Shiyaam dan Kesehatan

Tidak diragukan lagi bahwa shiyaam (berpuasa) memiliki hikmah yang luar biasa bagi kesehatan seseorang yang melaksanakannya. Telah kita bahas bersama di atas bahwa dalam sebuah riawayat Rasulullah saw. pernah bersabda bahwa perut adalah sumber segala penyakit. Maka, cara yang paling efektif untuk mencegahnya adalah dengan melakukan tindakan preventif, yaitu mengurangi zat yang masuk ke dalam perut. Allah berfirman, “Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raaf, 7: 31).

piss

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Sebagaimana sebuah kaidah fiqih “dar`ul fasad awla min jalbil mashalih” menolak kerusakan lebih baik daripada mengambil manfaat. Artinya, apabila dalam suatu perkara terlihat adanya manfaat atau mashlahah, namun di situ juga ada mafsadah atau kerusakan, maka haruslah menghilangkan mafsadah atau kerusakan, karena kerusakan dapat meluas ke mana-mana, sehingga akan mengakibatkan kerusakan yang lebih besar, walaupun pada akhirnya kita tidak mendapatkan manfaat yang dimaksud.

Di dalam makanan tentu terdapat manfaat yang sungguh luar biasa, sehingga kita butuh makanan untuk menghilangkan lapar, menguatkan otot, serta optimal dalam beribadah. Namun, saat kita makan berlebihan, makanan yang baik pun berbalik menjadi racun yang menyerang tubuh kita. Dalam titik seperti ini, maka tidak makan untuk menghindari racun lebih diutamakan daripada kita tetap makan untuk menghilangkan lapar namun racun ikut masuk ke dalam tubuh kita.

Maka dari itu, Islam mengajarkan ummatnya untuk senantiasa menjaga makanan dengan berpuasa. Bahkan, dalam satu tahun, ada satu bulan penuh yang sengaja disyari’atkan oleh Allah untuk ummat muslim berpuasa penuh. Hal ini jika dilihat dari sudut pandang kesehatan mengandung makna bahwa dalam setahuh memang harus ada satu masa di mana tubuh harus menjaga kembali kinerjanya, menahan dari makanan yang kadang menjadi racun bagi tubuh kita. Dengan berpuasa, organ-organ tubuh kita, khususnya organ pencernaan akan melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas kerja. Karena orang yang berpuasa memiliki pola makan yang sangat teratur. Hal ini dapat membantu kinerja dari organ-organ poencernaan untuk bisa melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas kerja. Apalagi, jika kita juga berpuasa pada selain bulan Ramadahn, tentu akan sangat membantu kesehatan tubuh kita.

Selain itu, shiyam merupakan perisai, sebagaimana perisai seorang prajurit ketika berperang. Dari Abu Hurayrah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, “Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari). Sedangkan dari ‘Utsman ibn Abi ‘Ash radhiyallahu ‘anhu
, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Puasa adalah perisai, seperti perisai (yang digunakan) salah satu dari kalian untuk berperang.” (HR. Nasa’i).

Dari Abu Ubaydah radhiyallahu ‘anhu, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Puasa itu adalah perisai selama itu tidak terbakar.” Ad-Darimi menambahkan, “(terbakarnya perisai) Dengan membicarakan kejelekan orang lain (ghibah).” Dari ‘A`isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Puasa adalah perisai dari api neraka.” Dalam riwayat Ahmad, dari Abu Hurayrah, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Puasa adalah perisai dan benteng dari api neraka.”

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah berkata dalam Ath Thibb An Nabawi bahwa puasa adalah perisai bagi penyakit ruhani, hati, dan badan, serta memberikan manfaat yang tidak terhitung. Puasa juga memberikan peran yang luar biasa dalam menjaga kesehatan, menghancurkan sisa-sisa makanan, dan menjaga diri dari makanan yang membahayakan. Terlebih apabila dilakukan dengan benar.

Tubuh sangat memerlukan puasa untuk beristirahat. Kemudian, puasa juga dapat mengatur stamina tubuh dan anggota-anggota tubuh. Yang terpenting dari itu semua adalah bahwa puasa dapat memberikan kebahagiaan hati cepat atau lambat (di dunia dan akhirat). Ini merupakan hal yang sangat bermanfaat bagi seseorang. Jadi, puasa memberikan pengaruh positif yang sangat besar bagi kesehatan dan kehidupan seseorang.

Sedangkan Ibn ‘Arabi berkata, “Sesungguhnya puasa itu perisai dari api neraka, karena puasa dapat mengekang syahwat. Dan neraka itu dikelilingi oleh syahwat.” Hal ini telah dibuktikan dalam sebuah penelitian di sebuah Rumah Sakit di Amerika. Sebagaimana yang dikutip oleh Abdullah Hajjaj dalam at-Tadawi bi ash-Shiyam karya Syaikh Mutawalli Sya’rawi, dari majalah al-Ghadad ash-Shama’ wa al-Istiqlab al-Iklinikah, no. 53 tahun 1981, menyatakan bahwa telah dilakukan penelitian terhadap 6 orang yang berusia sekitar 26 hingga 45 tahun. Penelitian ini dilakukan dengan tiga tahap:

  1. Tahap pertama : pengawasan (controlling), berlangsung selama tiga hari. Pada hari itu mereka makan seperti biasa.
  2. Tahap kedua    : puasa penuh, yaitu mereka puasa selama sepuluh hari, tidak makan dan minum, baik siang ataupun malam, kecuali air putih yang boleh diminum siang dan malam.
  3. Tahap ketiga    : memberikan makan, ini berlangsung selama lima hari.

Kemudian dilakukan pemeriksaan darah untuk mengetauhi hormon sex pada hari-hari tersebut:

  1. Hari kedua, yaitu ditengah masa pengawasan.
  2. Hari kesebelas, yaitu di tengah masa puasa, bertepatan hari kedelapan puasa.
  3. Hari keenam belas, yaitu hari ketiga masa diberikan makanan.

Pemeriksaan darah kembali dilakukan pada hari ketiga, kedua belas, dan ketujuh belas. Adapun hormon yang diteliti adalah:

  1. Testosterone (hormon sex laki-laki)
  2. Follicle Stimulating Hormone (FSH), yaitu hormon kantong perangsang
  3. Hormon Malutone (LH)

Hormon FSH dan LH merupakan hormon kelenjar kelamin (gomedotrobins). Adapun hasilnya adalah sebagai berikut:

  1. Turunnya testosterone dengan frekwensi yang cukup tinggi ketika melakukan puasa. Turunnya hormon itu terus terjadi hingga tiga hari diberikan makan (langkah ketiga). Akan tetapi pada hari keempat (langkah ketiga) hormon itu kembali naik dengan angka yang sangat tinggi, lebih tinggi dari sebelum berpuasa.
  2. Bertambah banyaknya FH dan LH yang keluar. Hal ini terjadi saat melaksanakan puasa hingga 3 hari setelah puasa.
  3. LH banyak terpisah dari aliran darah, sehingga libido menurun.
  4. FSH berkurang ketika berpuasa sehingga bertambah banyaknya hormon keluar dari tubuh.

Hal tersebut sebenarnya telah diisyaratkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam 15 abad yang lalu. Dari Abdullah, beliau alayhi shalatu wa sallam bersabda, “Wahai para pemuda, barangsiapa yang sudah ba’ah di antara kalian menikahlah. Karena menikah itu dapat menundukan pandangan dan menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa karena ia dapat mengekang hawa nafsu.” (HR. Bukhari Muslim). Kita lihat bagaimana Rasulullah  memberikan sebuah resep untuk menjaga kesehatan bagi para pemuda yang sudah ba’ah namun belum mampu menikah, yaitu dengan berpuasa. Dan hikmah di balik itu semua baru terungkap 15 abad kemudian.

Selain itu, dalam www.alsofwah.or.id pada 01 Ramadhan 1424 mengeluarkan artikel dengan judul Penelitian Ilmiah Tentang Puasa. Dalam artikel tersebut disebutkan beberapa manfaat shiyam dari sudut pandang medis.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يايها الذين أمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kalian untuk berpuasa sebagaimana juga telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah, 2: 183).

وأن تصوموا خير لكم إن كنتم تعلمون

“Dan andai kalian memilih puasa tentulah itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah, 2: 184).

Shiyaam, setelah melalui berbagai penelitian ilmiah dan terperinci terhadap organ tubuh manusia dan aktivitas fisiologisnya ditemukan bahwa aktivitas ini merupakan sesuatu yang harus dilakukan oleh tubuh manusia sehingga ia bisa mempertahankan kondisi tubuhnya dalam keadaan yang stabil. Kebutuhan berpuasa bagi kesehatan manusia adalah sebagaimana manusia membutuhkan makan, bernafas, bergerak, dan tidur. Jika seseorang tidak bisa tidur, atau tidak makan dan minum selama rentang waktu yang lama maka ia akan sakit. Tubuh manusia pun akan mengalami hal yang sama jika ia tidak berpuasa.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Nasaa`i dari Abu Umamah:

قال أبو أمامة: يا رسول الله، مرني بعمل ينفعني الله به، قال: ((عليك بالصوم فإنه لا مثل له ))

“Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepadaku satu amalan yang Allah akan memberikan manfaat-Nya kepadaku dengan sebab amalan itu”. Maka Rasulullah bersabda, “Berpuasalah, sebab tidak ada satu amalan pun yang setara dengan puasa”.

Berpuasa dapat membantu tubuh untuk membuang sel-sel yang sudah rusak, sekaligus hormon atau zat-zat yang melebihi jumlah yang dibutuhkan tubuh. Ini adalah metode yang bagus untuk sistem pembuangan sel-sel atau hormon yang rusak dan membangun kembali tubuh dengan sel-sel baru. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang difahami kebanyakan orang bahwa shiyaam menyebabkan orang menjadi lemah dan lesu. Berpuasa yang baik bagi badan itu adalah dengan syarat dilakukan selama satu bulan berturut-turut dalam setahun, dan bisa ditambahkan 3 hari atau lebih pada setiap bulan. Hal ini sangat sesuai dengan anjuran Rasulullah ‘alayhi shalatu wa sallam dalam sebuah haditsnya:

(( من صام من كل شهر ثلاثة أيام فذلك صيام الدهر ))

“Siapa yang berpuasa tiga hari setiap bulan, maka itu sama dengan puasa dahr (puasa sepanjang tahun).”

 

Tom Branch, dari Columbia Press mengatakan:

“Aku menganggap puasa adalah pengalaman ruhani yang sangat luar biasa, lebih besar daripada pengalaman biologis/badan semata. Maka karena keinginan itu, aku mulai berpuasa dengan tujuan membersihkan diriku dari berat badan yang berlebih. Akan tetapi, ternyata aku mendapati bahwa puasa tersebut bermanfaat sekali bagi kejernihan pikiran. Puasa sangat membantu pandangan mata sehingga pandangan menjadi jelas sekali. Demikian juga sangat membantu dalam menganalisis ide-ide baru atau pun persepsi. Dan aktivitas puasaku belum berlalu beberapa hari, tetapi aku mendapati pengaruh kejiwaan yang demikian besar.

Aku telah berpuasa beberapa kali hingga sekarang. Dan aku biasanya memilih waktu antara 1 sampai 6 hari. Dan pada awalnya tujuanku adalah untuk menghilangkan efek negatif dari makanan yang aku konsumsi, juga untuk membersihkan jiwaku dari hal-hal yang aku alami sepanjang hidupku, khususnya setelah memperhatikan dunia dalam beberapa bulan terakhir, dan aku melihat banyak kedhaliman dan kebrutalan yang manusia hidup di dalamnya. Sungguh aku merasa bertangung jawab terhadap keadaan mereka, maka aku pun berpuasa untuk menghilangkan pikiran-pikiran itu.”

“Setiap kali berpuasa perasaan tertarik pada makanan benar-benar hilang, dan aku merasakan badanku sangat rileks dan nyaman. Dan aku merasakan diriku berpaling dari fantasi-fantasi, emosi-emosi negatif seperti dengki, cemburu, suka ngerumpi, juga hilang perasaan takut, perasaan tidak enak, dan bosan. Semua perasaan-perasaan ini hilang dengan sendirinya ketika aku berpuasa. Dan sungguh aku merasa dengan pengalaman yang begitu mengesankan bersama dengan banyak manusia ketika berpuasa. Dan mungkin semua yang aku katakan ini adalah sebab yang menjadikan muslimin -sebagaimana aku melihat mereka di Turki, Suriah, dan Quds- dengan puasa selama sebulan penuh menjadikan jiwa-jiwa mereka begitu mengesankan yang tidak pernah aku temukan di belahan dunia manapun”.

Dalam sebuah penelitian ilmiah juga dibuktikan bahwa shiyaam dapat mencegah beberapa macam penyakit serta menjaga kestabilan kondisi tubuh, di antaranya.

Fasting can change your life

 

Mencegah Dari Tumor

Puasa berfungsi sebagai “dokter bedah” yang menghilangkan sel-sel yang rusak dan lemah di dalam tubuh. Maka, rasa lapar yang dirasakan orang yang sedang berpuasa dapat menggerakan organ-organ internal di dalam tubuh untuk menghancurkan atau memakan sel-sel yang rusak atau lemah tadi untuk menutupi rasa laparnya. Maka hal itu merupakan saat yang baik bagi badan untuk mengganti sel-selnya dengan sel-sel baru sehingga bisa kembali berfungsi dan beraktivitas. Hal tersebut juga dapat menghilangkan atau memakan organ-organ yang sakit dan memperbaharuinya. Puasa juga berfungsi menjaga tubuh dari berbagai zat yang berlebih, seperti kelebihan daging atau lemak, sekaligus bisa mencegah terjadinya tumor ketika awal-awal pembentukannya.

 

Menjaga Kadar Gula Dalam Darah

Saat makanan kelebihan kandungan insulin, maka pankreas akan mengalami tekanan dan melemah. Jika hal ini dibiarkan, pankreas tidak bisa menjalankan fungsinya. Maka, kadar darah pun akan merambat naik dan terus meningkat hingga akhirnya muncul penyakit diabetes. Berpuasa berfungsi menurunkan kadar gula dalam darah hingga mencapai kadar seimbang. Maka sesungguhnya puasa memberikan kesempatan kepada kelenjar pankreas untuk mengoptimalkan kinerjanya. Pankreas kemudian mengeluarkan insulin yang menetralkan gula menjadi zat tepung dan lemak untuk dikumpulkan di dalam pankreas. Di beberapa Negara, untuk menanggulangi diabetes, mereka menggunakan terapi yang mengikuti “sistem puasa” selama lebih dari 10 jam dan kurang dari 20 jam. Setiap kelompok mendapatkan pengaruh sesuai dengan keadaannya. Kemudian, para pasien tersebut mengonsumsi makanan ringan selama berurutan yang kurang dari 3 minggu. Metode semacam ini telah mencapai hasil yang menakjubkan dalam pengobatan diabetes dan tanpa menggunakan satu obat kimia sintetis pun.

 

Berpuasa Adalah Dokter Yang Paling Murah

Sesungguhnya berpuasa adalah “dokter” yang paling murah secara mutlak. Sebab puasa bisa menurunkan berat badan secara signifikan, dengan catatan ketika berbuka puasa memakan makanan dengan menu seimbang dan tidak mengkonsumsi makanan dan minuman langsung ketika berbuka. Rasullulah saw. ketika memulai ifthar adalah dengan memakan beberapa buah kurma dan bukan yang lain, atau seteguk air putih lalu shalat. Inilah petunjuk yang seharusnya kita ikuti.

Itu adalah sebaik-baik petunjuk bagi orang yang berpuasa dari makanan dan minuman untuk waktu yang lama. Kandungan gula yang ada dalam kurma sangat mudah dicerna dan dikirim ke seluruh tubuh oleh darah, sehingga badan akan kembali pada kondisi yang fit. Selain itu, dalam kondisi lambung yang kosong, rasa manis kurma sanggup menetralisir asam lambung yang berlebih sehingga mencegah terjadinya maag atau naiknya udara asam lambung ke tubuh bagian atas.

Adapun jika kita langsung menyantap makanan yang cukup berat, tubuh memerlukan waktu yang lumayan lama untuk bisa mencerna dan menyerap sari makanannya dan baru kemudian kita merasa kenyang. Pada saat seperti ini, ketika awal berbuka kita akan tetap merasa lapar. Akhirnya, kita kurang bisa memperoleh manfaat langsung dari puasa yang telah kita lakukan seharian, yaitu memperoleh kesehatan dan vitalitas, bahkan bias jadi akan menyebabkan obesitas. Tentu saja, hal ini bukanlah tujuan Allah mensyari’atkan shiyaam bagi hamba-hambaNya. Allah berfirman:

شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان، فمن شهد منكم الشهر فليصمه، ومن كان مريضا أو على سفر فعدة من أيام آخر، يريد الله بكم اليسرى ولا يريد بكم العسر (البقرة: 185)

“Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan atas petunjuk itu dan pembeda. Maka siapa yang menemui bulan Ramadhan ini maka berpuasalah. Dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan maka dia mengganti puasa tersebut pada bulan-bulan lain. Allah menginginkan untuk kalian kemudahan dan tidak menginginkan bagi kalian kesulitan” (QS. Al-Baqarah: 185).

 

Penyakit-Penyakit Kulit

Mungkin terasa asing bagi sebagian besar kita saat mendengar ini. Namun, memang demikianlah kenyataannya. Hal ini disebabkan bahwa dengan berpuasa, maka kandungan air dalam darah berkurang, sehingga mengakibatkan juga berkurangnya kandungan air yang ada di kulit. Hal ini pada kemudian akan:

  1. Menambah kekuatan kulit dalam melawan bakteri, mikroba, pathogen, dan penyakit-penyakit dalam perut.
  2. Meminimalisir kemungkinan penyakit-penyakit kulit yang menyebar di sekujur badan seperti sakit psoriasis (sakit kulit kronis).
  3. Meminimalisir alergi kulit dan membatasi masalah kulit berlemak.

 

Ny. Ilham Husain, seorang puteri Mesir menuturkan:

“Ketika aku berusia 10 tahun, aku menderita sakit kulit yang kronis. Penyakit ini muncul dengan warna merah, dan aku tidak menemui satu jenis obat pun. Ketika usiaku mencapai akhir 20 tahun, dan dekat dengan waktu pernikahanku, aku semakin berduka dan mengucilkan diri dari masyarakat, aku benar-benar sumpeg (sempit dada). Akhirnya, salah seorang sahabat ayahku yang selalu membiasakan diri melakukan puasa memberi nasihat kepadaku, “Cobalah wahai puteriku, engkau berpuasa sehari kemudian engkau berbuka (makan) sehari, sebab hal itulah yang juga menjadi sebab kesembuhan suamiku dari penyakit yang sampai sekarang tidak diketahui obatnya oleh dokter. Akan tetapi, lakukanlah dengan keyakinan bahwa penyembuh (asy-Syafii’) adalah Allahu ta’ala dan sesungguhnya sebab terjadinya obat seluruhnya ada di tanganNya. Maka, mohonlah kesembuhan terlebih dahulu kepadaNya dari penyakit yang engkau derita ini, lalu berpuasalah”.

Aku pun berpuasa, dan aku membiasakan diri ketika berbuka puasa mengonsumsi berbagai sayuran dan buah-buahan, kemudian setelah 3 jam aku baru mengonsumsi makanan berat. Dan aku makan (tidak puasa) pada hari ke dua, lalu berpuasa para hari ke tiga, dan demikian seterusnya. Kemudian mulai terjadi hal yang mengherankan semua orang, yaitu sakit yang aku derita itu mulai sembuh setelah melewati waktu 2 bulan sejak aku berpuasa. Aku hampir tidak percaya, dan aku memulai seperti biasa. Aku melihat bekas sakitku itu sedikit-demi sedikit mulai hilang dan sampai akhirnya benar-benar sembuh. Akhirnya, aku pun tidak pernah tertimpa penyakit kulit tersebut sampai akhir hayatku.”

 

Puasa Mencegah “Penyakit Orang Kaya”

Penyakit ini sering juga disebut dengan nama ” nacreous“, disebabkan karena kelebihan makanan dan terlalu sering makan daging. Akhirnya tubuh tidak bisa mengurai berbagai protein yang ada dalam daging. Sehingga akan menyebabkan tumpukan kelebihan urine dalam persendian, khususnya pada persendian jari-jari besar di kaki. Ketika persendian terkena penyakit nacreous, maka ia akan membengkak dan memerah dengan disertai nyeri yang sangat. Terkadang kadar garam pada air kencing berlebih dalam darah, kemudian ia mengendap di ginjal dan akhirnya mengkristal di dalam ginjal. Tentu saja, mengurangi porsi makan merupakan sebab (baca: washilah) bagi kesembuhan dari penyakit yang sangat berbahaya ini.

 

Pembekuan Jantung dan Otak

Para profesor yang melakukan penelitian ilmiah dalam bidang medis –mayoritasnya adalah non-muslim– menegaskan akan kebenaran puasa, sebab puasa bisa menjadi sebab berkurangnya minyak dalam tubuh dan pada gilirannya akan menyebabkan berkurangnya kolesterol. Sedangkan kelebihan kolesterol dapat menghambat aliran darah yang menyebabkan peradangan pada jantung dan otak. Karena itu tidaklah berlebihan jika kita mau mendengarkan kepada firman Allahu ta’ala yang berbunyi:

وأن تصوموا خير لكم إن كنتم تعلمون

“Dan andaikan kalian mau berpuasa tentu itu lebih bagus bagi kalian jika kalian mengetahui.”

Kini, berapa ribu manusia yang terbiasa untuk makan dan minum secara terus menerus tanpa ilmu ataupun bukan karena rasa lapar. Pola hidup yang buruk inilah yang menimbulkan banyak penyakit baru pada masa kini. Andai saja mereka mengikuti sunnah Rasulullah ‘alayhi shalatu wa sallam yang tidak berlebihan dalam hal makan dan minum serta membiasakan puasa minimal tiga kali tiap bulan tentu mereka akan mengetahui bahwa berbagai penyakit yang mereka alami akan berakhir serta akan turun berat badan mereka beberapa puluh kilogram tanpa harus menggunakan obat-obatan kimia sintetis dan program diet yang memberatkan.

 

Sakit Persendian Tulang

Sakit persendian adalah penyakit yang timbul karena berlalunya waktu yang panjang. Dengan hal itu maka organ-organ tubuh mulai terasa nyeri dan sakit-sakitpun akan menyertai, dan kedua tangan dan kaki akan mengalami nyeri yang banyak. Penyakit ini terkadang menimpa manusia pada fase-fase akhir usianya, akan tetapi lebih khusus lagi pada usia antara 30 s/d 50 tahun. Dan masalah yang sesungguhnya adalah kedokteran modern belum mampu menemukan obat atas penyakit ini sampai sekarang.

Akan tetapi percobaan ilmiah yang dilakukan di Rusia menegaskan bahwasanya puasa bisa menjadi sebab kesembuhan penyakit ini. Dan puasa bisa mengembalikan atau membersihkan tubuh dari hal-hal yang membahayakan. Puasa ini dilakukan selama tiga minggu berturut-turut. pada kondisi ini maka mikroba ataupun bakteri penyebab penyakit ini menjadi zat yang dibersihkan pada badan selama puasa. Percobaan ini dilakukan terhadap jumlah penderita penyakit tersebut dan ternyata memperoleh hasil yang menakjubkan.

Kondisi otak manusia juga akan terasa lebih baik pada waktu orang tersebut melakukan ibadah shiyam. Hal ini dibuktikan dengan otak seorang yang sedang berpuasa lebih banyak mengeluarkan omega-3.

Wallahu a’lam…

==========

==========

Maraji’

Al-Jawziyyah, Ibn Qayyim. 2004. Metode Pengobatan Nabi saw. (terj. Abu Umar Basyier Al-Maidani). Jakarta: Griya Ilmu

Ibn ‘Abdu `l Fattaah, Aiman. 2005. Keajaiban Thibbun Nabawi (terj. Asy-Syifaa’ min Wahyi Khaatmi `l Anbiyaa’ oleh Hawin Murtadlo). Solo: Al-Qowam

Mahmud, Mahir Hasan. 2007. Ath-Thibb al-Badil, ats-Tsimar wa al-A’syab al-Waridat fii al-Quran al-Karim wa as-Sunnah an-Nabawiyah, terjemahan bahasa Indonesia Mukjizat Kedokteran Nabi. Jakarta: Qultum Media

Ramadhani, Egha Zainur. 2007. Super Health: Gaya Hidup Sehat Rasulullah. Yogyakarta: Pro-U Media

Raqith, Hamad Hasan. 2003. Kiat Hidup Sehat Islami; Mengungkap Metode Menjaga Kesehatan Menurut Rasulullah saw. (terj. Jujuk Najibah Ardianingsih) ed. Hadratul Ma’wa. Yogyakarta: Zuha Pustaka

Sya’rawi, Mutawalli. 2007. Keistimewaan Puasa (terj. Ahmad Rusydi Wahab, Lc. Cet. II). Jakarta: Qultum Media

Washfi, Dr. dr. Muhammad. 2008. Menguak Rahasia Ilmu Kedokteran dalam al-Quran (terj. Abdul Madjid, Lc.).Surakarta: Indiva Pustaka

Advertisements

Fadhilah-Fadhilah Da’wah

Da'wah

1)       Da’i adalah peran yang sangat dimuliakan Allah

Allahu ta’ala berfirman.

“Adakah yang lebih baik perkataannya selain dari orang-orang yang menyeru kepada Allah swt dan mereka beramal shalih dan berkata sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. Fushilat 41:33-34)

 

Jadi, da’wah merupakan suatu kemuliaan yang agung bagi pengembannya. Bahkan profesi sebagai da’i adalah profesi para nabi – manusia-manusia mulia dan didekatkan kepada Allah. Maka, tidak salah jika kita mulai sekarang berikrar “Nahnu du’at qabla kulli syaiy’in” (kami adalah da’i sebelum diri kami yang lainnya).

 

2)       Da’wah sangat besar pahalanya dan sebaik-baik amal

Da’wah adalah amal terbaik karena ia memelihara nilai-nilai Islam dalam pribadi dan masyarakat. Tanpa da’wah, ‘amal shalih tidak akan berlangsung. Karenanya, Allah subhanahu wa ta’ala menjanjikan balasan yang berlipat ganda kepada mereka yang masuk ke dalam barisan da’wah serta menyampaikan ilmu dan pengetahuan kepada orang lain.

Rasulullah saw. bersabda dalam banyak hadits, di antaranya adalah.

“Sungguh, sekiranya Allah memberikan hidayah kepada seorang lelaki lantaran (da’wah)-mu, itu lebih baik daripada seekor unta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Barang siapa yang menghidupkan sunnah hasanah dalam Islam, maka baginya pahala dan pahala orang yang telah mengikutinya tanpa terkurangi pahala mereka walau sedikitpun. Dan barangsiapa yang menghidupkan sunnah yang jelek dalam Islam, baginya adalah dosa dan dosa orang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)

Barangsiapa yang menyeru kepada hidayah, maka ia memperoleh pahala seperti pahala-pahala yang mengikutinya tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.” (HR. Muslim)

Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka ia memperoleh pahala sebagaimana pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)

 “Barangsiapa yang beramal shaleh baik laki-laki atau perempuan, sedang ia beriman, maka sesungguhnya Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami balas mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl 16:97)

 

Logikanya seperti ini, jika kita mengajak orang lain untuk shalat malam, dan ternyata pada malam itu dia shalat, sedangkan kita terlalu lelah sehingga tidak sempat untuk bangun, insya Allah, saat kita ikhlash mengajak orang tadi, kitapun akan mendapatkan pahala shalat malam sebagaimana yang diperoleh orang itu tanpa menguranginya sedikit pun. Itu jika yang kita ajak adalah satu orang. Bagaimana jika yang kita ajak adalah sepuluh, seratus, atau bahkan seribu orang..?!

Begitu pun saat kita berhasil membuat seorang muslimah untuk berhijab dengan benar. Ia menggunakan jilbab karena segala informasi yang diberikan oleh kita. Kemudian Allah menganugerahinya hidayah melalui lisan dan aktivitas kita. Berapa banyak pahala yang akan kita kumpulkan, karena setiap harinya, selama ia masih berhijab, pasti Allahu ta’ala menganugerahinya pahala yang senantiasa mengalir..?

Serta masih banyak lagi bentuk kebaikan yang bisa dilakukan untuk melipatkgandakan pahala kita. Termasuk menyampaikan keindahan Islam kepada mereka yang masih berada dalam kubangan kekufuran. Sampaikanlah… Karena jika pun mereka masih belum diberikan hidayah oleh Allah subhanahu wa ta’ala, setidaknya kita telah mendapatkan pahala karena telah menyampaikan kebenaran. Allahu Akbar..!

 

3)       Memperoleh keridhaan, kecintaan dan rahmat dari Allah

Aktivitas da’wah dan jihad akan mendapatkan curahan kasih sayang dari Allah subhanahu wa ta’ala. Firman-Nya.

Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih ? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam syurga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (Ash Shaff 61:10 – 13)

“Orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah 9: 71)

 

Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala yang menjanjikan kebaikan melalui al-Quran, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pun mendoakan kebaikan bagi mereka yang senantiasa menyampaikan pengetahuan yang ia miliki. Beliau ‘alayhi shalatu wa sallam pernah bersabda.

Semoga Allah mencerahkan seseorang yang mendengarkan dari kami satu hadits lalu ia menyampaikannya kepada orang lain. Sebab boleh jadi ia memberikan pemahaman kepada orang yang lebih faham daripada dirinya. Dan boleh jadi yang memberikan pemahaman itu bukan termasuk orang-orang yang faham.” (HR. Ibnu Hibban)

 

Lalu, apalagi yang engkau tunggu..? Kenikmatan dan keberkahan hidup di depan mata. Ia bisa kau genggam dengan aktivitas da’wah ilallah. Bergabunglah dalam barisannya, jadilah bagian dari para mujahid mujahidah da’wah. Raihlah keridhaan dan syurgaNya, yang di dalamnya terdapat bidadari-bidadari suci, di bawahnya mengalir sungai susu, madu, dan khamr, dan bisa dinikmati sepuasnya.

 

4)       A’dzham Ni’amillah (Nikmat Allah yang Terbesar)

Banyaknya nikmat Allah yang diterima seorang hamba adalah balasan atas da’wah yang dilakukannya. Di antara kenikmatan yang dirasakan adalah nikmat di dalam menjalani kehidupan. Nikmat iman, Islam, dan ikhwan dirasakan juga bagi yang berda’wah, juga ketenangan, kedamaian, kebahagiaan, nikmat lahir, nikmat batin, dan nikmat atas penerimaan kita terhadap realitas.

Salah satu kenikmatan yang lain adalah terhindarnya seorang da’i dari malapetakan di dunia. Karena aktivitas da’wah merupakan aktivitas untuk senantiasa menghidupkan ajaran-ajaran yang diridhai Allah. Sedangkan Allah telah mengisahkan kepada kita bagaimana bangsa-bangsa besar hancur luluh lantak diakibatkan mereka melakukan berbagai penyimpangan dari diinul-haqq. Firman Allah subhanahu wa ta’ala.

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukannya di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.” (QS. Al-An’aam 6: 6)

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (untuk menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Israa’ 17: 16)

“Telah dila’nati orang-orang kafir dan Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Maidah 5: 78-79)

 

Sedangkan untuk menghindari malapetaka seperti yang dikisahkan di dalam al-Qur’an, maka Allah memerintahkan kita untuk menyeru manusia ke dalam Islam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman.

“Dan tidaklah Tuhanmu akan membinasakan suatu negeri padahal penduduknya melakukan perbaikan.” (QS. Huud 11: 117)

 

Ya, penduduknya adalah mushlihuun. Maka, Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan mendatangkan malapetaka kepada negeri tersebut. Artinya, kebaikan individu (shalih) itu belum cukup untuk mencegah bencana dan adzabNya di dunia. Allah menegaskan dalam ayat yang lain.

“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang dzhalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasiq.” (QS. Al-A’raaf 7: 165)

 

Dalam sebuah riwayat Rasulullah pernah bercerita, bahwa ada seorang shalih yang berada di tengah-tengah negeri yang rusak secara ruhiyah, akhlaq, dan yang lainnya. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Malaikat untuk meluluhlantakkan negeri tersebut. Malaikat tidak mengadzab negeri tersebut karena ia melihat bahwa masih ada seorang shalih yang senantiasa menyebut namaNya. Malaikat itu kembali menghadap Allah dan bertanya perihal orang shalih di negeri tersebut. Namun, Allah murka dan berfirman “Orang itu yang pertama (dibinasakan)..!”

Hal tersebut dikarenakan keshalihan yang dimilikinya hanya untuk dirinya sendiri. Ia tidak menjadi seorang mushlih sehingga Allah subhanahu wa ta’ala sangat murka kepada orang tersebut. Ia menyembunyikan kebenaran dan takut untuk menyampaikan kebenaran yang diyakininya. Maka, sekali lagi bahwa keshalihan individu belum cukup untuk menghindari diri kita dari adzab di dunia.

 

5)       Al-Hayaah Ar-Rabbaaniyah (Kehidupan yang Rabbani)

Kehidupan rabbaniyyah akan dapat dirasakan dengan berda’wah. Seorang muslim yang disibukkan dengan da’wah akan senantiasa tunduk kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam kehidupannya, sehingga ia akan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan. Ia pun menyadari bahwa sebelum mengajak orang kepada Islam, ia harus mencontohkan nilai-nilai Islam itu terlebih dahulu pada dirinya, sehingga ia – meminjam istilah quantum da’wah dan tarbiyah – menjadi shalih dengan berda’wah. Maka, ketika setiap muslim telah tumbuh menjadi da’i, berkembang pula orang-orang shalih di atas muka bumi ini.

 

6)       Menjadi hujjah di hadapan Allah kelak

Dalam realitanya, akan ada orang-orang yang menjadi lawan-lawan da’wah. Akan ada orang-orang yang juga bersekutu untuk menghimpun kekuatan secara terorganisir demi hancurnya da’wah. Karena fithrah manusia yang dianugerahi kecenderungan untuk bertaqwa serta kecenderungan untuk berma’shiyat. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala, Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Kami ilhamkan kepadanya kefujuran dan ketaqwaan.”

Demikianlah Allah subhanahu wa ta’ala memberikan dua aspek yang ambivalen dalam diri manusia. Selanjutnya, tinggal manusia memilih, apakah ia mengikuti hawa nafsunya atau ia memilih untuk mengikuti naluri wahyu ilahy. Maka, sebuah keniscayaan pula bahwa akan ada orang-orang yang akan menjadi penghuni neraka jahannam. Namun sebelum “golongan kiri” tersebut diadzab oleh Allah subhanahu wa ta’ala di akhirat, akan ada sebuah sidang pertanggungjawaban, tentang mengapa dan bagaimana ia bisa melakukan begitu banyak kema’shiyatan. Tentang segala hal yang berkaitan dengan segala tindakan yang dilakukannya. Termasuk dalam sidang itu adalah sebuah pertanyaan tentang pertemuan hari tersebut. “…Sehingga apabila mereka telah sampai ke neraka, dibukakan pintu-pintunya dan penjaga-penjaganya berkata kepada mereka: ‘Apakah belum pernah datang kepadamu rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Rabbmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan hari ini?’…” (QS. Az-Zumar 39: 71).

Pertanyaan tersebut pasti ditujukan kepada orang-orang yang hidup pada masa nabi dan rasul diutus. Bagaimana dengan orang-orang yang hidup pada masa setelah wafatnya Rasul terakhir? Tentu saja mereka pun mendapatkan pertanyaan dengan esensi yang sama. Yang berbeda hanyalah perihal siapa yang menyampaikannya. Jika kepada orang-orang terdahulu Malaikat bertanya tentang datangnya seorang rasul, maka kepada orang-orang yang kemudian, Malaikat bertanya “Apakah belum pernah datang kepadamu orang-orang shalih, para ‘ulama, atau saudara-saudaramu yang memperingatkanmu akan pertemuan hari ini?”

Dapat dibayangkan jika yang ditanya adalah orang yang cukup dekat dengan kita. Lalu, jawaban dari orang tersebut adalah “belum pernah”. Sudah pasti Allah akan meminta pertanggungjawaban kepada kita sebagai orang yang cukup dekat dengannya tentang segala ilmu dan pengetahuan yang kita miliki dan mengapa kita tidak menyampaikan serta mentransfer kashalihan kita kepada orang lain. Apa yang bisa kita katakan di hadapan Allah yang sedang murka melihat kita? Mungkin yang ada hanyalah penyesalan mengapa ketika di dunia kita tidak menyampaikan kebenaran itu…

Maka dari itu, dengan menjadi seorang da’i, kita dapat berhujjah di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala bahwa kita telah menyampaikan kebenaran, membacakan ayat-ayat-Nya serta senantiasa mengingatkan manusia untuk ta’at kepadaNya. Sehingga tidak ada alasan bagi para pendosa itu untuk mengajak kita ke dalam jahannam. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahkan kepada kita syurga dan ridha-Nya, serta menjauhkan kita dari siksa neraka yang maha dahsyat. Aamiin.

Jangan Engkau Nikahi Perempuan Ini

 1.      Kelaki-lakian

Yaitu perempuan yang tidak menyukai kewanitaan dan feminisme. Padahal, yang paling menarik pada diri seorang perempuan adalah sifat-sifat feminim, kelembutan, dan ketulusannya. Inilah yang memikat dan membuat laki-laki mencintainya. Bagaimanakah seorang suami akan memperlakukan istri yang sifatnya kelaki-lakian? Di mana rambutnya dipotong pendek seperti laki-laki, suara yang nyaring atau tinggi, merokok, dan lain-lain.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mengutuk wanita yang kelaki-lakian.” (HR. Abu Dawud)

2.      Pembangkang

Yaitu istri yang selalu berusaha meyakinkan suaminya bahwa pemikiran-pemikiran sang suami adalah salah, tuntutan-tuntutan sang suami tidak penting, sehingga secara praktis harus diabaikan atau ditunda pelaksanaannya.

Dia akan mengatakan bahwa kesengsaraan, kemalasan, atau kecerewetannya bukan karena kepribadiannya jelek, melainkan karena ulah sang suami. Dia sulit dipuaskan. Bahkan, bisa memuji semua orang, kecuali suaminya.

3.      Pemarah

Yaitu wanita yang amarahnya dapat tersulut oleh hal-hal sepele tapi tidak mudah dipadamkan. Dia akan mengutuk, mencaci maki, melontarkan kata-kata kotor, menampar pipinya sendiri, bahkan merobek-robek bajunya jika permintaannya tidak segera dipenuhi oleh anak-anaknya atau suaminya.

4.      Tidak Beragama

Yaitu wanita yang mengabaikan shalat, tidak berjilbab, memamerkan perhiasan, mengobral pembicaraan, dan tidak sungkan tertawa terbahak-bahak di depan banyak orang. Jika dinasihati, dia berdalih hal ini tidak bersangkut paut dengan keimanan di hati.

Kepada wanita tersebut, saya katakan, iman bukanlah lamunan ataupun hiasan, melainkan sesuatu yang tertanam kukuh di dalam hati dan dibuktikan oleh perbuatan. Kian kukuh melaksanakan perintah Allah, kian jujur keislamanmu. Kalau tidak, itu adalah pengakuan palsu.

5.      Memiliki Hubungan Asmara Sebelum Menikah

Wanita seperti ini masih perawan pada zahirnya saja, tapi batinnya tidak. Dia telah memberikan hatinya yang mahal dengan harga murah kepada pemuda yang konyol dan tidak bertanggungjawab, lewat surat-surat cinta, pembicaraan di telepon, SMS, tukar-menukar kaset lagu atau hadiah-hadiah romantis, dengan anggapan pemuda itu akan menikahinya. Lebih parah lagi, dia bersedia berdua-duaan dan membiarkan pemuda itu mencumbunya. Dan yang paling parah, dia rela menyerahkan keperawanannya demi pemuda yang mengakui mau menikahinya tersebut.

Gadis yang menyerahkan diri kepada seorang pemuda sebelum menikah, takkan dinikahi oleh pemuda itu kecuali jika pemuda itu tidak punya rasa cemburu. Kebanyakan pemuda tidak suka menikahi gadis yang telah menyerahkan diri kepadanya, karena hal itu justru menjadi bukti bahwa gadis tersebut tidak dapat menjaga kehormatan dirinya.

Setelah menikah, gadis itu akan mengalami konflik batin. Apalagi jika lelaki yang dicintainya tidak mau menikahinya. Lalu, karena takut menjadi perawan tua, dia menikah dengan siapa saja yang meminangnya. Dia takkan setia kepada suaminya, menjadi pembangkang, pemarah, dan penggerutu, kecuali jika dia benar-benar bertaubat kepada Allah dan mengerti itulah jalan hidupnya.

Dikutip dari “Li man yuriidu az zawaaj… wa tazawwajSyaikh Fuad Shalih
terj. Untukmu yang Akan Menikah dan Telah Menikah hal 90-92.

Jangan Kau Menikahi Laki-Laki Ini

Hati-Hati Memilih Lelaki


 1.      Berani Meninggalkan Shalat

Orang yang berani meninggalkan shalat, berarti telah berani mengkhianati amanah Allah, apalagi amanah manusia. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Perjanjian kami dengan mereka adalah shalat. Orang yang meninggalkannya berarti dia telah kafir.” (HR. Tirmidzi)[1]

Bagaimana engkau dapat mempercayai suami yang tidak memenuhi syarat pertama yang ditetapkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, “Jika datang kepadamu orang yang kau sukai agamanya…,” padahal shalat adalah pilar agama.

2.      Gemar Melakukan Dosa Besar

Misalnya, mabuk, berzina, dan berjudi. Hidup bersama suami seperti ini sama dengan hidup di dalam neraka. Semoga mereka bertaubat kepada Allah, agar Dia mengampuni mereka.

3.      Dayyuts

Dayyuts adalah lelaki yang tidak memiliki rasa cemburu kepada istri. Dengan dalih kemajuan zaman, peradaban modern, dan perkembangan dunia, dia melarang istrinya berjilbab karena hal ini dianggapnya kuno dan membolehkan istrinya berjabatan (tangan, peny.), mengobrol, dan tertawa-tawa dengan laki-laki lain.

4.      Anak Mama (Manja)

Lelaki yang manja bukanlah laki-laki sejati. Dia tidak akan mampu mengambil putusan secara mandiri tanpa merujuk kepada ibunya.

5.      Jauh Lebih Tua

Engkau berusia 20 tahun, dia 60 tahun. Untuk apa? Harta? Karena dia memenuhi nafsumu untuk memiliki gaun-gaun indah dan perhiasan? Namun, ada satu hal yang tidak kau pertimbangkan, bahwa pada usia itu, nafsu seksualmu sedang membara, sedangkan nafsunya hampir padam. Bagaimana mengatasi masalah ini, wahai gadis muslimah?

6.      Sombong dan Senang Membanggakan Diri

Orang yang memiliki mentalitas seperti ini tidak mengenal perasaan cinta. Dia hanya mencintai dirinya sendiri. Jika dia menikah, dia tidak menikah karena cinta, tapi karena nafsunya menginginkan wanita itu.

7.      Workaholic (Gila Kerja)

Orang yang gila kerja hanya mengenal kerja. Dia akan terus menerus bekerja tanpa lelah dan bosan, demi kekayaan, status sosial yang tinggi, atau penghormatan orang lain. Baginya, pernikahan hanyalah pelangkap status sosial. Istri tak ubahnya sepotong perkakas rumah tangga. Jika dia butuh, dia memakainya dengan perasaan yang dingin. Banyak wanita yang terhormat dan suci merasakan problem seksual dan emosional karena diabaikan suami yang hanya memberikan harta dan makanan yang lezat.

8.      Pendurhaka kepada Orangtua

Pria yang seperti ini sebenarnya menderita sakit dan harus segera disembuhkan. Dia harus tahu, bahwa orang lain akan bersikap kepada dirinya sebagaimana dia bersikap kepada orang lain. Jika dia tidak berbakti kepada orangtua, tidak menuruti perintah mereka, padahal mereka memiliki hak untuk dipatuhi, apakah dia berharap istrinya berbakti dan menuruti perintahnya semata-mata karena dia punya hak untuk itu?

9.      Kebanci-bancian

Orang ini tidak dapat disebut laki-laki, karena sifat-sifatnya bukan sifat laki-laki; gaya, kata-kata, gerakan, dan pikirannya lebih menyerupai wanita. Dia tidak dapat diandalkan dalam kehidupan dan tidak memiliki kesiapan untuk memikul tanggungjawab. Sayangnya, lelaki seperti ini sangat banyak di zaman sekarang. Semoga Allah tidak memperbanyak jumlah mereka.

10.  Kikir

Kekikiran adalah penyakit yang sulit disembuhkan. Orang yang kikir tidak dapat menyenangkan dirinya ataupun orang lain kecuali setelah dia mati. Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam melarang kita bersikap kikir. Beliau bersabda, “Dan hindarilah sifat kikir, karena kekikiran telah menghancurkan orang-orang sebelum kamu, membuat mereka saling bunuh, dan melanggar kehormatan orang lain.” (HR. Muslim)

 

Dikutip dari “Li man yuriidu az zawaaj… wa tazawwajSyaikh Fuad Shalih terj. Untukmu yang Akan Menikah dan Telah Menikah hal 86-88.


[1] At Tirmidzi berkata : hadits hasan shahih menurut persayaratan Imam Muslim

Allah Pasti Menepati Djandjinja !

Penulis : Mohammad Natsir

Kabinet Natsir

Saudara pembatja,

Dalam menghadapi situasi jang kritis seperti dewasa ini kita hadapi, mungkin terdapat orang jang kurang kuat djiwanja, mendjadi putus asa atau nekat. Mendjadi orang jang „ja-is” atau mengambil langkah ,.tahlukah”. Ke-dua2-nja bukan sikap jang diridai Allah, tidak sesuai dengan iman jang dikandung oleh dada jang mu’min.

Kepada orang jang demikian itulah kuhadapkan sepatah kata ini. Bahwa situasi jang dihadapi oleh umat Islam dewasa ini kritis, memang ! Bahwa situasi itu pantas menggelisahkan, memang ! Bahwa karena itu umat Islam harus waspada, awas dan mengawasi, itulah sikap jang dengan sendirinja sudah djadi konsekwensi dari pada situasi itu.

Namun didalam kesibukan menjusun tenaga, membulatkan kesatuan umat untuk menghadapi segala kemungkinan, wadjiblah kita tin-djau, apakah situasi kritis jang kita hadapi sekarang ini, ada matjam tjontohnja didalam sedjarah perdjuangan umat Islam sepandjang tarich-nja 13 abad jang lampau itu.

Djawabnja : Ada, dan alangkah banjaknja ! Tetapi tjontoh2 jang bertemu dalam sedjarah itu, djauh lebih hebat dan lebih dahsjat. Situasi kritis jang menentang kita dewasa ini, sesungguhnja belumlah mentjapai taraf jang se-dahsjat2-nja, seperti jang pernah dilukiskan oleh Al-Quran didalam Ajat: „Hatta jaqularrasulu walladzina amanu ma’ahu mata nasrullah”. Situasi jang demikian dahsjatnja sehingga menjebabkan Rasulullah dan kaum Mu’minin jang menjertainja ber-tanja2 : „Bila akan datang djandji Tuhan memberi kemenangan ?” (Q.s. Al-Baqarah : 214).

Belum setaraf demikian, saudara pembatja, situasi kritis jang kita hadapi sekarang ini ! Meskipun mungkin akan sampai kepada taraf demikian ……….. , djika kita lengah dan tidak mengambil sunnah jang dipakai oleh Nabi Besar kita dan para Sahabatnja kaum Mu’minin itu.

Sjarat terpenting bagi mu’min dapat menghadapi segala matjam situasi kritis, ialah djiwa jang kuat, kepala jang dingin dan bersikap bukan putus asa dan bukan pula nekat melangkah ke „tahlukah”.

Dimulai dengan menguatkan djiwa, ialah djangan sedjenakpun kita lupa, bahwa iman kita itu membulat kepada kejakinan, bahwa djandji Allah nistjaja akan ditepati-Nja. Djandji2 Allah itu antara lain bertemu dalam Ajat: „Innallaha la jushlihu ‘amalal-mufsidin”. Bahwasanja Allah tidak mungkin memberi sukses, amal orang2 jang merusak (Q.s. Junus: 81).

Dalam sedjarah bangsa kita jang dekat, masih membajang diruang mata peristiwa Madiun dari kaum komunis, ialah amal jang merusak. Maka kesudahan amal itu ialah tidak sukses pada achirnja dan tertjantum peristiwa tersebut didalam sedjarah Negara kita sebagai lembaran hitam jang sangat menjedihkan, jang akan dibatja oleh turunan kita.

Memang, adakalanja apa jang batil itu beroleh kemenangan, untuk sementara waktu. Tapi kemenangan jang batil akan disusul oleh jang hak. Itupun termasuk djandji2 Allah jang dimaksudkan diatas.

Situasi kritis jang kita hadapi dewasa ini adalah karena apa jang batil tampaknja se-akan2 mendapat kemenangan. Seorang Muslim harus jakin, bahwa kemenangan batil itu akan segera disusul oleh jang hak sehingga mendjadi “zahuqa”, sehingga memangnjalah bahwa jang batil itu nistjaja akan hantjur luluh dan binasa.

Maka djika ada djiwa seorang Muslim jang melemah karena situasi kritis jang sekarang ini, bangkitkanlah kekuatan itu dengan mengingati djandji2 Allah, dan bahwa djandji Allah itu tidak boleh tidak tentu akan ditepati oleh Allah sendiri.

Mata nasrullah ? Ber-tanja2 kaum Mu’min. Kapan tiba kemenangan kita ? Ala inna nasrallahi qarib. Kemenangan itu sudah dekat, tampak sajup2 diruang mata. Itulah djandji Allah, dan djandji Allah nistjaja ditepati-Nja. Tjam-kanlah !

19 September 1953

Hak Al Quran dan Kewajiban Muslim Terhadapnya

Al Quran

1. Mengimani

Kita harus benar-benar yakin bahwa Al Qur’an adalah kalamullah  yang diturunkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam.  Kita wajib mengimani semua ayat-ayat yang kita baca, baik yang berupa hukum-hukum maupun kisah-kisah.  Baik yang menurut kita terasa masuk akal maupun yang belum dapat kita pahami, yang nyata maupun yang gaib.

 

“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata : ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wa Salam).” (QS. Al Maidah : 83)

Al Qur`an adalah kalamullah bukan makhluq, siapa yang meyakini bahwa al Quran adalah makhluq maka ia telah kufur. Begitu juga orang yang menolak satu ayat atau bahkan satu huruf saja dalam al Quran, maka ia telah kufur.

2. Membaca

Di dalam Al Qur’an disebutkan bahwa membaca dengan sebenar-benar bacaan (haqqa tilawah) merupakan parameter keimanan orang tersebut kepada Al Qur’an.  Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

“Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan ‘haqqa tilawah’ mereka itulah orang-orang yang beriman kepadanya.  Dan barang siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al Baqarah: 121)

3. Mentadabburi

Tadabbur Al Qur’an dapat dilakukan dengan mengulangi ayat-ayat yang kita baca dan meresapinya ke dalam hati serta memikirkan maknanya dengan bacaan yang lambat.  Tidak hanya hati yang mentadabburi, tapi fisik kita yang lain pun ikut bertadabbur.  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam merupakan contoh terbaik bagi kita dalam cara mentadabburi Al Qur’an, diriwayatkan ketika diturunkan surat Huud dan Al Waqi’ah sampai beruban rambutnya karena takut terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Maka apakah mereka tidak mentadabburkan Al Qur’an?  Kalau kiranya Al Qur’an itu turun dari sisi selain Allah tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak didalamnya.” (QS. An Nissa : 82)

Belajarlah untuk tidak sekedar mengejar banyaknya target bacaan, namun miskin hikmah dan pelajaran yang didapat. Ya, membaca al Quran mendapat pahala, namun apakah dengan sekedar membaca kita akan mendapatkan petunjuk untuk mengarungi kehidupan..?

Baca satu ayat, lalu baca artinya (bila belum bisa bahasa arab), renungkan makna yang terkandung di dalamnya, resapi keindahan bahasanya, dan ambil pelajaran darinya.

4. Menghafal

“Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengatakan barang siapa yang di dalam rongga tubuhnya tidak ada sedikitpun Al Qur`an, tak ubahnya bagaikan rumah yang bobrok.”

(HR. At Tarmidzi, hadist no.998, hlm 417)

5. Mengamalkan

Mengamalkan berawal dari memahami ilmu-ilmunya serta berpegang teguh pada hukum-hukumnya, kemudian menyelaraskan hidup dan tingkah laku serta akhlaqnya, sebagaiman akhlaq Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dalam Al Qur`an.

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.  Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu.  Dan Allah tiada memberi petunjuk pada kaum yang dzalim.” (QS. Al Juma’ah: 5)

Alangkah buruknya perumpamaan ini bagi mereka yang tidak mengamalkan ayat-ayat Allah (termasuk di dalamnya Al Qur’an), yaitu dengan perumpamaan keledai yang memikul kitab-kitab besar tetapi ia tidak mengerti apa yang ada di dalamnya.  Jadi bila manusia tidak mengamalkan Al Qur’an seperti keledai yang tidak merasakan selain beban bawaan tanpa dapat memanfaatkan apa yang dibawanya itu.

Wajib bagi setiap muslim untuk mengamalkan al Quran, baik dalam perkara-perkara kecil dalam kehidupan individu maupun dalam perkara-perkara besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hukum al Quran mutlak harus ditegakkan dalam setiap lini kehidupan kita.

Kita paham bahwa untuk beriltizam (komitmen) dalam memenuhi hak-hak al Quran dengan sempurna adalah perkara yang berat. Kewajiban ini bukanlah perkara yang mudah. Semua ini hanya bisa dilakukan dengan langkah yang bertahap. Dan tidak ada waktu terbaik untuk memulai tahapan demi tahapan tersebut selain hari ini. Ya, sekaranglah saat yang tepat untuk melalui tangga demi tangga tahapan demi memenuhi hak al Quran sebagai bukti keimanan kita terhadap al Quran.

Wallahu a’lam…

 

Isbal

وَفِي هَذِهِ الْأَحَادِيث أَنَّ إِسْبَال الْإِزَار لِلْخُيَلَاءِ كَبِيرَة , وَأَمَّا الْإِسْبَال لِغَيْرِ الْخُيَلَاء فَظَاهِر الْأَحَادِيث تَحْرِيمه أَيْضًا


“Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa isbal (menyeret) sarung karena sombong termasuk dosa besar. Adapun isbal yang bukan karena sombong, maka dhohir-nya banyak hadits juga mengharamkannya.” (Fathul bari: jilid 13, hal: 266, cetakan Daaru Thaibah)

No Isbal


Muqaddimah

Isbal artinya menjulurkan kain/ pakaian bagian bawah hingga ke bawah mata kaki. Isbal dapat terjadi pada sarung, jubah, atau celana. Permasalahan ini mendapat perhatian setelah terjadi ikhtilaf (perselisihan) dalam penentuan hukum isbal itu sendiri.

Ada yang menggeneralisir isbal kepada dalil-dalil yang menunjukkan bahwa haramnya isbaljika disertai sombong. Sedangkan jika tidak disertai seombong maka tidak mengapa.

Adapun selainnya berpendapat bahwa isbal memiliki dua jenis. Ada isbal yang tidak disertai sombong dan ada isbal yang disertai sombong. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum keduanya. Imam Nawawi menyebutkan bahwa isbal yang tidak disertai sombong hukumnya makruh, sedangkan Imam Ibnu Hajar Al Asqalani dan sebagian besar ulama madzhab Hanbali menyatakan haramnya isbal, dengan atau tidak disertai kesombongan walaupun bersepakatan tentang perbedaan hukumnya, dan isbal yang disertai kesombongan lebih berat daripada isbal yang tidak disertai kesombongan.

Pendapat ini dibangun di atas kaidah-kaidah ushul fiqih dalam melihat dalil-dalil muthlaq dan muqayyad. Ada empat kondisi ihwal muthlaq dan muqayyad yang saling berhadapan:

  1. Masing-masing hukum dan sebabnya sama. Jika hukum dan sebabnya sama maka muthlaq harus dibawa ke muqayyad, kecuali pendapat Abu Hanifah.
  2. Hukum keduanya sama namun sebabnya berbeda. Dalam hal ini, Malikiah dan sebagian Syafi’iah berpendapat muthlaq dibawa ke muqayyad. Adapun mayoritas Hanafiah dan sebagian Syafi’iah dan satu riwayat dari Imam Ahmad memilih bahwa mutlaq tidak perlu diangkat pada nash muqayyad.
  3. Sebab keduanya sama namun hukumnya berbeda. Adapun jika hukumnya berbeda dan sebabnya sama maka sebagian ulama berpendapat muthlaq tidak dibawa ke muqayyad (ini juga merupakan pendapat Ibnu Qudamah). Ulama yang lain berpendapat bahwa muthlaq dibawa ke muqayyad.
  4. Masing-masing memiliki hukum dan sebab yang berbeda. Jika sebab dan hukumnya berbeda maka para ulama telah sepakat bahwa muthlaq tidak dimasukkan ke dalam nash muqayyad.

Berkaitan dengan perkara isbal, ternyata nash muthlaq dan nash muqayyad menyinggungnya. Namun nash mutlaq tidak diikat nash muqayyad. Sebab nash-nash yang ada termasuk kategori keadaan yang ke empat. Tidak ada khilaf dikalangan para ulama bahwa pada keadaan yang keempat (sebab dan hukumnya berbeda) muthlaq tidak boleh dibawa ke muqayyad. Karena inilah isbal kemudian dibagi menjadi dua jenis yang berbeda illat (sebabnya) dan berbeda pula hukumnya.

Hadits-hadits yang menunjukkan bahwa isbal termasuk ke dalam ihwal yang ke empat.

Hadits yang pertama

Adanya hadits-hadits tentang larangan isbal secara muthlaq. Di antaranya:

Dari Al-Mugirah bin Syu’bah berkata:” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata: “Wahai Sufyan bin Sahl, Janganlah engkau isbal!. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang isbal[1]

Dan hadits Hudzaifah, berkata: “Rasulullah memegangi betisnya dan berkata: “Ini adalah tempat sarung (pakaian bawah), jika engkau enggan maka turunkanlah, dan jika enggau enggan maka tidak ada haq bagi sarung di kedua mata kaki“.[2]

Berdasarkan tekstual (dzhahir) hadits ini, izar (pakaian bawah) tidak boleh diletakkan di mata kaki secara mutlaq, tidak disyaratkan karena sombong atau tidak.[3]

Bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

“Sebaik-baik orang adalah Kharim Al-Asadi, kalau bukan karena panjangnya jummah-nya dan sarungnya yang isbal”[4]

Hadits ini menunjukkan bahwa derajat seseorang dapat turun di hadapan Allah dan Rasul-Nya dikarenakan sarungnya yang isbal.

Hadits yang kedua

Dari ‘Amr bin Syarid, berkata: “Rasulullah melihat dari jauh seseorang yang menyeret sarungnya (di tanah) maka Nabi pun bersegera segera atau berlari kecil untuk menghampirinya. Lalu beliau berkata: “Angkatlah sarungmu dan bertakwalah kepada Allah!”.

Maka orang tersebut memberitahu : “Kaki saya cacat (kaki bentuk x-pen), kedua lututku saling menempel”.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tetap memerintahkan : “Angkatlah sarungmu. Sesungguhnya seluruh ciptaan Allah indah.”

(Setelah itu) orang tersebut tidak pernah terlihat lagi kecuali sarungnya sebatas pertengahan kedua betisnya.”[5]

Hadits ini dengan kasat mata menegaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tetap memerintahkan orang ini meski isbal bukan timbul dari rasa congkak, tetapi hanya bertujuan untuk menutupi kekurangannya (cacat). Bahkan Rasulullah tidak memberinya maaf. Bagaimana dengan kaki kita yang tidak cacat…?, tentunya kita malu dengansahabat orang tersebut yang rela terlihat cacatnya demi melaksanakan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Hadits yang ketiga

Hadits yang memadukan kedua bentuk isbal dalam satu redaksi :

Dari Abu Said Al-Khudri berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sarung seorang muslim hingga tengah betis dan tidak mengapa jika di antara tengah betis hingga mata kaki. Segala (kain) yang di bawah mata kaki maka (tempatnya) di neraka. Barang siapa yang menyeret sarungnya (di tanah-pent) karena sombong maka Allah tidak melihatnya.[6]

Syaikh Al ‘Utsaymin menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyebutkan dua bentuk amal tersebut (isbal secara muthlaq dan isbal karena kesombongan-pen) dalam satu hadits, dan memerinci perbedaan hukum keduanya karena adzab keduanya berlainan. Artinya, kedua amal tersebut ragamnya berbeda sehingga berlainan juga pandangan hukum dan sanksinya.[7] Hadits ini juga mendukung tidak perlunya membawakan nash yang muthlaq pada nash yang muqayyad.

Hadits yang keempat

Dari Ibnu Umar, beliau berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersada: “Barang siapa menjulurkan pakaiannya (di tanah) Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat“. Ummu Salamah bertanya : “Apa yang harus dilakukan para wanita dengan ujung-ujung baju mereka?”, Rasulullah menjawab: “Mereka menurunkannya (di bawah matakaki) hingga sejengkal“. “Kalau begitu akan tersingkap kaki-kaki mereka”, jelas Ummu Slamah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata (lagi): “Mereka turunkan hingga sehasta dan jangan melebihi kadar tersebut“.[8]

Ibnu Hajar mengkritik pandangan Imam Nawawi, isbal hanya haram saat bergandengan dengan kesombongan, dengan berkata: “Fahamnya (Ummu salamahradhiyallahu ‘anha) ini, mengandung bantahan bagi mereka yang mengatakan bahwa: Hadits-hadits larangan isbal yang muthlaq itu, harus di-taqyid dengan hadits-hadits lain yang menyebutkan bahwa ia melakukannya dengan rasa sombong… Bantahan itu bisa dijabarkan: Jika seandainya larangan isbal itu khusus bagi mereka yang sombong, tentu pertanyaan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha (kepada Rasul shallallahu alaihi wasallam) tentang hukum wanita meng-isbal-kan pakaiannya itu tidak ada gunanya sama sekali.

Justru Ummu Salamah menanyakan hal itu, karena ia paham bahwa larangan isbal tersebut itu umum, baik disertai rasa sombong atau tidak. Ia menanyakan hukum wanita meng-isbal-kan pakaiannya karena perlunya mereka isbal untuk menutup aurat, karena seluruh kaki wanita adalah aurat, lalu Rasul shallallahu alaihi wasallam menerangkan bahwa hukum isbal-nya wanita berbeda dengan hukum isbal-nya pria dalam hal ini saja.”[9]

Syaikh Al-Albani memaparkan : “Nabi tidak mengizinkan para wanita untuk isbal lebih dari sehasta karena tidak ada manfaat di dalamnya (karena dengan isbal sehasta kaki-kaki mereka sudah tersembunyi -pen), maka para lelaki lebih pantasdilarang untuk menambah (panjang celana mereka, karena tidak ada faedahnya sama sekali)”[10]

Berkata Ibnu Hajar[11] : Hadits Ummu Salamah ada syahidnya dari hadits Ibnu Umar diriwayatkan oleh Abu Dawud melalui jalan Abu As-Siddiq dari Ibnu Umar, beliau berkata: Rasulullah memberi rukhsah (keringanan) bagi para Ummahatul mu’minin (istri-istri beliau) (untuk menurunkan ujung baju mereka) sepanjang satu jengkal, kemudian mereka meminta tambah lagi, maka Rasulullah mengizinkan mereka untuk menambah satu jengkal lagi.[12]

Perkataan Ibnu Umar “Rasulullah memberi rukhsah” menunjukan bahwa hukum isbal pada asalnya haram, atau hukum menaikkan pakaian di atas mata kaki hukumnya adalah wajib. Karena kalimat “rukshah” (keringanan/dispensasi) biasanya digunakan untuk menjatuhkan hal-hal yang asalnya adalah wajib (atau untuk melakukan hal-hal yang asalnya terlarang) karena suatu sikon.

Hadits yang kelima

Dan janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun. Engkau berbicara dengan saudaramu sambil bermuka manis juga merupakan kebaikan. Angkatlah sarungmu hingga tengah betis!, jika engkau enggan maka hingga dua mata kaki. Waspadalah engkau dari isbal karena sesungguhnya hal itu (isbal) termasuk kesombongan. Dan Allah tidak menyukai kesombongan[13]

Ibnu Hajar Al Asqalani berkata : Larangan isbal juga bisa karena hal itu termasuk tanda kesombongan, Ibnul ‘Arabi mengatakan: Laki-laki tidak boleh menjulurkan pakaiannya melewati mata kakinya, lalu berkilah: “Aku tidak menjulurkannya karena sombong!” Karena lafal hadits yang melarang hal itu telah mencakup dirinya, dan orang yang masuk dalam larangan, tidak boleh membela diri dengan mengatakan: “Aku tidak mau mengindahkan larangan itu, karena sebab larangannya tidak ada padaku.” Hal seperti ini adalah klaim yang tidak bisa diterima, sebab tatkala ia menjulurkan pakaiannya, sejatinya ia menunjukkan karakter kesombongannya. [Fathul Bari13/266-267]

Usai menukil ungkapan Ibnu ‘Arabi di atas, Ibnu Hajar menetapkan : “Kesimpulannya, isbal berkonsekuensi (melazimkan) pemanjangan pakaian. Memanjangkan pakaian (dapat) menunjukkan kesombongan walaupun orang yang memakai pakaian tersebut tidak berniat sombong”.[14]

Tidak isbal, lebih baik

Simpulan

Isbal itu memiliki dua bentuk dengan dua illat dan dua hukum yang berbeda:

1. Isbal yang tanpa kesombongan, illat-nya adalah mengulurkan pakaian bawah di bawah mata kaki (tidak dilihat apakah disertai kesombongan atau tidak), ancamannya neraka sebagaimana tekstual hadits di atas. Maka Imam Nawawi menghukumi makruh.

Namun demikian, sebagian ulama menghukumi haram, bahkan Ibnu Hajar menolak pendapat Imam Nawawi dengan menegaskan bahwa perkataan Imam Syafi’i yang dimaksud oleh Imam Nawawi itu, disebutkan oleh Al-Buwaithi di Kitab Mukhtashar-nya. Imam Syafi’i mengatakan: “Tidak boleh isbal, baik di dalam shalat atau di luarnya bagi mereka yang sombong. Sedang bagi yang tidak sombong lebih ringan hukumnya, karena sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada Abu Bakar.” (Ibnu Hajar mengatakan) : Perkataan Imam Syafi’i “lebih ringan hukumnya”, tidak sharih (tegas) dalam menafikan haramnya (isbal tanpa rasa sombong). [Fathul Bari 13/266]

2. Isbal yang disertai dengan kesombongan, illat-nya adalah mengulurukan kain disertai khuyala, ini lebih berat dibandingkan yang pertama karena mengandung dua keburukan: pertama, menjulurkan kain di bawah mata kaki. Kedua, khuyala atau sombong. Ancamannya adalah tidak akan dilihat Allah di akhirat. Hukumnya adalah haram, dan para ulama sepakat akan keharamannya.

Sedangkan berkaitan  kesombongan itu sendiri, dengan atau tanpa isbal, kesombongan wajib ditinggalkan. Sebagaiman hadits Nabi:

“Tidak akan masuk jannah seorang yang di dalam hatinya ada sebiji sawi dari kibr (kesombongan).”

Wallahu a’lam


[1] HR Ibnu Majah II/1183 no 3574 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani (As-Shahihah no 4004)

[2] HR At-Thirmidzi III/247 no 1783, Ibnu Majah II/1182 no 3572, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani (As-Shahihah V/481 no 2366)

[3] As-Shahihah 6/409

[4] Berkata Syaikh Walid bin Muhammad: “Hadits hasan lighairihi, diriwayatkan oleh Ahmad (4/321,322,345) dari hadits Khorim bin Fatik Al-Asadi. Dan pada isnadnya ada perowi yang bernama Abu Ishaq, yaitu As-Sabi’i dan dia adalah seorang mudallis, dan telah meriwayatkan hadits ini dengan ‘an’anah. Namun hadits ini ada syahidnya (penguatnya) yaitu dari hadits Sahl bin Al-Handzoliah yang diriwayatkan oleh Ahmad (4/179,180) dan Abu Dawud (4/348) dan pada sanadnya ada perowi yang bernama Qois bin Bisyr bin Qois At-Thaglabi, dan tidak meriwayatkan dari Qois kecuali Hisyam bin Sa’d Al-Madani. Berkata Abu Hatim: Menurut saya haditsnya tidak mengapa. Dan Ibnu Hibban menyebutnya di Ats-Tsiqoot. Berkata Ibnu Hajar tentang Hisyam: “Maqbul” –yaitu diterima haditsnya jika dikuatkan oleh riwayat yang lain dari jalan selai dia, dan jika tidak ada riwayat yang lain (mutaba’ah) maka haditsnya layyin-. Dengan demikian derajat hadits ini adalah hasan lighoirihi, alhamdulillah. Dan hadits ini telah dihasankan oleh Imam An- Nawawi dalam Riyadhus Sholihin”. (Al-Isbal, hal 13)

[5] HR. Ahmad IV/390 no 19490, 19493 dan At-Thobrooni di Al-Mu’jam Al-Kabiir VII/315 no 7238, VII/316 no 7241. Berkata Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawa’id V/124, “Dan para perawi Ahmad adalah para perawi As-Shahih”. Lihat Silsilah As-Shahihah no:1441

[6] HR. Abu Daud no: 4093, Malik no: 1699, Ibnu Majah no: 3640. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Nawawi dalam Riyadus Shalihin, Syaikh Albani dan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth

[7] As’ilah Muhimmah hal:30, sebagaimana dinukil dalam Al-Isbal hal:26

[8] HR At-Thirmidzi IV/223 no 1731 dan berkata, “Ini adalah hadits hasan shahih”, An-Nasa’i VIII/209 no 5337 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani

[9] (Fathul Bari 13/259-260)

[10] Ash-Shahihah VI/409

[11] Fathul Bari (10/319)

[12] HR Abu Dawud no 4119, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani. Lihat juga As-Shahihah no 460

[13] HR. Ahmad (V/64) no 20655, Abu Dawud (IV/56) no 4084, dan dari jalannya Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro (X/236) no 20882, Ibnu Abi Syaibah (V/166) no 24822, Abdurrozaq dalam mushonnafnya (XI/82) no 19982, At-Thobroni dalam Al-Mu’jam Al- Kabiir (VII/63) no 6384 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani

[14] Al-Fath :10/325.