Manhaj Syaikh Hasan Al Banna dalam Timbangan

Asy Syaikh Hasan Al Banna

Bismillah wa tawakkaltu ‘alaLlah

Tulisan ini tidaklah bermaksud untuk mencela ulama dan mujahid. Tulisan ini hanyalah sebuah pertimbangan atas manhaj yang dianut oleh Syaikh Hasan Al Banna –semoga Allah merahmati dan mengampuni kekeliruannya– yang hari ini diikuti oleh jutaan umat. Besar harapan akan ada timbal balik yang positif, baik berupa kritik, sanggahan, dan yang paling penting dari itu semua adalah kelapangan dada untuk menerima bahwa yang haqq adalah haqq.

Manhaj Syaikh Hasan Al Banna terangkum dalam Risalah Ta’alim Bagian Pertama “Arkaanul Bai’ah” poin pertama yaitu Al Fahmu, yang memuat dua puluh prinsip (ushul al ‘isyrin) dalam memahami Islam atau manhaj dalam memahami Islam. Ada beberapa poin yang harus di kritisi atas manhaj Imam Asy Syahid Hasan Al Banna dalam ushul al ‘isyrin. Pertama, perkataan beliau :

Hendaknya engkau memahami Islam, sebagaimana kami memahaminya dalam batas-batas ushul al-‘isyrin (dua puluh prinsip) yang sangat ringkas ini.

Timbangan :
Perkataan ini memiliki konsekwensi yang besar. Jika Imam Asy Syahid menetapkan bahwa setiap ikhwan harus memiliki fikrah dan manhaj sebagaimana yang beliau fahami, maka sama saja dengan mewajibkan seluruh ikhwan menjadi Al Banniyyun (pengikut/taqlid kepad Hasan Al Banna). Padahal, manhaj yang wajib bagi setiap muslim adalah manhaj-nya salaf ash shalih min salaf al ummah (para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in). Cukuplah menhaj mereka sebagai pegangan. Semoga Allah merahmati dan mengampuni kekeliruan Hasan Al Banna… Aamiin…

Selain itu, dalam ushul al ‘isyrin yang dipaparkan Imam Asy Syahid, ada beberapa poin yang butuh penjelasan panjang lebar dan akhirnya kita harus berani untuk berbesar hati dan mengatakan bahwa Imam Asy Syahid telah keliru karena menyelisihi salaf. Poin-poin tersebut adalah:

poin 10:

(Ma’rifah kepada Allah dengan sikap tauhid dan penyucian (dzat)-Nya adalah setinggi-tinggi tingkatan aqidah Islam. Sedangkan mengenai ayat-ayat sifat dan hadits-hadits shahih tentangnya, serta berbagai keterangan mutasyabihat yang berhubungan dengannya, kita cukup mengimaninya sebagaimana adanya tanpa ta’wil dan ta’thil, serta tidak memperuncing perbedaan yang terjadi di antara para ulama. Kita mencukupkan diri dengan keterangan yang ada, sebagaimana Rasulullah dan para sahabatnya mencukupkan diri dengannya.

Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, `Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami. “‘ (Ali Imran: 7))

Timbangan :

Imam Asy Syahid tidak membedakan antara ayat-ayat mutasyabihat dengan ayat-ayat asmaa wa shifat, sehingga beliau terjebak dengan men-tafwidh (menerima apa adanya) ayat-ayat asmaa wa shifat (Lihat Majmu’ah Rasail Hasan Al Banna bab Aqaid).

Dalam ayat-ayat mutasyabihat, seperti kalimat Alif laam miim atau Yaasiin, maka kita wajib men-tafwidh-nya (menerima apa adanya tanpa menetapkannya pada sesuatu dan tidak mencari tahu maknanya), sebelum ada dalil lain yang menetapkan maknanya . Namun, dalam ayat-ayat asmaa wa shifat, generasi salaf telah sepakat untuk tidak menta’wil atau menta’thil, tapi bukan berarti men-tafwidh lafadzh-nya.

Misal, Allah berfirman dalam al Quran tentang wajah-Nya, tangan-Nya, kursi-Nya, Arsy-Nya, istiwa-Nya, dan lain sebagainya. Maka sikap generasi salaf adalah MENETAPKAN apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dalam al Quran dan as Sunnah, tanpa menyerupakan dengan makhluq. Sebagaimana perkataan Imam Malik tentang istiwa-Nya Allah:

Istiwa (bersemayam) itu maknanya ghayru majhul (difahami), caranya ghayru ma’qul (tidak diketahui), bertanya tentangnya bid’ah.”

Ulama yang lain menambahkan:

“mengingkarinya adalah kekufuran”

Jadi, Imam Asy Syahid keliru dalam men-tafwidh lafadzh dari ayat-ayat tersebut. Padahal yang disepakati salaf dalam masalah asmaa wa shifat adalah menetapkan lafadzhnya sebagaimana adanya karena maknanya difahami dan men-tafwidh caranya atau hakikatnya. Semoga Allah memaafkan beliau dan kita semua, serta melapangkan dada para pengikutnya untuk kembali kepada pemahaman salaf.

Selanjutnya adalah poin 12:

(Perbedaan pendapat dalam masalah bid’ah idhafiyah , bid’ah tarkiyah , dan iltizam terhadap ibadah muthlaqah (yang tidak ditetapkan, baik cara maupun waktunya) adalah perbedaan dalam masalah fiqih. Setiap orang mempunyai pendapat sendiri. Namun tidaklah mengapa jika dilakukan penelitian untuk mendapatkan hakikatnya dengan dalil dan bukti-bukti.)

Timbangan :
Salaf bersepakat bahwa bid’ah -dilihat dari sudut pandang kaidah tata bahasa- terbagi dua:

-bid’ah hasanah dan

-bid’ah dhalalah

Sebagaimana qaul Al Imam Asy Syafi’i –semoga Allah merahmati dan meridhainya

Namun, dalam rinciannya perlu diperhatikan. Imam Asy Syafi’i berkata : seluruh bid’ah dalam masalah diin adalah dhalalah. Ini yang kemudian perlu dicermati. Akibatnya adalah setiap amalan yang tidak dirinci oleh Rasul lalu kemudian kita menetapkan rinciannya dan menganggap bahwa penetapan itu bagian dari ibadah, maka itu termasuk bid’ah dhalalah, bukan merupakan perbedaan pendapat, sebagaimana pernyataan Imam Asy Syahid dalam poin 12 di atas.

Misal : Membaca dzikir pagi-petang adalah sunnah, membacanya 3X-3X boleh, namun jika pembacaan 3X tersebut dianggap sebagai ibadah sunnah, maka hal tersebut dapat menjadi bid’ah karena tidak ada keterangan bahwa membaca dzikirnya harus 3X.

Selanjutnya adalah poin 15:

(Doa, apabila diiringi tawasul kepada Allah dengan salah satu makhluk-Nya adalah perselisihan furu‘ menyangkut tata cara berdoa, bukan termasuk masalah aqidah.)

Timbangan :

Salaf sepakat bahwa tawassul terbagi dua: tawassul syar’iyyah (halal) dan tawassul ghayru syar’iyyah (haram). Namun, bukan berarti tawassul bukanlah termasuk masalah aqidah. Sangat keliru jika Imam Asy Syahid menyatakan bahwa masalah tawassul adalah masalah furu‘, bukan aqidah. Sesungguhnya orang-orang musyrikin Makkah divonis kafir oleh Allah karena mereka melakukan tawassul dalam peribadahan. Musyrikin Quraisy menyembah Allah, namun di antara mereka mengadakan sekutu, sedangkan yang lainnya menjadikan berhala dan orang-orang shalih yang telah wafat sebagai wasilah (ber-tawassul) dalam ibadah. Firman Allah:

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat kafir. (QS. Az Zumar ayat 3)

Lihatlah bahwa orang-orang Musyrik berkata : “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.

Mereka menjadikan berhala dan kuburan sebagai bentuk tawassul, karena mereka melakukan peribadahan kepada Allah. Namun, apa jawaban Allah..? “Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat kafir.”

Adapun tawassul yang disepakati kehalalannya adalah:

1. Bertawassul dengan nama-nama Allah,

2. Bertawassul dengan maghfirah Allah (bertaubat sebelum berdoa),

3. Bertawassul dengan amal shalih,

4. Bertawassul dengan orang shalih yang masih hidup. Yakni kita meminta seseorang yang dinilai shalih untuk mendoakan kita. Adapun kepada orang yang telah meninggal, baik itu Rasul atau Wali, maka semuanya haram dan merupakan dosa besar, bahkan bisa terjerumus ke dalam kemusyrikan (Lihat Syarah Kitab Tawhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab).

Poin terakhir adalah poin ke 20:

(Kita tidak mengkafirkan seorang muslim yang telah mengik¬rarkan dua kalimat syahadat, mengamalkan kandungannya, dan menunaikan kewajiban-kewajibannya, baik karena lontaran pendapat maupun karena kemaksiatannya, kecuali jika ia mengatakan kata-kata kufur, mengingkari sesuatu yang telah diakui sebagai bagian penting dari agama, mendustakan secara terang-terangan Al-Qur’an, menafsirkannya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab, atau berbuat sesuatu yang tidak mungkin diinterpretasikan kecuali dengan tindakan kufur.)

Timbangan

Permasalahan takfir (memvonis orang yang mengaku muslim sebagai kafir) adalah perkara berat. Imam Asy Syahid tidak merincinya, hal ini mengakibatkan sebagian orang salah dalam menafsirkan perkataan ini dan sembarangan dalam mengkafirkan orang lain, karena Imam Asy Syahid tidak menjelaskan kaidah dan penghalang-penghalangnya. Beliau hanya menjelaskan syarat2nya saja. Alangkah lebih baiknya untuk mengkaji kitab “Iman wal Kufur” terjemahan : Kafir Tanpa Sadar, Syaikh Abdul Qadir Abdul Aziz atau “Ghulluw fii Takfir” terjemahan: Berlebihan dalam Takfir, Syaikh Abu Muhammad al Maqdisi, agar kita tetap berada pada posisi pertengan, tidak berlebihan dalam takfir namun juga tidak menghilangkan syariat ini. Karena syariat takfir adalah bagian dari ahlus sunnah, walaupun kalangan murji’ah tidak menyukainya.

Semoga Allah merahmati kita semua, mengampuni kesalahan-kesalahan kita dan membesarkan hati kita untuk melihat kebenaran, mengembalikan semua permasalahan kepada manhaj salaf, menimbangnya dengan al Quran dan as Sunnah. Karena sesungguhnya tidak ada satupun yang ma’shum kecuali Rasuulullah, dan tidak ada yang lebih paham penjelasan al Quran dan as Sunnah setelah Rasuulullah kecuali para sahabat (para ulama salaf).

Wallahu a’lam

Walhamdulillahi rabbil ‘alamiin

Jika ada kebenaran datang dari Allah dan jikalau ada kekeliruan, semua itu semata-mata hanya menunjukkan bahwa saya ataupun Syaikh Hasan Al Banna benar-benar manusia biasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: