Hasan Al Bashri dan Seorang Nashrani

Dikisahkan bahwa Imam Hasan Al Bashri memiliki seorang tetangga yang beragama Nashrani. Tetangganya ini memiliki sebuah kamar kecil yang digunakan untuk buang air kecil. Kamar kecil tersebut terletak di loteng rumahnya yang menyatu dengan rumah Imam Hasan Al Bashri.

Air kencing dari kamar kecil tersebut senantiasa merembes dan menetes ke dalam kamar Imam Hasan Al Bashri. Namun, Al Imam tidak pernah mengeluh atau memberitahukan hal tersebut kepada tetangganya. Beliau selalu bersabar dan tidak ingin mempermasalahkan hal ini sama sekali. Bila air mulai menetes dari atap, Al Imam menyuruh istrinya meletakkan wadah yang digunakan untuk menadahi tetesan air kencing itu agar tidak mengalir ke mana-mana.

Kondisi ini berlangsung selama bertahun-tahun dan Al Imam tetap tidak membicarakan hal tersebut atau memberitahukan hal ini kepada tetangganya sama sekali. Beliau ingin benar-benar mengamalkan sabda Rasuulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangganya.”

Pada suatu hari Al Imam menderita sakit. Tetangganya yang nashrani itu datang ke rumah Al Imam untuk menjenguknya. Ia kemudian merasa aneh saat ada air menetes dari atap kamar Al Imam. Ia melihat dengan seksama tetesan air yang terkumpul dalam wadah. Ternyata air kencing! Tetangganya itu tersentak dan segera menyadari bahwa air kencing itu merembes dari kamar kecilnya yang ia buat di loteng kamarnya. Ia pun bertambah heran karena Al Imam tidak pernah memberitahukan hal ini kepadanya. Akhirnya ia pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Al Imam,

“Imam, sejak kapan engkau bersabar atas tetesan air kencing kami ini?” Tanya si tetangga.

Imam Hasan Al Bashri diam tidak menjawab. Beliau tidak mau membuat tetangganya merasa tidak enak. Namun, tetangganya mendesak Al Imam,

“Imam, katakanlah dengan jujur, sejak kapan engkau bersabar atas tetesan air kencing kami? Jika tidak kau katakan maka kami akan sangat merasa tidak enak.”

Akhirnya Al Imam pun menjawab, “Sejak dua puluh tahun yang lalu.” Jawab Al Imam dengan suara yang parau.

“Kenapa engkau tidak pernah memberitahuku?” Tanya sang tetangga begitu keheranan.

“Nabi mengajarkan untuk memuliakan tetangga. Beliau bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangganya.”

Seketika itu tetangganya yang nashrani terbuka hatinya untuk menerima Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat di depan Imam. Allahu Akbar

Inilah sepenggal kisah saat kegungan Islam terpancar dari akhlaq para pemeluknya. Sebuah gambaran utuh akan kebenaran Islam yang dipraktikkan oleh generasi terbaik yang menjalankan Islam dengan sepenuh hatinya. Semoga Allah meneguhkan kita di atas kebenaran. Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: