam sampai ke seluruh penjuru negeri.

5. Terfokus hasil bukan proses

Kita menyusun jadwal, rencana, target, dan indikator keberhasilan. Lalu, pada saat yang ditentukan kita tidak berhasil meraihnya. Apakah da’wah kita gagal..???

Demi Allah, tidak..!!! Tidak, wahai saudaraku. Rasulullah mengabarkan kepada kita bahwa pada hari akhir para nabi akan bersama para pengikutnya, ada yang ratusan, ada yang sepuluh, ada yang tiga orang, dan juga ada yang tidak bersama siapa-siapa… Apakah kita akan berkata terhadap nabi yang tidak membawa siapa-siapa ini dengan perkataan yang buruk..??? Menganggap da’wahnya gagal..?!

Sangatlah picik jika kita berpikir demikian. Rasulullah pun dengan dengan kehendak Allah tidak bisa mengajak Abu Thalib dalam indahnya Islam. Dan begitu banyak diceritakan dalam al Quran bahwa para nabi dan Rasul dikhianati oleh kerabatnya sendiri. Namun, di hadapan Allah, mereka adalah para nabi dan Rasul yang telah berhasil, yakni berhasil menjaga tauhidullah, berhasil untuk tetap menyampaikan walaupun harus ditentang dan diperangi hingga dibunuh.

Kegagalan da’wah adalah pada saat para da’i meninggalkan ilmu dan iman (tawhidullah); adalah pada saat para da’i meninggalkan amal shalih; adalah pada saat para da’i dan mujahid keluar dari aktivitas da’wah dan jihadnya… Sedangkan keberhasilan da’wah di hadapan Allah adalah pada saat kita berpegang teguh pada kebenaran, menyampaikan kebenaran, dan bersabar atas segala halangan dan rintangan yang ada.

6. Tergesa-gesa

Penyakit ini timbul diakibatkan penyakit sebelumnya. Saat da’i dan mujahid terfokus pada tujuan, ia akan tergesa-gesa dalam berda’wah. Melakukan banyak manuver padahal kekuatan belum memadai, melakukan konfrontasi padahal tenaga belum mencukupi, akhirnya yang ada hanyalah penindasan dan penindasan yang terus dilakukan oleh thaghut dan kaum kuffar lainnya.

Di satu sisi, menampakkan keislaman adalah kewajiban, namun di sisi yang lain, membangun kekuatan dan strategi yang matang adalah wasilah yang diharapkan sanggup memenangkan da’wah, atas izin Allah.

Kita tidak perlu terlalu dipusingkan akan tegaknya kekufuran di atas bumi dan beranggapan bahwa hal itu harus dihancurkan secepat mungkin. Yang perlu kita yakini adalah bahwa kekufuran pasti akan Allah lenyapkan, sedangkan tugas kita adalah menyiapkan sarana dalam meruntuhkan kekufuran tersebut, walaupun pada akhirnya kekufuran itu baru akan tumbang beratus-ratus tahun kemudian.

Syaikh Said Hawwa pernah berkata, “Kita bersabar dalam membangun, hingga mendapatkan bengunan yang kokoh adalah jauh lebih baik daripada tergesa-gesa namun rapuh dan cepat hancur.”

7. Menghalalkan segala cara

Penyakit ini pun muncul dari kedua penyakit di atas yang telah disebutkan sebelumnya. Terfokus pada hasil, tergesa-gesa, dan akhirnya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

Tujuan yang baik mewajibkan menggunakan sarana yang baik, inilah jalan sunnah nabawiyah… Menegakkan diinullah adalah tujuan mulia, maka sarana untuk mencapainya pun harus mengikuti apa yang Allah kehendaki, bukan hasil pemikiran logika dan hawa nafsu kita belaka… Allah yang paling tahu kemashlahatan bagi ummatnya… Allah yang paling faham kemashlahatan bagi gerakan da’wah… Kita sebenarnya hanya menduga-duga tanpa dalil yang jelas…

8. Terjebak ashabiyyah dan kultus individu

Hal ini yang paling banyak menjangkiti para da’i dan mujahid. Bai’at mereka terhadap satu kelompok da’wah seolah tidak akan sempurna sebelum berhasil membuka borok kelompok yang lainnya, dengan bahasa yang kasar yang tidak pernah diajarkan nabi. Tanpa metode dan kaidah yang syar’i dalam menjatuhkan hukum dan sikap berlebihan lainnya.

Jika yang dimaksudkan adalah mengingatkan penyimpangan yang terjadi pada suatu kelompok, maka caranya adalah dengan cara yang paling baik (ahsan), bukan dengan menghujat, mencaci, dan memaki, padahal kesesatan tersebut belum sampai membatalkan Islam, namun jika tujuannya adalah menginfokan pemikiran seseorang atau kelompok yang menyimpang dari manhaj ahlus Sunnah, maka kita pun wajib merinci dimana kesalahannya, karena sungguh jangan sampai satu keburukan pada seseorang atau sebuah kelompok membuat kita menolak secara keseluruhan. Kita harus adil, dan inilah yang diajarkan oleh masyaikh kita dari kalangan ‘ulama salaf as shalih.

Tidak ada seorang pun yang ma’shum kecuali Rasulullah… Sedangkan pendapat manusia, selain beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam, bisa diterima atau ditolak… Perkataan para ulama membutuhkan penguatan dalil, bukan justru dijadikan dalil…

9. Melupakan orang terdekat

Para aktivis da’wah dan jihad, terutama yang jauh dari sanak keluarganya, seringkali terfokus pada objek yang dekat dengan dirinya pada saat itu, sedangkan objek yang terdekat seperti orang tua, kakak, adik, dan kerabat lainnya terlupakan dari risalah da’wah yang kita biasa lakukan pada orang lain.

Seharusnya da’wah itu menyentuh diri kita, lalu orang tua kita, lalu adik kakak kita, lalu paman bibi kita, lalu orang yang dekat dengan kita… Terlepas mereka mau menerim atau tidak, tugas kita hanya menyampaikan… Sampaikanlah kebenaran pada orang terdekatmu, jika kamu mencintainya, karena risalah da’wah adalah risalah cinta… “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

10. Melupakan i’dad jihadiy

Aktivitas yang padat, kegiatan yang banyak, dan belajar menuntut ilmu tidak seharusnya membuat kita melupakan i’dad. Sungguh Allah telah memerintahkannya, bahkan dalam kondisi yang damai sekalipun. Jadi bagi kita yang masih jauh dari tanah jihad, bukan berarti kewajiban mempersiapkan diri dalam berperang menjadi hilang. Sungguh, jika kita berniat pergi ke medan jihad dengan sungguh-sungguh dan kita pun mempersiapkannnya dengan sungguh-sungguh, maka kita akan mendapat pahala jihad, dan jikalau kita wafat dalam kondisi demikian, insya Allah akan diberi gelar syuhada oleh Allah… Namun sebaliknya, jika kita melupakan jihad dan kita mati dalam keadaan hati kita belum pernah terbetik niat untuk berjihad, maka Rasulullah mengabarkan kita mati dalam keadaan munafiq… Na’udzu billah

Pada akhirnya, semoga Allah meneguhkan langkah kita di atas jalan da’wah dan jihad ini sampai ajal menjemput kita dan kita wafat di dalam barisan para syuhada… Aamiin

Wabillahi taufik…
Al Faqir ilaLlah…

Akhukum Fillah,

–Al Fadhli–

DIMUAT DI :

MAJALAH AN NAJAH NO.2/VI/NOVEMBER/2010
EDISI 62 DZULQA’DAH 1431 H/NOVEMBER 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: